azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 4 : Awal Yang Baru

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.292 votes, average: 1,00 out of 1 (3.292 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2Kereta kuda yang dikendarai kakek Bargeto melaju cepat menembus hutan. Kereta itu ditarik oleh dua ekor kuda, dengan kakek Bargeto sendiri sebagai sais keretanya. Di dalam kereta yang terbungkus atap kanvas putih itu, ada Armenia dan nenek Bargeto bersamanya.

Armenia duduk dengan tubuh terguncang-guncang di dalam kereta, berpegangan kepada nenek Bargeto. Sebelumnya dia tidak begitu mengenal nenek Bargeto, dia hanya tahu bahwa sang nenek adalah perempuan tua yang baik, tempat dimana ibundanya selalu membeli susu dan keju, salah satu produk dari peternakan yang dimiliki oleh kakek Bargeto.

Tetapi tadi pagi, ketika dia sampai di peternakan Bargeto, ternyata kedua pasangan suami isteri itu sudah menunggunya. Ibundanya entah bagaimana caranya sudah menghubungi kedua pasangan yang baik itu dan meminta mereka mengantarkannya ke kerajaan Marata.

“Ibundamu adalah perempuan baik.” Nenek Bargeto menatap Armenia dengan lembut, suasana di luar jendela kereta sudah makin redup, pertanda sore sudah menjelang. Perjalanan mereka mungkin masuh satu malam lagi untuk menembus hutan kerajaan Garaya dan menuju kerajaan Marata, jika kereta kuda ini tidak beristirahat malam ini, mungkin pagi harinya begitu matahari menjelang, mereka sudah sampai di Marata.

Armenia menganggukkan kepalanya setuju, kemudian menatap Nenek Bargeto dengan tatapan mata emasnya yang polos,

“Apakah nenek tahu kenapa ibuku menyuruhku pergi ke tempat yang jauh?”

Mata Nenek Bargeto tampak meredup sebelum dia memalingkan mukanya, seolah tidak mampu menatap langsung mata Armenia yang polos,

“Nenek tidak tahu, Armenia.” Jemari keriputnya yang keibuan mengusap rambut Armenia dengan sayang, “Tetapi apapun yang terjadi, kau harus tahu, ibundamu sangat menyayangimu, dan apapun yang ia lakukan, pastilah yang terbaik untukmu.”

***

Malam sudah menjelang, binatang-binatang malam mulai mengeluarkan suara bersahut-sahutan, memberikan warna tersendiri menembus keheningan hutan di perbatasan kerajaan Garaya. Jalan yang mereka lalui sepertinya bukan jalanan biasa yang ditempuh para pedagang dan khalayak lainnya. Entah kenapa mereka malahan melalui jalanan kecil dengan menembus hutan lebat yang tampaknya semakin lama-semakin lebat.

Pada akhirnya Armenia tidak bisa lagi melihat apa yang ada di luar jendelanya, semuanya tampak semakin gelap dan pekat dengan suara-suara binatang malam yang mulai bersahut-sahutan. Nenek Bargeto sendiri sudah tertidur dengan pulas di sebelah Armenia. Sementara kakek Bargeto tampak begitu tangguh di luar sana, mengendalikan kudanya menembus hutan.

Armenia sudah mulai mengantuk ketika terdengar suara derap kuda-kuda lain di belakangnya. Rasa kantuknya pudar seketika, dan dia langsung memasang telinganya. Suara derap kuda itu seakan berasal dari berbagai arah, mengelilingi kereta kuda mereka. Dan kemudian kereta kuda mereka berhenti.

Armenia mencoba menatap ke luar jendela, tetapi suasananya masih sama, hanya gelap pekat yang terlihat. Tetapi telinganya mendengar suara-suara lain suara gerombolan laki-laki dengan suara tinggi yang bersahut-sahutan. Tiba-tiba saja Armenia merasa takut. Nenek Bargeto yang seketika terbangun ketika kereta berhenti tadi sepertinya juga merasakan hal yang sama, perempuan tua itu menggenggam tangan Armenia dengan cemas.

