azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 21 : Isteriku, Kau Melengkapiku

Bookmark

No account yet? Register

2.949 votes, average: 1,00 out of 1 (2.949 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

azhuras-bride2

Malam itu larut, dan bulan semerah darah memberikan nyala terangnya ke dievas rumai, sementara itu, sang Mahadewa Azhura Kahn sedang duduk di salah satu ruangan besar di istananya.

Ruangan itu terlindungi oleh mantera perisai sihir, karena meskipun seluruh bagian dievas rumai dijaga oleh kabut merah yang menyebabkan tidak ada seorangpun yang tidak diinginkan masuk, mantera perisai sihir masih tetap diperlukan untuk menulikan indera orang-orang yang tidak diperbolehkan mendengarkan informasi yang sangat rahasia.

Azhura Kahn duduk tenang di kursinya yang megah, menatap ke arah bulan semerah darah ketika salah satu pengawalnya datang menghadap,

“Tuanku Laikas sudah datang, Yang Mulia.”

Azhura Kahn mengangguk dan kemudian memberi isyarat supaya pelayannya membawa Laikas masuk. Sang dewa penjaga waktu memasuki ruangan, mengenakan jubah panjang berwarna pasir, sewarna dengan rambutnya.

“Yang Mulia memanggil saya?”

Yang pertama dilakukan oleh Laikas adalah bersujud, dan kemudian bangkit ketika Azhura memberi isyarat kepadanya untuk berdiri.

“Bangun Laikas, duduklah di sana. Apa yang kuperlukan darimu tidak akan bisa kau berikan dengan bersujud.”

Laikas menurut, duduk di tempat yang sudah ditunjukkan untuknya sementara sang Mahadewa Azhura Kahn menatapnya tajam.

“Karena kau bisa melihat masa depan, kau pasti tahu apa yang akan kutanyakan.”

Laikas mengangguk, “Saya mendapatkan petunjuk bahwa anda menginginkan saya datang ke sini untuk meramal….” sejenak Laikas tampak ragu, “Tetapi bukankah anda tahu bahwa kekuatan dewa manapun tidak akan mempan kepada anda? bahkan itu termasuk kekuatan meramal saya…”

Azhura Kahn tersenyum tipis, “Aku memintamu datang kemari bukan untuk meramal diriku, Laikas.”

Sedetik kemudian ada pengertian di mata Laikas, “Anda meminta saya untuk meramal putri Armenia?”

Mata Azhura tampak meredup ketika mendengar nama Armenia disebut, “Hanya untuk mengetahui apakah dia akan baik-baik saja di masa depan.”

Nada suara dan ekspresi sang Mahadewa membuat Laikas tanpa sadar bergumam lirih, “Anda benar-benar mencintai putri Armenia….”

Jawaban Azhura berupa senyum tipis yang dibarengi dengan kata-kata sederhana,

“Kutukan atau anugerah, Laikas..? Kau pasti sudah tahu betapa seringnya aku mempertanyakan hal itu… ” Azhura Kahn menghela napas panjang, “Tetapi ketika aku melihatnya, bahkan ketika dia masih berwujud bayi mungil tak berdosa, aku langsung menyerahkan hatiku kepadanya dengan sukarela. Tak masalah dia menjadi satu-satunya orang yang bisa membunuhku…. aku tetap tidak akan membunuhnya meskipun tubuhku bisa….hatiku tidak akan mampu.” Azhura Kahn menyentuh dadanya tanpa sadar, “Jika aku harus mati di tangannya, tak mengapa asal dia bisa berbahagia setelahnya.”

Ketulusan yang diungkapkan oleh sang Mahadewa membuat Laikas tertegun. Terpesona. Selama ini dimatanya Azhura Kahn adalah mahluk sempurna yang telah kehilangan sisi manusiawinya, dia selalu mengira sang Azhura Kahn tidak punya hati, tetapi ternyata sang Mahadewa punya, dan bahkan telah memberikan seluruhnya kepada anak manusia yang ditakdirkan untuknya.

“Cinta tanpa syarat…” Laikas bergumam lembut, “Saya yakin alam semesta tidak memberikan kutukan kepada anda Yang Mulia, apapun itu, jika itu berhubungan dengan cinta, Maka itu adalah sebuah anugerah.”

Azhura menganggukkan kepalanya tipis, menyatakan persetujuannya. “Jadi, mulailah meramal isteriku.”

Laikas berdehem pelan ada satu pertanyaan lagi yang perlu ditanyakannya, “Anda memiliki seluruh kekuatan kami para dewa utama, itu termasuk kekuatan saya untuk melihat masa depan… maafkan jikalau saya lancang Yang Mulia, tetapi kenapa anda tidak menggunakan kekuatan itu untuk meramal Putri Armenia?”

Mendengar pertanyaan itu, Sang Azhura Kahn mengalihkan pandangannya ke arah bulan semerah darah, tampak merenung,

“Sudah kucoba, tetapi yang kulihat dari masa depan Armenia hanyalah kabut tak jelas… kekuatanku yang satu itu ternyata tak mempan untuk isteriku.” ada ironi di suara sang Mahadewa ketika melanjutkan, “Karena itulah kuminta kau meramal isteriku, Laikas.”

