inevitable-war
Inevitable War

Inevitable War Part 2 : Hide and Seek

Bookmark

No account yet? Register

2.108 votes, average: 1,00 out of 1 (2.108 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

inevitable-war

Mischa melalui lorong demi lorong gerbong kereta, mencoba mencari jalan keluar dalam kepanikan dan ketakutan luar biasa. Semua gerbong yang dilaluinya memang terkunci, sudah sejak lama tidak dibuka hingga besi penguncinya berkarat dan tidak bisa digeser sedikitpun. Tatapan Mischa begitu panik ketika menatap semua pintu yang dilaluinya untuk mencari jalan keluar, sayangnya semua pintu itu tertutup rapat, bahkan jendelanya juga berteralis dan tak bisa digeser.

Pintu keluar kelompok mereka memang hanya satu, dan itu harus melalui gerbong ruang makan, padahal Mischa sudah mengunci makhluk mengerikan itu di dalam sana.

Dia harus menemukan jalan keluar lain. Segera!

Mischa mempercepat langkahnya, membuat jantungnya berdebar semakin kencang. Dia tahu bahwa mengunci Bangsa Zodijak dalam sebuah ruangan berpintu baja sekalipun hampir tidak ada gunanya, Bangsa Zodijak, baik lelaki maupun perempuan memiliki kekuatan super yang mengerikan, mereka hampir sama seperti superhero-superhero yang ada di kisah rekaan masa lampau, memiliki kekuatan yang tak terbatas yang hampir tidak mungkin dilawan oleh manusia biasa.

Sekarang lelaki Zodijak yang mengaku bernama Nikolai itu sedang berburu, dan dia adalah buruannya, hidangan penutupnya.

Bangsa Zodijak senang berburu manusia. Bukan untuk dimakan, karena setahu Mischa, Bangsa Zodijak sangat pemilih dalam hal makanan, dan manusia bukan salah satu di antaranya. Bangsa Zodijak memburu manusia untuk dibunuh, sebuah nyawa direnggut hanya untuk bersenang-senang.

Mischa berusaha menahankan air matanya yang merangsek ingin keluar ketika dia teringat teman-teman di kelompoknya. Darah yang tadi berceceran dan disentuh dengan tangannya itu sudah pasti adalah darah mereka. Mereka semua mati karena kesalahannya yang membawa masuk Nikolai ke dalam tempat persembunyian.

Bahkan Sasha… apakah Sasha juga menjadi korban? Dia masih begitu kecil.. begitu tak berdaya… Bisakah Mischa mencari tahu seperti apa kondisi Sasha sekarang?

Rasa bersalah yang menggayuti hati Mischa membuatnya tak bisa menahan air mata lagi. Dihelanya napas dalam-dalam sementara langkahnya terus melaju dan matanya terus memindai mencari jalan keluar.

Pikiran Mischa sendiri berkecamuk, membayangkan nasibnya nanti. Apa yang dia katakan sebelumnya pada Nikolai ketika menyangka bahwa Nikolai adalah manusa biasa dan dia mengajak lelaki itu bergabung, adalah kenyataan yang tak terbantahkan. Manusia pada masa ini tidak akan bertahan hidup sebagai Kaum Penyelinap jika mereka sendirian, untuk mempertahankan diri, mereka harus hidup berkelompok, lalu saling bahu membahu untuk mencari kebutuhan hidup menyangkut makanan, perlindungan, dan juga saling menjaga keamanan satu sama lain.

Sekarang seluruh anggota kelompoknya – jika mempercayai apa yang dikatakan oleh Nikolai tadi – sudah dibunuh. Sedangkan Mischa tidak mengetahui kelompok lain tempat dia bisa berlindung. Masing-masing kelompok Kaum Penyusup memang bergerak sendiri-sendiri, tidak saling berkomunikasi dan bahkan kadang hampir tidak pernah berjumpa atau berpapasan karena mereka selalu bergerak diam-diam di bawah tanah… bagaimana Mischa bisa menemukan mereka dan meminta bantuan?

