azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 22 : Cemburu

Bookmark

No account yet? Register

2.863 votes, average: 1,00 out of 1 (2.863 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

azhuras-bride2

Pertanyaan Yazza menggema di kegelapan malam yang menyelubungi mereka berdua.

Kenapa sang Azhura Kahn menemui sang Kematian?

Dua dewa yang berseberangan itu saling menatap. Yang satu dingin dan yang lain penuh kebencian.

“Karena aku tahu bahwa kau menyimpan rencana gelap. Aku tidak bisa mencegahnya, karena aku sudah berjanji kepadamu memberimu satu saja kesempatan untuk membalas dendam kepadaku, lalu setelah kau mencecap pahitnya kegagalan, aku harap kau mundur dan melupakan segala dendammu sehingga aku tidak perlu membunuhmu.” Azhura Kahn menjawab dengan datar, bibirnya seolah tak bergerak, mengucapkan kata-katanya bagaikan mantra gelap seumpama sembilu menusuk ulu hati.

Biasanya semua akan mundur dan lari terbirit-birit jika Azhura Kahn sudah berucap dengan nada suara seperti itu.

Tetapi tidak dengan Yazza, lelaki itu bahkan tak bergeming, hanya sorot mata hijaunya yang menggelap, menunjukkan intensitas emosinya.

“Ah ya.. Anda tidak bisa melakukan apa-apa karena anda terikat janji itu. Janji yang anda ucapkan kepada alam semesta disaksikan oleh empat belas dewa utama, janji untuk memberiku satu kesempatan mencoba membunuh anda.” Yazza berucap dengan nada sopan yang menyembunyikan ejekan terselubung, “Anda begitu yakin bahwa saya akan gagal, tetapi waktu yang akan menjawab, saya harap anda tidak tertimbun oleh kesombongan anda sendiri.”

Azhura Kahn menyipitkan matanya, “Aku bisa saja membunuhmu sekarang, Yazza. Dan kau langsung lebur menjadi abu.”

“Tetapi anda tidak akan bisa melakukannya.” Yazza terkekeh, “Saya bahkan belum mencoba membunuh anda kan? Anda terikat janji itu dan anda tidak akan bisa membinasakan saya sebelum saya mengambil kesempatan saya, satu kali saja untuk mencoba membunuh anda!” Yazza merentangkan kedua tangannya, tawanya mengeras, penuh tantangan kepada sang Mahadewa, “Atau mungkin anda berubah pikiran? Silahkan! Habisi saya sekarang! Dan biarkan alam semesta dan seluruh dewa melihat bahwa sang Azhura Kahn tidak bisa menepati janji yang di buatnya sendiri!”

Tantangan Yazza tentu saja sangat menggoda sang Azhura Kahn. Dia memiliki kekuatan yang begitu besar, dan dia mampu memusnahkan mahluk di depannya ini hanya dalam sekejap mata.

Tapi Azhura Kahn tidak bisa.

Sang Mahadewa tidak boleh melanggar janjinya. Janji yang diucapkannya karena didorong rasa bersalahnya akibat tebasan pedangnya telah menghancurkan kehidupan pihak tak bersalah.

“Aku tidak akan terpancing olehmu.” Azhura Kahn bergumam tanpa ekspresi, “Akan tiba saatnya aku bisa memusnahkanmu. Nanti. Setelah kau mencoba membunuhku dan gagal.”

“Saya tidak mungkin gagal.” Mata Yazza menyipit penuh perhitungan. “Apakah anda lupa wahai Yang Mulia, bahwa sebagian hati Armenia masih menjadi milik saya?”

Geraham Azhura Kahn mengedut meski tak kentara, menunjukkan emosinya yang tertahan,

“Perempuan itu milikku. Dan dia memberikan seluruh hatinya untuk mencintaiku. Kau hanyalah bekas masa lampau yang tidak pernah ada baginya.”

Yazza terkekeh, ” Itu karena Armenia belum bertemu dengan saya. Percayalah, ketika Armenia bertemu dengan saya, dia juga akan mencintai saya. Apakah anda lupa wahai Yang Mulia Azhura Kahn? Di alam semesta ini, sayalah urutan pertama untuk Armenia, dan anda hanyalah urutan nomor dua.”

Tatapan Azhura Kahn mengeras, “Ketika waktumu tiba untuk bertemu Armenia, anggap saja saat itu kau sudah mati, Yazza.” tatapan Azhura Kahn nampak kejam, mematikan.

