azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 24 : Azhura,Armenia,Yazza dan Cemburu

Bookmark

No account yet? Register

2.968 votes, average: 1,00 out of 1 (2.968 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

azhuras-bride2

Hutan itu masih menyisakan keindahannya meski matahari sudah mulai memanjat pucuk langit, hendak mendaki tinggi dulu sebelum beranjak pulang. Warna oranye memenuhi indera pengelihatan, hasil perpaduan pepohonan yang berbaris sejajar membentuk pagar indah bernuansa jingga.

Matahari bersinar terang dan semakin meredup ketika menyapa bumi, karena cahayanya tak kuasa menembus rimbun dedaunan. Sinarnya menapak malu-malu di tanah, meragu ketika merebahkan diri di atas daun-daun kering yang bertebaran di sana.

Keindahan yang terhampar itu berbanding terbalik dengan pemandangan yang melingkupi area misterius Dievas Rumai di belakangnya. Dari sudut ini, pemandangan di depan mata tampak mengerikan. Karena Dievas Rumai hanya terlihat serupa gugusan kabut pekat semerah darah yang menutupi apapun di baliknya. Kengerian yang ditampilkan oleh warna merah darah itu seolah menyembunyikan keindahan di balik istana megah yang dilingkupinya.

Ya, dibalik nama Dievas Rumai yang berarti surga, ada pagar pembatas merah berwujud kabut, akan menghancurkan siapapun yang berani menembusnya tanpa izin.

Yazza berdiri di sana di sudut tak terlihat dan menanti.  Membiarkan hembusan angin menemani kesendiriannya, dan bayangan gelap tak tertimpa matahari menyembunyikan sosoknya.

Entah sudah berapa lama dia menunggu di waktu yang sama. Hari berganti dan dia tetap menahan diri untuk berdiri di sana, menanti dengan sabar sampai sosok itu keluar.

Makhluk kecil itu seharusnya berhasil. 

Yazza mengirimkan salah satu sasalu untuk memancing Armenia keluar. Sasalu yang dikirimkannya adalah salah satu makhluk beruntung yang bisa menembus keganasan kabut merah Dievas Rumai.

Azhura Kahn memang memagari Dievas Rumai dengan sempurna, tetapi dia tidak pernah memagari tempat tinggal rahasianya itu dari alam. Karena itulah makhluk-makhluk alam seperti burung-burung, hewan-hewan kecil, serangga, benih-benih tanaman yang bertebaran, semuanya bebas keluar masuk melewati kabut merah  tanpa takut hancur menjadi debu.

Keteledoran kecil itulah yang dimanfaatkan oleh Yazza. Dia menggunakan sasalu yang lucu untuk masuk ke sana dan menarik perhatian Armenia. Sangat mudah melatih sasalu, hewan kecil jinak peliharaan para dewa dan kesayangan Calamara,  untuk masuk ke dalam kabut.

Sasalu itu bertugas menarik perhatian Armenia,  menggoda dengan kemunculan fisiknya yang lucu, memancing supaya Armenia mendekat. Lalu setelah Armenia tertarik, sasalu akan berlari keluar area Dievas rumai. Hal itu dilakukan berkali-kali tanpa menyerah sampai Armenia tergoda untuk mengikuti.

Yazza menghabiskan waktu sekian lama dalam kegagalan, menanti hanya untuk melihat sasalu yang ditunggunya gagal melaksanakan tugas, datang sendirian tanpa Armenia mengejarnya. Tetapi Yazza tetap bersabar, dia tahu waktu itu akan tiba. Saat di mana dia bisa menemui Armenia untuk pertama kalinya.

Sekarang waktunya telah tiba….

Suara langkah kaki itu, langkah kaki yang ringan dan lembut, seolah-olah kaki itu menopang tubuh seringan  bulu…..

Perempuan itu telah datang. Jodoh masa lampau yang telah ditolaknya. Hukuman tidak langsung yang diberikan oleh alam semesta kepadanya.

Yazza menegakkan tubuhnya dan menanti kemunculan Armenia, suara langkahnya begitu dekat, membuat Yazza menahan napas penuh antisipasi.

Sampai kemudian sosok itu muncul dari balik kabut merah yang melingkupi. Pesonanya bahkan membuat mata Yazza melebar. Kecantikannya tak tertandingi, menyisakan rasa perih di hati.

Itu adalah Armenia, perempuan cantik dengan rambut hitam legam nan panjang, bentuk wajah yang sempurna serta perpaduan mata emas dengan hidung lancip dan bibir merekah tanpa dosa, membuat Yazza tidak bisa melepaskan pandangannya.

Tiba-tiba kesedihan dalam menohok ke dalam jantungnya. Menyakitinya lebih parah dari siksaan Machuahuiti  yang bersarang di dalam dirinya.

Membayangkan bahwa dia bisa saja memperoleh kesempatan itu, kesempatan untuk memeluk tubuh mungil yang didamba ke dalam pelukannya. Dicintai dan mencintai pasangan takdirnya. Memiliki kebahagiaan berkilauan sebagai Atspere sang dewa pemelihara.

