azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 5 : Armenia…..

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.364 votes, average: 1,00 out of 1 (3.364 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Armenia seperti berada di dunia mimpi.

Dan dunia yang ini indah sekali, dengan taman bunga yang berwarna merah menyatu dengan dedaunan kulsu yang berwarna orange terang, berpadu dengan rumput lembut berwarna hijau yang melingkupi kakinya dengan hangat.

Dia berada di mana?

Dengan pelan dan hati-hati, Armenia melangkahkan kaki, sambil sesekali tersenyum ketika burung Adonis, burung kecil dengan bulunya berwarna putih bersih dan surainya yang panjang berkepakan di sekitarnya, sesekali bahkan hinggap di bahunya sambil berkicau dengan alunan suara yang merdu. Burung Adonis memang terkenal sebagai burung surgawi, karena nyanyiannya diibaratkan dengan nyanyian surgawi tempat para dewa dan dewi berasal.

“Apakah kau tahu aku berada di mana?” Armenia berucap lembut sambil tersenyum pada burung Adonis kecil yang hinggap di tangannya dengan berani. Burung itu mengangguk-anggukkan kepalanya, lalu kicauannya menggema dengan indahnya.

Armenia tertawa ketika burung itu mengepakkan sayapnya dan pergi setelah sebelumnya mengangguk-anggukkan kepalanya sekali lagi seolah-olah sedang memberi hormat kepada Armenia.

Suara gemericik air di kejauhan menarik perhatiannya, Armenia melanjutkan langkahnya ke sana, ke tempat suara air itu semakin terdengar dekat dan jelas.

Dan sampailah dia di pemandangan yang sangat indah. Gugusan pepohonan terbentang membentuk lingkaran yang semakin meninggi di perbukitan yang dikucuri oleh tiga air terjun dengan air jernihnya yang berwarna sangat biru. Bunga-bunga bermekaran disekitar danau kecil tempat jatuhnya air terjun itu menyatu. Suara burung-burung seakan meramaikan keindahan yang ada di sana, apalagi ditambah dengan banyaknya serangga lucu berwarna-warni dengan berbagai corak yang berterbangan dengan damai mengitari pucuk-pucuk bunga.

Armenia ternganga, dia tidak pernah melihat keindahan seperti ini sebelumnya. Langkahnya sempat ragu dan pelan, tetapi kemudian dia memberanikan diri, hingga sampai di tepi danau. Disentuhkannya kakinya sedikit di air yang beriak pelan di tepi danau, danau itu ternyata tidak dalam, dan airnya sangat bening sehingga dasarnya yang penuh bebatuan halus dan pasir putih tampak jelas, mungkin paling dalam danau kecil itu hanya sepinggang Armenia.

Dan airnya hangat…. kehangatan air itu menggodanya, hingga tanpa sadar Armenia melepas pakaiannya, kemudian melangkah semakin dalam ke danau masuk ke tengahnya, sambil menikmati percikan dari tiga air terjun di atasnya yang terasa menyenangkan.

Armenia terkekeh, merasa senang sambil memainkan air di jemarinya, membasahi seluruh tubuh telanjangnya berikut rambutnya. Dan kemudian berlutut di pasir hingga tubuhnya tenggelam sampai ke pundak, tubuh remajanya yang indah hampir tertutup oleh air yang bening itu, menyisakan bayang-bayang siluet yang semakin menggoda karena begitu jernihnya air.

Setelah membasahi rambutnya, Armenia memejamkan matanya dalam damai, menikmati kehangatan yang membungkus tubuhnya.

“Armenia…”

Bisikan itu membuat Armenia terperanjat hingga hampir berdiri dari tempatnya berlutut. Tetapi dia membentur tubuh yang kokoh, begitu kokoh dan keras dengan lengan-lengannya yang kuat memeluk tubuh telanjangnya dari belakang. Armenia menyadari lelaki itu sangat tinggi, mengingat sekarang, pucuk kepalanya ada di dagu laki-laki itu.

