Azhuras Bride

Azhura’s Bride Side Story : Calamara

Bookmark

No account yet? Register

2.660 votes, average: 1,00 out of 1 (2.660 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Side story : kisah ini terjadi setelah Atspere membunuh Mirtis sang dewa kematian.

***

“Alam semesta sudah menurunkan kutukan untukmu, Atspere. Kau sekarang adalah Yazza, sang dewa kematian.”

Suara itu terdengar penuh penyesalan, membuat Yazza mencibir penuh kebencian. Sang Mahadewa sudah seharusnya menyesal, tebasan pedangnya bukan hanya menghilangkan nyawa Calamara, tetapi juga membunuh jiwa Atspere.

Yazza memilih diam, tidak bereaksi sedari tadi dia memang memilih membeku seperti batu didepan sang Mahadewa yang duduk di singgasananya nan tinggi. Para dewa yang lain pastilah sudah bersujud, luluh di depan keagungan Azhura Kahn yang begitu besar.

Sebenarnya, sebagai salah satu empat belas dewa utama, Yazza juga merasakan dorongan alaminya untuk bersujud di depan sang Azhura, dulu dia bersedia melakukannya dengan senang hati, tetapi sekarang dia menahan diri sekuat tenaga.

lebih baik dia mati daripada harus bersujud di depan pembunuh calamara!

“Kau akan tinggal di istana dunia bawah. Dan menjalankan tugasmu sebagai dewa kematian mulai sekarang.” Azhura Kahn menatap Yazza dengan mata merahnya yang tajam, merasakan aura kebencian yang memancar dari seluruh tubuh lelaki itu. “Dan Machuahuiti, senjataku yang telah kau curi, dikutuk untuk tinggal di dalam tubuhmu, selamanya.” Azhura Kahn menyipitkan matanya, “Machuahuiti adalah senjataku yang paling liar dan ganas, dengan dia tinggal di dalam tubuhmu, kau harus mempunyai ketahanan yang sangat kuat.”

Sayang sekali….. bathin sang Azhura.  Seorang dewa dengan penampilan sesempurna ini selayaknya Atspere yang berarti musim semi, harus menenggelamkan dirinya ke dunia bawah, berkubang dalam kegelapan dan kematian….hanya karena dendam.

Seandainya saja Azhura Kahn bisa melakukan sesuatu untuk menyelamatkan Atspere…. sayangnya dia tidak bisa, alam semesta sudah menjatuhkan kutukannya, dan tidak ada kekuatan apapun yang bisa membatalkan kutukan itu. Bahkan dewa tertinggi seperti Azhura Kahn pun, harus menerima kutukannya sendiri.

“Aku akan membunuhmu.”

Suara itu dalam, diucapkan dengan nada mendesis yang penuh kebencian.

Kurejas, yang juga ada di dalam ruangan itu terkesiap mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Yazza, begitu juga dengan dewa-dewa lainnya yang kebetulan juga ada di dalam ruangan besar itu. Beberapa tampak bersiap maju untuk memberikan peringatan kepada Atspere.

Tidak ada satu dewapun yang berani melawan sang Azhura Kahn. Sebab, jikalau mereka membuat sang Mahadewa tersulut kemarahannya, dalam sekejap saja sang Azhura bisa membuat mereka luluh menjadi abu.

Tetapi rupanya sang Azhura Kahn punya pandangan lain, sang Mahadewa memberi isyarat dengan tangannya supaya dewa- dewa yang lain tidak ikut campur.

Azhura Kahn lalu sedikit menunduk, menatap Yazza dari atas singgasananya, mata merahnya menyala, penuh tantangan.

“Aku akan memberimu satu kesempatan, Yazza, sebagai bentuk penyesalanku karena telah merenggut nyawa saudarimu. Kau boleh datang padaku nanti ketika saatnya tiba untuk mencoba membunuhku. Dan ketika saat itu kau gagal, maka aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu dari dunia ini.”

Yazza mendongakkan kepalanya,  memberikan tatapan membara kepada sang Azhura.

“Kau akan menyesali janjimu itu” gumam Yazza dingin, dan kemudian dengan angkuh dan tanpa permisi dia membalikkan badannya lalu  meninggalkan ruangan itu.

Kurejas, yang sedari tadi menyaksikan semua peristiwa di depannya sambil mengerutkan dahi langsung mendekati sang Mahadewa dan bersujud di depannya sebelum berkata,

“Yazza akan kembali oh Yang Mulia….dan jika kutukan alam semesta terjadi lalu pengantin anda dilahirkan…. maka anda akan berada dalam bahaya, karena pengantin anda adalah satu-satunya mahluk di dunia yang bisa membunuh dan melukai anda.” Kurejas mengungkapkan ketidaksetujuannya dengan nada cemas, kedudukannya sebagai penasehat sang Mahadewa membuatnya merasa wajib menyampaikan hal-hal buruk yang mungkin terjadi di masa depan.

