azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 12 : Tempatmu Bukan di Kakiku

Bookmark

No account yet? Register

3.158 votes, average: 1,00 out of 1 (3.158 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

azhuras-bride2

Armenia menatap berganti-ganti ke arah pendeta Asoka yang masih bersujud, dan kemudian beralih ke arah Zhura Al Gul…..

Seketika dia menyadari bahwa mata lelaki itu berubah dari keemasan menjadi merah terang. Armenia terkesiap. Tiba-tiba pengetahuan itu menyergap di benaknya, membuat jantungnya berdetak begitu kencang.

Sang Mahadewa Azhura Kahn….. adalah satu-satunya mahluk di dunia Ametyst yang digambarkan memiliki bola mata berwarna merah…

Armenia menatap kembali ke arah pendeta Asoka yang sedang bersujud, dan seketika itulah dia menyadari, siapakah lelaki ini, lelaki dengan pancaran agung dalam wujud manusia yang berdiri di sampingnya.

Lelaki ini, yang hadir dalam wujud Zhura Al Gul adalah sang Mahadewa Azhura Kahn sendiri…

Armenia langsung membungkukkan tubuhnya cepat, reflek besujud di depan sang Azhura Kahn,

Sementara itu Azhura Kahn menatap Armenia dan Asoka yang bersujud di depannya, lalu menggerakkan tangannya memberi isyarat.

“Berdirilah Asoka.” Suaranya berubah, terdengar begitu agung meskipun dia masih dalam wujud manusianya.

Asoka menurut, berdiri, dan setengah menunduk menyentuh pundak Armenia,

“Bangunlah tuan puteri, tempat anda bukan di bawah sini.”

Armenia malahan semakin menundukkan kepalanya rapat-rapat ke lantai, dia merasa ketakutan, mengingat perlakukan kasar dan kurang ajarnya dia kepada Zhura Al Gul yang ternyata adalah sosok sang Mahadewa sendiri. Dia mengingat bahwa dia telah berani membantah Zhura Al Gul hingga membuat lelaki itu begitu marah, tapi waktu itu dia tidak tahu, benar-benar tidak tahu bahwa Zhura Al Gul adalah Azhura Kahn  sendiri.

Lalu bagaimana dengan ayahnya? Armenia teringat kata-kata misterius ayahnya kemarin… apakah ayahnya mengetahui ini semua? ataukah ayahnya sama dengannya, tidak tahu apa-apa?

Kepala Armenia semakin menunduk dalam hingga menyentuh tanah, seluruh tubuhnya gemetaran,

“Hamba bersalah, mohon maaf yang sebesar-besarnya.” Armenia berseru setengah ketakutan. Keagungan sang dewa yang baru disadarinya membuatnya tidak bisa mengendalikan tubuhnya yang gemetaran.

Azhura Kahn bergerak pelan mendekat, jubahnya berdesir pelan hingga kakinya berhenti di depan kepala Armenia.

Lalu pelan, Armenia merasakan tangan yang hangat dan penuh kuasa menyentuh kepalanya lembut.

“Bangunlah Armenia.” Suara sang Azhura tenang dan dalam, “Tempatmu bukan di kakiku.”

Armenia merasa tubuhnya terangkah dengan lembut hingga berdiri berhadapan dengan sang Azhura dalam wujud manusianya. Meskipun begitu keagungannya sebagai dewa yang paling kuat, sekarang memancar tanpa penghalang apapun. Mata Armenia berhadapan langsung dengan bola mata berwarna merah dengan nyala api di tengahnya.

Dan menatap sang Mahadewa membuat Armenia begitu ketakutan, hingga Armenia langsung menundukkan kepalanya.

Tetapi Azhura Kahn mengangkat dagu Armenia dengan jemarinya, memaksa Armenia langsung bertatapan dengannya.

“Kau adalah isteriku.” Sang Mahadewa bergumam tanpa ekspresi. “Tempatmu ada di sini.”

Azhura Kahn menggerakkan jemarinya, menyentuh dadanya.

***

Yazza mengangkat tangannya ke arah Khaeva yang terpaku kaku tak bergerak, ketakutan dengan sinar kejam yang menyala di sana, sejenak Khaeva mengira dirinya akan dicekik, tetapi ternyata Yazza membelai rambutnya dengan sangat lembut, seolah menenangkan anak kecil yang ketakutan.

Khaeva menatap Yazza takut-takut. Rambut lelaki itu berkilauan dengan sinar keperakan tertimpa cahaya matahari yang mengintip dari tirai jendela yang berkibar. Espresi lelaki itu sangat indah, sangat cantik, penuh kelembutan. Hati Khaeva tidak percaya bahwa lelaki dengan penampilan sebegini indahnya adalah lelaki jahat.

