Only You

Only You – Chapter 3

Bookmark

No account yet? Register

2 votes, average: 1.00 out of 1 (2 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

1

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

Alex terpana ketika melihat Nina yang sudah selesai dirias oleh Anna. Tidak tepat jika mengatakan Nina dirias, nyatanya tidak ada satupun riasan yang terpoles di wajahnya. Nina terlihat lebih cerah dengan dress biru selutut yang berpola lingkaran putih kecil dan tali pinggang coklat. Rambut hitam panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja dan membuatnya tampak lebih hidup.

"Kau tampak cantik, sayang

“Kau tampak cantik, sayang.”

Alex merasa senang karena dress pilihannya sangat cocok dengan Nina. Kulitnya yang putih, badan yang tinggi dan tegap serta rambut hitam sepunggung merupakan kombinasi sempurna. Kedua mata coklat tuanya bahkan lebih cantik dari apapun. Di matanya, Nina bahkan lebih dari kata sempurna. Baginya kesempurnaan Nina tidak bisa diukur dengan apapun.

Alex meraih tangan kanan Nina dan mencium punggung tangannya. Dia bisa melihat perubahan wajah Nina yang tersipu malu. Alex kemudian menuntun Nina ke kursi dan meletakkan serbet putih dipangkuannya. Setelahnya Alex duduk di seberang dan menatap Nina secara intens.

“Kau sangat cantik, darling. Oh! Aku tidak akan merasa bosan terus memujimu.”

“Tapi pujianmu tidak akan membuatnya kenyang.”

Anna menyeletuk sambil menghidangkan Garlic Bagutte yang baru siap dipanggang. Aroma asin dan gurih menguar di udara. Lelehan keju dan taburan bawang putih membuat Nina tidak bisa menahan air liurnya. Anna bersiap untuk memberikan Nina sepotong roti tapi Alex menyelanya.

“Biar aku yang melakukannya.” Alex mengambil alih pekerjaan Anna dan memberikan sepotong Garlic Bagutte pada Nina.

" Alex mengambil alih pekerjaan Anna dan memberikan sepotong Garlic Bagutte pada Nina

“Terima kasih,” ucap Nina tulus lalu menyantapnya dengan lahap. “Ini enak,” pujinya.

“Kau boleh makan sebanyak yang kau mau, honey. Aku akan memasak semua masakan yang kau mau,” ucap Anna dengan bangga.

Nina tertawa pelan mendengar Anna yang percaya diri.

Alex terpana melihat tawa Nina. Tawa yang sudah lama dirindukannya. Sejak Nina tidak membuka matanya, Alex merasa hatinya ikut tertidur. Dia tidak bisa merasakan apapun. Semuanya terasa hampa tanpa Nina disisinya.

Setelah Nina terbangun, Alex merasa dunianya kembali. Baru sehari Nina terbangun dan Alex bisa merasakan perubahan pada dirinya. Ekspresinya yang selalu datar perlahan kembali seiring bersama Nina.

Setelah menyelesaikan sarapan, Alex berusaha menahan senyum dari Nina yang terus memperhatikannya. Alex bisa melihat ada kegelisahan disana. Nina terus mengangkat dan menundukkan wajahnya. Saat Alex mengambil kunci mobil, Nina berjalan ke arahnya.

“Anna bilang, kau mau berangkat kerja. Uhm… Kau akan kembali kan?” Ada kekhawatiran dari pertanyaan Nina. Dia takut setelah ini tidak dapat bertemu dengannya lagi.

Alex mendekatkan kepala Nina pada bibirnya dan menciumnya singkat. “Tentu saja. Disini adalah rumahku dan juga rumahmu. Aku akan kembali. Aku janji.”

Senyum Nina langsung mengembang menghiasi wajahnya. Tangannya bergerak, menyentuh rahang Alex dan memberikan ciuman singkat disana. Alex sempat terperangah, tidak menyangka kalau Nina akan melakukannya.

“Aku merasa aku pernah melakukannya, jadi hati-hati.”

Alex memeluk Nina erat dan memberikan ciuman di pipinya.

“Terima kasih karena sudah melengkapi hariku hari ini. Aku akan segera pulang,” bisik Alex di telinga Nina.

Nina membalas pelukan Alex dan membalas berbisik ditelinganya, “Aku akan menunggumu.”

***

Suasana hati Alex sangat baik ketika Nina sudah bangun. Auranya tidak terasa kaku dan senyuman menghiasi wajahnya sejak pagi. Para pegawai dibuat heran dengan sikapnya yang berbanding terbalik dengan hari biasanya. Mereka berasumsi jika ada hal baik yang terjadi sehingga membuat suasana hatinya senang.

Tumpukan dokumen yang membutuhkan perhatiannya tidak bisa mengalihkan pikirannya dari Nina. Dia sangat bahagia bahkan sulit untuk diungkapkan dengan kata-kata. Berbagai rencana untuk membuat Nina bahagia telah tersusun dalam otaknya. Dia akan menciptakan kenangan baru untuk Nina dan membuat ingatan masa lalunya terkubur dalam-dalam.

Tiba-tiba Alex teringat sesuatu dan meraih ponselnya. Dia mencari sebuah nama dalam daftar kontak. Setelah menemukannya, dia mengirim pesan singkat. Tidak butuh waktu lama untuk mendapat balasannya. Alex segera mengecek isi pesan itu dan meremas ponselnya dengan geram.

John :

Maaf, aku tidak bisa datang malam ini. Lusa aku akan datang untuk memeriksanya. Kau boleh terlambat pulang jika ingin aku berkenalan lebih jauh dengannya.