Sayangnya, kemungkinan itu tidak akan pernah terwujud. Hari di mana Yazza membunuh sang dewa kematian, disitulah dia menghapus semuanya. 

Ya. Itulah hukuman alam semesta terhadapnya. Karena dosanya, alam semesta dengan keji tidak pernah mencabut rasa cintanya kepada sang pasangan takdir.

Yazza dihukum untuk selalu mencintai Armenia, pasangan takdirnya yang tidak mungkin lagi membalas cintanya, karena  sekarang  hatinya sudah berbalik arah meninggalkannya dan menjadi milik Azhura Kahn.

Keheningan diantara mereka berdua terpecah oleh gerakan-gerakan lincah di dekat kaki Yazza.

Sasalu itu muncul lagi setelah berputar-putar, wajah lucunya tampak bingung, tetapi dia kemudian mengendus aroma Yazza yang familiar, dan kemudian memutuskan untuk bersembunyi di belakangnya.

Sementara Yazza masih terpaku menatap keindahan di depannya. Menatap Armenia yang kebingungan. Yazza sendiri tidak mampu berkata-kata karena tiba-tiba rasa takut merayapi benaknya.

Apa yang akan dipikirkan oleh Armenia ketika melihatnya? Apakah perempuan itu akan lari dan ketakutan? 

Dilihatnya Armenia seperti telah menyadari bahwa dirinya sudah melakukan kesalahan dengan menembus kabut merah Dievas Rumai yang terlarang. Perempuan itu membalikkan tubuh, hendak masuk lagi ke dalam kabut merah. Dan Yazza tidak bisa menahan diri untuk memanggil,

“Armenia…”

***

Panggilan itu membuat Armenia menoleh, panggilan yang asing dari suara asing pula.

Mata Armenia melebar menemukan sosok lelaki yang berdiri di depannya. Lelaki itu berambut perak panjang yang tampak lembut seringan bulu. Baju yang dipakainya bukanlah baju biasa, merupakan pakaian berkualitas tinggi yang dibuat serupa jubah panjang membalut tubuhnya. Warna bajunya hitam, hitam gelap dengan sedikit sulaman keemasan di sisi-sisi jubahnya.

Armenia mengangkat kepalanya dan tercengang ketika melihat betapa tampannya wajah lelaki yang sedang berdiri di hadapannya. Wajah lelaki itu lembut, dengan mata teduh berwarna hijau yang bening seperti kaca tembus pandang nan indah. Dan sekarang mata itu menatapnya dengan begitu intens, tak berkedip.

Penampilan lelaki di depannya yang tidak serupa manusia biasa membuat Armenia menyadari satu hal, dia memberanikan diri untuk bertanya,

“Apakah anda seorang dewa?” tanyanya pelan, berhati-hati.

Ada senyum di bibir lelaki itu mendengar pertanyaan Armenia, senyum lembut yang mengandung ironi.

“Ya.” angguknya tipis, “Aku Yazza, dewa kematian.”

Armenia menegang mendengar perkenalan dari Yazza. Ada sepercik ketakutan yang muncul di mata keeemasannya.

Siapa yang tidak takut dengan dewa kematian? Dikatakan beliau membawahi makhluk-makhluk bawah berwujud mengerikan yang dikenal suka mengisap jiwa manusia sebagai santapan. Sang dewa kematian bahkan selalu diceritakan berwujud seperti tengkorak. Sementara makhluk yang ada di depannya ini sama sekali tidak mencerminkan sosok dewa kematian yang diketahuinya.

Yang ada didepannya lebih pantas disebut sebagai dewa terang daripada dewa kematian yang identik dengan kegelapan. Rambut peraknya nampak begitu lembut dan berkilauan, ekspresinya sendu, sama sekali tidak nampak jahat ataupun mengerikan.

Armenia mengangkat kembali pandangannya sehingga mata emasnya bertemu dengan mata hijau sang dewa kematian, terkejut ketika menemukan kesedihan yang membias di bola mata hijau sang dewa kematian yang indah.

Kenapa ada kesedihan di sana? Apakah sang Dewa kematian merasa sedih karena Armenia ketakutan kepadanya?

“Apakah kau takut kepadaku?” Sang Dewa kematian kembali bertanya, menarik Armenia dari lamunannya.

Armenia menelan ludah, tidak berani menjawab. Siapa yang tidak takut dengan dewa kematian? Dia adalah penuai jiwa manusia yang telah kering, pencabut nyawa yang mengerikan.

“Jangan takut kepadaku. Aku tidak akan menyakitimu.” Yazza tersenyum. Lalu dia  membungkuk, dan mengambil sasalu yang nampak jinak di belakangnya, “Kau mengejar ini?” ditaruhnya sasalu ke dalam buaiannya, “Mendekatlah, dia jinak kepadaku. Kau bisa memegangnya kalau kau mau.”

Armenia ragu. Pemandangan di depannya ini merupakan sesuatu yang tidak bisa diterima oleh logikanya. Baru kali ini indera pengelihatannya bertentangan dengan benaknya. Indera pengelihatannya melihat sosok malaikat yang luar biasa indah, sedang membuai mahluk lucu yang sepertinya sama sekali tidak takut kepadanya. Sedangkan batinnya berteriak kencang, memperingatkan bahwa Armenia harus berhati-hati karena yang ada di depannya ini adalah dewa kematian nan kejam.

