the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 9 : Masa Lalu

Bookmark

No account yet? Register

1.686 votes, average: 1,00 out of 1 (1.686 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

Kau tampak sehat dan baik, sepertinya menyenangkan bertugas di perbatasan barat?” Akira mempersilahkan Athena duduk, dan memulai percakapan.

“Sangat menyenangkan Jenderal, wilayah perbatasan barat adalah wilayah yang hanya sedikit terkena imbas musim salju, sehingga udara di sana cukup hangat, tidak sebeku di sini.” Athena tersenyum, duduk dengan cukup nyaman sambil menatap sang Jenderal yang nampak begitu tampan di balik meja besarnya. “Omong-omong, ayah saya mengirim salam.”

“Oh ya?” Akira mengangkat sebelah alisnya, “Sampaikan salamku untuk Jenderal Zayed, aku harap beliau menikmati masa pensiunnya dengan nyaman.”

Ayah Athena adalah salah seorang Jenderal yang menjadi orang kepercayaan sang Jenderal besar, ayah Akira. Karena kedua orang tua mereka bersahabat, Akira dan Athena hampir bisa dibilang tumbuh bersama sejak kecil. Tetapi ketika Akira muda mulai terlibat cinta dengan Athena, Akira mulai merasakan keanehan karena ayahnya, sang Jenderal besar, tidak pernah memberikan restu atas hubungan mereka.

Selama bertahun-tahun Akira dibuat bertanya-tanya, hingga akhirnya setelah ayahnya meninggal dia mengetahui alasan yang sebenarnya : Athena bukanlah perempuan yang ditakdirkan untuk melahirkan penerus bagi Akira. Dan ketika diberikan pilihan antara Athena – yang saat itu sudah menjadi tunangannya- dan Asia, yang menjanjikan penerus untuknya, maka Akira menjatuhkan pilihannya kepada Asia.

Keputusan itu sempat menyebabkan hubungannya dengan Athena memburuk, sampai Athena, yang kala itu juga menjadi salah satu letnan terbaik di benteng Marakesh City mengajukan diri untuk dipindahkan ke perbatasan barat yang merupakan lokasi terjauh dari tempat Akira berada.

Lama kedua sosok manusia itu bertatapan dalam keheningan yang penuh arti, sampai akhirnya Akira memecahkannya,

“Apa yang membuatmu kembali, Athena?” Senyuman Akira menghilang, berganti dengan tatapan dingin menelisik.

Ekspresi wajah Athena tidak berubah ketika menjawab, “Ayah saya sudah tua, Jenderal. Saya kembali kemari untuk merawatnya.”

“Begitu.” Akira bergumam, datar dan tanpa ekspresi, “Aku yakin kemampuanmu akan sangat berguna bagi benteng kami. Selamat bekerja kembali kalau begitu.”

Athena mengangguk, menyadari bahwa percakapannya dengan sang Jenderal sudah selesai. Perempuan itu bangkit dari duduknya dan membungkuk memberi hormat, “Kalau begitu saya permisi, Jenderal.”

Akira mengangguk tipis, lalu tanpa menunggu Athena keluar dari ruangan, lelaki itu kembali memusatkan perhatiannya pada peta strategi di atas mejanya.

Sementara Athena, yang sudah memegang handel pintu untuk keluar, mendadak menghentikan langkahnya meragu,

“Saya melihatnya di pengumuman siaran resmi, anda akhirnya mengumumkan kehamilan isteri anda.”

Kepala Akira terangkat kembali, menatap Athena yang berdiri di pintu, dengan ekspresi muram.

“Ya, Isteriku akan melahirkan beberapa bulan lagi, Aku memutuskan untuk mengumumkan kehamilannya sebelum kandungannya terlalu besar dan menjadi riskan untuknya jika dibawa keluar.”

“Dia…. isteri anda… dia begitu muda….” Athena menatap Akira tajam, “Apakah anda bahagia bersamanya, Jenderal?”

Akira melipat tangannya sambil duduk tegak di kursinya, matanya menyipit,

“Apakah engkau sedang mencoba memberi selamat atas perkawinanku, Athena?”

Bibir Athena langsung menipis, seolah pertanyaan itu menganggunya, tetapi ekspresi itu hanya berlangsung sekejap, terhapuskan oleh senyuman manis yang tampak benar-benar tulus.

“Waktu itu saya belum sempat memberikan selamat untuk anda. Selamat, Jenderal, selamat untuk isteri dan calon penerus anda. Selamat karena anda akhirnya mendapatkan apa yang tidak bisa saya berikan kepada anda.” Athena membungkukkan tubuh, memberi salam hormat, lalu melangkah pergi.