Laikas menganggukkan kepalanya penuh pengertian, “Hamba butuh memegang tangan putri Armenia, atau benda yang sering disentuh putri Armenia.”

Azhura Kahn mengulurkan jemarinya,

“Dia sering menyentuhku.” gumamnya singkat tapi penuh arti.

Laikas sedikit terpana, menatap jemari sang Mahadewa yang terulur ke arahnya, menyadari bahwa dia mendapatkan kesempatan yang sangat langka.

Bagi kaum dewa, bisa memegang sang Mahadewa Azhura Kahn adalah anugerah yang luar biasa, seluruh tubuh Azhura Kahn berlumuran berkat yang melimpah yang didambakan oleh para dewa. Jika bisa menyentuh Azhura Kahn seujung jari saja, maka berkah itu akan mengalir ke tubuh para dewa, membuat mereka lebih hidup dan lebih kuat. Putri Armenia mungkin tidak menyadari betapa besar anugerah yang diperolehnya dengan menjadi isteri sang Mahadewa, sang putri adalah satu-satunya mahluk yang bisa dengan bebas menyentuh Azhura Kahn, itu berarti dirinya selalu penuh limpahan berkat sang Azhura yang menjadi dambaan para dewa.

Tidak ada yang bisa melebihi kekuatan dan kesucian berkat yang diperoleh langsung dari sentuhan sang Mahadewa Azhura Kahn

Dan sekarang, sang Mahadewa sendiri yang menawarkan tangannya untuk disentuh.

Laikas menghela napas panjang. “Anda mengizinkan saya untuk menyentuh tangan anda?” Laikas bertanya lagi, masih tidak percaya dengan keberuntunganya.

Azhura Kahn sedikit terkekeh, “Ya, Laikas. Kuizinkan kau menerima berkatku.”

Dengan jantung berdegup Laikas mengulurkan tangannya.

“Maafkan Yang Mulia atas kelancangan saya, menyentuh anda dengan diri saya yang hina ini.” Laikas meminta izin sebelum jemarinya yang bergetar menyentuh jemari Azhura Kahn.

Sejenak Laikas tersentak merasakan berkat energi dari sang Azhura Kahn merayapi tubuhnya… lalu dia memejamkan mata dan berkonsentrasi.

Putri Armenia….

Lama kemudian Laikas baru terbangun dari penglihatannya yang panjang dan langsung bertatapan dengan mata sang Azhura Kahn yang merah membara.

“Jadi?” ada banyak pertanyaan yang tersampaikan dari satu kata yang sederhana itu.

Laikas menghela napas panjang, dengan hati-hati dia menarik sentuhannya dari jemari sang Azhura Kahn, seluruh tubuhnya penuh dan kenyang oleh berkat sang Mahadewa.

“Saya melihat…..” Laikas menelan ludahnya, “Penglihatan saya hanya berupa isyarat-isyarat yang saling berkelebatan…. ” Laikas memejamkan mata, mencoba mengingat, “Merah bercampur dengan emas, akan ada pengorbanan. Darah akan tertumpah, air mata jatuh berderai. Hati akan dipatahkan, kepercayaan akan menjadi tumpuan. Yang rapuh akan dituntaskan, yang retak akan dihempaskan. Dan bagi yang berpegang teguh, semua akan berakhir baik.”

Laikas membuka matanya, “Mohon maaf… hanya itu yang bisa saya sampaikan, Yang Mulia.” tiba-tiba saja Laikas menyesal karena tidak bisa memberikan penglihatan yang lebih jelas. Tetapi memang sepertinya masa depan putri Armenia masih belum pasti, penglihatannya hanyalah mengungkapkan apa yang mungkin terjadi, semua hal di masa depan masih bisa berubah, tergantung langkah apa yang diambil oleh masing-masing individu.

Azhura Kahn tersenyum, “Terimakasih Laikas, itu cukup. Kau boleh pergi.”

Laikas menganggukkan kepalanya, lalu menelan ludahnya untuk mengumpulkan keberaniannya mengungkapkan apa yang dirasakannya,

“Saya selalu berdoa, semoga anda dan putri Armenia selalu berbahagia.”

Ada ketulusan di suara Laikas yang membuat mata Azhura Kahn bercahaya.

“Aku juga berharap begitu, terimakasih Laikas.”

Laikas membungkukkan tubuhnya dengan hormat, “Kalau begitu saya mohon diri, Yang Mulia.”

Azhura Kahn hanya mengangguk memberi izin, tetapi ketika Laikas sampai ke pintu, suaranya menghentikan langkah sang dewa penjaga waktu,

“Aku tahu bahwa Armenia sebelumnya adalah anak manusia yang diperuntukkan sebagai jodoh untuk Atspere. Tetapi karena Atspere menjadi Yazza, Sang Kematian, takdir berubah dan jodohnya diputar ke arahku. Kau pernah meramalkan bahwa sebagian kecil dari hati Armenia akan selalu menjadi milik Yazza…”

Laikas hanya bisa menganggukkan kepalanya, menanti kalimat sang Mahadewa selanjutnya.

Ekspresi Azhura tampak tidak yakin, sebuah ekspresi yang sepertinya tidak mungkin bisa muncul di wajah sang Mahadewa,

“Apakah jika karena suatu keadaan Armenia bertemu Yazza, dia akan merasakan perasaan itu?”