Pada akhirnya, rasa ingin tahu Armenialah yang menang. Dia sangat ingin mengelus makhluk lucu menggemaskan bernama sasalu itu. Dia ingin merasakan bulu-bulu yang sepertinya lembut itu terselip di antara jemarinya. Dia ingin menggendong makhluk lucu itu dan membuainya seperti yang dilakukan oleh sang dewa kematian sekarang.

Armenia melangkah maju, melupakan rasa takutnya dan mendekat. Jaraknya hanya sejangkauan tangan dari sang dewa kematian.

Lalu Yazza tersenyum lembut dan memberi anggukan membujuk, “Kemarikan tanganmu dan sentuhlah dia. Ayo, dia sangat lembut.” ajaknya lembut, tak mengancam.

Keraguan yang tersisa di hati Armenia langsung musnah mendengar nada suara itu, dia melangkah mendekat di sebelah sang Dewa kematian, lalu mengulurkan tangannya dan  memberanikan diri untuk menyentuh makhluk lucu dan menggemaskan itu.

Dirinya terkesiap ketika merasakan kelembutan bulu sasalu di antara jemarinya, rasanya aneh, seolah memegang sesuatu yang halus dan membelai seluruh permukaan jemari, menciptakan rasa hangat yang menyenangkan hati. Sasalu itu memejamkan mata ketika gerakan jemarinya membelai-belai konstan punggungnya. Matanya yang lebar dan lucu menutup seolah-olah menikmati, membuat Armenia terekeh geli, senang akan tingkah manja makhluk itu.

“Sasalu sangat suka dielus. Dia menikmati interaksi dengan makhluk lain. Karena itulah dia disebut makhluk peliharaan para dewa.” Yazza bergumam, sementara matanya tak lepas dari jemari mungil Armenia yang masih membelai-belai punggung sasalu nan lucu.

Armenia menganggukkan kepalanya setuju dan tersenyum, lupa bahwa lelaki yang ada di depannya ini adalah dewa kematian mengerikan yang seharusnya ditakuti. Sang Dewa kematian, dengan segala atribut hitamnya yang mengerikan, entah kenapa malah terasa nyaman di benak Armenia.

Seolah mereka berdua telah saling mengenal sejak lama….

Tiba-tiba saja sasalu itu memutuskan sudah cukup dia berinteraksi dengan orang-orang dan memutuskan untuk melompat turun dari buaian Yazza. Sang Dewa kematian membiarkannya, melihatnya berlari-lari kecil seumpama gumpalan kapas, masuk ke dalam area hutan dan menghilang.

Yazza mengalihkan perhatiannya dari sasalu yang menghilang, lalu menatap wajah Armenia. Wajah polos tanpa duka yang sekarang tersenyum bersahabat kepadanya.

Rasa pedih kembali merayapi benaknya. Perempuan ini begitu bahagia sekarang. Dan disinilah dia, datang dengan segala rencananya untuk merusak kebahagian Armenia.

“Siapakah kau wahai anak manusia?” Yazza berucap kemudian, memecahkan keheningan yang terjalin di antara mereka.

Armenia mengerjapkan matanya seolah tersadar, “Nama saya Armenia.” tiba-tiba dia sadar bahwa dia harus membungkuk hormat untuk menyapa seorang dewa, terutama dewa yang termasuk ke dalam empat belas dewa utama.

“Mohon maafkan hamba karena tidak menghormat.” Armenia membungkuk hendak memberi hormat, membuat Yazza mengulurkan tangannya terkejut, mencoba mencegah Armenia membungkuk ke arahnya,

“Tidak, jangan menhormat kepadaku….” Jemarinya terulur, hendak menyentuh bahu Armenia dan menegakkan perempuan itu.

Tetapi hanya dalam hitungan detik dia menyentuh pundak Armenia, pukulan keras tak berwujud langsung menghempasnya, menyambarnya begitu keras laksana teguran kilat yang menghantam bumi. Tubuh Yazza sampai terlempar jauh beberapa langkah, punggungnya menabrak batang pohon menimbulkan suara benturan keras yang menyeramkan.

Armenia memekik, hendak mendekat. Tetapi Yazza menghadapkan telapak tangannya ke arah Armenia, memberi isyarat supaya Armenia berhenti. Wajah pucatnya tampak semakin pucat, sementara darah berwarna merah gelap kehitaman mengalir dari sudut bibirnya.

“Kau memakai sesuatu dari sang Mahadewa untuk melindungi dirimu….” gumamnya pelan, mencoba berdiri. Benturan itu benar-benar tidak diduga, dan Yazza tidak sedang menyalakan perlindungan dirinya, sehingga dia lengah dan terlempar, membiarkan serangan tiba-tiba itu melukai dirinya.

Armenia tertegun mendengar kata-kata sang Dewa kematian, tanpa sadar jemarinya menyentuh kalung batu rubi merah darah berbentuk air mata yang tersimpan di balik gaunnya. Sang Mahadewa Azhura Kahn mengatakan bahwa kalung itu akan selalu melindungi dirinya dari makhluk-makhluk yang berniat jahat kepadanya….

