Azhuras Bride

Short Story Azhura’s Bride : Tanda Perlindungan

Bookmark

No account yet? Register

2.354 votes, average: 1,00 out of 1 (2.354 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Happy Anniversary Projectsairaakira! :tebarbunga 


“Kau masih belum menemukan tanda-tanda pergerakan dari dunia bawah?” Sang Mahadewa Azhura Kahn duduk di atas kursi singgasananya yang tinggi, jubah merahnya tampak panjang membungkus tubuhnya dengan megah hingga hampir menyentuh lantai. Saat ini Sang Mahadewa Azhura sedang berbicara dengan Saule Sang Dewa Matahari yang ditugaskannya untuk mengirimkan mata-mata untuk megawasi ke dunia bawah demi mencari tahu apa yang sedang dilakukan oleh Yazza.

Kegelapan pekat selalu meliputi wilayah Yazza dan meskipun Azhura Kahn adalah dewa tertinggi, dia kesulitan menembus kegelapan pekat tersebut. Mungkin itu semua karena ada kekuatan Calamara saudara kembar Yazza yang tertanam di dalam tubuhnya yang secara tak kasat mata, meskipun Calamara, pemilik sebelumnya kekuatan ini sudah tiada, tetapi sepertinya kekuatan miliknya yang diberikan kepada Azhura Kahn memberikan pola yang sama, pola khusus untuk melindungi Yazza saudara kembarnya.

Karena itulah kadang-kadang di titik tertentu, ketika sedang berusaha mengawasi pergerakan Yazza, Azhura Kahn merasakan pandangannya gelap secara tiba-tiba seolah-olah Calamara bangkit dari alam kematian lalu menggunakan kedua telapak tangannya untuk menutup mata pengelihatan Azhura Kahn supaya tidak bisa menemukan Yazza.

Pada akhirnya, Azhura Kahn memutuskan untuk menugaskan Saule mengawasi Yazza, Saule adalah dewa matahari yang berarti terang, kekuatannya yang bertolak belakang dengan kekuatan Yazza yang dinaungi kegelapan membuat Saule menjadi salah satu dewa yang sangat cocok untuk menembus pertahanan Yazza. Selama ini Azhura Kahn mengawasi Yazza dalam diam, menunggu musuh bebuyutannya itu untuk bergerak dan menyerang.

Mereka semua tahu bahwa Yazza sedang menenggelamkan diri dalam tidur panjangnya karena menunggu sampai jodoh manusia milik Azhur Kahn ditemukan. Itu sama seperti sumpah Yazza untuk membalaskan dendamnya kepada Sang Mahadewa Azhura Kahn sebelumnya, bahwa Sang Dewa kematian akan menggunakan pasangan takdir Azhura Kahn untuk membalas dendam.

Sampai saat ini Yazza belum mengendus keberadaan Armenia, tetapi bukan tidak mungkin musuhnya itu akan bisa menelusuri jejak Armenia ketika terbangun dari tidur panjangnya nanti. Bagaimanapun juga Azhura Kahn tidak melupakan bahwa Yazza dulunya pernah menjadi pasangan takdir Armenia sehingga kemungkinan besar masih tersisa jerat-jerat misterius yang menghubungan mereka berdua bagaimanapun Azhura Kahn berusaha menghalanginya.

“Saat ini dia belum terbangun. Kita sudah menyiapkan Kaeva sebagai kamuflase… tetapi bukan tidak mungkin jika Yazza bangun nanti dan bertatap langsung dengan Armenia, dia akan langsung menemukan bahwa Kaeva hanyalah pengantin palsu.”

“Aku akan mengklaim Armenia sebagai milikku sebelum itu terjadi. Ketika aku sudah memiliki Armenia dan juga tubuhnya, tidak akan ada sesuatu yang bisa dilakukan oleh Yazza untuk mengalihkan kesetiaan Armenia dari diriku.” Azhura Kahn menjawab dengan nada yakin sedikit arogan, “Lakukan tugasmu Saule, awasi terus Yazza. Aku juga akan memantaunya dari sini, tetapi kadang-kadang kekuatanku tidak bisa menembus keberadaan Yazza. Aku ingin kau menjadi mata keduaku yang menjagaku tetap waspada.” ujarnya dengan nada tegas.

