azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 6 : Anugerah atau Kutukan..?

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.319 votes, average: 1,00 out of 1 (3.319 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Ruangan kamar itu sederhana, lantai dan dindingnya terbuat dari kayu pohon gundala, yang halus dan berwarna cokelat muda dengan aroma manis yang menguar. Pohon Gundala sendiri merupakan pohon besar yang tumbuh subur di hutan-hutan yang tersebar di seluruh Ametyst. Daun pohon itu berwarna biru bersemburat hijau dengan bentuk seperti bintang.

Pohon Gundala tidak berbuah, tetapi setiap musim semi, sang pohon akan berbunga, begitu penuh dengan bunga-bunga kecil berwarna biru muda yang kadang-kadang berterbangan memenuhi udara sore yang lembut, menguarkan keharuman manis yang membuat suasana sore begitu menyenangkan. Penduduk di dunia Ametyst sangat menyukai kayu pohon Gundala untuk membangun rumah dan perabotan mereka, karena rumah mereka akan senantiasa beraroma manis dan menyenangkan.

Di tengah kamar sederhana itu, ada sebuah tempat tidur dari kayu Gundala juga,  dengan sprei katun sederhana berwarna putih, selimutnya juga berwarna senada, dan di balik selimut itu, ada sosok perempuan yang sedang tertidur lelap, tidak menyadari bahwa ada sosok agung yang sedang mengawasinya dalam diam di balik bayang-bayang kegelapan.

Malam sudah larut, dan sang Azhura berdiri bergeming di dekat jendela, menatap cahaya bulan yang berwarna merah. Ya, bulan di dunia Ametyst memang berwarna merah sedangkan mataharinya berwarna emas. Cahaya redup bulan itu menerpa sisi wajahnya menampilkan dua siluet yang berseberangan. Tidak ada satu manusiapun di malam yang pekat itu yang menyadari bahwa sang Mahadewa hadir di kamar ini, dalam wujud manusianya.

Mata merah sang Azhura menatap ke tubuh Armenia yang meringkuk di balik selimut, sambil menggenggam kalung kesayangannya. Hampir setiap malam sang Azhura datang kemari, mengawasi Armenia, menunggu hingga perempuan itu jatuh kedalam lelapnya yang terdalam, sebelum kemudian datang dan menatap Armenia, mengikuti pertumbuhannya setiap malam… tanpa berani menyentuhnya.

Armenia, perempuan yang dilahirkan untuk menjadi isterinya… Perempuan yang diramalkan untuknya jauh di dahulu kala, dan Armenia adalah perempuan yang akan menjadi satu-satunya mahluk di dunia ini yang bisa membunuh Azhura Kahn.

Ya… Armenia adalah kutukan sekaligus anugerah untuk Azhura Kahn.

Sang Azhura telah dikutuk untuk jatuh cinta kepada satu-satunya mahluk yang bisa membunuhnya.

Azhura Kahn menegakkan tubuhnya, memandang keluar sekali lagi. Matanya kembali terpaku kepada cahaya bulan yang berwarna merah darah, dan kemudian kenangannya tentang masa lalu menguar dari benaknya…..

***

Dahulu kala di masa beribu tahun lampau, masa di mana para dewa dan dewi masih hidup bersama-sama dengan manusa, Azhura Kahn adalah seorang dewa muda yang sangat ditakuti. Dia adalah dewa yang dilahirkan dari kemarahan dewa matahari, dan dibesarkan oleh kasih sayang dewi bulan. Kedudukannya adalah yang paling tinggi, paling kuat dan paling sempurna di antara para dewa.

Azhura Kahn, yang namanya berarti cahaya ilahi, ditakdirkan untuk menjadi penguasa seluruh alam semesta dengan kekuatan yang tidak terbatas.

Sayangnya, Azhura muda sangat sombong dan tidak mempunyai sisi manusiawi sama sekali di dalam dirinya, dia suka menghancurkan, suka berperang dan suka melihat pertumpahan darah, terutama pertumpahan darah dari mahluk bernama manusia, mahluk fana yang sangat dibencinya.

