Only You

Only You – Chapter 53

Bookmark

No account yet? Register

0 votes, average: 0.00 out of 1 (0 votes, average: 0.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

1

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

Setelah memberanikan diri, Randy mengetuk pintu kamar Nina dan menunggu jawaban dari seberang. Tidak butuh waktu lama untuk mendapat balasan. Begitu mendapat sahutan, Randy segera masuk dan menemukan kakaknya tengah duduk ditepi ranjang.

Meskipun Nina tengah tersenyum padanya, itu tidak bisa menyembunyikan kesedihan dan kegelisahan diwajahnya. Pertengakaran mereka tempo hari masih menyisakan luka. Belum lagi dengan isu perusahaan dan tidak adanya kabar dari Alex yang membuatnya cemas.

“Kakak nunggu telepon dari Alex?” tanya Randy membuka pembicaraan ketika melihat ponsel dalam genggamannya.

“Ah, tidak.” Nina meletakkan ponsel itu secara asal diatas kasur. “Aku hanya bosan jadi melihat video-video lucu.”

Nina jelas tengah mengelaknya. Dia tidak mau menunjukkan kalau sedang menunggu balasan dari Anna. Saat telepon pertamanya tidak diangkat oleh Alex, Nina berulang kali terus menghubunginya. Tidak ada jawaban dari seberang, membuatnya berpikir jika yang dikatakan ibunya adalah benar. Nina mencoba mengirimi pesan kepada Anna untuk bertanya keadaan disana. Namun, sampai saat ini balasan itu belum juga tiba.

“Kakak gak perlu bohong. Aku tahu apa yang kakak pikirkan.” Randy duduk disamping Nina dan memberikan sebuah amplop putih.

“Apa ini?” tanya Nina.

“Tiket untuk kakak ke New York,” jawab Randy santai. “Kakak mencemaskan Alex, bukan? Daripada kakak menunggu disini, lebih baik langsung menemuinya. Kakak juga bisa langsung memukulnya kalau merasa di abaikan. Yang penting kakak bisa bertemu dengannya.”

“A-aku tidak bisa menerimanya! Kau pasti mengeluarkan banyak uang untuk membelinya. Aku tidak bisa menerima tiket ini.”

Nina ingin mengembalikan amplop itu tetapi Randy menolak. “Selama ini, kakak sudah melakukan banyak hal untukku sedangkan aku sama sekali tidak melakukan apapun. Yang bisa kulakukan sekarang hanyalah membeli tiket ini untuk kakak. Aku tidak mau melihat kakak bersedih lagi. Aku ingin kakak bahagia.”

Nina tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Matanya berkaca-kaca karena ketulusan Randy. Adiknya kini telah dewasa. Dia tidak perlu mengkhawatirkannya. Kedua lengannya terulur, memeluk punggung yang sekarang ini lebih besar darinya. “Terima kasih, Randy. Aku menyayangimu.”

“Aku juga,” balas Randy seraya membalas pelukan kakaknya. Setelah beberapa saat, Randy menguraikan pelukannya. “Kalau begitu, ayo kita berangkat. Pesawatnya akan berangkat sebentar lagi. Kakak tidak mau ketinggalan kan?”

“Eh, tapi aku belum berkemas.” Nina segera membuka amplop dan melihat jam yang tertera. Pukul 12 siang dan sekarang waktu menunjukkan pukul 8. Nina baru sadar jika Randy belum berangkat bekerja. Kalaupun mengesampingkan hal itu, dia tetap tidak akan sempat membenahi barang-barangnya.

“Tidak usah memikirkan hal itu. Aku bisa mengirimkannya dengan ekspedisi. Yang penting, ayo kita berangkat! Kakak ingin segera bertemu Alex kan?”

Ucapan Randy mengingatkannya dengan yang Alex katakan dulu. Jika biasanya wanita sering disebut makhluk yang ribet, maka laki-laki adalah orang yang simple, seperti Randy dan Alex. “Tunggu! Bagaimana dengan Mama? Aku belum berpamitan dengannya.”