Saule langsung membungkukkan tubuh di depan Sang Mahadewa, mengucapkan kepatuhan atas titah Dewa tertinggi mereka itu sebelum kemudian berpamitan untuk mengundurkan diri.

Sepeninggal Saule, Azhura Kahn melangkah turun dari kursi singgasananya dan berjalan menuju ke jendela besar yang ada di ruangan itu. Matanya menatap pemandangan indah dari taman yang terbentang di kediamannya yang terletak di atas langit, lalu senyum penuh keyakinan muncul lagi di bibir Sang Mahadewa.

Dia sudah menyiapkan istana indah yang aman terlindungi untuk pasangan takdirnya itu, sebuah istana dengan nuansa ungu berpadu oranye yang memanjakan mata serta mendegupkan jantung karena terpesona akan keindahannya, lengkap dengan perlindungan kuat yang hanya bisa diberikan oleh kabut merah yang melingkupi seluruh sisinya, tak tertembus tanpa kecuali.

Armenia akan aman di dalam kuasanya dan Azhura Kahn akan memastikan itu dengan kekuatannya.

***

“Armenia sudah berusia tujuh belas tahun.” Suara Daika yang melapor kepada Azhura Kahn membuat Sang Mahadewa yang sedang menyesap minumannya menolehkan kepala perlahan, menatap tajam ke arah pelayannya yang setia tersebut dengan matanya yang berwarna merah dengan titik menyala seperti bola api di tengahnya.

“Aku tahu.” jawabnya singkat sementara matanya menerawang ke luar, “Apakah kau pikir aku tidak menghitung hari saat ini tiba? Bagi diriku yang telah menjalani kehidupan begitu lama bahkan sejak Dunia Ametyst berusia masih muda, entah kenapa secara ironi, menunggu Armenia berusia tujuh belas tahun terasa begitu lama bagiku.” Azhura Kahn menunduk untuk menatap tangannya sendiri, “Apakah kau pernah berpikir betapa tersiksanya diriku menahan tanganku supaya tidak menyentuh dan merenggut Armenia sebelum waktunya di malam-malam menyiksa ketika aku mengawasinya tidur? Aku menghitung detik demi detik hari ini datang dan aku tidak akan melewatkan sedikitpun waktu untuk memilikinya.”

Daika melirik ke arah Azhura Kahn dengan hati-hati, membungkuk dan merendahkan kepalanya dalam ketika akhirnya memberanikan diri untuk bertanya,

“Bagaimanakah Anda akan datang dan mengklaim kepemilikan atas Armenia? Anda tidak mungkin datang begitu saja sebagai Mahadewa Azhura Kahn, bukan?” tanya Daika perlahan, menjaga supaya nada suaranya tetap merendah.

Azhura Kahn tampak berpikir sejenak, lalu Sang Mahadewa memutuskan.

“Aku akan datang sebagai manusia dan melamar pengantinku. Katakan padanya bahwa jodohku dengan Armenia sudah ditentukan sejak lama dan aku datang untuk mengklaim ikatan dengan tunanganku.” ujarnya dengan suara tegas.

Dengan patuh Daika menganggukkan kepala, memberi hormat lalu mohon izin untuk meninggalkan tempat supaya bisa kembali kepada Armenia dan menjalankan penyamarannya sebagai ayah Armenia.

***

“Aku akan mengambil susu, Ayah. Persediaan susu kita di rumah sudah habis.” Armenia melongokkan kepala dan mata besarnya yang indah berkilauan, membuat Daika yang sedang sibuk mengayak biji-bijian hasil panen kemarin mendongakkan kepala dan tersenyum lembut.

