azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 14 : Pengantin Azhura

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.163 votes, average: 1,00 out of 1 (3.163 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Upacara pernikahan telah selesai, Armenia hanya berdiri diam di sana, menatap sang Mahadewa yang kini telah menjadi suaminya. Sementara itu pendeta Asoka membungkuk hormat, lalu sambil terus mengucapkan doa-doa syukur, sang pendeta melangkah mundur, dan keluar dari ruangan itu, meninggalkan mereka berdua kembali sendirian.

Setelah pintu tertutup rapat, Azhura Kahn mengalihkan pandangannya kembali kepada Armenia

“Tutup matamu.” Azhura Kahn bergumam dengan suaranya yang tenang dan berwibawa.

Aroma minyak Arozhyukure nan harum dan manis memenuhi ruangan, seakan menghipnotis . Dengan gemetar Armenia menurut, dipejamkannya matanya pelan-pelan. Kemudian dirasakannya jemari sang Azhura Kahn menyentuh dahinya, terasa begitu lembut dan hangat, seolah membuai Armenia ke dalam buaian memabukkan, memanggil keinginannya untuk terlelap.

Dan Armenia benar-benar terlelap, kehilangan kesadarannya.

***

Azhura Kahn meletakkan tubuh Armenia di ranjangnya yang besar. Ranjang ini terletak di bagian utama Dievas Rumai kediaman sang Azhura Kahn yang paling rahasia. Biasanya Azhura Kahn tinggal di istananya yang disebut sebagai Samada Ka yang artinya surga. Samada Ka terkenal sebagai tempat kediaman sang Azhura, siapapun  yang ingin bertemu dengannya pasti akan memohon untuk bisa memasuki area Samada Ka.

Sedangkan Dievas Rumai, adalah tempat rahasia yang terlindung oleh kabut merah ciptaan Azhura Kahn, hanya orang-orang yang diinginkannya untuk melihat tempat itulah yang bisa melihatnya. Dievas Rumai berbentuk sebuah istana di ujung bukit yang berwarna hijau tua, penuh dengan pohon buah kulsu dan bunga Aro yang menyelimuti perbukitannya. Di ujungnya, ada sebuah istana yang dibangun dari marmer putih berkilauan, sangat indah diselubungi kabut sejuk nan menyenangkan.

Hewan-hewan surgawi berkeliaran dengan bebas di sana,  termasuk, saudara-saudara Baraga, jenis kuda khusus kendaraan para dewa yang dengan senang hati merumput dibukitnya yang subur, burung-burung berbagai jenis seperti  burung Adonis, burung kecil dengan bulunya berwarna putih bersih dan surainya yang begitu panjang berkilauan, ada juga burung Falcao, burung serupa elang dengan tubuh besar dan sayap-sayap lebarnya yang berwarna emas berkilauan, burung ini tampak menakutkan, tetapi falcao sebenarnya hanya memakan buah kulsu, dan dia bukanlah binatang buas. Kedua jenis burung ini adalah yang paling banyak di lembah Dievas Rumai

Di bagian belakang istana, ada sebuah air terjun nan indah, dikelilingi oleh gugusan pepohonan terbentang membentuk lingkaran yang semakin meninggi di perbukitan yang dikucuri oleh tiga air terjun dengan air jernihnya yang berwarna sangat biru. Bunga-bunga aro yang menebarkan keharuman manis, bermekaran disekitar danau kecil tempat jatuhnya air terjun itu menyatu.

Suara burung-burung seakan meramaikan keindahan yang ada di sana, apalagi ditambah dengan banyaknya serangga lucu berwarna-warni dengan berbagai corak yang berterbangan dengan damai mengitari pucuk-pucuk bunga. Air terjun itu berasal dari tiga mata air yang menjadi satu, sehingga menciptakan danau kecil dengan air begitu bening dan hangat. Hewan-hewan kecil dan besar berkumpul di sana dalam kedamaian, menyatu dengan keindahan alam.