Tadi lelaki itu mengatakan bahwa Khaeva begitu berani karena menipu  ‘Sang Kematian’ , mungkinkah lelaki ini bukanlah Azhura Kahn tetapi ‘sang kematian’?

Tetapi apakah mungkin sosok sebegitu rupawan adalah ‘sang kematian’?

Bukankah dari kisah-kisah yang diceritakan, penampilan ‘sang kematian’ begitu buruk rupa dengan wajah mirip tengkorak sehingga setiap orang yang pernah melihatnya akan mati karena ketakutan?

Khaeva menatap mata hijau yang berkilauan itu dan tiba-tiba sadar bahwa lelaki itu bukanlah Azhura Kahn.

Bukankah Azhura Kahn selalu dikonotasikan dengan bola mata yang berwarna merah?

“Kenapa kau mengatakan bahwa aku menipumu?” akhirnya Khaeva berani mengeluarkan kata-kata yang tercekat di tenggorakannya. Dia benar-benar bingung siapa sebenarnya sosok rupawan penuh aura menakutkan ini.

Yazza tersenyum lembut mendengar pertanyaan itu, matanya meredup ramah.

“Azhura Kahn tidak akan membiarkan pengantinnya sedekat ini denganku tanpa perlindungan. Dia hanya menggunakanmu untuk mengalihkan perhatianku.” Suara Yazza pelan seakan berbisik.

Lalu jemari lentik lelaki itu bergerak, membelai kembali rambut Khaeva dengan lembut, dan bergumam.

“Tunjukkan apa yang kau lihat, Khaeva…..”

Tiba-tiba rasa dingin menyergap kaki Khaeva, rasa dingin yang menusuk, terasa menyakitkan, menelusup ke dalam urat nadinya, membekukan darahnya, sedikit demi sedikit naik ke atas, membuat kakinya membeku seperti ditusuk-tusuk.

Dan kemudian, kabut putih yang membawa aroma pekat dupa angro mainu, dupa kematian, tiba-tiba muncul dari sekitar kakinya, membungkusnya hingga tak kelihatan.

“Apa yang….” Khaeva tiba-tiba tidak bisa berkata-kata, seperti ada yang mencekik tenggorokannya. Rasa dingin di kakinya terasa begitu menyengat hingga sensasinya seperti terbakar, rasa dingin itu terus naik bersama aliran darahnya yang membeku, dari kakinya ke lutut, naik ke pahanya pun dengan kabut putih itu yang sekarang sudah membungkus hampir setengah tubuhnya…..

Dan rasanya sakit… sakit luar biasa… seolah-olah nyawa Khaeva dicabut pelan-pelan meninggalkan tubuhnya….dan ketika kabut putih itu sudah naik merayap ke lehernya bersamaan dengan rasa dingin menghukam nan menyiksa, Khaeva merasakan seluruh pandangannya gelap dan pekat.

Yazza meletakkan jemarinya di kepala Khaeva yang sekarang telah terselubungi kabut pekat dari ujung kepala sampai ujung kaki, Sang Dewa Kematian berusaha membuka ingatan perempuan itu. Ingatan sekecil apapun yang berhubungan dengan sang Azhura Kahn akan berguna untuk melacak jejak pengantin Azhura yang diinginkannya.

Lalu pemandangan itu muncul dari mata batinnya, seorang anak perempuan cantik berambut hitam panjang, dengan mata keemasan yang indah, anak perempuan itu memakai baju orange yang berkibar manis, dan membawa keranjang persembahan disebelah tangannya.

Yazza tersenyum ketika telah membaca seluruh ingatan Khaeva sepenuhnya, yah dia telah mendapatkan apa yang dia mau, sekarang perempuan bodoh ini tidak berguna lagi baginya.

Dilepaskannya pegangan tangannya dari kepala Khaeva, dan dalam sekejap, tubuh perempuan itu terlempar lunglai kebelakang dan terbanting di lantai.

Dan ketika kabut yang menyelubungi tubuh Khaeva berangsur-angsur menghilang, tampaklah tubuh Khaeva nan lunglai tanpa daya, dengan mata membuka lebar dan ekspresi wajah penuh kesakitan.

Mata yang terbuka itu kosong…. tak bernyawa.

Yazza mencibir menatap mayat Khaeva, dan kemudian, matanya beralih ke luar. Ingatan Khaeva cukup berguna baginya, meskipun ingatan itu hanya menggambarkan pengantin Azhura di usianya yang masih sangat belia, tetapi tetap saja bisa memudahkan Yazza untuk mencarinya.

