azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 16 : Karena Aku Mencintaimu, Isteriku

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.141 votes, average: 1,00 out of 1 (3.141 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

“Jadi benar, Azhura Kahn-lah yang telah membunuh Khaeva puteriku?” Ruth terisak dengan suara parau, air matanya kembali menetes, membasahi pipinya.

Pemuda tampan yang bernama Yazza ini membawanya ke sebuah rumah di dekat lokasi pertemuan mereka tadi.  Rumah yang cukup indah, terbuat dari batu yang dipecah berwarna hitam dan disusun menjadi dinding-dinding yang kokoh, dan meskipun tampak menakutkan di bagian luarnya, bagian dalam rumah ini cukup hangat, sangat kontras dengan udara di luar yang mulai membeku karena malam mulai datang dan sang bulan mulai menggayuti langit.

Ruth duduk di kursi berlapis selimut tebal nyaman yang disediakan untuknya di dekat perapian. Kedua jemarinya mengambang ke depan, berusaha mendapatkan rasa hangat untuk mencarikan dingin yang membeku di kedua telapak tangannya.

Pemuda tampan yang memperkenalkan dirinya bernama Yazza itu tampaknya cukup berkecukupan, karena dia memiliki beberapa pelayan yang langsung menyiapkan sup hangat untuk Ruth begitu mereka datang tadi, sup hangat itu langsung dilahap oleh Ruth dengan rakus karena ternyata dia benar-benar kelaparan.

Setelah menunggu Ruth menyelesaikan menyantap makanannya dan kenyang perutnya, pemuda bernama Yazza itupun lalu bercerita, bahwa saudaranya juga telah mati di tangan Azhura Kahn, sama seperti yang dilakukan oleh Azhura Kahn kepada Khaeva.

Lokasi Rumah Yazza memang sangat aneh, rumah itu ada di tengah hutan, di luar perbatasan Gayara, hanya berdiri sendiri tak bertetangga. Meskipun begitu, ini merupakan tempat tinggal yang nyaman dan kalau diperbolehkan, tentu saja dengan senang hati Ruth bersedia untuk tinggal di rumah itu selamanya.

Daripada tidur di tengah dinginnya hutan tanpa selimut dan perlindungan apapun, tentu saja rumah ini seratus kali lebih baik.

Apalagi dengan pelayan-pelayan yang tampak patuh. Mata Ruth mengamati dua pelayan Yazza yang berdiri tegak seolah tak bergerak di belakang tuannya. Kalau Ruth boleh tinggal di sini, dia akan hidup nyaman karena pelayan-pelayan itu sepertinya tidak keberatan melayaninya juga.

Yazza hanya berekspresi datar melihat Ruth menangis terisak-isak, dan dengan lembut mengulurkan sebuah saputangan berwarna putih yang langsung disambar oleh Ruth untuk mengusap air matanya yang berleleran.

“Azhura Kahn sebenarnya adalah dewa yang sangat jahat.” Mata Yazza menggelap ketika menatap Ruth, “Nyonya, apakah kau tahu, bahwa sebenarnya Azhura Kahn sudah ingin menerima Khaeva sebagai isterinya?dan kemudian dia merubah pikirannya?” Yazza menyipitkan matanya, ketika mulai menanamkan bibit-bibit kegelapan penuh hasutan jahat di benak Ruth.

Ruth membelalakkan matanya, “Benarkah? Darimana kau mengetahuinya?”

Yazza memundurkan punggungnya, duduk dengan tenang di kursinya, “Tidak perlu kujelaskan, Nyonya. Selama ini untuk mencari jalan membalaskan dendam saudariku, aku telah menyelidiki sang Azhura Kahn, dan sepengetahuanku, Sang Mahadewa sebenarnya sudah menerima Khaeva menjadi isterinya, kau melihat sendiri kan api obor yang menyala serentak ketika puterimu memberikan persembahan pertamanya?”

Ruth menganggukkan kepalanya, tentu saja…. waktu itu, sama seperti Khaeva, dia yakin bahwa sang Azhura Kahn sudah menerima persembahan Khaeva.

“Tetapi kalau dia menerima Khaeva, kenapa kemudian Azhura Kahn membunuh anakku?” Mata Ruth berkaca-kaca, mengingat senyum bahagia Khaeva setelah persembahannya, “Dengan cara yang begitu keji pula!”

Yazza menyipitkan matanya, menatap Ruth dengan penuh perhitungan, mengamati reaksi perempuan tua itu dengan kedua mata hijaunya yang tajam.

“Karena, Nyonya…. sang Mahadewa Azhura Kahn bertemu dengan seorang perempuan bernama Armenia.”

Mata Ruth membelalak lebar, mulutnya menganga dan suara yang keluar dari sana adalah pekikan yang luar biasa kaget,

“Armenia?!”