Tetapi di balik itu semua, Dievas Rumai adalah tempat yang paling dijaga ketat di seluruh permukaan dunia Ametyst. Azhura Kahn telah menugaskan dewa-dewa kepercayaannya untuk menjaga tempat ini dengan kekuatannya, dia juga telah menciptakan kabut merah, yang akan membakar siapa saja menjadi abu bagi yang berani melewati garis perbatasan tanpa seizinnya.

Tempat ini adalah tempat teraman untuk melindungi Isterinya dari kejaran Yazza.

Yazza…. Sambil duduk di tepi ranjang tempat Armenia terbaring, Azhura Kahn mengerutkan keningnya. Yazza adalah salah satu dewa terbaik, dan karena dendam serta kehilangan saudari kembarnya, dia berubah menjadi mahluk menakutkan, dewa kematian.

Dan Yazza menyimpan dendam yang dalam kepadanya. Dewa kematian telah menjadi satu-satunya dewa yang menyangkal Azhura Kahn, dan meskipun begitu, tidak ada yang bisa dilakukan Azhura Kahn untuk menghalangi Yazza. Dia tidak bisa membunuh Yazza karena terikat sumpah yang diucapkannya setelah nyawa Calamara tercabut dari tangannya, sumpah yang menyatakan bahwa dia tidak akan membunuh lagi salah satu dari empat belas dewa utama,

Perbuatan sembrono Azhura Kahn di masa lalunya telah mengakibatkan kehilangan dan kepedihan bagi orang lain. Tetapi, kalau Azhura Kahn tidak melakukan itu semua, dia tidak akan memiliki Armenia di dunianya. Dan yang bisa dilakukannya sekarang, adalah melindungi Armenia dari sentuhan kegelapan Yazza, sambil berusaha mencari cara untuk menyingkirkan sang Kematian tanpa harus membunuhnya.

Sang Kematian sangatlah licik. Lelaki itu bersembunyi dalam tidur panjangnya, sehingga Azhura Kahn tidak mempunyai alasan untuk memulai pertikaian. Semua yang dilakukannya dilakukan dengan sembunyi-sembunyi, tertutup oleh kabut samar angro mainu.  Azhura Kahn serta para pengikutnya harus selalu waspada, terlebih telah tampak tanda-tanda bahwa Yazza mulai bergerak untuk mencari jalan membalaskan dendamnya.

Mata Azhura Kahn yang berwarna merah beralih ke arah Armenia yang masih terlelap di atas ranjangnya, perempuan itu ditidurkan demi keamanan Armenia sendiri, sebab Armenia  tidak boleh mengetahui jalan masuk dan jalan keluar dari Dievas Rumai.

Hal itu membuat seolah-olah Azhura Kahn telah menawan isterinya sendiri di istananya. Armenia tidak akan pernah mengetahui jalan keluar dari istana ini….. apakah ini semua akan berlangsung terus menerus seumur hidup Armenia? tersembunyi dalam kungkungan istana, tidak memperoleh kebebasan karena dirinya selalu ada dalam incaran Yazza?

Bibir Azhura Kahn menipis dan matanya menelusuri seluruh tubuh Armenia yang terbaring di sana, di atas ranjang emasnya yang diukir dengan batu-batu rubi, penutup ranjangnya yang terbuat dari serat pohon Kailfah merah yang langka nampak menyatu dengan gaun pengantin Armenia yang juga merah dengan hiasan sulaman emas. Rambut hitam perempuan itu terurai di atas bantal, tampak begitu kontras dan indah dengan warna yang berpadu.

Azhura tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh rambut hitam nan lembut itu, jemarinya bergerak ke sana, menelusurinya dengan hati-hati, merasakan kelembutannya yang bagaikan bulu.

Sang Mahadewa membungkukkan tubuhnya, dengan kedua tangan kokohnya di sisi kiri dan kanan kepala Armenia yang masih tertidur lelap, dan kemudian mengecup dahi Armenia dengan lembut. Bibirnya kemudian tak tertahankan lagi bergerak turun, dan mengecup bibir Armenia yang manis, semanis manisan kulsu terbaik di kerajaan Garaya.

