the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 14 : Darah dan Cinta

Bookmark

No account yet? Register

1.691 votes, average: 1,00 out of 1 (1.691 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

“Kau sudah merencanakan ini semua ya?”

Cesar membalikkan badan, menatap penuh kebencian kepada sosok di depannya. Sosok yang dulu pernah menjadi panutannya. Tetapi juga sosok keji yang telah menghancurkan kehidupannya beserta orang-orang yang dia cintai.

Akhirnya setelah sekian lama, dia berhadapan lagi dengan Jenderal Akira, manusia paling kejam, manusia paling rendah dan paling dibencinya di dunia ini.

Jenderal Akira menyandarkan tubuhnya dengan santai di kursi rumah sakit tempat dia duduk sejak tadi dan menunggu Cesar datang. Lampu kamar yang terang menunjukkan posisinya yang santai, duduk sambil melipat tangan dan menyilangkan kaki, dengan seragam hitam-hitam khas tentara elite.

“Aku sudah tahu kalau kau bodoh.” Sapa Akira sinis, “Tetapi aku tidak menyangka kau sebodoh ini, kau pikir kau bisa semudah itu memasuki rumah sakit ini kalau bukan karena aku membiarkanmu masuk?” sambungnya dingin, matanya menelusuri Cesar dengan tatapan merendahkan, “Sudah kuduga, Asia menjadi kelemahanmu, bahkan seluruh keahlian dan pengetahuan yang pernah kuajarkan kepadamu jadi tak ada gunanya kalau sudah menyangkut Asia.”

Cesar menggertakkan bibirnya mendengar nama Asia disebut, dia marah pada dirinya sendiri, perasaannya bergolak, belum lagi hantaman kekecewaan yang menyeruak tiba-tiba ketika melihat boneka palsu yang tergolek di ranjang, menyadari bahwa itu bukanlah Asia.

Ya, memang dia terlalu impulsif dan bodoh, seharusnya dia menyadari sejak awal bahwa Jenderal Akira begitu licik dan menggunakan Asia untuk memancingnya. Tapi mau bagaimana lagi? Semuanya sudah terjadi, dan sekarang di sini, dia harus menanggung konsekuensinya.

“Jadi sekarang apa yang akan kau lakukan? Kau sudah mendapatkanku. Apakah kau akan membunuhku dengan keahlian pisaumu yang termasyur itu?” Cesar mengetatkan gerahamnya membalas tatapan Akira dengan lantang.

Mata Akira menajam, “Jangan menantangku Cesar. Kau tahu aku akan dengan senang hati memberikan siksaan lambat dan mengerikan sebelum menghantarkanmu pada kematian. Itulah yang memang sudah kurencanakan …” Akira menghentikan kalimatnya, “Setidaknya sampai belum lama ini.” Ekspresi sang Jenderal nampak tidak suka.

Cesar mengerutkan keningnya, Sampai belum lama ini? Apa maksud Jenderal brengsek ini?

“Kurasa aku harus menahan diriku untuk tidak membunuhmu, aku masih membutuhkanmu.” Suara Akira terdengar misterius, “Tidak, bukan aku… Asia masih membutuhkanmu.”

“Asia membutuhkanku?” Kebingungan menguar dari diri Cesar. Kenapa Asia membutuhkannya? Bukankah jelas-jelas perempuan itu sudah berpaling darinya, mengkhianatinya dan memutar arah untuk berada di pihak Akira?

Tiba-tiba, walau masih dipenuhi kemarahan, secercah harapan muncul di benak Cesar, Mungkinkah Akira akan membiarkannya bertemu Asia? Setidaknya sebelum dia mati, sebelum Akira membunuhnya, Cesar ingin melihat Asia sekali lagi.

“Aku tidak akan membiarkanmu bertemu Asia kalau itu yang kau pikirkan.” Akira dengan tepat membaca apa yang ada di benak Cesar, “Dia sudah melupakanmu.”

Kata-kata Akira memang disengaja, untuk menghancurkan perasaan Cesar. Lagipula, Akira tidak berbohong bukan? Asia memang melupakan Cesar.

Bibir Cesar menipis, gerahamnya mengetat. Tahu pasti bahwa Jenderal brengsek di depannya ini sedang memainkan psikologisnya. Dia memang bodoh sudah terjebak di sini, tetapi dia tidak akan memperparah kebodohannya untuk jatuh di perangkap yang lebih dalam. Tidak akan dibuatnya Akira puas karena melihat kehancuran hatinya ketika mendengar bahwa Asia sudah melupakannya.

Cesar memasang ekspresi kaku tak terbaca, “Bagiku Asia sudah tidak penting lagi.” Desisnya, berusaha menumbuhkan kebencian di dalam dirinya supaya kata-katanya terdengar meyakinkan.

