the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 8 : Timbal Balik

Bookmark

No account yet? Register

1.711 votes, average: 1,00 out of 1 (1.711 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

“Kenapa kau tidak menikah, Paris?”

Pertanyaan itu langsung meluncur jatuh ketika Paris baru saja memasuki ruang kerja sang Jenderal, membuat lelaki berambut pirang itu tertegun, menatap sang Jenderal sambil mengangkat kedua alisnya,

“Maaf?”

Akira mendengus, “Kenapa kau tidak menikah Paris? Aku dengar kau lama menjalin hubungan dengan seorang perempuan.”

Sebuah pertanyaan yang diajukan secara tiba-tiba dari seseorang yang sama sekali tidak disangka-sangka, membuat Paris membutuhkan waktu beberapa lama menjawabnya, bukan untuk berpikir melainkan untuk mengatasi rasa terkejutnya. Yah, sang Jenderal hampir tidak pernah menanyakan masalah pribadi kepadanya sebelumnya.

“Entahlah Jenderal, mungkin saya hanya tidak percaya bahwa ada seseorang yang diciptakan untuk saya seorang, atau mungkin saya memang belum menemukan orang yang tepat.” Paris menjawab sambil mengangkat bahunya,

Akira mengangkat alisnya, “Atau mungkin kau memang tidak ingin terikat, Paris.” Simpulnya tenang, kemudian ekspresi sang Jenderal berubah muram, “Setidaknya kau bebas memilih pasanganmu, bukan ditentukan oleh kelainan genetikmu.”

Paris meringis, “Apakah hubungan anda dan nona Asia kembali memburuk? Dia…. dia masih belum ingat apa-apa bukan?”

“Dia masih tidak ingat apapun.” Bayangan kemuraman itu menjalar dari mata Akira hingga melingkupi ekspresi wajahnya, “Dan kurasa aku gagal bersandiwara sebagai suami yang baik.”

Paris membuka mulutnya hendak berbicara ketika pintu ruang kerja sang Jenderal diketuk. Sesuai protokol, Parislah yang membuka pintu. Lelaki itu berbicara sejenak di sana, dan kemudian kembali dengan ekspresi wajah pucat.

“Ada apa?” Akira menyipitkan matanya, menyadari ada sesuatu yang tidak beres.

“Nona Asia, seorang pelayan menemukannya pingsan di ruang baca. Dokter Frederick sedang menanganinya, katanya… nona Asia tidak henti-hentinya mengigaukan nama Cesar.”

***

“Aku percaya bahwa kita semua ditakdirkan untuk berdamai.”

Asia berguman dan tersenyum sambil membiarkan helaian angin meniup rambut panjangnya. Mereka berdua tengah duduk di bawah pohon, di hadapan mereka terhampar rerumputan hijau nan lembut diselingi bunga ilalang yang berwarna putih pucat, menciptakan suasana damai yang melingkupi hati.

Cesar, yang duduk di sebelah Asia sambil memejamkan mata dan kaki berselonjor santai, hanya mendengus untuk menunjukkan ketidak setujuannya ketika mendengarkan kata-kata perempuan di sampingnya,

“Kalau begitu kenapa bisa terjadi perang yang begitu dasyat di bumi ini? Membuat semuanya hancur dan manusia harus mengulang semua dari awal?” Gumam Cesar miris, “Tidak Asia, manusia tidak diciptakan untuk berdamai. Aku yakin secara alami manusia menginginkan perang. Terlebih ketika hak-haknya dirampas, secara alami manusia akan berperang untuk memperjuangkan hak-haknya itu.”

“Tapi sekarang di After Earth dipenuhi kedamaian bukan? Dan kedamaian itu membuat kita semua baik-baik saja.”

“Itu adalah kedamaian yang dipaksakan.” Cesar menggeram, tampak gusar. “Sang Jenderal besar memaksa kita semua seragam karena perbedaan apapun dianggapnya bisa memicu perang. Kita diharuskan memakai pakaian yang sama, memakan makanan yang sama, mendengarkan musik yang sama, bahkan untuk mengecat rumah kita saja diharuskan seragam! Hak kita sebagai manusia yang membutuhkan ruang untuk berkreasi dan berekspresi di rampas begitu saja!”