Armenia adalah isterinya, dan segera dia akan memiliki jiwa dan raga isterinya ini

Dan kali ini, Azhura Kahn tidak akan menahan-nahan diri lagi.

***

Hari ini seluruh kerajaan Garaya ramai oleh berita mengejutkan itu. Puteri Khaeva ditemukan meninggal setelah persembahan di usia tujuhbelas tahunannya kemarin. Mayat Puteri Khaeva ditemukan oleh ibundanya, Ruth,  dalam kondisi membeku, terduduk sudah menjadi mayat di dalam kamarnya seorang diri dalam kegelapan.

Desas desus segera menyebar, bukan hanya di kerajaan Garaya tetapi juga di kerajaan Ametyst. Bahwa ternyata persembahan puteri Khaeva tidak berkenan di hati sang Mahadewa Azhura Kahn, tetapi pelayan-pelayan yang mengurus mayat puteri Khaeva juga mulai bergosip bahwa seluruh tubuh puteri Khaeva yang dingin bagaikan es, menguarkan aroma dupa  angro mainu, dupa kematian.

Aroma itu begitu pekat dan mengerikan, keharumannya terlalu menguar sehingga tidak bisa ditoleransi oleh indera penciuman manusia sehingga banyak yang jatuh sakit setelah berdekatan dengan mayat puteri Khaeva.

Pada akhirnya mayat puteri Khaeva diletakkan dalam peti kayu Arvore, kayu hitam yang tidak memiliki pori-pori, yang dipaku rapat untuk mencegah aroma dupa angro mainu yang terlalu pekat itu menguar keluar. Dan kemudian dikuburkan di kedalaman yang lebih dalam daripada manusia biasanya dengan Ruth, ibundanya yang menangis dan menjerit-jerit histeris di sana.

Bahkan dengan cara seperti itupun, aroma dupa angro mainu masih saja tercium dari permukaan tanah makamnya…..

Segera setelah pemakaman, para pendetapun mengadakan pertemuan tertutup di ruang utama, dengan dipimpin oleh Asoka sang pendeta besar, mereka berkumpul di istana kependetaan, dan membicarakan perihal kematian puteri Khaeva.

Sementara itu di salah satu sudut istana kerajaan Garaya, Ruth, ibunda Khaeva menjadi setengah gila, dia mengurung diri di kamar istana dan menangis tersedu-sedu terus menerus. Tangisannya begitu keras hingga terdengar sampai ke lorong-lorong istana.

Ruth tidak menyangka bahwa Khaeva akan berakhir seperti ini.

Rasanya dia tidak percaya, anak perempuannya itu kemarin masih berdiri begitu cantik, dengan gaun merah terbaiknya dan senyum penuh percaya dirinya, membawakan persembahan bagi sang Azhura Kahn. Dan sekarang, Khaeva telah berbaring membeku, tak bernyawa, tidak ada lagi rona kehidupan di matanya, tidak ada lagi anak kesayangannya, puteri tunggalnya yang sangat dicintainya. Sekarang tubuh cantik Khaeva telah terkubur di bawah tanah, menyatu dengan kegelapan dan cacing-cacing yang menggerogotinya.

Kenapa? Kenapa Khaeva harus mati?

Ruth mengusap air mata yang seakan tidak mau berhenti mengalir deras di pipinya. Benaknya penuh pergolakan. Dia menyadari bahwa mungkin sang Azhura Kahn tidak mau menerima Khaeva sebagai pengantinnya.

Tetapi kenapa Khaeva harus dibunuh? Kenapa  Azhura Kahn begitu kejam?

Ketukan hati-hati di pintunya membuat Ruth terbangun dari pertikaian di benaknya, dia menoleh dan mendapati salah seorang pelayannya berdiri di sana, menatapnya takut-takut.