Akira mengangkat alisnya, tersenyum mengejek. “Oh benarkah? Sayang sekali, bagiku Asia adalah aset yang sangat penting. Kau tahu dia akan mengandung anakku lagi nanti.”

“Ah Ya, dia baru keguguran.” Cesar langsung teringat informasi yang diberikan Keiro kepadanya, “Aku dengar mantan pacarmu, Athena yang cantik itu telah bertindak cerdas dengan meracuni Asia dan membuatnya keguguran.” Cesar menyela, memandang sinis, “Pasti kau tak menyangka bahwa Athena akan sebenci itu padamu. Tapi yah, kalau perempuan-perempuan itu melihat siapa dirimu yang asli, mereka pasti akan membencimu.”

“Asia mencintaiku.” Geram Akira dingin, “Pikirmu kenapa dia bisa mengandung anakku?”

“Kau memperkosanya!” Cesar berseru geram.

“Pada awalnya aku harus memaksa.” Akira tersenyum, menyadari bahwa dirinya telah berhasil mengusik emosi Cesar, “Setelah itu Asia yang meminta untuk kusentuh, berkali-kali, setiap saat, dan dia sangat menikmatinya.”

“Brengsek!” Cesar berseru, kali ini tidak bisa menahan diri lagi, lelaki itu merangsek maju, hendak menyerang Akira, tetapi kemudian dia tertegun ketika menyadari bahwa kakinya kaku dan tubuhnya terasa berat, tidak bisa digerakkan. Mata Cesar membelalak kaget,

“Apa yang kau lakukan pada diriku?”

Jenderal Akira tersenyum kejam, “Kau pikir aku akan membiarkanmu bergerak leluasa ketika kau memasuki teritoriku?” Dengan sengaja lelaki itu menarik napas dalam, lalu menghembuskannya mengejek, “Udara di dalam kamar ini penuh dengan gas beracun, tak berbau dan tak terdeteksi, Aku tidak terimbas tentu saja, karena aku sudah memakai penawar.” Akira mengangkat bahunya, “Gas itu akan membuat tubuhmu seolah membeku dan tidak bisa bergerak.”

Cesar mencibir, “Aku tidak menyangka kau sebegitu takutnya padaku hingga menggunakan cara pengecut untuk menahanku,” dia lalu menggeram marah, “Kenapa tidak kita lakukan cara laki-laki yang jantan? Kau dan aku, bertarung satu lawan satu.”

“Kau pikir kau bisa menang?” Akira mendesis, suaranya tampak mengerikan. “Kuharap kau tidak pernah lupa, semua teknik bertarungmu, berasal dariku. Semua ilmu yang kau miliki, aku yang mengajarimu. Jadi jangan terlalu sombong karena aku memakai gas beracun ini bukan untuk mencegahmu menyerangku.” Ekspresi membunuh di wajah Akira benar-benar menakutkan, “Gas ini digunakan supaya aku bisa menahan diri untuk tidak membunuhmu sekarang juga.”

“Dan kenapa kau begitu bersikeras untuk tidak membunuhku?” Cesar berteriak frustrasi karena tidak bisa menggerakkan tubuhnya.

Akira bergeming, “Sudah kubilang Asia membutuhkanmu.” Lelaki itu tampak enggan menjelaskan, tetapi kata-kata itu keluar juga dari mulutnya, “Setelah keguguran, kondisi Asia tidak baik. Dokter bilang dia bisa mengalami pendarahan hebat dan kehilangan nyawa kalau mencoba hamil lagi.”

Cesar ternganga, sejenak hatinya terasa berdenyut sesak, memikirkan kondisi Asia. Tetapi kemudian ingatan tentang pengkhianatan yang dilakukan oleh Asia terhadap dirinya menumpulkan nuraninya, dia berakhir dengan tertawa terbahak-bahak, menertawakan ironi yang menimpa Jenderal brengsek di depannya itu.

“Jadi setelah semua yang kau lakukan, pada akhirnya kau tidak akan bisa mendapatkan apa-apa dari Asia?” serunya dalam tawa.

Akira menatap Cesar tanpa ekspresi, “Aku tidak bilang Asia tidak bisa melahirkan anakku. Asia tentu saja bisa hamil lagi dan melahirkan keturunanku, tetapi ada resiko dia mengalami pendarahan hebat dan keguguran sebelum anaknya lahir, dan jika dia beruntung bisa melahirkan anaknya, kemungkinan besar dia akan mati setelah melahirkan.”

Cesar menatap jijik pada Akira, “Meskipun kau mengetahui bahwa hal itu membahayakan nyawanya, kau tetap akan menghamili Asia? Kau adalah mahluk paling rendah yang pernah hidup di bumi ini!”

