azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 1 : Rendezvous ( Pertemuan )

Bookmark

No account yet? Register

Ikuti terus Azhura’s Bire AB yang dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Temukan Novel Romantis Fantasi berkualitas lain hanya di Project Sairaakira PSA

3.487 votes, average: 1,00 out of 1 (3.487 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Armenia berlari turun mengikuti sepupunya dan anak-anak perempuan lain di desanya yang lebih dulu melangkah di depan, menuruni bukit. Mereka mengenakan pakaian berwarna orenge, sambil membawa keranjang penuh berisi bunga dan persembahan menuju ke kuil pemujaan terbesar.

Armenia sendiri memakai pakaian terbagus dari semua pakaian yang dia miliki, hari ini adalah hari istimewa, hari persembahan, dimana seluruh anak gadis di penjuru Garaya yang sudah cukup umur, dibawa menghadap ke kuil besar Azhura Kahn di pusat kerajaan, untuk pertama kalinya.

Sudah tradisi di Garaya, ketika anak gadis mereka menginjak usia sepuluh tahun, maka seluruh keluarga akan mengantarkannya ke kuil utama Azhura  Kahn untuk mengikuti upacara persembahan kepada sang Mahadewa. Upacara itu diadakan setahun sekali, pada awal musim semi yang ditandai dengan berkembangnya pucuk-pucuk bunga bakal buah dari pohon kulsu yang dedaunannya selalu berwarna orange terang.

Penduduk kerajaan memang sudah lama melupakan kata-kata sang Azhura, bahwa perempuan yang akan menjadi isteri sang Mahadewa akan dilahirkan di Garaya, tetapi mereka tetap mempertahankan tradisi turun temurun sejak lima ratus tahun yang lalu, untuk mempersembahkan anak gadis mereka kepada sang Azhura.

Dan hari ini adalah hari Armenia. Tentu saja dia tidak sendirian, ada ratusan anak gadis dari seluruh penjuru Garaya yang seusia dengannya, datang berbondong-bondong untuk mengikuti upacara persembahan. Mereka semua memakai pakaian yang sama, warna orange kemasan, warna khas penduduk Garaya sekaligus sebagai lambang pemujaan kepada sang Azhura Kahn.

Semua anak perempuan itu dihantarkan menuju ke pintu kuil dan berbaris sesuai urutan.  Kalangan keluarga bangsawan berbaris di bagian depan, dan anak-anak dari rakyat jelata seperti Armenia harus menunggu giliran di belakang. Mereka hanya boleh satu persatu memasuki kuil.

Di dalam akan ada beberapa pendeta kuil yang akan memandu mereka untuk meletakkan keranjang persembahan di kaki patung Azhura Kahn, keseluruhan prosesi bagi satu anak mungkin hanya memakan waktu satu menit.

Armenia menoleh ke belakang, tempat ibundanya berdiri di sana dan tersenyum ke arahnya. Sang ibu menyerahkan keranjang persembahan berisi buah kulsu yang telah dijadikan manisan, bunga-bunga indah berbagai warna dan seuntai kalung dari batu permata yang dibuat khusus untuk persembahan.

Mata Armenia memandang ke sekeliling, dan menyadari bahwa anak-anak lain juga membawa berbagai macam persembahan dalam keranjangnya, ada yang sederhana, ada yang terlihat sangat mewah. Persembahan untuk sang Azhura adalah yang terbaik yang mereka punyai, dan mereka percaya, bahwa sang Azhura akan menerima persembahan mereka dengan senang hati.

“Letakkan persembahan ini di kaki patung sang Azhura Kahn.” Bisik ibunya lembut, lalu mengecup keningnya dan menghelanya supaya mengikuti barisan anak-anak perempuan lain untuk memasuki kuil.

Dengan mata polosnya, Armenia memandangi pintu masuk kuil yang terbuat dari emas murni dengan ukiran-ukiran megah bertahtakan permata. Jantungnya berdegup penuh antisipasi. Anak-anak tentu saja telah mendengar kisah tentang sang Azhura yang menjelma menjadi patung ketika menyelamatkan kerajaan mereka, dan kisah tentang patung sang Azhura yang sekarang masih ada, dalam posisi yang benar-benar menghunuskan pedangnya seperti ketika sang Azhura membunuh Raja Savala, membuat Armenia sangat penasaran.

