azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 7 : Kau isteriku, dan Aku Tidak Mau Ditolak

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.195 votes, average: 1,00 out of 1 (3.195 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

“Melamarku?”,

Tanpa sadar Armenia memundurkan langkahnya sekali lagi hingga punggungnya menabrak dinding. Mata emasnya yang indah membelalak tak percaya, memandang sang ayah dan lelaki asing itu berganti-ganti.

Armenia setengah berharap bahwa ayahnya hanya bercanda, tetapi ekspresi sang ayah menunjukkan hal yang sebaliknya. Dan bahkan…. kata-kata ayahnya berikutnya malahan semakin menegaskan betapa seriusnya hal ini,

“Ibumu dulu adalah salah satu perempuan dari suku pemburu di seberang sungai Garaya. Zhura Al Gul adalah putera dari kepada suku, keturunan langsung bangsawan dari petinggi Garaya, dan beliau sudah dijodohkan denganmu sejak kecil. Beliau sekarang kemari untuk memenuhi perjanjian pertunangan dulu, dengan melamarmu untuk menjadi isterinya.” Daika menghentikan kata-katanya dan menatap wajah Armenia yang tampak pucat pasi.

Daika itu mengerutkan keningnya dengan cemas ketika menyadari betapa pucatnya Armenia, “Kau tidak apa-apa Armenia? Hal ini mungkin terlalu tiba-tiba untukmu….”

Sebelum Armenia sempat memberikan jawaban, lelaki asing itu membuka mulutnya dan menyela,

“Mungkin kau  bisa meninggalkanku berdua dengan Armenia, Daika.” Zhura Al Gul menyela kalimat Daika dengan suara yang tenang tetapi penuh wibawa.

Dan sekali lagi, meskipun hanya sekejap, Armania melihat bahwa sang ayah tampak menahan diri untuk tidak bersujud di depan lelaki itu.

Armenia mengawasi dalam diam meskipun benaknya bertanya-tanya. Kenapa ayahnya bersikap begitu hormat kepada lelaki itu? dan kenapa Zhura Al Gul juga bersikap arogan dengan kata-katanya yang seolah sedang berbicara dengan pelayannya? Apakah karena posisi lelaki itu sebagai anak kepala suku dan keturunan langsung bangsawan tertinggi yang membuatnya otomatis berkedudukan lebih tinggi dibanding yang lain?

Daika sendiri sedikit menganggukkan kepalanya menanggapi kata-kata Zhura Al Gul, lalu menatap Armenia kembali,

“Zhura Al Gul benar, ayah akan memberi kesempatan kalian berdua bercakap-cakap tanpa ada gangguan. Mungkin Zhura Al Gul bisa menjelaskan secara langsung dengan lebih baik.” Dan kemudian, tanpa kata-kata sendiri, sang ayah langsung beringsut pergi meninggalkan Armenia dan lelaki asing itu berduaan.

***

Ketika ditinggalkan hanya berduaan, Armenia melemparkan pandangannya kepada sosok tinggi di depannya dengan ragu.

Lelaki itu hanya berdiri diam di sana, mengawasi Armenia dengan mata emasnya yang dalam, dan hanya tersenyum tipis ketika Armenia memalingkan matanya, tak tahan ditatap seperti itu.

“Mari kita bicara di luar.” Zhura Al Gul bergerak, menghela Armenia ke arah pintu sehingga otomatis Armenia mengikutinya.

Mereka berdiri di teras rumah kayu itu lalu lalu berjalan menuruni tangga batu menuju rerumputan hangat di kaki mereka. Matahari bersinar cerah hari ini, mengeringkan embun-embun pagi yang menggelayuti dedaunan, sisa dari hujan deras semalam.

Langitpun tampak biru begitu cerahnya sehingga hampir berwarna putih, dan matahari bersinar tanpa ada halangan, tampak begitu besar seperti sebuah koin emas raksasa di ujung langit.

Zhura Al Gul berjalan meninggalkan Armenia di belakangnya dan melangkah mendekati kuda hitamnya yang masih berdiri dengan setia tanpa diikat di samping halaman rumah, sehingga mau tak mau Armenia mengikutinya.

Kuda hitam itu sangat besar dan berotot, tingginya punggungnya bahkan lebih dari tinggi kepala Armenia. Keempat kakinya ditumbuhi bulu beriap-riap berwarna hitam yang tampak sehalus sutera, sementara surainya sendiri begitu panjang sehingga hampir menutupi keseluruhan lehernya. Kuda itu bermata biru, dan mengeluarkan suara ringkikan senang ketika majikannya mendekat.