Ketika dewi Slimiba ataupun para pelayan menyentuhnya, mereka tidak terlempar seperti ini. Tetapi ketika dewa kematian menyentuhnya, kalung ini mengeluarkan kekuatan dasyat yang melemparkan sang Dewa kematian sampai terluka.

Apakah ini berarti sang Dewa Kematian termasuk dalam golongan makhluk jahat yang akan melukainya?

Armenia berdiri di sana, meragu. Dia menatap mata sang Dewa kematian yang juga membalas tatapannya dengan penuh ironi. Yazza kemudian mengalihkan tatapannya, mengusap darah yang masih mengalir dari sudut bibirnya, dan kemudian terkekeh. Kekehannya bukan jenis yang menyenangkan, melainkan mengandung ironi yang nyaris berwujud kesedihan.

“Aku salah. Aku tidak menyangka sang Mahadewa akan melakukan ini… sungguh cara licik yang tidak kuduga.” Yazza seolah bergumam kepada dirinya sendiri. Sinar kebencian menyala di matanya ketika menyebut sang Mahadewa.

Armenia membuka mulut, hendak bertanya kenapa sang Dewa Kematian tampak begitu membenci Mahadewa Azhura Kahn, tetapi sebelum suara apapun berhasil melalui pita suara dan mengalir di bibirnya, ada suara lain yang menyahut di belakangnya.

“Jauhkan tangan kotormu dari isteriku, Yazza.”

Mata Yazza beralih ke belakang Armenia, membuat Armenia juga menoleh ke belakang.

Di sana  berdiri suaminya, Azhura Kahn dengan tubuh menyala diselubungi api, dan iris mata semerah darah berpadu warna emas membakar mengerikan di pupil matanya.

Armenia mengerutkan keningnya bingung, memandang Azhura Kahn dan sang dewa kematian berganti-ganti, merasa sesak dengan aura permusuhan yang terentang tiba-tiba di antara mereka.

“Aku bahkan tidak bisa menyentuhnya.” Yazza mencoba bangun, tubuhnya sedikit terhuyung, dia berpegangan pada batang pohon untuk menopang dirinya, meskipun begitu, senyuman jahat sedikit mengejek tetap tersungging di bibirnya, “Betapa liciknya kau memasang perlindungan itu kepadanya.”

Azhura Kahn menatap Yazza dengan marah, “Apakah kau lupa bahwa kau sudah menggunakan cara licik untuk memancing Armenia keluar dari istanaku?” Perhatian Azhura Kahn beralih kepada Armenia yang masih menatap interaksi bermusuhan dari kedua orang di depannya ini silih berganti, lalu dengan berkuasa sang Mahadewa mengulurkan tangannya ke arah Armenia, mengeluarkan kata bernada perintah yang tak bisa dibanthakan,

“Kemari isteriku.” gumam Azhura Kahn penuh kuasa. Perintah lugas yang tak bisa dibantah.

Armenia memandang uluran tangan itu, tatapannya beralih ke arah Yazza yang masih bersandar di pohon tampak terluka dan lemah dengan darah yang mengalir dari sudut bibirnya. Tiba-tiba entah kenapa ada kecemasan yang muncul di hatinya. Melihat sang dewa kematian terluka parah seperti itu….

“Tapi…” Armenia menelan ludah, hendak mengatakan kepada Azhura bahwa seharusnya beliau juga mempedulikan kondisi salah satu dewa utama yang berada di bawahnya. Belum lagi Armenia merasa bertanggung jawab atas luka sang Dewa kematian.

Bukankah sang Dewa Kematian tadi jatuh terbanting karena tanpa sengaja menyentuh tubuhnya?

Ekspresi Azhura Khan mengeras ketika menyadari keragu-raguan Armenia, membuat api yang menyelubungi tubuhnya semakin membara. Tangannya masih terulur ke arah Armenia, sementara suaranya berubah menjadi geraman mengancam ketika berkata,

“Kemari Armenia. Jangan sampai aku mengulangi kembali permintaanku.” Suara sang Mahadewa Azhura Kahn mulai menggaung, menggelegar memenuhi udara, pertanda kemarahannya sudah mulai memuncak.

Kemarahan sang Mahadewa Azhura Kahn membuat Armenia ketakutan, sehingga tanpa pikir panjang, setengah meloncat, dia mendekat dan menerima uluran tangan Azhura Kahn.

Seketika itu, ketika ujung jarinya bersentuhan dengan tangan sang Mahadewa, nyala api yang menyelubungi tubuh Azhura beranjak padam, menyisakan mata merah membara dan pupil kuning membakar laksana api. Mata Azhura Kahn sendiri tidak menatapnya melainkan masih menatap sang Dewa Kematian.

“Aku perintahkan kepadamu untuk menjauhi area istanaku. Aku akan memperluas penjagaanku. Jika sedikit saja aku mencium kehadiranmu di sekitar sini, maka aku akan membunuhmu.”