***

“Letnan Athena mengajukan diri untuk menjadi pengawal pribadi isteri anda.”

Paris menyerahkan surat itu kepada Akira. Mereka sedang berada di dalam ruang strategi yang dipenuhi oleh peta-peta di dinding, mengelilingi meja bundar dari kayu mahoni tempat para perwira utama berkoordinasi sebelum melakukan berbagai tindakan strategis.

Pencarian terhadap kelompok pemberontakan yang dipimpin oleh Cesar semakin gencar dilakukan, mereka sudah mengendus jejak kelompok itu di pinggiran After Earth, dan yang pasti, kelompok itu diketahui bermarkas di bawah tanah. Fokus dari pencarian adalah menemukan pintu masuknya, temukan kepalanya, maka kau bisa membunuh sampai ke ekor.

Cesar seperti duri dalam daging bagi Akira, lelaki itu harus dimusnahkan, kalau tidak dia akan terus-terusan menjadi ssuatu yang mengganjal langkah Akira.

Akira menerima surat pengajuan diri dari Athena, dalam surat itu Athena mengatakan bahwa sebagai perempuan dia memiliki kelebihan dibandingkan yang lainnya, karena yang dijaga adalah seorang perempuan juga.

“Biasanya memang saya yang menentukan seluruh personel pengawas di dalam rumah anda, begitupun kandidat pengawal pribadi untuk nona Asia, tetapi untuk hal ini saya harus meminta pertimbangan anda.” Gumam Paris sambil mengamati sang Jenderal yang mengerutkan dahi membaca surat itu.

“Apakah menurutmu, Athena kompeten?”

Paris melebarkan kedua matanya mendengar pertanyaan Akira,

“Ah ya…. tentu saja Letnan Athena sangat kompeten, prestasinya ketika bertugas di perbatasan amat cemerlang, tetapi saya khawatir…. mengingat masa lalu beliau dengan anda…”

“Kalau dia kompeten, maka terima dia.” Akira menyela dengan dingin, tak terbantahkan.

***

Asia merapatkan jaketnya dan menelusuri lorong rumah yang begitu sepi, dia mencium aroma roti yang baru dipanggang dan mengikutinya, melalui beberapa ruangan kosong dan akhirnya sampai di ruangan paling ujung, tempat beberapa pegawai berkumpul melaksanakan tugasnya.

Rupanya tempat itu adalah dapur. Tempat itu pastinya adalah tempat yang paling sibuk bertanggung jawab untuk menghasilkan makanan hangat sepanjang musim dingin yang ganas di After Earth, seorang koki setengah baya tampak sibuk menggulung adonan roti, yang lainnya sedang memotong-motong sesuatu di atas meja, dan ada juga yang sedang mengaduk cairan panas mendidih beraroma harum di atas panci besar.

Semua pemandangan di depannya ini selah menghembuskan kembali kenangan masa lalunya….

Ketika itu Asia sedang berdiri di depan tungku besar, mengaduk-aduk sup jagung kental beraroma harum di dalam panci besar yang hampir mendidih, dia sedang menyiapkan makanan untuk empat puluh anak yatim piatu berbagai usia yang di tampung di panti asuhan ini. Anak-anak lain yang sudah beranjak remaja membantunya di dapur, mengiris roti dan meletakkannya di keranjang, menyiapkan meja dan mengatur piring gelas di tempatnya.

Waktu makan malam sudah hampir tiba, Asia melirik ke arah jam dinding besar di atas jendela dapur. Diusapnya keringat yang menetes di dahinya. Tinggal mendidihkan sup, lalu semua siap sudah.

Miss Asia…. ada tamu untukmu!”

Seorang anak kecil berambut ikal dengan senyuman yang lebar menawan dan pipi kemerahan menarik-narik ujung roknya dengan bersemangat, “Lihat! Dia datang lagi dan membawakan manisan untuk kita semua!”

Asia mengerutkan keningnya. Siapa? Siapa yang datang lagi?

Lalu pintu terbuka, Asia menolehkan kepalanya dan tatapannya terpaku ke bawah, ke arah sepatu boot hitam mengkilap khas tentara militer.

Asia mendongakkan kepalanya, Siapa….?

“Nyonya Asia? Kenapa anda berada di dapur?”

