azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 8 : Zhura Al Gul

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.073 votes, average: 1,00 out of 1 (3.073 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Ruth berjalan tergesa-gesa melalui lorong istana kerajaan Garaya yang mewah. Hampir seluruh bagian istana ini dihiasi dengan ukiran emas yang terpatri di tembok-tembok putihnya, menciptakan perpaduan warna yang memukau. Sementara itu karpet yang menyelimuti seluruh lantai istana ini berwarna merah, dibuat dari serat khusus pohon Kailfah yang melegenda.

Pohon Kailfah adalah pohon yang tumbuh dan dibudidayakan masyarakan dunia Ametyst untuk menghasilkan serat kain. Bahan serat dibuat dari batang pohon yang telah dihaluskan kemudian dianyam dan dikeringkan. Begitu kering, serat kailfah akan mengembang menjadi jalinan kain yang lembut dan halus. Jika anyaman seratnya pendek, biasanya hasil pengeringan akan digunakan sebagai bahan dasar kain untuk pakaian penduduk. Tetapi jika anyaman seratnya panjang, maka hasilnya bisa digunakan sebagai karpet dan juga selimut tebal yang lembut dan hangat. Sebagian serat kailfah berwarna orange terang sebagai warna alaminya, karena itulah pakaian penduduk Ametyst didominasi warna orange.

Jika ingin menggunakan warna lain, biasanya mereka melakukan proses perendaman dan pewarnaan dengan menggunakan sari bunga-bungaan yang tentu saja membutuhkan waktu lebih lama dan biaya yang lebih mahal, karena itulah biasanya hanya penduduk yang berada saja yang bisa memakai pakaian berwarna-warni.

Selain warna orange, ada sebagian kecil pohon Khailfah yang menghasilkan serat berwarna merah. Serat ini sangat langka, sehingga hasil anyamannya biasanya hanya digunakan di istana-istana, menjadi karpet, selimut maupun pakaian khusus untuk kalangan pendeta kuil dan bangsawan kelas tinggi.

Karpet merah itulah yang sekarang diinjak oleh Ruth, perempuan setengah baya itu tampak tergesa-gesa sehingga tidak memperhatikan rasa nyaman di kakinya yang telanjang, yang dihasilkan oleh anyaman terbaik serat kailfah.

Ruth tentu saja mengenakan pakaian dengan kualitas baik, gaun panjang dengan juntaian khas bangsawan yang berkibar-kibar mengikuti langkah cepatnya dan berdesir di setiap gerakan tubuhnya. Sebagai ibu dari Puteri Khaeva, pengantin sang Azhura, dia juga menerima penghormatan dan fasilitas layaknya bangsawan tertinggi yang dihormati, bayangkan saja! Dia bisa dikatakan sebagai ibu mertua sang Mahadewa. Dan Ruth  sendiri amat sangat menikmati penghormatan itu serta terbiasa dengannya selama tujuh tahun terakhir ini, sehingga sangat ketakutan ketika membayangkan akan kemungkinan bahwa dia bisa kehilangan itu semua sewaktu-waktu.

Tangannya yang berhiaskan gelang-gelang emas dengan batu permata berbagai warna mendorong pintu raksasa berwarna putih yang terbuat dari batu pualam. Pintu itu sangat berat, dan dibaliknya ada kamar terbaik di seluruh bagian istana. Kamar itu khusus disediakan untuk pengantin sang Azhura.

Pintu itu terbuka, dan Ruth melihat di dalam kamar itu, beberapa dayang sedang mengerubungi puterinya, Khaeva. Mereka sedang mengepaskan gaun untuk upacara persembahan di ulang tahun Khaeva yang ke tujuh belas besok.

Gaun itu berwarna merah tentu saja dengan corak seperti api di bagian bawah, keseluruhan gaun dibuat dari bahan terbaik serat merah Kailfah yang langka sedangkan corak apinya disulam dengan tangan, dari benang emas terbaik kerajaan. Dan sekarang gaun itu tampak begitu indah, berkibar dengan cantiknya di tubuh Khaeva yang sangat cantik.