Pelayan itu membungkuk dan memberi hormat sebelum akhirnya berkata,

“Hamba diminta menjemput anda untuk menghadiri pertemuan pendeta di ruang utama istana pendeta.”

Ruth mengambil kain dan mengusap wajahnya yang basah. Para pendeta sudah mengadakan pertemuan. Dengan kematian Khaeva yang mengenaskan, pasti mereka semua berkesimpulan, bahwa Sang Azhura Kahn tidak menerima Khaeva sebagai pengantinnya. Mungkin juga mereka menyadari bahwa selama ini Khaeva adalah pengantin palsu.

Dengan langkah gontai Ruth berdiri dari ranjangnya, wajahnya basah dan acak-acakan, rambutnya terurai mengerikan tidak disisir hingga dia terlihat seperti orang gila, dan kemudian, tanpa kata dia mengikuti pelayan itu menuju ruang utama tempat para pendeta berkumpul.

***

Semua pendeta di sana, bahkan pendeta Asoka yang selalu bersikap dingin tidak menyembunyikan tatapan mencemoohnya ketika Ruth memasuki ruangan itu.

Ruangan utama itu bagaikan ruangan pengadilan, dengan bentuknya yang bulat dan balkon-balkon tinggi tempat para pendeta utama duduk, mengeliling Ruth yang berdiri sambil meremas-remas tangannya di bawah, seolah-olah akan menghadapi vonis hukuman.

“Kami menyimpulkan bahwa selama ini, kau dan puterimu Khaeva telah menipu kami semua.” Pendeta Asoka bergumam dengan suaranya yang dalam dan tenang.

Ruth hanya terdiam, menundukkan kepalanya dan terisak, hingga kemudian pendeta Asoka melanjutkan perkatannya lagi.

“Perbuatanmu itu telah menerima kutukannya, Anak perempuanmu pada akhirnya mati sebagai akibatnya.”

Kali ini Ruth mendongakkan kepalanya, matanya yang basah menyala dan dia mendesis,

“Anakku tidak seharusnya mati!”

Pendeta Azoka menatap Ruth dengan marah,

“Kau masih berani menimpali perkataan kami?” Suaranya terdengar tegas, “Ruth, ibunda dari Khaeva, Mulai saat ini kau diusir dari istana kami, kau juga harus meninggalkan kerajaan Garaya, karena seluruh penduduk Garaya telah mengetahui penipuanmu dan mereka tidak akan mau menerimamu di tanah mereka. Mulai saat ini seluruh gelar yang diberikan padamu telah dicabut, dan kau hanya boleh keluar dari istana ini dengan membawa apa yang dulu kau bawa masuk.”

Dan kemudian semua berlangsung begitu cepat. Para penjaga kerajaan membawa Ruth dengan paksa keluar ruangan itu, mengkandaskan semua protes dan teriakan kesedihan Ruth, seorang pelayan membawakannya baju dan memaksanya untuk berganti pakaian. Baju itu adalah baju jelek dan lusuh tipe pakaian perempuan petani pedesaan, baju yang dipakainya ketika memasuki istana ini dengan Khaeva untuk pertama kalinya.

Ruth dipaksa menanggalkan semuanya, pakaian indahnya yang terbuat dair serat kailfah berkualitas tinggi, dia juga harus melepaskan perhiasan-perhiasannya, bahkan dia tidak diperbolehkan membawa salah satu kalung perhiasan milik Khaeva yang sangat ingin dibawanya untuk mengenang anaknya.

Dan Kemudian ketika gelap mulai merayapi hari, dengan tanpa membawa apapun, para pengawal membawanya ke luar istana, dan kemudian mengawal Ruth hingga sampai perbatasan kerajaan Garaya. Perbatasan itu berada di tepi hutan yang dingin dan gelap, yang tampak menakutkan ketika hari sudah beranjak malam.

Pengawal itu meninggalkan untuknya keranjang berisi roti dan buah kulsu yang cukup untuk bekal makanannya sehari penuh, lalu memperingatkannya supaya jangan berani-berani kembali ke kerajaan Garaya lagi.