Baginya manusia hanyalah mahluk tidak berguna. Parasit yang hanya bisa mengotori dunia, dengan berbagai kelemahan yang tidak bisa ditoleransi. Azhura Kahn muda membenci manusia, dan menolak mentah-mentah menunjukkan sisi manusiawinya karena dia menganggap bahwa apapun yang berhubungan dengan manusia berarti kelemahan.

Karena itulah Sang Mahadewa muda ini sangat suka menyamar menjadi manusia, Azhura Kahn sengaja memasuki konflik antar manusia, menjadi penghasut untuk kemudian memancing timbulnya perang. Sang Azhura sendiri akan maju berperang membela salah satu sisi, dan kemudian menikmati pertumpahan darah dan mayat-mayat bergelimpangan kehilangan nyawa dari pihak yang kalah dalam peperangan yang diciptakannya.

Tetapi kemudian sang Azhura melakukan kesalahan besar. Dalam peperangan itu, ketika bulan merah menerangi Ametyst, tanpa sengaja Sang Azhura membunuh seorang Dewi yang terlarang untuk dibunuh, dia adalah Dewi Perdamaian, Calamara, seorang dewi cantik pemegang perdamaian, yang waktu itu berada di tempat dan waktu yang salah. Dewi perdamaian sedang menyamar menjadi manusia biasa dan tanpa sengaja terbunuh oleh sang dewa yang sedang mengayunkan pedangnya.

Seluruh alam semestapun berduka. Bagi kalangan dewa, membunuh Dewi perdamaian adalah larangan terbesar yang berakibat kutukan mengerikan. Para Dewa dan Dewi boleh saling bertarung, saling membenci bahkan saling membunuh, tetapi Dewi perdamaian adalah satu-satunya yang tidak boleh disentuh, kesepakatan itu terjadi sejak lama, jauh ketika alam semesta ini dibuat.

Sang Azhurapun menyadari kesalahannya dan merasa sangat bersalah karena telah membunuh dewi perdamaian. Sebagai tebusannya, sang Azhura mengambil peran Calamara, sehingga dia memegang dua sisi, peperangan dan perdamaian di kedua tangannya.

Akan tetapi Kutukan kepada sang Azhura harus tetap dijatuhkan, tidak peduli bahw sang Azhura memiliki kedudukan tertinggi dan terkuat, dan tidak ada satupun dewa yang mampu memberikan kutukan kepada sang Mahadewa.

Pada akhirnya kutukan itu kemudian dijatuhkan oleh alam semesta sendiri kepada sang Mahadewa. Para peramal dewa mengeluarkan ramalannya, bahwa sebagai hukuman, alam semesta akan melahirkan satu kelemahan untuk Sang Azhura yang dulunya sempurna, tidak mempunyai kelemahan, tidak bisa dibunuh siapapun, dan tidak bisa dikalahkan oleh siapapun. Alam fana akan menghadirkan kelemahan untuk sang Mahadewa, dimana menurut ramalan, kelemahan sang Mahadewa akan lahir dalam wujud anak manusia, perempuan dari dunia fana,

…..dan perempuan itu akan menjadi satu-satunya mahluk yang bisa membunuh sang Azhura Kahn.

Sebagai penahan untuk mencegah sang Azhura membunuh perempuan itu, maka alam semesta menakdirkan sang perempuan manusia itu menjadi pasangan jiwanya, diramalkan bahwa pada pandangan pertama, sang Azhura Kahn akan jatuh cinta tanpa batas kepada perempuan itu, isteri yang ditakdirkan untuknya, sehingga dia bahkan tidak akan mampu mengangkat pedangnya kepada perempuan manusia itu.

Dan begitulah ironi akan berjalan dalam suratan takdir sang Mahadewa. Akan ada banyak kepentingan yang menyerang perempuan itu. Pihak yang memuja sang Azhura akan berusaha membunuh anak perempuan itu, karena dianggap membahayakan sang Mahadewa. Dan pihak musuh sang Azhura akan berusaha menculik anak perempuan itu untuk diperalat sebagai pembunuh sang Mahadewa.

