azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 9 : Ya atau Tidak, Armenia?

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.094 votes, average: 1,00 out of 1 (3.094 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Pagi itu, Asoka, Sang pendeta tertinggi di kerajaan Garaya sedang berdoa di ruang utama di kuil terbesar Azhura Kahn. Lelaki tua itu mengenakan jubah pendeta berwarna merah, dengan tudung menutupi kepalanya, menyembunyikan rambutnya yang sudah memutih. Usianya sudah 77 tahun, tetapi dia tetap sehat dan tetap menjadi pemimpin paling penting dan dihormati di kerajaan ini.

Tangannya yang keriput sibuk mengatur persembahan yang terdiri dari tujuh belas warna bunga yang dirangkai di alas kaki patung sang Azhura, dan ketika Pendeta Asoka menatap figur patung itu, dia  teringat kembali semalam, ketika sang Azhura Kahn muncul kembali di hadapannya setelah tujuh tahun berlalu. Semalam, Sang Mahadewa muncul diruangan khusus berdoanya, ketika Pendeta Asoka memutuskan untuk berdoa larut malam.

“Kau melakukan pekerjaan yang baik Asoka.” Suara Sang Mahadewa bagaikan bisikan samar dan sosoknya setengah melayang di kegelapan, diselubungi bayangan, sedikit berkabut samar-samar, meskipun begitu aura kekuatannya menguar lepas membuat Asoka tidak bisa melakukan yang lain selain bersujud.

“Hamba melakukan sesuai yang anda perintahkan oh Yang Mulia.” Asoka menundukkan kepalanya dalam-dalam penuh penghormatan, “Ketika tujuh tahun lalu anak perempuan bernama Khaeva itu datang bersama ibunya, dan mengaku sebagai anak yang menerima persembahan langsung dari anda, hamba langsung teringat pesan anda. Meskipun hamba tahu dia adalah pengantin palsu, hamba memperlakukannya selayaknya pengantin anda yang asli dan memberinya kedudukan tinggi di istana.”

Azhura Kahn menatap ke bawah, ke arah Asoka, pendeta kuil, pelayan manusianya yang setia.

“Kau sudah melakukan segalanya dengan benar. Berkatku akan melimpah untukmu .”

Sebuah sinar lembut kemerahan meresap ke tubuh Asoka, sang pendeta tertinggi yang sudah berusia 77 tahun. Sinar lembut itu seolah memberikan kekuatan kepada tubuh tuanya yang ringkih, membuatnya merasa sehat dialiri oleh berkah sang Azhura.

Pendeta Asoka merenung menatap bunga-bunga di depannya, kesadarannya sudah kembali ke masa kini. Pagi ini dia sedang mempersiapkan tatanan persembahan di dalam kuil terbesar di kerajaan Garaya. Hari ini adalah hari istimewa bagi seluruh penduduk Garaya. Selain sebagai hari persembahan pertama bagi anak-anak perempuan berusia sepuluh tahun yang dilakukan tahunan, di hari ini Puteri Khaeva akan memberikan persembahan pertamanya kepada sang Azhura Kahn.

Khaeva…..

Pendeta Asoka tidak bisa menahan sinar tidak suka yang muncul di matanya. Dia memang hidup besar dan mungkin akan mati sebagai pendeta yang agung, dan sebagai pendeta, dia diajarkan untuk memiliki hati yang damai, dan tanpa kebencian.

Tetapi…. Pendeta Asoka tentu saja tidak bisa menahan rasa tidak sukanya kepada Khaeva dan Ibunya Ruth yang tidak tahu diri. Bertahun-tahun mereka menipu semua orang dan seluruh anggota kerajaan Garaya, dan mereka tetap saja bersikap pongah dan tanpa dosa. Dan bertahun-tahun pula pendeta Asoka harus menahan rasa muaknya dengan berpura-pura tidak tahu bahwa Khaeva adalah pengantin palsu Azhura Kahn.

Pendeta Asoka tidak tahu mengapa Sang Mahadewa Azhura Kahn membiarkan saja Khaeva dan ibunya melakukan penipuan seperti ini. Tetapi sebagai seorang hamba, meresa tidak perlu bertanya.

