azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 20 : Damai Sebelum Badai

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

2.911 votes, average: 1,00 out of 1 (2.911 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

“Kau mau jalan-jalan?”

Azhura Kahn tersenyum, menoleh ke arah Armenia yang langsung tergeragap. Pipi Armenia memerah, merasa malu, menyadari bahwa dia ketahuan sedang menatap dan mengagumi Azhura Kahn.

Sang Mahadewa mengenakan pakaian panjang serupa jubah berwarna merah gelap yang diikat dengan tali rami warna hitam di pinggangnya, pakaian itu menampakkan dadanya yang sedikit terbuka, menampakkan otot-ototnya yang begitu kuat. Rambutnya yang juga berwarna merah gelap, dibiarkan bebas sampai hampir menyentuh pundaknya. Armenia masih tidak terbiasa melihat sang Mahadewa dengan penampilan santainya ini, lelaki itu begitu tampan, begitu sempurna dengan aura berkuasa yang seolah memancar jelas dari setiap jengkal kulitnya.

Armenia menatap dirinya sendiri, dia mengenakan pakaian yang hampir sama dengan sang Mahadewa, sebuah gaun panjang dari bahan tipis yang sangat ringan dan halus, berwarna merah gelap dengan hiasan emas di bagian leher, ujung lengan dan ujung gaunnya.

“Armenia?” Azhura Kahn bergumam lagi tampak sedikit geli melihat Armenia.

“Eh…” Armenia mencoba tersenyum, “Jalan-jalan kemana?”

Mereka masih berada di dalam peraduan Azhura Kahn, sang Mahadewa berdiri di dekat jendela, menikmati sinar matahari yang menembus ke dalam kamar, menciptakan sulur-sulur keemasan bercahaya yang sangat indah, sementara itu Armenia duduk di tepi ranjang.

Tadi beberapa Zelts sudah membereskan kamar itu sambil menatap penuh senyum ke arah Armenia, membuat Armenia merah padam karena malu. Ya, tatapan itu menyiratkan bahwa mereka tahu apa yang terjadi semalam sampai keadaan ranjang sang Mahadewa seperti kapal pecah.

Dan sekarang, menatap Azhura Kahn, lalu membayangkan apa yang mereka lakukan semalam, betapa intimnya mereka, betapa sang Azhura telah membawa Armenia ke dalam pengalaman yang membuatnya menjadi perempuan dewasa, perempuan sesungguhnya…… membuat Armenia merasakan perasaan hangat merayapi dadanya.

Azhura sendiri tersenyum, lalu melangkah mendekati isterinya, sedikit membungkuk, lalu menangkupkan jemarinya ke kedua sisi pipi Armenia, mendongakkan Armenia dengan lembut ke arahnya,

“Kita bisa jalan-jalan berkeliling istana ini, kau berada di Dievas Rumai, rumahku yang khusus kusiapkan hanya untukmu…. dan seharusnya aku sudah mengajakmu berkeliling sejak kau datang, tetapi aku malahan menahanmu di kamar dan memuaskan diriku sendiri.” Azhura terkekeh melihat pipi Armenia yang bersemu merah semakin memerah, dia lalu mengecup bibir Armenia dengan sayang.

“Ayo isteriku, kita harus keluar dari kamar ini, kalau kau terus-terusan menatapku dengan mata emas indahmu itu, aku tidak akan bisa menahan diriku untuk mendorongmu kembali ke ranjang dan menghabiskan berjam-jam lagi hanya untuk bercinta denganmu.”

Dengan sedikit geli karena menyadari bahwa  kata-katanya membuat Armenia malu, Azhura Kahn meraih jemari Armenia dan membimbingnya keluar dari peraduannya.

***

“Indah sekali.” Armenia berseru, tidak bisa menahan rasa kagumnya ketika melihat rumput hijau bercampur warna orange dengan pohon kulsu yang berbuah ranum hampir memenuhi setiap batangnya, menciptakan pemandangan orange terang yang tampak begitu cerah di tengah sinar matahari yang memancar lembut dan hangat.

