azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 23 : PERTEMUAN TAKDIR

Bookmark

No account yet? Register

2.823 votes, average: 1,00 out of 1 (2.823 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

azhuras-bride2

Yazza sedang termenung, menggulirkan bola emas bercahaya yang mengambang di tangannya itu dengan hati-hati mendekati matanya, mengamatinya.

“Apakah kau sudah siap terbangun?” Ada nada seram di balik kata-kata lembut yang diucapkannya kepada bulatan jiwa yang bercahaya itu. Nada seram penuh rencana keji yang diperuntukkan khusus untuk Mahadewa Azhura Kahn.

Bola jiwa yang bercahaya itu adalah milik Azpasya, ibunda Armenia. Yazza berhasil menemukannya ketika turun ke dunia gelap dan kemudian mengambil bola jiwa itu, untuk dibangkitkan lagi.

Kebangkitan Azpasya… yang tentu saja akan berada di pihaknya, akan sangat membantu rencananya untuk menghancurkan Azhura Kahn.

Bibir Yazza merapal mantra, mantra kematian mengerikan yang akan membuat bulu kuduk berdiri bagi siapapun yang sial mendengarnya, suaranya lembut tapi menyeramkan, menghantarkan nada-nada kegelapan untuk membangunkan jiwa yang seharusnya telah tertidur panjang.

Jiwa yang datang adalah jiwa yang gelap, karena sisi terang telah menyeberang ke langit. Membangkitkan jiwa yang gelap, sama saja membangkitkan monster haus darah yang tak punya hati.

***

Sepeninggal dewi Slimiba, Armenia masih menggenggam kotak berisi racun itu di jemarinya yang sedikit gemetar.

Bagaimana tidak, di dalam genggaman tangannya ada racun yang pasti berbahaya….. meskipun syukurlah, racun ini tidak akan mempan jika diperuntukkan untuk sang Mahadewa Azhura Kahn. Armenia menggenggam kotak itu erat-erat, lalu berjalan hendak melangkah kembali ke kamarnya dan mencari tempat penyimpanan yang aman bagi kotak racun  ditangannya.

“Armenia.”

Azhura Kahn memanggil ketika berpapasan dengan Armenia yang sedang melangkah melalui lorong Dievas Rumai nan indah, seluruh lantai lorong dilapisi karpet tebal empuk, menenggelamkan kaki mungilnya yang telanjang tetapi terasa menyenangkan.

Armenia menolehkan kepalanya dan tersenyum melihat Azhura Kahn yang hendak keluar dari ruang aula Dievas Rumai, Sang Mahadewa tampak begitu tinggi dan berkuasa dengan pakaian khasnya yang berwarna merah, tetapi ada setitik rasa cemas di hati Armenia ketika melihat betapa muramnya ekspresi Azhura Kahn.

Sejak kemarahan tanpa sebabnya semalam, sepertinya suasana hatinya belum juga membaik. Dan entah kenapa, menghadapi Azhura Kahn yang muram, terasa sedikit menakutkan bagi Armenia.

“Aku mendapatkan hadiah perkawinan dari Dewi Slimiba.” Armenia menunjukkan kotak yang diberikan oleh Dewi Slimiba kepadanya, berharap percakapan itu bisa mencairkan pembicaraan.

“Hadiah?” Eskpresi Azhura Kahn tidak tertebak, “Apa isinya?” gumam sang Mahadewa sambil mengedikkan dagunya ke arah kotak yang berukir indah itu.

Armenia tersenyum, “Isinya racun. Dewi Slimiba adalah pembuat racun paling ahli, jadi dia memberi kita hadiah racun terbaik berikut penawarnya….. ” Armenia mengerutkan keningnya, mencoba mengingat-ingat, “Kalau tidak salah, nama racunnya Marma.”

“Dari semua pilihan hadiah yang ada, dan dia memberikanmu racun?” Azhura Kahn mengangkat alisnya, “Hati-hati menggunakan racun itu Armenia, Marma tidak mempan terhadapku, tetapi dia bisa membunuh sebagian besar dewa, dan apabila diberikan pada manusia, efek membunuhnya bisa dua kali lebih cepat.”

