azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 19 : Pilihan Takdir

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

2.975 votes, average: 1,00 out of 1 (2.975 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

“Bagaimana dengan Ruth?”

Yazza duduk di singgasananya, di istananya yang gelap dan menatap dingin ke arah salah satu kaum Azalel, yang bernama Borth ,pelayannya yang setia ini sedang menghadap kepadanya. Para pelayannya inilah, dipimpin oleh Borth, yang menjalankan tugasnya beratus tahun selama tidur panjangnya.

Ya. Tugas dewa kematian adalah mengambil nyawa-nyawa manusia yang tercabut dari tubuhnya, kemudian meletakkannya di perhentian terakhir, membiarkan alam semesta yang menentukan kemana perginya nyawa-nyawa manusia itu.

Kaum Azalel memang dikutuk untuk selalu setia kepada sang Dewa Kematian, seumur hidup mereka, dihabiskan untuk mengabdi kepada Dewa Kematian. Bagi Yazza, kaum Azalel adalah satu-satunya mahluk yang dia percaya, satu-satunya mahluk yang tidak akan mengkhianatinya.

Dia telah menugaskan dua Azalel termasuk Borth sendiri untuk menyaru sebagai manusia dan melayani Ruth di rumahnya di tengah hutan, melayani sekaligus mengawasi perempuan tua itu supaya tidak berbuat macam-macam.

Setidaknya Yazza akan mempertahankan Ruth, sampai dia tidak membutuhkannya lagi.

Yazza membutuhkan Ruth untuk menjalankan rencananya, Ruth akan sangat berguna untuk memancing ingatan Armenia yang hilang, ingatan Armenia yang dicuri oleh Azhura Kahn…

Pada saat ingatan itu kembali, Yazza bisa dengan mudah menanamkan benih kebencian di benak Armenia…..untuk memuluskan jalannya.

Dia harus cepat, sebelum perasaan anak manusia itu terlalu dalam kepada Azhura Kahn.

“Ruth tertidur pulas semalam, dan ketika terbangun pagi ini, dia bertanya-tanya kemana anda. Hamba bilang anda sedang ada urusan dan akan segera kembali.” Borth menjawab sambil membungkuk hormat.

Yazza menganggukkan kepalanya, “Bagus, tahan Ruth di rumah itu. Kita akan membawanya ketika aku bisa mendapatkan pengantin sang Azhura. Setelah dia membantu kita, aku akan menyerahkan nyawa perempuan tua itu untuk kalian santap.” Matanya bersinar kejam ketika berkata, dan ditimpali oleh tatapan rakus Borth

Yah, Kaum Azalel selain dikenal sebagai pengumpul nyawa manusia, juga dikenal sebagai pemakan nyawa manusia. Bagi mereka, nyawa manusia, terutama yang jahat, iri hati dengki dan dipenuhi dengan berbagai keburukan lainnya, adalah santapan paling lezat dan paling nikmat di dunia. Kaum Azalel selalu rakus akan nyawa manusia yang buruk jiwanya, dan untunglah, Sang Kematian biasanya bermurah hati, memberikan mereka santapan lezat itu di waktu-waktu tertentu sebagai penghargaan atas pengabdian mereka.

Borth sendiri membayangkan Ruth yang ada di rumah di tengah hutan itu, menyadari hati Ruth yang hitam oleh kekejian dan keburukan yang mendalam, bahkan sekarangpun dia bisa membayangkan betapa lezatnya rasa nyawa Ruth dalam cecapan lidahnya.

Air liurnya menguar dari sela gigi taringnya yang menakutkan, dan tiba-tiba saja Borth tak sabar menanti saat dimana tuannya Yazza selesai memanfaatkan Ruth, dan dia bisa menyantap nyawa Ruth bulat-bulat.

***

Para pelayan datang, mengantarkan santapan ke peraduan Azhura Kahn, Armenia yang telah berpakaian rapi duduk di tepi ranjang dengan pipi yang masih memerah malu ketika menatap Azhura Kahn – yang juga telah berpakaian rapi – berdiri di depannya.

“Apakah kau lapar?” sang Azhura bertanya, masih dengan kelembutan yang sama.

Armenia menggeleng, lalu menelan ludahnya, berusaha untuk bertanya,

“Apakah ayah saya…. apakah beliau tahu tentang ini semua?”