“Yazza tidak akan melepaskan pengantin anda…. jika sekarang anda tidak bertindak, bukan hanya anda, tetapi pengantin anda juga akan…”

“Kurejas.” Azhura Kahn menyela dengan suaranya yang agung dan seketika itu juga Kurejas berhenti berbicara.

“Apakah kau meragukan kekuatanku Azhura Kahn bertanya. Sebuah pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban karena siapapun pasti tahu bahwa Azhura Kahn adalah yang terkuat di seluruh dunia Ametyst ini.

Yang bisa dilakukan oleh Kurejas hanyalah menggeleng lemah menantikan kata-kata sang Azhura Kahn berikutnya.

Sang Azhura sendiri tampak begitu tenang, bahkan ada senyum tersirat di balik ekspresinya yang datar

“Kalau begitu tenanglah, biarkan saat itu tiba. Aku telah mengotori tanganku dengan darah suci Calamara, dan aku tidak akan melumurinya kembali dengan darah Yazza jikalau tidak terpaksa.” Mata merah sang Azhura Kahn menyala. “Biarlah takdir yang akan menentukan nanti, tangan siapa yang akan kembali berlumuran darah.”

***

Yang dilakukan pertama kali oleh Yazza ketika sampai ke kerajaan dewa kematian di dunia bawah, adalah mengumpulkan para Azalel, mahluk buruk rupa pelayan sang dewa kematian yang sebagian besar tugasnya adalah untuk mengumpulkan nyawa-nyawa yang sudah tercabut.

Salah seorang Azalel yang memperkenalkan diri adalah Borth, panglima tertinggi dari kaum Azalel.

Yazza tahu bahwa Borth pasti dulunya adalah pelayan Mirtis, sang dewa kematian terdahulu. Dan kenyataan bahwa Yazzalah yang membunuh Mirtis sama sekali tidak membuat Yazza meragukan kesetiaan Borth kepadanya.

Yazza tahu bahwa kaum Azalel, termasuk Borth ditakdirkan untuk bersumpah setia kepada dewa kematian, siapapun orangnya. Dan sekarang, karena Yazza adalah dewa kematian, maka otomatis seluruh kaum Azalel akan bersumpah setia sampai mati kepadanya.

Yazza langsung memanggil Borth empat mata, menanyakan sesuatu yang telah mendesak di jiwanya, menunggu untuk dimuntahkan.

“Kau pasti tahu bahwa dewa kematian bisa mengambil kembali jiwa manusia dan dewa yang telah mati, lalu menghidupkannya lagi.”

Borth tentu saja mengerti maksud pertanyaan Yazza, majikannya yang baru.

“Anda tentunya ingin menghidupkan Calamara nan suci.”

Yazza menganggukkan kepalanya, “Tentu saja. itulah tujuan awalku turun ke dunia bawah dan menemui Mirtis, sayangnya dia tidak mau mengabulkan permintaanku.”

Borth menatap tuan barunya itu dengan hati-hati,

“Itu karena beliau memegang teguh aturan semesta, membangkitkan kembali yang telah mati akan mengganggu keseimbangan semesta dan membawa konsekuensi mengerikan.”

“Apa maksudmu, Borth?”, mata hijau Yazza menyala penuh kewaspadaan.

Borth menunduk, tidak berani menatap langsung mata Yazza.

“Yang mulia, pengetahuan ini tidak diketahui oleh khalayak ramai, bahkan para dewapun tidak semuanya tahu. Yang mulia Mirtis mengatakan bahwa jiwa yang dibangkitkan kembali, kadangkala tidak sama dengan jiwa yang hidup sebelumnya. Setengah atau lebih jiwanya akan dikuasai oleh kegelapan. Jikalau jiwa yang dibangkitkan adalah manusia biasa dengan kekuatan yang lemah, mungkin sang dewa kematian masih bisa mengendalikannya. Tetapi jikalau yang dibangkitkan adalah seorang dewa apalagi yang sekuat Yang mulia Calamara, mungkin anda akan kehilangan kendali atasnya.”

Yazza langsung terkekeh mendengar kekhawatiran Borth itu,

“Calamara? dikuasai kekuatan kegelapan?”, dibayangkannya saudari kembarnya yang begitu baik hati, penuh cinta dan diliputi kedamaian. Hati Calamara dipenuhi oleh terang dan belas kasih hingga dia mendapat sebutan sebagai ‘Calamara yang suci’. Tidak mungkin kekuatan kegelapan bisa mengubah Calamara, “Tenang saja Borth, akulah yang paling mengenal saudariku. Apapun ketakutan yang ada di benakmu, itu tidak akan terwujud.” Mata Yazza menyala penuh tekad, “Sekarang katakan padaku apa yang harus kulakukan agar aku bisa membangkitkan Calamara.”