Setelah beberapa lama, pintu kereta kuda itu digedor dengan keras dan kasar, membuat Armenia terlompat kaget, dia mendongak dan menatap ke arah Nenek Bargeto yang tidak bisa menyembunyikan ketakutan di wajahnya. Mereka berdua tetap bergeming, menanti apa yang terjadi, karena memang tidak bisa berbuat apa-apa.

Setelah gedoran-gedoran yang keras berlalu. Tiba-tiba saja pintu kereta mereka dihantam-hantam dengan kasar, dan kemudian setelah pukulan terakhir yang sangat mengagetkan, pintu itupun terbuka paksa, dengan engselnya yang lepas dan daun pintunya yang terbanting ke tanah.

Beberapa orang dengan topeng kain membungkus wajahnya dan memegang pedang yang tampak mengerikan berdiri di depan pintu,   lalu mengeluarkan suara-suara kasar, memaksa mereka semua turun dari kereta.

Tiba-tiba saja Armenia tahu, orang-orang ini adalah perampok hutan yang sering dibicarakan oleh penduduk desanya, beberapa waktu yang lalu, paman Merlin, salah seorang tetangga di desa mereka juga datang dengan tubuh penuh luka dan kereta serta kudanya telah hilang dirampok oleh mereka. Beruntung paman Merlin masih bisa bertahan hidup meskipun ditinggalkan dalam kondisi berdarah-darah oleh para perampok itu,  dan masih bisa meminta pertolongan kepada seorang pemburu yang kebetulan lewat, kalau tidak paman Merlin pasti sudah mati kehabisan darah di hutan.

Ketakutan langsung menjalari tubuh Armenia, menyadari bahwa yang sekarang telah mengepung mereka adalah orang-orang jahat.  Mereka ditarik-tarik dan didorong-dorong dengan paksa menuruni kereta. Dan setelah menyesuaikan diri dengan kegelapan pekat di depannya, Armenia menyadari bahwa Kakek Bargeto telah diikat berlutut di tanah dekat mereka, sepertinya kakek Bargeto dipukul sampai pingsan dan belum dibunuh, karena meskipun terbaring lemah, kakinya masih tampak bergerak. Nenek Bargeto yang juga telah melihat suaminya, memekik dan berusaha menghampiri suaminya, tetapi salah seorang perampok berpedang itu menahannya.

Armenia sendiri hanya bisa berpegangan pada nenek Bargeto, tubuh mereka sama-sama bergetar, ketakutan dan kedinginan. Suasana hutan perbatasan Garaya yang berkabut memang sangat dingin di malam hari. Apalagi dengan tetesan kabut-kabut es yang menggelantung dan berubah menjadi butiran es beku di dedaunan.

“Kami tidak punya harta apa-apa…..” Nenek Bargeto ahkirnya bergumam dengan suaranya yang masih gemetaran.

Salah seorang perompak bertopeng dengan tubuh yang paling besar melangkah mendekat dengan pedang terayun-ayun di tangannya, dia sepertinya pimpinan kawanan perompak itu, dilihat dari kawan-kawannya yang langsung memberikan jalan kepadanya untuk lewat.

Lelaki berbadan besar itu memajukan pedangnya, dan kemudian menyentuhkannya ke dagu Armenia, memaksanya mendongak, Sekilas dibawah cahaya terang, Armenia bisa melihat matanya yang menyala penuh kekejian dan tatapan jahat.

“Anak ini bisa menjadi harta yang berharga.” Suara sang pemimpin perampok terdengar serak dan sedikit mabuk. Rupanya, meskipun dalam kegelapan, sepertinya perampok itu menyadari betapa cantiknya Armenia. Lelaki itu membungkuk dan memaksa untuk meraih tangan Armenia. Nenek Bargota berusaha mempertahankannya, tetapi tarikan sang pemimpin perampok sangatlah keras, melepaskan Armenia dari Nenek Bargota hingga hampir membuat sang nenek terjengkang ke belakang, tubuhnya terbanting ke tanah dengan keras, hingga kehilangan kesadarannya dan pingsan.

Armania sekarang berdiri dengan tubuh kedinginan dan gemetaran, sendirian, karena kakek dan nenek Bargeto telah tidak berdaya. Kedua pergelangan tangannya dipegangi oleh kepala perampok itu. Lelaki jahat itu menundukkan kepalanya mencoba mengamati Armenia dari jarak dekat dan seringainya keluar seolah-olah senang dengan apa yang ada di depan matanya.