Akira menyipitkan matanya, tidak peduli dengan tatapan merendahkan yang dilempar Cesar kepadanya.

“Dokter bilang Asia akan mati karena pendarahan. Kau tahu kenapa dokter itu bilang begitu? Karena dia menganggap darah Asia, secara genetik adalah tiada duanya. Jika kehamilannya memicu pendarahan, dia akan mati kehabisan darah karena dia tidak bisa menerima transfusi darah selain dari orang yang memiliki darah dengan ciri genetik yang sama. Dokter itu menganggap tidak ada orang lain di After Earth ini yang memiliki darah yang sama, karena itu dia berasumsi Asia akan meninggal. Tapi tentu saja dokter itu salah kan Cesar?”

Akira terkekeh melihat ekspresi kaget Cesar ketika mendengar kata-katanya, “Itulah fungsi dirimu, Cesar, sebagai saudara kembarnya, kau memiliki darah yang sama, genetik yang sama. Aku akan menahanmu, membuatmu koma, lalu menyedot darahmu sedikit demi sedikit sampai kami memiliki persediaan darah yang cukup untuk Asia. Setelah itu aku akan membangunkanmu dari koma, dan kau bisa menikmati permainan pisauku untuk mengantarkanmu ke alam baka.”

Cesar terpaku, shock mendengar kata-kata Akira. Dan dia masih membeku di sana ketika pintu di belakang Akira terbuka, seorang dokter dan beberapa perawat laki-laki masuk, mendekati Cesar yang tak berdaya dan tak bisa bergerak. Lalu dokter itu menyuntikkan sesuatu ke tubuhnya, membuat pandangannya gelap seketika dan tak ingat apa-apa lagi.

Asia….

Hanya nama itu yang sempat diserukan Cesar sebelum kehilangan kesadarannya. Asia ….. adik kembar kesayangannya.

***

Akira menutup pintu di belakangnya, berjalan dengan ekspresi dingin melalui lorong rumah sakit yang steril dan remang-remang. Matanya menatap ke luar, ke arah jendela, ke arah gugusan salju putih yang berlomba-lomba menerjunkan diri untuk memutihkan apa saja yang dihinggapinya.

Langkah Akira terhenti, dia terpaku di depan jendela, menatap ke bawah. Ke arah bendera-bendera After Earth yang berkibar di berbagai sudut kota.

Semua ini dilakukannya demi negaranya. Ayahnya selalu berkata bahwa After Earth, harus diagungkan lebih dari apapun.

Ingatannya melayang kepada percakapan kemarin, ketika dia menemui dokter Frederick untuk membicarakan perkembangan kesehatan Asia.

“Dalam tiga puluh hari, saya memastikan anda bisa membuahi kembali nyonya Asia.” Dokter Frederick bergumam takut-takut, menyadari betapa gelapnya ekspresi Jenderal Akira setiap mereka membicarakan kemungkinan Asia hamil lagi.

“Kau bilang dia akan mati karena pendarahan jika dia hamil lagi?” Jenderal Akira menatap tajam, duduk di sana dibawah bayangan yang remang-remang, membuatnya tampak seperti iblis kejam yang menantikan korban.

Dokter Frederick menelan ludahnya, mencoba tenang sambil mengabaikan bulu kuduknya yang berdiri karena ketakutan, “Saya sudah menjelaskan sebelumnya. Racun yang diminum nyonya Asia begitu kuat hingga melemahkan rahimnya. Nyonya Asia tentu saja bisa hamil lagi, tetapi karena rahimnya lemah, kehamilan itu riskan dengan keguguran dan pendarahan hebat. Masa-masa kehamilan mudanya mungkin bisa kita jaga dengan memaksa Nyonya Asia berbaring di atas tempat tidur, dengan pemantauan ketat dari team medis, tetapi titik paling riskan adalah ketika kandungannya sudah siap, ketika itu kontraksi akan mulai menyerang, dan pada masa-masa itu, Nyonya Asia akan mengalami pendarahan hebat yang tidak bisa kita tahan, Operasi Caesar bisa membantu bayi anda tetap hidup, tetapi tidak akan bisa menyelamatkan nyawa Nyonya Asia.”

“Karena dia mengalami pendarahan?” Akira mengangkat kepalanya, berusaha mencerna informasi itu.

Dokter Frederick berdehem, “Sebenarnya…. sebenarnya hal ini bisa dicegah, kalau saja darah nyonya Asia bukan merupakan darah langka.”

Akira menajamkan tatapannya, “Apa maksudmu?”