Burung Adonis dengan warnanya yang putih bersih dan ekornya yang panjang berdatangan menyapa Armenia, seolah mengucapkan salam. Beberapa hewan kecil lain – beberapa belum pernah dilihat oleh Armenia sebelumnya– tampak mengintip malu-malu dari balik dahan-dahan pohon kulsu yang diliputi dedaunan orange terang.

Azhura Kahn membimbing Armenia melangkah melalui pepohonan rimbun yang membentuk serupa pintu gerbang memagari kiri dan kanan sebuah jalan setapak yang dialasi oleh pasir yang sangat lembut, mereka melalui jalan setapak itu, dan berakhir di sebuah danau kecil dengan tiga air terjun yang mengalir dari atas dan memantulkan cahaya matahari yang keemasan bercampur dengan warna biru jernih daunnya.

Danau itu begitu jernih dan bening, sehingga dasarnya yang berpasir putih terlihat, berpadu dengan kilauan keemasan di atasnya, Armenia sedikit ternganga, mengagumi keelokan pemandangan di depannya. Dan kemudian, dia menyadari bahwa danau ini sama dengan tempat indah yang ada di mimpi-mimpinya.

Mimpi-mimpi itu….. jantung Armenia berdetak pelan, lelaki misterius yang muncul di dalam mimpinya, membisikkan namanya dan mencumbunya itu pastilah Azhura Kahn….

“Kau teringat mimpi-mimpimu?” Azhura Kahn bergumam dengan suaranya yang dalam, jemarinya yang kuat merengkuh pinggang Armenia dan mendekatkan isterinya itu kepada diirnya.

Armenia mengangguk, mendongakkan kepalanya, menatap figur indah suaminya yang berdiri merapat kepadanya,

Armenia menganggukkan kepalanya, “Kau membuatku memimpikannya hampir setiap malam, bagaimana aku tidak ingat?” , suaranya sedikit gemetar, tetapi ada nada menantang tersembunyi di sana.

Mendengar jawaban berani Armenia itu. Azhura Kahn tergelak. Armenia sepertinya sudah mulai bangkit dari sikap canggung dan pemalunya dan kembali ke Armenianya yang lama, Armenianya yang berani, yang tak tidak segan-segan membantah dirinya ketika masih berwujud Zhura Al Gul.

“Kalau begitu sayangku,” Azhura Kahn melangkah memasuki danau dengan masih membawa Armenia ke dalam gendongannya, “Mari kita wujudkan mimpi itu ke dunia nyata.” Matanya tampak panas, penuh gairah ketika menatap isterinya, “Hanya saja, kali ini kita tidak akan berhenti di tengah-tengah.”

Suara Azhura Kahn terdengar penuh janji, janji yang pasti akan ditepatinya.

***

Armenia sedang duduk di bangku panjang yang disediakan di balkon lantai atas, bangku itu berwarna putih berpadu dengan marmer putih di sekelilingnya dengan bantalan dan sandaran lembut berwarna merah yang sangat nyaman.

Dia sedang menikmati hamparan pemandangan indah yang membentang luas dari istana sang Azhura Kahn. Perpaduan warna hijau rerumputan dan orange pepohonan tampak begitu kontras dan memanjakan matanya. Semuanya tampak begitu indah di sini, tampak begitu damai, dari semua tumbuhan, hewan, dan apapun yang tertangkap oleh pandangan matanya, semuanya tampak begitu bahagia….

bahkan udara yang dihirupnyapun begitu harum…

Sang Maha Dewa Azhura Kahn harus meninggalkannya sejenak karena ada beberapa hal penting yang harus dilakukannya. Armenia tentu saja tidak bertanya. Dia cukup mengetahui kedudukan sang Azhura Kahn sebagai sang Mahadewa, pemimpin tertinggi dari semua dewa, dan tentu saja dipuja oleh kaum manusia dan mahluk lemah lain yang ada di dalam kuasanya.

Lagipula tidak mungkin kan dia menuntut sang Mahadewa yang begitu tinggi untuk selalu berada di sisinya setiap saat? Memangnya dia siapa?