Laikas tersenyum,

Ya, Yang Mulia, Putri Armenia akan merasakannya… bagaimanapun Atspere atau Yazza pernah menjadi pasangan takdirnya.” Laikas bergumam dengan suara rendah, “Tetapi anda adalah pasangan takdir Putri Armenia yang sekarang, dan saya meyakini bahwa hati putri Armenia sudah ditakdirkan untuk menjadi milik anda.”

***

Armenia tidak bisa memejamkan mata entah kenapa, padahal malam sudah begitu larut dan cahaya merah semakin pekat menyelubungi malam yang telah berpendar jauh. Harum minyak Arozhyukure yang lembut dan manis menguar memenuhi seluruh penjuru ruangan, membisikkan ketenangan yang mendamaikan jiwa.

Armenia mendengar suara pintu terbuka, dan dia menunggu.

Suaminya telah datang.

Azhura Kahn melangkah ke tepi ranjang, jubah panjangnya berdesir pelan seiring gerakannya yang semakin mendekat, sang Mahadewa duduk di tepi ranjang, bola matanya yang merah berpendar lembut menatap Armenia yang berbaring dengan mata terbuka lebar

“Tidak bisa tidur?” tanyanya lembut.

Armenia mengangguk,

“Sama sekali tidak bisa tidur… padahal harum minyak Arozhyukure begitu menenangkan.”

Ada senyum di sinar mata Azhura, sang Mahadewa mengulurkan jemarinya, menyentuh lembut rambut hitam panjang Armenia yang terurai di bahunya, “Kau sudah menerima kekuatan dewa dariku, karena itulah kau tidak bisa tidur.”

Armenia mengerutkan keningnya, “Kenapa bisa begitu?”

Azhura Kahn tersenyum lembut, “Aku sudah pernah bilang kepadamu bukan? Kaum dewa tidak pernah tidur.”

Kerutan di kening Armenia semakin dalam, “Kalau kita tidak tidur apa yang kita lakukan sepanjang malam?”

Azhura Kahn terkekeh, lelaki itu mendekatkan wajahnya dan mengecup bibir Armenia dengan lembut,

“Entahlah, mungkin kita bisa bercinta sepanjang malam?” gumamnya menggoda.

Jawaban Azhura Kahn itu tentu saja membuat pipi Armenia bersemu merah, dan hal itu tampaknya menyenangkan Azhura,

“Atau mungkin aku bisa menyenangkan hatimu dengan mengajakmu.”

“Mengajakku? Kemana?” Armenia duduk tegak di ranjangnya, merasa tertarik.

“Mengajakmu untuk mengunjungi dunia Ametyst dalam penyamaran, aku bisa menunjukkan tempat-tempat indah yang belum pernah kau bayangkan sebelumnya.”

Mata Armenia berbinar, “Apakah kita bisa mengunjungi rumahku dan bertemu ayahku?” Armenia memang sudah rindu kepada ayahnya. Di dalam Dievas Rumai ini perputaran waktunya berbeda dengan dunia Ametyst, siang dan malam lebih panjang sehingga Armenia tidak bisa mengukur sudah berapa lama dia tidak bertemu dengan ayahnya itu.

Azhura Kahn bangkit dari duduknya di tepi ranjang, ada sinar lembut di matanya,

“Mungkin kita bisa mampir sebentar, tetapi jika ayahandamu sedang tidur, kau harus berjanji padaku untuk tidak membangunkannya.”

***

“Ayah…” Armenia bergumam sebentar, menatap dengan mata berkaca-kaca ayahnya yang sedang terlelap di atas ranjang di runah mereka yang sederhana

Azhura Kahn telah berbaik hati menjadikan rumahnya sebagai perhentian pertama mereka. Dan sekarang dia bisa menengok sang ayah – meski tidak boleh membangunkannya –

Ditatapnya sang ayah dengan penuh kerinduan.

“Sepertinya ayah baik dan sehat ” Armenia mengawasi napas ayahnya yang teratur dan warna kulit sehat di balik jenggot putih panjangnya.

Azhura Kahn mengangkat alisnya, “Tentu saja, berkatku melimpah kepadanya” lalu dengan sebelah tangannya, sang Mahadewa merapatkan tubuh Armenia kepadanya dan mengecup bibir Armenia dengan lembut, “Karena dia telah menjaga dan membesarkan isteriku dengan baik.”

Jantung Armenia berdegup kencang menatap penampilan Azhura Kahn yang begitu tampan, sang Mahadewa memilih penyamaran layaknya Zhura Al Gul yang tampak lebih manusiawi dengan pakaian hitam ala suku pemburu dan surban hitam yang terikat di kepalanya lengkap dengan anak panah berwarna emas di punggungnya.

Bahkan warna mata sang Mahadewa-pun berubah warna menjadi emas bening serupa sari inti dari minyak Arozhyukure yang harum dan berkilauan.

Azhura Kahn tahu dirinya sedang diamati, lelaki itu tersenyum tipis,

“Apakah kau terpesona kepadaku?” godanya, membuat pipi Armenia menjadi begitu merah dan memancing tawa sang Mahadewa.