“Tetapi bukankah itu baik? Dengan segala sesuatu yang sama, manusia tidak akan bisa merasakan iri dan dengki. Bukankah iri dan dengki itu adalah salah satu penyakit hati paling berbahaya? Karena rasa iri dan dengki bisa memicu kejahatan yang lain, termasuk pertikaian atau bahkan perang sekalipun.”

Jawaban itu membuat Cesar tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menghela napas, lalu mendengus,

“Kau benar-benar pecinta kedamaian bukan?”

Asia tertawa, “Kau tahu Cesar, aku sangat suka sejarah, aku selalu haus akan informasi tentang bumi di masa lalu, masa dimana semua masih baik-baik saja, masa di mana perang belum menghancurkan segalanya…” Asia mengerutkan keningnya mencoba mengingat-ingat, “Ada sebuah buku yang aku temukan di perpustakaan, buku itu membahas sejarah musisi yang menginspirasi pada jaman bumi, dan ada satu kisah seorang musisi yang menarik perhatianku.”

“Siapa?” Cesar menoleh, mulai tertarik.

“Namanya Bob Marley, dia adalah seorang penyanyi, penulis lagu, dan seorang musisi yang cukup terkenal di jamannya. Artikel itu mengisahkan tentang dirinya yang tertembak oleh orang tak dikenal, dan dalam kondisi masih terluka, dia masih tetap tampil pada konsernya yg sudah terlanjur dijadwalkan sebelumnya. Seorang reporter yang tertarik bertanya kepadanya kenapa dia tetap menghadiri konser itu padahal dia terluka, kenapa dia tidak meliburkan diri dan beristirahat di rumah saja….. Kau tahu apa jawabannya?”

Cesar menggeleng, “Tidak. Memangnya apa?”

“Dia bilang, bahwa orang-orang anti perdamaian di luar sana yang membuat dunia ini makin buruk saja tidak pernah berlibur, bagaimana bisa dia sebagai pecinta perdamaian mengambil libur?”

Tawa Cesar menggema di tengah padang rumput nan hujau mendengarkan jawaban Asia, lelaki itu menunduk, menatap Asia lembut,

“Wah kau menemukan pecinta perdamaian yang sehati denganmu, eh? Hm.. aku yakin wajah tampan si Bob ini juga menarik dirimu, karena itulah kau mengagumi kisahnya.” Lanjutnya dengan nada menggoda.

Asia cemberut digoda seperti itu. “Aku tidak tahu wajah Bob Marley ini, seluruh literatur tentang dirinya sudah hancur oleh perang, tidak ada satu fotopun yang tersisa hanya artikel itulah satu-satunya. Lagipula aku tidak tertarik ataupun penasaran akan wajahnya, aku tertarik akan kecintaannya pada perdamaian.” Wajah Asia melembut meskipun matanya tampak memohon ketika melanjutkan, “Jadi, apapun yang ada di benakmu, janganlah kau lakukan Cesar, aku tahu kau punya rencana, tetapi kumohon jikalau itu membuat seluruh anugerah kedamaian yang kita nikmati ini musnah, hentikanlah rencana itu.”

***

Cesar masih ingat setiap patah kata. S e t i a p p a t a h k a t a. Dan dia juga ingat bahwa pada akhirnya, dia memilih untuk tidak memenuhi permintaan Asia kala itu.

Permintaan untuk berdamai.

Meskipun sekarang, ketika dilingkupi oleh konsekuensi tindakannya, Cesar tidak henti-hentinya bertanya-tanya…..

Jikalau saja ketika itu dia tidak melakukan rencananya yang pada akhirnya memicu permusuhannya dengan Jenderal Akira, apakah semua akan baik-baik saja?

Apakah semua orang yang dicintainya masih akan ada di sisinya saat ini? Apakah dia tidak akan berada dalam posisi harus merenggut nyawa orang yang dikasihinya dengan tangannya sendiri?