Tubuh itu terasa panas….. dan sudah jelas seorang laki-laki. Laki-laki yang telanjang.

Armenia gemetar ketakutan. Dia berdiri di sini, ditempat yang tidak diketahuinya, di tengah air dalam kondisi telanjang yang membuat dirinya amat sangat rapuh. Dengan bodohnya dia seperti membuat dirinya sengaja memamerkan diri untuk menjadi mangsa orang jahat.

Dan jikalau lelaki yang memeluknya ini adalah orang jahat….

Pikiran itu membuatnya takut, seketika itu juga Armenia berusaha meronta, berusaha melepaskan diri. Tetapi entah kenapa, sentuhan kulit hangat lelaki itu yang berpadu dengan riakan air hangat yang mengelilinginya, membuatnya tidak bisa bergerak, tak berdaya seolah kehilangan seluruh kekuatannya.

Lelaki di belakangnya itu harum….. dengan aroma yang manis menenangkan hati, aroma tubuhnya begitu agung, seakan-akan bukan aroma manusia biasa. Lengan keras lelaki itu makin mempererat pelukannya dari belakang di tubuh telanjangnya, dan kemudian Armenia bisa merasakan Lelaki itu menundukkan kepalanya, dan napasnya terasa dekat di telinganya.

“Armenia………”

Sekali lagi lelaki itu membisikkan namanya dengan bisikan lembut, lalu bibir lelaki itu semakin tertunduk, memberikan napas yang hangat dan menggoda di telinganya, membuat seluruh bulu kuduk Armenia berdiri oleh sensasi yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Dan kemudian bibir lelaki itu berlabuh di pundaknya yang halus seputih pualam, memberikan kecupan panas, yang membuat Armenia mengerang, mendongakkan kepalanya, merasakan hantaman sensasi yang aneh dan terasa panas, menjalari seluruh kulitnya…. merasuk ke tubuhnya…

………

“Armenia!!”

Armenia membuka matanya seketika, mengerjap-ngerjapkan bulu matanya yang panjang dan indah, lalu berusaha menetralkan detak jantungnya yang terasa cepat. Dia memandang sekeliling, merasakan pandangan matanya buram, Armenia berusaha fokus dan kemudian menarik napas panjang menyadari bahwa dia sedang berada di padang rumput di dekat peternakan milik ayahnya.

Mimpi…

Semua itu hanya mimpi. Dan tiba-tiba saja Armenia merasa malu, sudah beberapa hari ini, semenjak ulang tahunnya yang ke tujuh belas, Armenia selalu dihantui oleh mimpi-mimpi aneh tentang sosok lelaki misterius yang menggodanya.

Apakah karena dia sudah remaja jadi dia selalu memimpikan hal-hal dewasa seperti itu?

Pipi Armenia bersemu merah. Tidak! Mimpi itu memang mimpi aneh. Armenia tidak pernah dekat dengan lelaki manapun, meskipun banyak lelaki yang ingin mendekatinya. Selain karena ayahnya sangat galak dan selalu menjaganya, Armenia juga belum merasa tertarik dengan lelaki manapun.

Kecuali lelaki dalam mimpinya….

Meskipun selalu muncul samar-samar dan tidak jelas, Armenia selalu merasakan perasaan hangat dan bergejolak ketika mengingat tentang lelaki dalam mimpinya itu.

“Kenapa pipimu bersemu merah?” Suara Jelena, sahabat perempuannya yang terdengar geli itu membuyarkan lamunan Armenia, membuat pipinya yang bersemu semakin memerah ketika menyadari bahwa Jelena mengamatinya selama ini.

Jelena tertawa, menyadari bahwa Armenia merasa malu. Perempuan itu menaruh keranjang anyaman di tangannya yang penuh berisi buah kulsu berwarna orange keemasan, dan berlutut di depan Armenia.

“Mimpi apa?” tanyanya penasaran dengan tatapan matanya yang nakal.