Ancaman itu, jika diucapkan kepada dewa-dewa lain, apalagi dari bibir Azhura Kahn yang agung, pastilah akan membuat mereka semua ketakutan. Sayangnya Yazza tidak termasuk di dalamnya. Dia sama sekali tidak takut. Yang ada di benaknya ketika menatap Azhura Kahn adalah rasa panas, rasa panas menyesakkan dada yang dipenuhi oleh gumpalan kebencian yang semakin lama semakin kelam.

Yazza malah terkekeh, seolah rasa sakitnya hilang dan darah yang menetes dari bibirnya sama sekali bukan masalah. Sang dewa kematian sama sekali tidak mengucapkan apa-apa, lelaki itu hanya membungkukkan badan memberi hormat yang sarat dengan ejekan kepada Azhura Kahn, lalu membalikkan badan dan melangkah pergi, berjalan di balik kerimbunan hutan bernuansa jingga yang mengelilingi area Dievas Rumai.

Armenia memperhatikan kepergian Yazza dengan bingung dan perasaan campur aduk. Matanya mengikuti punggung sang Dewa kematian, yang menghilang ditelan kerimbunan hutan  dan tak menyisakan apapun untuk indera pengelihatannya.

Sayangnya, matanya yang tak bisa beralih dari punggung sang Dewa kematian itu tak luput dari pengawasan Azhura Kahn. Sang Mahadewa menipiskan bibirnya marah. Jemarinya dengan kasar meraih dagu Armenia, menarik kepala Armenia dari arah Yazza ke arahnya.

Armenia sedikit terkesiap ketika menemukan nyala penuh ancaman dan kemarahan di dalam bola mata Azhura Kahn.

“Dan kau Armenia. Mulai sekarang, apapun yang terjadi, entah semenarik apapun yang memancingmu, jangan pernah berani-beraninya melangkahkan kaki untuk keluar dari kabut merah Dievas Rumai, apakah kau mengerti?” geramnya marah.

Armenia menganggukkan kepalanya, tiba-tiba merasa takut. Kemarahan yang menguar dari tubuh Azhura Kahn terasa berbeda, seolah-olah lelaki itu ingin meremukkannya karena marah.

Azhura Kahn menyipitkan matanya, menelusuri wajah Armenia yang tampak ketakutan. Tetapi dia tidak bisa menahan kemarahan yang menyeruak di dadanya. Tatapan mata Armenia kepada Yazza serta kepedulian yang ditunjukkannya kepada lelaki itu tadi terasa sangat mengganggunya.

Armenia memperhatikan Yazza dan itu membuatnya marah luar biasa.

Digenggamnya jemari Armenia kuat-kuat tanpa menyadari bahwa Armenia sedikit meringis kesakitan,

“Ayo. Kembali pulang ke Dievas Rumai.” perintahnya dengan nada tak terbantahkan. Menarik Armenia kembali menembus kabut merah nan pekat.

***

Yazza terengah, berhenti untuk bersandar, setiap melalui beberapa pohon. Tubuhnya terasa sakit luar biasa. Entah mantra perlindungan apa yang ditanamkan Azhura Kahn ke tubuh Armenia. Tetapi sudah pasti itu mantra yang sangat kuat, bahkan ketika digunakan kepada para dewa sekalipun.

Darah tak henti-hentinya mengalir dari bibirnya, membuat Yazza bahkan mulai mengabaikannya karena ujung jubahnya sudah basah untuk mengusap darah. Dia membiarkan darah itu menetes di jalan setapak tengah hutan, menciptakan jejak-jejak berupa bercak kehitaman di tanah.

Ketika Yazza sedang berhenti untuk mengumpulkan tenaganya, sosok Borth, abdinya yang setia muncul dari balik pohon bersama anak buahnya, langsung menopang tubuh tuannya yang hampir jatuh,

“Yang Mulia. Anda terluka.” Borth bergerak sigap, mengeluarkan kotak emas berisi ramuan pohon kubikh yang selalu dibawa -bawa di sakunya. “Anda harus meminum ini untuk menyembuhkan diri.” Dibukanya kotak itu dan diulurkannya ke arah Yazza.

Yazza menundukkan kepala dan menatap kotak berisi beberapa botol kecil berisi cairan berwana hitam, Cairan itu adalah ramuan daun Kubikh yang biasanya dipakai untuk mengurangi kesakitannnya ketika Machuahuiti merusak dirinya dari dalam. Ada kesenduan dalam jiwanya ketika jemarinya terulur untuk mengambil cairan itu.

Cairan pahit laksana candu, yang menyembuhkan di waktu dekat, dan membunuh di masa depan, mengubahnya menjadi monster berwajah tengkorak yang mengerikan.

Tetapi tidak ada pilihan lain. Tubuhnya sudah rusak dari dalam, dan cairan pohon kubikh adalah satu-satunya obat yang bisa memulihkannya dalam waktu cepat.

Dibukanya penutup kayu botol mungil berisi cairan hitam itu, dan ditenggaknya isi cairan sampai habis.

Yazza memejamkan mata, merasakan aliran pahit itu membasahi tenggorokannya dan kemudian bergerak cepat ke seluruh penjuru tubuhnya, berusaha menyembuhkan luka dalamnya yang menganga.

Lama dia memejamkan mata, dan baru membukanya ketika dirasakan bahwa tubuhnya sudah membaik.

