azhuras-bride2
Azhuras Bride

Azhura’s Bride Part 10 : Tanda Kepemilikan

Bookmark

No account yet? Register

Novel AB Azhura’s Bride dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com. Novel Romantis Fantasi Romance bagus berkualitas di Project Sairaakira

3.147 votes, average: 1,00 out of 1 (3.147 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...
Baca Parts Lainnya Klik Di sini

azhuras-bride2

Armenia menghela napas panjang sambil menatap dirinya di cermin. Gaun pengantin merah itu tampak begitu indah di tubuhnya, sangat pas seolah-olah itu memang diciptakan untuknya. Ujung gaun itu dihiasi dengan sulaman emas berkilau, menjuntai di bawah kakinya.

Armenia menggulung rambut hitamnya dengan gulungan sederhana yang cantik, lalu meraih kain panjang tipis berwarna senada untuk kerudungnya, dan kemudian memasangkan di kepalanya.

Sekali lagi Armenia menatap dirinya di cermin. Warna merah pakaiannya benar-benar menonjolkan keindahan matanya yang keemasan, membuatnya tampak semakin bulat dan bercahaya, pun dengan rambut hitamnya yang samar-samar tercermin dari kerudung tipisnya, membuat sosok Armenia sekarang benar-benar seperti seorang puteri kerajaan, sangat berbeda dengan Armenia yang biasanya berpakaian ala gadis sederhana, puteri peternak.

Jantung Armenia tiba-tiba berdebar, membayangkan sosok Zhura AL Gul yang sekarang menunggunya di luar. Lelaki itu, yang kemarin masih merupakan lelaki asing baginya, hari ini akan menjadi suaminya.

Suaminya….

Armenia mengulang-ulang kata sebutan itu, mencoba membuat dirinya tenang dan terbiasa. Tetapi tentu saja itu tidak berhasil baginya, membayangkan Zhura Al Gul menjadi suaminya hanyalah membuat jantung Armenia berdebar semakin kencang.

Armenia langsung menggengam kalung rami berisi batu rubi peninggalan ibunya, untuk menenangkan dirinya, Dihelanya napas panjang beberapa kali sebelum kemudian melangkah menuju pintu.

***

Ketika Armnia melangkah keluar dengan hati-hati, dia langsung berhadapan dengan Zhura Al Gul, yang masih berdiri di sana dengan begitu agung, menunggunya.

Lelaki itu, sedikit menegakkan punggungnya ketika melihat Armenia keluar dengan pakaian pengantinnya, ekspresinya sama sekali tidak terbaca sehingga Armenia sedikit berdebar karena menduga-duga.

Zhura Al Gul melangkah mendekat, dengan langkah yang pelan seperti seekor macan kumbang yang mengitari mangsanya sebelum dimakan, lelaki itu lalu berhenti tepat di depan Armenia. Mereka saling bertatapan, mata emas dengan mata emas yang berpadu.

Suasana yang mengitari mereka terasa begitu magis, seolah-olah alampun berhenti sejenak, untuk memberi kesempatan dua mahluk ini berhadapan dalam keheningan.

Lalu Zhura Al Gul mengulurkan tangannya, ujung jemarinya menyapu lembut pipi Armenia, menelusuri kehalusan disana,

“Isteriku.” Suara Zhura Al Gul bagaikan mantra, menguar di udara, bagaikan pernyataan kepemilikan yang diumumkannya kepada alam semesta.

Dan keheningan itu dipecahkan oleh pintu yang dibuka tiba-tiba secara kasar.

“Armenia! Kau tidak akan percaya, aku melihat kuda hitam itu….” Suara Jelena yang membuka pintu rumah  dengan terburu-buru mendadak terhenti ketika melihat pemandangan di depannya.

Jelena langsung terpaku, dengan mulut menganga, menatap sosok Zhura Al Gul yang berwibawa dengan pakaian hitam bersulam emas dan kain hitam yang diikat di kepalanya. Mata Jelena beralih ke arah Armenia, melihat Armenia dengan pakaian pengantinnya yang luar biasa, lalu matanya membelalak semakin kaget.

Zhura Al Gul melepaskan sentuhan jemarinya dari pipi Armenia, dan kemudian melangkah dengan tenang, berdiri di sebelah Armenia. Lelaki itu tidak berkata-kata, seolah membebankan kewajiban untuk menjelaskan kepada Armenia.

Armenia berdehem, merasakan tenggorokannya yang tiba-tiba tercekat.

“Jelena…. ini Zhura Al Gul, kepala suku dari klan pemburu…. kami… eh, kami akan menikah…”

“Menikah??” Jelena setengah memekik tak percaya. Matanya menatap Armenia dan Zhura Al Gul berganti-ganti.