Dieratkannya pelukannya dan dikecupnya dahi Armenia lembut,

“Dasar isteriku yang pemalu.” pujanya dengan penuh cinta, lalu tanpa diduga sang Azhura Kahn membungkuk dan meletakkan tangannya di punggung dan di bawah lutut Armenia untuk kemudian menggendongnya.

Armenia memekik sedikit kaget ketika merasakan dirinya terangkat, refleks dia melingkarkan kedua lengannya ke leher Azhura Kahn, membuat wajah mereka semakin dekat.

Ada gairah layaknya api yang memercik ketika kedua bola mata – yang sekarang sama-sama berwarna emas – itu bertatapan.

Azhura Kahn menunduk, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Armenia, menggesekkannya lembut dan kemudian bibirnya yang kuat, mencecap permukaan bibir Armenia yang basah dan lembab, mencicipi setiap kemanisannya yang kental.

“Aku mulai menyesal karena mengajakmu jalan-jalan.” Sang Azhura Kahn berbisik dengan suara parau, lidahnya dengan lembut menggoda permukaan bibir Armenia dengan sentuhan-sentuhan panas, “Seharusnya kita di rumah saja dan melakukan apa yang sudah kurencanakan sebelumnya.”

Armenia menarik kepalanya sehingga bibirnya terlepas dari cumbuan sang Mahadewa, ditatapnya Azhura Kahn dengan penuh rasa ingin tahu,

“Rencana apa?”

“Bercinta semalaman, habis-habisan.” suara Azhura Kahn terdengar sensual dan menggoda.

Azhura Kahn mendekatkan kepalanya lagi, kali ini tanpa peringatan bibirnya langsung melumat bibir Armenia dengan penuh gairah, memberinya ciuman dalam yang begitu ahli dengan lidah, bibir dan keahlian sentuhannya yang membuat seliruh saraf Armenia menggelenyar.

Dan ketika ciuman itu sudah selesai, napas Armenia megap-megap tak karuan.

Azhura Kahn nampak senang melihat keadaan isterinya itu,

“Ayo, kita lanjutkan perjalanan kita, kalau tidak aku akan tergoda untuk membatalkannya dan membawamu ke ranjangku.” Dirapatkannya tubuh isterinya ke dadanya, dan menggendong Armenia keluar dari rumah itu.

Di dalam rumah itu, setelah yakin bahwa sang Mahadewa dan Armenia sudah pergi, Daika membuka matanya dan tersenyum bahagia melihat kebahagiaan Azhura Kahn dengan Armenia.

Sang Mahadewa memang masih memintanya berperan sebagai ayah Armenia, hal itu dikarenakan ingatan Armenia yang masih diambil oleh Azhura Kahn dan menurut beliau, Armenia masih belum siap untuk mengingat masa lalunya kembali…

***

“Indah sekali!” ketika membuka matanya, dalam sekejap mereka berada di rimbunan bukit nan tinggi yang berselimutkan bunga tujuh kelopak berwarna enas lembut seperti cahaya pagi yang masih malu-malu, menguarkan aroma nan harum. Rimbunan bunga itu begitu banyaknya menyelimuti bukit hingga membentuk karpet tebal berwarna emas nan empuk dan membungkus kakinya.

Armenia mencium aroma harum itu, aroma manis surgawi nan agung … serupa aroma minyak Arozhyukure…. tetapi yang ini lebih pekat.

Armenia langsung menoleh ke arah Azhura Kahn dengan mata membelalak takjub,

“Bunga Aro!” serunya dengan napas tertahan, dan berseru senang ketika Azhura Kahn menganggukkan kepalanya membenarkan,

“Astaga… bunga Aro!” Armenia berlutut di antara hamparan bunga emas itu dan mendekatkan wajahnya ke salah satu kelopaknya dan menghirup aromanya, aroma dari bunga ini masih asli, lebih pekat dari minyak Arozhyukure.

Minyak Arozhyukure sebagai minyak paling mahal, paling langka dan hanya di pakai di upacara-upacara penting kerajaan manusia dunia Ametyst, berbentuk seperti minyak kental berwarna emas yang pekat dengan wangi manis nan luar biasa, Minyak Arozhyukure disaring secara khusus dan hati-hati dari kuncup terbaik bunga Aro, bunga dengan tujuh kelopak kecil berwarna emas yang tumbuh di pucuk pegunungan-pegunungan tinggi Ametyst.

Bunga Aro tidak bisa dibudidayakan karena itulah dia sangat langka, menurut legenda, bunga Aro hanya bisa tumbuh di tempat yang pernah dipijak dan diberkati oleh kaki sang Azhura Kahn.

Sebagai isteri Azhura Kahn, Armenia sangat beruntung. Minyak Arozhyukure sangat langka di dunia manusia, tetapi di kediaman Azhura Kahn, minyak itu begitu melimpah, bahkan digunakan sebagai pengisi kolam mandinya, membuat tubuhnya beraroma surgawi, selayaknya aroma sang Mahadewa.

“Kau boleh memetiknya kalau mau.” Azhura Kahn duduk dengan santai di sebelah Armenia, menarik isterinya supaya berubah posisi, dari berlutut hingga duduk merapat kepadanya.

“Bolehkah?” mata Armenia berbinar mendengar tawaran itu.