Ada senyum di sana. Senyum licik yang tersimpan sejak tadi.

Azhura Kahn  memang membuatnya tidak bisa mendekati Dievas Rumai kembali. Tetapi tadi dia telah menanamkan mantra lewat tatapan matanya kepada Armenia.

Yazza memang tidak akan bisa menembus ketatnya pertahanan kabut merah Dievas Rumai, tetapi dia bisa menembus alam mimpi Armenia.

Ya. Mantra yang ditanamkannya kepada Armenia membuatnya bisa datang ke dalam mimpi Armenia. Dia akan membawa ibunda Armenia ke sana, merasuk ke alam mimpi Armenia, memanipulasi jiwa polosnya dan menanamkan rasa benci sedikit demi sedikit kepada Azhura Kahn.

Alis Yazza mengerut. Selain itu, dia harus memikirkan cara untuk melepas perlindungan yang diberikan Azhura Kahn kepada Armenia. Tadi, ketika tubuh Yazza terlempar, mata awasnya melihat Armenia refleks menggenggam sesuatu di dadanya.

Yazza berpikir bahwa itu perhiasan semacam kalung.

Ya. Pasti itu kalung.

Dia harus bisa membuat Armenia melepaskan kalung perlindungan itu….

***

Mereka telah memasuki lorong istana menuju kamar. Kemarahan sang Mahadewa yang menguar kemana-mana rupanya telah mempengaruhi suasana kediamannya.

Keindahan yang berpadu dengan nuansa suara hewan-hewan yang bersahutan laksana musik mengalun memanjakan telinga, sekarang telah tercabut paksa. Burung-burung enggan bernyanyi, lebih memilih bersembunyi dan mengintip di balik dedaunan. Serangga-serangga juga enggan mengeluarkan bunyi, malah bersembunyi di tanah dan menutup diri.

Bahkan anginpun ketakutan untuk berhembus. Hanya berani bergerak pelan-pelan tapi tak sampai menggoyangkan dedaunan.

Azhura Kahn terus menyeret Armenia ketika memasuki peraduannya, membawanya langsung masuk ke permandiannya yang beraroma harum penuh dengan minyak arozhyukure.

“Sakit!” Armenia akhirnya berani bersuara ketika kesakitan di jemarinya tidak tertahankan lagi, dia meronta, berusaha menarik tangannya dari genggaman sang Mahadewa.

Keluhan dan rontaannya, membuat Azhura langsung melepaskan pegangannya, membuat Armenia terhuyung lalu menjaga keseimbangan dengan berpegangan di salah satu pilar marmer bercorak emas di dalam kamar mandi itu.

Azhura Kahn berdiri menjulang di depannya, dengan iris mata merah mengerikan, dan suara gumaman penuh kuasa,

“Mandi. Bersihkan dirimu.”

Armenia mengerutkan kening. Kenapa Azhura Kahn menyuruhnya mandi? Bukankah dia sudah membersihkan diri beberapa jam yang lalu?

“Tidak. Aku sudah mandi.” Tiba-tiba Armenia merasakan dorongan untuk membantah, dia juga berhak merasa marah bukan? Suaminya ini tiba-tiba bersikap kasar, menyeretnya tanpa ampun dan menggenggam tangannya begitu keras seolah menyakitinya. Armenia merasa dirinya tidak pantas diperlakukan kasar seperti ini. Dia tidak berbuat salah bukan?

Yah… meskipun dia cukup teledor dengan melanggar larangan lalu menembus kabut merah, tetapi bukankah sekarang mereka baik-baik saja? Tidak ada akibat fatal yang muncul dari perbuatannya itu.

Tubuh Azhura Kahn mulai membara, menunjukkan kemarahan karena penolakan Armenia atas perintahnya. Nyala api itu muncul lagi di pupil matanya.

“Aku perintahkan padamu untuk mandi Armenia, bersihkan tubuhmu, sebersih mungkin.” geramnya mengerikan.

Armenia menggelengkan kepalanya keras kepala. Dia tidak mau diperlakukan seperti ini! Matanya mulai berkaca-kaca menahan tangis, tetapi dagunya tetap mendongak keras kepala,

“Aku tidak mau mandi lagi.” desisnya tajam, suaranya bergetar karena air mata sudah mulai tumpah hendak berderai di sudut matanya. Lalu Armenia melangkah, hendak melewati tubuh Azhura Kahn dan meninggalkan kamar mandi itu.

Tubuh mungilnya tertahan oleh lengan Azhura Kahn  yang menyentuh perutnya, membentengi langkahnya.

“Kau yang memaksaku untuk bersikap kasar kepadamu.”

Tiba-tiba Azhura Khan mendorong tubuh Armenia hingga mau tak mau melangkah mundur hingga tubuhnya terbentur tembok, sang Mahadewa lalu mendesaknya, kedua tangannya memegang kerah baju Armenia, dan kemudian dengan gerakan kasar merobek gaun indah itu hingga terbelah sampai pinggang.

Armenia memekik, memeluk dirinya sendiri dan berusaha meronta, tetapi dengan kasar Azhura Kahn terus merobek gaunnya sampai ke bawah, dan kemudian lelaki itu menarik gaun itu dengan mudahnya hingga terlepas dari tubuh Armenia.