***

Perempuan itu berbaring di sana dengan mata terpejam, dan tampak sangat pucat. Begitu pucatnya hingga Akira mengira kulit wajah Asia menyaru serupa salju, kontras dengan sprei gelap yang melapisi tempat tidur besarnya.

“Apa yang terjadi dokter?” Akira menahan langkahnya tepat di hadapan dokter Frederick yang tampaknya telah selesai memeriksa Asia. Dibiarkannya Paris yang mengikutinya berdiri di pintu untuk berjaga.

Dokter Frederick melepas kacamatanya, tampak lelah.

“Secara fisik nyonya baik-baik saja, tetapi pingsan ini diakibatkan oleh sesuatu yang traumatis….. nyonya Asia mengingat sesuatu, itu dugaan terbesar saya.”

“Mengingat sesuatu?” Suara Akira berubah dingin, “Apakah maksudmu ingatannya sudah kembali?”

Dokter Frederick berdehem, tampak gugup, “Saya masih belum bisa memastikannya, Jenderal. Seperti yang dahulu saya katakan, ingatan nyonya Asia bisa kembali sedikit-sedikit ataupun seluruhnya. Kita baru akan mengetahuinya ketika beliau terbangun.”

“Setelah dia bangun?” Mata sang Jenderal melirik ke arah tubuh Asia yang terbaring lemah dipeluk oleh hamparan selimut yang membungkus tubuhnya. Gerahamnya mengeras,

“Tinggalkan kami sendiri.” Sambungnya kemudian, memberi perintah yang membuat dokter Frederick dan Paris bergegas melangkah keluar ruangan.

Tetapi sebelum langkah Paris melintasi pintu, Akira kembali memanggilnya.

“Paris.”

Paris langsung berbalik, memberi hormat, “Ya, Jenderal?”

“Siapkan kamar putih. Untuk berjaga-jaga.”

Perintah itu bagaikan hunusan belati…. yang merobek aura kedamaian di rumah ini.

***

Tiba-tiba saja dia membuka matanya, seolah hentakan kesadarannya menelusup masuk tanpa permisi dan membangunkan lelapnya dari tidur panjang.

Asia mengernyitkan keningnya, selama beberapa saat merasa kehilangan orientasi, sampai kemudian dia menyadari bahwa dirinya ada di kamarnya, kamar Jenderal Akira ….. kamar mereka.

Dan beberapa saat kemudian, setelah inderanya mulai pulih, bulu kuduknya sedikit meremang, merasa diawasi. Otomatis Asia menoleh ke samping ranjang, dan menemukan sang Jenderal memang sedang mengawasinya.

Lelaki itu duduk di samping ranjang, di sebuah sofa tunggal yang ditarik mendekat. Kedua lengannya bertumpu di lututnya, dengan tangan terjalin di bawah dagu. Mata cokelatnya yang tajam tampak intens menatap Asia, sedikit menyipit seolah menusuk ke dalam jiwanya, sangat kontras dengan wajahnya yang tanpa ekspresi.

“Apakah kau baik-baik saja?” Bibir Akira yang menipis itu seolah tak bergerak ketika bertanya.

Asia mengerutkan keningnya, masih bingung kenapa dirinya ditatap dengan tatapan menyelidik setajam itu,

“Memangnya aku kenapa?” Asia mengernyit, menyentuh kepalanya yang mendadak terasa berdenyut nyeri.

“Kau pingsan di ruang baca.” Akira memberi jawaban singkat, lalu hening, dan kembali menatap Asia dengan tatapan mata tajam.

Asia meringis, mencoba meredakan rasa nyeri yang berdenyut di kepalanya.

Kenapa Akira diam? Kenapa menatapnya seperti itu? Apa yang Akira tunggu?

“Ini.” Entah darimana Akira menyodorkan dua butir pil kecil dalam telapak tangannya, “Telan pil ini, dokter bilang kau akan merasa sakit kepala ketika terbangun, ini akan meredakan nyerimu… dan cukup aman untuk kandunganmu.”

Dalam diam Asia menerima pil itu, dan menelannya, tanpa air. Manusia pada jaman dahulu dikatakan selalu menelan pil bersama air dikarenakan ukurannya akan menjadi ganjalan dintenggorokan apabila ditelan begitu saja, pun dengan rasa pahit yang biasanya tertinggal di pangkal lidah, membuatnya butuh hantaran air untuk menyapunya.