Dan Sang Azhura Kahn sendiri akan menanggung kutukannya.  Azhura Kahn akan melindungi mati-matian anak perempuan manusia itu dari siapapun, karena cintanya yang begitu besar kepadanya.

Anak perempuan itu akan menjadi satu-satunya mahluk yang bisa membunuh sang Azhura, sekaligus satu-satunya mahluk yang tidak bisa dibunuh sang Azhura…..

***

Suara rintik hujan yang turun dan menghantam tanah membuat sang Mahadewa mengerjapkan matanya, kembali ke masa kini, lepas dari pengelanaan jiwanya ke masa lalu.

Pandangannya kembali teralih kepada Armenia yang terbaring di balik selimut, kemudian, sang Mahadewa mendekat, membuat jubah merahnya berdesir pelan, membawanya ke tepi ranjang.

Mata merahnya memandang Armenia, memandang jemari kecil perempuan itu yang memeluk kalung rami berisi batu rubi yang melambangkan dirinya.

Telah begitu lama dia menunggu Armenia dilahirkan di dunia ini. Azhura Kahn hanya tahu bahwa pasangan takdirnya, isterinya sekaligus kutukan untuknya, akan dilahirkan di Garaya. Karena itulah dia terus dan terus menanti, ribuan tahun silih berganti, Azhura terus menunggu dan menunggu.

Sampai akhirnya alam semesta memberikan tanda kepadanya, anak perempuan itu. Armenia. Dilahirkan tepat pada saat bulan penuh semerah darah. Suara tangisan di detik pertama kehidupannya langsung terdengar oleh telinga sang Azhura, dan dia tahu. Anak perempuan itulah, takdir yang telah ditunggunya selama ini.

Azhura Kahn selama ini berpikir, bahwa dia akan mampu membunuh anak perempuan itu ketika masih bayi dan setelah itu selesailah sudah kutukannya. Dia melindungi Desa Garaya, dengan keinginan sombongnya untuk melihat anak perempuan itu sebelum kemudian dia mengayunkan pedangnya dan membunuhnya. Azhura Kahn akan membuktikan bahwa dia pasti bisa membunuh anak perempuan itu, dia tidak akan pernah- tidak akan pernah! – jatuh cinta kepada mahluk lemah seperti ‘manusia’. Azhura akan membunuh anak perempuan itu setelah tangisan pertamanya, dan kemudian, dengan penuh kesombongan, dia akan menertawakan alam semesta, lalu menasbihkan diri sebagai dewa yang tak punya kelemahan.

Begitulah, pada akhirnya sang Azhura hadir di sana, menjadi wujud yang tak terlihat ketika bayi armenia yang cantik selesai dimandikan dan dibungkus dengan kain linen halus berwarna kuning muda. Azhura Kahn  ada di sana, dan menatap anak perempuan itu lalu seketika muncul perasaan meluap-luap. Perasaan yang tidak pernah dirasakan sang Azhura sebelumnya, kutukan cinta itu telah menghantamnya, sehingga rasa cintanya menjadi tak terbatas.

Seketika itu juga, ketika menatap bayi Armenia, sang Azhura bertekuk lutut. Meletakkan pedangnya, dan  rela menyerahkan seluruh jiwa raganya, rela mati di tangan perempuan yang dicintainya. Bagaimana mungkin dia mengangkat pedangnya kepada mahluk yang sudah mengambil seluruh jiwanya?

Dan pada detik itulah, kutukan alam semesta atas sang Mahadewa terwujud…Azhura Kahn tidak akan bisa membunuh Armenia, sedangkan Armenia adalah satu-satunya mahluk di dunia ini yang bisa membunuh sang Azhura.