Wajah Armenia memucat, memeluk kotak mungil itu ke dadanya, “Astaga, benda ini sangat berbahaya. Kalau begitu aku harus berhati-hati menjaganya.”

Azhura Kahn mengangguk tipis, “Ya, kau harus benar-benar menjaganya Armenia. Marma adalah racun yang sangat langka, bahan utamanya diambil dari sengat lebah asalari yang hanya muncul seratus tahun sekali.”

Armenia menganggukkan kepala, memandang bingung kepada Azhura Kahn yang berdiri di sana dan begitu kaku.

Kenapa sang Mahadewa terasa begitu menjaga jarak?

Biasanya di saat-saat seperti ini Azhura Kahn akan mengambil kesempatan untuk sekedar menyentuhnya, entah menyentuh tangannya, entah memeluknya… tetapi sekarang sang Mahadewa hanya berdiri di sana, menatapnya dengan ekspresi kelam yang tidak terbaca.

Armenia menghembuskan napas pendek, berusaha mengusir rasa tidak enak di hatinya, dia lalu menganggukkan kepala, berpura-pura ceria,

“Kalau begitu, aku… eh akan menyimpan kotak ini dulu.” Dia membungkukkan tubuh sedikit untuk memberi hormat, lalu membalikkan badan tanpa menunggu jawaban dari sang Mahadewa.

“Armenia.” Terdengar suara dalam dari Azhura Kahn, seperti menyimpan pedih. Lalu kedua lengan kokoh Azhura Kahn merangkulnya dari belakang, melingkupinya. Lelaki itu menekan Armenia supaya punggungnya bersandar di dadanya, dan memeluknya erat-erat.

Azhura Kahn menundukkan kepalanya, sedikit membungkuk dan menenggelamkan wajahnya kepada keharuman nikmat dari area antara pundak dan leher Armenia,

“Maafkan Aku.” Bisik Azhura Kahn serak di telinganya.

Armenia mengangkat jemarinya, menyentuh lengan sang Mahadewa yang melingkari tubuhnya begitu kuat. “Maaf untuk apa?”

“Karena aku bertingkah brengsek semalam.”

Armenia memejamkan mata ketika napas Azhura Kahn terasa panas di lekukan lehernya. “Apakah kau begitu …. karena marah padaku? Apakah aku punya kesalahan yang tidak aku sadari?”

Sang Mahadewa menghembuskan napas seolah kesal, “Marah padamu? Tidak. Aku marah pada diriku sendiri satu-satunya yang bersalah di sini adalah aku.” Azhura Kahn mendekatkan napasnya yang terasa panas ke leher Armenia, tiba-tiba perhatiannya teralihkan oleh godaan permukaan kulit leher Armenia yang lembut dan menggoda, lalu seolah tak bisa menahan diri, digigitnya leher Armenia pelan, “Hm… kau terasa sangat enak.” Erangnya.

Armenia merasa napasnya mulai tersengal, selalu begitu Sentuhan sang Mahadewa selalu membuat tubunya dipenuhi sensasi aneh yang menyenangkan.

Pikirannya mulai berkabut, meskipun masih ada beberapa pertanyaan yang berkecamuk di benaknya, membuatnya kebingungan.

Apa maksud Azhura Kahn mengatakan bahwa dia marah pada dirinya sendiri? Kenapa dia begitu muram pagi ini…?

Tapi kecupan-kecupan sang Mahadewa yang mulai menjalar kemana-mana itu menumpulkan pikirannya, pun dengan aroma minyak Arozhyukure yang akrab, membuat seluruh pertanyaannya yang berkecamuk buyar dan hilang entah kemana.

Yang bisa dilakukan Armenia hanya pasrah, membiarkan sang Mahadewa mengangkatnya ke gendongan lalu membawanya kembali ke peraduan.

***

Ketika Armenia membuka mata. Dia sendirian.