Ini adalah hari pertamanya melihat patung itu. Karena sebelum berusia sepuluh tahun, anak-anak perempuan dilarang memasuki kuil utama sang Azhura Kahn. Saat ini tentulah saat yang paling ditunggu-tunggu oleh semua anak perempuan yang ada bersamanya. Mereka semua menunduk tenang, berbaris satu persatu memasuki kuil menunggu giliran untuk meletakkan persembahan di bawah patung sang Azhura Kahn, meskipun Armenia yakin, semuanya bergetar penuh antisipasi.

Lama sekali rasanya menunggu giliran untuk memasuki kuil, apalagi bagi yang merupakan anak dari rakyat jelata yang harus menunggu giliran putri-putri bangsawan terlebih dulu yang jumlahnya ratusan anak. Mungkin lebih dari empat jam Armenia berdiri di sana, kakinya terasa lelah tapi dia bersemangat, anak-anak yang lain diperbolehkan duduk asalkan mereka tidak berpindah-pindah tempat dari barisan yang ditentukan.

Dan kemudian, setelah menunggu seolah selamanya, Armenia akhirnya berada di bagian depan di pintu kuil, mendapatkan gilirannya.

Seorang pendeta wanita tersenyum kepadanya, lalu membukakan pintu kuil itu untuknya, menganggukkan kepalanya dan mempersilahkan Armenia masuk. Dan ketika Armenia masuk ke dalam kuil itu, pintu ditutup di belakangnya.

Bagian dalam kuil itu redup, meskipun  keindahannya tetap nyata dibawah bayang-bayang sulur cahaya matahari yang menembus lubang-lubang berbentuk bulan sabit di dinding-bagian atas. Hiasan di dalam kuil itu sungguh megah, dengan langit-langit yang tinggi dan lantai marmer yang bercorakkan matahari, lambang sang Azhura Kahn.

Dengan ragu, Armenia melangkahkan kakinya pelan,  menuju tengah kuil yang lapang, dengan pilar-pilar tinggi di sekelilingnya.

Kenapa sepi sekali? Bukankah ibundanya bilang bahwa di dalam akan ada pendeta-pendeta wanita yang akan membantunya memberikan persembahan kepada patung sang Azhura?

Patung sang Azhura…. rasa penasarannya mengalahkan kebingungannya ketika menyadari kondisi bagian dalam kuil yang sunyi senyap.

Dia mendongakkan kepalanya dan ternganga, di depannya, berada di ujung kuil yang merupakan bagian utama kuil, berdiri sosok sang Azhura Khan dalam wujud patung emas yang menghunuskan pedangnya di tangan kanan, dengan tengkorak di tangan kirinya. Pakaian sang Azhura berupa baju zirah yang bertahtakan berlian, sosoknya begitu agung, dan hampir-hampir tampak menakutkan, begitu tinggi dan megahnya, apalagi di mata anak berusia sepuluh tahun seperti Armenia.

Entah berapa lama, Armenia ternganga menatap keagungan patung tersebut, sampai suara gemerisik jubah menarik perhatiannya. Armenia menoleh dengan gugup, dan mendapati sesosok laki-laki, mengenakan jubah pendeta berwarna merah dengan penutup kepala yang menyerupai tudung yang menyembunyikan wajahnya berdiri di sana, di samping patung sang Azhura.

Dahulu kala, jubah pendeta pemuja Azhura Khan berwarna putih, tetapi setelah kejadian terbunuhnya sang pendeta besar oleh Raja Savala, jubah pendeta diganti menjadi berwarna merah gelap, untuk menghormati sang pendeta besar yang meninggal dengan jubahnya berganti warna menjadi merah darah karena rembesan darahnya dari luka tusukan pedang di jantungnya.

Armenia mengernyit, mengapa dia tidak menyadari kehadiran sang pendeta?

“Kemarilah, berikan persembahanmu.” Suara pendeta laki-laki itu terdengar begitu dalam, penuh aura mistis yang sedikit menakutkan.

Armenia menarik napas panjang, dengan ragu-ragu melangkah mendekat sambil membawa keranjang persembahannya. Pendeta ini tentulah pembimbingnya untuk memberikan persembahan pertama kalinya bagi sang Azhura.

