azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 11 : “Sang Kematian”

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.143 votes, average: 1,00 out of 1 (3.143 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Zhura Al Gul lalu melangkah sambil sedikit menghela tubuh Armenia yang masih terpaku akan kata-kata lelaki itu, bahwa Armenia adalah miliknya….

“Ayo kita harus ke kuil Azhura Kahn.”

Armenia langsung membelalakkan matanya tertarik, “Apakah kita akan melihat persembahan pertama puteri Khaeva kepada sang mahadewa Azhura Kahn?” dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraan di balik suaranya.

Zhura Al Gul menoleh menatapnya dan ada senyum di matanya, “Kau sepertinya sangat senang bisa melihat puteri Khaeva.”

“Tentu saja, semua orang sangat ingin melihat penampilan puteri Khaeva hari ini. Beliau adalah orang yang begitu beruntung menjadi pengantin sang Azhura Kahn.” Armenia menjelaskan dengan bersemangat.

Zhura Al  Gul menatap Armenia dengan sedikit tertarik,

“Beruntung? Apakah menurutmu, perempuan yang terpilih menjadi pengantin Azhura Kahn adalah perempuan beruntung?”

“Tentu saja.” Armenia menyambar sambil menatap Zhura Al Gul seolah-olah lelaki itu adalah lelaki aneh. “Bayangkan saja, terpilih menjadi pengantin sang Mahadewa Azhura Kahn, pasti puteri Khaeva benar-benar perempuan mulia dan sangat beruntung.”

Zhura Al Gul terkekeh, “Kau akan lebih beruntung dari puteri Khaeva, Armenia, kau akan lebih beruntung….”

Lelaki itu membalikkan tubuhnya kembali, membawa tangan Armenia dalam genggamannya untuk mengikutinya. Sementara itu Armenia masih bertanya-tanya tentang kalimat terakhir Zhura Al Gul. Sepertinya hari ini lelaki itu banyak sekali mengungkapkan perkataan-perkataan misterius.

***

Para pendeta kuil, muda dan tua, laki-laki dan perempuan, berdiri dengan teratur di seluruh sisi altar, bagian utama dari kuil itu, sebuah altar besar yang menghadap ke arah patung agung sang Mahadewa Azhura Kahn yang sedang menghunuskan pedangnya,  semua pendeta itu mengenakan jubah merah yang sama.

Mereka semua menunggu puteri Khaeva muncul dari pintu kuil yang menghubungkan dengan lorong istana.

Begitupun dengan seluruh penduduk Garaya yang berjubel di sisi-sisi samping kuil yang pintu-pintunya telah dibuka lebar, sehingga keseluruhan kuil tampak seperti panggung berbentuk lingkaran, dengan banyak penduduk memenuhi seluruh sisinya, membeludak sampai ke pintu gerbang kuil yang paling jauh.

Dan kemudian saat yang dinanti-nantikan tiba.

Pintu dengan ukir-ukiran emas yang megah itupun terbuka, dan pendeta Asoka, pendeta dengan kedudukan paling tinggi di Garaya pun melangkah memasuki bagian utama kuil.

Dibelakangnya, ada puteri Khaeva dengan penampilannya yang luar biasa cantik….Puteri Khaeva benar-benar mewakili penampilan seorang puteri khayangan. Gaunnya merahnya luar biasa indah, membungkus tubuh rampingnya, dan mengembang di bawah pinggangnya, dengan ekor gaun bersulamkan emas bermotif lidah api, yang panjang yang beriap-riap menyapu lantai.

Penampilan puteri Khaeva benar-benar mempesona, hingga terdengar suara-suara gumaman penuh kekaguman dari seluruh penduduk desa karena terpesona dengan kecantikan sang pengantin Mahadewa.

Dan diantara para penduduk yang berjubel itu, lelaki berjubah putih itu berdiri di sana, dengan tudung masih menutupi rambutnya yang keperakan.

Lelaki itu tampaknya tidak mempedulikan hiruk pikuk di sekitarnya, dia berdiri kaku di sana, dengan mata tajam menatap ke arah puteri Khaeva. Diamatinya perempuan itu dari ujung kepala sampai ujung kaki.

Perempuan yang cantik….  ‘Sang Kematian’ bergumam dalam hati, mengakui tingginya selera Azhura Kahn. Senyum tipis nan samar masih tampak di bibirnya ketika dia mengalihkan pandangan matanya, mengamati seisi bagian kuil, dari atap-atapnya yang penuh dengan lukisan-lukisan alam indah, sampai ke pilar-pilarnya yang megah dari batu pualam,  matanya bergerak menyapu seluruh penduduk dan pendeta yang berdiri dengan hormat di bagian altar, lalu ‘Sang Kematian’ mengerutkan keningnya.