Siapapun yang ditatap seperti itu oleh mata merah membara dengan nyala api yang mengancam milik Azhura Kahn pastilah akan langsung mengkerut ketakutan.

Tetapi tidak dengan Yazza, rasa sakit dan dendam sudah menumpuk di hatinya, menutup jalannya terhadap aliran emosi yang lain….. bahkan untuk merasa takutpun Yazza sudah tidak mampu.

Yazza hanya tertawa, dan terus tertawa dengan suara memecah kegelapan malam ketika akhirnya sosok Azhura Kahn menghilang dan meninggalkannya.

***

Armenia membalikkan badannya sekali lagi, kali ini menghadap pintu, matanya nanar menatap ke sana, sedikit kosong. Entah sudah berapa jam terakhir ini dia melakukan hal ini, hanya membolak-balikkan badannya dengan dada dipenuhi rasa menyesakkan yang seolah membuncah dan mencekik tenggorokannya.

Bahkan ranjang yang begitu nyaman ini seolah menyimpan banyak duri dibalik alas lembut yang membungkus kulitnya.

Armenia menghela napas panjang, lalu dengan kesal dia menegakkan tubuh dan terduduk di atas ranjang, matanya masih sama, nanar tak lepas dari pintu.

Seolah-olah sang Azhura Kahn akan repot-repot menggunakan pintu…..

Armenia tersenyum kecut. Yah, sang Azhura bisa saja muncul di kamarnya begitu saja kalau dia mau…. sayangnya sepertinya hal itu belum ada di benak suaminya sampai saat ini.

Karena dari tadi siang, sang Azhura Kahn bahkan tidak satu detikpun mengunjunginya.

Ingatannya melayang ke sosok perempuan cantik yang ditemuinya tadi siang. Begitu cantiknya sang dewi hingga membuat dirinya seolah mengecil tak terlihat, bagaikan sosok manusia fana dibandingkan dengan keagungan mempesona yang menyilaukan mata. Dewi Slimiba begitu cantik,

……dan dia dulunya adalah kekasih Azhura Kahn.

Kenapa Azhura Kahn memilih Armenia dan meninggalkan dewi Slimiba?

Lamunan tak menyenangkan itu membuat pikirannya lelah hingga akhirnya merelakan raganya terbuai oleh bius peraduan.

***

“Kau sudah menemukannya?” Yazza sedikit menggerakkan kepalanya ke arah Borth yang membungkuk di belakangnya, tubuhnya tak bergerak, masih menghadap ke jendela luar istananya, menatap kegelapan pekat di sana.

Borth menganggukkan kepalanya dengan bersemangat, “Ada laporan dari mata-mata yang hamba tempatkan di seluruh istana. Seorang dayang di istana Saule, sang dewa Matahari, mendengar sang dewa matahari membahas tentang Dievas Rumai secara diam-diam dengan isterinya.”

Yazza sedikit memiringkan kepalanya,

“Aku tidak pernah mendengar tempat itu sebelumnya, bukankah istana Azhura ada di Samada Ka ?”

Borth menganggukkan kepalanya, “Mungkin dievas rumai adalah istana rahasia untuk menyembunyikan sang pengantin.”

“Mungkin juga…. hmm.” Yazza tampak berpikir, “Aku akan memanggil arwah-arwah dari masa lampau untuk mencari tahu tentang dievas rumai ini.”

***

Yang dilakukan Azhura Kahn malam ini terasa menggelikan,setidaknya sungguh aneh bagi dewa sepertinya hanya berdiri mematung menatap isterinya yang sedang tertidur dengan pulasnya.

Kalimat yang diucapkan Yazza tanpa rasa hormat tadi masih mengorek rasa marah di dalam benaknya.

Itu karena Armenia belum bertemu dengan saya. Percayalah, ketika Armenia bertemu dengan saya, dia juga akan mencintai saya. Apakah anda lupa wahai yang mulia Azhura Kahn? Di alam semesta ini, sayalah urutan pertama untuk Armenia, dan anda hanyalah urutan nomor dua.

Nomor dua. Sungguh kurang ajar si mahluk rendahan penghuni dunia bawah itu, berani-beraninya mengatakan bahwa dirinya adalah yang nomor dua!