Mata merah Azhura Kahn menatap Armenia dengan lembut, “Ya. Ayahmu tahu semua.” Azhura Kahn memilih tidak menjelaskan tentang Daika yang sebenarnya adalah ayah palsu Armenia, dia merasa ini belum saatnya.

Saat ini mereka sedang berbulan madu, biarlah benak Armenia tidak diberati oleh berbagai ingatan masa lalu dan kekhawatiran akan masa depan. Nanti, jika saatnya sudah tepat, Azhura Kahn tentu akan berbagi semua cerita dengan isterinya ini.

“Oh.” Armenia menghela napas panjang mendengar jawaban Azhura Kahn, perempuan itu memandang ke sekeliling ruangan, dan kemudian bertanya lagi, “Apakah saya akan tinggal di sini bersama anda?”

Azhura Kahn menyentuhkan jemarinya ke atas kepala Armenia, lembut dan penuh sayang,

“Armenia, kita telah bercinta habis-habisan semalam, kau dan aku telah menyatu, tubuh dan jiwa kita telah saling bertautan dan mengenal sedalam-dalamnya, mulai sekarang tidak ada lagi dewa dan manusia dalam hubungan kita. Kau adalah isteriku, isteri Azhura Kahn, dan isteriku tidak menggunakan kata-kata formal kepadaku.”

Pipi Armenia memerah lagi, terutama ketika mendengar kalimat ‘bercinta habis-habisan’ yang diucapkan oleh sang Mahadewa.

“Saya… aku….” suara Armenia tertelan di tenggorokannya, bingung mau berkata apa. “Apakah aku akan tinggal di sini seterusnya? Tidak bisakah aku pulang ke Garaya?”

Mata Azhura Kahn tampak menyala mendengar pertanyaan Armenia,

“Kenapa? Kau tidak suka tinggal di sini bersamaku?”

Tiba-tiba ada sesuatu yang menguar, sesuatu seperti cahaya api dari tubuh Azhura Kahn,membuat Armenia menggelengkan kepalanya cepat-cepat.

“Bukan.. bukan begitu… aku hanya memikirkan ayahanda, dan juga teman-teman yang lain… di sini… di sini bukan dunia manusia dan terasa begitu jauh….. jadi aku…”

Mendengar perkataan Armenia itu, Nyala yang sempat muncul di benak Azhura Kahn meredup, pun dengan tatapan matanya.

Azhura Kahn mengerti, Armenia adalah manusia, yang dibesarkan di dunia manusia, memiliki teman-teman manusia dan hidup layaknya manusia biasa.

Tinggal di sini, ditempat yang begitu asing baginya pasti terasa sedikit menakutkan untuknya. Seharusnya Azhura Kahn lebih memahami isterinya dan tidak memaksakan perubahan mendadak untuk isterinya. Daika akan dipanggil untuk menemui Armenia sewaktu-waktu, Azhura Kahn memutuskan dalam hatinya.

“Ayahmu boleh mengunjungimu kapan-kapan.” Azhura Kahn menjawab lembut dan tersenyum ketika rona bahagia tampak membayang di wajah isterinya, tak bisa menahan diri lagi, Azhura Kahn mengangkat dagu Armenia dan mengecup lembut bibirnya.

“Makanlah isteriku, setelah itu aku akan menunjukkan seluruh istana ini kepadamu.”

Armenia menatap sang Mahadewa yang memunggunginya, hendak mengambilkan makanan untuknya.

Dia menatap lelaki itu, suaminya sekaligus sang Mahadewa yang paling berkuasa di dunianya. Ditekannya pipinya yang memanas. Entah kenapa hatinya terasa hangat, setelah penyatuan diri mereka semalam, Armenia merasa begitu dekat kepada sang Mahadewa, hatinya dipenuhi oleh rasa cinta berikut pemujaan yang begitu besar.

“Suamiku…”

Armenia berbisik pelan, mengucapkan kata-kata itu untuk dirinya sendiri, dan merasakan senyum yang meresap di dalam hatinya ketika mengucapkan kata-kata itu. Senyuman penuh kebahagiaan.