Dan setelah itu, Ruth ditinggalkan, sendirian dengan pakaian jeleknya, di tepi hutan itu.

Yang bisa dilakukan Ruth hanyalah menangis, terisak-isak sambil duduk di tanah yang lembab, memeluk keranjang makanannya. Hatinya dipenuhi kebencian.

Pendeta-pendeta Garaya sangat kejam! Membuang wanita tua sepertinya di tengah hutan! Mereka tidak peduli bahwa dia sedang berduka karena kehilangan Khaeva puteri kesayangannya. Mereka sungguh kejam!

Mata Ruth membara, semua hal tentang Azhura Kahn tiba-tiba membangkitkan kebencian dalam dirinya. Karena Azhura Kahn lah semua ini terjadi, karena sang Mahadewalah Ruth harus kehilangan anak satu-satunya dan terusir dari kenyamanannya,

“Persetan kau Azhura Kahn!”

Tanpa sadar Ruth meneriakkan makiannya, hasil dari jiwanya yang bergejolak penuh kebencian kepada sang Mahadewa, napasnya terengah-engah penuh emosi bercampur dengan air mata.

“Apa yang terjadi padamu, Nyonya?”

Sebuah suara lembut membuat Ruth terperanjat, lepas dari emosinya dan menoleh.

Di depannya, ada seorang pemuda yang sangat tampan, bermata hijau dan mengenakan tudung putih yang menutupi kepalanya. Mata pemuda itu berwarna hijau yang bahkan tampak begitu cerah ditengah kegelapan yang menuruni langit di atas hutan.

Pemuda itu begitu tampan….

Ruth ternganga, lupa akan segala yang dirasakannya.

“Aku dengar kau baru saja memaki sang Mahadewa.” Pemuda itu tersenyum dan melangkah mendekat, senyumnya tampak lembut, ramah dan mendamaikan.

Ruth menelan ludahnya, masih terpesona akan ketampanan pemuda itu,

“Sang Mahadewa Azhura Kahn telah menghancurkan hidupku.” Akhirnya Ruth bisa berkata-kata meskipun suaranya terdengar serak dan tercekik.

Pemuda itu mengangkat bahunya,

“Dia telah menghancurkan hidupku juga.” Pemuda itu lalu mengulurkan tangannya kepada Ruth, “Namaku Yazza. Marilah ikut denganku, Nyonya, aku akan membantumu untuk membalaskan dendammu.”

Ruth menatap uluran tangan itu dengan ragu. Aroma dupa angro mainu yang ganjil tiba-tiba menyeruak ke dalam indera penciumannya, membuatnya sedikit merinding. Tetapi pemuda ini mengatakan bahwa dia juga membenci Azhura Kahn dan akan membantu Ruth membalaskan dendamnya.

Lagipula…. aroma angro mainu mengingatkannya pada Khaeva di saat terakhirnya, aroma ini entah kenapa terasa menenangkannya, membuatnya merasa dekat dengan Khaeva.

Dan kemudian, tanpa ragu lagi, Ruth membalas uluran tangan Yazza

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

227 Komentar

  1. the real def of partner in crime

  2. yasmin cavelli menulis:

    reread ❤️

  3. dwioktapia30 menulis:

    :habisakal :habisakal

  4. shanaya_lee menulis:

    :sebarbenihcinta :sebarbenihcinta :sebarbenihcinta

  5. Sama sama punya niat jelek ber1

  6. Indah Narty menulis:

    :awaskaunanti

  7. Azzalea Dian menulis:

    :panikshow :panikshow

  8. Shelli Novianti menulis:

    :haisalamkenal

  9. Mamita Fatih menulis:

    :happy

  10. Aaa kangen banget

  11. Akhirnya sampe disini..

  12. Akhirnyaaa

  13. Baca ulang ga ada bosennya

  14. Baca ulang,awalnya kesel banget sama yazza,tapi kalau ingat masalalu nya jadi kasian

Tinggalkan Balasan