Percintaan mereka begitu intens tadi, tapi penuh dengan kelembutan dan kasih sayang, seolah-olah Azhura Kahn ingin menebus kekasarannya semalam.

Armenia bangkit dan menggunakan sikunya untuk membantunya duduk di atas ranjang, tubuhnya masih sedikit gemetar efek dari percintaan intens sebelumnya, ditariknya selimut yang merosot ke perutnya untuk menutup buah dadanya. Dia telanjang di balik selimut itu, hanya kalung rubi pemberian Azhura Kahn yang melingkari lehernya.

Armenia menatap ke bawah, ke karpet merah yang melapisi seluruh ruangan kamar sang Mahadewa Azhura Kahn, dan menemukan pakaiannya yang berserakan di lantai. Pelan dia menurunkan kaki, membungkuk lalu mengambil pakaian itu, dan memakainya tanpa suara.

Setelah merasa sedikit rapi, Armenia berjalan menuju ruang mandi, mengambil dengan jemarinya minyak Arozhyukure yang selalu tersedia memenuhi baskom emas berukir singa yang berjajar di atas meja panjang di samping kolam mandi, dipercikkannya sedikit minyak itu ke wajahnya untuk mengembalikan kesegarannya.

Setelah itu dia melangkah keluar peraduan sang Mahadewa, berharap bisa menyerap kesegaran pepohonan di taman. Cuaca selalu indah di Dievas Rumai, seolah alam memenuhi kehendak sang Mahadewa.

Tentu saja. Armenia tersenyum masam, bahkan dewa pengatur alam pun ada di bawah kekuasaan Mahadewa Azhura Kahn.

Langkah kaki Armenia terasa ringan, membawanya melalui pilar-pilar besar dari batu pualam di bagian samping istana. Pilar raksasa itu membentengi lorong kecil yang mengarah langsung ke arah taman bunga di samping tembok utama, kemarin para kaum Zelt membawanya kesana untuk menikmati hari dan bermain dengan hewan-hewan cantik penghuni Dievas Rumai.

Mata Armenia menangkap kehadiran Azhura Kahn di sana, senyumnya melebar, ingin memanggil, tetapi suaranya tercekat di tenggorokan seketika ketika melihat Sang Mahadewa sedang bersama seseorang.

Azhura Kahn sedang berdiri, menghadap Dewi Slimiba yang tampak cantik dengan gaun tenunan indahnya, dan rambut panjang terurainya yang ditiup angin, beliau mengenakan tudung sutera tipis di atas kepalanya, yang diikat di rambut dengan menggunakan tiara mungil berhias batu permata warna warni. Eskpresinya begitu lembut ketika menatap Azhura Kahn.

Sungguh dua orang yang sangat indah. Armenia tidak bisa menahan dirinya untuk berpikir. Tiba-tiba merasakan denyut aneh yang merayapi hatinya. Jika saja dia tidak ada, maka dua orang ini mungkin akan terus bersama…

“Kenapa kau memberikan racun marma kepada isteriku, Slimiba?” Suara rendah Azhura Kahn terdengar sampai ke tempat Armenia berdiri, “Kau tahu bahwa racun itu sangat berbahaya bukan?”

Slimiba menganggukkan kepalanya, tampak tenang meski menghadapi kegusaran sang Mahadewa Azhura Kahn, “Saya memberikannya untuk melindungi Armenia, Yang Mulia.” Jawabnya lembut, “Anda tahu, racun itu tidak mempan untuk anda, tetapi racun itu bisa membunuh para dewa, bahkan Yazza sekalipun tidak kebal terhadap racun Marma.”

Azhura Kahn terdiam, kerena itu Slimiba berani melanjutkan untuk mengutarakan apa yang ada di dalam pikirannya,

“Kita harus bersiap sedia untuk menghadapi ramalan itu Yang Mulia, Armenia adalah satu-satunya mahluk yang tidak bisa anda bunuh, tetapi dia juga satu-satunya mahluk yang bisa membunuh anda. Menjaganya tetap berada di Dievas Rumai saya rasa adalah keputusan yang tepat, Keberadaan Armenia di dunia luar akan memancing banyak orang yang ingin membunuh anda….”