Tidak ada tanda-tanda Azhura Kahn di sini…..

Mahadewa Azhura Kahn seharusnya datang, menerima persembahan pengantinnya yang sudah berusia tujuh belas tahun. Tetapi saat ini, ‘Sang Kematian’ tidak bisa merasakan kehadirannya.

Apakah Azhura Kahn menyamar sebagai manusia….?

Suara-suara gemuruh penduduk yang bersemangat mengalihkan perhatian ‘Sang Kematian’ dia menoleh kembali, dan rupanya, api persembahan sudah dinyalakan oleh para pendeta, menciptakan keindahan obor-obor api yang menyala mengelilingi patung sang Azhura Kahn.

Sementara itu, Puteri Khaeva yang diikuti pendeta Asoka beserta para pelayan lelaki yang membawa persembahan berjalan melalui karpet merah, hingga sampai tepat di depan patung sang Azhura Kahn.

Sesuai ritual, puteri Khaeva bersujud, mencium kaki patung sang Azhura Kahn, dan kemudian para dayang meletakkan persembahan-persembahan itu di bawah kaki patung sang Azhura Kahn.

Para penduduk kemudian bergeming, menunggu sesuatu terjadi. Semua orang pastinya sudah mendengar kisah bagaimana sang Azhura Kahn sendiri datang menemui puteri Khaeva dan menerima persembahannya secara langsung. Dan sekarang mereka sangat berharap sang Mahadewa datang kembali, dan mereka bisa melihatnya dengan mata kepala mereka sendiri…

***

Entah bagaimana, Zhura Al Gul bisa membawa Armenia ke posisi terdepan, sehingga mereka bisa melihat penampilan puteri Khaeva secara langsung tanpa ada halangan. Armenia sendiri termasuk orang yang mendesah senang melihat kecantikan puteri Khaeva.

“Dia sangat cantik.”

Azhura Kahn tersenyum menatap perempuan polos yang akan segera menjadi isterinya dalam adat manusia, lalu tersenyum samar.

“Bagiku kau lebih cantik.”

Azhura Kahn bisa melihat pipi Armenia yang bersemu merah ketika mendengar pujiannya, dan dia tersenyum. Nanti, setelah mereka menikah, pipi itu akan selalu memerah karena  Azhura Kahn akan melimpahinya dengan pujian tanpa batas.

Mata tajam Azhura Kahn lalu mengamati penampilan puteri Khaeva yang sedang memberikan persembahan untuk patung dirinya. Mata itu menyipit, penuh perhitungan.

Khaeva sama sekali tidak tampak cantik bagi Azhura Kahn. Para manusia fana mungkin bisa tertipu dengan penampilan ragawi Khaeva yang luar biasa. Tetapi, di mata Azhura Kahn yang bisa menembus sampai kedalaman hati manusia, Khaeva tidak lebih dari perempuan culas penipu yang penuh dengan rasa iri dan dengki di hatinya. Dan meskipun Khaeva mengenakan pakaian yang luar biasa indah, penampilannya tidak bertambah baik di depan Azhura Kahn.

Azhura Kahn berniat untuk memberikan tanda penerimaan di depan masyarakat banyak supaya ‘Sang Kematian’ dimanapun dia berada, merasa yakin bahwa Khaeva adalah pengantinnya. Memang kamuflase ini tidak akan lama, karena ‘Sang Kematian’ cepat atau lambat pasti akan mengetahui bahwa Khaeva adalah pengalih perhatian, tetapi setidaknya Azhura bisa mengulur waktu sampai dia menikahi Armenia.

Ketika Khaeva bersujud dan meletakkan persembahannya di kaki patung dirinya, Azhura Kahn menggerakkan jemarinya, sengaja membuat api di obor-obor yang menyala itu semakin besar dan naik. Jadi meskipun Azhura Kahn sendiri tidak menampakkan wujudnya, para penduduk pasti sudah puas karena sudah ada pertanda dari sang Azhura Kahn.

Dan ketika Khaeva bangkit dari bersujudnya, karena kuasa sang Azhura Kahn, api di obor-obor yang menyala itu membesar, menyala hingga naik ke atas dan menyatu di ujungnya, seolah-olah membentuk terowongan api yang berkobar di belakang Khaeva.