Ruth tersenyum bangga memandang penampilan anak perempuannya yang luar biasa, tahun demi tahun berlalu, Khaeva telah tumbuh menjadi anak perempuan yang sangat mempesona, tubuhnya terawat dari ujung kepala sampai ujung kaki oleh para dayang yang selalu siap melayaninya, kemampuan dan tata bahasa sekaligus pengetahuannya juga tak kalah tinggi dibandingkan mereka yang berdarah bangsawan, karena Khaeva menerima pendidikan dari guru-guru terbaik di seluruh penjuru Garaya. Anak perempuannya telah tumbuh menjadi perempuan kelas tinggi yang pantas untuk menjadi isteri sang Mahadewa.

“Kau tampak luar biasa mempesona anakku.” Ruth menghambur masuk ke dalam ruangan, sementara para dayang yang semula sibuk mengatur pakaian Khaeva langsung bersujud memberi hormat. Setelah Ruth menerima penghormatan itu, barulah para dayang melanjutkan pekerjaannya mempersiapkan gaun Khaeva untuk upacara besok.

Sementara itu, Khaeva tampak mengerutkan bibirnya dengan ekspresi tidak puas,

“Gaun ini masih belum selesai ibu, sudah ketiga kalinya aku meminta para dayang untuk mengubah desain sulaman emasnya, aku ingin gaun yang benar-benar sempurna untuk upacara besok!” Sambil berbicara Khaeva memberi isyarat dengan tangannya, dan serentak para dayang bergerak membantu Khaeva berganti pakaian, Khaeva berganti mengenakan pakaian dari bahan lembut berkilauan dengan batu permata kecil-kecil berwarna putih, gaun untuk sang Puteri.

Sementara itu para dayang mengambil gaun upacara Khaeva dan mulai mengerjakan kembali sulaman yang dibuat khusus dari benang emas terbaik Kerajaan Garaya, sulaman itu disusun dengan hati-hati oleh ahlinya, membentuk lidah api yang seolah-olah hidup dan menyambar-nyambar di bagian kaki gaun Khaeva.

“Gaun itu pasti selesai dan akan sangat cocok untukmu besok.” Ruth mengamati dengan puas hasil pekerjaan para dayang, lalu menoleh kembali ke arah anak perempuannya, “Mungkin kau sebaiknya beristirahat dan mempersiapkan dirimu. Besok adalah penampilan pertamamu secara resmi sebagai pengantin sang Azhura di hadapan seluruh penduduk Garaya, kau harus tampak cantik, Khaeva.”

Khaeva melirik bayangan dirinya pada cermin besar di dinding, senyumnya mengembang.

“Aku tahu aku cantik, ibunda. Mungkin akulah yang tercantik di seluruh kerajaan ini.” Tatapan matanya berbinar, “Dan yang pasti aku lebih cantik dari Armenia!”

Ruth langsung waspada mendengar pernyataan itu, ekspresinya tampak tidak senang. Matanya menatap nyalang kepada para dayang yang sedang mengerjakan sulaman gaun itu di ujung ruangan,

Jangan sebut-sebut nama itu disini.” Bisiknya tegas, terdengar marah.

Khaeva menatap ibunya tidak setuju, “Tapi ibu….”

“Shhhhh….”, Ruth memberi isyarat kepada Khaeva untuk menutup mulutnya, lalu dia menghampiri para dayang dan menyuruh mereka semua meninggalkan ruangan. Para dayang itu bergerak dengan patuh, meninggalkan ruangan dan menutup pintunya dari luar hingga hanya tinggal Ruth dan Khaeva di dalam kamar.

“Bukankah sudah ibu bilang supaya jangan menyebut nama anak terkutuk itu lagi?” gumam Ruth memperingatkan.

Khaeva mengamati ibunya, ada sinar tidak suka di matanya, “Kenapa ibu tampak ketakutan?” suara Khaeva meninggi, “Bukankah ibu bilang bahwa Armenia mungkin sudah mati dan dewa Azhura sudah menjatuhkan pilihannya kepadaku?”