***

“Desas-desus yang beredar, Azhura Kahn membawa pengantinnya ke istananya yang paling tersembunyi.” Borth melaporkan kembali hasil penyelidikannya, “Kami masih berusaha mencari tahu, tetapi semua bilang tempat itu sangat rahasia, hanya dewa-dewa yang paling setia kepada Azhura Kahn diperbolehkan ke sana, dan tempat itu tentu saja dilindungi oleh kabut merah Azhura Kahn yang sangat terkenal itu.” Borth begidik ngeri, “Siapapun yang melewati kabut  merah itu tanpa seizin pemilik Azhura Kahn akan hancur dalam sekejap menjadi debu.”

Yazza termangu, memegang dagunya, berpikir.

“Kurejas…” Sang dewa kematian bergumam, “Awasi kediaman Kurejas, dia adalah penasehat Azhura Kahn, aku yakin dia tahu dimanakah istana tersembunyi sang Azhura ini. Tempatkan mata-matamu di sana, dengarkan percakapan sekecil apapun dan laporkan padaku, entah itu dari para pelayan, entah itu dari hewan-hewan di sekitar sana. Percakapan sekecil apapun akan sangat berguna bagiku.”

Borth menatap majikannya dengan sedikit ragu, “Tetapi oh dewa junjungan kami, jikalau anda mengetahui lokasi istana tersembunyi itu, anda tentunya tidak akan bisa memasukinya, kabut merah itu akan menghancurkan anda bulat-bulat….”

Senyum dingin Yazza memancar penuh misteri ketika menatap abdinya yang setia,

“Tetapi aku memang tidak akan memasuki kabut merah itu, Borth.” Mata hijau Yazza nan benderang bersinar menakutkan, “Pengantin Azhuralah yang akan keluar untuk menemui kita. Kabut merah memang menakutkan, tidak pernah ada yang bisa menembusnya hidup-hidup jika tanpa seizin Azhura Kahn, tetapi kabut merah memiliki kelemahan…. hanya satu kelemahan….”

“Apakah itu oh Tuanku?” Borth bertanya, penuh rasa ingin tahu.

Yazza tersenyum, senyum dingin nan kejam, senyum kemenangan,

“Kabut merah Azhura Kahn bisa mencegah orang luar untuk masuk tanpa izin, tetapi kabut itu tidak punya pertahanan diri untuk mencegah orang yang berada di dalam untuk keluar…”

***

Pengantin Azhura.

Yazza termenung. Kalau apa yang diingatnya dahulu itu benar, maka rencananya untuk memancing Armenia keluar dari istana rahasia itu bisa saja berhasil.

Benaknya berkelana. Ke masa di mana hatinya masih diamuk kemarahan akan kematian Calamara, Saudarinya.

………

Atspere mengendap-endap dengan membawa pedang Macuahuiti di tangannya yang berkeringat. Statusnya sebagai salah satu dari empat  belas dewa utama membuatnya begitu mudah masuk ke ruang senjata Azhura Kahn tanpa dicurigai.

Dia akan membawa senjata ini ke lembah kematian, tempat Mirtis sang Dewa kematian berada. Dewa kematian biasanya masih menyimpan nyawa-nyawa yang tercabut dari tubuh baik manusia ataupun dewa dan dikumpulkan di istananya sebelum kemudian disimpan di perhentian terakhir yang tak terjangkau lagi.

Atspere masih berharap nyawa Calamara masih ada di sana. Mirtis dikenal bisa membangkitkan kembali nyawa mahluk yang telah mati – meskipun dia juga dikenal tidak pernah mau melakukan itu.

Tetapi Atspere akan datang untuk memohon, dan jikalau Mirtis tidak mau melakukannya, setidaknya pedang Macuahuiti ini bisa digunakan untuk mengancamnya supaya mau menuruti kemauan Atspere.

Azhura Kahn………memikirkan sang Mahadewa mau tak mau membuat hati Atspere diamuk kemarahan tak terhingga. Kenangan itu, saat dimana Calamaranya yang tersayang ditebas oleh Pedang Kahn sang Mahadewa tak pernah bisa sirna dari ingatannya, pun dengan debu keemasan nan indah yang masih sempat digenggam oleh Atspere, ketika mengejar saudara kembarnya yang sudah tak terkejar lagi.

Sang Mahadewa menyesal. Tentu saja. Dan saat ini Azhura Kahn tengah menanti hukuman dan kutukan dari Alam semesta atas pelanggarannya membunuh dewa yang terlarang untuk di bunuh.