Armenia tercekat mendengar perkataan Dewi Slimiba, dia membeku, mematung sementara benaknya berkecamuk dengan berbagai kesimpulan, menghujam sampi ke dalam lubuk hatinya.

Jadi itulah maksud Azhura Kahn bahwa dia adalah kelemahannya?

Suara napas tercekatnya rupanya terdengar oleh telinga sang Mahadewa yang tajam, Azhura Kahn menolehkan kepalanya dan terpaku ketika mendapati Armenia berdiri di ujung lorong, menatap dirinya dan Slimiba dengan tatapan mata nanar.

Kernyitan dalam muncul di dahi Azhura Kahn, dia memberi isyarat kepada Slimiba untuk pergi, yang segera dipatuhi, Demi Slimiba membungkuk hormat, kepada Azhura Kahn dan kepada Armenia, lalu melangkah pergi tanpa suara.

“Kau mendengar semuanya?” Azhura Kahn melangkah mendekat, Jubah panjang merahnya berkibar ditiup angin, membuat penampilannya tampak berkuasa.

Armenia menatap Azhura Kahn, ada kepedihan di dalam suaranya ketika dia berbisik pelan,

“Aku adalah kelemahanmu…… apa maksud Dewi Slimiba bahwa aku adalah satu-satunya mahluk yang bisa membunuhmu? ….. apakah… apakah karena itu kau membawaku ke Dievas Rumai? Karena itu kau menikahiku? Karena kau ingin …. ingin…’

“Singkirkan segala pikiran salah yang berkecamuk di kepalamu yang mungil itu!” Azhura Kahn menyela, suaranya tajam dan memerintah, “Aku menikahi dan membawamu ke Dievas Rumai bukan untuk menyimpanmu sebab kau adalah mahluk yang diramalkan bisa membunuhku.” Sang Mahadewa menyelesaikan ucapan Armenia yang tadi tidak terucapkan. “Bagaimana mungkin kau bisa berpikir seperti itu setelah aku menyerahkan hatiku padamu?”

Armenia terpaku, menatap bola mata berwarna merah yang mulai membara. Memberikan hati padanya? Sang Mahadewa yang terkuat, yang menguasai seluruh dunia Ametyst ini, memberikan hati kepada dirinya yang hanyalah manusia lemah?

Bukankah itu mencurigakan?

Apakah mungkin benar? Jangan-jangan Azhura Kahn memang ingin menyimpannya di sini karena dia adalah satu-satunya mahluk yang bisa membunuh sang Mahadewa? Mungkinkah perlakuan baik Azhura Kahn kepadanya selama ini hanyalah sandiwara demi menjaga Armenia supaya selalu ada di bawah kendalinya?

“Aku… aku tidak tahu.” Armenia memejamkan mata bingung oleh pikiran-pikiran buruk yang mulai meraja di otaknya, dia merasa sedih, seluruh keyakinan yang dibangunnya perlahan bahwa Azhura Kahn memang mencintainya sekarang mulai buyar, mengancam jatuh dan hancur berkeping-keping,

Azhura sendiri nampak gusar, keraguan Armenia kepadanya amat sangat mengganggunya,

“Apakah kau pikir aku mahluk serendah itu? Memanipulasi seorang anak manusia untuk melindungi diriku sendiri?” Suara Azhura Kahn terdengar dipenuhi kekecewaan, marah karena Armenia tidak mempercayai kesungguhannya.

Nyala api mulai menguar di permukaan kulitnya, menciptakan cahaya terang kemerahan.

Sang Mahadewa tampak menakutkan ketika berjalan menghampiri Armenia dengan langkah lebar dan tubuh yang menyala oleh api kemarahannya, dan ketika Azhura Kahn sudah dekat, lalu mengulurkan tangan untuk meraih tangan Armenia, refleks Armenia mundur, tidak bisa menyembunyikan ketakutannya.

