azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 2 : Masih Beranikah Kau Mempertanyakan Kehendakku?

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.293 votes, average: 1,00 out of 1 (3.293 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Bibi Ruth dan Khaeva menoleh kaget, mereka sudah berjalan agak jauh di depan, dan membalikkan tubuhnya, menghampiri Ibunda Armenia yang berdiri kaku dengan wajah pucat pasi

“Kenapa kak?” Bibi Ruth menatap ibunda Armenia dan Armenia berganti-ganti.

Bibir ibundanya bergetar, tangannya yang lentik menyentuh bibirnya, berusaha menghentikan getaran itu,

“Armenia.” Suaranya ketika menyebut nama Armenia terdengar lemah, tidak seperti biasanya, “Kau yakin dengan apa yang kau alami tadi?”

Bibi Ruth mengerutkan keningnya, “Mengalami apa kakak?”

Ibunda Armenia menghela napas panjang, “Kata Armenia, di dalam kuil tadi hanya ada satu pendeta laki-laki berjubah merah, pendeta itu memakan manisan kulsu dari tangan Armenia…. dan.. warna matanya….” Ibunda Armenia menelan ludahnya sebelum melanjutkan, “Warna matanya merah dengan cahaya seperti api di sana.”

Reaksi bibi Ruth tidak kalah kagetnya dari Ibunda Armenia, dia bahkan tersentak sampai mundur beberapa langkah, membuat Khaeva yang ada di gandengannya mengerut bingung, sama bingungnya dengan Armenia.

“Apakah…. menurutmu….?” suara bibi Ruth tertelan di tenggorokannya, kali ini dia menatap Armenia dengan cemas, tetapi seolah-olah kalimat yang ada di sana tidak mampu keluar dari bibirnya.

Ibunda Armenia menganggukkan kepalanya, dua perempuan itu bertukar pandang dengan cemas.

“Apakah kita harus mengatakannya kepada pemimpin kuil?” Suara bibi Ruth tampak ragu.

Ibunda Armenia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.

“Tidak. Kita tunggu saja penghitungan keranjang persembahan besok, untuk memastikan, baru kita pikirkan harus berbuat apa.”

Setelah itu ibunda Armenia, menggandeng tangan Armenia erat-erat, dan mengajaknya melanjutkan perjalanan. Mau tak mau, bibi Ruth mengikutinya sambil menggandeng Khaeva.

Hanya satu yang masih terkenang di benak Armenia ketika itu, jemari ibunya yang menggenggam tangannya, terasa begitu dingin, sedingin es.

***

Keesokannya, terjadi kehebohan di seluruh penjuru Garaya. Berita itu tersebar dari mulut ke mulut dengan begitu hebohnya, sehingga hanya dalam waktu setengah hari saja, seluruh pelosok-pelosok desa di Garaya sudah mendengarnya.

Sudah menjadi tradisi pula, setelah prosesi persembahan pertama anak-anak, para pendeta akan menghitung seluruh keranjang yang dihamparkan di bawah kaki patung sang Azhura Kahn.  Mereka percaya bahwa jumlah keranjang akan sama dengan daftar anak-anak tersebut. Selama ratusan tahun prosesi ini dilakukan, jumlah keranjang yang dihitung selalu pas dengan daftar anak-anak yang melakukan prosesi.

Tetapi perhitungan tadi pagi berbeda, para pendeta sudah melakukan berkali-kali, memastikan seluruh daftar benar, memastikan seluruh prosesi dilakukan dengan benar, tetapi ….. ada satu keranjang yang hilang.

Ada satu keranjang yang tidak ada….

Berita itu tersebar sebagai suatu kehebohan, entah siapa yang duluan membocorkannya, mungkin salah satu penjaga kuil, atau mungkin juga gadis-gadis pelayan kuil yang memang berada di sana ketika kehebohan itu terjadi.

Kepala pendeta memang sempat panik dan meminta semua yang ada untuk menghitung kembali keranjang persembahan itu, berulang-ulang… tetapi hasilnya tetap sama. Kemungkinan  bahwa ada yang mengambil persembahan itu tentu saja tidak ada, apalagi di kalangan lingkungan kuil.