Para penduduk langsung terpekik takjub dengan pertanda itu. Mereka sangat yakin bahwa sang Mahadewa telah hadir di antara mereka, karena api adalah salah satu kekuatan Azhura Kahn. Serentak mereka semua bersujud dengan kepala rata dengan tanah, menyembah kehadiran sang Maha dewa di antara mereka.

Azhura Kahn pun ikut bersujud bersama Armenia di sebelahnya. Meskipun begitu, mata batinnya tetap bergerak, mengawasi.

Karena dia yakin, ‘Sang Kematian’ pasti hadir di sini, mengawasi….

Lalu pandangan batinnya tertambat pada sosok berjubah putih yang ikut bersujud di ujung sana, meskipun postur tubuhnya tidak sepenuh hati, Lelaki itu seolah bersujud hanya agar dia tak tampak mencolok di antara kerumunan.

Azhura tidak akan pernah bisa melupakan rambut perak yang berkilauan itu, yang muncul sedikit dari balik tudung putihnya.

Dan dia tahu, bahwa saatnya telah tiba.

Khar Yazza.….. Itulah nama Asli Dewa kematian, atau yang lebih sering disebut sebagai ‘Sang Kematian’. Yazza adalah musuh terbesarnya yang selama ini tertidur panjang sambil menanti saat-saat pembalasan, dan kini telah benar-benar bangkit,siap melakukan pembalasan.

***

Khaeva tidak bisa menyembunyikan senyum lebarnya ketika diiringi oleh para dayang dan pendeta, melangkah menuju pintu tembusan kuil yang menuju istana, matanya menatap pongah ke arah para penduduk yang masih bersujud di kiri dan kanannya. Tentu saja dia pantas merasa bangga, dan penduduk itu semuanya harus bersujud kepadanya, mereka semua pasti takjub dengan nyala api yang begitu indah tadi sebagai tanda bahwa persembahan Khaeva diterima.

Salah seorang pendeta membukakan pintu untuknya, membuat Khaeva mengernyit,

Dimana pendeta Asoka? Setelah Khaeva meletakkan persembahannya di kaki Azhura Kahn dan kemudian api di obor itu berkobar sebagai tanda penerimaan sang Mahadewa, pendeta tua itu menghilang entah kemana.

Khaeva memberengutkan bibirnya dengan marah. Sialan! Seharusnya pendeta Asoka tadi ada di sana, jadi dia bisa melihat secara langsung penerimaan sang Mahadewa kepadanya, dan kemudian bisa mengubah sikap dinginnya kepada Khaeva! Dia sekarang benar-benar resmi sebagai pengantin sang Mahadewa, seharusnya pendeta Asoka mengubah sikap dinginnya dan bersikap baik kepadanya!

Kerika pintu penghubung itu menutup, meninggalkan Khaeva sendiri dengan ibunya dan beberapa dayang yang tergopoh-gopoh mengikuti langkahnya, Khaeva menatap ibunya penuh rasa marah dan kecewa.

“Kenapa Azhura Kahn tidak datang langsung menemuiku Ibu?”

Ruth menatap bingung ketika diberi pertanyaan itu oleh puterinya. Selama ini dia selalu berusaha meyakinkan anaknya bahwa sang Azhura Kahn pasti akan muncul di persembahan pertama puterinya. Tetapi kenyataannya, Sang Mahadewa hanya meninggalkan pertanda dengan obor yang menyala.

Tentu saja itu tidak cukup bagi Khaeva. Puterinya itu telah sejak lama mendambakan pertemuan dengan Azhura Kahn, dan nyala obor saja tidaklah cukup.

Kenapa sang Azhura Kahn tidak muncul secara langsung menemui Khaeva? Kenapa sang Mahadewa waktu itu menerima secara langsung persembahan Armenia, tetapi tidak melakukannya kepada Khaeva??

Ruth menatap anak perempuan semata wayangnya, berusaha menenangkan sinar kecewa yang makin dalam di sana,

“Mungkin sang Mahadewa tidak ingin menampakkan diri di depan orang banyak.” Mereka sudah sampai di pintu kamar Khaeva, dan para dayang membukakan pintu untuk Khaeva, “Mungkin beliau akan menemuimu secara pribadi…”

“Tapi kapan??” Khaeva menarik hiasan rambutnya yang terbuat dari sirkam berlian merah, dan membantingnya dengan kasar di lantai, hingga menghantam karpet merah itu. Napasnya terengah penuh amarah, “Aku sudah tujuh belas tahun ibu! Aku ingin menikah dengan Azhura Kahn! Tetapi bagaimana kami bisa menikah kalau dia tidak mau menemuiku??!!”