“Sebenarnya permasalahannya bukan pada pendarahannya. Kalau hal ini terjadi pada orang biasa, saya bisa mengusahakan transfusi darah dari donor yang terpilih untuk meningkatkan kemungkinan hidupnya. Tetapi anda tentu sudah tahu, sama seperti anda yang memiliki keistimewaan genetik akibat perang nuklir, Nyonya Asia juga merupakan salah satu mahluk langka hasil mutasi genetik yang mengubah sistem kekebalan, reproduksi dan darahnya. Jika anda yang terluka dan membutuhkan darah, anda akan selamat karena kami memiliki cukup persediaan untuk anda, hal ini berkat antisipasi dari ayahanda anda, beliau mengambil darahnya secara berkala semasa hidupnya untuk kami simpan sebagai persediaan bagi anda, pun dengan anda sendiri yang juga kami ambil darahnya secara berkala untuk cadangan jikalau dibutuhkan.”

Dokter Frederick menarik napas panjang sebelum melanjutkan, “Setiap mahluk yang memiliki keistimewaan genetik, hanya bisa menerima transfusi darah dari keluarga kandungnya, Seandainya saja kondisi nyonya Asia sehat, saya bisa mengatur pengambilan darah secara berkala untuknya, tetapi kondisi kesehatan Nyonya Asia sekarang tidak memungkinkan untuk diambil darahnya. karena itu saya mengganggap bahwa darah Nyonya Asia tiada duanya di dunia ini, tidak ada donor yang representatif untuk bisa mensubsitusinya. Saya membaca berkas bahwa nyonya Asia dibesarkan di panti asuhan, kemungkinan besar kedua orang tuanya sudah meninggal dan ….

“Oh, Kau salah dokter.” Akira, yang telah berhasil mengambil kesimpulan langsung menyela, tidak bisa menyembunyikan seringai puasnya, “Asia punya saudara kandung …. Ah tidak, … lebih bagus lagi, dia punya saudara kembar yang bisa memberikan darahnya.”

***

“Berhenti di sini saja, aku akan berjalan ke sana.”

Jenderal Akira memberi perintah dengan tegas, dan mobil militer yang mengantarkannya itu berhenti seketika di depan gerbang, kali ini di rumahnya yang lain, yang terletak di tepi hutan pinus daerah pinggiran After Earth.

Kalau musim penghujan atau panas, pemandangan di sekeliling rumah ini akan sangat indah, seluruh latar rumah akan dibungkus oleh latar hijau dan kabut putih yang damai, sayangnya sekarang masih penghujung musim dingin, sehingga kehijauan daun pepohonan pinus masih tersembunyi di balik pekatnya salju putih.

Biasanya Akira hanya menggunakan rumah peristirahatannya ini di musim hujan ataupun panas, mengingat kenikmatan pemandangannya yang mendamaikan hati. Baru kali ini rumah ini dipakai di musim dingin. Meskipun begitu, seluruh pegawainya sudah mempersiapkan rumah ini untuk ditinggali, penghangat ruangan dinyalakan maksimal, kayu-kayu bakar sudah disiapkan di perapian, bahan makanan sudah dipenuhi, beserta koki andal dan para pengurus rumah tangga yang sudah berdatangan mengisi kamar-kamar di bagian belakang rumah.

Rumah ini sangat tepat untuk Asia. Jika dia hamil lagi nanti, dia bisa menjalani kehamilan yang tenang, damai dan aman, jauh dari kericuhan dunia luar.

Akira turun dari mobil dan mengamati sekeliling. Benar, rumah ini sangat aman, tersembunyi, dan yang paling penting memiliki lorong rahasia yang menghubungkan langsung ke rumah sakit, untuk berjaga-jaga dalam keadaan genting.

Meskipun tampak terpencil dan damai di tepi hutan, tetapi penampilan rumah peristirahatan ini hanya tipuan. Suasana damai, dan hutan di sekeliling yang indah hanyalah kamuflase. Di luar garis batas hutan ini, adalah markas tentara elite raksasa mengelilingi seluruh rumah peristiarahatan, yang dipagari oleh benteng tinggi dan penjagaan ketat. Jika dilihat dari atas, rumah peristirahatan dan hutan ini hanyalah titik kecil yang berada di tengah-tengah markas tentara paling besar di After Earth.

Bagi orang luar, untuk mencapai rumah yang terletak di tengah penjagaan paling ketat itu amatlah sulit, dan begitu juga sebaliknya, bagi yang tinggal di dalamnya, akan kesusahan juga untuk melarikan diri.

Setelah memberikan beberapa instruksi kepada Paris yang ikut berada di mobil bersamanya, Akira memberi isyarat supaya mereka semua pergi. Setelah itu dia melangkah, membuka gerbang rumah dan memasuki pelataran yang dilapisi oleh batu alam yang disusun acak membentuk mozaik indah berbagai bentuk.

Pintu rumah langsung terbuka untuknya dan kepala pelayan menyambutnya di depan pintu. Akira hanya menganggukkan kepalanya sedikit, lalu langsung melangkah menuju lantai dua, menuju kamarnya.