Alex membuang kasar ponselnya kesembarang tempat. Dia menggeram kesal dengan isi pesan dari John yang ingin menggoda Nina. Alex tidak akan membiarkan siapapun mendekati Nina karena dia adalah miliknya, istrinya seorang.

Alex terpaksa meminta bantuan John untuk memeriksa Nina karena dokter sebelumnya hampir memperkosanya. Dokter sialan itu memanfaatkan kesempatan saat memeriksa Nina dan meraba daerah intimnya. Untungnya Alex masuk dan mengetahui perbuatan busuknya.

Saat mengetahuinya, Alex langsung murka. Dia menghajar dokter itu hingga babak belur dan menghancurkan karirnya. Tidak sampai disitu, Alex juga mengasingkannya ke negara lain. Dengan segala kekuasaan yang dimilikinya, Alex mampu melakukannya. Bahkan Alex memastikan kehidupan dokter itu tidak akan pernah tenang, untuk selamanya.

Alex menyadarkan kepalanya pada sandaran kursi. Setiap kali mengingat dokter itu, kemarahannya selalu meluap-luap. Karena kejadian itu, Alex hanya mempercayakan Nina kepada John, sahabat masa sekolahnya.

Johnathan Lewis, penerus dari Lewis Hospital dan terkenal jenius. Diumur 25, dia berhasil mendapatkan gelar PhD dan telah puluhan kali menjalankan operasi. Sayangnya prestasi sebesar itu tidak sebagus dengan penampilannya.

John terkenal suka mempermainkan perasaan wanita dan telah mematahkan puluhan hati. Meskipun kepribadiannya buruk, John tetap melakukan pekerjaannya secara profesional dan bersikap layaknya seorang dokter jika berhadapan dengan pasien.

Bekerja dan memikirkan berbagai macam hal, membuat Alex tidak menyadari kalau waktu berlalu dengan cepat. Dia tidak sadar jika sudah waktunya untuk pulang. Dengan gerakan teratur, Alex membereskan semua perlengkapan dan memeriksa jadwalnya untuk besok. Setelah semua selesai, Alex berjalan meninggalkan kantor menuju rumahnya.

Sesampai dipintu, Alex berharap yang pertama dilihatnya adalah Nina. Namun sayangnya, orang yang berdiri menyambutnya adalah Anna.

Anna terkekeh melihat ekspresi kecewa di wajah Alex. “Kecewa melihatku?” tebak Anna dengan melipat kedua tangan dada.

“Dimana Nina?” Alex menoleh ke seluruh ruangan dan tidak melihat pujaan hatinya dimanapun.

“Dia ada di kamar. Hobinya membaca buku masih tidak berubah,” jawab Anna.

Alex tersenyum dan berjalan kearah kamar. Seperti yang Anna katakan, Nina berada disana sambil berbaring membaca buku. Posisinya yang membelakangi pintu membuatnya tidak sadar dengan kehadirannya. Alex berjalan perlahan mendekati Nina dan memeluknya dari belakang. Perbuatannya membuat Nina terkejut dan langsung meletakkan buku yang dibaca.

“Alex,” panggil Nina setelah mendapati siapa yang memeluknya.

“Aku merindukanmu.” Alex mencium sekilas pipi Nina dan mengusapnya. Bibirnya kembali melengkung ketika melihat wajah Nina yang memerah tersipu malu.

Sikap Nina yang kehilangan ingatannya bagi Alex sangat manis. Berbeda dengan sikapnya dulu yang tidak kenal takut dan hati-hati. Sikapnya sekarang lebih lembut dan lebih feminim. Bukan berati Alex tidak menyukai sifat Nina yang dulu. Bagaimanapun sifat Nina, Alex tetap mencintainya.

“Kau belum mandi?” memperhatikan baju Nina yang masih sama dengan tadi pagi.

“Maaf. Aku terlalu larut membaca sehingga tidak memperhatikan waktu,” aku Nina.

“Buku apa yang kau baca, hmm? Apa begitu menarik?” Alex melihat buku yang dibaca Nina. Itu adalah novel Harry Potter and The Deathly Hallow, seri terakhir dari ketujuh novel. Dia mengernyit keheranan karena tidak mungkin Nina menghabiskan membaca semua seri itu dalam satu hari.

“Kau menyelesaikan semua seri hari ini?” tanya Alex mengangkat sebelah alisnya.

Nina menggeleng lalu melihat ke arah novel. “Tidak. Aku hanya membaca sekilas. Aku merasa sebelumnya aku sudah pernah membacanya. Rasanya semua novel ini juga sudah di filmkan. Atau hanya perasaanku saja?”

Rasa cemas dengan cepat menghinggapi Alex ketika mendengarnya. Dia khawatir jika ingatan Nina perlahan-lahan akan kembali. “Itu hanya perasaanmu saja. Sekarang mandilah dulu, setelah itu kita makan malam bersama.”

Nina mengangguk lalu menoleh ke arah kamar mandi yang hanya satu. Jika mandi bergantian akan memakan waktu lama. Sebuah ide langsung terlintas di benaknya dan kembali menatap Alex.

“Bagaimana kalau kita mandi bersama?”

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

6 Komentar

  1. apa yg terjadi sblm nina amnesia

    1. Juniar Vina menulis:

      Nantikan selanjutnya

  2. Kata Alex, sifat Nina yang sekarang beda jauh dengan sifatnya sebelum koma. Maksudnya lebih blak-blakan kah? Saya makin penasaran ada kejadian apa sebelum Nina koma yang bikin Alex ketakutan kalau Nina bisa ingat lagi.

  3. Indah Narty menulis:

    Apakah itu :wowtakkusangka

  4. Natazsa Puri Gracia menulis:

    Jalan ceritanya menarik, buat penasaran. Pemilihan kata dan penyusunan kalimatnya juga bagus 👍🏼