Sang Azhura kemudian mulai berpikir panjang. Dia sadar, kalau keberadaan Armenia diketahui, semua arah akan membahayakan pasangan takdirnya, karena itulah Azhura mulai membuat rencana. Hanya orang-orang kepercayaannya dan pelayannya yang paling setialah yang tahu tentang keberadaan Armenia. Selebihnya, Azhura Kahn selalu menahan diri untuk mendekati Armenia. Tidak pernah sekalipun dia menunjukkan bahwa Armenia adalah pasangan takdirnya, tidak pernah sekalipun dia mengkaitkan dirinya dengan Armenia…

Kecuali kejadian di kuil saat persembahan pertama Armenia di usianya yang ke sepuluh tahun. Seharusnya sesuai rencana, Azhura baru akan muncul di depan Armenia ketika perempuan itu sudah cukup umur, sehingga semua rencananya akan berjalan mudah.

Tetapi Sang Mahadewa melangkahi aturan yang dibuatnya sendiri. Melihat Armenia waktu itu, dalam pakaian orangenya yang  berkibar, mata emas yang melebar penuh harap dan keranjang persembahan pertamanya yang dipegangnya erat-erat…. membuat Azhura Kahn tidak bisa menahan diri untuk datang menerima secara langsung persembahan dari Armenia dan memakan manisan kulsu dari tangan pasangan takdirnya.

Perbuatan impulsifnya menyebabkan konsekuensi beruntun. Armenia harus dipisahkan dari ibunya, ingatannya diambil dan anak perempuan itu harus menjalani kehidupan di desa terpencil, dengan ingatan yang terambil.

Dan Azhura, sang dewa tertinggi dibawah kutukan alam semesta, tetap dan akan selalu bersedia melakukan apapun untuk melindungi jiwa polos pasangan takdirnya itu. Karena cintanya yang begitu meluap-luap….. begitupun rasa bencinya yang menghujam, mengingat bahwa Armenia adalah titik kelemahannya.

Azhura mengulurkan tangannya dan menyentuh bibir Armenia dengan ujung jemarinya, merasakan kelembutan di sana, dan tahu bahwa bibir itu akan terasa amat manis dalam sesapan bibirnya. Nanti. Ketika tiba saatnya, Azhura akan memiliki perempuan ini dalam genggaman tangannya, dan tidak akan ada seorangpun yang bisa mengambil perempuannya….

Dia akan membuat Armenia jatuh ke dalam pelukannya, akan membuat Armenia mencintainya dengan begitu dalam, sehingga tidak akan ada yang bisa memanfaatkan Armenia untuk membunuhnya….

Mata merahnya menajam, tiba-tiba ada setitik kekejaman di sana,muncul sebagai sisa kebenciannya kepada mahluk fana bernama ‘manusia’,  jemarinya bergerak lembut menelusuri leher Armenia yang rapuh… lalu berhenti di sana.

Sang Azhura menimbang-nimbang. Jika dia meremukkan leher anak perempuan ini dengan sedikit kekuatan  saja, Armenia akan mati, dan lenyaplah sudah segala kerepotannya selama ini. Tindakan itu pastinya merupakan sebuah keputusan yang tepat, karena dengan begitu, hilanglah sudah kelemahan sang Azhura Kahn, dia akan hidup selama-lamanya sebagai yang tak terkalahkan, yang paling ditakuti.

Tetapi sanggupkah dia? Sanggupkah dia hidup dalam dunia yang tidak ada Armenia di dalamnya? Sanggupkah dia hidup di dalam dunia yang terus bergerak, ribuan tahun demi tahun berlalu, dan mengetahui bahwa dia telah melenyapkan pasangan takdirnya dengan  tangannya sendiri?

Jemari Azhura menangkup leher Armenia, bukan untuk mencekiknya, tetapi menyerap rasa panas di tubuh Armenia. Gadis ini demam, dan Azhura menyerap demamnya dan kemudian melenyapkannya.

Ditunggunya sampai napas Armenia beralih teratur, pertanda rasa sakitnya telah lenyap, lalu Azhura Kahn menarik tangannya. Bibirnya menipis, akibat ironi tidak menyenangkan yang memenuhi hatinya. Ditatapnya Armenia sekali lagi, sebelum kemudian tubuhnya menghilang, meninggalkan jejak debu keemasan yang bertebaran, berkerlap-kerlip dan jatuh di selimut putih Armenia.

***

“Cantik sekali.”