***

Malam itu, setelah penjelajahannya ke dunia paling dasar, tempat jiwa-jiwa disemayamkan, pada akhirnya Yazza menggenggam jiwa Calamara yang telah berhasil di ambilnya, di telapak tangannya.

Jiwa Calamara nampak begitu indah, dalam bulatan transparan bercahaya emas terang yang menyilaukan mata, membuat Yazza langsung tahu bahwa itu adalah Calamara, bahkan ketika Yazza harus mencari di antara banyak jiwa dewa yang bersemanyam di sana.

Yazza menimang jiwa saudari kembarnya dengan hati-hati, tidak sabar menunggu saatnya membangkitkan Calamara. Borth mengatakan bahwa jiwa yang telah mati bisa dibangkitkan dengan mantra dewa kematian, pada tengah malam khusus di malam ketika bulan merah darah dilumuri warna merah gelap yang nyaris menghitam.

Dan sebentar lagi waktunya tiba.

Yazza telah bersabar, menimang jiwa Calamara, menunggu waktunya tiba. Terus bersabar, karena tahu bahwa penantiannya akan berakhir manis.

Lalu ketika tengah malam sudah lewat, dan bulan sudah berlumur merah gelap, Yazza mengecup jiwa Calamara yang bercahaya terang di kedua telapak tangannya, lalu mengucap mantra.

Mantra terlarang…. mantra sang dewa kematian untuk memanggil jiwa yang telah pupus….

***

“Calamara…” Yazza mendesah, berbisik lembut, setengah tidak percaya dan menatap takjub sosok yang terlelap di depannya.

Ini bukanlah mimpi…. Calamaranya benar-benar ada di depannya. Sosoknya sama persis seperti Calamara di masa lalu…. Calamara telah hidup kembali.

Kalau dengan menjadi dewa kematian, terjerumus dalam kegelapan pekat yang menyakitkan… meninggalkan warna-warni terang yang hangat di masa lampau…. tetapi sebagai gantinya dia bisa menghidupkan Calamara, maka Yazza dengan senang hati menjalani hidupnya sebagai dewa kematian.

Ini bukanlah kutukan, melainkan anugerah….

Mata Calamara membuka pelan lalu mengerjap, menampakkan warna hijau indah berkilauan yang sama indahnya dengan mata Yazza.

Sementara itu, Yazza menatap saudarinya dengan perasaan bahagia yang bergejolak. Dan ketika jemari Calamara bergerak, Yazza langsung menggenggam jemarinya

“Calamara? Ini aku.” air mata menetes tanpa tertahankan dari mata Yazza ketika menyadari bahwa Calamara benar-benar nyata, tergenggam jelas di tangannya.

Calamara sendiri membuka lebar matanya ketika mendengar suara Yazza, dan ketika menemukan Yazza di sana, senyumnya melebar,

“Atspere? Kenapa kau menangis?”

Mendengar suara itu – suara yang dikiranya tidak akan pernah bisa didengarnya lagi – Yazza tidak mampu menahan dirinya, diraihnya Calamara ke dalam dekapannya, direngkuhnya erat-erat seolah tak akan dilepaskannya lagi. Tangisnya meledak tak tertahankan.

Semua mahluk, yang pernah merasakan kehilangan orang yang dicintai, kehilangan yang begitu dalam hingga menyayat hati….dan kemudian tanpa disangka bisa mendapatkan kesempatan kedua, pasti akan paham bagaimana perasaan Yazza saat ini.

***

Jadi kau sekarang adalah dewa kematian bernama Yazza?”, Calamara mengangkat alisnya, menatap Yazza dari ujung kepala sampai kaki, lalu menggelengkan kepalanya, “Kurasa penampilanmu tidak cocok…. aku akan tetap memanggilmu Atspere.”

Yazza terkekeh mendengar komentar Calamara,

“Aku akan selalu menjadi Atspere-mu, Calamara.” , jawabnya lembut.

Mereka berdua duduk di depan jendela besar istana sang Dewa kematian, di luar sana terhampar pemandangan satu warna. Hitam kelam menyelimuti perbukitan akibat pohon Kubikh yang merimbuni seluruh area.

“Jadi aku tidak boleh naik ke dunia atas?” Calamara kembali memandang sekeliling sedikit begidik. Tentu saja dia tidak suka di sini, Calamara terbiasa dengan dunia terang yang hangat, di sini, di dalam istana dewa kematian, adalah tempat yang sangat tidak cocok untuknya.

Yazza sendiri menatap Calamara penuh sesal,

“Untuk sementara jangan dulu ke dunia atas, Calamara. Sudah cukup kehebohan di sana ketika mereka mengetahui bahwa aku menghidupkanmu kembali, jika kau naik ke atas, semua kehebohan itu akan meledak.”