Mischa mengusap air matanya ketika membuka satu pintu yang menghubungkannya dengan gerbong terakhir.

Semua itu akan dipikirkannya nanti. Saat ini dia bahkan tidak yakin bisa keluar hidup-hidup dari pengejaran Nikolai, bangsa Zodijak yang sedang mengejarnya.

Mata Mischa tertuju pada sebuah lubang udara yang berada di bagian bawah gerbong terakhir yang merupakan harapan satu-satunya. Gerbong terakhir itu buntu, dan Mischa tidak mungkin berbalik arah untuk kembali memindai jalan keluar, karena kemungkinan besar Nikolai sudah mengejar di belakangnya.

Mischa mencoba mendorong pintu seng tebal yang menutup lubang udara itu. Sayangnya usahanya tidak berhasil karena tangannya terlalu kurus dan tenaganya terlalu lemah.

Pada akhirnya, karena putus asa, Mischa menjejakkan kakinya yang memakai sepatu kain compang camping untuk menendang pintu saluran udara itu berkali-kali.

Beberapa kali Mischa menendang hingga napasnya terengah, sementara dirinya mulai merasakan firasat tak enak melingkupinya, seseolah ada sesuatu yang mendekat, sesuatu yang membuat bulu kuduknya berdiri dan jantungnya berdebar dengan amat kencang.

Firasat ini membuatnya benar-benar merasa seperti hewan buruan, seperti kelinci kecil yang berada di rantai makanan paling bawah, berusaha bertahan hidup dari kejaran seekor singa yang sedang tidak ingin makan, tapi ingin bermain-main sebelum membunuhnya demi kesenangan.

Pada akhirnya, dorongan untuk mempertahankan dirilah yang memberinya tambahan tenaga di sela keputusasaan. Mischa menarik napas panjang, menyerap seluruh kekuatannya yang tersisa sebelum kemudian mendorongnya keluar dalam bentuk sebuah tendangan penuh semangat, menjejakkan kakinya sekuat tenaga menghantam pintu saluran udara itu.

Suara dentaman terdengar keras, seiring dengan jatuhnya penutup seng tebal itu ke tanah.

Mischa terperangah, sejenak tidak menyangka bahwa tendangannya kali ini berhasil, tapi sekarang di depannya terpampang lubang yang cukup dilalui oleh manusia. Udara dingin langsung menampar wajah Mischa, berhembus kencang dan membuat Mischa tersadar dari keterpakuannya.

Mischa langsung membungkuk, bersyukur karena tubuh kurusnya akibat kekurangan makanan ternyata memiliki guna juga, membuatnya bisa masuk ke dalam lubang saluran udara ini dengan mudah.

Dalam kondisi telungkup, menggunakan siku dan lengan sebagai penopang untuk bergerak maju, Mischa mulai merayap melalui lantai besi saluran udara yang dingin, berusaha tetap fokus menembus kegelapan.

Pada akhirnya, Mischa sampai di ujung lorong, bertemu kembali dengan penutup saluran udara luar berbentuk teralis tipis yang terpaku dengan empat baut yang sudah berkarat di empat sudutnya.

Mischa menggertakkan gigi, sekali lagi berusaha menghela kekuatan dengan menumpukan tenaga ke kedua lengannya, karena dalam kondisinya yang merayap seperti ini, Mischa jelas-jelas tidak bisa menggunakan kakinya untuk menendang. Didorongnya penutup luar itu sekuat tenaga, membuat keringatnya bercucuran bahkan ketika udara sedang dingin-dinginnya.

Pada akhirnya, entah karena keberuntungan, entah karena baut penahan penutup saluran udara itu sudah lapuk, penghalang itu terbuka, menghantarkan udara luar yang menawarkan harapan.