“Lekas pulang sebelum tengah hari ya.” ucap Daika dengan nada kebapakan dan memberi izin kepada anaknya.

Armenia menganggukkan kepala, wajahnya masih cerah ceria, dia lalu pergi ke kamarnya, mengambil mantel penutup panjang berwarna orange untuk menutup tubuhnya dari hawa dingin di luar. Cuaca akhir tahun ini di desa memang sedikit berangin dan dingin, bahkan ketika matahari sedang bersinar terik-teriknya sekalipun di siang hari.

Desa mereka terletak di lokasi terpencil, dikelilingi barisan hutan dengan pepohonan oranye rapat yang berjajar rapi membentuk lingkaran seolah benteng yang melingkupi seluruh penjuru desa. Ketika musim sedang berangin seperti ini, daun-daun pepohonan tampak meliuk-liuk terbawa arah angin dan membawa nuansa sejuk dari embun yang bahkan belum mengering dari dalam hutan.

Armenia mengancingkan mantel penutup tubuhnya dan memasangkan tudung di atas kepalanya, dia lalu mengambil keranjang dan mengisinya dengan wadah botol kosong untuk diisi susu. Sapi peliharaan mereka saat ini berada di lapangan rumput bagian belakang rumah, tengah merumput dengan bahagia. Sapi kesayangan Armenia itu sangat jinak dan menghasilkan susu cukup untuk persediaan mereka, bahkan masih bisa dibuat keju serta krim masak yang lezat. Armenia berpikir untuk membuat sup dengan krim hangat di hari ulang tahunnya supaya bisa dimakan bersama-sama dengan ayahnya. Seiring dengan bertambahnya usia Armenia, tentu saja tidak melupakan bahwa pertambahan usia itu berbanding lurus dengan usia ayahnya. Armenia memerhatikan bahwa ayahnya sudah semakin renta dan cuaca yang dingin ini membuat Armenia merasa cemas karena takut kesehatan ayahnya terganggu. Ya, krim sup yang kental dan bergizi dengan susu, krim dan rempah-rempah serta sayuran lezat pasti bisa menghangatkan tubuh mereka di malam hari serta meningkatkan stamina mereka dalam menghadapi berbagai penyakit yang mungkin menyerang akibat hawa dingin tak tertahankan.

Perlahan Armenia membuka pintu rumah, lalu melangkah dengan ringan keluar dan langsung menuju padang rumput yang terbentang luas di halaman belakang. Dengan senyum lebar Armenia mendongakkan kepala dan menghirup udara segar di belakangnya. Matanya memandang ke sekeliling dan hatinya senang melihat suasana damai di desa ini, penduduk desa ini hidup sederhana dengan rumah-rumah kayu yang hampir serupa dan memenuhi kebutuhan hidup dengan bercocok tanam. Kadang-kadang sistem barter dilakukan untuk melengkapi bahan makanan atau mereka juga bisa menitip pada kepala desa dan rombongan yang setiap beberapa waktu sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen dan kembali dengan membawa barang-barang dari kota yang tidak dimiliki oleh penduduk desa.

Langkah Armenia terhenti ketika dia sampai di sebelah sapinya yang sedang merumput, Armenia meletakkan keranjangnya dan mendekat. Sapinya itu langsung mengenali Armenia dan melenguh seolah menyapa, diam dan menurut ketika Armenia menepuk-nepuk kepala dan pangkal moncongnya dengan lembut.

“Apakah kau kedinginan di sini? Nanti ayah akan memasukkanmu ke kandang setelah kau selesai merumput ya.” bisik Armenia lembut dengan nada sayang kepada sapinya seolah-olah sedang berbicara dengan temannya.

Sekali lagi sapi itu melenguh bersahabat seolah mengerti dengan apa yang dikatakan Armenia. Armenia terkekeh, lalu memandang ke sekeliling, alisnya sedikit berkerut karena angin dingin yang ditiupkan dari arah hutan seolah-olah bertambah kencang dan sinar matahari cerah di atas kepalanya tampaknya tidak cukup membantu menghangatkan udara seolah kalah dan mengalah dari cuaca dingin.