Sang Azhura Kahn pasti menyembunyikannya di suatu tempat. Tempat yang benar-benar tidak bisa dijangkau Yazza

Tetapi Yazza sudah mengetahui nama perempuan itu. Dan dia akan mencari cara untuk menemukan pengantin Sang Azhura Kahn.

Armenia…..perempuan cantik dengan rambut hitam dan mata keemasan…..

***

“Tetapi… bukankah puteri Khaeva….” Armenia menelan ludahnya, tidak bisa melanjutkan pertanyaannya. Dia sangat bingung.

Yang berdiri di depannya ini, yang katanya melamarnya dan dijanjikan untuk menikahinya di usianya yang ke tujuh belas ini…. adalah sang Mahadewa Azhura Kahn  sendiri.

Lalu bagaimana dengan puteri Khaeva yang bertahun-tahun dikenal sebagai pengantin Azhura? Bukankah tadi, Sang Azhura Kahn sendiri yang menerima persembahan puteri Khaeva dengan cara menyalakan api obor di kuil secara serentak?

Kalau begitu kenapa sekarang dirinya yang mengenakan gaun pernikahan, siap untuk dinikahi sang Mahadewa?

Azhura Kahn sedikit menelengkan kepalanya, mata merah membaranya menatap mata Armenia dalam,

“Dia bukanlah pengantinku.” Ada nada dingin di sana ketika membicarakan Khaeva.  “Kaulah pengantinku. Dan karena kau adalah manusia, maka aku akan menikahi pengantinku dengan cara manusia, Untuk itulah pendeta Asoka ada di sini.”

Asoka gemetar, penuh dengan euforia karena tidak menyangka bahwa dirinyalah yang diberikan anugerah untuk menikahkahkan sang Mahadewa Azhura Kahn sendiri, dia langsung membungkukkan tubuhnya dalam-dalam,

“Hamba benar-benar bahagia bisa melaksanakan tugas ini. Mohon beri waktu hamba untuk mempersiapkan segalanya.”

Setelah menerima anggukan singkat Azhura Kahn, Asoka melangkah mundur keluar ruangan sambil tetap membungkuk hormat.

Pintu menutup di sana, meninggalkan Armenia sendirian bersama Sang Mahadewa Azhura Kahn. Suasana hening begitu lama, hanya desiran angin yang meniup tirai-tirai merah kailfah di jendela-jendela besar bagian utama istana untuk pendeta tertinggi.

Lalu Armenia mencium aroma manis itu, aroma manis nan surgawi yang selalu muncul dari mimpi-mimpinya. Sekarang sadarlah dia kenapa aroma itu terasa begitu asing, begitu tidak manusiawi. Ternyata aroma itu adalah aroma sang Mahadewa Azhura Kahn sendiri.

Matanya melirik ke arah Azhura Kahn, dan ketika dia menyadari bahwa Sang Azhura Kahn sedang bergeming di sana, tanpa mengalihkan tatapan matanya sedikitpun dari Armenia, Armenia langsung mengalihkan pandangannya dengan gugup. Jemarinya yang berkeringat tanpa sadar saling meremas, dan entah kenapa kakinya terasa lemas gemetaran.

“Apakah kau takut padaku, isteriku?”

Sang Azhura Kahn berkali-kali menegaskan Armenia sebagai isterinya…. benarkah itu? Benarkah ini semua?

Dan pertanyaan itu seharusnya tidak membutuhkan jawaban. Semua manusia biasa pasti takut pada Azhura Kahn, beliau adalah dewa terkuat, dan memiliki kuasa atas manusia yang lemah dan tak berdaya. Tentu saja Armenia takut kepadanya….

apalagi mengingat dia telah bersikap kurang ajar kepada sang Mahadewa…… akankah Azhura Kahn menghukumnya karena perbuatannya nanti?

“Isteriku tidak boleh takut kepadaku.” Suara Azhura Kahn seperti sebuah perintah. Sang Mahadewa sepertinya terbiasa mendapatkan apapun yang diinginkannya.

Tentu saja, dia adalah Mahadewa Azhura Kahn bukan?

Sebelum Armenia sempat berkata-kata, pintu besar itupun terbuka, kali ini pendeta besar Asoka sudah berganti jubah warna merah terbaiknya, di belakangnya mengikuti tujuh pendeta lain yang membawa tujuh persembahan untuk perlengkapan pernikahan yang berbeda-beda. Persembahan itu berupa buah-buahan, bebungaan, wewangian, perhiasan, kain terbaik dan juga lilin beraneka warna.

“Mari kita mulai upacara pernikahannya.” Pendeta Asoka menunduk dalam, kemudian duduk bersila dan mulai membaca rapalan doa, diikuti oleh tujuh pendeta lain di belakangnya. Rapalan doa meminta berkat kepada alam semesta. Rapalan itu terdengar begitu indah, lembut nan syahdu laksana nyanyian para malaikat di pagi hari kala embun bahkan belum sempat menjatuhkan dirinya ke bumi.