Mischa langsung mendorong tubuhnya merayap keluar, terloncat dari dalam saluran udara dan menjatuhkan tubuh ke tanah. Tubuh Mischa terasa sakit karena terbanting begitu keras, tapi tidak ada waktu untuk mengaduh, Mischa langsung bangkit, terloncat berdiri dan menyeberangi rel kereta tempat gerbong persembunyian kelompoknya itu berada, memanjat naik ke koridor stasiun yang dulunya dipakai sebagai ruang tunggu penumpang sebelum menaiki kereta bawah tanah, dan berlari secepat yang dia bisa untuk menyeberangi stasiun kereta bawah tanah itu.

Keheningan benar-benar menyergap malam ini, menguasai hingga tidak menyisakan satu suara pun untuk memecahnya. Keheningan ini juga membatasi gerakan Mischa karena dia tidak bisa menghentakkan kakinya keras-keras, takut bebunyian itu akan didengar oleh Nikolai yang pasti sudah mengejarnya.

Beruntung sepatu Mischa terbuat dari bahan kain dengan sol karet tebal tetapi empuk. Hal itu membuat suara langkah Mischa sedikit teredam ketika Mischa berlari menaiki tangga stasiun bawah tanah yang hancur dan ditinggalkan itu untuk mencari tempat bersembunyi.

Naik ke permukaan ketika dini hari seperti ini bukanlah keputusan yang bijak. Karena biasanya malam hari akan ada perburuan dari Bangsa Zodijak untuk mencari dan memburu kaum penyusup yang sedang sial berkeliaran keluar untuk kemudian tertangkap. Posisi Mischa saat ini serba salah, jika dia tetap berada di bawah tanah, dia akan menjadi mangsa empuk bagi Nikolai, tapi jika dia naik ke permukaan, bukannya tidak mungkin dia akan bertemu Bangsa Zodijak lain dalam jumlah lebih banyak.

Satu-satunya jalan adalah berada di tengah-tengah, bersembunyi dan menunggu hingga terang tanah tiba sambil berharap Nikolai bosan mencarinya tanpa berhasil menemukan, lalu pergi.

Mischa melirik ke kiri dan ke kanan, kegelapan ini membuatnya susah bergerak. Dirinya sebagai manusia biasa memang tidak sebanding dengan Bangsa Zodijak. Bangsa Zodijak diciptakan sebagai predator yang berada di puncak rantai makanan, mereka memiliki kekuatan luar biasa, bisa bergerak cepat layaknya predator kelas tinggi, bahkan dilengkapi dengan pendengaran, penciuman dan pengelihatan luar biasa, kegelapan seperti ini bukanlah masalah bagi Bangsa Zodijak. Mischa memang memiliki pengetahuan cukup mengenai Bangsa Zodijak, karena ayahnya dulu adalah salah satu peneliti, yang mencoba memahami dan mempelajari musuh asing mereka dari berbagai sampel yang bisa didapatkan.

Sayangnya laboratorium tempat penelitian ayahnya dimusnahkan dan semuanya dibunuh, membuat Mischa yang hanya memiliki ayahnya jadi tidak punya siapa-siapa lagi, memaksa Mischa bertahan hidup sendirian di sela kehancuran yang susul menyusul kemudian.

Mischa meraba-raba, lalu menemukan sebuah pintu kecil di dinding. Itu seperti pintu untuk penyimpanan alat-alat kebersihan di masa lampau, hanya satu ruangan kecil yang cukup untuk meletakkan ember dan berbagai tongkat pel di dalamnya. Pintu yang sempit dan kecil itu membuat Mischa sekali lagi bersyukur akan kekurusan tubuhnya, dia membuka pintu itu, menyelinap masuk sambil mengunci pintu itu kembali dari dalam, dan duduk sambil memeluk kedua lutut dalam keheningan yang menakutkan.

Sekelilingnya gelap, pekat, ditambah kesunyian menyeramkan yang membuat Mischa bahkan bisa mendengar debaran jantungnya sendiri, membuatnya terpaksa bergerak pelan-pelan untuk menahan tangan di dada supaya debar jantungnya teredam. Bersembunyi dari Bangsa Zodijak sangatlah sulit, mereka bisa mendengar gerakan sekecil apapun, bisa melihat menembus kegelapan dan bahkan bisa mengendus bau mangsa dari kejauhan.