Randy mengernyit tidak percaya mendengar kakaknya. Kakaknya itu masih perhatian dengan Dian walaupun selalu mendapat perhatian kurang baik darinya. Meskipun begitu, kakaknya menyayangi Dian dengan tulus. “Sejak pagi, Mama belum keluar dari kamar. Aku akan menyampaikannya agar kakak tidak merasa canggung.”

“Tidak apa-apa. Aku akan berpamitan di luar. Ini tidak akan lama, tunggu sebentar ya.”

Nina lalu berjalan menuju kamar Dian dan berdiri diseberang. Dengan pelan, dia mengetuk pintu itu tanpa berniat untuk masuk. Tidak ada sahutan dari dalam. Dian pasti masih marah padanya dan tidak ingin melihatnya. Nina tidak ingin membuatnya marah dan ingin menyampaikan perpisahan dengan baik.

“Ma, aku tahu Mama masih marah padaku. Aku minta maaf atas semua kesalahan yang dulu aku lakukan. Ketahuilah kalau aku tidak pernah membenci Mama. Aku sayang pada Mama karena telah membesarkanku hingga saat ini. Sebelumnya, kita berpisah selama 5 tahun. Kali ini, aku tidak tahu berapa lama kita berpisah. Karena itu aku ingin mengucapkan terima kasih. Aku harap Mama selalu sehat. Sampai jumpa.”

Setelah mengatakannya, Nina berjalan ke arah Randy. Sebelum menginjakkan kakinya ke luar, dia menoleh untuk terakhir kalinya. Saat 5 tahun lalu melangkah dari rumah ini, hatinya dipenuhi dengan kemarahan dan kesedihan. Jika kecelakaan itu tidak terjadi, apakah jalan hidupnya akan berbeda? Apakah dia akan lebih bahagia jika saat itu melamarnya atau tidak?

Tidak ada yang tahu mengenai masa depan. Tapi Nina berharap jika apapun yang terjadi selanjutnya adalah hal yang baik, termasuk perpisahan yang sekarang. Dia tidak ingin mengulang penyesalan yang terjadi 5 tahun yang lalu. Karena itu, kali ini dia akan melangkah tanpa ada satu pun penyesalan dalam dirinya.

***

Ketika pesawat yang dinaikinya lepas landas, Nina menoleh ke jendela berharap bisa menemukan sosok Randy untuk terakhir kalinya. Percakapan terakhir mereka sebelum berpisah membuatnya tenang. Dia berjanji akan melupakan pertengkaran yang terjadi sebelumnya dan merawat Dian dengan baik. Sekesal-kesalnya Randy padanya, dia masih bisa mengesampingkan egonya dan berpikir jernih. Randy juga berjanji tidak akan mengungkit kejadian yang tidak menyenangkan dan hidup rukun dengannya.

Sedikit banyak, beban Nina telah berkurang. Sekarang yang dipikirkannya adalah Alex.

Nina tidak tahu seberapa parah masalah yang dialaminya hingga menyembunyikan hal itu darinya. Bukannya tidak mempercayai kemampuan Alex, Nina yakin jika dia sanggup mengatasi semua masalah persoalan dengan baik. Alex tidak pernah mengecewakannya. Yang ingin dilakukannya adalah berada disampingnya dan memberi semangat yang dibutuhkan.

Saat kembali ke Indonesia, Alex menemaninya hingga membuatnya lupa dengan rasa lelah dan perjalanan yang panjang. Kini, dia mengalami hal yang sebaliknya. Tanpa Alex disisinya, semua terasa kosong. Tidak ada pelukan hangat, tidak ada yang memperhatikannya dan tidak ada yang menjaganya sewaktu tidur. Tiada Alex disampingnya, waktu berjalan sangat lambat dengan rasa gelisah yang tak kunjung surut.

Sekarang, Nina mengerti bagaimana perasaan Alex melewati 5 tahun lamanya tanpa dirinya. Rasa sendiri tanpa orang yang dicintai, rasanya begitu dingin. Setiap hari, dia selalu berharap kalau matanya akan terbuka. Selama apapun, Alex tetap menunggu. Tidak peduli seberapa lelah dia menunggu, Alex tidak pernah menyerah untuk mempertahankannya.