Asia mengerjapkan matanya,semua kenangan masa lalunya buyar begitu saja karena sapaan yang mengejutkannya. Dia mencoba mengendalikan diri dan menatap sosok Martha di depannya, yang sedang menatapnya bingung.

Asia berdehem, mencoba menormalkan suaranya,

“Oh… maaf, aku hanya mengikuti aroma harum roti yang memenuhi udara.” Gumamnya malu-malu.

Tatapan Martha tampak melembut mendengar alasan Asia,

“Kami akan menghidangkan roti ini di ruang makan untuk makan siang. Mari, saya akan mengantarkan anda ke ruang makan, seorang Nyonya besar tidak pantas berada di dapur.” Martha menghela Asia untuk membalikkan badan dan melalui lorong panjang kembali ke ruang makan.

Bagaikan kerbau dicocok hidungnya, Asia bergerak mengikuti langkah-langkah lebar Martha menyapu ruangan, sementara benaknya masih dipenuhi kelebatan ingatan yang menyapa tak tuntas di benaknya.

Siapa lelaki bersepatu boot militer yang datang menemuinya di dalam kilasan ingatannya tadi?

Asia mengerjapkan matanya, berusaha mengingat lagi, tetapi seakan dirinya membentur tembok pembatas yang kokoh, menciptakan pening yang menjalar di sisi sebelah kepalanya.

Langkah mereka menghantarkan ke ruang makan yang juga menebarkan aroma masakan nan harum, pintu ruang makan itu terbuka, beberapa pelayan perempuan tampak menata meja dan menyiapkan berbagai hidangan, suatu hal yang bisa dianggap tidak perlu sebenarnya, karena biasanya Asia hanya makan siang sendirian di sini, dan dia hanya makan sedikit.

“Entah bagaimana perasaan nyonya Asia kalau tahu bahwa nona Athena sudah kembali ke Marakesh City.”

Kata-kata yang diucapkan oleh seorang pelayan kepada yang lainnya di ruang makan itu membuat Asia tertegun dan menghentikan langkahnya yang hendak memasuki ruangan.

“Tapi sepertinya mereka berdua tidak pernah bertemu bukan?” Timpal yang lain, “Gosipnya, Jenderal Akira sudah mencampakkan dan membuang jauh-jauh nona Athena sebelum membawa nyonya Asia ke rumah ini…. tetapi aku tidak tahu yang sebenarnya sih, karena aku belum ada di sini ketika kejadian itu.”

“Aku juga baru di sini, tidakkah kau merasa aneh? Semua pelayan di rumah ini adalah pelayan baru, kecuali tentu saja madam Maria dan Martha kepala pelayan kita. Aku bertanya-tanya, kemana semua pelayan lama sebelum kita ya?”

“Mereka yang tidak bisa menjaga mulutnya biasanya dihukum mati.” Martha tiba-tiba bergumam dengan tajam dari belakang Asia, membuat kedua pelayan itu terlonjak dengan kaget.

Wajah kedua pelayan itu langsung pucat pasi ketika melihat ada Asia dan Martha yang berdiri di ambang pintu, entah sejak kapan.

“Apakah kalian sudah selesai? Segeralah kebelakang, di sana masih banyak tugas menanti.” Hardik Martha tak sabar karena melihat kedua pelayan itu gemetaran gugup penuh rasa bersalah.

Kedua pelayan muda itu terlonjak, dan kemudian langsung lari terbirit-birit meninggalkan ruangan setelah sebelumnya membungkuk hormat kepada Asia.

“Dasar pelayan muda.” Martha berdecak tidak suka sambil menatap kepergian dua pelayan itu, “Mereka lebih banyak menghabiskan waktu bergosip daripada bekerja.”

Asia tersenyum tipis meskipun ada keingintahuan di wajahnya, “Apakah yang mereka bicarakan tadi? Siapakah nona Athena yang mereka sebut-sebut itu?”

Martha berdehem, tampak tidak nyaman dengan pertanyaan itu, tetapi dia menjawab juga,

“Nona Athena… eh … beliau adalah puteri dari salah satu Jenderal tinggi, sahabat dan orang kepercayaan dari ayahanda Jenderal Akira… beliau dulunya adalah tunangan yang mulia Jenderal Akira.”

“Tunangan?” Asia meletakkan jemarinya di bibirnya, merasa terkejut, “Tetapi… Jenderal Akira menikah denganku…” tiba-tiba saja Asia merasa tak enak hati, “Aku… kau tahu aku masih belum bisa mengingat. …. Apakah… benarkah yang dikatakan pelayan tadi, bahwa jenderal Akira meninggalkan tunangannya karena aku?”

