azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 15 : Azhura Kahn dan Armenia

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.122 votes, average: 1,00 out of 1 (3.122 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Armenia membuka matanya, dan langsung berhadapan dengan mata merah itu, yang sedang menatapnya dalam tak bergeming. Armenia terperanjat, merasa malu sekaligus gugup. Dia bangkit dan berusaha untuk duduk, tetapi Azhura yang duduk di tepi ranjang, menahankannya dengan menekan pundak Armenia.

“Tetaplah berbaring.” Suaranya seperti sebuah perintah, tak terbantahkan.

Armenia menurut, tetapi matanya berputar mengelilingi seluruh ruangan, hari sudah beranjak malam, tampak dari bulan merah yang mengintip di jendela. Berbeda dengan bulan yang biasanya Armenia lihat di desanya, bulan merah di sini tampak begitu besar, begitu dekat, seakan-akan bisa digapai dengan jemarinya.

“Ini di mana?” Armenia bisa mengeluarkan suara meskipun serak dan takut-takut.

Azhura menipiskan bibirnya, ” Di dalam kamarku.”

Di peraduan sang Mahadewa? Di…. tempat tidurnya?

Pipi Armenia memerah, menyadari bahwa dirinya sekarang terbaring di sebuah ranjang besar dengan lapisan mewah kain kailfah yang lembut di bawah kulitnya….Dan ruangan ini, ruangan besar nan mewah dengan hiasan ukiran emas dan batu permata di seluruh sisi jendela, kisi-kisi atap yang berpadu dengan lantai berkarpet tebal berwarna merah. Seluruh ruangan ini bernuansa merah dan emas yang berpadu dengan sempurna.

“Seorang dewa tidak pernah tidur.” Azhura Kahn tersenyum tipis melihat pipi Armenia yang memerah, “Kami hanya menggunakan tempat tidur untuk saat-saat tertentu.”

Armenia menatap bingung, “Saat-saat tertentu?”

Azhura Kahn tampak geli, “Ya… saat-saat dimana kami ingin bersenang-senang.” Suaranya terdengar geli, tetapi penuh misteri.

“Bersenang-senang?” Armenia malahan semakin bingung, tak mengerti.

Kali ini Azhura Kahn tidak bisa menahan dirinya untuk terkekeh menertawakan kepolosan isterinya ini, “Bersenang-senang Armenia, kau tahu… di atas ranjang.”

Kata-kata Azhura Kahn itu membuat Armenia tersadar, dan rasa malu langsung merayapi dirinya, tampak dari pipinya yang memerah lalu merayap ke leher dan seluruh tubuhnya.

Oh, astaga, kenapa dia begitu bodohnya tidak menyadari isyarat yang diberikan oleh sang Azhura kepadanya?

Meskipun dia tidak pernah mengenal lelaki dengan dekat  sebelumnya, dia pernah memiliki teman-teman perempuan yang menikah lebih dulu dari dirinya. Mereka semua selalu bilang kepadanya bahwa seorang pengantin baru lebih senang berdiam di tempat tidur untuk melakukan perbuatan menyenangkan yang hanya diperbolehkan dilakukan oleh pasangan yang sudah menikah. Armenia tidak tahu perbuatan menyenangkan itu seperti apa…. tetapi teman-temannya bilang kalau pada awalnya hal itu tidak terasa menyenangkan, meskipun setelah terbiasa akan semakin terasa nikmat.

Teman-teman perempuan Armenia bilang, saat pertama kalilah yang terasa sakit.

Armenia pernah bertanya, sakitnya seperti apa. Dan sambil tertawa cekikikan, teman-teman perempuannya yang sudah menikah itu mengatakan bahwa sakitnya seperti sebilah belati kecil di torehkan di kulit, terasa tidak nyaman sesudahnya, tetapi jika beruntung mendapatkan pasangan yang lembut dan pengertian, semua akan terasa lebih baik dan semakin-lama bahkan semakin baik lagi.