Perkataan Yazza itu membuat Calamara memandang kedua jemarinya, lalu menatap Yazza lagi,

“Kau telah membangkitkanku kembali dari kematian, Atspere…”, suara Calamara semakin pelan, “Jadi… mahluk apakah aku ini? seorang dewa, atau hanyalah mayat yang berjiwa?”, Calamara menghela napas sedih, “Bahkan aku tidak merasakan kekuatan pembawa perdamaian di tanganku lagi….” Calamara mendongakkan kepalanya, menatap Yazza penuh rasa ingin tahu, “Dimanakah flecha, busur dan anak panahku?”

Yazza menggelengkan kepalanya, tidak suka kalau Calamara terus menerus mengingat masa lampau mereka berdua.

“Kau sudah bukan dewi perdamaian lagi, Calamara. Sama seperti halnya diriku yang diharuskan mengambil tugas Mirtis sang dewa kematian yang kubunuh, Azhura Kahn juga diharuskan mengemban tugasmu sebagai pembawa perdamaian. Flecha-mu juga ada padanya.” tatapan Yazza berubah sedih, “Tak cukupkah bagimu ada aku di sini, Calamara? aku tidak peduli kau ini apa, aku tidak peduli kau bukan dewi perdamaian lagi. Bagiku kau adalah Calamara, saudari kembarku yang kukasihi. Itu sudah cukup untukku.”

Calamara tersenyum lembut melihat Atspere yang tampak begitu sedih, disentuhkannya jemarinya ke pipi Atspere,

“Dan kehadiranmu sudah cukup juga untukku, saudaraku.”, bisiknya lembut, penuh ketulusan, “Kau begitu berjuang untuk membelaku, melakukan ini semua…. bahkan sampai menanggung kutukan menjadi dewa kematian dan membiarkan tubuhmu menjadi sarang machuahuiti yang ganas.”

Mata Calamara berkaca-kaca menatap saudara kembarnya yang tampak semakin pucat….

Apakah menjadi dewa kematian membuat sosok Atspere menjadi pucat? Karena dulu diingatnya bahwa Mirtis juga berkulit pucat sebelum perlahan beralih wujud serupa tengkorak akibat ramuan kubikh.

Ataukah karena Machuahuiti?

Apakah…. apakah rasanya sakit?” , Calamara menyuarakan kecemasannya, menatap Atspere hati-hati.

” Apa?” , semula Yazza tak mengerti, tetapi ketika menyadari tatapan cemas Calamara mengarah ke tubuhnya, tempat machuahuiti tersimpan, Yazza tersenyum simpul.

Rasanya sungguh sakit sekali… ketika pertama kali machuahuiti mengamuk di dalam tubuhnya, sengatan rasa sakitnya sungguh tak tertahankan, seakan seluruh organ dalamnya dibakar dan dirobek-robek tanpa ampun, seakan seluruh indera perasa nyerinya dibangunkan dan dipaksa merasa hingga batas maksimalnya

Tetapi tentu saja Yazza tidak boleh mengakui itu semua kepada Calamara, bukan? Dia tidak boleh membuat Calamara cemas dan merasa bersalah.

“Kau tenang saja, Calamara,” ujar Yazza kemudian, “Rasanya tidak seberapa… sungguh, ini sangat ringan kalau dibandingkan dengan rasa sakit karena kehilanganmu.”

“Sungguh?” , Calamara menatap Yazza tidak percaya, tetapi kemudian dia melihat kejujuran diata saudaranya itu, dan senyumnyapun merekah, “Syukurlah.” serunya lega.

Yazza terkekeh, mengacak lembut rambut Calamara,

“Daripada kau sibuk mengurusiku dan seisi dunia, mungkin kau bisa bersenang-senang dengan ini” , dikeluarkannya kejutan yang telah disimpannya sejak tadi di hadapan Calamara.

Mata Calamara membelalak penuh kebahagiaan melihat apa yang ada di tangan Yazza. Kejutan itu berupa sesosok mahluk menggemaskan dengan bulunya yang lembut putih bersih, hidung dan telinga berwarna pink dan ekornya  bulat selembut kapas. Mahluk itu adalah sejenis sasalu, hewan kecil bermata bulat besar yang dewasanya jika tidur bergelung maka bisa seukuran bola bulu nan lucu. Sasalu adalah mahluk jinak dan penyayang, kesukaannya makan yang manis-manis serta sama sekali tidak menyimpan sikap agresif di dalam dirinya, mahluk ini juga berumur panjang, bisa mencapai ratusan tahun ketika sehat, sayangnya sasalu amat rentan kematian karena tidak tahan hawa dingin. Biasanya di dunia atas, mahluk itu dijadikan binatang peliharaan para dewa dan dewi  untuk disayang-sayang.

Dan sasalu yang ada di tangan Yazza ini adalah mahluk peliharaan Calamara, sasalu ini ditemukan oleh Calamara di tengah hutan, induknya mati kedinginan sementara bayi sasalu yang lapar itu menangis meminta susu. Calamara yang begitu welas asih langsung mengambil bayi sasalu itu untuk diadopsi. Mahluk itupun menjadi kesayangan Calamara, menemaninya selama ratusan tahun.