Armenia lalu berdiri tepat di depan sang pendeta yang bertubuh tinggi itu, dia hanya seukuran pinggang sang pendeta sehingga harus mendongakkan kepalanya. Wajah sang pendeta tertutup tudungnya yang berwarna merah, sehingga tampak misterius dan kelam.

Pendeta itu mengulurkan tangannya, dan reflek, Armenia menyerahkan keranjang persembahannya kepadanya.

Pendeta itu bergeming, lalu memberikan isyarat supaya Armenia memberikan persembahan itu satu persatu dengan tangannya. Armenia menurut, diambilnya manisan buah kulsu yang dibuat ibunya khusus untuk saat ini dan menyerahkannya ke tangan sang pendeta.

Sang pendeta menggerakkan tangannya ke mulutnya, dan mencecap manisan kulsu itu di mulutnya.

Armenia mengernyitkan keningnya. Kenapa sang pendeta memakan persembahannya? Bukankah kata ibundanya, keranjang persembahan itu harus diletakkan di kaki patung sang Azhura?

Matanya melirik ragu pada ratusan keranjang yang terhampar di bawah patung sang Azhura.

Apakah memang ini ritualnya? Sang pendeta harus mencecap persembahan tersebut sebagai perwakilan bagi sang Azhura?

Sang pendeta selesai mencecap buah kulsu dari tangan Armenia. Kemudian, tanpa disangka, sang pendeta mengambil keranjang persembahan tersebut dari tangan Armenia, lalu membungkukkan badannya dan mengecup dahi Armenia.

Armenia membelalakkan matanya kaget, dan ketika wajah sang pendeta masih menunduk menatapnya, dia menyadari bahwa bola mata sang pendeta itu berwarna merah, merah gelap dengan titik seperti nyala api di tengahnya.

“Pergilah Armenia. Aku akan menjumpaimu kembali dalam waktu dekat.”

Kata-kata itu menggema dalam ruangan kuil yang remang-remang, Armenia hampir saja bertanya, kenapa sang pendeta bisa mengetahui namanya? Bukankah ada ratusan anak yang akan menyerahkan persembahan hari ini? Apakah pendeta tersebut mengetahui semua nama anak-anak itu?

Tetapi belum sempat dia menyuarakan pertanyaannya, tiba-tiba saja ada hembusan angin cukup kencang menerpa Armenia, membuatnya harus menutup wajahnya dengan tangan. Beberapa detik kemudian, ketika dia membuka tangannya….. pendeta misterius berjubah merah itu, sudah tidak ada, begitu juga dengan keranjang persembahannya.

Armenia ternganga sejenak, memandang bingung ke penjuru ruangan  yang sepi, dan kemudian, dia melihat sebuah pintu terbuka di belakang, memancarkan cahaya matahari dari sudut-sudutnya yang terbuka, tanpa pikir panjang dia setengah berlari kepintu itu, dan ketika keluar dari pintu itu, dia menemukan dirinya berada di bagian belakang kuil.

Di sana, masih banyak anak-anak yang telah menyerahkan persembahan berkumpul dengan keluarga dan saudara-saudara mereka, suasana hiruk pikuk di belakang kuil sangat kontras dengan keheningan yang dialaminya di bagian dalam kuil tadi.

“Armenia.”

Armenia mengenali suara ibunya memanggil menyeruak dari kerumunan, dia menuju arah suara itu dan menemukan ibunya sedang menunggunya bersama bibi Ruth dan sepupunya. Khaeva adalah salah satu sepupunya yang juga melakukan persembahan pertama bersamanya.

“Indah sekali ya di dalam kuil itu.” Khaeva langsung menyambutnya dengan bersemangat, seolah ingin berbagi cerita.

Ibunda Armenia tersenyum pada Khaeva, lalu bertanya sambil mengusap rambut Armenia dengan lembut,

“Apakah para pendeta wanita di dalam membantu kalian dengan baik?”

Khaeva mengangguk bersemangat, “Ada dua puluh pendeta wanita di dalam, mereka sangat cantik dan sangat baik, mereka membimbing kami semua supaya meletakkan persembahan dan berdoa di kaki sang Azhura.”