Suara gemerisik di belakangnya membuat Armenia menoleh, dia langsung bertatapan dengan sosok lelaki tampan yang berdiri di ambang pintu kaca yang menghubungkan ruang utama dengan balkon tempatnya berada,  lelaki itu mengenakan jubah berkilauan berwarna biru gelap dengan mata hitam dan rambut kecoklatan yang membingkai wajahnya, secara keseluruhan, penampilan lelaki di depannya ini tampak begitu agung, dan Armenia langsung tahu bahwa lelaki ini bukanlah manusia biasa, lelaki ini pastilah seorang dewa.

Secara spontan, dikarenakan kebiasaannya selama bertahun-tahun sebagai manusia biasa, Armenia langsung berlutut, hendak memberi hormat kepada sang dewa.

“Jangan!”

Sebelum lutut Armenia menyentuh lantai, lelaki itu mencegahnya dengan segera, telapak tangannya dihadapkan ke depan, seolah-olah benar-benar tak ingin Armenia berlutut di depannya, dan kata-kata lelaki itu berhasil membuat Armenia tertahan dari posisi hendak memberi hormatnya, secara otomatis, Armenia kembali berdiri, menatap lelaki itu dengan ragu.

“Jangan berlutut di depanku, wahai yang mulia, permaisuri kami, isteri dari dewa tertinggi kami  sang Azhura Kahn. Akulah yang seharusnya memberi hormat kepadamu, Putri Armenia.”

Tanpa dapat dicegah, lelaki itu membungkukkan tubuhnya dalam, memberi hormat kepada Armenia. Membuat Armenia memundurkan langkahnya dengan gugup, tak tahu harus berbuat apa. Belum pernah ada seorangpun sebelumnya yang membungkuk dalam begini di depannya…. apalagi sekarang seorang dewa yang memberi hormat kepadanya…

“Jangan membungkuk kepadaku, aku hanyalah manusia, kedudukanku jauh di bawah anda, wahai dewa….” Armenia menghentikan kata-katanya, bingung karena tidak tahu tidak lelaki ini dewa apa….

Lelaki di depannya ini sepertinya bisa membaca pikiran Armenia, dia tersenyum lembut, lalu melangkah dari ambang pintu, berdiri sepersekian langkah di depan Armenia. Dan ketika itulah Armenia bisa melihat rajah aksara dengan tinta hitam berbentuk tulisan aneh besar-besar seperti rapalan mantra yang ditahtakan dengan begitu indahnya di kulit sang dewa melingkar di leher sang dewa dan kemudian menghilang di balik pakaiannya.

Apakah rajah aksara itu memang benar-benar terlukis di kulitnya? Armenia bertanya-tanya, sementara itu sang dewa tampaknya menyadari arah tatapan Armenia, tetapi hanya tersenyum maklum, seakan-akan semua orang yang baru ditemuinya memang akan selalu bertanya-tanya tentang rajah aksara yang terukir abadi di tubuhnya.

“Betapa tidak sopannya diriku karena tidak memperkenalkan diri kepadamu.” Senyumnya tampak cemerlang, memperlihatkan sederetan giginya yang rapi, “Aku adalah Vejas…. orang-orang memanggilku sang penjelajah, karena aku telah menjelajahi hampir seluruh sudut dunia Ametyst.” Tiba-tiba saja pandangan matanya tampak menggelap, penuh ironi. “Semua sudut sudah kujelajahi, bahkan di tempat terlarangpun sudah kuinjakkan kakiku kesana, membuatku…..” Vejas tiba-tiba mengerjapkan matanya seolah tersadar, “Ah aku melantur, maafkan ketidaksopananku, puteri Armenia. Aku sangat senang akhirnya bisa berkenalan denganmu.”

Armenia tersenyum lembut, lelaki di depannya ini tampaknya sangat baik. Dan tadi…’Sang Penjelajah’ katanya? Armenia tidak pernah mendengar ada dewa penjelajah sebelumnya, Vejas….. Armenia mengerutkan keningnya, berusaha mengingat pelajaran dari ayahnya tentang sejarah dewa-dewa dari awal mula sampai sekarang…. kalau tidak salah, Vejas adalah…. Dewa perusak.