Setelah Armenia telanjang, tanpa peduli. Azhura Kahn mengangkat tubuh kecil Armenia, melangkah ke kolam mandi, dan setengah melemparkan tubuh Armenia ke kolam dangkal yang penuh dengan minyak Arozhyukure nan harum.

“Berendam sebersih mungkin dan singkirkan bekas laki-laki itu.” Mata Azhura Kahn menyipit menatap Armenia yang menangis dengan tubuh telanjang terbenam di kolam minyak Arozhyukure, “Bersihkan bekas laki-laki itu dari tubuhmu, dan dari pikiranmu.” Sambungnya dengan nada penuh ancaman, lalu tanpa kata-kata apapun membalikkan badan dan melangkah meninggalkan kamar mandi itu.

Armenia menatap kepergian sang Mahadewa dengan bibir gemetar penuh air mata. Baru kali ini sang Mahadewa memperlakukannya dengan sekasar ini, dengan alasan yang tidak diketahuinya pula. Jemari Armenia mengusap air matanya, memeluk dirinya sendiri dalam balutan kesedihan pilu yang menyesakkan dada.

***

Tak berapa lama kemudian, Armenia, yang sudah mengenakan pakaian ganti putih yang tersedia di kolam mandi itu, melangkah keluar.

Semula dia ragu, tidak ingin keluar dari kolam mandi dan bertemu dengan sang Mahadewa di peraduan. Dia tidak mau bertemu dengan Azhura Kahn, tidak sudi menatap wajah lelaki yang telah melukai hatinya.

Karena itulah dia menunggu beberapa lama di kamar mandi, memastikan bahwa suasana peraduan hening dan tidak ada kehadiran sang Mahadewa di sana.

Sayangnya dugaannya salah, ketika dia melangkah keluar dari kamar mandi, Azhura Kahn masih ada di sana. Bersandar di salah satu dinding kamar bernuansa ukiran emas dan menatap Armenia dengan mata merahnya yang kali ini sudah berwarna teduh.

Sang Mahadewa tidak marah lagi rupanya, ekspresinya penuh penyesalan ketika menatap Armenia dengan lembut.

Armenia memalingkan muka, tidak ingin hatinya luluh ditatap seperti itu. Dia bahkan mengabaikan ketika Azhura Kahn melangkah mendekat dan membuat gerakan seolah ingin memeluknya. Armenia meronta, menghindar, dan kali ini Azhura Kahn tidak memaksakan dirinya, dilepaskannya pegangannya dan Armenia segera menjauh, melangkah ke ranjang besar bersprei emas yang berada di tengah ruangan.

“Maafkan aku atas kecemburuanku.” Sang Mahadewa bergumam lembut. Berdiri di sana, tidak berusaha mendekat, tahu bahwa Armenia sedang tidak ingin didekati. “Maafkan aku karena bersikap kasar kepadamu.” sambungnya lagi.

Armenia membalikkan badan, memunggungi Azhura Kahn, tidak mau menatap wajahnya,

“Bolehkah aku tidur? Aku ingin beristirahat.” bisiknya dengan suara bergetar, menggigit bibirnya untuk menahan isakan yang memaksa meluncur dari bibirnya.

Dan kemudian, tanpa menunggu persetujuan dari sang Mahadewa. Armenia membaringkan tubuhnya di ranjang, mengambil posisi membelakangi Azhura Kahn dan bergelung miring sambil memeluk dirinya sendiri laksana posisi janin di dalam kandungan.

Hening dan Lama.

Tidak ada suara apapun, seolah Azhura Kahn sendiri tidak tahu harus berbuat apa.

Armenia memejamkan mata, membiarkan bening mengalir dari sudut matanya, jatuh membasahi bantal, menangis dalam diam.

Lalu gemerisik jubah sang Mahadewa terdengar. Azhura Kahn mendekat, dan naik ke atas ranjang, membuat sisi lain ranjang melesak ke arahnya. Sang Mahadewa hanya berbaring miring di sana, membiarkan Armenia memunggunginya dengan pundak bergetar menahan tangis.

Kemudian lelaki itu mendekat dan lengannya memeluk tubuh Armenia dari belakang. Sebuah kecupan lembut mendarat di pelipis Armenia, kecupan lembut permintaan maaf,

“Isteriku. Maafkan aku.”

Suara permintaan maaf Azhura Kahn mengalun lembut, bagaikan buaian yang menghantarkan kepedihan Armenia terbang ke alam mimpi.

***

Ketika membuka mata, Armenia menyadari bahwa dirinya ada di tempat asing.

Matanya memandang sekeliling, ke area pohon mengerikan berwarna hitam dengan wujud seram laksana monster malam yang mengulurkan sulur-sulur dahannya seolah ingin mencekik dirinya. Didongakkannya kepalanya mencari sumber cahaya, tetapi tidak ditemukannya apa-apa, langit gelap di atas sana bahkan lebih legam dari hitamnya tanah dan pepohonan.