“Aku akan segera memerah susumu dan memanggil ayah untuk memasukkanmu ke kandang.” Armenia menggosokkan kedua telapak tangannya sambil menggigit bibir sedikit menggigil, lalu menoleh ke arah ember menyusui yang telah disediakan di salah satu rak kayu berpenutup yang dipasang di tengah padang rumput tersebut.

Dengan cekatan karena sudah terbiasa melakukannya sejak kecil, Armenia mengambil bangku kayu dan duduk di bawah sapi kesayangannya tersebut, tangannya bergerak dengan ahli memerah susu sapi tersebut hingga tidak butuh waktu lama untuk memenuhi ember dengan susu putih yang tampak sangat segar dan sehat.

“Kau benar-benar sapi hebat dan sehat.” puji Armenia sambil menepuk punggung sapinya dengan sayang. Dia lalu membawa ember berisi susu tersebut ke dekat keranjang berisi botol kaca yang diletakkannya di rerumputan tadi. Armenia bersimpuh di atas rumput dan menuang dengan hati-hati susu dari ember memenuhi botol kaca tersebut. Setelah selesai melakukan tugasnya, entah kenapa Armenia bukannya beranjak segera pulang melainkan malahan memilih duduk di salah satu rumput tebal yang empuk seperti karpet dan memandang ke sekeliling dengan senang.

Perpaduan warna oranye dan hijau yang memenuhi sekelilingnya benar-benar memanjakan mata, membuat Armenia kadang tidak bisa menahan godaan untuk duduk dan menyerap keindahan ini dengan sepenuh hatinya.

Armenia menurunkan tudung kepalanya, membiarkan angin sepoi-sepoi meniup rambut hitamnya yang panjang. Entah kenapa tiba-tiba Armenia merasa sangat mengantuk, keinginan untuk lelap menggodanya, membisikkan janji indah di alam mimpi dan menggandeng tangan Armenia untuk tenggelam bersamanya…

***

Azhura Kahn mengawasi semuanya dengan hati-hati dari tempat tak terlihat di balik pepohonan oranye rapat yang berada dekat dengan padang rumput tempat Armenia memerah susu sapinya.

Sekuat tenaga dirinya menahan diri untuk tidak bergerak dan mendekati Armenia lalu mengklaim kepemilikannya atas pasangan takdir yang dijanjikan untuk dirinya tersebut.  Tanpa bersuara, Sang Mahadewa memerhatikan Armenia hingga menyelesaikan pekerjaannya dan kemudian duduk di hamparan rumput, memandang kesekeliling serta menikmati pemandangan alam sambil tersenyum manis.

Jantung Azhura Kahn berdebar ketika menatap wajah Armenia dan mengagumi kecantikannya. Perempuan itu telah mencuri hatinya dan tak pernah mau berbaik hati mengembalikan kepada Sang Mahadewa hingga sampai detik ini. Hanya Armenialah yang dia izinkan mencuri sesuatu dari diri Azhura Kahn tanpa membuat Sang Mahadewa murka.

Mata Azhura Kahn menggelap ketika memerhatikan wajah Armenia dari kejauhan. Perempuan itu sekarang sudah berusia tujuh belas tahun, usia yang dijanjikan kepada Azhura Kahn untuk memiliki istrinya. Selama ini dalam kurun waktu yang menyiksa, Azhura Kahn harus berpuas diri memandang Armenia dari kejauhan, mengamati pertumbuhannya, mencintai segala sisinya dan hanya ketika dia merasa kuat Azhura Kahn memberanikan diri untuk datang menatap Armenia di malam hari ketika perempuan itu tertidur.

Azhura Kahn menatap Armenia yang memejamkan mata dan kali ini kelemahan menyerangnya, membuat dirinya tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh dan mendekati pasangan takdirnya. Perlahan Azhura Kahn meniupkan angin lembut yang membuai Armenia dan membawanya ke alam mimpi.