Azhura Kahn adalah dewa dari segala dewa. Beliau pasti tahu apa yang baik dan apa yang tidak. Pendeta Asoka yakin, rencana sang Azhura Kahn adalah rencana yang terbaik…

Tiba-tiba saja pendeta Asoka merasa penasaran, kalau memang Khaeva adalah pengantin palsu, mungkinkah di luar sana pengantin asli sang Azhura Kahn ada dan baik-baik saja?

Sejenak pendeka Asoka mengerutkan keningnya, tetapi kemudian dia tersenyum simpul.

Ya. Pasti sang pengantin asli baik-baik saja dalam perlindungan Azhura Kahn…..Pendeka Asoka tidak bisa menahan senyum di bibirnya yang makin melebar penuh pengharapan, semoga saja dia berusia cukup panjang untuk melihat pengantin asli sang Azhura Kahn, perempuan itu…. sang pengantin yang asil  pastilah perempuan yang luar biasa.

***

 “Pernikahan kita?” Armenia membelalakkan matanya kepada Zhura Al Gul, dia berganti-ganti menatap dua lelaki di depannya. Tetapi sang ayah hanya bisa mengangkat bahu, dan Zhura Al Gul hanya berdiri dengan ekspresi tak terbaca.

“Aku sudah memberikan pakaian pernikahan untukmu.” Suara Zhura Al Gul terdengar datar, seolah-olah tidak mempedulikan nada protes di suara Armenia, “Ayahmu pasti sudah menyiapkannya di kamarmu. Lekaslah berganti baju.”

“Tidak!” Armenia tiba-tiba saja mendapatkan kekuatan untuk membantah Zhura Al Gul. Mungkin lelaki ini adalah pengantin sempurna bagi semua perempuan di dunia, tetapi Ini semua terlalu tiba-tiba. Kenapa lelaki asing ini tiba-tiba datang dan memaksakan kehendaknya?, Memangnya siapa lelaki ini?,

“Tidak! Aku tidak mau menikah denganmu!” Armenia hampir-hampir saja berteriak kalau saja Daika tidak mengingatkannya, ada nada cemas di sana.

“Armenia….” Daika tampak pucat, “Jangan  pernah meninggikan nada suaramu kepada Zhura Al Gul.”

Armenia menatap ayahnya, merasa kecewa karena ayahnya bukannya membelanya, tetapi malahan membela bangsawan arogan di depannya ini, yang sekarang berdiri diam dengan ekspresi marah sambil mengetatkan gerahamnya. Tiba-tiba ada sebersit rasa takut di benak Armenia melihat percikan kemarahan di mata emas itu…

“Tapi ayah…” Armenia berusaha mencari perlindungan dari ayahnya.

“Tinggalkan kami berdua, Daika.” Suara Zhura Al Gul mendesis, tak terbantahkan. Matanya tak teralihkan, menatap tajam ke arah Armenia seolah ingin meremukkannya.

Daika menatap Armenia sejenak dengan tatapan memperingatkan yang sedikit cemas, lalu beringsut pergi. Meninggalkan, sekali lagi, Armenia hanya berdua saja dengan lelaki ini.

Lama mereka bertatapan dalam keheningan, hingga akhirnya Zhura Al Gul memecahkannya,

“Aku sudah dijanjikan untuk menikahimu di usiamu yang ke tujuh belas Armenia.” Zhura Al Gul tampak menahan diri. “Aku tidak pernah dan tidak mau ditolak.”

Kalimat terakhir Zhura Al Gul tentu saja memancing kemarahan Armenia,

“Mungkin kau adalah bangsawan yang biasa dipatuhi, tetapi kau tidak bisa memaksakan kehendakmu kepadaku!” Armenia mengangkat dagunya, merasa benci ketika tiba-tiba saja perasaan tidak berdaya mulai merayapinya. Zhura Al Gul mengeluarkan aura penuh kekuasaan yang seolah memaksa orang-orang disekitarnya bersujud kepadanya, dan Armenia merasakan dorongan itu, dorongan untuk menyerahkan diri kepada Zhura Al Gul….