Armenia memalingkan wajahnya, tidak tahan ditatap seperti itu, “Bukan apa-apa.” Jawabnya cepat.

Jelena mengangkat alisnya. “Ayahmu menyuruhku mencarimu, katamu kau akan menjemput Bruno, keledai kesayangan ayahmu dari merumputnya di samping peternakan, tetapi sudah satu jam berlalu, kau tidak kembali-kembali, dan ternyata aku malahan menemukanmu di sini, tertidur di rerumputan dan bermimpi yang membuat pipimu memerah.”

“Pipiku tidak merah.” Armenia menyentuh pipinya yang terasa panas, berusaha melupakan sensasi kecupan panas lelaki dalam mimpinya itu di pundaknya. Jemarinya menyentuh pundaknya, dan tiba-tiba mengernyit karena pundaknya terasa panas.

Baju yang dikenakannya adalah pakaian musim semi pedesaan, dengan rok panjang dari jalinan katun berwarna orange tanpa lengan, dan kain yang disampirkan untuk menutup lengan dan pundaknya yang terbuka, Armenia menurunkan kain itu dan terkejut ketika melihat pundaknya.

Ada bekas merah di sana…. bekas merah yang terasa panas…

“Semut-semut itu pasti menggigitmu.” Jelena yang juga melihat bekas merah di pundak Armenia itu menatapnya dengan prihatin, “Aku sudah bilang padamu, jangan suka tidur di rumput, kan kita tidak tahu serangga apa yang tinggal di sana.”

Tapi itu bukan gigitan serangga….. Armenia merasa ragu, bertanya-tanya sendiri dalam hatinya, Kalau bukan gigitan serangga berarti apa?

Dan ketika melihat Armenia masih terpaku seolah kebingungan, Jelena mengambil keranjang buah kulsunya, lalu mengamit lengan Armenia dan menggandengnya, mengarahkannya ke jalan setapak menuju rumah. “Ayo kita pulang Armenia, langit sudah semakin gelap, sepertinya hujan  akan turun malam ini, dan ayahmu pasti mencemaskanmu.”

Rumah Jelena, kebetulan berada di seberang rumahnya. Mereka berteman sejak Armenia pindah ke desa kecil di perbatasan antara Garaya dan Marata. Desa kecil yang dilindungi bukit yang tinggi dan hutan yang lebat dengan penduduk berjumlah hanya seratus orang.

Armenia datang ke desa ini bersama ayahnya ketika dia berusia sepuluh tahun, ingatan akan kedatangannya waktu itu terasa samar-samar sekarang, tetapi yang pasti dia ingat, Jelena adalah salah satu anak sebayanya yang langsung berteman akrab dengannya.

Mengenang masa-masa indahnya tumbuh besar di desa ini, membuatnya tersenyum dan melupakan mimpi anehnya beserta tanda merah di pundaknya itu, dia menoleh ke arah langit yang semakin gelap dengan mendung menggulung di ujung sana, lalu tersenyum ke arah Jelena,

“Apakah kau tahu bahwa ayahku sudah setuju untuk mengantar Adikmu dan kita ke kota di hari besar itu dua hari lagi?”

“Benarkah?” Mata Jelena membesar, lalu senyumnya melebar, membentuk tawa kecil, “Aku tidak sabar lagi, aku akan bilang pada mamaku, mamaku pasti ingin ikut juga.”

“Ya. Tentu saja mamamu boleh ikut, kereta ayahku kan cukup besar untuk memuat kita semua.” Armenia menjawab dengan bersemangat, dan tersenyum senang.

Tadi pagi, ayahnya bilang bahwa dia punya waktu untuk mengantar Armenia dan Jelena, untuk melihat perayaan musim semi di pusat kota Garaya. Dua hari lagi, akan ada persembahan pertama untuk anak-anak di seluruh kerajaan untuk sang Mahadewa Azhura Kahn,  Hayla, adik Jelena adalah satu-satunya anak berusia sepuluh tahun di desa kecil ini, semula keluarga Jelena bingung karena mereka tidak punya kendaraan untuk mengantarkan Hayla ke kuil terbesar sang Azhura. Tetapi kemudian Armenia beritikad untuk meminta bantuan ayahnya, dan syukurlah sang ayah menyetujuinya.