“Amuza!!” Calamara menyebut nama yang diberikannya kepada sasalu itu dan tidak bisa menahan pekik girangnya ketika melihat mahluk kesayangannya, dia bahkan setengah melompat menerima Amuza yang diserahkan kepadanya oleh Yazza.

Amuza sendiri membuka matanya dari kantuknya, dan kemudian ketika menyadari hadirnya Calamara, mahluk itu mendecit-decit. Suaranya mencicit tinggi tanpa henti hingga Calamara mengerutkan keningnya,

“Kenapa dia mencicit seperti ini? apakah dia sakit?” Calamara mengelus kepala Amuza yang masih terus mencicit, setahunya sasalu tidak pernah bersuara ketika beranjak dewasa, mahluk itu hanya bisa mengeluarkan suara dengkuran yang khas ketika kepalanya dielus.

Yazza sendiri menatap Amuza dengan bingung, Amuza dari tadi baik-baik saja, bahkan mahluk itu mendengkur sepanjang waktu ketika Yazza mengambilnya dari dunia atas.

“Mungkin Amuza terlalu senang bertemu lagi dengamu,” gumam Yazza menyimpulkan meski dahinya berkerut, “Atau mungkin dia kedinginan? kau tahu, di istana ini suhunya beberapa derajat lebih dingin…..”

“Kau benar juga.”  Calamara mencoba menenangkan Amuza yang masih mencicit dengan mengelus kepala mahluk itu, “Bahkan akupun merasa sedikit kedinginan di sini.”

“Kalau begitu kalian bisa saling menghangatkan.” Yazza tersenyum lembut, lalu mengecup dahi Calamara, “Kau istirahatlah dan bermainlah dengan Amuza selama aku pergi. Aku ada urusan sebentar menyangkut tugas dewa kematian.” Yazza tersenyum miris, “Tapi aku janji akan segera kembali.”

Calamara menganggukkan kepalanya, masih dengan memeluk  Amuza yang mencicit, ada binar bahagia di matanya.

Dan binar bahagia itu membuat Yazza tersenyum simpul sepanjang jalan.

Sungguh… keputusan menghidupkan kembali Calamara adalah keputusan terbaik dalam hidupnya.

***

Suara jeritan itu membahana, memekakkan telinga dan menggema menyelimuti seluruh perbukitan kubikh nan hitam pekat.

Yazza, yang menyadari bahwa itu adalah suara jeritan Calamara langsung berlari menuju kamar tempat Calamara beristirahat.

Dibukanya pintu kamar itu dengan panik,

“Calamara?”

Matanya menelusuri sosok Calamara yang sedang bersimpuh di lantai, menangis tersedu sambil memeluk sesuatu erat-erat di dadanya.

“Calamara, ada apa?” , Yazza melangkah masuk ke dalam kamar, lalu berlutut dengan hati-hati di depan Calamara yang masih menangis.

Matanya menelusuri tubuh saudarinya dan terkesiap ketika menyadari gaun Calamara di bagian dada bersimbah darah segar.

Dengan panik, mengira Calamara terluka, diurainya jemari Calamara yang terlipat erat di dadanya, dan mencari sumber darah itu….

Rasa syukurnya membuncah ketika mengetahui Calamara tidak terluka, tetapi Yazza terkesiap  ketika melihat sumber darah itu…

Di dalam rengkuhan tangan Calamara ada sosok Amuza yang sudah tidak bernyawa, dan sasalu itu berdarah-darah, tubuhnya tercabik-cabik, bulunya yang putih seakan lenyap, berganti dengan cairan darah merah nan lengket menetes-netes di lantai dan membasahi pakaian Calamara.

***

“Aku tidak ingat apa-apa.” Calamara yang sudah membersihkan diri dan berganti pakaian menangis sesenggukan di dalam pelukan Yazza, “Yang terakhir kuingat adalah perasaan panik dan terdesak karena Amuza tidak henti-hentinya mencicit semakin lama-semakin keras…. lalu… lalu ketika aku tersadar… aku menemukan Amuza sudah… sudah….. ” , Calamara tidak sanggup melanjutkan kata-katanya, dia menangis tersedu-sedu.

Yazza mengelus rambut Calamara, mengecup pucuk kepalanya lembut untuk menenangkannya.

“Sshhh…. sudahlah Calamara, istirahatlah… tenanglah..”, diusapnya air mata yang mengalir deras di pipi Calamara.

“Siapakah yang tega melakukan itu pada Amuza….?” , Calamara berucap sambil sesenggukan, “Dia mahluk yang lemah dan tidak berdosa….”

Yazza memeluk Calamara dengan sayang,

“Sudahlah Calamara, jangan dipikirkan lagi … beristirahatlah. Aku akan mencari pelakunya. Kau tidurlah saja ya? jangan dipikirkan lagi.”