Armenia tidak pernah melihat kuda seperti ini sebelumnya, dia terpesona ketika melihat kuda ini dari kejauhan dan bahkan dia lebih terpesona lagi ketika melihat kuda ini dari dekat. Mungkin kuda ini, sama seperti pemiliknya adalah kuda dari ras unggulan yang hanya dinaiki oleh kaum bangsawan. Meskipun berwarna hitam legam, bulu-bulu kuda ini tampak berkilat sehat tertimpa cahaya matahari, dan Armenia menahan keinginannya untuk menyentuh surai kuda itu yang tampak lembut serta menyenangkan untuk disentuh.

Zhura Al Gul mengelus leher kudanya, kemudian menoleh ke arah Armenia,

“Kau ingin menyentuhnya?” tanyanya sambil tersenyum lembut.

Armenia sedikit ragu, mulanya dia menyangka Zhura Al Gul akan langsung membahas tentang lamaran mereka. Tetapi sekarang lelaki itu bersikap seolah-olah melupakan pembahasan penting tersebut dan malahan melakukan hal-hal lain yang tidak berhubungan.

Armenia mengerutkan keningnya dan menatap Zhura Al Gul yang masih menunggu jawabannya, dan kemudian dia memutuskan akan mengikuti arah permainan lelaki asing ini.  Armenia menganggukkan kepalanya dan melangkah dengan hati-hati, mendekat ke arah kuda yang besar itu, lalu berdiri diam, menatap Zhura Al Gul dan terdiam, tidak tahu harus berbuat apa.

Zhura Al Gul terkekeh melihat kecanggungan Armenia, diraihnya jemari Armenia dengan lembut dalam kungkungan jemarinya yang kokoh dan kuat, lalu diletakkannya tangan Armenia di punggung kuda hitam yang besar itu,

“Jangan takut, Baraga tidak akan menggigitmu. Nama kuda ini, Baraga, eluslah dia, dia sangat suka dielus, apalagi oleh perempuan  sepertimu.” Sambil bergumam begitu, jemari Zhura Al Gul yang kuat dan belum dilepaskan dari Armenia, menggerakkan tangan Armenia membentuk gerakan elusan.

Memang… bulu baraga sangat lembut, rasanya luar biasa, terasa ringan seperti kapas halus, tebal dan menenggelamkan jari-jarinya, pun hangat dan terasa sangat enak disentuh. Tetapi ada sensasi sentuhan lain yang malahan begitu mempengaruhi Armenia, telapak tangan Zhura Al Gul yang menangkup jemarinya terasa panas, kuat tetapi sekaligus nyaman, hingga Armenia sendiri tidak ingin melepaskannya.

Dan mereka berdua berdiri disana, berdampingan dengan kedua jemari menyatu, mengelus kuda hitam bersurai panjang yang tampak tenang dan damai, mungkin terpengaruh oleh suasana magis di sekelilingnya.

“Kau pasti sangat terkejut.” Suara Zhura Al Gul langsung memecahkan suasana magis yang melingkupi mereka, lelaki itu melepaskan jemarinya dari Armenia, membuat Armenia kehilangan sentuhan panas yang menjalari tubuhnya.

Dengan gugup Armenia meremas-remas jemari tangannya, mencoba menenangkan diri.

“Tentu saja. Aku tidak mengenalmu sebelumnya.” jawabnya cepat

Zhura Al Gul tersenyum, “Kau bisa memanggilku Zhura sebagai permulaan.” Matanya yang keemasan tampak membara, “Ya. Kau memang tidak mengenalku, tetapi aku sudah menunggumu sejak lama, Armenia.”

“Menungguku?” Armenia mengulang perkataan Zhura Al Gul sambil membelalakkan matanya, bingung dengan kesan misterius yang ditampilkan lelaki itu. “Apakah… apakah kau sudah tahu mengenai pertunangan ini sejak lama?”

Ada sinar geli yang berbinar di mata Zhura Al Gul ketika mendengar pertanyaannya, entah kenapa.

Lelaki itu bahkan tidak bisa menahan sudut bibirnya yang naik penuh ironi ketika berbicara.

Sudah lama sekali, Armenia, begitu lama sampai kau sendiri mungkin tidak bisa membayangkannya.” Lagi-lagi ada nada misterius di sana. “Aku dijanjikan untuk menikahimu di usiamu yang ke tujuh belas.” Zhura Al Gul menggerakkan jemarinya, menyapu sedikit rambut Armenia dengan lembut, “Dan aku datang kemari untuk menagih janji itu.”