“Mamaku sudah menjahitkan baju terbagus untuk Hayla dan mempersiapkan persembahan untuk di bawanya. Saat-saat itu memang sangat menyenangkan ya, dan menjadi impian bagi gadis-gadis seperti kita.” Mata Jelena menerawang, mengenang, lalu menatap Armenia dengan rasa ingin tahu, “Kau kan seumuran denganku, jadi waktu persembahan pertama itu kita pasti berada di sana bersama-sama, sayangnya waktu itu kita belum saling mengenal ya. Tapi kau kan pasti masih ingat betapa menyenangkannya saat itu dan betapa mengagumkannya melihat patung sang Azhura dari dekat serta meletakkan keranjang persembahan di bawah kakinya.”

Armenia menggelengkan kepalanya dengan sedih mendengar kata-kata Jelena yang bersemangat,

“Kau tahu… aku tidak bisa mengingatnya Jelena” suara Armenia terdengar pelan, penuh penyesalan. Dia selama ini selalu mencoba, selalu. Tetapi ingatan masa lalunya sebelum dia berusia sepuluh tahun, tidak pernah bisa diraihnya, seakan-akan ada tembok gelap yang menghalangi dan setiap Armenia berusaha menembusnya, tembok itu terasa semakin kuat membuatnya terbentur dan menyerah.

Jelena menghentikan kata-katanya dan menatap Armenia dengan prihatin,

“Ah… ya..ya.., maafkan aku Armenia, aku lupa bahwa ketika kau datang kemari, kau kehilangan semua ingatanmu, kata ayahmu kepalamu terbentur saat jatuh dari kuda… dan kau kehilangan semua kenangan masa kecilmu sebelumnya.” Jelena tersenyum memberi semangat, “Tapi tidak apa-apa Armenia, kan sebentar lagi kita berangkat ke pusat kota, kau akan bisa melihat patung sang Azhura Kahn yang  melegenda itu.”

Armenia tersenyum senang semangatnya kembali, bayangan akan bisa melihat patung sang Azhura yang agung yang selama ini diceritakan dan dipuja oleh penduduk desa itu membuatnya sangat bersemangat, langkahnya semakin cepat, dan dia teringat kabar yang didengarnya ketika membeli sayuran di ujung desa.

“Kata Bibi penjual sayuran, upacara persembahan kali ini adalah yang terbesar dan berbeda dari yang sebelum-sebelumnya.” Gumamnya, berusaha mengingat-ingat percakapannya tadi pagi.

“Kenapa?” tanya Jelena tertarik.

“Kau tahu kan Putri Khaeva? Beliau adalah anak perempuan yang menerima persembahan sang Azhura di usianya yang sepuluh tahun. Tahun ini beliau menginjak usia tujuhbelas sama seperti kita , perayaan tahun ini akan bersamaan dengan perayaan ulang tahun putri Khaeva sekaligus persembahan putri Khaeva yang sudah cukup umur kepada sang Azhura Kahn.”

“Aku pernah mendengar cerita tentang putri Khaeva. Seandainya saja kau masih punya ingatanmu, kau pasti masih ingat kehebohan yang terjadi waktu itu. Putri Khaeva seumuran dengan kita, jadi beliau memberikan persembahan pertamanya bersamaan dengan kita, waktu itu keranjang persembahan hilang satu, dan kemudian ketika kita semua dipanggil kembali oleh sang pendeta tertinggi, ternyata putri Khaeva adalah perempuan yang terpilih, yang dipercaya sebagai bakal isteri sang Mahadewa. Kata orang-orang dia sangat cantik, dan kalau beruntung, kita bisa melihat beliau nanti di upacara besar itu!” suara Jelena mengeras karena bersemangat, tapi kemudian Jelena menatap Armenia lagi sambil mengerutkan keningnya, “Kau pasti tidak ingat juga ketika kita dipanggil kembali dan diwawancarai satu persatu secara langsung oleh sang pendeta tertinggi, aku gugup sekali waktu itu.”