Kali ini, Nina akan berjuang untuk Alex. Tidak peduli sesulit apapun, dia akan membantunya dengan segenap tenaga. Jalannya mungkin akan sulit tapi Nina tidak akan menyerah. Apapun yang terjadi dia tidak akan meninggalkan Alex begitu saja. Karena pria itu adalah sumber kebahagiannya.

Wait for me, my Dear.

***

Mata abu-abu milik pria itu menatap nanar pada wanita diseberangnya yang tersenyum penuh kemenangan. Rambut pirang wanita sengaja dikibaskan ketika berdiri dari kursi. Bunyi ketukan hak tinggi sepatunya yang berirama menyertai setiap langkahya. Jemari cantik yang selalu dirawat dan dipoles mengelus rahang pria itu. Warna merah menyala pada kukunya tampak mencolok saat meletakkan jarinya pada jas hitam yang dikenakan pria itu.

“Kau sudah kalah, Sayang. Tidak ada yang akan mempercayaimu, terlebih dengan anak yang berada dalam kandunganku ini. Dia sangat merindukan Daddy nya.”

“Kau bisa membohongi semua orang, tetapi aku tidak akan termakan tipuanmu, Luisa! Sampai kapanpun aku tidak akan menyerahkan diriku padamu! Kau hanyalah perempuan licik!”

Mendengar bentakkan Alex, Luisa berpura-pura memasang wajah sedih. “Baby, Daddy membenci Mommy. Apa yang harus Mommy lakukan untuk membuat Daddy kembali? Apa Mommy harus memberi pelajaran pada wanita pengganggu itu?”

Alex langsung menghentak permukaan meja dengan keras. Tatapannya berubah tajam menatap penuh kemarahan pada Luisa. “Kalau kau berani  menyentuh Nina sedikit saja, aku pastikan kau akan menyesal!”

“Aw, Daddy mengancam Mommy karena wanita lain. Mommy menjadi sedih!” Sebelah tangannya berpura-pura mengusap air matanya yang tidak ada dan satunya lagi mengelus perutnya yang sedikit membuncit.

Dari sudut matanya, dia mengintip ekspresi Alex yang seperti ingin mencekiknya. Luisa kemudian tersenyum senang seraya menarik dasi yang dikenakannya. “Lebih baik kau menyerah, Sayang. Kau tidak akan menang. Lebih baik kau kembali padaku sehingga aku bisa membatalkan tuntukanku. Lagi pula … ” Luisa mendekatkan bibirnya ditelinga Alex, “Wanita itu pasti akan meninggalkanmu setelah kau jatuh miskin dan mencari pria lain.”

Alex mengepal tangannya erat menahan kemarahannya. Dia tidak menyangka jika lahan itu adalah milik keluarga Clinton. Luisa sengaja berpura-pura menyuruh orang sebagai pemilik dari lahan itu dan ingin membangun perumahan. Setelah proyek berjalan setengah, dia muncul sebagai pemilik sah dan menuntun perusahaannya. Semua ini jelas adalah jebakan yang disusun untuk menjeratnya dan semua dijalankan saat dia meninggalkan negara ini.

Tidak ada bukti kuat membuat Alex sulit memenangkan pengadilan ini. Semua orang yang terlibat dalam proyek menghilang begitu saja. Luisa pasti telah menyuap mereka, atau yang lebih buruk melenyapkan mereka yang berhubungan.

Kemunculan Luisa dengan kondisi hamil membuat posisinya semakin sulit. Luisa mengklaim bahwa anak yang dikandung adalah miliknya dan memberikan tuduhan kalau dia tidak mau bertanggung jawab karena berselingkuh dengan wanita lain. Dia memberikan beberapa foto kepada hakim sebagai bukti kalau Alex pernah menemaninya ke rumah sakit dan fotonya sat bersama wanita lain.

“Hasil dari pengadilan ini belum ditentukan. Aku pasti akan menemukan bukti atas semua kelicikanmu.”