“Apakah anda mengenal Armenia?” Yazza tersenyum penuh manipulasi, pura-pura memberikan pertanyaan itu meskipun sebenarnya dia telah mengetahui jawabannya. Dia sudah membaca seluruh ingatan Khaeva tanpa tersisa, dia tahu bahwa Armenia adalah sepupu Khaeva, keponakan kandung Ruth sendiri.

Ruth sendiri menelan ludahnya, gelagapan, dia memalingkan mukanya, tak tahan ditatap oleh mata hijau Yazza yang sekaan menusuk nuraninya.

“Eh… Armenia… aku punya seorang keponakan bernama Armenia.” Suara Ruth seolah tertelan di tenggorokannya, “Dia dia hilang ketika berumur sepuluh tahun, kami mengira dia tersesat di hutan dan mati dimakan binatang liar di sana.” Ruth tidak mau menceritakan bahwa sebenarnya yang menerima persembahan langsung Azhura Kahn adalah Armenia, bukan Khaeva. Perempuan tua itu menatap Yazza dengan penuh rasa ingin tahu, “Apakah yang kau maksud ini adalah Armenia yang sama? Apakah dia masih hidup?”

Yazza tak bergeming ketika menjawab. “Mungkin saja dia Armenia yang sama, dan dia memang masih hidup.” Ada seny]um dingin di mata Yazza. “Tahukah kau Nyonya, ketika bertemu dengan Armenia ini, sang Azhura Kahn langsung memalingkan hatinya dari Khaeva, dan kemudian, supaya Khaeva tidak menghalangi hubungannya dengan Armenia, maka sang Mahadewa Azhura Kahn-pun melenyapkan Khaeva….” Mata Yazza berbinar senang ketika melihat Ruth tersengal, tersulut emosinya mendengarkan hasutan Yazza. “Azhura Kahn telah membunuh puterimu dengan sangat keji, itu semua karena Armenia.”

Kemarahan di mata Ruth yang seolah akan meledak karena emosi tampak menakutkan, napas perempuan tua itu tersengal, penuh dendam, rasa iri dan kebencian yang meluap-luap.

“Anak perempuan busuk itu!!” teriaknya marah, “Seharusnya aku melenyapkannya dari dulu!!”

Yazza tersenyum melihat reaksi Ruth,

“Kau akan punya kesempatan untuk melakukannya, Ruth, tetapi setelah aku mendapatkan keinginanku.”

Ruth, yang masih tersengal karena emosinya, menatap Yazza penuh ingin tahu,

“Apa maksudmu?” tanyanya kemudian.

Yazza menatap tajam ke arah Ruth.

“Kita berdua sama-sama ingin Azhura Kahn mati. Dan tahukah kau Nyonya? Bahwa hanya Armenialah yang bisa membunuh sang Mahadewa. Kau akan membantuku mendapatkan Armenia, lalu kita membuat Armenia membunuh Azhura Kahn, dan setelah Azhura Kahn mati, aku akan memberikan Armenia kepadamu untuk kau perlakukan sesuka hati. Kau bisa membunuh Armenia, duri dalam daging di kehidupanmu.”

Tawaran Yazza terasa sangat menggoda Ruth,

“Bagaimana caranya aku bisa membantumu?” Pikiran-pikiran kejam mulai berlarian di benak Ruth, membayangkan apa yang akan dilakukannya kalau dia mendapatkan Armenia, keponakan sundalnya yang sama busuknya seperti ibunya, selalu merenggut apapun yang seharusnya menjadi milik Ruth dan Khaeva, Armenia adalah penyebab Khaeva dibunuh, dan Ruth pasti akan menyiksa Armenia dengan kejam sebelum membunuhnya, itu pasti!

Yazza bangkit berdiri, menuang minuman dan menyesapnya pelan di depan perapian, lelaki tampan itu tampak begitu dingin….. seluruh tubuhnya menguarkan aura dingin bahkan ketika dia berdirii di depan perapian panas yang berkobar.

“Kau pasti akan membantuku Nyonya… pasti akan ada caranya bagimu….” Ada senyum di sana, senyum yang mengisyaratkan sebuah rencana jahat yang tersusun rapi, rencana jahat penuh dengan kegelapan yang hendak menelusup pelan-pelan untuk menghancurkan Azhura Kahn

***

“Bolehkah aku bergabung denganmu, isteriku?”

Suara sang Azhura begitu tipis, seolah tersapu kabut emas yang meruap ke udara. Tapi Armenia mendengarnya dengan begitu jelas, seolah suara itu dibisikkan dengan lembut di telinganya.

Dia harus menjawab apa?

Bagaimana mungkin Armenia menolak, sang Mahadewa, yang berdiri dengan begitu arogan, begitu tinggi, begitu berkuasa seolah tidak bisa ditolak?

Armenia terdiam, menundukkan kepalanya menatap minyak Arozhyukure yang bergelembung di sekitarnya, menanti dalam keheningan yang panjang.

Mungkin sang Azhura Kahn menganggap bahwa sikap diam Armenia merupakan tanda persetujuan, karena tanpa menunggu jawaban dari Armenia, Azhura Kahn melangkah memasuki kolam itu, suara percikan terdengar ketika perlahan kakinya melangkah memasuki kolam minyak Arozhyukure, membuat Armenia gemetar ketakutan.