Armenia miliknya. Bahkan sampai detik ini, hanya dirinya yang memenuhi jiwa dan raga isterinya. Hanya dirinya, dan tidak ada tempat untuk lelaki lain.

Tidak boleh ada lelaki lain di hati Armenia. Mata Azhura membara penuh kemarahan, warna merahnya membakar. Kalau sampai Armenia berani menyelipkan sedikit saja Yazza di dalam benaknya, dia akan menghukum isterinya itu.

***

Tubuhnya yang terlelap dalam posisi setengah tengkurap yang nyaman tiba-tiba saja dibalikkan dengan tiba-tiba. Armenia mengerang, masih terlarut di dalam kantuk yang dalam dan enggan untuk beranjak.

Lalu kecupan panas nan singkat di bibirnya membuat Armenia tergeragap, membuka matanya panik untuk menyadari bahwa suaminya, sang Azhura Khan sedang duduk di pinggir ranjang, setengah membungkuk menatapnya.

Kenapa Azhura terasa berbeda? Mata sang mahadewa tampak membara, dengan warna merah nan menyala. Apakah sang Mahadewa sedang…. marah?

“Kau adalah pusat duniaku.” Suara sang Mahadewa bergema, laksana pendeta besar yang sedang berbicara di depan khalayak, “Kaulah yang bisa membangkitkan seluruh sisi baik dalam diriku….” mata Azhura menyipit, “Meskipun kau juga bisa membangkitkan sisi gelapku.”

Armenia mengerutkan keningnya, sedikit merinding dengan aura penuh kuasa yang memenuhi ruangan, dan bingung akan makna dibalik kata-kata sang Mahadewa.

Jemari Azhura terulur, menyentuh permukaan bibir Armenia, menciptakan percikan laksana bara yang langsung menguar di sana.

“Seluruh tubuhmu adalah milikku, Armenia. Kau milikku. Jadi, ketika tiba saatnya kau tergoda untuk mengalihkan duniamu dari diriku, kau harus mengingat kata-kataku baik-baik, aku akan menghancurkan seluruh dunia ini dengan kekuatanku, jika kau berani-beraninya meninggalkanku.”

Kemarahan itu menguar, membesar di sana, laksana api berkobar yang siap menyembur dari seluruh diri sang Mahadewa, bersiap melumat apapun yang menghalangi jalannya.

Dan kemudian entah kenapa tiba-tiba saja Armenia mengerti.

Suaminya sedang marah. Ya, itu pasti. Armenia mulai mengenal sosok sang Mahadewa setelah kebersamaan mereka. Mata yang membara itu, aura panas kemerahan yang menguar dari permukaan kulitnya….

Entah Azhura marah kepada siapa, tetapi yang pasti sang Mahadewa tidak marah kepada dirinya. Armenia tahu, dia tahu begitu saja.

Jemarinya terulur, mengusap lembut rahang sang Mahadewa, membuat Azhura terkesiap, seakan hendak menolak. Tetapi kemudian, sentuhan kulit nan lembut dan sejuk, dengan kulit nan panas membara telah menciptakan aliran lembut yang menghangatkan hati.

Azhura memejamkan matanya, aura kemarahan lenyap begitu saja dari dirinya.

“Isteriku.” Bisik Azhura lembut, tidak ada lagi mata membara nan menakutkan, “Kelemahanku.”

Dan kemudian, Azhura menarik tubuh mungil isterinya ke atas pangkuannya, menundukkan kepalanya, lalu mengecup bibir yang sudah menjadi miliknya itu.

Ciuman mereka begitu panas, Armenia membuka bibirnya, memberikan akses penuh kepada Azhura Kahn untuk menikmatinya. Dan kesempatan itu tidak disia-siakan oleh sang Mahadewa, lelaki itu mencecap, menghisap, menggoda dan menikmati kemanisan yang berpusat di bibir Armenia.

Dan kemudian setelah percumbuan yang menggoda, Azhura Kahn membawa dirinya setengah duduk bersandar di kepala ranjang, meletakkan tubuh Armenia di atas tubuhnya.

Napas Armenia terasa panas dan berat, pengaruh dari tubuhnya yang tiba-tiba menggelenyar penuh gairah.