Hal itu semakin memancing kemarahan Azhura Kahn, bibirnya menipis dan nyala api di tubuhnya semakin terang, “Jadi sekarang kau juga takut padaku?” Azhura Kahn terkekeh getir, “Setelah semua pembuktian yang kuberikan kepadamu, setelah semua yang kita lakukan bersama….”

Ekspresi Azhura mengeras, dan kemudian, tanpa belas kasihan, Sang Mahadewa mendekat lagi, membuat Armenia mundur dan terdesak di tembok, kedua lengan Azhura Kahn yang menyala memerangkap Armenia di sisi kiri dan kanan kepalanya, membuatnya tidak bisa kemana-mana.

Tubuh tinggi Azhura Kahn menaunginya, menciptakan bayangan gelap yang menghalangi pandangan Armenia, lelaki itu membungkuk, sementara lengannya yang lain mengangkat dagu Armenia supaya mendongak ke arahnya. Mereka berhadapan, begitu dekatnya sehingga uap napas keduanya saling bersahutan.

“Kau adalah anak manusia yang menjadi anugerah sekaligus kutukan untukku.” Suara Azhura Kahn terdengar pahit, “Satu-satunya mahluk yang tidak bisa kubunuh, tetapi juga satu-satunya mahluk yang bisa membunuhku. Apakah kau tidak tahu berapa kali aku mencoba meyakinkan diriku bahwa aku bisa memusnahkanmu bahkan sebelum kau lahir?”

Azhura Kahn menggerakkan kedua telapak tangannya, menangkup pipi Armenia, “Seandainya kau hanyalah tangan dan kakiku, maka aku akan langsung memotongmu supaya kehadiranmu tidak mengacau balaukan hidupku, tetapi bukan…. kau tidak sesederhana itu, Armenia, kau.. bagaikan… jantungku, aku tidak bisa membuang jantungku begitu saja. Aku tidak bisa…” Eskpresi kepedihan muncul lagi di wajah Azhura Kahn, “Karena itu sama saja aku membunuh diriku sendiri.”

Armenia menatap mata yang menyala itu, dan tiba-tiba ada kepedihan yang menyeruak dibenaknya melihat betapa terlukanya sang Mahadewa karenanya, matanya memanas dan menggulirkan butiran lembut air mata di sudutnya,

“Maafkan aku…maafkan aku karena meragukanmu.” Bisiknya pelan kemudian.

Ya. Armenia percaya kepada Azhura Kahn.

Meski terdengar mustahil, meski terdengar tidak mungkin bagi seorang Mahadewa paling kuat di jagad Ametyst ini untuk mencintainya begitu dalam… tetapi memang begitulah adanya. Terlepas dari anugerah atau kutukan alam semesta ini, Azhura Kahn sungguh-sungguh mencintainya.

Sang Mahadewa menatap Armenia dalam-dalam, lalu menundukkan kepala, mengecup sudut mata Armenia, menghapus air mata itu dengan kelembutan bibirnya, lalu memeluk Armenia erat-erat, menenggelamkannya dalam kehangatan dadanya.

“Jangan… pernah….” Suara Azhura Kahn tercekat, “Jangan pernah meninggalkanku, Armenia. Atau kau akan membuatku kehilangan kewarasanku.”

***

Mereka ada di bagian dalam bukit kematian, begitu dalamnya sampai dewa-dewa lain selain dirinya tidak akan bisa menembus kegelapan yang menyelimuti area ini.

Ya, Yazza memang sengaja membangunkan Azpasya di lokasi ini, demi menghindari perbuatannya yang melanggar hukum alam itu terdeteksi oleh dewa-dewa lain, atau lebih buruk lagi terdeteksi oleh Azhura Kahn.

Tempat terdalam bukit kematian ini adalah tempat yang hanya bisa dicapai oleh dewa kematian. Dan itu menguntungkannya. Kalau sampai Azhura Kahn mendapat petunjuk sedikit saja bahwa dia telah membangkitkan kembali Azpasya, maka buyarlah seluruh rencananya.