“Aku bisa memaksakan kehendakku kepada manusia manapun, Armenia. Termasuk Kau.” Mata Zhura Al Gul menyala. Dan entah kenapa Armenia melihat sekelebatan warna merah di sana, menyambar warna emas itu.

Warna merah….?

Armenia mengerjap-ngerjapkan matanya, dan menatap Zhura Al Gul lagi, tetapi warna mata itu ternyata tetap emas, berkilauan membara karena marah.

“Apakah kau tidak mau menikahiku Armenia?” Zhura Al Gul melangkah dan mendesak Armenia hingga ke diding, memerangkap perempuan itu dengan tubuhnya. Angin yang bertiup dari jendela membuat ujung ikatan kepalanya berkibar, membuatnya tampak semakin berbahaya.

Armenia membuka mulutnya, berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk menjawab ‘tidak‘ seperti tadi, tetapi keberaniannya itu lenyap tanpa daya di bawah tatapan Zhura Al Gul yang berapi-api. Apalagi sekarang, aroma manis nan harum yang seolah bukan dari dunia manusia itu menyergap indera penciumannya, memabukkannya….

Zhura Al Gul menekan kedua telapak tangannya di dinding, di samping sisi kepala Armenia, lelaki itu sedikit membungkuk supaya matanya sejajar dengan mata Armenia, ada ancaman serius di sana, sedikit menakutkan.

“Kalau kau menolakku, akan kuhancurkan seisi desa ini, akan kubuat semuanya menjadi debu berkeping-keping.” Suara Zhura Al Gul Pelan, hanya berupa bisikan, tetapi apa yang tersirat di dalamnya, amatlah menakutkan.

Ancaman yang keluar dari mulut Zhura Al Gul terdengar seperti kutukan yang mengerikan. Armenia membelalakkan mata, darah seolah tersirap habis dari wajahnya yang pucat pasi, dan entah kenapa… entah kenapa Armenia merasa percaya bahwa Zhura Al Gul bisa melakukan semua yang dikatakannya. Tubuh Armenia gemetar…. ketakutan… kalau dia menolak lelaki ini, mungkinkah Zhira Al Gul akan membuat penduduk desa ini celaka?

Zhura Al Gul adalah bangsawan keturunan suku pemburu yang dikenal sebagai pemanah handal, mereka sangat kuat dan memiliki kuda-kuda yang hebat untuk perburuan mereka. Dan kalau kata ayahnya benar, bahwa Zhura Al Gul adalah pemimpin dari klan pemburu ini, dia pasti memiliki sepasukan pemburu kuat yang bisa membumi hanguskan desa kecil ini dengan mudah.

Tetapi… apakah lelaki ini sejahat itu? Menghancurkan satu desa hanya karena Armenia menolaknya….?

Sekarang wajah Zhura Al Gul benar-benar dekat dengan Armenia, hidung mereka hampir bersentuhan, dan Armenia bahkan bisa melihat kedalaman mata emas yang luar biasa indah itu, yang sekarang sedang menyambarnya dengan tatapan kejam dan tak berbelas kasihan.

“Jadi… Ya, atau tidak Armenia?”

Ya.

Benak Armenia berteriak

Zhura Al Gul pasti sanggup menghancurkan satu desa demi mencapai keinginannya. Armenia menyerah. Ada sesuatu yang memberitahunya, mungkin alam bawah sadarnya. Memberitahunya bahwa dia harus patuh kepada kehendak lelaki di depannya ini.

“Ya.” Akhirnya meskipun susah payah Armenia bisa menjawab dengan lemah, suaranya serak penuh kebencian  kepada dirinya sendiri yang tidak punya daya.

Zhura Al Gul memundurkan tubuhnya menjauh, melepaskan Armenia dari perangkap tubuhnya. Ada segaris senyum tipis di bibirnya, tetapi senyum itu tidak sampai ke matanya.

“Kalau begitu gantilah pakaianmu dengan pakaian pengantin. Aku akan membawamu ke kota untuk menikahimu.”