“Siapa namamu, anak cantik?”

Armenia tidak mau menjawab, dia malah meronta, hampir menangis ketakutan dan berusaha melepaskan tangan kasar sang perampok dari tangannya. Tetapi sang perampok hanya terkekeh jahat dan malahan semakin mempererat pegangannya pada tangan Armenia, memuntirnya dengan kasar hingga pergelangan tangan Armenia terasa sakit.

“Lepas…. Lepaskan!!!” Armenia menjerit-jerit, meronta-ronta sekuat tenaganya, tetapi tawa sang perampok malahan semakin keras, disusul dengan tawa teman-temannya.

“Aku akan menjualmu anak cantik, kau akan laku keras dengan kecantikanmu ini.” Tatapannya berubah mesum, tidak peduli bahwa anak perempuan yang ada di depannya ini masih berusia sepuluh tahun, “Tapi sebelumnya aku akan mencicipimu, kami semua akan mencicipimu sampai puas!”

Jemari kasar sang pemimpin perampok bergerak menuju kerah gaunnya hendak merobeknya. Armenia berontak sekuat tenaganya, berusaha melindungi dirinya. Jeritannya bergema memenuhi hutan, jeritan pedih anak perempuan yang tak berdaya.

Dan seketika itu juga, seluruh hutan tiba-tiba terang benderang, terang sekali dengan cahaya api yang begitu menyala, membuat semua mata kesakitan karena tidak tahan dengan sinar terangnya. Semuanya melindungi matanya dari cahaya itu, termasuk Armenia yang telah dilepaskan oleh sang pemimpin perompak karena sang pemimpin perompak lebih fokus kepada cahaya terang yang tiba-tiba muncul itu.

Lalu tiba-tiba dari cahaya terang itu, munculah sebuah siluet membentuk sosok laki-laki berbadan tinggi dan tegap, melangkah tenang ke arah mereka.

“Si… siapa kau!” Pemimpin perampok itu berseru sambil menghunuskan pedangnya, meskipun ketakutan mulai merayapi dadanya. Dia langsung menyadari secara insting bahwa apa yang ada di depannya, mahluk apapun itu, adalah mahluk yang sangat berbahaya.

Ketika siluet laki-laki itu melangkah mendekat, maka makin jelaslah tampilannya. Lelaki itu mengenakan pakaian zirah dari emas, seperti pakaian yang dikenakan oleh raja-raja untuk berperang. Dengan sinar terang seperti nyala api yang menyelubungi tubuhnya.

Dan mata laki-laki itu berwarna merah, dengan nyala api membakar di tengah matanya.

“Jauhkan tanganmu dari isteriku.” Suaranya menggelegar menakutkan seperti guntur yang bersahut-sahutan.

Dan kemudian, cahaya terang menyambar semua perampok itu, menjadikannya abu yang berterbangan di udara dengan kerlip-kerlip samar keabuan dan makin meredup.

Armenia hanya terperangah, ketakutan dengan pemandangan yang ada di depannya. Lelaki ini sangat kuat dan menakutkan, hanya dalam sekejap dia membuat kelompok perempok dalam jumlah banyak itu menghilang menjadi abu.

Armenia langsung beringsut mundur ketika lelaki yang berselubung api itu menatap ke arahnya.

Ketika lelaki itu maju untuk mendekat, Armenia langsung memundurkan langkahnya, berusaha menahankan dorongan yang kuat untuk berlari,

Lelaki berselubung api itu mengamati Armenia dengan matanya yang merah dan bersinar, lalu ada senyum di sudut bibirnya.

“Aku sudah bilang bahwa aku akan menjumpaimu dalam waktu dekat bukan?” Kali ini suaranya terdengar seperti manusia biasa, tanpa kekuatan seperti suara guntur yang bersahut-sahutan

Dan ingatan Armenia langsung terlempar kepada kenangan persembahan pertamanya di kuil itu. Mata merah itu, suara berwibawa itu…. lelaki di depannya ini adalah sosok pendeta yang memakan persembahannya di kuil waktu itu…

Tiba-tiba entah karena kekuatan apa, kepala Armenia terasa pening dan dia kehilangan kesadarannya, jatuh ke tanah tanpa daya.