Azhura Kahn terkekeh, jemarinya terulur dan mengacak lembut rambut panjang Armenia.

“Tentu saja isteriku.” jemarinya terulur, memetik satu tangkai bunga Aro yang paling cemerlang, dan dalam sekejap dari tangkai yang dipetik itu muncul dua tangkai bunga baru yang mekar berkilauan, membuat Armenia makin membelalakkan matanya takjub.

Azhura Kahn terkekeh mengamati ketakjuban Armenia, “Kau boleh memetik bunga Aro sebanyak apapun yang kau suka Armenia, dan aku akan menumbuhkan dua kali lipatnya.” dengan lembut Azhura Kahn menyelipkan bunga yang mekar itu di telinga Armenia, lalu mengamati betapa serasinya warna bunga nan keemasan cemerlang itu berpadu dengan warna mata Armenia nan senada, “Cantik sekali….” Azhura Kahn menelusurkan jemarinya di pipi Armenia, mengelusnya lembut, lalu menunduk dan mengecup bibir Armenia dengan sayang.

Mereka duduk di tengah hamparan bunga Aro dengan warna emasnya yang memenuhi bukit dan aroma harumnya memanjakan indera penciuman, berciuman.

Azhura Kahn mencecap bibir Armenia dengan penuh cinta, lidahnya menelusup masuk, menggoda Armenia, memuja betapa lembut dan nikmatnya Armenia, mereka berciuman begitu lama dan dalam, hingga Armenia harus mencengkeram kuat-kuat bahu sang Mahadewa, karena ciuman itu telah menumbuhkan rasa menggelenyar yang amat sangat, membuatnya hampir tidak bisa menahankan erangan dalam yang hendak terlepas dari bibirnya.

Ketika Azhura Kahn melepaskan ciumannya, api di matanya tampak menyala, menunjukkan hasratnya yang mulai terbakar, Azhura lalu menurunkan kepalanya, menyingkirkan pakaian dari bahu Armenia dengan lembut, lalu mendaratkan kecupannya di sana, sentuhan bibirnya bagaikan api yang membakar, terasa nikmat dan membangunkan seluruh indera perasa di kulit Armenia, membuat erangan yang terus ditahannya akhirnya terlepas dari bibir Armenia.

Azhura Kahn menenggelamkan kepalanya di bahu Armenia, lalu bergumam lembut, “Aromamu sangat enak.” gumamnya dengan bibir masih mencecap kulit Armenia,

Armenia tersenyum tanpa sadar, “Itu aroma minyak Arozhyukure, Yang Mulia.”

Jawaban itu membuat Azhura Kahn terkekeh, mengangkat kepalanya dan mengecup pucuk hidung Armenia dengan lembut, “Bukan. Yang kumaksud adalah aroma dari dalam dirimu, aroma perempuan yang sangat nikmat, yang membuatku tergila-gila tiap kali menghirupnya.”

Suara Azhura Kahn terdengar serak, penuh gairah, membuat pipi Armenia merah padam karena malu bercampur dorongan gairah yang mulai menggelitik di sekujur tubuhnya,

“Bagaimana mungkin ada aroma yang bisa tercium dari dalam tubuhku, aku tidak pernah menggunakan wewangian apapun sebelumnya…” tukasnya, masih tak percaya.

Jemari Azhura menelusuri lengan dan bahu telanjang Armenia, gaunnya telah diturunkan sampai ke pertengahan lengannya, lelaki itu kembali mengecup dan mencium permukaan kulit Armenia, ciumannya basah, panas, sensual dan selembut kupu-kupu.

“Aku langsung jatuh cinta ketika menghirup aromamu…” Azhura Kahn bergumam serak, menenggelamkan wajahnya di kelembutan kulit Armenia, “Ketika kau lahir, seluruh diriku dipenuhi aroma lembut yang nikmat, begitu menenangkan, dan aku langsung tahu bahwa itu berasal dari dirimu….tahukah kau pada masa lampau sebelum aku bisa memilikimu, setiap malam aku selalu hadir di kamarmu, mengamatimu tidur, sekaligus bersikap egois dengan memuaskan diriku untuk menghirup aromamu?”

Armenia mengerutkan keningnya, “Anda datang setiap malam?”

“Setiap malam tanpa terkecuali.” Azhura menjawab tegas, mengangkat kepalanya dan mengecup pipi Armenia dengan lembut,

Sementara itu Armenia tampak malu, menyadari bahwa mungkin sang Mahadewa mengamatinya ketika tidur, dan tiba-tiba merasa cemas bahwa pose tidurnya mungkin tampak tidak menarik di mata sang Azhura Kahn,

“Kau selalu tampak cantik di mataku, bahkan ketika kau tertidur.” Azhura Kahn bergumam dalam senyum gelinya, menyadari kecemasan Armenia, “Aku hampir-hampir tidak bisa menahan diriku ketika kau mulai beranjak dewasa….” Azhura Kahn menelusurkan jemarinya ke bibir Armenia, “Bibir ini telah berkembang dari bibir anak-anak yang polos menjadi bibir perempuan yang menggairahkan..” jemari sang Azhura turun menelusuri payudara Armenia, mengusap pucuknya lembut dengan menggoda, “Buah dada ini, telah berkembang menjadi payudara yang ranum nan menggoda, seumpama buah kulsu yang sedang matang-matangnya.” lalu jemari Azhura Kahn merayap turun, mengusap lembut keindahan di pangkal paha Armenia, “Dan ini…” matanya menatap sensual, penuh arti kepada Armenia, “Keindahan di tubuhmu ini, menggodaku, membuatku ingin menyatukan diriku seketika itu juga dan mengklaim kepemilikanku atas dirimu.”