Sedetik kemudian tubuh  Armenia jatuh ke rerumputan, dan Azhura Kah  melangkahkan kakinya mendekat. Sapi peliharaan Armenia menatap ke arah Sang Mahadewa yang berjalan dengan aura berkuasa ketika mendekati majikannya dan seketika itu juga, didorong oleh insting alami yang membuat Sang Sapi sadar bahwa yang ada di dekat mereka adalah dewa pemimpin Dunia Ametyst yang agung, sapi itu langsung jatuh bersimpuh  di atas rerumputan, menundukkan kepala dengan hormat.

Azhura Kahn menggunakan wujud manusianya, wujud Zhura Al Ghul yang akan datang untuk melamar Amenia dan mengklaim kepemilikannya atas pasangan takdirnya itu. Meskipun begitu, aura dewani  yang kuat tetap memancar dari dirinya ketika dia berlutut di atas rerumputan, tepat di dekat pasangan takdirnya yang sedang terlelap dengan begitu pulas.

Azhura Kahn menyentuhkan tangannya ke pipi Armenia, menyadari bahwa bahkan sentuhan kulit mereka telah berhasil membawa efek tak terduga yang membuat tubuhnya seolah terbakar. Permukaan kulit pipi Armenia terasa dingin hingga Sang Mahadewa mengerutkan kening sambil memandang sekeliling. Diperintahkannya angin dingin yang terus menerus bertiup dari hutan untuk berhenti, lalu diangkatnya tubuh Armenia dan Azhura Kahn duduk di atas rerumputan sambil membawa Armenia ke atas pangkuannya. Sebelah lengan Azhura Kahn menyangga kepala Armenia hingga setengah terduduk di atas pangkuan dengan kepala bersandar di dada Sang Mahadewa.

Azhura Kahn menundukkan kepala dan mengecup pucuk kepala Armenia dengan luapan kasih sayang tak terbatas yang telah ditahannya sejak lama. Setelah itu Sang Mahadewa membenamkan kepalanya di dalam kelembutan rambut Armenia yang harum, kedua tangannya merengkuh tubuh Armenia erat-erat dengan kerinduan yang amat sangat.

Hari ini dia memutuskan untuk memberikan tanda perlindungan kepada Armenia.

***

Armenia seperti berada di dunia mimpi.

Dan dunia yang ini indah sekali, dengan taman bunga yang berwarna merah menyatu dengan dedaunan kulsu yang berwarna orange terang, berpadu dengan rumput lembut berwarna hijau yang melingkupi kakinya dengan hangat.

Dia berada di mana?

Suara gemericik air di kejauhan menarik perhatiannya, Armenia melanjutkan langkahnya ke sana, ke tempat suara air itu semakin terdengar dekat dan jelas.

Dan sampailah dia di pemandangan yang sangat indah. Gugusan pepohonan terbentang membentuk lingkaran yang semakin meninggi di perbukitan yang dikucuri oleh tiga air terjun dengan air jernihnya yang berwarna sangat biru. Bunga-bunga bermekaran disekitar danau kecil tempat jatuhnya air terjun itu menyatu. Suara burung-burung seakan meramaikan keindahan yang ada di sana, apalagi ditambah dengan banyaknya serangga lucu berwarna-warni dengan berbagai corak yang berterbangan dengan damai mengitari pucuk-pucuk bunga.

Armenia ternganga, dia tidak pernah melihat keindahan seperti ini sebelumnya. Langkahnya sempat ragu dan pelan, tetapi kemudian dia memberanikan diri, hingga sampai di tepi danau. Disentuhkannya kakinya sedikit di air yang beriak pelan di tepi danau, danau itu ternyata tidak dalam, dan airnya sangat bening sehingga dasarnya yang penuh bebatuan halus dan pasir putih tampak jelas, mungkin paling dalam danau kecil itu hanya sepinggang Armenia.