Diusap-usapnya Calamara dengan lembut, ditenangkannya dengan sayang. Dan ketika isakan Calamara melemah lalu matanya terpejam dalam damai, Yazza mengangkat tubuh Calamara, membaringkannya di ranjang, lalu menyelimutinya.

Sejenak Yazza terpaku di tepi ranjang, mengamati Calamara dalam diam yang cemas. Lalu lelaki itu menghela napas panjang sebelum kemudian melangkah keluar kamar sambil menutup pintu di belakangnya dengan hati-hati.

Saat itulah Yazza berhadapan dengan Borth yang sudah menanti dengan cemas di lorong dekat pintu.

“Bagaimana?” Yazza bertanya dalam bisikan.

Borth melirik hati-hati ke arah kamar Calamara.

“Tubuh sasalu itu dicabik-cabik dengan tangan sampai mati… dan jantungnya hilang.”

Borth tidak perlu berkata banyak, cukup kalimat singkat itu tetapi sudah berarti banyak bagi Yazza.

Calamara….

Yazza mengernyit sebelum berkata-kata.

“Awasi kamar ini.”

***

“Yang Mulia.”  suara Borth yang cemas itu langsung membuat Yazza terkesiap.

“Ada apa?” Yazza menegakkan tubuhnya waspada.

Borth tampak begitu cemas, kulit tubuhnya memerah,

“Yang mulia Calamara…. beliau menghilang dari kamarnya!”

Kemarahan tampak merayap di mata Yazza, lelaki itu meraih jubahnya, bersiap pergi.

“Bagaimana bisa terjadi, Borth? Bukankah kau sudah kusuruh mengawasi Calamara??”

Borth menundukkan kepalanya, merasa takut.

“Hamba sudah melakukannya Yang Mulia, bahkan hamba sudah menempatkan beberapa anak buah di sekeliling kamar, terutama di pintu dan jendela…. tetapi rupanya yang mulia Calamara pergi lewat atap, beliau terbang. …” Azalel menoleh ke luar, ke arah jendela besar yang menghamparkan pemandangan bukit nan gelap, “Ranjangnya masih hangat, jadi yang mulia Calamara belum lama pergi….”

“Kalau begitu kita masih bisa mengejarnya.” Yazza segera bergegas, diikuti oleh Borth dan beherapa pasukan Azalel yang mengikutinya, “Dimanakah pemukiman penduduk yang paling dekat?”, tanya Yazza kemudian

Borth setengah berlari mengikuti langkah Yazza,

“Di bawah perbukitan Kubikh ini di perbatasan antara hutan Kubikh dan hutan liar Garaya, ada satu pemukiman penduduk terpencil, penduduknya mungkin hanya lima puluh orang. Selain itu dalam radius jauh hanya ada hutan lebat…”

“Kita kesana!” , Yazza memutuskan cepat, berlari hingga seolah terbang.

***

Pemandangan yang terhampar di depan mereka sungguhlah mengerikan. Bahkan sebelum Yazza memutuskan ke dusun terpencil ini, kaum Azalel sudah berbondong-bondong datang, mereka semua mencium bau kematian yang pekat, dilumuri oleh aroma anyir darah yang mengerikan.

Seluruh penduduk dusun itu telah mati dengan kondisi mengenaskan, tidak terkecuali. Kaum lelaki, wanita, anak-anak, bahkan bayi-bayi kecil yang baru lahir, semuanya menjadi mayat, bergelimpangan, tercabik-cabik bersimbah darah.

Yazza melangkah, melalui tumpukan mayat-mayat yang menghalangi jalannya, menuju sumber suara satu-satunya di tengah keheningan nan kelam…ada tangisan bayi nan lemah di ujung sana.

Suara tangisan bayi itu semakin dekat dan kemudian senyap….

Yazza melangkah dengan hati-hati ke sebuah lumbung gelap yang tertutup rapat, dengan pelan dibukanya pintu itu.

Pemandangan yang ada di depannya benar-benar menyayat hatinya…

Calamara ada di sana, seluruh tubuhnya, bahkan rambut dan wajahnya bersimbah darah manusia yang merah pekat.

Di tangannya, dimana kuku-kukunya merah mengerikan akibat mencabik-cabik tubuh puluhan manusia, tergenggam sesosok bayi mungil yang telah menjadi mayat dengan dada berlubang ….jantungnya menghilang…

Seluruh mayat yang ada di luar juga memiliki lubang menganga di dada kirinya,

Calamara telah memangsa jantung seluruh mahluk hidup yang ditemukannya….

“Calamara…” suara Yazza lebih seperti rintihan, penuh dengan kepedihan yang pekat…

Disadarinya bola mata Calamara begitu pekat, warna hitam telah melumuri bola matanya, dan dengan mulutnya dan seluruh tubuhnya yang bersimbah darah, Calamara nampak begitu mengerikan, berbeda dengan Calamara yang selama ini Yazza kenal.