Azhura Kahn menyipitkan matanya, mata itu memancarkan hasrat yang sama dengan apa yang dirasakan oleh Armenia,

Lalu Azhura Kahn menyingkapkan gaun tidur tipis Armenia, dan memposisikan dirinya di antara kedua kaki Armenia dan kedua tangannya membuka paha Armenia sehingga posisinya mengangkangi tubuhnya sang Mahadewa di bawahnya.

“Naik ke atasku, isteriku, lalu puaskan aku.” Bisiknya penuh hasrat, menggoda Armenia untuk turut ke dalam pusaran kenikmatan bersamanya.

***

Pagi itu, Armenia sedang berdiri di balkon Dievas Rumai , dengan bahagia menghirup aroma surgawi yang mengalir lembut, dihantarkan oleh kebaikan hati sang angin yang meniup rambutnya seakan memujanya.

Semalam sang Mahadewa bercinta dengannya, penuh gelora sekaligus lembut. Meskipun begitu, kata-kata Azhura masih mengganjal di benaknya…

Isteriku….. kelemahanku.

Apa maksudnya dengan dirinya adalah kelemahan sang Mahadewa?

“indah sekali bukan?”

Suara sapaan lembut yang dibunyikan dengan nada indah seolah bernyanyi tiba-tiba terdengar di sebelahnya.

Armenia menoleh, hendak mengetahui siapakah gerangan pemilik suara nan indah ini, dan kemudian menyadari bahwa Dewi Slimiba sedang berdiri di sebelahnya.

Sang Dewi memejamkan matanya, indra penciumannya seolah menghirup aroma surgawi yang dipersembahkan oleh dievas Rumai nan agung.

Cantik sekali.

Hanya itu yang ada di benak Armenia, Dewi Slimiba mengenakan pakaian panjang berwarna emas keunguan yangn dihiasi tenunan rumit begitu sempurna. Tenunan itu tentu saja bukanlah tenunan buah karya manusia. Tenunan untuk pakaian para dewa merupakan mahakarya mahluk penenun yang sering disebut sebagai Vivar.

Mahluk Vivar tentu saja bukanlah manusia, mereka adalah mahluk yang menetap di istana dewa dewi pemelihara. Mahluk vivar biasanya berukuran pendek, hanya sepinggang manusia biasa, tubuhnya mungil dengan enam buah lengan yang masing-masing memiliki delapan jari. Meskipun keseluruhan penampilan mereka mungkin tampak aneh di mata manusia biasa, wajah mereka begitu rupawan, berpadu dengan rambut ikal keemasan yang meriap-riap setiap mereka menggerakkan kepalanya.

Keajaiban mereka ada di ujung jari itu, ujung jari mereka juga berwarna emas, berlekuk serupa spiral dan memiliki kekuatan memperbaiki, karena itulah mereka mengabdi kepada dewa pemelihara.

Sebagian besar waktu kaum vivar digunakan untuk berkumpul, di hamparan padang rumput musim semi milik dewa dewi pemelihara, masing-masing kelompok berisi delapan vivar dengan penampilan nan seragam, membentuk oktagram sempurna dan mereka selalu bernyanyi dengan merdu, dan ketika mereka sedang bernyanyi, tubuh mereka menguarkan benang-benang berbagai warna yang berkilauan tertimpa cahaya.

Satu jari kaum vivar itu saling bertautan, menjaga keutuhan oktagram yang mereka bentuk dan tujuh jari lainnya bergerak indah tanpa henti dengan gerakan rumit yang senada, menciptakan simpul-simpul indah dari perpaduan benang dan kemampuan menenun nan sempurna.

Dan ketika nyanyian mereka usai, di tengah masing-masing oktagram itu, terciptalah hamparan kain menakjubkan dengan keajaiban warna warni indah yang tiada duanya di dunia ini. Kain-kain itulah yang digunakan sebagai busana kaum dewa.

Armenia menatap Dewi Slimiba, Dewi bertubuh indah yang dibalut oleh salah satu kain tenunan nan sempurna itu.

Melihat apa yang sudah begitu indah pada diri sang dewi…. apa sebenarnya yang dicari Azhura Kahn pada dirinya? Manusia fana tanpa kekuatan dan kelebihan apapun?

Lalu Dewi Slimiba membuka matanya, menatap Armenia dalam senyuman lembutnya.

“Hormat saya untuk isteri sang Mahadewa, mohon maaf karena mengejutkan anda.”