Atspere merasa tidak puas. Kutukan bagi Azhura Kahn sangat tidak sepadan. Nyawa seharusnya diganti dengan nyawa. Tetapi keberadaan Azhura Kahn terlalu penting di dunia ini, sehingga kehilangan dirinya akan membuat keseimbangan alam dunia Ametyst terganggu.

Kenapa alam semesta menjatuhkan kutukan yang begitu absurd? Kutukan bodoh yang mengatakan bahwa pengantin sang Azhura Kahn akan menjadi kelemahan satu-satunya sang Mahadewa?

Atspere tentu saja akan memanfaatkan kesempatan itu untuk membunuh Azhura Kahn, dia sudah tidak peduli lagi dengan kedudukannya sebagai salah satu dewa utama yang seharusnya menyembah Azhura Kahn.

Tidak! Dia tidak akan sudi menyembah pembunuh Calamara!

Tetapi berapa lama Atspere harus menunggu? Bahkan ramalan-ramalan di kalangan para dewa pun tidak bisa menentukan kapan pengantin Azhura akan dilahirkan di dunia ini, berapa lamakah Atspere harus menunggu agar pembalasan dendamnya bisa tercapai?

Dengan menggertakkan giginya, Atspere berusaha mengendalikan pikirannya yang mulai berkelana kemana-mana. Dia sudah memegang Macuahuiti di tangannya. Itu dulu yang harus diutamakan. Yang harus dilakukannya sekarang adalah menuju ke lembah kematian tempat tinggal sang Dewa kematian lalu meminta supaya nyawa Calamara bisa dikembalikan.

Dengan hati-hati, Atspere melangkah cepat melalui lorong-lorong gelap di bagian terbawah benteng Samada Ka, istana sang Azhura Kahn. Disembunyikannya Macuahuiti di balik jubah peraknya nan indah.

Dia harus cepat, tidak butuh waktu lama bagi para pengawal untuk mengetahui bahwa senjata ini telah hilang…

Tiba-tiba, dalam sekejap, ada sosok yang menghalangi langkahnya, Atspere terkesiap dan otomatis melangkah mundur, tangannya di balik jubahnya menggenggam erat Macuahuiti yang tersembunyi di sana.

Atspere tidak mau membunuh kecuali terpaksa. Tetapi jika ada mahluk yang ingin menghalanginya, Atspere tidak akan segan-segan menghunuskan Macuahuiti yang dipegangnya.

Yang ada di depannya adalah Laikas, sang Dewa penjaga waktu. Lelaki itu berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan sedih.

“Kau masih punya pilihan, Atspere.” Laikas bergumam pelan, mataya menatap tajam ke arah Atspere.

Atspere mengeraskan hatinya. “Pilihan? Pilihan katamu? Saudariku terbunuh di depan mataku dan pembunuhnya tidak bisa kusentuh meskipun aku ingin membalaskan dendam. Dan kau bilang aku punya pilihan?”

Laikas menggelengkan kepalanya,

“Aku di sini untuk mencoba mengubah takdirmu, meskipun aku tahu bahwa aku dilarang melakukannya.” Mata Laikas yang coklat menatap tajam, “Kalau kau terus melakukan apa yang sedang kau rencanakan di otakmu itu, semua akan berakhir buruk, kau akan menerima kutukan keji dan hidup dalam dendam abadi yang tak terpuaskan, dan kau akan kehilangan pasangan takdirmu.”

“Pasangan takdirku?” Atspere memutar memorinya dan teringat akan ramalan Laikas tentang jodohnya. Anak manusia berambut hitam dan bermata emas. “Oh, anak manusia itu? Tidak apa-apa aku kehilangannya, itu tidak penting.”

Tidak ada yang lebih penting daripada pembalasan dendamnya kepada Azhura Kahn, tidak ada yang lebih penting daripada usahanya untuk mengambil nyawa Calamara kembali,

“Atspere.” Laikas bergumam kembali dengan nada penuh nasehat, “Jika kau mengembalikan Macuahuiti  ke tempatnya dan mengurungkan niatmu untuk menemui Mirtis sang Dewa kematian, alam semesta akan menghargai kelapangan hatimu, kau akan bersatu dengan pasangan jiwamu dan hidup bahagia selamanya bersama perempuan itu.”