Martha tampak gelagapan,

“Saya… saya tidak tahu nyonya.” Perempuan setengah baya itu tiba-tiba menarikkan kursi untuk Asia, “Mari, silahkan disantap hidangannya Nyonya, selagi masih hangat.” Serunya mengalihkan perhatian.

Asia mengerutkan keningnya, tetapi mau tidak mau dia duduk di kursi itu dan membiarkan Martha melayaninya. Benaknya masih bertanya-tanya, tapi dia sadar tidak mungkin memaksa Martha memberikan informasi kepadanya.

***

Athena…

Nama itu tidak terasa asing, tetapi sosoknya terasa asing.

Mungkin benar kata pelayan tadi, mereka berdua pastilah belum pernah bertemu sebelumnya.

Pelayan tadi bilang bahwa sang Jenderal mencampakkan Athena sebelum membawa Asia ke rumah ini… dan sekarang Athena telah kembali.

Apakah Athena menemui suaminya? Dan apakah jika dia bertanya mengenai hal itu kepada Akira, suaminya itu tidak akan marah?

Asia merasa pening, dipejamkannya matanya, dan seperti sebelumnya, ingatan masa lalunya menyapa tiba-tiba tanpa diundang.

Mereka sedang duduk di ruangan besar yang diperuntukkan untuk ruang aktivitas di dalam panti asuhan itu. Asia duduk sambil melipat kaki di karpet bersama beberapa anak panti asuhan lainnya, menonton televisi. Anak-anak yang lain tampak melakukan berbagai kegiatan yang disukainya, beberapa tampak tenggelam dalam bacaannya, yang lain sedang asyik menggambar di sudut ruangan.

Pukul tujuh sampai delapan malam adalah jam bebas bagi anak-anak panti untuk bersantai dan melakukan aktivitas kesukaan. Mereka semua sudah mengerjakan pekerjaan sekolah dan bersantap malam sebelumnya, nanti tepat pukul delapan, mereka akan menerima segelas susu hangat dan sekeping biskuit jagung sebelum kemudian masing-masing dari mereka harus masuk kamar dan tidur.

Acara televisi yang sedang mereka tonton menayangkan tentang sosok perempuan bangsawan yang akan menjadi pasangan dari penerus pemimpin mereka. Perempuan itu bernama Athena, dan ada info dari orang dalam bahwa Jenderal Akira, yang merupakan putera satu-satunya dari Jenderal Besar, sudah mengajukan lamaran pernikahan kepada puteri sahabat ayahnya itu.

Tampilan di televisi memunculkan sosok seorang perempuan yang sangat rupawan, sementara sosok Jenderal Akira sendiri masih begitu misterius, dikatakan bahwa Jenderal yang akan meneruskan tampuk pimpinan dari ayahnya itu tidak suka jika sosoknya dipublikasikan.

“Dia cantik sekali.” Gumam salah seorang anak panti dengan mata membelalak, “dan dia adalah perempuan pertama yang masuk akademi militer serta berhasil membuktikan bahwa perempuan juga bisa mendapatkan nilai terbaik….. nona Athena memang perempuan yang tepat untuk menjadi ibu negara kita nantinya.”

“Ya, nona Athena memang sangat cantik.”

Bahkan Asia, sebagai seorang perempuan terpesona dengan kecantikan Athena yang terpampang jelas dalam tampilan di televisi.

“Dan aku dengar Jenderal Akira sangat rupawan, meskipun sampai sekarang wajahnya masih misterius.” Sambung yang lain bersemangat, “Bayangkan jika mereka menikah nanti, anak-anak mereka pasti akan memiliki penampilan yang sangat rupawan!”

***

Sebuah jemari hangat menyentuh permukaan pipinya, membuat Asia tersentak dari tidur-tidur ayamnya, yang membawa ingatannya ke masa lalu.

Dia mengerjapkan matanya, dan langsung berhadapan dengan mata gelap tanpa ekspresi yang menunduk balas menatapnya.

“Akhir-akhir ini kau suka ketiduran di kursi, apakah itu karena kandunganmu?” Akira menyapa, matanya menyapu sedikit ke perut Asia, lalu kembali menatap tajam ke arah Asia.

Pipi Asia sedikit bersemu merah, malu menyadari bahwa sang Jenderal ternyata mengawasinya. Ya, akhir-akhir ini Asia sering sekali merasa lelah dan mengantuk, bahkan ketika sedang makan pun, dia tidak bisa menahan dirinya untuk menguap beberapa kali, mungkin benar ini semua bawaan kandungannya yang semakin bertambah usia.