“Aku butuh jantung yang masih berdetak….” , Calamara berucap dengan suara serak, kenyang oleh darah dan jantung manusia.

“Ayo kita pulang Calamara.” suara Yazza bergetar, serak oleh perasaan, “Maafkan aku sayang, membuatmu jadi seperti ini….” , air mata Yazza menetes, hatinya seperti dikoyak-koyak melihat kondisi Calamara sekarang.

Tangisan Yazza rupanya menyentuh hati Calamara yang sebagian sudah dikuasai kegelapan. Perlahan, warna hitam yang melumuri matanya luntur dan berganti dengan warna hijau cerah yang berkilauan.

Calamara menatap dirinya yang penuh darah, menatap sesosok bayi yang mati di tangannya,

Dia tahu… dia tahu apa yang terjadi….

Air matanya langsung jatuh berderai, perempuan itu mengulurkan tangannya kepada saudaranya,

“Atspere…. Atspere… tolong aku….”

Dan ketika jemarinya bersentuhan dengan jemari Yazza, Calamara pingsan.

Yazza langsung merengkuh Calamara dalam gendongannya, tidak dipedulikannya darah yang menyelimuti seluruh tubuh saudarinya itu ikut mengotori dirinya.

Ketika melangkah keluar, Yazza menatap Borth yang terpaku menanti di antara mayat-mayat yang bergelimpangan, sementara kaum Azalel yang lain otomatis sudah menjalankan tugasnya mengambil nyawa-nyawa yang tercabut.

“Bakar semua, hanguskan sampai habis, jangan sampai menyisakan bekas apapun.” , titahnya tegas.

***

“Ini baru permulaan Yang Mulia, lambat laun ketika kekuatan kegelapan semakin besar menguasai beliau…. beliau akan berubah menjadi monster kejam, dengan kehausan akan darah dan jantung manusia yang tidak  akan pernah terpuasakan…”

Yazza memejamkan matanya penuh kepedihan,

“Tidak apa- apa asal Calamara hidup dan tinggal bersamaku.” , gumamnya penuh tekad. “Apakah Calamara sudah selesai dibersihkan?”

Borth menganggukkan kepalanya, “Sudah yang mulia, beliau menunggu anda di kamarnya.” Borth berucap hati-hati, “Kami telah memperketat penjagaan di sekeliling kamar.”

Yazza menganggukkan kepalanya dan kemudian melangkah menuju kamar Calamara, sejenak dia meragu, tetapi setelah menghela napas panjang Yazza akhirnya mengetuk pintu itu,

“Bolehkah aku masuk, Calamara?”

Tidak ada jawaban dari dalam, tetapi pintu kemudian terbuka sedikit.

Yazza pun melangkah masuk, dan mendapati Calamara, mengenakan gaun putih panjang dan rambut terurai sedikit basah tengah berdiri di depan jendela yang terbuka, menatap jauh ke arah kegelapan tanpa ujung.

Tanpa suara Yazza berdiri di sebelah Calamara, melirik sedikit ke arah saudarinya itu. Hatinya terasa sesak ketika melihat air mata masih terus mengalir di mata nan indah itu.

“Para Azalel itu…” , Calamara mengedikkan dagunya ke arah kaum Azalel buruk rupa yang bersenjata lengkap dan hilir mudik di dekat jendela. “Mereka menjagaku, ya?”

Yazza hanya diam tidak menjawab sementara itu Calamara mengangkat kedua tangannya yang pucat bersih, tidak kelihatan sama sekali kalau beberapa saat yang lalu jemari itu telah berlumuran darah korban manusia.

“Seumur hidupku aku tidak pernah membunuh mahluk apapun…. tidak pernah!” , Calamara sedikit terisak, “Tapi tadi…. aku tidak bisa menahan diriku… suara detak jantung mahluk hidup begitu menggodaku, memaksakan dorongan jahat yang tidak pernah kukenali sebelumnya….”

Yazza menipiskan bibirnya dengan pedih,

“Aku akan selalu menjagamu, Calamara…kau tidak…”

“Ssshh…” , Calamara menyentuhkan jemarinya di bibir Yazza, mencegah lelaki itu berbicara. “Tidak Atspere, aku tidak mau hidup seperti ini, sudah cukup nyawa penduduk kampung itu menjadi korban…”

“Kita bisa mencari cara….” Yazza mencoba menyela, tetapi sekali lagi Calamara menyelanya.

“Tidak ada cara lain lagi, Atspere. Tidakkah kau melihat mataku?” , Calamara menunjukkan matanya yang mulai diselubungi kegelapan, “Aku bisa merasakannya, rasa lapar yang kejam ini bertumbuh semakin liar dan tidak akan pernah terpuaskan…. aku tidak mau menjadi monster jahat, Atspere…. aku hanya ingin dikenang sebagai Calamara, dewi perdamaian yang suci. Aku tidak ingin manusia menyebutku sebagai Calamara, monster keji pemakan jantung manusia …” , Calamara terisak semakin keras, lalu mendongak, menatap Yazza penuh tekad dan mengucapkan satu hal yang ditakutkan oleh Yazza.