Azhura Kahn meraih tangan Armenia dengan lembut, lalu membawanya berlutut di depan pendeta Asoka.

Mereka menunduk diam di sana, sementara Armenia hanya bisa terdiam pasrah, merasakan jemari sang Azhura Kahn yang melingkupinya, dan entah kenapa, menyalurkan perasaan hangat ke sejukur tubuhnya.

Salah seorang pendeta di belakang mendekat dan menyerahkan piala berwarna emas dengan hiasan batu-batu permata merah kepada Pendeta Asoka. Pendeta Asoka menerima piala itu yang di dalamnya terdapat minyak Arozhyukure yang berharga. Arozhyukure adalah wewangian termahal di dunia Ametyst yang hanya digunakan untuk pernikahan para raja tertinggi, jadi tidak sembarang orang pernah mencium wanginya. Bagi bangsawan biasa ataupun rakyat jelata, upacara pernikahan mereka hanyalah menggunakan minyak wewangian biasa yang disaring dari bunga-bunga yang banyak tumbuh di dataran kerajaan Garaya.

Minyak Arozhyukure sendiri berbentuk seperti minyak kental berwarna emas yang pekat dengan wangi manis nan luar biasa, Minyak Arozhyukure disaring secara khusus dan hati-hati dari kuncup terbaik bunga Aro, bunga dengan tujuh kelopak kecil berwarna emas yang tumbuh di pucuk pegunungan-pegunungan tinggi Ametys.

Bunga Aro tidak bisa dibudidayakan karena itulah dia sangat langka, menurut legenda, bunga Aro hanya bisa tumbuh di tempat yang pernah dipijak dan diberkati  oleh kaki sang Azhura Kahn.

Armenia baru pertama kali melihat dan mencium harum wewangian Arozhyukure ini, dan dia menyadari, bahwa wangi yang pekat ini…. yang penuh kemanisan dan kelembutan surgawi ini… adalah wangi sang Azhura Kahn….. wangi inilah yang selalu menyelubungi mimpi-mimpinya.

Dia menoleh menatap sang Mahadewa, dan Azhura Kahn juga menoleh membalas tatapannya dengan matanya yang merah membara,

“Setelah ini kau akan menjadi milikku sepenuhnya.” Sang Mahadewa bergumam pelan menyatakan kepemilikannya. Azhura Kahn lalu membungkuk dan membawa Armenia merapat kepadanya, ketika minyak Arozhyukure dituangkan pelan-pelan oleh pendeta Asoka ke atas kepala mereka berdua.

Minyak itu tidak terasa basah, melainkan hangat, dan langsung meresap ke dalam kulit dan rambut mereka seolah-olah harumnya menyatu dengan aliran darah di nadi mereka. Sekarang tubuh Armenia dan Azhura Kahn, menguarkan aroma manis yang sama. Para pendeta merapalkan doa yang lebih seperti nyanyian lembut nan menenangkan hati, mengiringi penyatuan sang Azhura dengan pengantinnya.

“Sekarang kalian adalah satu.” Suara pendeta Asoka terdengar khidmad dan penuh hormat, “Berkah alam semesta melimpahi kalian berdua….”

Dan begitulah begitu seluruh bagian mintak itu meresap ke dalam kulitnya, Armenia sudah benar-benar menjadi isteri sang Mahadewa Azhura Kahn, diakui di dunia para dewa, maupun dunia manusia….

238 Komentar

  1. Sukak baca ulang

  2. Poor khaeva 😣. Kalau hanya pengantin palsu knp hrus dibunuh? Yazza koq jahat banget karakternya? 😢

  3. Cihuyyy selamat Azhura and Armenia :ayojadian :ayojadian

  4. Akhirnya…menikah..azhura💟armenia

  5. Melihat kembali moment ngenes yazzza :lovely

  6. Menikahhh

  7. yasmin cavelli menulis:

    reread ❤️

  8. happy wedding dewa wkwkwkwkw

  9. dwioktapia30 menulis:

    :matre

  10. Love it ❤

  11. shanaya_lee menulis:

    :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  12. Indah Narty menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  13. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  14. Wah, kalau dibaca kangen juga ya ama nih cerita

  15. Shelli Novianti menulis:

    :awaskubalasnanti

  16. Mamita Fatih menulis:

    :happy

  17. Love itt❣️

  18. Dihatikuuu tempatmu :haisalamkenal

  19. Kalau boleh usul, kak bikin di tiap penggalan kalimatnya bisa komentar dong, biar enak gitu

  20. Baca ulang lagi

  21. Wow ..

Tinggalkan Balasan