Yang bisa dilakukan oleh Mischa hanyalah memejamkan mata, bernapas pelan-pelan dan teratur, menjaga supaya hawa tubuhnya tidak menguar dan mencoba tidak bergerak sedikitpun.

Sungguh dia berharap makhluk buas itu tidak menemukannya…

Kadang Mischa bingung untuk apa dia bertahan hidup sekuat tenaga seperti ini. Bertahan sendirian dalam kekosongan dan kepedihan hati melihat kehancuran yang tumpuk menumpuk di sekelilingnya.

Ada saat-saat dimana dia ingin menyerah, ingin mati saja, saat-saat seperti sekarang inilah…. ketika pikirannya dipenuhi oleh ketakutan akan kematian yang menyongsong jiwanya.

***

Kelinci kecil yang lincah…

Aslan berjalan perlahan, mengendus udara di sekelilingnya, membaui aroma manis menyenangkan yang sepertinya adalah aroma khas perempuan itu karena dia tidak pernah menemukan aroma seperti ini sebelumnya. Senyum tipis terukir di bibir Aslan, senyum penuh kepuasan karena malam ini sepertinya dia akan mengalami perburuan yang menyenangkan.

Aslan suka buruan yang lincah, mencoba lari dan bersembunyi tanpa menyerah. Aslan sudah bosan menghadapi manusia-manusia yang penakut dan memuakkan, berlutut lalu memohon untuk nyawa mereka. Meskipun sebenarnya, bersembunyi dan melarikan diri juga tidak akan ada gunanya. Jika sudah menentukan buruannya, maka Bangsa Zodijak tidak pernah gagal menangkap mereka, denyut jantung penuh ketakutan dan aroma mangsa yang makin menguat ketika mereka terdesak adalah salah satu kelemahan para buruan, membuat mereka semua mudah ditangkap.

Perempuan itu berhasil melarikan diri keluar dari gerbong…

Aslan berdiri tegak sementara sepatu bootnya yang dilapisi bahan kuat mengkilat menggeser penutup saluran udara itu sambil lalu. Diangkatnya sebelah tangan untuk menyentuh permukaan dinding gerbong yang menghalangi, dan dalam satu detik yang singkat, seluruh dinding gerbong itu terlepas dari rangkanya, terlontar jatuh dengan suara berdebam keras yang memekakkan telinga.

Aslan sengaja melakukan itu, tahu bahwa suara keras tersebut akan menembus kesunyian dan sampai ke telinga mangsanya, membuatnya semakin ketakutan sehingga semakin mudah ditemukan.

Sekali lagi Aslan menghirup udara di depannya dengan tenang, tidak melepaskan senyuman dari bibirnya. Aroma manis itu terhidu semakin kuat seiring dengan rasa takut yang mungkin makin kuat mencekik mangsanya.

Aslan meloncat dari gerbong itu, mendarat di barisan rel kereta di dalam lorong gelap tak berujung, lalu memutuskan naik ke lantai atas koridor stasiun, mengikuti aroma manis yang dihirupnya.

Kegelapan tak berarti baginya karena matanya bisa melihat dengan sama baiknya entah itu gelap ataupun terang. Tanpa terburu-buru, Aslan lalu berjalan tenang menaiki tangga untuk kemudian menghentikan langkahnya ketika sampai di puncak tangga.

Aroma manis menguar makin kuat di sekelilingnya, dan Aslan yakin anak perempuan itu ada di sini, berusaha bersembunyi dari pandangannya dengan sia-sia.

Mata Aslan menyisir seluruh ruangan di depannya, dan dia menyeringai ketika menemukan sebuah pintu kecil yang tertutup rapat di satu sisi tembok. Di balik pintu itu, dia mendengar denyut kehidupan yang menanti untuk ditemukan.

***

Suara berdebam yang terdengar tiba-tiba membuat Mischa hampir memekik karena terkejut. Itu adalah sesuatu yang besar, yang dibanting begitu saja ke lantai, menciptakan suara memekakkan telinga yang mengerikan.