Perempuan setengah baya nan cantik itu berdiri dengan bingung, menatap Yazza dengan pandangan ketakutan. Perempuan itu tidak menua. Usianya berhenti ketika dia mati, sehingga ketika dia dibangkitkan lagi, cangkang yang terbentuk sama persis seperti tubuhnya di saat kematiannya.

“Siapa kau? Kenapa aku ada di sini?”

Yazza menatap sosok Azpasya dan merenung, reaksi bingung ini sama seperti Calamara ketika dibangkitkan pertama kali, pada awalnya semuanya tampak normal, tampak baik-baik saja. Sampai akhirnya bisikan kegelapan itu membutakan nurani, dan mendorong sang Jiwa gelap untuk terbangun mencari mangsa. Jantung segar dari manusia yang masih berdetak…

Ini akan membutuhkan waktu.

Yazza menipiskan bibir tidak suka, dia harus menunggu sampai kesadaran Azpasya yang asli menghilang, ditelan oleh jiwa gelapnya. Ketika itu terjadi, Azpasya akan seperti mayat hidup, mayat hidup yang makan jantung manusia dan bisa diperintahnya sesuka hati.

Yazza tersenyum lembut, menampilkan pesona indah di balik wajah malaikatnya,

“Anda aman bersama saya, ibu. Saya akan merawat anda sampai pulih….. apakah anda bisa mengingat semuanya? Puteri anda Armenia?” Yazza sengaja menekankan kata-katanya, “Sudah begitu lama anda tidak sadarkan diri, tahukah anda bahwa Armenia telah tumbuh besar menjadi perempuan dewasa?”

Mata Azpasya membelalak, “Armenia….?” gumamnya lemah, mengenali nama itu dengan sepenuh hatinya.

***

Azhura Kahn mencium sisi wajah Armenia, memuja tubuh telanjang di sampingnya, menunjukkan cintanya dengan sepenuh hati. Lengannya yang kuat memeluk Armenia dan mendekatkannya ke dadanya yang telanjang.

Percintaan mereka kali ini dipenuhi emosi, dan setelahnya ada kelegaan yang mengaliri keduanya, seolah-olah kawat membentang tegang nan menyiksa telah berhasil dikendurkan.

“Aku tidak selalu menjadi dewa yang baik, Armenia. Dulu aku tidak pernah menahan-nahan diri untuk membunuh siapapun. Sampai akhirnya aku membunuh mahluk yang seharusnya tidak dibunuh.” Azhura Kahn menundukkan kepala dan mengecup rambut Armenia yang menggesek dagunya.

“Anda membunuh seorang dewa?” Armenia mendongakkan kepalanya, menatap kedalaman bola mata merah yang kelam.

Azhura Kahn meringis, “Bukan. Bukan dewa, dia dewi perdamaian, Calamara Yang Agung.”

Armenia terkesiap, astaga membunuh dewi perdamaian tentu saja akan menghasilkan konsekuensi besar, bahkan seluruh manusia penghuni dunia Ametystpun tahu bahwa dewi perdamaian adalah mahluk yang dilarang untuk dibunuh ….

“Ya, mengerikan bukan? Bahkan alam semestapun murka kepadaku.” Gumaman Azhura Kahn terdengar pahit, “Aku dulu tidak punya kelemahan apapun Armenia, tidak ada yang bisa mengalahkanku, tidak ada yang bisa membunuhku. Hal itulah yang membuatku menjadi mahluk jahat yang arogan, tidak punya hati dan belas kasihan…..” Azhura Kahn mendongakkan dagu Armenia, mengecup bibirnya lembut, “Alam semestapun menurunkan takdirnya, Kau. Anak perempuan biasa yang tak bisa kubunuh tapi bisa membunuhku.”

Armenia mengerutkan keningnya tidak setuju mendengar kata-kata Azhura Kahn, “Aku tidak akan membunuhmu. Tidak pernah terlintas sedikitpun….” Armenia memberanikan diri mengulurkan jemarinya, menyentuh pipi Azhura Kahn.