Dan sekarang, Armenia berbaring di ranjang, menatap Azhura Kahn dengan mata emasnya yang lebar dan indah, dengan kulit panas memerah karena malu, menyadari bahwa sang Mahadewa mungkin ingin melakukan perbuatan ‘menyenangkan’ itu dengannya.

Tiba-tiba saja Armenia merasa takut.

Ditatapnya sang Mahadewa yang sekarang mengenakan pakaian yang tidak pernah Armenia bayangkan akan dia lihat sebelumnya. Pada patung-patung pemujaan di kuil-kuil, Patung sang Mahadewa Azhura Kahn selalu digambarkan memakai baju zirah perang dan membawa pedang, Sang Azhura Kahn selalu tampak menakutkan dan begitu berkuasa.

Sekarang, sang Azhura Kahn hanya menggunakan jubah merah seumpama jubah tidur, dari kain kailfah yang mewah, sama dengan bahan gaun pengantinnya. Jubah itu dipakai dengan sembrono, menampakkan sedikit bagian dadanya yang kokoh dan keras, Azhura Kahn yang ada di depannya ini, tampak begitu santai dan berbeda dari bayangan Armenia….. sekaligus tampak begitu intim.

Dan hal itu membuat Armenia takut, dia tidak pernah berdekatan dengan laki-laki sebelumnya, dan sekarang dia berada begitu dekat dengan sosok laki-laki berkuasa, sosok dewa yang begitu mengintimidasi…

Azhura Kahn melihat ketakutan yang terpancar di mata indah Armenia, dengan lembut, lelaki itu menggerakkan jemarinya, menelusuri pipi Armenia yang memerah,

“Apakah kau takut kepadaku?” Itu adalah pertanyaan yang sama, yang diajukan Azhura Kahn kepadanya di hari pernikahan mereka, sebuah pertanyaan yang saat itu tidak sempat terjawab oleh Armenia, jemari Azhura Kahn mengelus lembut pipi Armenia, merasakan tubuh perempuan itu bergetar,

Armenia tidak menjawab, tetapi tubuhnya yang gemetar menjawab semuanya,

Azhura Kahn tersenyum, dan kemudian, dengan lengannya yang kuat, lelaki itu menarik Armenia, mengangkatnya, dan meletakkan tubuh mungil Armenia ke atas pangkuannya yang kokoh, satu lengannya menahan bagian belakang kepala Armenia, dan satu lagi menahan di belakang lututnya, Armenia setengah terbaring di pangkuan sang Azhura dengan kepala merapat ke dadanya yang kokoh.

“Jangan takut kepadamu, aku tidak akan pernah menyakitimu.” Suara sang Azhura Kahn terdengar sangat lembut, lelaki itu megecup pucuk kepala Armenia dengan penuh kasih sayang, “Aku akan selalu melindungimu, Armenia.”

Pelukan sang Mahadewa, lengan-lengan kuat Azhura Kahn yang hangat dan melingkupinya, entah kenapa terasa begitu nyaman, apalagi dengan aroma manis nan khas itu, yang menguar dari tubuh sang Azhura Kahn yang agung….. semuanya terasa begitu menenangkan, seolah-olah tempat Armenia memang berada di sini, di dalam pelukan sang Azhura Kahn. Tubuh Armenia yang gemetar mereda, dan Armenia memejamkan matanya dalam damai.

***

Ketika Azhura Kahn keluar dari ruangan kamarnya, dan meninggalkan Armenia yang terlelap kembali. Dia langsung bertatapan dengan Kurejas, Dewa Pencipta yang lebih dikenal dengan ‘Sang Kebijaksanaan’, Kurejas adalah salah satu orang kepercayaan Azhura Kahn, yang menjadi penasehat penting baginya.

“Anda tidak menyentuh sang Puteri?” Kurejas berdiri di sana, membungkuk hormat sebelum bertanya, Sang Dewa pencipta yang terkenal menyukai kesederhanaan itu mengenakan jubah serupa pendeta Garaya, hanya saja pakaiannya berwarna biru, sewarna dengan matanya.