Nikolai sudah keluar dari gerbong kereta…

Mischa tidak melihat, tapi dia tahu bahwa itulah yang terjadi. Pintu yang tergembok kuat, lapisan baja atau besi setebal apapun tidak berarti apa-apa bagi Bangsa Zodijak.

Jantung Mischa berdebar kencang, begitu kuatnya memukul dada hingga membuatnya sesak napas. Mischa memejamkan mata semakin rapat, berusaha menghitung dengan tenang untuk mengatur napasnya tetap teratur. Tidak boleh menghirup udara terlalu keras, tidak boleh menghembuskan napas terlalu kencang. Mencoba diam tak bergerak seolah dia adalah benda mati yang tak terdeteksi.

Jika dia bisa seperti ini terus, masih ada kemungkinan dirinya lolos dari makhluk buas itu…

Sayangnya, Mischa bahkan tidak bisa menyelesaikan doa dan harapannya untuk lolos, karena pintu kayu yang menjadi satu-satunya pelindung tempatnya bersembunyi tiba-tiba terhempas dengan kasar, terlepas dari engselnya dan terlempar entah kemana, menciptakan suara keras yang memekakkan telinga.

Mischa memekik karena terkejut, tetapi berhasil menempatkan kedua tangan di bibirnya untuk menahan suaranya, matanya membelalak lebar penuh teror, menatap siluet gelap yang bahkan lebih gelap daripada sekelilingnya.

Nikolai. Sosok tinggi itu berdiri di ambang pintu yang sempit, memenuhinya hingga tidak menyisakan ruang bagi Mischa untuk melarikan diri.

“Aromamu yang begitu manis menggagalkanmu, Mischa.” Nikolai berucap lambat-lambat, dan Mischa bahkan bisa membayangkan seringai yang menghiasi bibir Nikolai ketika lelaki itu berbicara. Lelaki itu lalu bergerak, menghancurkan tembok karena pintu ruang peralatan yang kecil itu terlalu sempit untuknya.

Bahkan tembok pun tidak menghalangi lelaki itu untuk mendekati Mischa…

Yang bisa dilakukan oleh Mischa sekarang hanyalah pasrah, memeluk kedua lututnya dalam gemetar yang luar biasa, berusaha beringsut mundur sejauh mungkin hanya untuk menemukan punggungnya menempel rapat ke tembok buntu di belakangnya.

Lelaki itu mendekat dengan aura jahat yang menakutkan, lalu berlutut di depan Mischa, begitu dekat hingga lututnya hampir menyentuh tubuh Mischa. Tangan Nikolai terulur dan menyentuh leher Mischa, membuat Mischa tidak berdaya, hanya bisa memiringkan kepala dan menelan ludah dalam ketakutan yang amat sangat.

“Namaku Aslan.” lelaki itu berucap, membuat Mischa terkesiap kaget karena mengenali nama itu.

Hanya ada satu nama Aslan di antara Bangsa Zodijak yang menjajah mereka, dan dia adalah Aslan – Si Singa, yang paling kuat di antara pemimpin Bangsa Zodijak.

Tujuh pemimpin Bangsa Zodijak memang membawa tanda rasi bintang masing-masing di namanya. Aslan, si singa dengan rasi bintang Leo, Akrep yang membawa rasi bintang Taurus di namanya, Khar yang artinya Scorpio, Sevgil yang artinya Aries, Yesil yang artinya Sagitarius, dan terakhir, si kembar Kara dan Kaza yang mewakili rasi bintang Gemini.

Bertemu dengan Bangsa Zodijak yang biasa pun, dia tidak mempunyai harapan, apalagi bertemu dengan salah satu dari tujuh pemimpin mereka…

Mischa pada akhirnya pasrah, berharap dia mendapatkan kematian yang cepat. Tapi sayangnya, Aslan tampaknya masih ingin bermain-main dengan buruannya. Lelaki itu mendekatkan wajahnya dengan tangan masih mencengkeram leher mungil Mischa yang tergenggam dalam rengkuhan jemarinya.