Armenia tersenyum, Mungkin dewi nan cantik ini dulunya adalah kekasih sang Mahadewa, tetapi sekarang, ketulusan dalam, suara merdunya terasa menghangatkan hati hingga Armenia bahkan tak mampu untuk merasa cemburu.

“Yang Mulia Tuan Puteri mungkin sudah mendengar beberapa rumor.” Dewi Slimiba tiba-tiba berkata, seolah bisa menebak apa yang ada di benak Armenia, membuat pipi Armenia memerah karena merasa malu.

“Saya khusus datang kemari untuk memberikan penjelasan kepada Yang Mulia Tuan Puteri, Apapun rumor yang Tuan Puteri dengar, mohon jangan dibiarkan mengendap dan menjadi pikiran gelap yang akan merusak benak anda. Sang Mahadewa Azhura Kahn pernah menyelamatkan hidup saya di waktu lampau, dan sejak saat itu saya bersumpah untuk mengabdi kepada beliau. Hanya itu saja yang perlu Tuan Puteri percayai.”

Armenia menyentuh pipinya yang panas, “Maafkan saya karena memiliki pikiran-pikiran salah tentang anda, Dewi Slimiba.” Balasnya pelan.

Dewi Slimiba tersenyum, “Semoga nanti saya bisa mendapatkan kehormatan menjadi teman anda.” Sang dewi mengeluarkan kotak mungil dari balik gaunnya, dan membukanya, lalu menyerahkannya kepada Armenia, “Saya belum memberikan hadiah pernikahan untuk anda, mohon terimalah hadiah tak berarti dari saya.”

Armenia menerima kotak kecil berlapis permata nan berkilauan itu, dan sedikit mengerutan kening ketika melihat isinya. Dua buah botol kristal mungil seukuran jari kelingking, yang satu berwarna merah seumpama darah, yang lain berwarna kuning pucat, nyaris putih.

“Ini racun.” Dewi Slimiba tersenyum geli melihat ekspresi terkejut di wajah Armenia, “Memang aneh memberikan hadiah pernikahan berupa racun. Tetapi racun adalah keahlian saya, anda pasti tahu kan? Di dunia manusia saya mendapatkan julukan sebagai Sang Ahli Racun dari Nirwana.”

Armenia mengangguk. Ya, tentu saja dia tahu. Nama Dewi Slimiba selalu dikaitkan dengan racun. Beliau adalah pencipta racun terhebat, dan sekaligus pencipta penawar racun yang tak terkalahkan.

“Ini adalah marma” , Dewi Slimiba menunjuk ke arah cairan yang berwarna kuning pucat, “Marma adalah racun terhebat yang pernah ada. Bahkan seribu kali lebih hebat daripada racun sari pohon kubikh sekalipun. Hanya sang maha Dewa Azhura Khan yang bisa mengalahkan dasyatnya pengaruh mematikam dari racun marma.” Dewi Slimina menunjuk botol lain berwarna merah. “Dan ini adalah penawarnya, hanya bisa berhasil jikalau diminumkan sebelum setengah hari menjelang keracunan. Setelah itu, penawar ini tidak akan mampu melawan kehebatan racun marma.”

Dewi Slimiba menutup kotak mungil itu, lalu menggenggamkannya di jemari Armenia. “Simpanlah, semoga suatu saat ini bisa berguna bagi anda.”

***

Bayangan arwah masa lampau yang dipanggil paksa oleh Yazza tampak menggeliat dan kemudian berubah serupa asap abu-abu yang kemudian memudar dan menghilang.

Mata hijau Yazza tampak berkilat ketika bibirnya membentuk senyuman yang tidak bisa ditebak maknanya.

Dievas Rumai….. akhirnya aku bisa menemukannya.”

173 Komentar

  1. Bintang Timur menulis:

    Tiap partnya tegang terosss :lovely :lovely

  2. Alfa centauri menulis:

    hmm curiga

  3. dwioktapia30 menulis:

    :mengintai :mengintai

  4. yasmin cavelli menulis:

    ❤️

  5. dewantilaraswaty menulis:

    :begadangan :kebosananhaqique

  6. shanaya_lee menulis:

    :wowakuterkejoet :wowakuterkejoet :wowakuterkejoet

  7. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta

  8. Sayang bangett

  9. Waktu ketemu Yazza semakin dekat…

  10. Yuhuu

  11. Deg deg deg …

  12. febby andriani menulis:

    :awaskubalasnanti

Tinggalkan Balasan