Azhura Kahn melangkah duduk ke atas kursi emasnya yang berada di dekat jendela,  meraih minuman  dari piala di dekat meja, dan meneguknya seolah frustrasi.

“Bagaimana aku bisa? Perempuan itu ketakutan padaku. Aku baru menyentuhnya sedikit dan seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.”

Kurejas mengambil tempat duduk di depan Azhura Kahn,

“Bukankah anda cukup berpengalaman dengan perempuan? Anda pasti bisa menenangkan sang Puteri  dan membuatnya jatuh di pelukan anda.”

Azhura Kahn tersenyum, sebuah senyuman ironis, sang Mahadewa menyentuh rambutnya, sekali lagi, rasa frustrasi tampak menguar dari tubuhnya,

“Berpengalaman?” Azhura Kahn terkekeh tak kalah ironis dengan senyumannya, “Dulu aku memang berpengalaman, Ketika aku tidak mengharapkan anak manusia perempuan itu dilahirkan di dunia dan aku tidak mau mengakui kutukan itu, aku menghabiskan waktu luangku untuk bersenang-senang dengan perempuan manapun yang cukup beruntung untuk menarik perhatianku.” Mata sang Azhura berubah merah kelam, “Tetapi sejak Armenia dilahirkan, dan aku menyerahkan hatiku kepadanya setelah aku melihatnya untuk pertama kali, aku tidak pernah menyentuh perempuan manapun lagi, seluruh diriku aku berikan untuk menunggunya.”

Azhura Kahn meneguk lagi minumannya, menatap Kurejas dengan tajam,  “Tujuh belas tahun…. tujuh belas tahun aku menahan diriku, dan sekarang ketika perempuan itu terbaring di depanku, di saat  aku bisa melakukan apapun kepadanya, bukan hanya dia yang ketakutan, tetapi aku juga ketakutan. Aku takut tidak bisa menahan diriku, aku takut dia tidak bisa menahan tenagaku….aku takut akan membuatnya remuk.”

Kurejas menatap sang Mahadewa di depannya, sekarang, dimatanya, sang Mahadewa tidak tampak lagi seperti lelaki arogan yang menakutkan, tidak tampak lagi seperti Azhura Kahn sang pemimpin di antara para dewa, lelaki itu lebih seperti laki-laki manusia, yang begitu mencintai isterinya.

Kurejas tersenyum, menyadari bahwa rasa cinta yang menguasai Azhura Kahn, telah membuatnya begitu takut menyakiti isterinya.

“Anda pasti bisa melakukannya. Anda mencintai puteri Armenia, dan rasa cinta akan membimbing anda untuk tidak menyakiti perempuan yang anda kasihi.” Kemudian, mata Kurejas berubah sedikit cemas, “Dan lagi, anda harus segera melakukannya wahai Azhura Kahn yang Agung. Cepat atau lambat, Yazza akan menggunakan segala cara untuk mendapatkan putri Armenia, dan anda harus sudah memiliki puteri Armenia, jiwa dan raganya sebelum itu terjadi.”

***

Ketika Armenia membuka matanya, sekumpulan perempuan bertubuh mungil, berpakaian keemasan tampak sudah menunggu di tepi ranjangnya, mereka semua langsung membungkuk hormat, setengah bersujud ketika Armenia membuka matanya.

Armenia menatap perempuan-perempuan mungil nan cantik itu yang bersujud kepadanya dengan kaget, dia bangkit terduduk di ranjang, berusaha membuat mereka bangun dari bersujudnya,

“Jangan bersujud kepadaku…” Armenia bergumam dengan suaranya yang lemah,

Perempuan-perempuan itu, yang tujuh orang jumlahnya menurut, dan berdiri menatap hormat kepada Armenia, dan ketika itulah Armenia menyadari bahwa mata dan rambut mereka, semuanya berwarna orange berbaur dengan emas, serupa dengan warna buah kulsu yang telah masak benar.

“Kami adalah kaum Zelts.” salah satu perempuan yang lebih tua berkata sambil tersenyum lembut kepada Armenia, “Kami adalah mahluk perempuan yang dilahirkan untuk menjadi pelayan para dewa. Dan kami di sini untuk melayani anda, puteri Armenia, Isteri dari sang Mahadewa yang agung.”