Sang Mahadewa langsung memejamkan matanya, menikmati sentuhan lembut jemari Armenia di pipinya.

“Benarkah?” Mata yang terpejam itu membuka, menatap Armenia begitu dekat. “Kau tahu aku tidak bisa dilukai dengan senjata apapun…. tapi jika senjata itu ada ditanganmu, bahkan jika kau menancapkan pisau buah kecil ke tubuhku, aku akan terluka.”

“Aku tidak akan melakukan hal seperti itu.” Suara Armenia sedikit mengeras, membayangkan dirinya menancapkan senjata apapun kepada Azhura Kahn terasa mengerikan.

Tidak! Tidak mungkin dia melakukannya….

Azhura Kahn tersenyum, meraih jemari Armenia dari pipinya dan mengecup lembut jarinya satu persatu,

“Kau tahu apa yang paling aku takutkan? Bukan… bukan kematian. Aku tidak takut jika memang aku harus mati, bahkan di tanganmu sekalipun.” Suara Azhura Kahn begitu lembut, membuat Armenia ingin menangis, “Yang paling aku takutkan adalah kau…. aku takut suatu saat harus menghadapimu yang meninggalkanku, yang ingin membunuhku…. kau akan menghancurkan hatiku jika itu terjadi.”

Armenia merasakan butiran hangat di sudut matanya, entah kenapa kerapuhan sang Mahadewa ini membuatnya sedih, “Aku tidak pernah ingin menyakitimu, Azhura Kahn…. aku mencintaimu.”

Pengakuan Armenia seolah memberikan kelegaan yang luar biasa bagi Azhura Kahn, Sang Mahadewa tersenyum, lalu mencium bibir Armenia dengan tak kalah lembutnya,

“Aku juga mencintaimu Armenia, Isteriku, Jantungku, Pasangan takdirku. Berjanjilah kepadaku, sayang. Apapun yang terjadi, jangan pernah meninggalkan aku.”

***

Armenia mempercepat langkahnya sambil tersenyum ketika merasakan hembusan udara nan sejuk seakan menyapa kulitnya, meruapkan rasa dingin yang terasa nyaman di sekujur tubuhnya.

Udara di taman ini begitu segar, pun dengan bebungaan dan pepohonan yang terlihat begitu indah memanjakan matanya. Jantung Armenia masih berdebar penuh cinta mengingat semalam, dimana dirinya dan sang Mahadewa Azhura Kahn menjadi lebih dekat.

Tidak ada lagi rahasia yang disembunyikan…. Armenia tersenyum, merasakan bahagia yang sesungguhnya.

Tiba-tiba suara asing itu mengalihkan perhatiannya. Armenia menoleh ke asal suara, dan matanya melebar.

Mahluk lucu itu lagi…. Sasalu?

Mahluk itu tampak seperti gumpalan kapas menggemaskan yang duduk dengan tenang di samping batu besar di tepi hutan, matanya yang lebar menatap Armenia, menghangatkan hatinya.

“Apa yang kau lakukan di sana? Kemarilah.” Armenia berbisik lembut, mencoba membujuk hewan lucu itu mendekat, benaknya dipenuhi rasa penasaran, akan bagaimana rasanya jika dia memeluk mahluk itu di kedua lengannya.

Mungkin rasanya akan begitu lembut seperti kapas…..

Mahluk itu bergeming, hanya telinganya yang bergerak-gerak sedikit, mata lebarnya tetap mengamati Armenia, membuat Armenia tidak bisa menahan senyum senangnya.

“Kau bisa mendengarku kan? Aku tidak akan menyakitimu, sini kemarilah.” Armenia membujuk lagi, dengan hati-hati melangkah mendekat sedikit demi sedikit.

Sayangnya, ketika dia sudah semakin dekat dan hendak membungkuk di dekat mahluk lucu itu, Sasalu tersebut meloncat, lalu membalikkan badannya lari memasuki hutan.