Dengan hati-hati Akira membuka pintu kamar besarnya, dan menemukan pemandangan yang sudah diduganya, Asia yang sedang tertidur.

Dokter Frederick memang bilang obat-obatan Asia akan membuatnya banyak tidur. Hal itu bagus karena memang kondisi Asia mengharuskannya banyak tidur untuk memulihkan kesehatannya.

Kamar itu redup, dengan nuansa kayu gelap kesukaan Akira, penataan kamarnya lebih sederhana daripada kamar mereka di mansionnya di kota, hanya berisi ranjang besar berkepala kayu nan kokoh dan berselimut putih dan sedikit perabotan lain.

Lantai kamar ini juga dari kayu menciptakan nuansa bagaikan pondok pemburu yang nyaman, di sudut ruangan ada sofa berbahan woll yang lembut dan empuk, menghadap perapian kecil yang menyala dan menguarkan kehangatan di tengah musim salju yang membekukan.

Mata gelap Akira mengamati Asia yang tampak pulas, tubuh mungilnya meringkuk di sisi ranjang sebelah kanan – bukan di tengah – seolah Asia sudah terbiasa untuk memberi tempat di sisi lain ranjang bagi Akira. Selimut yang dipakainya tampak merosot ke paha, menampilkan gaun tidur berwarna putih polos yang sedikit tersingkap.

Akira melangkah pelan, dan berdiri tanpa suara di ujung ranjang, lalu menarik selimut Asia ke atas sampai menutup pundaknya, setelah itu dia merendahkan badan dengan bertumpu pada salah satu lutut tepat di samping ranjang, di dekat kepala Asia yang tertidur pulas.

Akira mengamati Asia, mengamati tidurnya yang damai, napasnya yang teratur dihiasi sedikit senyum tipis yang tersungging di bibir mungilnya yang merona.

Dia yakin kali ini Asia sedang bermimpi indah.

Tanpa bisa ditahan, jemarinya terulur dan meraih helaian rambut Asia yang terjuntai menutupi pipinya, menyelipkan kembali rambut itu ke belakang telinga Asia.

Mata Akira mengamati Asia lagi, tampak puas dengan pemandangan di depannya,

“Isteriku.” Gumamnya kemudian.

***

Ketika Asia terbangun, dia mendapati Jenderal Akira sedang berbaring miring menatapnya, sebelah lengannya menopang kepalanya di atas bantal. Tampak begitu santai dan juga misterius,

Lelaki itu mengenakan t-shirt rajutan hangat lengan panjang berwarna hitam dengan celana piyama santai berwarna senada. Rambut cokelatnya yang tebal tidak disisir rapi ke belakang seperti biasanya, malahan sekarang tampak acak-acakan dan sedikit terjuntai di dahi.

Entah kenapa penampilan suaminya sekarang membuatnya terasa lebih mudah didekati, seolah tembok pembatas kokoh yang selalu terpasang di sekelilingnya itu mengendur dan mengizinkan Asia untuk mengintip sedikit ke dalamnya,

“Tidurmu pulas sekali.” Akira menyapa lembut meski tatapan matanya terasa tajam, membuat pipi Asia memerah.

Asia mencoba mengalihkan pandangannya ke sekeliling, mendapati bahwa lampu di kamar dimatikan, cahaya yang muncul berasal dari perapian kecil yang menyala dengan suara gemeretak kayu terbakar di sudut ruangan, menciptakan suasana remang remang nan intim.

“Sudah malam sekali ya?” bisiknya malu, salah satu jemarinya menangkup pipinya yang terasa panas, “Aku tidur lama sekali dari sore.”

Ada sedikit kelembutan di sudut bibir Akira, meski tidak bisa dikatakan sebagai senyum, “Di luar masih gelap, sebentar lagi pagi, Tidurlah lagi”

Asia menguap, dia memang masih merasa mengantuk. Entah kenapa tadi dia terbangun dari tidur lelapnya, mungkin karena sang Jenderal sedang mengamatinya?

Entah sejak kapan Jenderal Akira berbaring di posisi seperti itu, mengamati Asia …..

Asia memiringkan badannya meringkuk ke arah Jenderal Akira dan mencoba memejamkan mata, lama kemudian dia penasaran karena tak ada suara ataupun gerakan apapun dari sang Jenderal, hingga dia mengangkat kepalanya malu-malu ke arah Akira, yang ternyata masih membuka mata mengamatinya,

“Kau… eh tidak tidur?”

Akira menggelengkan kepalanya sedikit, “Sebentar lagi. Aku sedang berpikir.” Jawabnya datar.

Asia mengerutkan keningnya, Apa yang dipikirkan Jenderal Akira hingga tetap membuka mata nyalang ketika pagi sudah menjelang begini?