Mata Armenia berbinar senang ketika Jelena menghamparkan gaun kecil berwarna orange terang yang baru selesai dijahit oleh mamanya untuk persembahan pertama Hayla adiknya.

“Hayla pasti akan amat cantik besok.” Jelena tersenyum lebar, “Oh ya, kau sudah bilang ayahmu kalau mamaku besok juga mau ikut?”

Armenia mengangguk, “Aku sudah bilang kok ke ayahku.” Tadinya Armenia cemas sang ayah akan membatalkan rencana kepergian mereka ke kota kalau Armenia masih demam, tetapi ketika bangun tadi pagi, tubuhnya terasa sangat sehat, segar dan sama sekali tidak demam, mungkin tumbukan akar tualsa yang diberikan ayahnya tadi malam benar-benar manjur dan menyembuhkannya. Dan syukurlah ayahnya tetap tidak berubah pikiran untuk mengantar mereka semua ke kota. “Kata ayah kita akan berangkat saat fajar, ayah akan membawa sais cadangan untuk membawa kita ke kota.”

“Apakah itu sais cadangannya?” Tiba-tiba Jelena yang berdiri di depan jendela tampak tertarik dengan pemandangan di depan sana, pemandangan rumah Armenia.

“Siapa?” Armenia bergerak mendekat, berdiri di sebelah Jelena, dan menatap ke arah depan rumahnya,

Di sana, tampak seorang lelaki turun dari kuda besarnya yang berwarna hitam, dengan surainya yang begitu panjang. Armenia tidak pernah melihat kuda dengan tubuh sebesar dan sekokoh itu sebelumnya. Lelaki penunggang kuda itu memakai jubah gelap dan tampak basah. Armenia menduga lelaki itu habis menempuh perjalanan menembus hutan, karena biasanya  di pagi hari hutan-hutan yang beku akan meneteskan airnya dari dedaunan dan tumpah ke jalan setapak desa, berikut membasahi siapapun yang lewat di sana.

Ketika sang lelaki menurunkan tudung jubahnya, tampak rambut yang berwarna merah gelap berkilauan, dibiarkan memanjang sampai mengenai kerah pakaiannya, dan menaungi sesosok wajah yang sangat sempurna, dengan struktur wajah aristrokat yang mempesona, bahkan dari jarak sejauh ini, pesona lelaki itu menguar sampai ke Jelena dan Armenia yang berdiri di jendela.

“Wow.” Jelena memutar bola matanya, tampak amat sangat tertarik, “Kalau sais kudanya setampan itu, perjalanan kita besok pasti akan terasa sangat menyenangkan.”

***

Ketika pulang ke rumah sambil membawa kendi berisi susu yang baru diperahnya, Armenia sedikit terpaku ketika melihat kuda hitam itu masih ada di depan rumahnya. Lelaki asing yang bertamu ke rumah ayahnya masih ada di sana.

Kalau Jelena ada, dia pasti akan sangat bersemangat pulang bersama Armenia mengingat betapa bersemangatnya Jelena ketika mengintip terus menerus lewat jendela dan membicarakan lelaki asing tamu ayahnya itu. Tapi sayang sekali mama Jelena menyuruhnya pergi ke seberang sungai untuk mencari batu-batu hias berwarna-warni untuk dirangkai menjadi kalung persembahan bagi adiknya.

Armenia melangkah pelan menaiki tangga batu menuju ke pintu depan, dan kemudian dengan hati-hati membuka pintu rumahnya.

Aroma asing langsung menyapa hidungnya. Armenia mengerutkan keningnya. Aroma ini….. rasanya dia mengenalinya. Tanpa sadar mata Armenia terpejam, dan ingatannya kembali kepada mimpi-mimpinya yang semakin lama semakin sering menghantuinya.

Aroma ini.. aroma yang manis, dengan nuansa keharuman agung yang seolah bukan aroma manusia ini… adalah wangi tubuh sosok lelaki yang ada di mimpinya…

“Apakah kau sedang tidur sambil berdiri?”