Armenia menggelengkan kepalanya, “Tidak. Aku tidak ingat.” Gumamnya dalam senyum penuh penerimaan.

Tiba-tiba, tetes-tetes air membasahi lengan mereka, pertanda akan hujan yang sungguh aneh karena turun di musim semi. Jelena langsung melindungi keranjang buahnya dengan kain yang dibawanya, lalu menarik tangan Armenia setengah berlari menuju rumah.

“Ayo cepat Armenia, sepertinya hujan  akan turun deras sekali, kita akan basah kuyup begitu sampai di rumah!”

***

Armenia terbatuk-batuk pelan, tubuhnya terasa panas dan kepalanya pening. Tadi hujan tiba-tiba turun dengan derasnya, membuat mereka benar-benar basah kuyup seperti habis tercebur di sungai dari kepala sampai kakinya.

Ketika pulang, ayahnya sudah menantikannya dengan cemas di pintu. Jelena sendiri langsung berlari ke rumahnya. Diiringi guntur yang menggempur-gempur di langit sana, Ayah Armenia, Daika sang peternak, langsung memberikan handuk besar kepadanya,

“Gantilah bajumu Armenia.” Sang ayah menyerahkan handuk besar itu, dan Armenia melepaskan kain penutup pundaknya yang terasa berat dan basah menetes-neteskan air, lalu mengambil handuk itu untuk menggosok rambutnya. Ketika itulah mata Daika mengarah pada tanda merah di pundak anak perempuannya, wajahnya langsung pucat pasi.

“Kenapa itu Armenia?” suara Daika terdengar bergetar ditengah derasnya hujan yang turun.

Armenia mengikuti arah pandangan sang ayah, menatap ke tanda merah di pundaknya yang kini semakin jelas, dan mengerutkan dahinya bingung,

“Aku tidak tahu ayah, aku tadi tertidur di rerumputan… kata Jelena, mungkin aku digigit serangga.”

Daika menatap tanda merah itu, lalu cepat-cepat memalingkan kepalanya, menyembunyikan ekspresi wajahnya dari tatapan Armenia.

“Cepatlah mandi dan berganti pakaian kering, ayah akan menghangatkan sup untukmu.”

Ketika Armenia selesai berganti baju, Ayahnya sudah menuangkan sup hangat untuknya di meja dapur, tetapi Armenia malahan bersin-bersin dan hampir tidak bisa menyelesaikan memakan sup-nya.

“Kau demam Armenia.” Daika, Ayah Armenia yang sudah tua dengan janggut putih dan rambut yang putih menatap anak perempuannya dengan cemas, “Berbaringlah dan tidur, ayah akan meramu obat dari akar pohon tualsa untuk menurunkan panasmu.”

Armenia menurut, lagipula kepalanya sudah terasa begitu berat. Dengan pelan, sambil berpegangan pada dinding untuk menjaga keseimbangan tubuhnya, Armenia melangkah menuju kamarnya, begitu melihat tempat tidurnya, dia langsung membanting tubuhnya dan bersembunyi meringkuk di balik selimutnya yang hangat.

Tangannya seperti biasa langsung menggenggam kalung rami yang tak pernah lepas dari lehernya. Kata ayahnya, kalung itu adalah buatan ibunya yang diberikan kepadanya di ulang tahunnya ke sepuluh, di dalam kalung itu ada kantong kecil berisi batu rubi berbentuk air mata dengan sinar kuning di tengahnya, yang dipercaya ibundanya bisa melindunginya.