Azhura Kahn adalah dewa yang sangat dihormati dan dikagumi, mengambil persembahan yang diperuntukkan kepadanya sama saja dengan mengambil kutukan menakutkan seumur hidup.

Jadi, kemungkinannya hanya ada satu, bahwa sang Azhura Kahn sendiri yang mengambil persembahan itu.

Berita yang tersebar mulai simpang siur, tetapi hampir semuanya berpendapat sama. Bahwa sang Azhura Kahn sendiri yang telah menerima langsung persembahan itu, dari satu gadis yang terpilih. Hanya satu di antara ratusan anak perempuan yang hadir  kemarin…

***

“Kau sudah mendengar berita itu bukan?” Ruth menoleh, menatap ke arah Azpasya, Ibunda Armenia.

Azpasya yang sedang duduk di jendela, menatap ke luar, ke arah Armenia dan Khaeva yang sedang memetik bunga di luar. Napasnya terdengar berat.

“Dia masih begitu kecil….” mata Azpasya berkaca-kaca. “Kenapa harus dia?”

Ruth menghela napas panjang, “Kita tidak bisa menyembunyikannya berlama-lama, Azpasya. Berita ini sudah menjadi heboh di luar sana, seluruh kerajaan kalang kabut. Aku tidak akan heran kalau nanti kerajaan akan memerintahkan seluruh gadis yang kemarin mengajukan persembahan dikumpulkan untuk ditanyai satu persatu. Ketika saat itu tiba, Armenia tidak akan bisa menggelak.”

“Mereka pasti akan mengambil Armenia dari tanganku.” Ekspresi Azpasya tampak cemas. “Aku tidak akan bisa hidup kalau tidak ada Armenia di sisiku… mereka pasti akan menjauhkan Armenia dariku.”

Ruth mendekat dan merangkul pundak Azpasya dengan lembut,

“Sang Mahadewa sudah memilih Armenia, Azpasya.” Bisiknya tak kalah lembut, “Bertahun-tahun kita mendengar kisah itu, bahwa gadis yang dipilih oleh sang Azhura sebagi isterinya akan terlahir di desa ini, sudah beratus tahun lamanya tidak pernah ada tanda-tandanya. Sang sekarang, sang Azhura sendiri yang datang dan mengambil persembahan Armenia. Kita tidak bisa menggelak dari takdir, apalagi takdir yang ditentukan oleh sang Azhura.” Ruth menatap Azpasya dengan serius, “Malam ini, berdoalah di kuil sang Azhura di ujung desa…. memohonlah dan bertanya kepadanya, memohonlah petunjuk dari sang Azhura.”

***

Malam itu, dengan membawa keranjang persembahan berisi bebungaan khusus, Azpasya berjalan melalui jalanan desa menuju ke kuil desa di ujung batas desa. Suasana masih ramai, tampak para pedagang makanan dan minuman serta pedagang bunga-bungaan di sepanjang jalan, dengan para pembeli yang masih saling berbicara.

Beberapa penduduk desa yang baru pulang dari kuil pun berpapasan dengan Azpasya dan tersenyum. Ya, desa mereka adalah desa kecil di ujung Garaya, dengan jumlah penduduk yang tak banyak yang sebagian besar mata pencariannya adalah bertani dan beternak, karena itulah mereka  biasanya mengenal satu sama lain.

Ketika sampai di pelataran kuil, Azpasya membasuh kaki dan tangannya di pancuran air jernih yang disediakan, lalu melepas alas kaki raminya dan kemudian melangkah pelan melewati pelataran kuil yang lebar, hendak menuju pusat kuil di bagian ujung yang terang, dengan patung sang Azhura di sana.

“Hendak berdoa, ibu?” ada suara seorang lelaki menyapanya.

Langkah Azpasya berhenti mendengar sapaan itu, suara lelaki itu tidak dikenalnya.  Mata Azpasya berusaha mencari arah suara itu, dan melihat sosok lelaki berbadan tinggi tengah berdiri di kegelapan, agak jauh dari dirinya. Posisinya cukup jauh, tetapi entah kenapa suara lelaki itu terdengar sangat dekat, seolah berbisik di telinganya.