Dan airnya hangat…. kehangatan air itu menggodanya, hingga tanpa sadar Armenia melepas pakaiannya, kemudian melangkah semakin dalam ke danau masuk ke tengahnya, sambil menikmati percikan dari tiga air terjun di atasnya yang terasa menyenangkan.

Armenia terkekeh, merasa senang sambil memainkan air di jemarinya, membasahi seluruh tubuh telanjangnya berikut rambutnya. Dan kemudian berlutut di pasir hingga tubuhnya tenggelam sampai ke pundak, tubuh remajanya yang indah hampir tertutup oleh air yang bening itu, menyisakan bayang-bayang siluet yang semakin menggoda karena begitu jernihnya air.

Setelah membasahi rambutnya, Armenia memejamkan matanya dalam damai, menikmati kehangatan yang membungkus tubuhnya.

“Armenia…”

Bisikan itu membuat Armenia terperanjat hingga hampir berdiri dari tempatnya berlutut. Tetapi dia membentur tubuh yang kokoh, begitu kokoh dan keras dengan lengan-lengannya yang kuat memeluk tubuh telanjangnya dari belakang. Armenia menyadari lelaki itu sangat tinggi, mengingat sekarang, pucuk kepalanya ada di dagu laki-laki itu.

Tubuh itu terasa panas….. dan sudah jelas seorang laki-laki. Laki-laki yang telanjang.

Armenia gemetar ketakutan. Dia berdiri di sini, ditempat yang tidak diketahuinya, di tengah air dalam kondisi telanjang yang membuat dirinya amat sangat rapuh. Dengan bodohnya dia seperti membuat dirinya sengaja memamerkan diri untuk menjadi mangsa orang jahat.

Dan jikalau lelaki yang memeluknya ini adalah orang jahat….

Pikiran itu membuatnya takut, seketika itu juga Armenia berusaha meronta, berusaha melepaskan diri. Tetapi entah kenapa, sentuhan kulit hangat lelaki itu yang berpadu dengan riakan air hangat yang mengelilinginya, membuatnya tidak bisa bergerak, tak berdaya seolah kehilangan seluruh kekuatannya.

Lelaki di belakangnya itu harum….. dengan aroma yang manis menenangkan hati, aroma tubuhnya begitu agung, seakan-akan bukan aroma manusia biasa. Lengan keras lelaki itu makin mempererat pelukannya dari belakang di tubuh telanjangnya, dan kemudian Armenia bisa merasakan Lelaki itu menundukkan kepalanya, dan napasnya terasa dekat di telinganya.

“Armenia………”

Sekali lagi lelaki itu membisikkan namanya dengan bisikan lembut, lalu bibir lelaki itu semakin tertunduk, memberikan napas yang hangat dan menggoda di telinganya, membuat seluruh bulu kuduk Armenia berdiri oleh sensasi yang tidak pernah dirasakannya sebelumnya. Dan kemudian bibir lelaki itu berlabuh di pundaknya yang halus seputih pualam, memberikan kecupan panas, yang membuat Armenia mengerang, mendongakkan kepalanya, merasakan hantaman sensasi yang aneh dan terasa panas, menjalari seluruh kulitnya…. merasuk ke tubuhnya…

Azhura Khan memuaskan diri, mencecap kelembutan kulit Armenia di bibirnya, menikmati dengan lidahnya, meninggalkan jejaknya di sana.

Dan setelah dia selesai, Azhura Kahn mengangkat kepalanya, kedua tangannya menopang tubuh Armenia yang lemas dengan senyum puas. Tubuh Armenia yang lemas karena sentuhannya adalah tanda bahwa perempuan itu belum pernah disentuh oleh laki-laki sebelumnya.