Ruth menatap anak perempuannya dan menghela napas, “Ibu cuma tidak ingin mereka bertanya-tanya tentang Armenia, itu bisa berbahaya, karena kebohongan kita di masa lalu bisa terbongkar….” Ruth berusaha memberi penjelasan kepada anaknya, “Khaeva, ibu yakin bahwa dewa Azhura sudah menjatuhkan pilihannya kepadamu. Tujuh tahun kau tinggal di istana dan menerima semua kemewahan sebagai seorang puteri, itu semua pasti atas restu dari sang Mahadewa.” Suara Ruth merendah menjadi bisikan, ” Kalau sang Azhura tidak merestui, pasti kebohongan kita ini sudah terungkap dari awal… nyatanya tidak. Itu berarti sang Azhura setuju kau menjadi pengantinnya.”

Ruth lalu menyentuh lembut lengan puterinya, “Apalagi kau sekarang tumbuh menjadi begitu cantik. Dewa Azhura sudah pasti tergila-gila kepadamu, Khaeva. Kau akan menjadi isteri sang Mahadewa, kau akan berkedudukan paling tinggi di antara seluruh perempuan di kerajaan Garaya, bahkan di dunia Ametyst.” Suara Ruth terengah karena bersemangat.

Khaeva tersenyum lebar, “Tentu saja ibunda, sudah sepantasnya perempuan seperti aku memperoleh kedudukan tertinggi di antara perempuan lainnya.” Gumamnya sombong. Khaeva menatap ibundanya, masih dengan senyum lebarnya, “Aku yakin sang Azhura Kahn pasti sangat tampan, patung yang melambangkan dirinya saja sangat luar biasa, membuatku jatuh cinta kepadanya.” Pipi Khaeva tampak memerah, “Tetapi ibu, kalau memang sang Azhura sudah memilihku sebagai isterinya, kenapa beliau tidak pernah menampakkan dirinya di depanku? Atau setidaknya memberi pertanda…?

Sebenarnya, Ruth juga bertanya-tanya kenapa.

Sang Azhura pernah menampakkan dirinya sekali ketika menerima persembahan Armenia, tetapi sesudahnya, ketika Armenia tak tahu di mana rimbanya dan Khaeva yang sekarang ada di sini, tidak sekalipun ada kemunculan sang Mahadewa, ataupun pertanda-pertanda sekecil apapun dari dirinya…..

Tetapi Ruth menekan keraguannya, dan menampilkan wajah meyakinkan di depan anaknya,

“Mungkin sang Azhura menunggu hingga kau berusia tujuh belas tahun.”

Khaeva tampak puas dengan jawaban ibunya matanya menerawang, “Begitu beliau muncul besok dan menerima persembahanku, aku akan menghambur ke dalam pelukannya. Sudah begitu lama beliau membuatku menanti kesempatan untuk bertemu dengannya. Aku rasa kami pasti saling merindukan.” Gumamnya malu-malu tetapi penuh hasrat kecintaan seorang remaja perempuan kepada pujaannya.

Ruth tertawa melihat sikap Khaeva, meskipun dia masih menyisakan sedikit kecemasan di hatinya.

Besok….. besok adalah upacara penentuan, besok sebagai calon pengantin sang Azhura, Khaeva akan memberikan persembahan kepada patung sang Azhura tepat di ulang tahunnya yang ke tujuh belas. Besok adalah penentuan baginya….. penentuan untuk memastikan apakah sang Azhura benar-benar menerima puterinya…..

Azhura Kahn muncul di persembahan petama Armenia dan menerima secara langsung persembahan Armenia….  Tetapi, apakah Mahadewa Azhura Kahn akan muncul di persembahan ulang tahun ke tujuh belas Khaeva…?

***

Malam itu, setelah seluruh manusia nyenyak dalam tidur lelapnya, Azhura Kahn hadir, menemui Daika, pelayan kepercayaannya, yang langsung bersujud di depannya.

“Bangunlah Daika, di sini kau tidak perlu bersujud setiap aku datang.” Azhura Kahn berdiri tenang, menunggu Daika berdiri dan kemudian bergumam, “Armenia, dia masih bertanya-tanya.” Azhura Kahn tidak perlu menunggu kata-kata Daika, dia sudah tahu bahkan sebelum pelayannya yang setia ini berbicara.