Dia tidak berani menoleh ke arah sang Azhura Kahn, karena dia menyadari bahwa mungkin saja…. sang Azhura Kahn tidak mengenakan sehelai benangpun di tubuhnya, sebab dari ekor matanya, dia melihat jubah mandi berwarna emas itu telah ditanggalkan di pinggir kolam.

Lalu tangan yang kokoh itu menyentuh pundak Armenia dengan lembut, membalikkan badan Armenia dan menghadapkannya kepada sosok sang dewa yang telanjang. Bagian dada dan lengannya tampak begitu kokoh, dan begitu jantan…. sementara itu bagian pinggangnya tenggelam di dalam kelembutan minyak arozhyukure yang berwarna emas, menciptakan siluet menggoda yang membuat Armenia merasa semakin malu.

Udara di dalam ruangan tampaknya terserap habis oleh pesona sang Azhura Kahn, hingga Armenia mulai terengah, terlebih ketika Azhura mengulurkan jemarinya dan menyentuh dagu Armenia supaya mendongak membalas tatapannya,

“Kau selalu menundukkan kepalamu dan gemetaran bila di depanku.” Azhura Kahn sedikit membungkukkan tubuhnya, mendekat ke arah Armenia, “Apakah karena aku seorang dewa? Kemarin ketika aku berwujud manusia, dengan berani kau mendongakkan dagumu dan menantangku.” Ada senyum di sudut bibir sang Mahadewa, “Kemanakah gerangan isteri mungilku yang galak dan pemberani?”

Armenia menatap bola mata merah itu dari balik kabut keemasan, bibirnya bergetar ketika bergumam menyuarakan pertanyaannya,

“Kenapa aku yang dipilih sebagai pengantin Sang Mahadewa?”

Pertanyaan itu terus menghantui Armenia dia masih kebingungan dengan semua hal yang tiba-tiba bergerak begitu cepat di dalam dunianya, Beberapa hari yang lalu, dia masihlah seorang perempuan biasa, yang hidup dalam kebagagiaan di kesederhanaan sebuah peternakan, memiliki mimpi gadis biasa untuk menikah dengan seorang peternak seperti ayahnya dan kemudian hidup bahagia di peternakan mereka sendiri. Tidak pernah terbayangkan olehnya bahwa dia akan berada di sini…. di dalam istana sang Azhura dan menjadi isteri sang Mahadewa. Kenapa sang Azhura Kahn memilihnya? Dan bagaimana dengan ayahnya? Apakah ayahnya mengetahui semua ini?

Mata Azhura Kahn sendiri tampak melembut mendengar pertanyaan Armenia. Tentu saja dia bisa memahami kebingungan isterinya. Jemarinya menelusuri pipi Armenia lembut, bibirnya mendekat, hingga hanya tersisa satu inci dari bibir Armenia yang bergetar, sang Mahadewa meniupkan napasnya yang panas ke bibir isterinya ketika berkata,

“Karena aku mencintaimu, Armenia, isteriku.” Azhura Kahn menjawab pertanyaan Armenia dengan jawaban singkat, tetapi mencerminkan segalanya. Nanti, dia akan menjelaskan semuanya, tetapi itu nanti. Sekarang, dia akan memiliki isterinya, jiwa dan raga.

Lalu bibir Azhura Kahn yang kokoh mengecup bibir Armenia dengan lembut. Tenggelam di dalam kemanisannya yang memabukkan.

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

233 Komentar

  1. Waw…..😍😍😍😍

  2. UH OKAAYY HBGSBHSSSKSKSSK 😍😍😍

  3. dwioktapia30 menulis:

    :ayojadian :ayojadian :ayojadian :ayojadian :ayojadian :ayojadian :ayojadian :gaksabar :gaksabar

  4. dewantilaraswaty menulis:

    :bantingkursi :ayojadian

  5. Riyu Juteck menulis:

    :boboyuk :menor

  6. shanaya_lee menulis:

    Aq jg mencintaimu Azhura :menor :menor :menor

  7. Indah Narty menulis:

    Wewww :DUKDUKDUK

  8. Azzalea Dian menulis:

    :luculuculucuih

  9. Azhura khan love you :DUKDUKDUK

  10. dewantilaraswaty menulis:

    Eee bagian ini kok aku lupa yaaa,,
    Kwkwkw saking lamanya jadi lupa deh :luculuculucuih :luculuculucuih
    Armenia :sebarcinta

  11. Yuni Widaningsih menulis:

    Ga bisa ngomong :backstab

  12. Woww ku membaca ulang cerita ini di 2021 hihihi❣️

  13. ❤❤❤💖

  14. Shelli Novianti menulis:

    :habisakal

  15. Mamita Fatih menulis:

    :happy

  16. Suka armeniaa

  17. Manipulatif bangetttt..

  18. Keren

Tinggalkan Balasan