Suara asing yang terdengar dekat dengannya itu membuat Armenia membuka matanya dan terpekik kaget sambil melompat mundur satu langkah ketika menemukan sosok lelaki asing itu sedang berdiri di depannya.

Lelaki asing itu menatap Armenia dari ujung kepala sampai ujung kakinya seolah tidak peduli dengan keterkejutan Armenia, lalu mengangkat alisnya, hampir seperti mencemooh,

“Maaf membuatmu terkejut.” Suaranya tenang, seperti air yang mengalir, tetapi entah kenapa pipi Armenia memerah, malu… terpesona dan tidak mampu berkata-kata.

Lelaki ini tidak seperti lelaki manapun yang pernah dilihat Armenia, apalagi di desa yang hanya berjumlah 100 orang saja. Tubuh lelaki ini tinggi, tetapi ramping dengan dada yang bidang, tampak keras. Rupanya dia  telah melepaskan jubahnya, dan sekarang tampak lelaki ini memakai pakaian seperti yang dikenakan para pemburu dengan tempat anak panah berisi beberapa anak panah berwarna keemasan dan busur besar berwarna senada  dengan ukiran yang indah dan hiasan batu merah yang berkilauan di punggungnya,

Lelaki ini tidak memakai mahkota atau baju zirah emas, tetapi bahkan dalam pakaian sederhana yang menempel di tubuhnya, lelaki itu masih tetap tampak agung dan mempesona

Dan aromanya, aroma lelaki itu, suara lelaki itu, membawa Armenia kepada kenangan lelaki misterius di dalam mimpinya.

Apakah mungkin….?

“Armenia.” Suara Daika, ayahnya muncul di belakang lelaki itu, “Kau sudah pulang nak?”

Senyum Armenia mengembang begitu melihat ayahnya, sekejap dia melupakan keberadaan lelaki asing itu dan pikiran aneh yang mulai berkecamuk di benaknya.

Armenia setengah memiringkan tubuh ke arah ayahnya,

“Aku membawa susu ayah, tapi cuma sedikit, sepertinya Daisy sedang tidak ingin menghasilkan susu untuk kita hari ini.” Diangkatnya kendi berisi susu yang hanya terisi separuh itu untuk ditunjukkan kepada ayahnya. Daisy adalah sapi satu-satunya peliharaan mereka, sapi itu menghasilkan susu dan keju untuk persediaan makanan mereka.

Daika tersenyum,  “Tidak apa-apa, besok juga Daisy akan membaik, ini semua karena pengaruh cuaca,  cuaca memang sedang tidak menentu di peralihan musim semi ini, kemarin hujan turun dengan derasnya, tiba-tiba sekarang terang benderang.”

“Aku pernah mendengar kata orang-orang,  emosi sang Azhura Kahn bisa mempengaruhi cuaca. Mungkin semalam, sang Azhura sedang marah sehingga hujan turun dengan derasnya. Dan sekarang dia sedang senang, jadi langit terang benderang.” Lelaki asing itu menyela percakapan mereka sambil tersenyum tipis, matanya yang berwarna kuning seperti nyala api tampak bercahaya dengan sinar aneh. Lalu dia menoleh ke arah Daika, “Kau tidak akan mengenalkanku dengan puterimu, Daika?”

Armenia sejenak mengamati ayahnya, dan tanpa sengaja melihat ada sinar patuh di mata ayahnya ketika menatap lelaki itu, seolah-olah ayahnya ingin berlutut di depan lelaki itu, tetapi menahan dirinya.

Ayahnya ingin berlutut di depan lelaki ini? Armenia mengerutkan keningnya dan merasa aneh

Daika sendiri tampak sedikit canggung, dia mengelus jenggot putihnya dengan gugup, lalu berdehem beberapa kali sebelum kemudian menatap Armenia dengan senyuman yang sedikit aneh.

“Armenia, ini adalah Zhura Al Gul, beliau adalah bangsawan dari suku pemburu di seberang sungai. Beliau …. beliau datang kemari untuk melamarmu menjadi isterinya.”

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

257 Komentar

  1. Yuhuu

Tinggalkan Balasan