“Berpikir apa?” Asia akhirnya memberanikan diri menyuarakan pertanyaannya.

“Berpikir tentang kita.” Akira tiba-tiba mencondongkan tubuhnya, jemarinya terulur dan mengangkat dagu Asia supaya menghadap ke arahnya dan kemudian mengucapkan pertanyaan yang tidak terduga,

“Apakah kau mencintaiku, Asia?’

Asia terperangah, kaget. Bingung ketika tiba-tiba Akira memberikan pertanyaan seperti itu.

Dia harus menjawab apa?

Asia mengerang dalam hati, kebingungan. Apakah dia mencintai Jenderal Akira? Terus terang dia tidak tahu. Bahkan dirinya sendiripun tidak bisa mengartikan apa yang bergolak di dadanya ketika sedang berada berdekatan dengan Jenderal Akira, seperti saat ini.

“Aku tidak tahu. Aku kehilangan ingatanku, bukan?” Asia menjawab jujur, mencoba menatap mata gelap suaminya, berusaha menembus ke dalam jiwanya tetapi tidak bisa. Mata itu terlalu gelap, tidak terbaca.

Alis tebal di atas mata Jenderal Akira sedikit mengerut, “Aku tidak menanyakan tentang perasaanmu sebelum kau hilang ingatan, kalau yang itu aku sudah tahu pasti.” Gumamnya tajam, entah kenapa Asia menemukan nada penuh ironi yang menyelip di sana.

Akira menundukkan kepalanya, memerangkap Asia dengan tatapan mata yang tajam, “Aku mempertanyakan perasaanmu sekarang kepadaku.”

Ditatap setajam itu membuat debaran jantung Asia seolah berkejaran dengan napasnya yang mulai tersengal.

“Aku…. aku tidak tahu. Mungkin aku sedikit… menyukaimu.” Asia mengalihkan matanya, tidak tahan,

Akira mendekatkan wajahnya, napasnya terasa hangat di dekat Asia, beraroma mint dan citrus yang menggoda, “Sedikit menyukaiku?, sesedikit apa? Apakah aku harus puas dengan ‘sedikit’ yang ini?”

Tiba-tiba lengan kokoh sang Jenderal merangkum tubuh Asia mendekat ke dalam lingkupan pelukannya, bibirnya mendekat, mengecup pipi Asia, lalu berpindah ke ujung hidung, ke pipi yang satunya, dan kemudian berlabuh di bibirnya.

Asia refleks memejamkan matanya, menikmati bibir kokoh Akira yang melumat bibirnya, begitu pelan, begitu lembut dan begitu dalam. Keheningan di luar seolah melambungkan perasaannya, meledakkan sesuatu yang tertahan di dadanya, membuat jemarinya bergerak pelan, dan kemudian membalas pelukan sang Jenderal.

Ini adalah kelembutan Jenderal Akira yang paling jelas yang pernah diingat oleh Asia, biasanya lelaki itu sedikit kaku, membuat Asia bertanya-tanya.

Tetapi malam ini, entah terpengaruh suasana sunyi hutan pinus yang mistis, atau nyala perapian nan remang-remang dan aroma kayu yang menghangatkan hati, Sang Jenderal nampak seperti orang yang berbeda.

Ketika ciuman itu selesai, keduanya bertatapan dengan damai, bukan penuh nafsu, hanya damai yang menyenangkan.

“Tidur.” Akira mengecup pucuk hidung Asia, dan kemudian menenggelamkan kepala Asia ke dadanya. Jemari lelaki itu dengan lembut mengusap rambutnya, menghantarkannya ke dalam kantuk nan lelap.

Asia tersenyum di dada sang Jenderal, menghirup aroma maskulinnya yang menyenangkan.

“Kurasa aku mencintaimu.” Gumam Asia kemudian, lalu memejamkan matanya dan hendak tertidur dengan bahagia.

Dia tidak menyadari bahwa tangan Sang Jenderal yang sedang mengelus rambutnya langsung membeku begitu mendengar kata-katanya.

Lelaki itu tiba-tiba mendongakkan kepala Asia lagi, seolah-olah hendak membatalkan niatnya untuk tidur, lalu bibirnya mendekat lagi, melumat bibir Asia dengan panas, kali ini penuh gairah.

Asia tergeragap, hanya bisa menerima ciuman itu dan membalasnya sebisanya, balasannya yang tidak berpengalaman itu ternyata cukup menyenangkan sang Jenderal, lelaki itu mengerang dan melumat semakin dalam.

Asia tahu apa arti gerakan itu, Suaminya bergairah dan menginginkannya. Tetapi, bukankah dia sedang tidak bisa?