Ekspresi Laikas berubah serius ketika melanjutkan, “Tetapi jikalau kau tetap memilih jalan ini, jalan yang penuh dengan dendam dan kutukan kegelapan, alam semesta akan mengambil pasangan takdirmu itu. Karena pasangan takdirmu berada di jalan terang dan tidak mungkin bisa terseret ke jalan kegelapan yang kau pilih, mungkin dirimu akan selalu memiliki sedikit hatinya begitupun sebaliknya, tetapi kalian tidak akan pernah bisa bersama, kau tidak akan bisa memiliki pasangan takdirmu, karena takdir perempuan itu akan diputar ke arah berlawanan dari takdirmu.”

Laikas menghela napas panjang, mencoba mencegah apapun yang direncanakan oleh Atspere. “Kau masih punya pilihan, Atspere.” Suaranya penuh bujukan.

Atspere termangu. Tangannya mencengkeram semakin erat Macuahuiti dibalik jubahnya, sejenak dia meragu. Tetapi kemudian, bayangan Calamara yang tertebas oleh pedang Kahn sang Azhura mengoyak jiwanya kembali. Calamaranya yang begitu baik, Calamaranya yang berjiwa putih. Calamaranya yang terenggut secara tidak adil dan tak terbalaskan.

Selama ini Atspere selalu memohon kepada Alam semesta agar menjaga Calamara, ternyata permohonannya tidak pernah di dengar.

Dan kemudian dagu Atspere terdongak penuh tekad,

“Aku akan mengambil jalan yang sudah kupilih, Laikas. Dan jika itu menyebabkan aku kehilangan pasangan takdirku, maka biarkanlah. Biarlah alam semesta mendengarnya, aku melepaskan pasangan takdirku demi jalan yang akan kupilih.”

Dan kemudian, dengan kasar Atspere melalui lorong, menyingkirkan tubuh Laikas yang menghalanginya.

Laikas sendiri hanya memejamkan mata sambil mendengarkan langkah-langkah kaki Atspere yang semakin menjauh, dia menyentuh pangkal hidungnya dengan lelah dan penuh kesedihan.

Seharusnya Atspere bisa berbahagia, tetapi lelaki itu terlalu keras kepala untuk mampu berbahagia di atas kematian saudarinya…

………..

Khar Yazza yang sedang mengingat itu semua tiba-tiba merasakan dorongan penuh ironi untuk tertawa, suara kekehan-nya terdengar, penuh ironi dan kesedihan, menggema di seluruh istananya yang gelap pekat dan semakin menguarkan kekelaman yang ada di sana.

Ketika waktu itu Laikas menghadangnya dan mengatakan bahwa dirinya akan kehilangan pasangan takdirnya, Yazza mengira bahwa pasangan takdirnya itu akan benar-benar hilang dari jalan hidupnya, mungkin berjodoh dengan manusia lain dan mati sejak lama layaknya manusia biasa.

Tetapi rupanya alam semesta sedang ingin bercanda dengan skenario kehidupan para dewa.

Yazza tidak pernah menyangka, tidak pernah sedikitpun menyangka, bahwa alam semesta akan sedemikian kejam, memutar jalan takdir perempuan yang seharusnya menjadi miliknya, menjadi perempuan manusia, pengantin takdir sang Azhura Kahn.

Hukuman yang diterimanya sedemikian kejam. Pilihan yang diambilnya waktu itu ternyata membawa kesakitan yang luar biasa di dalam benaknya beratus tahun kemudian.

Alam semesta yang kejam, telah memberikan perempuan yang telah dilepaskannya kepada sang Azhura Kahn….

Tiba-tiba saja Yazza memejamkan matanya, dan merasakan setetes bening mengalir di sana. Dia tidak tahu kenapa dia menangis. Mungkin sisa kelemahannya di masa lalu, mungkin pula hasil dari kesakitan hati yang terakumulasi dan meledak tanpa tertahankan.

Armenia….

Mengucapkan nama itu saja menciptakan sebuah lubang menganga yang menyakitkan di benak Yazza.

Maafkan aku telah melepaskanmu, Armenia, maafkan aku tidak memilihmu waktu itu…

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

212 Komentar

  1. Indah Narty menulis:

    Yazza :tidaaakksssnooo

  2. Sulistia N menulis:

    Yazza

  3. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta

  4. Yazza sama aku aja deh :v

  5. Mamita Fatih menulis:

    :habisakal

  6. Azuraaa💘

  7. Tuh kan ikutan sedihhhh.. :habisakal

  8. Mamita Fatih menulis:

    :awaskubalasnanti

Tinggalkan Balasan