“Anda siapa?” Azpasya berusaha bertanya, karena dia tidak mengenali lelaki itu. Kalau lelaki itu adalah salah satu penduduk desa ini, dia pasti akan mengenalinya. Dan kemudian, entah kenapa, jantungnya berdetak makin lama makin kencang.

Lelaki di kegelapan itu bergeming. Suasana sangat sepi, hanya desiran angin yang melalui mereka, membuat jubah panjang yang dikenakan lelaki itu bergemerisik pelan.

Lama kemudian, lelaki itu memecah keheningan.

“Masih beranikah kau mempertanyakan kehendakku, ibu?” Suaranya dalam, terdengar begitu agung.

Dalam sekejap, hanya sekejap saja. Azpasya bisa melihatnya, mata itu berwarna merah, menyala dalam kegelapan. Dan tahulah dia, siapakah lelaki ini.

Seketika itu juga Azpasya tersungkur, jatuh tengkurap di lantai pelataran dalam posisi menyembah, menundukkan kepalanya, tidak berani menatap Dewa yang Agung, yang berdiri di hadapannya.

“Ya Tuanku, hamba tidak pantas.” Serunya terputus putus, dilanda gemuruh kebingungan dan ketakutan. Dia datang ke kuil ini untuk berdoa, memohon petunjuk dari sang Mahadewa. Tidak disangkanya sang Mahadewa Azhura Kahn sendiri yang datang menemuinya.

Sang Azhura melangkah pelan, mendekat. Azpasya semakin menenggelamkan wajahnya ke lantai, menunduk dalam-dalam, tidak berani menatap sang Mahadewa yang agung. Sampai kemudian kedua kaki sang Azhura berhenti di depan tubuhnya yang bersujud dalam di lantai.

“Aku mengerti keresahanmu, Ibu. Tapi janganlah kau mempertanyakan kehendakku.” Jemari itu menyentuh sedikit kepala Azpasya, ada sesuatu yang dijatuhkan di sana, “Tenanglah Ibu, Isteriku akan selalu ada dalam perlindunganku.”

Suara itu bergaung pelan, lalu seolah memudar dan menghilang. Lama sekali Azpasya masih menunduk dalam posisi menyembah di lantai pelataran, berusaha menormalkan detak jantung dan napasnya yang terengah. Kemudian, ketika dia sudah yakin bahwa hanya ada desau angin di sekelilingnya, Azpasya mendongakkan kepalanya.

Tidak ada apa-apa, sepi dan senyap di sana.

Lalu ketika dia menggerakkan kepalanya, ada yang terjatuh dari kepalanya. Azpasya mengambilnya dengan tangannya, dan menemukan sebuah liontin emas berbentuk air mata, dengan batu rubi berwarna merah darah menggantung di sana, ada sinar kekuningan seperti api di dalamnya.

Liontin itu adalah lambang mata sang Azhura…. kata-kata sang dewa masih terngiang di telinga Azpasya,

… sang Azhura Kahn menyebut Armenia sebagai isterinya…

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

343 Komentar

  1. shanaya_lee menulis:

    :ohyeaaaaaaaaah! :ohyeaaaaaaaaah! :ohyeaaaaaaaaah!

  2. Bella Miacara menulis:

    Masih..

  3. devikristianti59 menulis:

    :REBAHANDULU

  4. Kira Yamato menulis:

    :panikshow

  5. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta

  6. :kapannihadeganciuman baca ulang karena kangen sama Azhura

  7. Elda Virginia K menulis:

    :DUKDUKDUK

  8. dewantilaraswaty menulis:

    Cerita pertama yg aku baca di PSA
    Baca ulang rindu

  9. Pooja Kharisma menulis:

    :kumenangismelepasmu

  10. Mamita Fatih menulis:

    :DUKDUKDUK

  11. Halo semuanyaa

  12. Shelli Novianti menulis:

    :habisakal

  13. Penasaran ..

  14. Baca ulang lagi

  15. Yang Mulia

  16. Syafa'atun Munajah menulis:

    :wowakuterkejoet

Tinggalkan Balasan