Tetapi di After Earth, pil model lama seperti itu tidak mungkin ditemukan lagi, karena telah diciptakan teknologi khusus yang membuat pil pecah tanpa rasa apapun ketika masuk ke dalam mulut dan terkena rangsangan nuansa basah air liur, lalu langsung terserap di dalam tubuh.

Teknologi terbaru ini diciptakan untuk berjaga-jaga jikalau manusia harus mengalami perang kembali dan kehilangan pasokan air, Pil ini juga sangat berguna ketika akan memberikan pengobatan kepada anak-anak, bayi, atau bahkan hewan. Selain itu pil ini lebih cepat bereaksi karena langsung diserap tubuh tanpa melalui organ pencernaan.

Rasa pusingnya langsung mereda, nyerinya menjadi sedikit tertanggungkan, dan ketika pikirannya jernih, dia mulai sedikit mengingat apa yang berkelebatan di kepalanya sebelum dirinya jatuh pingsan.

“Kebakaran itu…” Suara Asia tertelan di tenggorokannya ketika mengingat teror akan rasa sakit karena tak bisa bernapas dan panas di dadanya.

Mata Akira semakin menajam mendengar gumaman Asia,

“Kau ingat akan kebakaran panti asuhanmu itu?” Lelaki itu berbicara seolah menggeram.

Asia mengangguk, lalu menggeleng, merasa bingung.

“Aku…. aku tidak tahu… ingatan itu datang tiba-tiba sekelebatan, seolah-olah aku berada di sana kembali, aku merasakan sesaknya napas karena menghirup asap, dan panasnya kobaran api di tubuhku…. mungkin… mungkin karena itu aku pingsan.”

“Mungkin juga.” Akira mengangguk samar, memberikan persetujuannya, “Selain itu kau tidak ingat apa-apa lagi?”

Asia mengerutkan keningnya, sepatu boot ala militer itu… gendongan itu…

“Apakah… apakah kau menolongku?”

Mata Akira menyipit, “Apa maksudmu?”

Apakah dia salah berbicara? Asia membatin, tiba-tiba merasa gugup,

“A.. aku… maksudku aku ingat ketika aku hampir pingsan di tengah kebakaran , lalu seseorang menggendongku.. menyelamatkan aku dari api, orang itu mengenakan sepatu boot militer dan aku pikir itu kau.” Tiba-tiba saja Asia merasa malu mengucapkan kalimat itu. “Ah… tapi mungkin saja itu hanya halusinasiku.”

“Mungkin saja.” Bibir Akira tertarik membentuk senyum samar, tidak mengiyakan ataupun membantah, “Jadi selain itu semua, tidak ada lagi ingatan lain yang muncul?”

Kenapa lelaki ini begitu tertarik pada ingatannya?

Asia mengerutkan bibirnya, merasa aneh. Tetapi kemudian dia mencoba memaklumi ketika menyadari mungkin suaminya ini mencemaskannya – meski sikap dinginnya itu sama sekali tidak mencerminkan hal tersebut – batinnya skeptis.

“Tidak… aku tidak ingat yang lain…..” Tiba-tiba wajah Asia memucat, “Tapi… oh astaga…. di tengah kebakaran itu aku memanggil-manggil nama Cesar…” mata Asia melebar penuh teror, “Cesar yang mengirim orang untuk menculik dan membunuhku… Cesar yang kau bilang pengkhianat musuh besarmu itu…. Kenapa aku memanggil namanya? Apakah aku… apakah aku mengenalnya?”

Ekspresi Akira tampak murka mendengar kata-kata Asia, begitu murkanya hingga nyaris menakutkan.

“Mungkin ingatanmu sedikit kacau, mungkin kau memanggil namaku, tetapi karena insiden menyangkut Cesar yang traumatis untukmu, kau jadi merasa memanggil nama Cesar.” Lelaki itu memajukan tubuhnya hingga dekat dengan tubuh Asia, “Isteriku tidak mungkin memanggil nama lelaki lain ketika dia terdesak, dia sudah pasti hanya akan memanggil satu nama, namaku.” Mata Akira menajam penuh ancaman, “Oke, Asia?”