“Akira.” Asia meletakkan kedua telapak tangannya di dada Akira yang panas, mencoba menarik perhatian Akira yang masih sibuk melumat bibirnya, “Akira… aku… aku masih tidak bisa…”

Sang Jenderal melepaskan ciumannya, napas keduanya sama-sama tersengal, panas dan menciptakan uap sensual di udara,

“Ya. Kau tidak bisa, aku tidak boleh menyentuhmu di sana.” Tangan Sang Jenderal mengambil jemari Asia dari dadanya, mengecup jarinya satu persatu, “Kita memang tidak bisa melakukan ‘itu’. Tapi kita masih tetap bisa saling memuaskan. Aku akan memuaskanmu Asia, dan akan kuajari kau bagaimana cara memuaskanku.”

***

Asia merasa berada di alam mimpi. Suasana yang melingkupinya terasa asing sekaligus akrab, dia menatap bingung ke sekeliling ketika samar-samar mendengar suara seseorang memanggilnya.

“Asia.”

Suara itu tiba-tiba terasa dekat, membuat Asia sedikit terperanjat dan menolehkan kepala.

Di sampingnya, berdiri sosok lelaki, mengenakan baju militer berwarna gelap, seragam khusus tentara elite yang mengerikan. Tetapi entah kenapa kali ini tidak terasa menakutkan, lelaki malahan menumbuhkan perasaan familiar yang menyenangkan di benak Asia,

Lelaki itu sedikit menunduk menatap Asia yang lebih pendek darinya, senyumnya melebar,

“Kenapa kau menatapku seperti itu?” tanyanya dengan suara lembut.

Asia mengerutkan kening bingung hendak menjawab apa, tetapi akhirnya dia mengutarakan pertanyaan yang ada di benaknya,

“Kau siapa?” mata Asia tidak bisa lepas menelusuri sosok lelaki itu, kenapa terasa berbeda? Kenapa terasa dekat? Kenapa terasa begitu mirip dengan dirinya?

Lelaki itu tampak sedih, seolah pertanyaan Asia memukulnya, “Apakah kau melupakanku, Asia?”

Asia tergugu, merasa bingung harus menjawab apa. Pertanyaan lelaki di depannya ini entah kenapa terasa menyayat, membuat dadanya sesak oleh kepedihan yang tak terjelaskan.

Lelaki itu tersenyum pedih, lalu dengan penuh kelembutan memberikan pelukan hangat yang tidak mampu ditolak oleh Asia, mengecup pipinya pelan, dan membisikkan kalimat kunci itu di telinganya,

“Ingatlah aku Asia, aku Cesar ….aku sangat menyayangimu…..”

***

Asia memekik, terkesiap dan membuka matanya tiba-tiba.

Napasnya memburu, keringat bercucuran membasahi dahi dan rambutnya. Suara detak jantungnya yang berdentam seakan memukul keras, memecahkan keheningan kamar ini.

Mata Asia menatap ke sekeliling ruangan dengan pandangan penuh teror. Kamar ini kosong, dia hanya sendirian, duduk di atas ranjang dengan selimut dan bantal yang berantakan. Hari rupanya sudah beranjak siang, karena sinar mentari yang terang benderang sudah menjulur dan memasuki kamar lewat sisi jendela yang sedikit terbuka.

Seluruh tubuhnya ternyata basah kuyup, seolah habis berlari kencang dikejar teror yang begitu dasyat.

Sebelumnya Asia menatap rumah ini sebagai rumah peristirahatan yang nyaman dan damai, tetapi sekarang dia menatap kamarnya dengan pandangan berbeda. Rumah ini bagaikan penjara mengerikan yang diciptakan untuk mengikat kebebasannya.

Ingatannya sudah kembali, dia ingat semuanya!

Jenderal brengsek itu telah memanipulasinya, telah berakting dengan sempurna, memanfaatkan hilang ingatannya yang bodoh, mempermainkan kepolosannya dengan licik dan kejam.

Asia meringis, menarik selimut ke dadanya dan merasakan air mata tumpah di matanya, seluruh memorinya telah kembali, memori sebelum dia kehilangan ingatan, memori ketika dia hilang ingatan, memori ketika dirinya yang bodoh dan tidak tahu apa-apa dimanfaatkan oleh Jenderal keji itu, dipeluk, dicium, disentuh dalam sandiwara busuknya yang palsu.

Asia menatap ke tubuhnya yang polos telanjang di balik selimut, matanya terasa panas ketika menemukan bekas-bekas merah di sana, tempat dimana sentuhan dan ciuman Jenderal Akira meninggalkan jejak di kulitnya.

Dirasakannya semburan rasa jijik pada dirinya sendiri, jijik karena membiarkan tubuhnya dimanfaatkan sebagai pemuasan nafsu Jenderal Akira, jijik karena dalam kebodohannya dia malahan menikmatinya.