Dan entah bagaimana, Armenia sudah terbaring di hamparan bunga Aro, rambutnya yang hitam tampak kontras di hamparan bunga Aro yang keemasan menyelimuti bukit itu. Azhura Kahn berbaring di atasnya dengan kedua lengannya menyangga tubuhnya di kiri dan kanan kepala Armenia. Lelaki itu menatap Armenia dengan matanya yang berkilauan. Sinar emas di matanya dalam penyamarannya sebagai Zhura Al Gul sudah bergeser berganti menjadi warna kemerahan, warna asli sang Mahadewa Azhura Kahn.

“Dan ketika pada akhirnya aku bisa memilikimu seutuhnya, menyatukan diriku denganmu… kebahagiaanku lepas bebas ke puncaknya, tidak bisa diukur dengan ukuran manapun di dunia.” Azhura Kahn melumat kembali bibir Armenia, “Selama ini aku selalu berpikir bahwa aku adalah mahluk sempurna, dewa tertinggi yang tidak punya kekurangan suatu apapun… tetapi aku ternyata tidak lengkap…. kau, Armenia, isteriku, kau melengkapiku.”

Armenia memejamkan matanya, menikmati lumatan bibir suaminya, jemarinya tanpa sadar merangkul punggung Azhura Kahn, merasakan kehangatan tubuh sang Mahadewa. Wangi bunga Aro melingkupi mereka, membungkus dalam suasana magis yang menyesakkan dada.

“Aku tidak akan pernah bosan bercinta denganmu.” gumam Azhura Kahn lembut sambil menurunkan pakaian Armenia ke pinggangnya dengan gerakan menggoda, menampakkan payudara Armenia yang ranum dan berwarna pink pucat menggoda. Azhura Kahn menunduk dan mengecup payudara Armenia dengan lembut, membuat Armenia tersentak.

“Keindahan ini adalah milikku.” desis Azhura Kahn, lalu mengecupi perut dan menurun terus, ke bagian pusat diri Armenia yang terasa panas dan basah, bibir Azhura Kahn mengecup permukaannya, lalu lidahnya memuja di sana, membuat Armenia mengangkat tubuhnya panik, mencoba menahan Azhura Kahn,

“Jangan… jangan di sana!” gumamnya dengan gemetaran, merasa malu karena sentuhan Azhura yang begitu intim.

Azhura Kahn tersenyum, senyuman yang menenangkan jiwa,

“Biarkan aku mencicipi isteriku seutuhnya.” Bisiknya lembut dengan nada membujuk penuh hasrat

Dan begitulah, di tengah bukit bunga Aro yang berwarna keemasan yang melingkupi mereka dengan aroma manis surgawinya, Azhura Kahn membuat Armenia menyerahkan diri untuk kesekian kalinya, dan membawa pengantinnya menuju kenikmatan yang baru pertama kali dirasakannya.

***

Ketika percintaan mereka berakhir, Azhura Kahn berbaring terlentang dan menarik Armenia ke dadanya yang telanjang, menggunakan satu lengannya untuk merengkuh kepala Armenia dan membelainya lembut,

“Apakah kau mencintaiku?”

Armenia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan yang diucapkan dengan suara serak nan penuh emosi.

Kenapa suaminya sepertinya tidak yakin kepada dirinya?

Aku mencintaimu.” Dan Armenia berkata jujur, cintanya kepada Azhura Kahn telah bertumbuh tanpa disadarinya, bukan karena sang Mahadewa begitu sempurna dan agung, tetapi lebih karena perasaan manis yang bergolak di dadanya ini ditumbuhkan pelan-pelan oleh sikap lembut dan penghormatan yang diberikan oleh sang Mahadewa kepadanya.

Azhura Kahn memejamkan matanya, mengecup pucuk kepala Armenia di lengannya dan menenggelamkan kepalanya di sana.

“Bahkan ketika nanti kau bertemu dengan lelaki lain yang mungkin memiliki sebagian hatimu?”

Pertanyaan itu membuat Armenia mengerutkan keningnya karena tidak mengerti maksudnya. Tidak pernah terbayangkan olehnya ada lelaki – selain sang Mahadewa Azhura Kahn – yang bisa memiliki hatinya.

“Apa maksud anda, Yang Mulia?”, dia tidak bisa mengamati ekspresi sang Mahadewa karena lelaki itu menenggelamkan wajahnya di rambutnya.

Terdengar helaan nafas sang Mahadewa, lalu lelaki itu mengangkat dagu Armenia dan mengecup bibirnya lembut,

“Apapun yang terjadi nanti, bagaimanapun hatimu akan bergerak ke arah lain, kau harus yakin Armenia, hanya akulah satu-satunya yang bisa mencintaimu dengan sempurna, kau melengkapiku dan aku melengkapimu, ingatlah nanti, bahwa apapun yang kulakukan, baik atau buruk, itu semua karena aku mencintaimu dan ingin menjagamu.”