“Ya kami dulu juga mengalaminya, para pendeta wanita memang ditugaskan membimbing anak-anak perempuan untuk persembahan pertama, mereka sangat agung dan beraura indah, dulu bahkan ibu ingin menjadi pendeta wanita seperti mereka, sayangnya, hanya dari kalangan bangsawanlah yang diperbolehkan menjadi pendeta wanita di kerajaan ini.” Bibi Ruth, ibunda Khaeva tersenyum senang melihat keantusiasan Khaeva.

Armenia menatap ibundanya, bibinya dan sepupunya berganti-ganti dengan kebingungan.

“Pendeta wanita?”

“Kau juga ditolong oleh mereka kan sayang? Para pendeta wanita itu adalah bangsawan tertinggi di kerajaan kita yang mengabdikan dirinya untuk memuja sang Azhura. Mereka biasanya tidak ikut dalam upacara-upacara besar karena itu adalah tugas pendeta laki-laki. Para pendeta wanita hanya muncul saat upacara persembahan kepada sang Azhura setahun sekali. Sudah tugas mereka menjadi pendamping anak-anak perempuan untuk memberikan persembahannya pertama kali kepada sang Azhura, karena itulah saat ini merupakan saat yang berharga karena kalian akan sangat jarang bisa menemui mereka lagi.” Bibi Ruth kembali menjelaskan, masih  dengan senyuman di bibirnya

Armenia hampir saja berucap tentang pendeta lelaki yang ditemuinya tadi, tetapi bibi Ruth menghela mereka berdua supaya segera berlalu dari tempat itu,

“Ayo, kita harus segera pulang karena matahari sudah semakin naik, kalau terlambat pulang bisa-bisa di malam hari kita baru sampai pinggiran hutan.”

Suasana memang sudah semakin ramai, dan antrian anak-anak pemberi persembahan sepertinya sudah lebih dari setengah jalan.

Sang ibu mengangguk dan menggandeng Armenia supaya mengikuti bibinya yang menggandeng Khaeva. Ketika mereka menempuh jalan setapak menembus hutan menuju ke desa mereka, Armenia mendongakkan kepalanya, tidak bisa menahan diri lagi untuk berbicara kepada ibundanya.

“Ibu?”

“Ya sayang?” Ibundanya yang cantik memiringkan kepalanya, dan menatap Armenia dengan penuh kasih sayang.

“Tadi di dalam kuil tidak ada puluhan pendeta perempuan seperti yang diceritakan, hanya ada satu pendeta laki-laki, memakai jubah merah gelap, lebih gelap dari pendeta lain yang pernah Armenia lihat, dia memakan manisan kulsu dari tanganku, mengecup keningku dan menyebut namaku, dan kemudian hilang bersama dengan keranjang persembahanku.” Armenia mengerutkan keningnya, “Dan bola matanya berwarna merah, dengan titik seperti api di tengahnnya.”

Ibundanya ternganga mendengar kata-katanya, wajahnya langsung pucat pasi, menjalar keseluruh permukaan kulitnya hingga tampak begitu putih, perempuan itu membawa kendi air di tangan kirinya, dan seolah tanpa disadarinya, kendi itu meluncur dari tangannya, pecah berkeping-keping di jalan setapak …

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

460 Komentar

  1. shanaya_lee menulis:

    :ayojadian :ayojadian :ayojadian

  2. Baca ulang

  3. Bella Miacara menulis:

    Hahhhh..

  4. Okeh pingin baca lagiii

  5. Seru……

  6. Baca lagi

  7. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta

  8. Elda Virginia K menulis:

    :babeinicintaku

  9. dewantilaraswaty menulis:

    Sang Dewa Azhura telah menemukan pengantinnya :sebarcinta

  10. Pooja Kharisma menulis:

    Kangen baca lagi

  11. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  12. Siti Munirah menulis:

    armenia🤗🤗🤗

  13. Im hereee

  14. Shelli Novianti menulis:

    Baru mulai baca

  15. Back again :happy

  16. Penasaran🥰

  17. :NGAKAKGILAA kangen euy sama dewa ini

  18. Syafa'atun Munajah menulis:

    :berikamiadegankiss!

  19. Baca ulang 🥰

Tinggalkan Balasan