“Sudah makan malam?” Tanya Akira kemudian.

Asia mengangguk, seperti biasanya, sang Jenderal jarang sekali sudah tiba di rumah ketika jam makan malam, karena itu Asia lebih sering menghabiskan waktu makan malamnya sendirian, sama seperti waktu makan siangnya.

“Bagus. Kalau begitu kau pasti sudah siap tidur.”

Sang Jenderal rupanya tidak menunggu tanggapan Asia, lelaki itu menyelipkan tangannya di bawah lutut dan punggung Asia, lalu tanpa permisi mengangkat tubuh Asia dengan mudah seolah bobot Asia seringan bulu.

Asia sendiri memekik kaget diangkat tiba-tiba seperti itu dan berusaha menjaga keseimbangannya dengan mencengkeram bagian pundak seragam militer sang Jenderal yang hitam legam.

“Di sini dingin, ayo ke kamar.” Gumam Akira sambil melamgkah tanpa mempedulikan pipi Asia yang memerah karena kedekatan mereka.

“A… aku bisa berjalan sendiri.” Asia bergumam cepat merasa jengah akan kedekatan mereka yang tiba-tiba,

Penolakannya mendapatkan tanggapan tatapan tajam yang menusuk, lelaki itu menundukkan kepalanya hingga kepala mereka berdekatan,

“Aku tahu kau bisa berjalan sendiri, tapi aku sedang ingin menggendongmu.” Jawab Akira dengan bibir menipis, tak terbantahkan.

***

Lelaki itu menurunkan Asia dan mendudukkannya di tepi ranjang mereka yang besar, lalu menegakkan tubuhnya berdiri menjulang di depan Asia.

“Dokter Frederick sudah datang untuk memeriksamu hari ini?” Matanya menyapu sekilas ke arah leher Asia, perban di sana sudah di lepas, lukanya memang panjang, tetapi tidak terlalu dalam, menyisakan satu garis panjang berwarna merah di sana.

Reflek Asia mengulurkan jarinya menyentuh lehernya, “Sudah.” Jawabnya pelan, mengingat-ingat pertemuannya dengan sang dokter sore tadi ketika dokter Frederick melepaskan perbannya, dan memeriksa kandungannya. Asia juga bercerita tentang ingatannya yang beberapa kali datang sekelebatan, tetapi dokter Frederick tidak menanggapi dengan serius, lelaki itu malah mengatakan agar Asia jangan memaksakan diri untuk mengingat…. dan entah kenapa, di mata Asia, sang dokter kelihatan…. gugup?

“Kenapa?”

Pertanyaan tajam itu membangunkan Asia dari lamunannya, dia mendongakkan kepala, menatap Akira yang bersedekap, balas menatapnya.

“Apa?”

“Ini.” Jemari Akira terulur menyapu kerutan yang tanpa sadar muncul di dahi Asia, “Kau tampak banyak pikiran, apa yang ada di benakmu?”

Asia menghela napas, sedikit menggelenyar merasakan panasnya ujung jari sang Jenderal yang menyentuh dahinya, padahal hanya sentuhan kecil, tetapi bahkan ketika Akira sudah menarik tangannya, getaran itu sangat terasa bagaikan arus listrik yang menjalari tulang punggungnya dan naik pelan-pelan ke kuduknya.

“Tidak…. aku hanya..,, beberapa kilasan ingatanku berkelebat hari ini, prosesnya tidak terasa hanya datang begitu saja.”

Tatapan Akira menajam, suaranya berubah dingin, “Ingatan yang mana?”

Selalu begitu, Asia membatin. Setiap mereka membicarakan ingatannya, Akira langsung berubah sedingin es, seperti memusuhinya. Tetapi kenapa?

“Ingatanku tentang panti asuhan.” Asia menelan ludah, tetapi memutuskan untuk melanjutkan, “Aku sedang memasak, lalu ada seorang bersepatu militer mengunjungiku… anak-anak panti sangat senang dengan kedatangannya karena dia membawa manisan untuk mereka, tetapi aku tidak tahu dia siapa, aku tidak bisa melihat jelas wajahnya karena ingatan itu terputus begitu saja sebelum aku sempat melihat wajahnya….. dan….” Asia mendongak, menatap Akira dengan tatapan mata bertanya-tanya.