“Hei….!” Armenia berteriak memanggil, pikirannya begitu terpusat pada mahluk lucu itu hingga mengabaikan peringatan Dewi Slimiba sebelumnya kepadanya, bahwa dia tidak boleh mendekati hutan, apalagi memasukinya. Bahwa hutan merupakan batas perlindungan Dievas Rumai…

Armenia berlari menembus hutan, mengejar Sasalu kecil yang ternyata bisa berlari meloncat-loncat begitu cepat. Langkahnya sedikit melambat ketika tiba-tiba dia memasuki area yang dipenuhi kabut merah yang sedikit menyesakkan dada.

Armenia ingin berbalik, tapi sudah kepalang tanggung, apalagi Sasalu kecil itu malah berhenti berlari di jarak yang cukup dekat, lalu menatapnya lagi, membuat Armenia tersenyum karena tingkah lucunya.

“Kau dasar mahluk kecil nakal, kau ingin berlari kejar-kejaran ya?” gumamnya tertawa dan tanpa pikir panjang, mengejar kembali Sasalu yang mulai berlari lagi, menembus pekatnya kabut berwarna merah.

***

Azhura Kahn tertegun, tubuhnya seolah dihantam begitu keras hingga membuatnya tak bisa bergerak. Dia sedang berada di ruang Aula bersama Saule sang Dewa Matahari ketika sensasi menyakitkan itu menyerangnya.

Tubuhnya langsung menegak waspada, nyala api di matanya membesar pun dengan api merah membara yang menyelubungi tubuhnya,

“Yang Mulia?” Saule bertanya, bingung dengan perubahan sang Mahadewa yang tiba-tiba. Azhura Kahn tidak pernah memunculkan api berkobar penuh seperti ini, kecuali ketika dia akan berangkat berperang.

“Ke perbatasan Dievas Rumai.” Suaranya menggelegar memenuhi ruangan, “Armenia.. dia menembus perlindungan kabut merah.”

Dan kemudian tubuhnya melesat, diikuti oleh Saule yang mengejarnya.

***

Langkah Armenia menyurut ketika seluruh kabut merah itu telah ditembusnya. Udara berangsur-angsur kembali normal, sejuk dan bening seperti biasanya.

Armenia menyadari bahwa dirinya telah menembus gugusan hutan berkabut merah yang membentuk serupa benteng itu.

Apakah dia telah keluar dari Dievas Rumai?

Tiba-tiba rasa cemas dan takut mulai menggelayutinya. Astaga! Dia telah melakukan keteledoran besar. Keluar dari perlindungan Dievas Rumai Sangat berbahaya. Azhura Kahn pasti akan sangat cemas…

Dia harus kembali lagi!

Armenia membalikkan badannya, hendak berlari masuk kembali ke dalam hutan ketika sebuah suara memanggil namanya, mengalihkan perhatiannya.

“Armenia.”

Suara itu lembut, lembut sekali dan terdengar akrab…. seolah-olah dia sudah mengenal suara itu begitu lama.

Reflek, dipenuhi rasa ingin tahu yang dalam, Armenia membalikkan badan ke arah suara itu.

…. Hanya untuk mendapati sesosok mahluk yang begitu indah bagaikan malaikat berdiri tak jauh di depannya.

176 Komentar

  1. PutryNurlaila menulis:

    :lovely

  2. Hah. Ceroboh :duuh

  3. Hadeh deg deg an cuy

  4. Armenia ketemu yazza :mimisankarnamu

  5. Ketemuuu

  6. yasmin cavelli menulis:

    ❤️

  7. dewantilaraswaty menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi

  8. Kinky Rain menulis:

    :panikshow

  9. shanaya_lee menulis:

    :endingnyagimanaini? :endingnyagimanaini? :endingnyagimanaini?

  10. Azzalea Dian menulis:

    :DUKDUKDUK :sebarcinta

  11. Aa kangennn

  12. Dan akhirnya ketemu Yazza..

  13. Baca ulang kisah cinta yang sama

Tinggalkan Balasan