Asia merasa jantungnya berdegup, aura kemarahan sang Jenderal terasa begitu kental memenuhi udara.

“Eh… Oke.” Jawab Asia cepat, merasa terintimidasi.

“Jadi, siapa nama yang akan engkau panggil ketika kau terdesak, Asia?”

Kenapa suaminya memperlakukannya seperti memperlakukan penjahat?

“Namamu.” Asia menjawab secepatnya ketika menyadari kegusaran mulai merayap di wajah sang Jenderal karena dia tak kunjung menjawab.

“Bagus. Kalau begitu beristirahatlah.” Akira beranjak, tapi masih bergeming, “Jangan pernah menyebut nama lelaki lain di sini, apalagi di atas ranjangku, Asia. Atau aku akan membuatmu menyesal.” Ancamnya dingin sebelum berbalik meninggalkan Asia yang masih terpana kebingungan.

***

“Bagaimana, Jenderal?” Paris bertanya segera setelah dia memberi hormat kepada Akira, “Kamar putih sudah saya siapkan…”

“Tidak.” Akira mengangkat tangannya, menghentikan kata-kata Paris, “Kita tidak membutuhkannya, Asia tidak mengingat apapun yang berarti.”

Paris mengerutkan keningnya, “Tetapi bukankah ketika tidak sadarkan diri tadi nona Asia mengigaukan nama Cesar? Apah itu bukan….” kalimat Paris berhenti karena Akira melemparkan tatapan membunuh kepadanya.

“Dia tidak ingat apapun tentang Cesar. Ingatan yang datang padanya hanya sekelebat tentang kebakaran panti asuhan itu. Sepertinya kita masih bisa tenang, dan berharap kondisi ini terus berlangsung sampai bayinya lahir.”

Ketika melanjutkan kata-katanya, mata Akira berubah kejam, “Aku ingin kau mengerahkam segala daya upaya untuk menemukan Cesar, Paris. Sudah terlalu lama pasukan kita tampak bodoh karena Cesar selalu berhasil meloloskan diri. Aku mau Cesar dilenyapkan. Segera.”

Paris mengangguk, lalu sedikit membungkukkan tubuhnya, “Baik Jenderal, akan saya laksanakan.”

Setelah itu Paris melangkah ke pintu, hendak pergi, tetapi seolah tersadar sesuatu, langkahnya terhenti.

“Ada apa?” Akira mengangkat alis, melihat sikap Paris yang ragu-ragu.

Paris berdehem, “Informasi ini hendak saya sampaikan tadi pagi, tetapi tertunda.” Tidak biasanya Paris tampak gelisah, “Informan saya mengatakan bahwa hari ini nona Athena tiba di Marakesh city.”

“Athena.” Tak ada ekspresi di wajah Akira ketika menyebut namanya, “Dia pasti melihat tayangan pengumuman kehamilam Asia, karena itu dia ada di sini.” Ada senyum di wajah Akira.

“Saya takut dia akan menjadi ancaman bagi nona Asia, anda telah bertunangan dengannya bertahun-tahun dan kemudian meningalkannya karena nona Asia. Nona Athena pasti kembali dengan maksud tertentu.”

“Tentu saja dia punya maksud tertentu.” Akira terkekeh, “Aku kenal sekali dengan Athena, dia selalu punya maksud di balik semua tindakannya. Tetapi tenang saja, Paris, kita akan menyambut Athena dengan tangan terbuka.”

***

Sisi tempat tidur itu sedikit melesak ke samping dikarenakan beban yang naik ke atasnya, membuat Asia terbangun dari tidurnya.

Asia menolehkan kepalanya, dan sedikit terkejut menemukan Akira naik dan berbaring di ranjang di sisinya.