Daika menganggukkan kepalanya, “Hamba sudah berusaha meyakinkan Armenia. Tetapi tentu saja tidak semudah itu.” Mata Daika mengamati junjungannya dengan hati-hati, “Anda mengubah rencana begitu cepat setelah memutuskan untuk muncul di depan Armenia dalam wujud manusia… saya pikir…” Daika menelan ludahnya, “Saya pikir ini terlalu terburu-buru, menceritakan kepada Armenia tentang pertunangan itu dan memaksanya untuk segera menjadi isteri anda, bukankah dulu anda berencana muncul sebagai teman dan sahabat, lalu membuat Armenia jatuh cinta kepada anda pelan-pelan setelah usia Armenia 17 tahun?”

Mata Azhura Kahn menyipit. Tetapi tatapannya tajam, “Apakah kau hendak membantah kehendakku, Daika?” suaranya berubah rendah, nadanya lembut tapi mengancam.

Daika langsung pucat, menjawab dengan cepat, “Tentu saja tidak, tuanku. Apalah artinya hamba dibandingkan pengetahuan anda. Andalah yang paling mengetahui rencana alam semesta kini dan akan datang, hamba percaya semua yang tuanku lakukan pasti mempunyai alasan.”

Sinar kemarahan di mata Azhura meredup, “Kalau begitu, jangan pernah mempertanyakan keputusanku.” Sang Mahadewa menatap ke arah kamar Armenia. “Upacara pernikahan harus segera dilaksanakan. Dalam dunia dewa tidak ada pernikahan, begitu alam semesta menakdirkannya untukku, maka Armenia adalah isteriku. Tetapi Armenia lahir di dunia manusia, dan untuknya aku bersedia memberikan upacara pernikahan, sehingga dia rela menyerahkan dirinya padaku.” Azhura Kahn menipiskan bibirnya, ekspresinya tidak terbaca, tetapi titik emas seperti api di matanya seolah membara ketika dia bergumam, “Begitu aku memiliki Armenia, hati dan tubuhnya,… dia akan terlindungi dari rencana-rencana jahat yang mengincarnya.”

Daika bisa membaca arti tersirat kata-kata tuannya, dia telah mengikuti sang Mahadewa sejak awal mula, dan meskipun Azhura Kahn tidak pernah mengungkapkan maksudnya secara gamblang, Daika tahu.

“Apakah ‘Sang Kematian’ sudah bangkit dari tidur panjangnya?” Tanyanya pelan meskipun sebenarnya sudah tahu jawabannya.

Azhura Kahn tersenyum, senyum yang penuh ironi.

“Ya, Daika. Dia pasti sudah mengetahui rencana persembahan ulang tahun ke tujuh belas pengantin palsuku di Garaya. Cepat atau lambat, dia akan tahu bahwa Pengantin yang ada di sana adalah pengantin palsu.”

“Dan ‘Sang Kematian’ akan mencari Pengantin yang asli, lalu menemukan Armenia…” Daika berbisik ngeri, setengah gemetar, “Kalau sampai ‘Sang Kematian’ mendapatkan Armenia, anda sendiri, Yang Mulia…. akan terancam…”

Sang Mahadewa Azhura Kahn tersenyum tipis, “Tidak Daika. Sebelum itu terjadi, Armenia sudah menyerahkan hati dan tubuhnya kepadaku. ‘Sang Kematian’ tidak akan bisa menyentuhnya.” Azhura Kahn menatap Daika dengan mata merahnya yang menyala. “Lakukan persiapan pernikahan Armenia dengan Zhura Al Gul segera. Besok aku akan mencoba mengecoh ‘Sang Kematian’ agar dia terus mengincar pengantin palsu itu. Dan segera setelahnya, aku akan mengambil hakku atas isteriku.”

***

Pagi itu langit masih tetap cerah, tetapi angin bertiup sangat kencang sejak matahari menampakkan wujudnya di langit, Armenia memasang kerudung dari selendang tipis di kepalanya untuk melindunginya dari tiupan angin, dan melangkah keluar rumah, sebelum pergi ke kota, dia hendak memerah susu Daisy dulu supaya ketika pulang nanti mereka mempunyai persediaan susu untuk dihangatkan.

Langkah kaki-kaki mungil Armenia yang tak beralas terhenti ketika dia melihat Zhura Al Gul, yang tampak begitu agung di atas kuda hitamnya, entah sejak kapan lelaki itu ada di sana, duduk tegas dengan ketampanan luar biasa di atas kudanya yang gagah.