Vejas sepertinya menyadari arti tatapan Armenia, dia sedikit terkekeh,

“Ya. Aku memang dewa perusak, puteri Armenia, tapi tolong jangan menatapku seperti itu, aku memang perusak, tetapi aku hanya merusak apa yang seharusnya dirusak, namaku memang sepertinya berarti negatif, tetapi aku bukanlah dewa yang jahat.”

Armenia mengerutkan sedikit dahinya, “Jadi, jika ada angin topan atau bencana lainnya yang merusak semuanya, apakah itu perbuatanmu?”

Vejas tergelak, “Sebagian besar iya. Tetapi tentu saja semua skenario alam dan kerusakan itu sudah diperhitungkan semuanya, tugasku memang sebagai dewa perusak, tetapi inti dari tugasku, sama seperti dewa-dewa lainnya, kami menjaga keseimbangan dunia Ametyst.”

Vejas bergerak mendekat, berdiri di samping bangku tempat Armenia duduk, dan mengarahkan pandangannya kepada keindahan alam yang menghampar di depannya.

“Indah sekali. Aku selalu menahan napasku setiap menikmati kesempurnaan keindahan alam di Dievas Rumai ini.” Vejas mengangkat bahu dan menatap Armenia lembut, “Sang Mahadewa Azhura Kahn sudah membangun tempat ini sejak lama, untuk dirimu, perempuan yang diramalkan akan menjadi isteri dan pasangan jiwanya. Tidak ada tempat di dunia Ametyst ini yang bisa menyaingi keindahan Dievas Rumai

Armenia mengerutkan keningnya, dan kemudian langsung menanyakan apa yang terbersit di benaknya.

“Apakah sang Mahadewa sudah tahu sejak lama tentang diriku?”

Tanpa ragu-ragu Vejas menganggukkan kepalanya, “Ya. Sejak awal mula.”

“Sejak awal mula?” kerutan di kening Armenia semakin dalam, “Apakah…. itu ribuan tahun yang lalu?”

Vejas memutar tubuhnya, menghadap Armenia dengan ekspresi penuh keteduhan,

“Lebih dari ribuan tahun yang lalu, Puteri Armenia. Kami semua para dewa-dewi ini sudah ada bahkan lebih dari hitungan waktu yang bisa dipikirkan oleh manusia…. kami mahluk abadi, tetapi bukan berarti kami tak bisa mati.”

Armenia tiba-tiba tersadar, Para dewa dan dewi adalah mahluk abadi, diceritakan bahwa mereka bisa memperbaiki kerusakan apapun pada diri mereka, karena itulah pada usia tertentu mereka berhenti menua, tetap dalam wujud yang sama meskipun waktu berjalan begitu jauh.

Sang Mahadewa Azhura Kahn adalah dewa… mahluk abadi yang tidak bisa menua…. sedang dirinya adalah manusia biasa….

Mungkinkah percintaan  antara manusia dan dewa? Apakah dirinya akan tua dan mati sementara sang Mahadewa Azhura Kahn akan tetap sama, tetap abadi dan tetap hidup dalam eksistensinya yang tidak berbatas…?

Pikiran itu membuat Armenia menelan ludahnya, dan memberanikan dirinya untuk bertanya kepada Vejas,

“Aku hanyalah manusia biasa, sedang sang Mahadewa Azhura Kahn adalah dewa yang abadi. Bagaimana mungkin aku menjadi isteri dari sang Mahadewa? ”

Pertanyaannya sederhana, tetapi Vejas rupanya mengetahui apa yang berkecamuk di dalam benak Armenia,

“Puteri Armenia, apakah kau tidak tahu, bahwa ketika kau menjadi isteri seorang dewa – isteri yang sesungguhnya – Maka sang Dewa akan memberikan keabadiannya kepadamu.” Mata Vejas bersinar penuh arti.

“Maksudnya?” Armenia mendongakkan kepalanya, tidak paham.