Dia bisa membayangkan saat ini Jenderal Akira pasti sedang menertawakan kebodohannya. Mengejeknya karena begitu mudahnya menyerahkan diri …

Tiba-tiba Asia melompat dari ranjang, setengah berlari menuju kamar mandi, merasakan dorongan yang amat sangat untuk membersihkan seluruh sisa sentuhan Akira di tubuhnya.

Dia berdiri di pancuran, menyalakan air panas, tidak peduli bahwa suhu air itu terlalu panas dan menyakiti kulit lembutnya, membuatnya perih. Asia menggosok kulitnya, menggosok bekas sentuhan Akira di sana dengan sekuat tenaga sampai pedih.

Tetapi dia tidak bisa menghapus percintaan itu dari ingatannya. Ciuman itu, sentuhan itu, suara desahan napas tertahan dan erangan mereka yang berpadu …. Bagaimana bisa? Ya Ampun…

Air mata Asia mengalir semakin deras, bercampur dengan air panas yang menyakiti kulitnya.

Dan ketika Asia menyadari bahwa semua sudah terlambat, bahwa apa yang sudah ditorehkan tidak mungkin bisa dihapus lagi, tubuh Asia ambruk di lantai, berlutut sambil membungkukkan punggung,menenggelamkan kepalanya di rangkuman kedua telapak tangan.

Tubuhnya berguncang, menangis tersedu-sedu sekuat tenaga di bawah guyuran air.yang menimpa tubuhnya tanpa ampun.

 

192 Komentar

  1. carlawella menulis:

    ingatan asia sudah kembali.. :KETAWAJAHADD :KETAWAJAHADD

  2. carlawella menulis:

    walaupun rada ngk rela ingatan asia kembali ngpp deh.. ngk seru kalau jendral ngk d lawan :beranilawansaya :beranilawansaya

  3. Yauda sih ya :dragonhihihi

  4. mustika lisa amalia menulis:

    Ingatan asia udah kembali, gak rela tapi pengen liat aslinya asia kalo berhadapan sama jenderal akira

  5. Lely Damayanti menulis:

    Gk nygka Cesar saudara kembarnya,,,aku kira dia kekasihnya….oh my Asia ingatannya kmbli???? :mukadua

  6. Kukira cesar itu pacarnya atau seseorang yang suk sama asia ternyata salah wkwk

    Dan… Penulis hobinya itu membuat pembaca terbang lalu menjatuhkanny HM:)

  7. Ternyata,, :bantingkursi :bantingkursi

  8. Sirlinurulita menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  9. hanya dalam hitungan detik kisah manis jadi mendebarkan :bergoyang

  10. Airaqyoung1215 menulis:

    Tudakkkkkk :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  11. Ktika ceritnya tmbah seru ehe *alaalacutegirl haha???

  12. Kaikou Nezumi menulis:

    Gua deg”an sendiri gara” Asia ingetannya udah kembali, rasanya nggak relaaaaaaa

  13. Dhian Sarahwati menulis:

    Ternyata Asia saudara kembar Cesar…
    Ingatan kembali,makin penasaran kan saya

  14. syarla Asiilah menulis:

    Asia is back

  15. kangen cerita ini :please

  16. Kasian asia

  17. :wowtakkusangka :wowtakkusangka :wowtakkusangka
    kirain cesar itu kekasih asia
    ternyata saudaraan!!!
    Gimana nasib cesar ya???
    trus asia msh mau melarikan diri lg ga ya??

  18. Suningsihsuning menulis:

    :DUKDUKDUK :wowakuterkejoet

  19. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Kumenangis membayangakan :bantingkursi :KUMENANGISMEMBAYANGKAN :KUMENANGISMEMBAYANGKAN :KUMENANGISMEMBAYANGKAN

  20. Nisaul Badriyah menulis:

    sy kira cesar kekasih asia…ech ternyata sodara kembare….
    miris banget…..

  21. lemonpinkskyyy menulis:

    :bantingkursi

  22. Asiah Silita menulis:

    :lovely :lovely

  23. Ingatan Asia dah kembali :gakmauahgakmau

  24. Pura² aja sya :lovely

  25. Dapat dua kejutan disini…yg pertama Cesar ternyata kembaran Asia dan yg kedua ingatan Asia udah kembali

  26. Kia Luthfia menulis:

    nih keren bangetttt.. lagi baca ulang dong.. kangennn

  27. dewantilaraswaty menulis:

    :muach :sebarcinta

  28. Kinky Rain menulis:

    :awaskaunanti

  29. calistaanggun menulis:

    :kumenangismelepasmu

  30. Ariyantipita menulis:

    :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  31. Yuni Widaningsih menulis:

    Udah baca untuk yg kedua kali tetep degdegan :awaskaunanti

Tinggalkan Balasan