“Tolong musnahkan aku, Atspere.”

“Tidak!!” Yazza langsung menolak dengan keras.

Tetapi Calamara terus memohon, rubuh dan menangis di kaki Yazza.

“Kumohon Atspere… kaulah yang menghidupkanku dan hanya kaulah yang bisa memusnahkanku.” Tangisnya tersedu, penuh dengan isakan dalam.

Yazza meneteskan air mata, jatuh berlutut dan memeluk Calamara yang berada di kakinya.

“Bagaimana mungkin kau tega menyuruhku memusnahkanmu, Calamara? kehilanganmu telah menimbulkan luka dalam di dadaku, luka nyeri yang tak tertanggung dan menyiksa… lalu ketika aku memperoleh kesempatan kedua untuk bersamamu … aku merasa begitu bahagia….. dan sekarang…. sekarang kau memintaku memusnahkanmu?”

Calamara menangis tersedu membalas pelukan erat saudaranya dengan putus asa,

“Tapi apakah kau tega membiarkanku hidup sebagai monster, Atspere? Lambat laun kegelapan akan menggerogoti jiwaku dan membuang Calamara yang kau kenal…. kumohon Atspere  jangan kau renggut kenangan akan diriku sebagai dewi perdamaian yang suci….kumohon musnahkan aku..  kalau kau mencintaiku… musnahkan aku…kumohon.. musnahkan aku selagi aku masih menjadi Calamara yang kau sayangi.”

Yazza memeluk Calamara erat-erat, meresap keberadaannya sedapatnya, menyesap seluruh hal yang bisa dikenangnya dengan rakus dan putus asa. Kedua saudara itu bertangis-tangisan sambil berpelukan, meluapkan kepedihan karena tak punya daya melawan takdir.

Kenapa takdir begitu bersikeras untuk memisahkan keduanya…?

Aku menyayangimu, Calamara, saudariku, dewi perdamaian nan suci…”

Yazza mengecup dahi Calamara, menyadari bahwa saudarinya itu memejamkan mata sambil tersenyum bahagia.

Dan kemudian kabut putih itu datang, menyelimuti tubuh Calamara.

“Terimakasih Atspere…”, lirih masih terdengar suara Calamara sebelum kemudian kabut itu membungkus seliruh dirinya, dan dalam sekejap menyisakan taburan abu gelap yang melayang-layang di udara.

Tidak ada lagi bola transparan bercahaya keemasan sebagai wujud jiwa Calamara yang suci…

jiwa yang telah dibangkitkan oleh sang dewa kematian tidak mempunyai kesempatan kedua… jiwa itu musnah hilang dalam kehampaan, ditelan oleh kegelapan…

Yazza telah kehilangan Calamara untuk kedua kalinya, dan kali ini untuk selamanya.

Teriakan penuh kepedihan Yazza-pun  membahana ke seluruh dunia bawah, teriakan itu begitu menyayat hingga siapapun yang mendengarnya akan merasakan bathin yang teriris perih.

***

Sejak saat itu Yazza memutuskan untuk tidur panjang, membiarkan Borth dan kaum Azalel kepercayaannya menjalankan tugasnya sampai waktunya dia terbangun nanti. Yazza meratapi Calamara dalam keheningan yang beku… menanti saat dia harus membalas dendam kepada Azhura Kahn. Karena luka menganga di dadanya ini hanya bisa disembuhkan dengan kematian sang Mahadewa.

Karena Azhura Kahn-lah yang menjadi awal mula seluruh tragedi ini

Dan begitulah akhirnya kisah tragedi dua dewa yang bersaudara, dua dewa yang seolah tak terpisahkan, tetapi harus menyerah ketika takdir sendiri yang turun tangan untuk memisahkan mereka.

Begitulah akhirnya kisah tragis Atspere, dan Calamara saudarinya….

169 Komentar

  1. PutryNurlaila menulis:

    :lovely

  2. Dan mereka cuma korban disini

  3. kenapa siiihhhh 😭

  4. dwioktapia30 menulis:

    :banjirairmatahuhuhu :banjirairmatahuhuhu

  5. yasmin cavelli menulis:

    ❤️❤️❤️

  6. Kinky Rain menulis:

    :kumenangismelepasmu

  7. shanaya_lee menulis:

    :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu

  8. Kira Yamato menulis:

    :panikshow to

  9. Indah Narty menulis:

    :panikshow :panikshow

  10. Sulistia N menulis:

    :kumenangismelepasmu 9

  11. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta

  12. Yuhuu

  13. Memulai kembali kisah awal

Tinggalkan Balasan