Vejas terkekeh, dan entah kenapa sang dewa tampak salah tingkah, “Maksudku…. ketika kau… dan sang Mahadewa Azhura Kahn… eh… melakukan…” Vejas berdehem seolah-olah suaranya tertelan dan mengganjal tenggorokannya, “Setiap kalian melakukan apa yang suami isteri lakukan….maka keabadianmu bertambah karena sang Azhura Kahn membagikan keabadiannya kepadamu.”

Pipi Vejas tampak merona, lelaki itu tampak malu dan itu menular, bahkan pipi Armenia langsung merah padam, menyadari bahwa Vejas hendak mengatakan bahwa jikalau dia dan sang Mahadewa Azhura Kahn berhubungan intim, maka otomatis dia memperoleh keabadian dari sang Mahadewa.

“Itu berlaku untuk semua manusia yang menikah dengan kaum dewa, kau tahu Puteri Armenia, di luar sana banyak sekali perkawinan antara manusia dengan kaum dewa, semua manusia itu memperoleh keabadiannya, sehingga bisa terus hidup bersama dengan pasangan dewanya. Anak-anak mereka yang setengah dewapun biasanya dianugerahi kelebihan-kelebihan yang tidak dimiliki oleh manusia biasa.” Sambung Vejas kemudian setelah berhasil mengatasi kecanggungannya.

Armenia memang pernah mendengar ada beberapa dewa yang jatuh cinta dengan kaum manusia dan memutuskan untuk berpasangan, tetapi dia belum pernah melihat yang nyata di depannya jadi pengetahuannya tentang hal itu sangatlah sedikit. Apa yang dikatakan oleh Vejas ini merupakan pengetahuan baru untuknya.

“Jadi jika aku tidak melakukan…. itu….dengan sang Mahadewa, maka keabadianku akan hilang dan aku akan menua lagi?” Rona merah di pipi Armenia semakin pekat ketika mengajukan pertanyaannya kepada Vejas.

Sebelum Vejas sempat membuka mulutnya, suara gemerisik jubah panjang terdengar, diikuti dengan sebuah jawaban yang terdengar begitu berwibawa.

“Kau tidak akan pernah kehilangan keabadianmu, Armenia. Mengingat aku akan selalu melakukan “itu”  kepadamu, setiap saat tanpa pernah bosan.”

Serentak Armenia dan Vejas menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati sang Mahadewa Azhura Kahn berdiri di ambang pintu kaca yang menghubungkan ruang utama dengan balkon, sang Mahadewa tampak begitu agung dengan baju kebesarannya berwarna emas dan dihiasi uliran lidah api dan batu rubi yang megah.

Sang Mahadewa memasang ekspresi datar, tetapi matanya menyiratkan rasa geli, senang karena kata-kata vulgarnya berhasil menggoda Armenia.

Vejas langsung berlutut yang dibalas dengan anggukan singkat Azhura Kahn,

“Ada apa engkau kesini, Vejas. Dan apa yang kau lakukan, berbicara berduaan dengan isteriku?”

Vejas tersenyum, “Saya datang menghadap untuk memberi laporan hasil perjalanan hamba ke daerah bawah, yang Mulia. Dan kebetulan saya bertemu dengan isteri anda, lalu memutuskan untuk menyapanya.”

Azhura Kahn memberikan isyarat matanya kepada Vejas,

“Tunggulah aku di ruang sayap kanan, Vejas, aku akan menemuimu sebentar lagi.” Sang Mahadewa tidak melihat lagi ke arah Vejas yang membungkuk hormat sebelum kemudian melangkah pergi meninggalkan balkon itu, mata Azhura Kahn berpusat pada Armenia, yang tampak begitu cantik dengan rambut tergerai dan gaunnya yang indah berkibar membungkus tubuh nan mungil tapi menggairahkan.

Azhura Kahn mendekati Armenia, berdiri dekat di depannya hingga Armenia harus mendongak untuk menatap wajahnya,

“Apa kabarmu isteriku?” Azhura Kahn membungkuk dan melumat bibir Armenia, tidak bisa menahan diri untuk tidak mencicipi bibir ranum yang selalu menggodanya itu. Miliknya.