Armenia terpaku, menggigil ketakutan karena ngeri. Suasana di hutan berwarna hitam ini terasa menakutkan, membuat bulu kuduknya berdiri. Apalagi samar-samar, tercium wangi dupa angro mainu yang mengerikan. Dupa kematian yang mengiringi pencabutan jiwa-jiwa ke dalam istana dewa kematian.

Dikelilingi kegelapan pekat itu membuat Armenia hanya bisa bergeming. Dia tidak berani bergerak, tidak berani melakukan apapun  karena takut menginjak sesuatu atau menabrak sesuatu yang jahat. Tubuhnya mulai gemetaran, perpaduan antara ketakutan dan kedinginan akibat hawa dingin mistis yang menusuk kulitnya.

Lalu suara gemerisik itu terdengar, membuat Armenia terkesiap dan mencari arah suara.

Suara gemerisik itu terdengar lagi, memicu jantung Armenia berdebar lebih keras.

Apakah itu hewan buas yang akan memangsanya?

Armenia menghela napas pendek-pendek ketakutan, tiba-tiba ingin menangis dan memohon perlindungan Azhura Khan baginya.

Dan kemudian sosok itu muncul di kegelapan. Sosok yang sama, dengan selubung keperakan yang nampak kontras dengan kegelapan yang melingkupinya. Sosok sang Dewa kematian

Sosok itu tersenyum lembut kepada Armenia, seolah-olah ingin menenangkan ketakutannya. Dan kemudian sapaan itu terdengar lagi, dengan nada tak kalah lembut dari senyumannya,

“Kita bertemu lagi, Armenia.”

Armenia mengerutkan keningnya mendengar sapaan itu merasa bingung bagaimana dia bisa bertemu lagi dengannya, tetapi matanya kemudian menangkap gerakan di belakang sang Dewa kematian. Ada orang lain di sana, berdiri tenang di belakang sang Dewa kematian.

Sang Dewa kematian meminggirkan tubuhnya, memberi jalan bagi Armenia supaya bisa melihat siapa yang ada di belakangnya.

Dan Armenia melihat sosok perempuan itu, perempuan setengah baya yang sangat cantik, dengan rambut hitam panjang dan mata yang sama dengan matanya.

Perempuan itu tersenyum lembut penuh kasih, membuat hati Armenia dibanjiri emosi aneh tak terkendali

Emosi itu…. adalah rasa rindu. Rasa rindu yang meluap-luap hingga air mata Armenia mengalir tanpa disadari.

Perempuan itu menatap Armenia dengan tatapan yang sama, lalu sebuah panggilan lembut keluar dari bibirnya,

“Putriku….” ujarnya, memecah kegelapan menjadi berjuta haru.

305 Komentar

  1. :DORONG

  2. Ikut sedih dg permintaan maaf sang Azura

  3. Jgn terkecoh Armania :gakterima :gakterima

  4. :berharapindah :berharapindah

  5. Firdhanarasantika menulis:

    Awass jebakan armenia…

    1. Firdhanarasantika menulis:

      Hmmmmm…

  6. Nyesel kan yazza? Gak nurut laikas sih, kapok!

  7. Elsa Siregar menulis:

    :kisskiss

  8. Airaqyoung1215 menulis:

    Paling kesel kalau yazza keluar :bantingkursi . Hmmm jahatttt :bantingkursi . Benci banget :bantingkursi . Sayang azhura & armenia :kisskiss . AA couple :kisskiss .

  9. Airaqyoung1215 menulis:

    AA Couple forever…..
    :iloveyou :iloveyou

  10. Citracahyani menulis:

    (╯_╰)(╯_╰)(╯_╰)

  11. Dhian Sarahwati menulis:

    Jangan terpengaruh Armenia…yazza culas,bisanya Dateng lewat mimpi…

  12. :huhuhu

  13. Yazza kicik bgt, pake muncul di mimpi

  14. Mamita Fatih menulis:

    :huhuhu

  15. Apa yg sdg direnckn yazza?

  16. Kesel sama yazza :bantingkursi

  17. Yaaahhh… Armenia masuk perangkap 😌

  18. Sebenernya dari awal baca di wattpad, paling kasian sama yazza, beruntungnya yazza dibuat cerita versinya, terimakasih kak sairaakira

  19. Yazzaaa

  20. yazza ada ceritanya sendiri juga ya?

  21. Bella Miacara menulis:

    Jealous..

  22. Nismaulida wardani menulis:

    :kumenangismelepasmu

  23. dwioktapia30 menulis:

    :gakmauahgakmau :gakmauahgakmau :gakmauahgakmau

  24. yasmin cavelli menulis:

    ❤️

  25. dewantilaraswaty menulis:

    :luculuculucuih :DUKDUKDUK

  26. Kinky Rain menulis:

    :backstab

  27. shanaya_lee menulis:

    :gakmauahgakmau :gakmauahgakmau :gakmauahgakmau

  28. Eva Sri julianti menulis:

    :panikshow :luculuculucuih

  29. Arfiah Winona menulis:

    Astaga… Mempengaruhi Armenia lewat mimpi..

  30. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  31. Tetap azhura Armenia 😍

  32. Mamita Fatih menulis:

    :habisakal

  33. Sweet bangettt

  34. Oh nooooo…

Tinggalkan Balasan