Apakah orang bersepatu militer yang mengunjunginya itu adalah Akira? Sepertinya itu sepatu yang sama dari sosok yang menolongnya saat kebakaran berlangsung. Tetapi siapa yang tahu? Sepatu miiter dimanapun sama bukan?

Akira sendiri bergeming di sana, tidak memberikan reaksi atas tatapan penuh pertanyaan yang dilemparkan Asia kepadanya, bibirnya kelihatan tidak bergerak ketika lelaki itu menggumam,

“Dan apa?”

Asia mengerutkan keningnya bingung mendengar gumaman Akira itu, “Apa maksudmu?”

“Kau tadi menggantung kalimatmu dengan kata ‘dan…’ , aku berasumsi bahwa ceritamu belum selesai. Lanjutkan, apalagi yang kau ingat?” Lelaki itu berkata seperti menginterograsi, dengan nada mengintimidasi.

“Oh….” kalimat Asia terasa kaku, mengganjal di tenggorokannya, haruskah dia bicara tentang ingatan berikutnya yang muncul? Tentang Athena?

Asia berdehem, “Aku masih di panti asuhan, menonton televisi…lalu…lalu acara televisi itu adalah… berita pertunanganmu dengan nona Athena.”

Akhirnya kalimat itu keluar juga, menciptakan suasana hening yang membentang antara dia dan sang Jendral.

Ekspresi wajah Akira sama sekali tidak berubah ketika menatap Asia dalam-dalam,

“Sudah kuduga kau akan memikirkan sesuatu tentang Athena, mengingat insiden di ruang makan hari ini.”

Asia terperangah, “Kau tahu tentang insiden di ruang makam hari ini?”

“Tentu saja. Martha selalu melaporkan apapun kepadaku.” Mata lelaki itu menyipit kejam, “Dan sudah tentu kedua pelayan bodoh itu sudah tidak ada di rumah ini, aku tidak ingin ada manusia yang tidak bisa menjaga mulutnya ada di sekitarku, mereka sudah kusingkirkan.

Kata-kata Akira membuat Asia begidik, dia teringat akan kalimat Martha tadi, bahwa orang yang tidak bisa menjaga mulutnya biasanya akan dihukum mati. Sekejam itukah Akira hingga kesalahan sekecil itu diberikan konsekuensi yang begitu berat?

Akira sendiri tampak tidak mempedulikan ketakutan Asia, jemarinya terulur dan menyentuh pundak Asia, reaksi Asia yang terkesiap membuat Akira menipiskan bibirnya tidak suka.

“Tentang Athena, apapun yang kau dengar tentangnya, adalah masa lalu. Aku sudah memilihmu dan anak kita untuk menjadi masa depanku. Jadi tidak ada yang perlu kau cemaskan tentangnya.”

“Aku tidak mencemaskan apapun kok.” Asia menyanggah dengan pipi bersemu merah, jangan sampai sang Jenderal menganggap dia merasa cemburu dan tidak aman, itu akan sangat memalukan baginya.

Meskipun kenyataan bahwa Athena begitu cantik bagaikan bidadari serta perempuan itu sekarang bertugas di tempat yamg sama dengan suaminya terasa mengganjal di hatinya…. tetapi dia tidak akan membiarkan Akira mengetahuinya, demi harga dirinya.

Akira mengamati Asia lambat-lambat, lelaki itu lalu hendak membalikkan badan seolah tidak peduli.

“Ok kalau begitu, aku akan pergi mandi.” Gumamnya dingin.

“Akira…”

Entah kenapa Asia melakukan tindakan impulsif itu. Mungkim dipicu rasa tidak aman tentang percakapan mereka perihal Athena, atau mungkin juga isyarat tubuh Akira yang membalikkan badan seolah akan meninggalkannya, membangunkan ketakutan di dalam jiwa Asia. Asia tidak mau ditinggalkan sendirian!

Asia setengah melemparkan tubuhnya, menubruk tubuh Akira yang hendak berbalik, lengannya melingkar di leher Akira, sementara kakinya harus berjinjit tinggi mengingat betapa jangkungnya Akira, membuatnya sedikit terhuyung. Dirasakannya tatapan terkejut Akira dan lengan suaminya yang menegang menopangnya supaya tidak jatuh.

Tubuh mereka begitu dekat, hampir berdekapan. Dada dengan dada, lengan dengan lengan, Asia bahkan bisa merasakan detak jantung Akira di dadanya.

Dan kemudian, dengan keberanian yang mungkin akan disesalinya nanti, Asia mencari bibir Akira lalu menciumnya.

 

201 Komentar

Tinggalkan Balasan