“Ssshh…” Ruth memegang pundak anaknya, berusaha menenangkan Khaeva, dia takut kalau Khaeva emosi dan tanpa sadar meluncurkan kata-kata yang bisa membahayakan posisi mereka di istana, ditatapnya mata anak perempuannya dalam-dalam,

“Masuklah ke kamarmu, Khaeva. Berdoalah secara pribadi kepada sang Mahadewa. Sekarang adalah hari ulang tahunmu yang ketujuh belas, dan Ibu yakin, Sang Mahadewa akan sangat senang menemuimu secara pribadi. ”

***

Khaeva mengikuti perintah ibunya, menyuruh para dayangnya pergi dan masuk sendirian ke kamarnya. Dia melangkah menuju ke arah tempat tidurnya, dan langkahnya terhenti mendadak, ketika melihat sosok laki-laki berdiri dengan tenang, bersandar santai di dekat jendela, seolah sudah menunggunya.

Khaeva sebenarnya ingin menjerit, tetapi rasa ingin tahunya mengalahkan segalanya. Perempuan itu melangkah lagi semakin dekat, dan kemudian dia terpesona  ketika dia bisa melihat penampilan lelaki itu dengan jelas.

Dirinya langsung berhadapan dengan mata hijau nan cemerlang dari sosok laki-laki berjubah putih di depannya. Struktur wajah lelaki itu luar biasa, menampakkan ketampanan tiada batas, dengan kelembutan yang agung. Seluruh bagian wajahnya, matanya, bibirnya, dan semuanya, berpadu sempurna seolah-olah alam begitu menyayanginya hingga menciptakan lelaki itu seindah mungkin.

Dan rambutnya…..

Khaeva tidak pernah melihat warna rambut ini sebelumnya… warna rambut lelaki itu perak berkilauan indah, bagaikan sinar lembut yang menyelubungi kepalanya.

Lelaki ini bukan manusia. Sudah jelas-jelas manusia biasa tidak akan bisa memiliki penampilan sesempurna itu.

Ketika mencapai kesimpulannya sendiri, jantung Khaeva berdebar keras, tiba-tiba saja rasa senangnya datang kembali.

Ibunya benar.  Lelaki yang berdiri di depannya ini pastilah Sang Mahadewa Azhura Kahn. Sang Mahadewa Azhura Kahn telah memilih untuk menemuinya secara pribadi.

Khaeva langsung jatuh dan bersujud, memberi hormat kepada sosok yang dipercaya sebagai calon suaminya,

Suara jubah lelaki itu berdesir mendekatinya, dan sebuah tangan halus… tangan halus dengan jemari yang sangat dingin… menyentuh sikunya, dan membantunya berdiri.

“Jangan bersujud kepadaku, Khaeva.” Suara lelaki itu lebih seperti bisikan, bagaikan angin pelan yang dihembuskan ke telinga.

Khaevapun berdiri, berhadap-hadapan dengan sosok nan rupawan itu. Matanya membelalak, seolah terhipnotis mata hijau yang bening dan indah itu.

Lelaki berjubah putih itu menyentuhkan telunjuknya ke dagu Khaeva dan mengangkatnya hingga Khaeva mendongak ke arah lelaki itu, lalu wajahnya mendekat, dan seketika itulah Khaeva tahu bahwa dia akan dicium. Perempuan itu memejamkan matanya dengan pasrah, hatinya dipenuhi kebahagiaan tak terkira.

Sang Mahadewa ternyata menemuinya secara pribadi, dikamarnya, ditempat mereka tidak akan terganggu siapapun, Lelaki itu akan menciumnya, dan setelahnya mereka pasti akan bermesraan.

Khaeva sedikit mengerutkan keningnya ketika bibir lelaki itu yang melumat bibrinya, terasa sedingin es di bibirnya, dan aroma yang menyelimutinya juga membuatnya begidik karena tiba-tiba saja kamar itu dipenuhi harum dupa angro mainu, yang juga disebut dupa kematian.

Lelaki berambut perak itu menyelimuti bibir Khaeva dengan hawa dingin yang membekukan, hanya sekejap, lalu melepaskan ciumannya dan mundur selangkah.

Khaeva mengerutkan keningnya ketika lelaki itu mengangkat tangannya menyentuh wajahnya, setengah menutupi wajahnya sendiri, lalu terkekeh.

Sang Mahadewa tertawa? Kenapa…..?

Khaeva bisa mendengar lelaki itu terkekeh makin keras, tetapi bukan jenis kekehan geli…. ini lebih seperti tawa penuh ironi dan…. kemarahan.