Armenia masih terengah di sana, kakinya seakan lumer tak bisa bergerak, tubuhnya masih gemetar akibat sisa ketakutannya menghadapi kemarahan Zhura Al Gul. Sedetik Armenia masih memandang Zhura Al Gul, dan kemudian langsung membalikkan tubuhnya. Armenia merasakan tatapan Zhura Al Gul yang tajam, seolah menusukkan punggungnya, tetapi dia tetap berusaha bergerak menjauh, berpegangan pada dinding kayu rumahnya dan mempercepat langkahnya memasuki kamar.

Zhura Al Gul menatap tubuh Armenia yang menghilang di balik pintu kamar, dan masih tetap berdiri di sana dengan tatapan tajam saat Daika muncul, bergerak dengan hati-hati di dalam jarak pandang Zhura Al Gul, memasang posisi tubuh penuh hormat kepada junjungannya

“Anda tidak perlu sekasar itu kepadanya, Yang Mulia.” Daika menundukkan kepalanya, “Armenia akan sangat ketakutan kepada anda…”

Sang Azhura Kahn, yang masih berada dalam wujud manusianya sebagai Zhura Al Gul hanya bergeming, tidak ada yang berubah di ekspresi wajahnya. Lelaki itu masih menatap tajam ke arah pintu kamar Armenia.

“Tidak ada waktu lagi, Daika. Dengan atau tanpa paksaan, Armenia harus menjadi isteriku.” Azhura Kahn menjawab dengan tegas, tak terbantahkan.

Mungkin tidak ada yang menyadari bahwa mata Zhura Al Gul meredup penuh kelembutan ketika menyebut kata ‘isteriku’ , tetapi Daika bisa melihatnya. Dan Daika, pelayan setia sang Azhura Kahn menyembunyikan senyumnya, senang  karena sudah lama sekali dia tidak pernah melihat junjunganya itu bersikap lembut.

Zhura Al Gul memiringkan kepalanya, membiarkan helaan angin dari jendela meniup rambut merah gelapnya, “Kita harus bergegas, Aku bisa merasakan bahwa ‘Sang Kematian’ sudah semakin dekat.”

***

Pakaian yang terhampar di atas tempat tidur Armenia itu sangat indah…. warnanya merah, dengan sulaman emas yang begitu cantik di setiap sisi gaun itu. Armenia menyentuh gaun itu dengan jemari gemetar, terpukau oleh kehalusan kain itu.

Warna merah ini asli, bukan hasil rendaman bunga-bunga. Kalau begitu….. gaun ini dibuat dari serat asli pohon Kailfah yang sangat langka itu.

Armenia terpukau, walaupun belum pernah menyentuh dan melihatnya, dia tahu bahwa pakaian yang dibuat dari serat pohon kailfah amat sangat mahal dan langka. Zhura Al Gul mungkin benar-benar bangsawan yang berpengaruh, karena setahu Armenia, pakaian jenis ini hanya dikenakan pendeta-pendeta kuil tingkat tinggi dan bangsawan-bangsawan yang tinggal di istana kerajaan Garaya.

Gaun itu sangat lembut dan jika dipakai, kainnya pasti akan jatuh dengan indah sampai menghampar ke lantai. Beriap-riap dengan sulaman emas di bawah, yang membungkus kakinya bagaikan kobaran api. Disebelah gaun itu, ada kain panjang dari bahan serupa yang lebih tipis yang seyogyanya digunakan sebagai kerudung untuk pengantin wanita, keseluruhan kerudung itu dihiasi dengan hiasan sulaman yang bahkan lebih indah lagi, membentuk bunga-bungaan kecil keemasan yang memenuhi seluruh bagian kerudung itu.

Armenia duduk di tepi ranjang, memeluk gaun merah nan indah itu di hamparan pangkuannya, lalu menoleh dengan gelisah ke arah pintu, tahu bahwa Zhura Al Gul sedang menunggunya di sana.

Armenia sudah menjawab ‘Ya’ dan dia tidak mungkin bisa mundur lagi….