Sebenarnya Azhura Kahn hanya ingin memberi kecupan singkat, tetapi entah kenapa ciuman itu menjadi semakin dalam yang melibatkan lumatan-lumatan bibir penuh gairah dan godaan-godaan lidah yang ahli.

Ketika lumatan bibir itu lepas, napas Armenia sedikit terengah karena panasnya ciuman itu, dia bahkan sedikit terhuyung sehingga harus menahankan kedua telapak tangannya di dada Azhura Kahn.

Tadinya aku baik-baik saja.” Jawab Armenia pelan, berusaha mengatur napasnya.

Azhura Kahn terkekeh, lalu membelai rambut Armenia lembut,

“Tunggu aku sebentar di sini, isteriku. Aku akan menemui Vejas sebentar. Dan setelah itu, waktuku akan menjadi milikmu sepenuhnya.” Sang Mahadewa mengecup dahi isterinya dengan lembut sebelum meninggalkannya, menyisakan perasaan hangat yang mengerjap sempurna di dada Armenia.

***

“Nyonya Ruth mulai bertanya-tanya kenapa anda belum kembali.” Borth, si Azalel yang buruk rupa kembali menghadap Tuannya di istana hitamnya yang gelap pekat.

Yazza sendiri hanya mengedikkan bahunya tanpa ekspresi. “Belum waktunya. Aku harus mengetahui di Istana mana Azhura Kahn menyembunyikan Armenia, baru kemudian aku bisa melakukan apa yang sudah kurencanakan..” Tatapan matanya berubah kejam, “Apa yang kau dapatkan dari pengamatanmu dan anak buahmu di istana Kurejas sang dewa pencipta?”

Borth sedikit memundurkan langkahnya, tampak takut dengan tatapan kejam Yazza.

“Kami belum mendapatkan apa-apa yang Mulia. Kurejas selalu memasang perisai sihirnya ketika hendak membicarakan sesuatu yang rahasia, karena itulah kami kesulitan mendapatkan informasi.”

Tatapan Yazza mengeras, “Kau harus segera mendapatkan informasi. Sudah kubilang, jangan hanya berfokus kepada Kurejas, amatilah isterinya, juga dayang-dayang disekelilingnya. Salah satu kelemahan perempuan ada di bibirnya, mereka biasanya tidak bisa menahan apapun yang hendak keluar dari bibirnya.”

Borth menganggukkan kepalanya, “Kami akan melaksanakannya yang muia.”

‘Bagus.” Yazza tersenyum puas, “Ingat Borth, waktu kita sempit. Semakin dalam perasaan sang pengantin kepada Azhura Kahn, semakin sulit bagi kita.” Yazza menyentuhkan jemarinya ke dagunya, “Ruth akan membantu kita memancing Armenia keluar dari tempat terlindung itu. Dan kau tahu, setelah itu aku tidak akan membutuhkan Ruth, kau boleh memangsanya, karena aku akan menggunakan apa yang baru saja kuambil untuk menarik Armenia. Sebuah senjata yang sangat ampuh untuk membuat Armenia  dengan sukarela mengayunkan pedangnya supaya membunuh Azhura Kahn.”

Yazza terkekeh, merasa puas karena telah berhasil membaca seluruh ingatan Ruth ketika perempuan tua itu tertidur. Ingatan yang diperolehnya dari Khaeva hanya berupa kelebatan-kelebatan samar yang tidak jelas, karena di masa itu Khaeva masih kecil, berbeda dengan ingatan yang didapatkannya dari Ruth, perempuan tua itu mengingat segalanya dengan hatinya yang dipenuhi kedengkian. Dan hal itu membuat Yazza bisa menemukan senjata ampuh yang bisa digunakannya untuk mendapatkan Armenia.

Jemari Yazza bergerak pelan, membentuk bulatan ringan beberapa kali, dan kemudian, munculah bulatan transparan bersemburat keemasan dari telapak tangannya.