Pada saat itu, Zhura Al Gul dengan tenang melangkah maju, tersenyum ke arah Jelena,

“Kurasa aku akan meninggalkan kalian berduaan di sini untuk berbicara.” Alunan suaranya begitu lembut, bahkan Armenia bisa melihat pipi Jelena langsung bersemu merah ketika menerima senyuman lelaki itu, Zhura Al Gul menoleh kembali ke arah Armenia, “Aku akan menunggu di depan bersama Baraga.”

Dan setelah itu, Zhura Al Gul melangkah keluar sebelum menutup pintu di belakangnya.

Seketika itu juga, Jelena memekik, dan setengah melompat menghampiri Armenia, perempuan itu meletakkan jemarinya di dua sisi pundak Armenia, menatap Armenia dari ujung kepala sampai kaki, matanya masih membelalak tak percaya.

“Kau akan menikah?” Jelena berusaha memelankan suaranya tetapi yang keluar masih pekikan serasa tercekik di tenggorokan.

Armenia menatap ke arah pintu tertutup itu, menatap Zhura Al Gul yang menghilang di baliknya.

Ketika dia berbicara, suaranya setengah berbisik.

“Dia datang kemarin, dan kata ayah, Zhura Al Gul sudah dijanjikan menikah denganku sejak dulu, jadi dia datang untuk menikahiku di umurku yang ketujuhbelas tahun…” Armenia menelan ludahnya, mengungkapkan perasaannya kepada temannya itu,  “Aku takut, Jelena.”

“Takut?” Jelena memutar bola matanya, “Kalau tiba-tiba seorang lelaki setampan itu datang untuk melamarku, lelaki setampan itu! Aku pasti akan langsung menerima lamarannya, dan kemudian pingsan di tempat saking bahagianya.” Jelena terengah seolah kehabisan napas ketika membayangkan Zhura Al Gul, dia menatap Armenia dalam dengan sungguh-sungguh, “Kau sangat beruntung, Armenia!”

Armenia mengerutkan keningnya, “Beruntung?”

“Tentu saja!” Jelena mengangguk meyakinkan, “Bahkan pangeran dari kerajaan seberangpun tidak setampan itu, aku pernah melihat pangeran dari negeri seberang itu ketika beliau mengikuti parade di pesta kunjungan kerajaan Garaya yakinlah bahwa seorang pangeranpun kalah jauh dari calon suamimu itu. Dan calon suamimu itu pasti sangat kaya, kau lihat kan pakaian yang dikenakannya?  Dan lihat saja pakaian yang diberikannya padamu!” Jemari Jelena menelusuri kain halus di gaun Armenia. “Aku belum pernah memegang kain sehalus ini. Calon suamimu itu pastilah pria yang berkuasa.”

***

Kata-kata Jelena itu masih terngiang di benak Armenia ketika dia keluar untuk menemui Zhura Al Gul yang masih berdiri di sebelah Baraga yang setia. Kuda hitam yang gagah itu sedang merumput menemani tuannya, dan meringkik senang ketika Armenia mendekat.

Tadi Jelena dan keluarganya sudah berangkat bersama ayahnya terlebih dahulu, karena perjalanan menggunakan kereta harus menempuh jalur memutar yang sedikit lebih jauh daripada jalur singkat yang bisa dilalui dengan berkuda. Tapi Ayahnya bilang akan menemui mereka di kuil Azhura Kahn.

Mata Armenia menatap ke arah mata emas Zhura Al Gul, dan kemudian menunduk, menatap telapak tangan kokoh lelaki itu yang diulurkan kepada Armenia,

“Kemarilah.” Zhura Al Gul bergumam seperti memerintah, hanya saja nada suaranya lebih lembut.

Armenia menatap ragu ke arah punggung Baraga yang tinggi, sedikit takut. Dia tidak pernah naik kuda sebelumnya. Kalau mereka naik ke punggung Baraga yang tinggi itu, pasti rasanya akan sakit sekali kalau mereka jatuh….

Tatapan mata Zhura Al Gul melembut ketika menyadari ketakutan di mata Armenia,

“Aku akan menjagamu.” Bisiknya halus, masih mengulurkan tangannya.

Armenia menelan ludahnya, menatap uluran tangan Zhura Al Gul, dan kemudian mengulurkan jemarinya, membiarkan jemari kokoh Zhura Al Gul menggenggamnya,

Dengan cepat, seolah Armenia seringan bulu, Zhura Al Gul mengangkat Armenia ke punggung Baraga yang merendah siap dinaiki, dan kemudian dia menyusul Armenia naik ke punggung kuda.