Kata-kata Azhura Kahn itu membuat Armenia bertanya-tanya, dia ingin meminta penjelasan apa maksud dari kata-kata sang Mahadewa, tetapi lelaki itu sepertinya tidak sedang ingin menerima pertanyaan, dia memeluk Armenia erat, dan membiarkan kelopak-kelopak bunga Aro nan indah dan keemasan membungkus tubuh mereka.

***

Pagi itu, Armenia berjalan menyusuri taman di samping istana dengan beberapa kaum Zelts yang setia mengikutinya, dia menikmati keindahan taman yang di didominasi oleh warna orange kemerahan. Kabut pagi yang berkilauan masih melingkupi penjuru taman, menciptakan kilauan indah yang memanjakan mata.

Langkah Armenia pelan di balik gaunnya yang berdesir indah menyapu rerumputan lembut di kakinya, dan kemudian, sesuatu yang melintas mengejutkannya. Armenia memekik dan hampir terjatuh, untung saja perempuan-perempuan Zelt menahan tubuhnya supaya tidak terjatuh,

Armenia berusaha menenangkan napasnya, dan ketika matanya menelisik sesuatu yang melintas menghalangi jalannya serta hampir membuatnya jatuh, dia membelalakkan matanya terpesona.

Di sana, di seberang jalan setapak yang disusun oleh batu-batu kecil merah berkilauan, ada sesosok mahluk berbulu putih bersih, bermata besar, bening berkilauan, Amat sangat lucu dan menggemaskan.

“Itu mahluk apa?” Hati Armenia terasa hangat melihat kelucuan mahluk itu, mahluk yang menggemaskan dengan bulunya yang lembut putih bersih, hidung dan telinga berwarna pink dan ekornya bulat selembut kapas

Seorang perempuan Zelt melongok dibelakangnya dan tersenyum lembut ketika melihat apa yang ditatap oleh Armenia,

“Itu sasalu yang mulia, mahluk peliharaan para dewa.” Perempuan Zelt itu tersenyum, “Mungkin dia datang dari hutan.”

“Kesini…” Armenia berbisik lembut kepada sasalu yang bergeming di depannya, menatapnya dengan mata besar beningnya yang amat lucu, Armenia berjongkok, mengulurkan tangannya dan berusaha memanggil mahluk itu supaya mendekat, tetapi sepertinya mahluk itu takut kepadanya, kaki kecilnya bergerak mundur dan tiba-tiba sasalu mungil itu membalikkan badan dan melarikan diri masuk ke hutan,

“Tunggu!” Armenia bangkit dan hendak berlari mengejar ke hutan, tetapi tiba-tiba sebuah lengan menahannya dengan lembut.

“Anda tidak boleh masuk ke hutan, tuan puteri, wilayah hutan itu adalah perbatasan Dievas Rumai, dan sangat berbahaya untuk anda.” sebuah suara lembut bergumam ke arahnya, membuat Armenia menoleh dan ternganga menatap kecantikan mahluk di depannya.

Sosok yang memegang lengannya dan menahannya adalah seorang perempuan yang sangat cantik, penuh aura terang yang menyelimuti dirinya, pakaiannya indah, berwarna biru gelap yang berkilauan, matanya begitu jernih dan nuansanya amatlah agung.

Perempuan yang berdiri di depannya ini adalah seorang Dewi.

Armenia langsung menyadarinya dan hendak membungkuk memberi hormat, tetapi kembali jemari yang masih memegang lengannya itu bergerak menahannya,

“Isteri dari sang Mahadewa Azhura Kahn tidak boleh menghormat kepadaku.” Perempuan itu membungkukkan tubuhnya dengan lembut, “Hormat dari saya, Slimiba, Dewi Penyakit, kepada anda wahai Puteri Armenia.”

Armenia termangu, menerima penghormatan yang belum biasa diterimanya itu dengan canggung,

Slimiba rupanya mengetahui kecanggungan Armenia, sang dewi tersenyum dan kemudian membungkukkan tubuhnya sekali lagi,

“Senang sekali bisa berpapasan dengan anda puteri Armenia, meskipun tanpa sengaja. Dan mohon pamit, saya harus ke ruang utama, Sang Mahadewa Azhura Kahn memanggil saya.” Lalu dengan langkah seringan bulu, dewi yang sangat cantik itu meninggalkan mereka.

Armenia masih menatap Slimiba sampai sang dewi menghilang dari pandangannya, lalu dia tersenyum menatap perempuan-perempuan Zelt yang masih berdiri di depannya,

“Ternyata dewi penyakit Slimiba adalah dewi yang sangat cantik.” Armenia dulu mengira bahwa seorang dewi yang membawa penyakit tentulah penampilannya menakutkan, tetapi ternyata sang dewi yang tadi berdiri di hadapannya sangat bertolak belakang dengan perkiraannya.

Perempuan Zelt itu tersenyum menanggapi perkataan Armenia, “Anda benar tuan puteri, dewi Slimiba sama sekali tidak mencerminkan sebagai dewi penyakit, beliau sangat cantik dan mempesona serta menjadi kesayangan kaum dewa, bahkan Yang Mulia Azhura Kahn….” tiba-tiba perempuan Zelt itu menghentikan kata-katanya, menyadari bahwa dirinya sudah terlalu banyak berbicara.