Lelaki itu mengenakan pakaian hitam dengan sulaman  keemasan, lebih bagus dan indah dari pakaian berburunya yang kemarin, dan dia masih membawa busur serta anak panah di punggungnya. Kali ini lelaki ini tidak mengenakan jubah panjang yang bertudung untuk berkuda, tetapi memakai ikat kepala dari selendang berwarna hitam yang diikatkan di kepalanya, membentuk untaian kain yang berkibar di sisi belakang kepalanya.

Zhura Al Gul tampak begitu mempesona, Apalagi dengan pakaian khas bangsawan yang dikenakannya. Pakaian itu sepertinya adalah pakaian resmi dari suku pemburu yang dikenakan untuk upacara-upacara khusus karena sulaman dan bahannya tampak lebih bagus dari pakaian pemburu biasa yang dikenakan Zhura Al Gul kemarin.

Mata emas Armenia menatap ke arah Zhura Al Gul, dan dia langsung teringat kecemasan serta mimpi-mimpinya semalam. Semalaman, ketika dirinya berkelana di dunia mimpi, terasa ada yang berbeda, kali itu, suara Zhura Al Gul berpadu dengan suara laki-laki misterius dalam mimpi-mimpi yang terus menghantuinya, pun dengan aroma manisnya yang menguar serupa ….. dan lelaki dalam mimpinya yang selalu muncul samar-samar serta misterius itu kini memiliki wajah…. wajah Zhura Al Gul

Apakah memang selama ini Armenia selalu memimpikan lelaki itu? Atau semua ini hanya karena dia terpesona akan ketampanan Zhura Al Gul yang luar biasa?

Mata Zhura Al Gul tampak menilai ketika melihat Armenia dari atas kudanya, dan sejenak kemudian, Zhura Al Gul turun dari kudanya, lalu berjalan melalui jalan setapak kecil dari pagar rumah menuju ke pintu, tempat Armenia berdiri.

Bahkan cara berjalannya pun luar biasa indahnya… Armenia membatin dalam hati ketika setiap langkah Zhura Al Gul yang mendekat, membuat jantung Armenia berdetak sedetik lebih cepat. Demi Dewa yang Maha Agung, jantung Armenia bisa pecah kalau terus berdegup sekencang ini…

Zhura Al Gul berhenti dan berdiri tepat satu langkah di depan Armenia, begitu tinggi hingga Armenia harus mendongakkan kepalanya untuk menatap wajahnya. Ujung ikat kepalanya tampak berkibar karena tiupan angin yang kencang,

“Kau harus segera bersiap-siap.” Zhura Al Gul menunduk sambil memiringkan kepalanya, mengamati Armenia dengan mata emasnya yang indah.

Armenia mengerutkan keningnya mendengar kalimat sapaan Zhura Al Gul yang tidak disangka-sangkanya, dia  memandang dirinya dan pakaiannya yang sederhana, pun dengan rambutnya yang hanya diurai seadanya.

“Siap untuk apa?” pada akhirnya Armenia bisa mengeluarkan suaranya setelah sebelumnya begitu terpesona dengan penampilan Zhura Al Gul. Aroma yang harum dan manis serupa aroma dari khayangan menyapa kembali hidungnya, menumbuhkan perasaan aneh di benak Armenia.

“Bersiap-siap untuk pergi bersamaku, Armenia. Masuklah.” Seolah berada di rumahnya sendiri, Zhura Al Gul mendorong Armenia memasuki rumahnya sebelum kemudian mengikuti di belakangnya, dan ketika memasuki rumahnya kembali,  Armenia langsung berhadapan dengan Ayahnya yang sepertinya sudah menunggu,

Dengan bingung, Armenia menatap Daika didepannya dan Zhura Al Gul di belakangnya berganti-ganti. Pada akhirnya dia memberanikan diri untuk bertanya.

“Apakah…. apakah Zhura Al Gul akan ikut kita ke kota, ayah?”

Sang ayah menatap Zhura Al Gul yang berdiri tenang di belakang Armenia. Lalu berdehem seolah-olah sulit berkata-kata.

“Ya. Beliau akan mengantarmu ke kota hari ini.”