Dalam sekejap, aroma manis yang menggoda itu melingkupi Armenia, menguar dari tubuh Zhura Al Gul, melingkupinya dengan keharuman surgawi dan entah kenapa membuat hatinya tenang.

Zhura AL Gul menarik tali kekang kudanya, tubuhnya maju dan memeluk Armenia dengan sebelah tangannya, seketika itu juga Baraga langsung berderap, melaju melintasi padang rumput hijau nan subur itu, menembus jalan setapak ke arah hutan.

Armenia mengernyit ketika angin kencang menghembus rambutnya, kerudung indahnya berkibar tertiup angin, mengikuti kencangnya Baraga berlari, tanpa sadar dia menempelkan tubuhnya erat-erat dan berpegangan rapat-rapat ke tubuh Zhura Al Gul.

Tidak disadarinya lelaki itu tersenyum di atas kepalanya, lalu memacu kudanya semakin kencang, sengaja supaya Armenia semakin berpegangan merapat kepadanya.

***

“Kau sudah cukup cantik, anakku.” Ruth yang mengenakan gaun biru indah dari bahan terbaik, tersenyum lebar, menatap ke arah Khaeva yang baru saja keluar diiringi oleh dayang-dayangnya menuju lorong istana. Beberapa pelayan pria membawakan keranjang persembahannya yang tampak berat, penuh dengan berbagai persembahan terbaik, bunga-bunga termahal, kain sulaman paling indah, dan batu permata merah, untuk dipersembahkan kepada sang Azhura Kahn.

Khaeva membalas senyum ibunya dengan penuh percaya diri,

“Aku sudah siap ibu.” Jantung Khaeva berdebar penuh antisipasi di setiap langkahnya. Mereka melangkah menuju aula luar istana, persembahan pertama Khaeva akan dilakukan pertama kali, sebelum anak-anak perempuan dari seluruh penjuru Garaya memberikan persembahan mereka yang pertama.

Hari ini, untuk pertama kalinya, pintu-pintu raksasa yang menutup keseluruhan kuil Azhura Kahn dibuka lebar-lebar, sehingga seluruh penduduk yang datang berbondong-bondong bisa melihat langsung persembahan pertama Khaeva kepada patung Azhura Kahn.

Ketika Khaeva hendak sampai di pintu tembusan yang langsung menuju bagian utama kuil terbesar Azhura Kahn, dia berpapasan dengan pendeta tertinggi istana, sang Asoka, pendeta tua yang merupakan pemimpin tertinggi Garaya.

Pendeta Asoka sepertinya sudah menunggu di sana, dengan jubah merahnya yang khas, dan tudung yang menutupi kepalanya. Pendeta tua itu menatap Khaeva, lalu sedikit menganggukkan kepalanya, dengan maksud memberi hormat.

Khaeva membalas salam itu dengan membungkukkan tubuhnya penuh hormat, meskipun rasa tidak nyaman mulai meresapi hatinya. Khaeva selalu bertanya-tanya, kenapa pendeta Asoka yang merupakan pemuja dewa Azhura ini, selalu bersikap dingin kepadanya. Lelaki tua itu tetap bersikap hormat dan memperlakukannya dengan baik sebagai pengantin sang Mahadewa Azhura Kahn, tetapi entah kenapa, seolah-olah sinar matanya tidak bisa menyembunyikan rasa tidak sukanya kepada Khaeva. Dia menolehkan kepalanya kepada ibunya yang sejak tadi mengikuti di belakangnya, dan Ruth, yang juga merasakan siikap dingin sang pendeta tertinggi, hanya mengangkat bahunya.

“Anda sudah siap.” Suara Pendeta Asoka terdengar serak dan berat.

Khaeva menganggukkan kepalanya.

Pendeta Asoka langsung membalikkan tubuhnya, dan bergerak membuka pintu besar, yang membatasi lorong istana dengan bagian utama kuil.

“Kalau begitu, mari kita lakukan persembahan itu.”

***

Ketika kuda mereka lepas dari hutan dan sampai di pusat kota kerajaan Garaya, suasana tampak sepi. Sepertinya seluruh penduduk sudah berkumpul di kuil terbesar sang Azhura Kahn, untuk menyaksikan persembahan pertama puteri Khaeva.

Zhura Al Gul lebih dulu turun dari kudanya, lalu berdiri di samping kudanya, meraih pinggang Armenia dengan jemarinya yang kuat, dan mengangkatnya, sejenak dia sedikit memeluk Armenia sambil memeluk pinggangnya, lalu menurunkan Armenia ke tanah.

Zhura Al Gul menatap sekeliling mereka yang sepi, lalu lelaki itu mengeluarkan jubah hitam dari kantong pelana kudanya, dan sebelum Armenia sempat membantah apapun, lelaki itu menangkupkan jubah hitam yang tadi diambilnya, ke tubuh Armenia, membantu lengan-lengan Armenia masuk ke jubah itu, dan setelahnya memasang tudung di kepala Armenia, hingga seluruh baju dan kerudung pengantin Armenia tertutup.