Lelaki itu memang selalu tidur bersamanya setiap malam, tetapi hampir setiap hari Jenderal Akira selalu pulang larut malam dan beranjak tidur ketika Asia sudah masuk ke dalam mimpi terdalamnya hingga bahkan tidak menyadari bahwa sang Jenderal datang, begitupun di pagi hari, Akira biasanya bangun pagi-pagi sekali hingga Asia terbangun hanya ditemani sisi ranjangnya yang sudah dingin.

Tetapi malam ini Asia tak mudah jatuh tertidur, entah karena obat yang diminumnya, entah karena dia tadi sudah terlalu lama tak sadarkan diri. Yang manapun itu, suasana seperti ini membuat Asia gugup dan tidak nyaman, apalagi mengingat terakhir kali mereka menghabiskan waktu terbangun di ranjang ini adalah karena mereka bercinta… yang pada akhirnya berubah menjadi bencana di pagi harinya.

“Apakah aku mengganggu tidurmu?” Lelaki itu tampak menatapnya menembus keremangan kamar nan gelap itu.

Asia menggelengkan kepalanya lemah, “Tidak… aku belum tidur.”

“Kenapa?”

“Kenapa apanya?”

“Kenapa belum tidur?”

Asia menghembuskan napasnya panjang, “Aku… aku tidak tahu.”

Dan kemudian, dengan gerakan tidak disangka-sangka, Akira mengulurkan jemarinya, lalu menarik Asia ke dalam pelukannya, membuat Asia terkesiap ketika wajahnya membentur dada bidang nan kokoh itu, wajahnya memerah dan degup jantungnya seketika mengeras,

“A…apa…”

“Sshh…” jemari Akira menyentuh belakang kepalanya, membuat Asia makin merapat, “Tidurlah, kau harus beristirahat selagi bisa, mengumpulkan energi. Karena kita tidak tahu apa yang akan kita hadapi esok pagi.”

Asia terdiam, meskipun tidak mengerti akan maksud kata-kata Akira. Dia terdiam, merasakan panasnya tubuh lelaki itu yang membungkus tubuhnya, dan degup jantung sang Jenderal yang bergema di pipinya…. bagaikan alunan musik yang menghantarkannya ke alam mimpi.

Asia sudah hampir terlelap, ketika dia mendengar bisikan Akira di atas kepalanya, bisikan samar yang membuatnya bingung sedang berada di alam mimpi atau tidak.

“…..Kau harus memberikan kesetiaanmu kepadaku, Asia. Dan aku akan melindungimu sebagai timbal baliknya…..”

***

Suara sepatu boot itu menggema mengetuk lantai marmer di lorong-lorong benteng Marakesh City nan panjang. Tubuh wanita itu tinggi, dibalut oleh seragam hitam pasukan elite militer nan berkharisma,’meskipun sama sekali tidak melunturkan aura feminim nan cantik yang terpancar dari tubuhnya. Rambut pirang panjangnya yang indah kali ini digulung ke atas, membentuk cepol rapi di kepalanya.

Keseluruhan penampilannya luar biasa, membuat siapapun yang berpapasan dengannya di lorong itu terpana penuh kekaguman.

Langkah perempuan itu terhenti di depan pintu besar di ujung lorong. Lalu dia mengetuk pintu itu.

Akira, yang sedang berada di dalam ruangan itu bergumam datar, matanya masih tidak lepas dari peta strategi yang terhampar di mejanya.

“Masuk.”

Pintu itu terbuka, dan sosok perempuan itu melangkah masuk.

“Saya datang untuk melapor, Jenderal.”

Akira mendongakkan kepalanya dari berkas di mejanya, dan kemudian tersenyum samar ketika menatap sosok di depannya.

“Ah, Letnan Athena. Selamat datang kembali di Marakesh City.”

 

211 Komentar

  1. Thanks!

  2. Wow mantannya anggota militer dong😃mari kita lihat, apakah akan ada bibit2 pelakor hmm🤨

  3. Kinky Rain menulis:

    :luculuculucuih

  4. dewantilaraswaty menulis:

    :sebarcinta :luculuculucuih :DUKDUKDUK

  5. AuroraGren menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  6. Pooja Kharisma menulis:

    :kumenangismelepasmu :kumenangismelepasmu

  7. Wow, mantan akira dibidang militer juga

Tinggalkan Balasan