Armenia mengerutkan keningnya, ingin menoleh lagi untuk menatap Zhura Al Gul tetapi tidak berani,  dan kemudian bertanya kembali kepada ayahnya,

“Maksud ayah? Bukan ayah yang akan mengantar aku, Jelena, Hayla serta mamanya ke persembahan pertama Hayla, tetapi Zhura Al Gul yang akan mengantar?” Armenia tiba-tiba teringat akan Jelena, dia belum bertemu Jelena lagi sejak kemarin. Jelena pasti akan terkejut mendengar cerita Armenia, bahwa lelaki asing bernama  Zhura Al Gul dari bangsawan suku pemburu ini ternyata datang untuk menagih janji pertunangannya dengan Armenia…

Dan Armenia masih bertanya-tanya….mungkin maksud ayahnya, Zhura Al Gul adalah sais cadangan yang dibicarakan ayahnya kemarin? Tetapi tidak mungkin bukan seorang bangsawan setingkat Zhura Al Gul menjadi sais cadangan?

Sekali lagi sang ayah tampak menatap ke arah Zhura Al Gul, sebelum menjawab pertanyaan Armenia.

“Ayah akan tetap mengantar Jelena, Hayla dan ibunya…. tapi.. tapi…” Daika tampak kesulitan mengeluarkan kata-kata, membuat Armenia bingung,

Ada dengusan di belakang Armenia, seolah-olah Zhura Al Gul tidak sabar menunggu Daika berkata-kata, lelaki itu akhirnya membuka mulutnya,

“Tapi akulah yang akan mengantarmu, Armenia. Kita akan pergi ke kota bersama-sama dengan mengendarai Baraga, untuk upacara pernikahan.” Zhura Al Gul melangkah maju,  menyelesaikan kata-kata Daika.

Armenia semakin bingung, “Pernikahan…?” perempuan itu menoleh menatap ayahnya untuk meminta bantuan, tetapi sang ayah tampaknya tidak bisa membantu, “Pernikahan siapa?”

Ada senyum tertahan di bibir Zhura Al Gul, lelaki itu sekali lagi menyentuh sisi rambut gelap dan panjang Armenia yang indah membingkai wajahnya, seolah-olah lelaki itu senang melakukannya dan tidak bisa menahan dirinya.

Pernikahan kita, Armenia.  Hari ini kita akan melangsungkan pernikahan dalam adat Garaya.” Bibir lelaki itu tersenyum manis, tetapi sinar di matanya tak terbantahkan, sedikit buas dan menakutkan, “Dan setelah itu, Armenia. Kau akan menjadi milikku seutuhnya.”

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

243 Komentar

  1. :kisskiss Gerak cepat :lalayeye

  2. Dewi Natalia menulis:

    Anggap aja Azhura mantan preman tapi bisa jadi bengis klo dia mau

  3. Azhura gak sabaran banget wkwkkwk :grrr :ngakakberat

  4. bisa langsung diajak nikah kaya begitu yaa, ahahha

  5. :iloveyou :aw..aw

  6. :lovely sayanggggg

  7. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  8. The power of dewa yaa wkwkkw
    Langsung ajak nikah tanpa repot pikirin persiapan :terlalutampan

  9. yasmin cavelli menulis:

    reread ❤️

  10. Asikkkk

  11. langsung nikah hbgsbshsjsks

  12. DianNurUlfah menulis:

    :bantingkursi

  13. dwioktapia30 menulis:

    :malumalutapimau :malumalutapimau

  14. Ariyantipita menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi

  15. shanaya_lee menulis:

    :kapannihadeganciuman :kapannihadeganciuman :kapannihadeganciuman

  16. Lanjut :DUKDUKDUK

  17. Kira Yamato menulis:

  18. Azzalea Dian menulis:

    :DUKDUKDUK :sebarcinta

  19. Waaw..azhura
    😊 ga sbar baca part slnjutnya

  20. Mamita Fatih menulis:

    :NGAKAKGILAA

  21. Shelli Novianti menulis:

    :awaskubalasnanti

  22. Ada yg masi melek kah

  23. Yuhuu

  24. Baca ulang lagi

  25. Baca ulang lagi huhuhu

  26. Waktunya halu

Tinggalkan Balasan