“Kau pasti setuju bahwa penampilanmu jangan sampai terlalu mencolok, ada banyak sekali manusia di sini.” Zhura Al Gul tersenyum ke arah Armenia, dan kemudian jarinya menelusuri jubah Armenia, bersikap seolah merapikan jubah Armenia, hingga kemudian tangannya berdiri di pinggang Armenia.

Mereka berdiri merapat, sementara jemari Zhura Al Gul masih menangkup pinggang kecil Armenia.

“Kau begitu mungil.” Zhura Al Gul mengerutkan keningnya, seolah-olah sedang menimbang-nimbang untuk meremukkan pinggang Armenia. Tetapi ternyata tidak dilakukannya, tatapan lelaki itu terpaku kepada kalung rami yang melingkari leher Armenia, sejak tadi  ujung kalung itu tersembunyi di balik leher gaun Armenia dan sekarang bahkan makin tersembunyi di balik jubah hitam yang melingkupi tubuh Armenia.

Jemari Zhura Al Gul bergerak, dan mengeluarkan kalung itu tanpa Armenia sempat mencegahnya, lelaki itu meletakkan bandul kalung yang berbentuk anyaman kantong, dan melihat ada batu rubi merah di bagian dalam kantong itu.

“Kau selalu memakainya.” nada suara Zhura Al Gul menyiratkan dia mengetahuinya sejak lama.

Armenia mengangguk, menatap batu rubi di dalam kalung itu yang seolah tampak semakin bercahaya di telapak tangan Azhura.

“Itu peninggalan ibuku… aku tidak ingat… tapi ayahku yang mengatakannya.”

Zhura Al Gul mengangguk. “Aku tahu.”

“Kau tahu?” Armenia langsung menyambar, penuh rasa ingin tahu. Ayahnya sangat jarang menceritakan tentang ibundanya, sehingga informasi apapun menyangkut ibundanya selalu menarik bagai Armenia.

“Aku teringat ibumu waktu itu, ketika itu kau masih kecil. Ibumu perempuan yang cantik dan sangat menyayangimu, Armenia.” ada kelembutan di mata Zhura Al Gul ketika menatap Armenia.

“Benarkah?” perasaan Armenia terasa hangat, dia tidak bisa mengingat seperti apa ibunya. Ayahnya selalu berkata bahwa ibunya mirip dengannya, tetapi itu tidak cukup untuk membayangkan seperti apa ibunya, dan itu membuat Armenia sedih. Tetapi sekarang, mengetahui bahwa ibunya menyayanginya, membuat Armenia merasa bahagia.

“Aku yang memberikan batu rubi merah ini kepada ibumu.” Zhura Al Gul berkata dengan nada misterius yang menyelinap di sana. “Dan ibumu membuatkan anyaman kalung rami sebagai tempat batu ini, lalu memberikannya kepadamu, untuk melindungimu.”

“Untuk melindungiku?” Armenia mengernyit, sedikit terkejut dengan informasi yang diperolehnya bahwa Zhura Al Gul-lah yang memberikan batu rubi merah itu, kalau melihat penampilan Zhura Al Gul, lelaki itu hanya sedikit lebih tua darinya, jadi waktu itu Zhura Al Gul pastilah masih remaja.

“Ya, siapapun yang melihatmu memakai batu rubi itu, akan mengurungkan niatnya untuk mengganggumu.”

Armenia menatap Zhura Al Gul ingin tahu, “Karena semua orang itu tahu bahwa kau akan melindungiku?”

Zhura Al Gul tersenyum samar, senyum yang sedikit menggoda, jemarinya menurunkan kembali batu rubi  itu, dan meletakkan kalung Armenia, kali ini bergantung di luar pakaian Armenia,

“Bukan,” Mata Zhura Al Gul bersinar lembut, “Mereka semua tidak akan berani mengganggumu, karena kalung ini menandakan bahwa kau adalah milikku.”

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

KONTEN PREMIUM PSA


Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru (No Ads) di Google Play

Welcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

222 Komentar

  1. Asiah Silita menulis:

    Uhuyyy :NGAKAKGILAA

  2. dwioktapia30 menulis:

    :menor :menor :ayojadian :ayojadian

  3. Azzalea Dian menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  4. Mamita Fatih menulis:

    :awaskubalasnanti

  5. Shelli Novianti menulis:

    :kisskiss

  6. Aduuu deg degaann

  7. Banyakin tandanya :happy

  8. Uhuy

Tinggalkan Balasan