Borth mengernyit melihat bulatan itu, yang ada di tangan Yazza adalah Jiwa manusia yang sudah tercabut dari raganya yang mati. Sang Dewa kematian memang bertugas mengambil jiwa-jiwa manusia yang telah mati dan kemudian menempatkannya di tempat yang seharusnya.

Jiwa manusia berhati jahat berwarna merah bercampur hitam dan rasanya sangat lezat bagi kaum Azalel. Jika sedang berbaik hati, biasanya Tuannya Yazza akan memberikan beberapa untuk kaum Azalel sebagai hadiah. Sementara itu, Jiwa manusia berhati mulia akan berwarna keemasan, dan kaum Azalel tidak akan mengganggunya, karena rasanya pahit dan tidak enak.

Yang ada di tangan Yazza adalah jiwa manusia berhati mulia……

Jiwa itu  seharusnya berada di tempat seharusnya, di alam lain tempat manusia berhati mulia ditempatkan. Tetapi tuannya Yazza, telah melanggar peraturan alam semesta dengan menariknya kembali ke dunia Ametyst.

Sang Dewa kematian adalah satu-satunya dewa yang bisa mengambil kembali jiwa manusia yang telah bersemayam jauh…. dan kemudian menghidupkannya kembali, meskipun itu amat amat sangat terlarang karena bisa merusak keseimbangan dunia. Bahkan Mirtis, sang dewa kematian sebelumnyapun harus mati di tangan Yazza karena teguh memegang peraturan dan tidak mau membangkitkan kembali jiwa Calamara.

Yazza memandang bulatan keemasan di tangannya, dan tersenyum puas penuh kemenangan. Jiwa yang ada di tangannya ini masih tertidur, dan Yazza membutuhkan waktu untuk membuat jiwa itu siap, sebelum dia menggunakan kekuatan istimewa Dewa kematian untuk membangkitkannya.

Ada satu hal yang tidak diketahui orang banyak, Dewa kematian memang bisa membangkitak kembali jiwa-jiwa yang telah dikirim ke tempat persemayamannya, hanya saja Jiwa yang dibangkitkan kembali itu tidak akan pernah sama seperti sebelumnya ketika hidup sebagai manusia, karena jika jiwa itu dibangkitkan menjadi manusia lagi, maka separuhnya akan diisi oleh kegelapan…… kegelapan pekat yang menjadi kekuatan dari sang Dewa kematian.

“Selamat datang kembali…… Aspasya…”

Yazza mendesis, senyumnya mengambang di bibirnya, sebuah senyum penuh dendam yang menakutkan.

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

183 Komentar

  1. Kaikou Nezumi menulis:

    Duhhh Azhura khaaaaaannnn???, apa cuma gua yg bayangin si azhura itu sexy badai?. Sumpahhh suka banget sama gaya penulisannya

  2. Dhian Sarahwati menulis:

    Sosok azhura Kahn kl d visual luar biasa x ya…woowww…
    “Aspasya..”ibu Armenia kan??

  3. Itanur Cahyati menulis:

    :bantingkursi :kisskiss

  4. Armenia dan kesederhanaannya

  5. HerdiniIsnaeni menulis:

    :bantingkursi

  6. PutryNurlaila menulis:

    :lovely :lovely

  7. hbgsbshdjdjskssk 💞💞💞💞

  8. dwioktapia30 menulis:

    :sungguhmenakutkan

  9. lemonpinkskyyy menulis:

    :mimisankarnamu

  10. yasmin cavelli menulis:

    ❤️❤️❤️

  11. Kinky Rain menulis:

    :gakmauahgakmau

  12. shanaya_lee menulis:

    :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  13. Looooooh

  14. Indah Narty menulis:

    :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  15. Sulistia N menulis:

    :DUKDUKDUK

  16. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta

  17. Mamita Fatih menulis:

    :awaskubalasnanti

  18. Suka armeniaa

  19. Armenia kalo sama dewa Azhura percakapannya sedikit.. :awaskubalasnanti

Tinggalkan Balasan