Sayang sekali Armenia sudah mendengarnya, dia menjadi bertanya-tanya dan mengungkapkan keingintahuannya,

“Kenapa kau tidak melanjutkan kata-katamu?”

Perempuan Zelt itu menelan ludahnya, saling bertatapan dengan bingung, akhirnya salah satu perempuan itu memberanikan diri berbicara,

“Ampun Tuan Puteri, hamba tidak mau salah berbicara… yang ingin dikatakan oleh saudara kami hanyalah desas desus yang tidak bisa dipastikan kebenarannya.”

“Desas-desus apa?”

“Ampun Tuan Puteri, desas desus yang berkembang adalah… bahwa sebelum anda ditetapkan sebagai jodoh yang Mulia Azhura Kahn, sang Dewi penyakit Slimiba sebelumnya adalah kekasih dari yang Mulia Azhura Kahn.”

***

Yazza sedang berjalan di jalanan Garaya, bulan yang merah malam ini entah kenapa membuat jiwanya tak tenang, karena itulah dia memutuskan keluar dari istananya yang gelap pekat dan penuh dengan hitamnya pohon kulsu, lalu menelusuri jalanan Garaya dalam penyamarannya, berpakaian orange dengan jubah panjang serupa dengan kalangan rakyat jelata Garaya, tidak akan ada satu pendudukpun yang menyadari bahwa Yazza adalah mahluk berbeda, apalagi hari sudah begitu malam hingga sebagain besar penduduk Garaya sudah terlelap di peraduannya.

Malam ini dia berencana menemui Ruth, perempuan tua yang bodoh itu tidak sadar bahwa dirinyalah yang akan dikorbankan oleh Yazza supaya bisa mengembalikan ingatan Armenia.

Ingatan yang diambil oleh Azhura Kahn tidak bisa dikembalikan dengan mudah, kecuali dengan cara yang sangat mengerikan dan tidak semua orang berani melakukannya. Armenia harus meminum darah dari orang yang masih berhubungan darah dengannya, dan setelah itu Yazza bisa memanggil mantra pengembali ingatan kepada Armenia.

Tidak ada yang bisa menjamin bahwa cara itu akan berhasil, tetapi hal itu memang layak dicoba, terutama karena yang dikorbankan adalah manusia kotor dan tidak bernilai seperti Ruth.

Ya… Yazza akan menyerap darah Ruth sampai kering, dan meminumkannya kepada Armenia, setelah itu, Aspasya akan membantunya untuk mengalihkan hati Armenia dari sang Mahadewa Azhura Kahn.

Tiba-tiba langkah Yazza terhenti menyadari ada kekuatan luar biasa besar di depannya, tangannya langsung menyentuh dada, tempat senjata Machuahuiti, senjatanya yang mematikan itu bersemayam, seluruh tubuhnya menegang dan waspada.

Lalu sosok itu muncul, keluar dari kegelapan tepat didepannya, menatap sinis ke arah jemari Yazza yang bersiap di dadanya, lalu tersenyum sinis,

“Kau pasti sudah tahu bahwa Machuahuiti tunduk kepadaku dan tidak mampu melukai diriku.” Azhura Kahn bergumam dengan nada dingin yang mengerikan. Lelaki itu berdiri menjulang, dengan pakaian kebesarannya yang merah berkilauan, menatap Yazza dengan pandangan agung nan berwibawa.

Yazza menajamkan tatapannya, ketika menyadari bahwa yang ada di hadapannya adalah sosok yang begitu dibencinya, sosok yang dianggapnya bertanggung jawab atas seluruh penderitaan yang ditanggungnya, seluruh tubuhnya yang semula waspada, bergetar seolah-olah kemarahan yang pekat merayapi pembuluh darahnya, ketika berbicara suaranya terdengar penuh dendam,

“Saya tidak menyangka, seorang Mahadewa tertinggi seperti anda, mau merendahkan diri untuk menemui saya, Azhura Kahn.” suaranya pekat oleh kemarahan beku, menjalar terbawa oleh angin malam dan membuat bulu kuduk berdiri bagi siapapun yang tidak beruntung mendengarnya.

173 Komentar

  1. Hahaha, aku baru nemu ketik komennya, gaptek bgt aku, tak kira cuman bisa like, maapkeun saya buat penulisnya 🙏🤣

  2. Di awal ceritanya penuh keromantisan pasangan azhura dan armenia. Bikin baper abizzz

  3. Yazza :lovely :lovely

  4. dwioktapia30 menulis:

    :kisskiss

  5. Ariyantipita menulis:

    :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  6. Kinky Rain menulis:

    :mimisankarnamu

  7. shanaya_lee menulis:

    :wowakuterkejoet :wowakuterkejoet :wowakuterkejoet

  8. Indah Narty menulis:

    Yazza

  9. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  10. Love love

  11. dewantilaraswaty menulis:

    Sang Dewa swettnya :sebarcinta :sebarcinta :sebarcinta

  12. Sang dewaa tampann

  13. Ngebayangin sasalu, jadi beneran pengen liat di dunia nyata..

Tinggalkan Balasan