***

Khaeva menatap dirinya di cermin, dan tersenyum puas. Dirinya memang luar biasa… amat cantik. Semua perempuan di seluruh dunia Ametyst pasti merasa irinya, karena dirinyalah pengantin sang Azhura.

Gaun merahnya yang indah sekarang menempel di tubuhnya dengan indahnya, kulitnya tampak bercahaya karena tadi pagi para dayang sudah mempersiapkan air mandi dari susu dan berlian putih baginya. Bisa dikatakan penampilan Khaeva sangat sempurna.

Khaeva mengambil sisir yang diukir dari batu permata putih khusus untuknya, dan menyisir rambutnya yang indah panjang bergelombang. Matanya menatap cermin, dan kemudian pikirannya berkelana ke masa lalu, ingat pada masa kecilnya, dan ketika bayangan Armenia menyapa benaknya, Khaeva mengerutkan keningnya tidak suka.

Armenia…. sepupunya yang cantik… sepupunya yang telah merebut perhatian dari Mahadewa Azhura Kahn. Selama ini dia selalu dipenuhi kecemburuan buta, bertanya-tanya terus menerus kenapa waktu itu sang Azhura Kahn memilih untuk menerima langsung persembahan Armenia? Bukannya menerima persembahannya?

Gerakan menyisirnya menjadi semakin kasar terhantam oleh rasa cemburu. Khaeva membelalakkan matanya dengan marah, menatap dirinya sendiri dengan napas terengah.

Tidak! Armenia pasti sekarang sudah mati dan membusuk di tanah, dimakan cacing-cacing yang menjijikkan. Dan sang Mahadewa Azhura Kahn telah melupakan Armenia dan mengalihkan pilihannya kepada dirinya.

Dialah pengantin Azhura Kahn! Sang Mahadewa pasti akan tergila-gila begitu menatapnya.

***

Para penduduk tampak lalu lalang dengan berbagai urusannya di tengah keramaian pusat kota di kerajaan Garaya yang sedang sibuk-sibuknya. Hari ini adalah hari yang sangat istimewa, hari yang sudah ditunggu-tunggu oleh seluruh penduduk selama bertahun-tahun.

Anak-anak perempuan dari berbagai penjuru akan berkumpul siang ini di kuil terbesar Azhura Kahn di pusat kota. Tentu saja mereka semua pasti sudah tidak sabar untuk melihat patung sang Azhura pertama kali, pun dengan para penduduk yang tidak sabar melihat persembahan pertama Putri Khaeva yang sedianya akan dilakukan di depan umum hari ini.

Ya, Putri Khaeva, puteri legendaris yang merupakan pengantin sang Dewa Azhura akan memberikan persembahan pertamanya di usianya yang ke tujuh belas. Seluruh penduduk hanya mendengar cerita dari mulut ke mulut tentang kisah Putri Khaeva yang persembahan pertamanya diterima pertama kali oleh sang Mahadewa Azhura Kahn pada saat usianya sepuluh tahun.

Beberapa orang tentu masih ingat  peristiwa tujuh tahun yang lalu, saat kehebohan terjadi karena keranjang persembahan untuk sang Azhura hilang satu buah, ketika itu para pendeta besar mengumpulkan kembali semua anak yang mengadakan persembahan dan ternyata diketahui bahwa Khaevalah anak yang terpilih itu, Sang Azhura Kahn telah menerima langsung keranjang persembahan putri Khaeva. Sang pendeta tertinggi langsung mengangkat Puteri Khaeva dan ibunya sebagai anggota kerajaan, dan merekapun kemudian tinggal di istana.

Karena kedudukannya yang tinggi, tidak semua masyarakat bisa melihat puteri Khaeva, mereka hanya mendengar kisah-kisah dari orang-orang yang pernah masuk ke istana akan betapa cantiknya sang pengantin Azhura Kahn.