“Silahkan berbuat sesukamu, Sayang. Jangan lupa, orang tuamu akan datang menemui orang tuaku. Mereka pasti senang kalau mengetahui sebentar lagi akan memiliki cucu.” Luisa tertawa riang mengatakannya. Setelah puas, dia berjalan meninggalkan ruangan dan memberikan kedipan genit padanya. “Sampai jumpa, calon suamiku!”

Ketika Luisa telah meninggalkan ruangan, Alex meninju meja dihadapannya melampiaskan emosinya. Amarahnya pada Luisa mampu membuatnya lupa pada rasa sakit jemarinya.

Alex tidak akan membiarkan semua ini berjalan sesuai dengan keinginan Luisa. Walaupun semua kekayaannya lenyap, dia tidak akan menjual dirinya pada wanita itu. Wanita yang dicintainya hanya Nina dan hanya dialah satu satunya wanita yang dicintainya.

Alex lalu melihat panggilan yang diabaikannya sejak semalam. Melihat nama Nina yang muncul membuatnya tersenyum miris. Dia harus melakukan itu agar bisa keluar dari masalah ini. “Maafkan aku, Sayang.”

***

Begitu sampai di New York, Nina langsung menuju kantor Alex. Dia tahu, pada jam seperti ini Alex pasti berada di kantor. Nina tidak menunda-nunda pertemuannya. Dadanya terus berdebar tidak nyaman semenjak menginjakkan kaki di negara ini. Dia merasa jika tidak segera menemui Alex sekarang, maka tidak ada kesempatan kedua kalinya.

Ketika tiba dikantor, rasa bingung langsung menyerang ketika tidak melihat satupun satpam yang berjaga. Dengan bergegas, Nina masuk kedalam dan juga tidak menemukan satu orang pun.

Nina masih ingat dengan jelas jika biasanya lantai ini penuh dengan banyak orang. Karyawan yang mondar mandir melayani tamu, resepsionis yang selalu memberi sambutan ramah dan orang-orang yang datang untuk diwawancarai kerja.

Sekarang, lantai itu sangat sepi. Tidak hanya disitu, lantai-lantai selanjutnya juga tampak kosong dengan berkas-berkas yang ditinggalkan begitu saja diatas meja. Jika sekarang adalah malam hari, kantor ini tampak menyeramkan dengan hawa dingin yang begitu mencekam.

Nina melangkah cepat menuju lift dan menekan tombol lantai tertinggi. Dia bernafas lega karena lift itu masih bekerja meskipun tidak ada siapapun disana. Menaiki lift sendiri dengan suasana yang sepi memberikan kesan horror. Begitu tiba di lantai tempat Alex bekerja, Nina langsung berjalan cepat keluar.

Nafas Nina sempat berhenti ketika melihat sosok bewarna putih yang berdiri tidak jauh dari ruangan Alex. Ketakutannya seketika sirna ketika mengetahui sosok itu adalah John. Nina semakin mempercepat langkahnya untuk menanyakan keadaan Alex. Namun langkahnya tiba-tiba berhenti ketika mendengar pembicaraannya melalui telepon.

“Dia sudah tidak bisa lolos lagi. Kali ini, dia pasti akan hancur.”

Tas yang berada dalam genggaman Nina terlepas begitu saja. Bunyi akibat dentuman itu berhasil mengagetkan John hingga ponsel terlepas dari genggamannya. Matanya membulat sempurna ketika melihat sosok Nina yang berdiri dihadapannya. Wajahnya ikut memucat ketika melihat Nina yang berdiri menatapnya kosong.

“Alex, dia … “

Sebelum Nina menyelesaikan kalimatnya, dunia terasa bergoyang. Hal yang terakhir di ingatnya adalah John yang berteriak menangkapnya dan namanya yang terus dipanggil.

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

6 Komentar

  1. dyah ayu monika menulis:

    Pasti ada org dlm yg ikut ngerusuh ini. Pastiii

    1. hihihi, rusuh terus pantang mundur

  2. Ada wanita calon pelakor yang nongol. ?

    1. pelakor nya dibasmi hihihi

  3. Musim pelakor

  4. Duhhh pingini 👊👊👊👊👊