Azhura Kahn adalah lelaki pertama Armenia dan akan menjadi satu-satunya…

Jemari Azhura Kahn mengusap tanda merah di leher Armenia, tanda perlindungan yang diberikan kepada pengantinnya yang telah berusia tujuh belas tahun. Tanda itu akan membuat laki-laki manapun, baik dari kalangan dewa maupun dari kalangan manusia yang berani menyentuh Armenia dengan keinginan untuk mencintai akan langsung hangus terbakar dalam kecemburuan Sang Mahadewa Ashura Kahn yang egois.

Azhura Kahn melirik ke dunia nyata, tempat dimana sahabat Armenia datang untuk membangunkan Armenia dari dunia mimpi. Perlahan Azhura Kahn memberikan kecupan penuh cinta di pucuk kepala Armenia, sebelum mengucapkan janji bahwa dia akan kembali untuk mengklaim pengantinnya.

Dibebaskannya Armenia dari dunia mimpi supaya terbangun, kembali ke dunia nyata.

***

Ketika Armenia melangkah pergi bersama temannya setelah bangun dari tidur lelapnya di padang rumput, Sang Mahadewa  masih berdiri di tempat tak terlihat, mengawasi dengan seksama dan menatap Armenia dengan senyuman puas bercampur sayang.

Pengantinnya telah mendapatkan tanda khusus darinya di leher, tanda itu menyatakan kepemilikan dan perlindungan Sang Mahadewa Azhura Kahn atas anak manusia yang ditakdirkan baginya. Mulai saat ini Armenia akan terlindungi, dengan tanda itu, tidak akan ada satu makhluk pun di dunia Ametyst yang bisa menyakiti Armenia.

Pengantin kesayangannya itu akan selalu berada di dalam perlindungannya, sesuai janji Azhura Kahn bahkan pada saat Armenia baru saja dilahirkan ke dunia ini…

End Of Short Story Azhura’s Bride : Tanda perlindungan

243 Komentar

  1. Siti Nurwulan Purnamasari menulis:

    Berasa familiar?hanya saja sedikit berbeda?

  2. Ayu permatasari menulis:

    :tebarbunga :tebarbunga :NGEBETT :NGEBETT :NGEBETT

  3. :cintakamumuach melindungi dari awal sampai akhir

  4. :NGEBETT

  5. Missjangchoii1 menulis:

    Terrrrrrr-sweeeeeeeet ??????

  6. Sweet sekali dirimu Azhura. Aku pesen dong cowok kayak begitu? Wkwk :KETAWAJAHADD

  7. uluh uluh so sweetnya ???

  8. Kecemburuan yang egois katanya
    Dan langsubg terbakar :tepuk2tangan :ngetawain :HUAHAHAHAHA

  9. Azhura kan yg egois

  10. Kurome Hiyoshi menulis:

    So sweet~

  11. Posesif sekali hahahahaa

  12. Flashback baper detecteed :NGEBETT

  13. ULFAH HIDAYATI menulis:

    sosweet banget
    ……

  14. ULFAH HIDAYATI menulis:

    ka aku pengen banget baca azhura bride nya ampe selesai kemarin di wattpad cuma sampai part 24 PENASARAN BANGET?????

  15. EEAAAAAAKK

  16. Lely Damayanti menulis:

    Mahadewa curi2 kesempatan trus yaaaaa

  17. Nurbella Islamiah menulis:

    So sweet. Suka sama alur ceritanya

  18. so sweet

  19. Ini sih manis banget :kisskiss

  20. :berharapindah :berharapindah :berharapindah :berharapindah

  21. Nakal ya azhura.. Wooohhhh

  22. Airaqyoung1215 menulis:

    :kisskiss

  23. Yang baca part ini harap bersabar and dilarang baper :wkwkwkwk

  24. azhura nih ye :mimisankarnamu

  25. kamu genit

  26. Mamita Fatih menulis:

    :NGAKAKGILAA

  27. Bella Miacara menulis:

    Tanda perlindungan..

  28. Kinky Rain menulis:

    :sebarcinta

  29. Kira Yamato menulis:

    .

  30. Baca ulang :haisalamkenal

Tinggalkan Balasan