Dan sekarang, seluruh penduduk desa bisa melihat secara langsung dan mengagumi kecantikan perempuan yang telah dipilih menjadi pengantin sang Azhura ketika nanti sang puteri memberikan persembahannya kepada Azhura Kahn. Mereka juga berharap, sang Azhura Kahn muncul untuk menerima persembahan puteri Khaeva…

Pagi itu di dekat dengan kuil sang Azhura Kahn yang paling besar, para penduduk mulai berkerumun untuk mengantarkan anak-anak perempuan mereka memberikan persembahan di kuil Azhura. Suasana ramai dan sedikit hiruk pikuk, tak sedikit penduduk desa dan kota yang berbaur, sengaja mengenakan pakaian terbaiknya untuk menghadiri even terbesar di kerajaan Garaya ini.

Di salah satu sudut, seorang anak perempuan kecil  tampak terhuyung-huyung sambil membawa keranjang persembahan yang penuh dengan buah kulsu. Ketika anak kecil itu memiringkan tubuhnya, salah satu buah kulsu menggelinding jatuh menuruni jalanan. Anak kecil itu menatap buah kulsu itu berhenti ketika membentur kaki seorang lelaki dewasa yang berdiri di depannya. Lelaki itu mengenakan jubah panjang seperti yang dikenakan pendeta-pendeta kuil Azhura Kahn, tetapi jubahnya berwarna putih. Lelaki berjubah putih itu membungkuk dan mengambil buah kulsu itu dari dekat  kakinya,

Dan ketika anak kecil itu mendongakkan kepalanya, dia ternganga….

Lelaki yang didepannya sangat tampan seperti malaikat, matanya hijau bening dan berkilauan, dipagari oleh bulu mata gelap yang sangat kontras dengan warna matanya yang terang. Kulitnya yang pucat begitu indah seolah menyimpan berlian putih yang berkelap-kelip dibawah permukaan kulitnya, dan riap-riap rambutnya yang sedikit keluar dari tudung putihnya berwarna keperakan, berkilauan tertimpa matahari.

Lelaki berjubah putih itu tersenyum dan melangkah mendekat kepada anak kecil yang masih ternganga karena sosok mempesona di depannya, dan mengulurkan buah kulsu di tangannya,

“Apakah buah ini milikmu?” Suara lelaki itu lembut, seperti angin dingin yang berdesir pelan meniup telinga,

Anak kecil itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan bertanya,

“Apakah kau malaikat?”

Bagi anak-anak kecil di dunia Ametyst, malaikat adalah sosok mitologi yang ada pada dongeng-dongeng pengantar tidur mereka. Berkebalikan dengan dongeng tentang Azalel yang menakutkan, kisah tentang malaikat adalah kisah yang paling disenangi oleh anak-anak, dalam kisah-kisah itu, para malaikat digunakan untuk menyebut mahluk rupawan bersayap transparan dan berkilauan, dengan tubuh seringan bulu yang menjadi pelayan setia bagi dewa-dewi tertinggi,

Lelaki itu berjubah putih itu terkekeh mendengar pertanyaan si anak kecil itu, dia menggulirkan buah kulsu itu ke tangan si anak kecil, membuat anak kecil itu mengernyitkan keningnya karena jemari lelaki itu yang tersentuh tanpa sengaja terasa sangat dingin, sedingin es,

“Mungkin.” Lelaki itu menjawab dengan mata hijaunya yang berbinar lembut, seolah-olah dia geli mendengar pertanyaan anak itu, “Mungkin saja nak, tapi itu tergantung kau ingin memanggil malaikat yang mana.” Jawabnya dengan nada misterius.

Setelah sekali lagi melemparkan senyum misteriusnya kepada anak kecil yang masih terpesona dan terpaku ditempatnya, Lelaki berjubah putih itu melangkah melewati si anak kecil meninggalkan suara halus jubahnya yang berdesir pelan dan aroma harum yang khas tetapi  membuat begidik…

Karena aroma itu adalah aroma dupa angro mainu, dupa khusus yang diramu dari sebelas akar pohon, menciptakan aroma harum percampuran rempah dan kayu-kayuan.

Dan dupa angro mainu itu  adalah dupa khusus yang dibakar pada saat upacara kematian…..

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

209 Komentar

  1. Shelli Novianti menulis:

    :grrr

  2. Apaka aku sudah mengomen

  3. Yuhuu

  4. Baca ulang lagi

Tinggalkan Balasan