***

Nyala api di sekeliling Azhura lenyap, dia merubah tampilan dewanya menjadi manusia biasa. Pakaian zirah dari emasnya yang begitu indah bertaburkan permata menghilang, bergantikan dengan pakaian biasa dalam pakaian khas penyamarannya selayaknya pendeta kuil berjubah merah. Pun dengan cahaya api yang menyelubungi tubuhnya, semuanya hilang, membuat hutan itu kembali gelap gulita dan sunyi senyap.

Azhura melangkah mendekat dan kemudian setengah berjongkok di depan Armenia yang tergeletak tak berdaya. Sejenak, entah kenapa sang dewa tampak sedikit ragu. Azhura mengulurkan jemarinya ke arah Armenia, dan kemudian berhenti sedetik sebelum dia menyentuh Armenia. Ada sesuatu yang menahannya di sana.

Tiba-tiba terdengar suara gemerisik dedaunan yang terinjak di belakangnya. Azhura menoleh dengan tenang, melihat Daika, pelayannya yang paling setia, berdiri terengah-engah di belakangnya.

“Anda pergi begitu saja tanpa pikir panjang.” Gumamnya pelan setelah menunduk penuh hormat, “Seharusnya anda tidak perlu datang sendiri, masalah seperti ini, anda cukup mengirimkan salah satu pasukan anda…”

“Dia isteriku, Daika.” Azhura setengah menggeram, menyela. Dan seketika itu juga membuat kata-kata Daika berhenti.

Lelaki tua itu langsung membungkuk penuh hormat dan penyesalan. “Mohon maafkan hamba, yang Mulia.” Gumam Daika kemudian dengan hormat.

Azhura memalingkan kepala kembali dan menatap Armenia yang masih terbaring lemah tak berdaya.

“Dia masih anak kecil…” suara Azhura terhenti, sang dewa mengulurkan jemarinya, dan sebuah cahaya muncul dari telapak tangannya, “Aku akan mengambil ingatannya, sehingga dia bisa menjalani hidup tanpa menoleh ke belakang.” Azhura menghadapkan jemarinya di kening Armenia yang dingin, dan hanya beberapa detik kemudian, cahaya di telapak tangannya hilang seolah terserap ke dalam kulit Armenia.

Sang dewa kemudian menarik tangannya dan entah kenapa jemari sang Dewa tampak bergetar, lelaki itu menatap ke arah Daika dengan tatapan mata nyalang

“Aku tidak akan menyentuhnya lagi Daika…. sebelum dia genap berusia 17 tahun, karena aku tidak akan bisa menahan diri kalau menyentuhnya sekali lagi. Bawalah Armenia ke tempat dia seharusnya berada.” Gumam sang Azhura dengan suaranya yang penuh keagungan, lalu dalam sekejap tubuhnya hilang ditelan kegelapan.

Tinggal Daika sendiri yang langsung menyentuh Kakek dan nenek Bargota dengan kekuatan penyembuhan dari tangannya. Besok ketika cahaya pagi menyentuh tanah, kakek dan nenek Bargota akan terbangun dengan kebingungan, mereka tidak akan tahu kenapa mereka bisa terbangun di tengah hutan dengan kereta kuda mereka. Mereka bahkan tidak akan ingat kalau mereka telah membawa Armenia. Semua ingatan mereka tentang hari ini sudah dihapuskan dari ingatan mereka.

Setelah selesai, Daika mendekat ke arah Armenia yang masih terbaring di tanah, lelaki tua itu membungkuk hormat, sebelum kemudian mengangkat tubuh Armenia dan kemudian, tubuhnya menghilang ditelan kegelapan….

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

268 Komentar

  1. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta

    1. Wow

  2. dewantilaraswaty menulis:

    Baca ulang diwaktu senggang, cerita pertama PSA yg ku baca..
    :sebarcinta :sebarcinta

  3. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  4. Aku menitip komen

  5. Shelli Novianti menulis:

    :habisakal

  6. Ngebayangin Azhura berdasarkan cerita tuh, bikin hati meleleh… :NGAKAKGILAA

  7. Yuhuu

Tinggalkan Balasan