Kata-kata Zhura Al Gul terdengar seperti sebuah titah yang tak terbantahkan dari sang Raja. Lelaki ini sepertinya selalu terbiasa dipatuhi, selalu terbiasa mendapatkan apa yang diinginkannya….

Tiba-tiba saja, Armenia merasakan dorongan untuk melawan kehendak lelaki itu,

“Bagaimana kalau aku tidak mau menikah denganmu?” jawabnya cepat, sedikit menantang.

Mata Zhura Al Gul menyipit dan seketika membara oleh kemarahan, Lelaki itu tiba-tiba saja tampak begitu berbahaya hingga Armenia merasa menyesal telah menantangnya.

Tubuh Zhura Al Gul tampak mengancam ketika lelaki itu melangkah maju, mendekati Armenia, membuat Armenia memundurkan langkahnya lagi ketika merasakan dorongan untuk melindungi dirinya.

Zhura Al Gul berhenti, dan mengamati Armenia, menyadari bahwa perempuan itu ketakutan, lalu seberkas senyum tipis muncul di bibirnya, berlawanan dengan matanya yang bersinar mengancam.

“Aku terkadang bisa murah hati kalau aku mau.” Suaranya lembut dan tenang, tetapi entah kenapa jantung Armenia berdegup cemas. Zhura Al Gul mengulurkan tangannya dan kali ini, entah tertahan oleh kekuatan apa, Armenia tidak bisa bergerak, membiarkan ujung jemari kuat lelaki itu menyentuh sisi rahangnya dengan lembut, lalu jemari itu merayap naik ke atas hingga menangkup seluruh sisi pipinya dengan sentuhan seringan bulu, “Tetapi aku sangat menginginkanmu Armenia, dan aku sedang tidak ingin bermurah hati. Jadi, jika aku tidak bisa mendapatkmu, akan kubuat seluruh dunia ini menanggung derita karena kemarahanku atasmu.”

Armenia terpaku mendengar kata ancaman yang sedikit menakutkan itu, dan dia masih terpaku di sana, sedikit terkesiap ketika Zhura Al Gul tiba-tiba saja membungkukkan tubuhnya dan menundukkan kepalanya, kemudian dengan lembut mendekatkan bibirnya ke bibir Armenia.

Dan kemudian mengecupnya dengan lembut…. amat sangat lembut. Bibir lelaki itu terasa keras sekaligus halus, panas dan menghantam seakan lumer diantara pertautan bibir mereka, dan menyisakan kemanisan madu yang luar biasa yang melumuri bibir Armenia. Lelaki itu melumat bibir Armenia dengan begitu ahli dan penuh kerinduan, seakan-akan sudah menunggu seumur hidupnya untuk melakukan ini.

Ciuman itu singkat, tetapi ketika Zhura Al Gul selesai, tubuh Armenia serasa lumer, meleleh seperti cairan panas hingga dia terhuyung kehilangan keseimbangannya.

Jemari tangan Zhura Al Gul menahan pundak Armenia dengan kokoh, bibirnya menyisakan senyum di sana ketika melihat reaksi Armenia.

“Kau milikku, Armenia. Isteriku. Dan aku…. tidak pernah dan tidak ingin ditolak.” Lelaki itu menekankan kata-katanya seolah itu adalah sebuah perintah yang tak terbantahkan, lalu dengan gerakan cepat menaiki kudanya, membungkukkan badannya sedikit dari atas kudanya kepada Armenia untuk berpamitan, lalu memacu kudanya membalikkan badan, dengan cepat berderap meninggalkan Armenia ke arah hutan.

Armenia masih berdiri di sana beberapa lama, sampai sosok Zhura Al Gul menjadi titik hitam di kejauhan, lalu menghilang ditelan rimbunan pepohonan hutan Garaya.

Jemarinya bergetar ketika bergerak menyentuh bibirnya. Kehangatan di sana masih tersisa. Zhura Al Gul telah mencium bibirnya, dan rasanya seolah-olah lelaki itu telah mengklaim kepemilikannya dengan meninggalkan cap panas di sana….

***

“Siapa sebenarnya Zhura Al Gul itu, ayah?” Armenia duduk di meja dapur, menatap cemas ke arah Daika yang sedang menyibukkan diri dengan susu panas yang diaduknya di dalam panci tanah liat di atas api perapian.

Daika hanya menolehkan kepalanya sedikit ketika menanggapi pertanyaan Armenia, “Beliau adalah calon suamimu sejak lama, Armenia. Perjanjian itu sudah dibuat jauh sebelum dirimu dilahirkan.”