“Kenapa anda tertawa, Mahadewa?” Khaeva memberanikan diri untuk bertanya, dan pertanyaannya itu membuat sang Dewa menghentikan tawanya seketika.

Suasana hening langsung menyeruak di ruangan itu, membuat udarapun seolah-olah enggan bergerak, hingga napas Khaeva tercekat.

Lalu lelaki berambut perak itu menurunkan jemarinya dari wajahnya, dan Khaeva langsung berhadapan dengan mata hijau itu, yang kini bersinar begitu dingin dan menakutkan. Mata itu masih tetap hijau dan indah, tetapi tatapannya begitu menakutkan hingga Khaeva mundur selangkah, merasakan ketakutan yang merasuk sampai ke jiwanya.

“Aku tertawa karena aku bisa sebegitu mudahnya dibohongi.” Lelaki berambut perak itu mendesis, menatap ke arah Khaeva dengan tatapan yang semakin menakutkan. Hawa dingin memenuhi ruangan, membuat Khaeva menggigil, apalagi ditambah dengan aroma dupa angro mainu yang semakin kuat menusuk indera penciumannya.

Lelaki berambut perak itu lalu mengulurkan jemarinya ke arah Khaeva.

“Kau adalah pengantin palsu. Berani-beraninya kau menipuku. Aku, Kher Yazza, ‘Sang kematian’ ….dan Aku akan menghancurkanmu, Khaeva. Percayalah sayang……akan kubuat setiap detiknya menyakitkan untukmu.”

***

Pendeta Asoka sedang berdoa di ruangannya ketika pintunya diketuk, Dia mengerutkan keningnya.

Biasanya tidak akan ada pendeta lain yang berani mengganggunya ketika dia sedang berdoa di ruangannya…

Pendeta Asoka melangkah bangkit dan membuka pintunya dengan gusar.

“Ada apa?”

Seorang pendeta muda tampak gugup dan merasa bersalah karena mengganggu pemimpinnya dari ritual doanya, tetapi dia tidak bisa berbuat lain.

“Ampun pendeta. Ada seorang tamu yang memaksa menemui  anda. Kami sudah mengatakan bahwa anda sedang berdoa dan tidak bisa diganggu, tetapi tamu itu memaksa dan mengatakan bahwa kalau mendengar pesannya, anda pasti akan bersedia menemuinya.” Pendeta muda itu menelan ludahnya, berusaha mengingat-ingat, “Katanya, dia bernama Zhura AL Gul, dan beliau membawa pengantinnya untuk anda nikahkan hari ini.”

Pendeta Asoka sejenak mengerutkan keningnya, tetapi beberapa detik kemudian pikirannya tercerahkan.

Dia tahu siapa tamu itu.

Jantungnya berdegup kencang, tidak menyangka bahwa dialah yang akan mendapatkan kehormatan untuk menikahkan beliau…

“Antarkan aku menemui tamu itu.” Suara pendeta Asoka bergetar, tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya, langkah kaki tuanya semakin cepat, mengikuti langkah pendeta muda menuju ke ruang depan istana pendeta.

Ketika mereka sampai di pintu ruang depan, Pendeta Asoka memberi isyarat agar sang pendeta muda pergi kembali ke posnya, Ini dia lakukan supaya dia bisa menemui tamunya, yang datang bersama pengantinnya, secara pribadi.

Jemarinya bergetar ketika mendorong pintu itu terbuka,

Dan ketika melihat sosok agung di depannya dia langsung dipenuhi oleh rasa bahagia tak terperi.

Meskipun sang Mahadewa Azhura Kahn datang dalam wujud manusia, tetapi hal itu tetap tidak bisa menyembunyikan aura dewa yang begitu jelas terlihat bagi pendeta Asoka,

Air mata pendeta Asoka berlinang, dan dia langsung jatuh berlutut di depan kaki Zhura Al Gul dan Armenia.

Membuat Armenia tersentak kaget, karena dia tahu siapa pendeta Asoka, beliau adalah pemimpin tertinggi kerajaan ini, dan sekarang, lelaki itu….. bersujud di kaki calon suaminya!

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

209 Komentar

  1. Shelli Novianti menulis:

    :NGAKAKGILAA

  2. Mamita Fatih menulis:

    :NGAKAKGILAA

  3. Lagi sedihh huhu

  4. febby andriani menulis:

    :happy :berikamiadegankiss!

  5. Bolak balik bacaaa :awaskubalasnanti

  6. Lanjudddd ….

  7. Pas tau ceritanya yazza jadi sedih banget aku tuh

Tinggalkan Balasan