Nama Zelts sendiri berarti emas, Kaum Zelts adalah salah satu kaum yang hanya ada dalam kisah-kisah mitologi kalangan manusia dunia Ametyst. Mereka diceritakan sebagai mahluk bertubuh kecil dan pendek, lebih pendek dari ukuran manusia biasanya, mereka dilahirkan dari biji buah kulsu yang tumbuh di surga para dewa, karena itulah mata dan rambut mereka berwarna orange yang berpadu dengan emas, pun dengan pakaian dan sepatu yang mereka kenakan, semuanya didominasi dengan warna keemasan.

Karena dilahirkan dari buah kulsu yang manis maka kaum Zelts hanya memiliki sikap manis dan patuh di dalam dirinya, mereka sangat setia dan tidak mungkin berkhianat, mereka tidak memiliki emosi-emosi negatif,  tujuan hidup mereka hanyalah melayani para dewa, dan mereka adalah pelayan yang sempurna.

Kisah tentang kaum Zelts hanya diceritakan sebagai dongeng, dan Armenia tidak menyangka bahwa sekarang dia berhadapan langsung dengan mereka semua. Mahluk ajaib dan menakjubkan ini memang benar-benar ada, dan tadi….. mereka semua memanggilnya Puteri Armenia….

“Kami di sini untuk melayani anda.” Yang tertua dari perempuan itu tersenyum lembut, “Mari, kami akan membantu anda mandi.”

Armenia hanya bisa menurut ketika para perempuan Zelts itu membimbingnya supaya turun dari ranjang, kemudian menggantikan pakaian pengantin merahnya dengan pakaian dari kain tipis serupa jubah mandi, yang berwarna emas, dia lalu di bawa ke ruangan lain yang ternyata memiliki pintu sambungan dari kamar sang Mahadewa Azhura Kahn,

Ruangan itu serupa dengan permandian uap di dunia manusia, hanya saja, jika di dunia manusia permandian uapnya begitu sederhana, terbuat dari dinding tanah liat dan kolam seadanya dari batu-batuan sungai, ruangan mandi uap di kediaman Azhura Kahn ini seluruhnya terbuat dari emas, bahkan lantainyapun terbuat dari marmer utuh besar berwarna keemasan.

Uap-uap berbentuk asap tipis keemasan berbau harum menguar di udara, menyelubungi seluruh ruangan, seolah berada di dunia mimpi nan lembut, aroma harum ini amatlah manis dan menyenangkan, dan ketika mereka melangkah ke ujung ruangan, tempat sebuah kolam besar berwarna keemasan yang berbentuk lingkaran berlekuk unik seumpama kerang di tengah lautan, barulah Armenia menyadari kenapa ruangan ini beraroma begitu manis.

Seluruh bagian dalam kolam itu, bukan berisi air hangat untuk mandi, melainkan penuh dengan minyak Arozhyukure yang mendidih dan bergelembung dan menguarkan uap keemasan nan harum.

“Silahkan masuk, tuan puteri.” Perempuan-perempuan Zelts itu  membantu Armenia melepas jubah mandinya dan mempersilahkannya melangkah masuk ke dalam kolam itu.

Armenia merasa ragu, minyak Arozhyukure di dalam kolam itu tampak begitu mendidih, menguarkan gelembung-gelembung yang berletupan dan berasap…..minyak itu tampak begitu panas…

Para perempuan Zelts tersenyum, menyadari keraguan Armenia, tentu saja, puteri Armenia berasal dari dunia manusia, sang puteri pasti belum tahu bahwa minyak Arozhyukure memiliki titik didih yang amat rendah. Hanya dalam kondisi hangat, minyak Arozhyukure sudah bisa mendidih dan tidak akan pernah bisa menjadi panas apalagi sampai menyakiti kulit.

“Cobalah puteri, minyak Arozhyukure tidak akan pernah bisa menjadi panas, anda akan merasa sangat nyaman di dalamnya.” Perempuan-perempuan Zelts itu bergumam lembut bersahut-sahutan.