Armenia tidak punya ingatan sama sekali tentang ibunya yang sudah meninggal, ayahnya juga sangat jarang bercerita tentang ibunya, sehingga Armenia selalu meraba-raba, mencoba mencari kenangan tentang ibundanya meski selalu gagal, dia tidak punya ingatan apapun, tetapi kalung ini adalah satu-satunya peninggalan ibunya yang nyata, yang mungkin pernah dipegang ibunya di masa lalu, dan dia terbiasa menggenggam kalung ini jika menginginkan ketenangan, sejak dia kecil.

Pada akhirnya Armeniapun terlelap meskipun tubuhnya demam, panas seperti dipanggang api.

***

Daika mengambil akar pohon tualsa yang berwarna putih seputih susu dari toples obat yang diletakkannya di sudut ruangan, dia menyiapkan alat penumbuk dan sedang bersiap untuk menumbuk akar itu, ketika kemudian dia merasakan kehadiran sesuatu yang lain di ruangan itu.

Seketika itu juga, dia membalikkan badannya dan bersujud.

“Akhirnya anda datang, wahai Azhura Kahn.” Gumamnya penuh hormat.

Azhura, yang datang dalam wujud manusianya, hanya berdiri diam di tengah ruangan, menunggu hingga sosok pelayannya itu selesai menyembahnya dan berdiri.

Ya, Daika, ayah Armenia, adalah Daika yang sama, pelayan sang Azhura Kahn yang paling setia, yang telah mendampingi sang Mahadewa sejak beribu tahun yang lalu.

Malam itu ketika Azhura Kahn mengambil ingatan Armenia, Daika membawa Armenia dan kemudian menyamar sebagai penduduk baru dengan puteri kecilnya di desa kecil berpenduduk hanya 100 orang di hutan perbatasan. Desa ini sangat jarang tersentuh dari pengaruh luar, dan terlindungi di bawah kekuasaan Azhura Kahn sehingga Armenia bisa tumbuh dewasa dengan aman.

Sang Azhura sendiri tidak pernah menampakkan dirinya…. hingga saat ini, setelah Armenia berusia 17 tahun.

“Anda memberikan tanda Azhura Kahn kepadanya.” Daika bergumam hati-hati, teringat akan bekas merah di pundak Armenia. Jika dilihat dari jauh, tanda merah itu hanyalah seperti bekas merah gigitan serangga, tetapi jika dilihat lebih dekat, maka tanda itu membentuk huruf maldeva kuno, huruf para dewa di masa yang lampau yang sekarang mungkin tidak dikenal oleh manusia, huruf itu membentuk nama Azhura Kahn.

“Untuk perlindungannya, Daika. Tanda namaku di tubuhnya akan membuat mahluk-mahluk yang tak terlihat ketakutan ketika mencoba mendekat. Mulai sekarang, setelah menginjak usianya yang ke tujuh belas, akan ada banyak serangan yang mencoba melukainya, kau tahu itu.” Azhura Kahn menatap Daika dengan tenang, ada sinar dingin yang kontras di balik nyala api di bola matanya, ” Mungkin sekarang musuh-musuhku masih teralihkan karena mereka sedang berfokus pada Khaeva, tetapi mereka pasti akan segera tahu, dan akan menyerang Armenia…..Karena Armenia adalah titik kelemahanku.”

Ada senyum penuh ironi di bibir sang Dewa ketika mengucapkan kalimat terakhir itu.

Lalu suara sang Mahadewa Azhura memudar, seiring dengan bayangan tubuhnya yang ikut memudar dan kemudian menghilang meninggalkan debu emas yang menyaru menjadi cahaya kerlap kerlip yang indah.

Daika menghela napas panjang, melanjutkan kegiatannya menumbuk akar pohon tualsa untuk penurun demam Armenia, meskipun batinnya berkelana jauh penuh kecemasan.

Saatnya sudah tiba….. dan semoga semua akan baik-baik saja…

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

264 Komentar

  1. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  2. Sayang Azhuraaaaa hee

  3. Shelli Novianti menulis:

    :awaskubalasnanti

  4. Terussssss …

  5. Azhuraa :happy

  6. Reread lagi, ga bosen bacanya

Tinggalkan Balasan