Armenia mengerutkan keningnya, “Siapa yang membuat perjanjian itu, ayah? Apakah keluarga ibu? Kalau dia dari keluarga bangsawan, kenapa dia dijodohkan dengan rakyat jelata sepertiku?” Ayahnya tadi menyebut bahwa ibunya berasal dari suku pemburu, dan Armenia berpikir mungkin keluarga ibunya yang telah membuat perjanjian pernikahan ini. Armenia bertanya-tanya kenapa bisa dirinya yang dijodohkan dengan bangsawan setinggi Zhura Al Gul.

Daika menghela napas panjang, sejenak hening seolah tidak tahu harus berkata apa. Kemudian beranjak, mengangkat susu panas di panci yang sudah mendidih dan meletakkannya di meja dapur, susu itu akan didinginkan hingga setengah hangat untuk kemudian diolah kembali.

Daika lalu duduk di seberang meja Armenia, mengulurkan tangannya dan menggenggam lembut jemari Armenia.

“Armenia janganlah kau mempertanyakan semua ini, terimalah ini sebagai sebuah takdir yang harus kau jalani. Apapun alasan yang terjadi sebelumnya, yakinlah bahwa pernikahan ini adalah yang terbaik yang sudah ditakdirkan untukmu. Zhura Al Gul berasal dari kalangan yang termulia, dan kau adalah perempuan yang sangat beruntung karena dia akan melindungimu sepenuh hatinya ketika kau menjadi isterinya.

***

Di ujung sebuah gunung yang tandus dengan nuansa gelap, berdiri sebuah istana megah yang dipenuhi bayang-bayang kegelapan. Warna hitam pekat melingkupi seluruh kawasan itu, tanahnya berwarna gelap sehingga nyaris hitam, pepohonan yang tumbuh di sana adalah pepohonan kubikh, pohon yang sangat beracun dari ujung daunnya sampai ke akarnya dan karena muatan racunnya yang sangat banyak, hampir seluruh sisi pohon itu berwarna hitam.

Pepohonan Kubikh biasanya sangat jarang tumbuh di hutan Garaya dan hanya ada satu atau dua saja, itupun hanya ada di tengah-tengah hutan lebat Garaya yang sulit dicapai oleh kaum awam. Menurut mitos, pohon Kubikh ini membutuhkan energi gelap dari kematian untuk dapat tumbuh subur, karena itulah meskipun terkenal sebagai bahan racun yang sangat ampuh, pohon ini sangat sulit ditemukan. Para ahli racun biasanya harus menembus hutan lebat yang tidak terjamah untuk menemukan pohon ini, dan jika mereka menjualnya, biasanya harganya jadi sangat mahal mengingat sangat sulit mendapatkannya.

Tetapi di perbukitan ini, di kawasan terlarang yang belum pernah tersentuh manusia ini, seluruh tanahnya  ditumbuhi pohon Kubikh hingga tampak seperti selimut hitam yang menghampar tanpa batas. Cahaya seakan enggan berbagi dengan kawasan itu, hingga suasananya selalu gelap, pekat seperti malam.

Meskipun begitu, di dalam istana megah yang terbuat dari batu hitam itu, ada kehidupan…..

Kehidupan di istana itu berjalan seperti biasa, layaknya sebuah kerajaan dengan berbagai mahluk yang bergerak keluar masuk menjalankan tugasnya. Sayangnya, mahluk-mahluk itu bukanlah manusia. Penampilan mereka sangat menakutkan jika dibandingkan dengan manusia, dengan tubuh bersisik seperti ular, tanduk tajam di kepala mereka, cakar-cakar panjang di tangan mereka, dan ekor berduri yang sangat beracun di belakang tubuh mereka.

Mahluk itu disebut Azalel yang artinya adalah ‘pesuruh kematian’. Bagi kalangan manusia, Azalel hanyalah mahluk mitologi di dalam dongeng-dongeng anak kecil yang diceritakan secara turun temurun,kadang-kadang digunakan untuk menakuti orang-orang. Bagi manusia, Azalel hanyalah mitos, karena Azalel memang tidak pernah menampakkan diri didepan manusia, tugas Azalel hanyalah melayani ‘Sang Kematian’ kalaupun mereka harus muncul di dunia manusia atas perintah ‘Sang Kematian’, biasanya mereka berubah wujud menjadi manusia.

Ya, istana gelap pekat dan menakutkan ini berada di bawah kekuasaan dewa terkutuk yang sering disebut sebagai ‘Sang Kematian’.