Armenia menganggukkan kepalanya, dan meskipun masih ragu, dia melangkahkan kakinya, menyentuh minyak itu dengan kakinya, pelan-pelan dan hati-hati….

Dan memang minyak itu terasa hangat, sekaligus menyenangkan.

“Masuklah puteri, dan berendamlah, kami akan menunggu sampai puteri selesai.”

Armenia menurut, dia melangkah masuk ke dalam kolam, dan kemudian setengah duduk dengan bersandar sambil berbaring dengan punggung bersandar di pinggir kolam emas itu, tubuhnya terbenam di dalam kelembutan minyak Arozhyukure sampai ke pundaknya, dan minyak itu terasa begitu menyenangkan bergerak membungkus tubuhnya, seolah memijit seluruh badannya, memberikan kenyamanan sambil berendam.

Armenia memejamkan matanya, merasakan harumnya minyak Arozhyukure yang beruap dan memanjakan indera penciumannya, tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahwa dia, manusia biasa sepertinya akan bisa mandi di dalam rendaman minyak Arozhyukure nan langka ini, serupa para dewa.

Apakah sang Azhura Kahn selalu berendam dengan minyak ini, sehingga aroma tubuhnya menguar dengan begitu harum dengan aroma manis dan agung ini….?

Armenia tersenyum masih dengan mata terpejamnya setelah menghela napas karena rasa nyaman yang merambati tubuhnya….. Entah berapa lama mata Armenia terpejam menyelami kenikmatan agung yang dirasakannya ini, sampai kemudian, dia menyadari bahwa suasana ruang berendam itu benar-benar hening.

Hening sekali…….

Armenia membuka matanya pelan-pelan, dan setengah terperanjat ketika dia menyadari bahwa sang Mahadewa Azhura Kahn tengah berdiri di pinggir kolam, hanya mengenakan jubah mandi berwarna keemasan sewarna dengan yang dipakainya tadi.

Sang Mahadewa hanya mengawasinya tanpa bergeming, entah sudah sejak berapa lama…

Bibir Azhura Kahn tersenyum tipis menyadari kegugupan Armenia, lelaki itu bersedekap tampak begitu berkuasa, Matanya yang merah, yang begitu tajam dan menyala di antara kabut uap keemasan, menatap Armenia dengan tatapan intens yang tidak bisa ditebak,

“Bolehkah aku bergabung denganmu, isteriku?”

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

240 Komentar

  1. Hayooo mau modus ini :khu..khu… :ngetawain :backstab :bengongaja

  2. :iloveyou :lovelove :bergoyang

  3. Airaqyoung1215 menulis:

    :kisskiss :bergoyang

  4. Kaikou Nezumi menulis:

    Wowww, i really like your stories??

  5. Dhian Sarahwati menulis:

    Uuuuhhh…Mahadewa modus…jangan frustasi lagi ya,kan ga klucu dewa frustasi ketakutan nyentuh istrinya…
    I really this story

  6. Febriani toding menulis:

    :bantingkursi :nyengirlebar :kisskiss

  7. Baca ulang dan selalu sukaaaa :iloveyou

  8. duh jd deg degan :mimisankarnamu

  9. Deg degan :lovely

  10. dwioktapia30 menulis:

    :givelove :givelove

  11. yasmin cavelli menulis:

    reread ❤️❤️❤️

  12. shanaya_lee menulis:

    :gakmauahgakmau :gakmauahgakmau :gakmauahgakmau

  13. Indah Narty menulis:

    Modus :luculuculucuih :luculuculucuih :luculuculucuih

  14. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  15. dewantilaraswaty menulis:

    Sang Maha Dewa Azhura bakalan takluk kepada Armenia, istri manusianys :sebarcinta :sebarcinta

  16. Shelli Novianti menulis:

    :awaskubalasnanti

  17. Mamita Fatih menulis:

    :NGAKAKGILAA

  18. Kangenn azhuraa bangettt

Tinggalkan Balasan