Dan saat ini, ditengah istana dingin yang gelap pekat, sosok ‘Sang Kematian’ sedang duduk dengan tenang, memejamkan mata diatas singgasananya yang dipenuhi batu-batu permata gelap, dewa itu tampak seolah sedang tidur dengan tenang, meskipun seluruh inderanya sedang terjaga sempurna. ‘Sang Kematian’ sedang menidurkan raganya untuk waktu yang lama, menunggu saat yang tepat untuk terbangun.

Di depannya, salah seorang pelayan tertingginya sedang membungkuk memberi hormat, dan bergumam dengan suara rendah, seolah berbisik.

“Besok adalah hari ulang tahun perempuan itu yang ketujuh belas.” Pelayan itu melaporkan informasi yang diperolehnya dengan penuh hormat, lalu menatap ‘Sang Kematian’.

Sang Kematian bergeming. Sosok lelaki yang mengenakan jubah hitam panjang itu tampak tidak bergerak dari singgasananya dan tidak memberikan reaksi, bagaikan patung di atas singgasananya,

“Pendeta tertinggi Garaya sedang mempersiapkan upacara persembahan puteri Khaeva kepada Azhura Kahn. Setelah upacara persembahan itu, maka pengantin sang Azhura akan berguna bagi kita.” sambung sang pelayang sambil menatap sosok ‘Sang Kematian’, dan menunggu, matanya dengan awas menanti gerakan sekecil apapun dari junjungannya..

Kalimat terakhir itu membuat sosok ‘Sang Kematian’ sedikit bereaksi, matanya yang seolah tertutup kemudian terbuka, menampakkan bola mata hijau yang cemerlang.

Ya, semua orang ketakutan kepada ‘Sang Kematian’, dia diceritakan sebagai sosok yang sangat menakutkan, kehadirannya selalu berhubungan dengan kematian umat manusia, karena tugasnya adalah menjaga dunia bawah, dunia kematian yang mengerikan.

Tetapi mungkin tidak akan ada manusia yang menyangka bahwa sosok sang kematian sendiri sangatlah tampan, matanya berwarna hijau terang yang mempesona, rambutnya  berwarna perak berkilauan, dibiarkan memanjang dengan anggun hingga melewati pundaknya.

Setiap orang yang melihatnya pasti akan berpikir bahwa penampilan sang Kematian malah lebih bisa dikatakan seperti penampilan malaikat yang amat sangat sempurna. Apalagi dengan senyum dingin di bibirnya sekarang, senyum yang cahayanya tidak sampai ke matanya,

“….. Dan setelah itu, aku akan bisa membunuh Azhura Kahn.”

Sang Kematian bergumam dengan suaranya yang halus bagaikan bisikan yang dialirkan oleh semilir angin, suara itu pelan, tetapi membuat bulu kuduk berdiri karena seperti menyimpan janji-janji mengerikan di balik kata-katanya….

***

Azhura Kahn membuka matanya. Sinar merah di bola matanya menyala terang, membuat sosoknya menjadi tampak menakutkan. Sang Mahadewa berdiri dan menatap ke arah perbukitan gelap tak bercahaya yang berada begitu jauh dari tempatnya berada. Perbukitan itu hanya bisa dilihat dari mata batinnya.

Ancaman itu terdengar hingga ke telinganya…..

Suara yang berbisik di telinganya itu sudah sangat lama tidak didengarnya, tetapi dia masih tetap mengenalinya.

Suara itu adalah suara ‘Sang Kematian’  yang bangkit dari singgasananya setelah beribu tahun lamanya. Dan sepertinya, ‘Sang Kematian’ telah bangkit untuk menuntut balas.

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

232 Komentar

  1. yasmin cavelli menulis:

    reread ❤️

  2. dwioktapia30 menulis:

    :endingnyagimanaini?

  3. Antika Hadinata menulis:

    :ayojadian

  4. shanaya_lee menulis:

    :syalalalasyalili :syalalalasyalili :syalalalasyalili

  5. :luculuculucuih ya

  6. Bella Miacara menulis:

    Sweet seven..

  7. Indah Narty menulis:

    Baca ulang lagi :sebarcinta

  8. Musuh mulai terlihat

  9. PujiAstuti7 menulis:

    :backstab

  10. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta

  11. Mamita Fatih menulis:

    :NGAKAKGILAA

  12. Aduu aduuu baperr

  13. Shelli Novianti menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi

  14. Azhura

  15. Baper

  16. Azhura di part-part awal kejam eyy

  17. Ariyantipita menulis:

    :NGAKAKGILAA :awaskubalasnanti :haisalamkenal

Tinggalkan Balasan