Aslan menghirup aroma Mischa yang makin mengental seiring dengan kedekatan tubuh mereka, dan lelaki itu mendesah penuh rasa ingin tahu.

“Aku tidak pernah menghirup aroma selezat ini sebelumnya.” Azlan menggeram, tepat di telinga Mischa menciptakan gemetar yang semakin keras di tubuhnya.

“Kau akan memakanku?” pada akhirnya Mischa mengeluarkan suara tercekik, ingin tahu apa yang akan dihadapinya. Berdasarkan pengetahuan yang didapatkan dari ayahnya, Bangsa Zodijak memang tidak memakan manusia tapi bukan berarti hal itu tidak mungkin, kan? Aslan menyebutnya “lezat” dan kata “lezat” hanya bisa dikonotasikan dengan makanan.

“Aku tidak akan mengotori pencernaanku dengan daging kualitas rendahan dari tubuh manusia.” Aslan berucap pelan, menempelkan hidungnya ke kulit lembut Mischa untuk semakin menghidu aroma lezat yang menarik hatinya, “Tidakkah kau ingin memohonkan pengampunan untuk kehidupanmu?”

Tidak akan. 

Mischa memutuskan dengan cepat, menguatkan hatinya dengan penuh tekad. Pada akhirnya meskipun dia merendahkan diri untuk memohon pengampunan, lelaki itu akan tetap membunuhnya.

“Mungkin aku akan mengampunimu…. dan menjadikanmu budakku, setidaknya kau bisa tetap hidup, bukan?” Aslan berbisik lagi dengan suara menggoda.

Sementara begitu mendengar kalimat itu, Mischa mengerutkan keningnya dengan amarah yang tiba-tiba membara didadanya. Bangsa Zodijak memang memiliki gigi taring yang tajam, laksana ular yang menyalurkan racun serupa bisa yang mampu mempengaruhi otak manusia dan mengubah manusia menjadi budak yang kosong tanpa jiwa.

Hidup sebagai budak bukanlah kehidupan. Jika diperbolehkan memilih, Mischa lebih baik mati saja.

Tanpa sadar, larut dalam pemikirannya sendiri, Mischa menyuarakan pemikirannya itu dengan suara keras, membuat Aslan terkekeh, sementara cengkeramannya di leher Mischa menguat, membuat Mischa kehabisan napas.

“Mungkin aku akan membawamu dan menjadikanmu peliharaanku, kau akan kusimpan di tempatku, lalu akan kulepaskan sebagai buruan untuk kukejar ketika aku bosan? Kau tahu permainan itu, bukan? Permainan yang kalian sebut petak umpet? Mungkin kita bisa memainkannya berkali-kali sampai aku bosan…”

“Dalam mimpimu!” Micha menyembur, berusaha mendorong tubuh besar Aslan sekuat tenaga dengan sisa kekuatan yang dimilikinya, sayangnya dia seolah mendorong tembok besar yang tak bergeming sedikitpun. Dorongannya itu membuat Aslan bergerak cepat, membanting tubuh Mischa ke lantai dengan tetap membungkuk di atas tubuh Mischa dan menaunginya. Dalam keputus asaannya, Mischa mencoba bangkit, tapi Aslan mencengkeram lehernya kembali, menekan tubuh Mischa kembali ke lantai.

Yang ada di pikiran Mischa sekarang adalah melawan. Meskipun lehernya dicengkeram dengan begitu eratnya oleh tangan Aslan, Mischa meronta sekeras dia bisa, menggerakkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri untuk melawan, menendang dan melakukan apapun  yang dia bisa meskipun pada akhirnya semua itu hanya berujung tanpa hasil.

Bahkan Mischa tidak mampu membuat Aslan bergeser sedikit pun. Lelaki itu hanya mematung, membiarkan Mischa menghabiskan tenaganya sendiri dan terengah-engah kehabisan napas, berbaring tanpa daya di lantai.

“Kelinci kecil pemberontak yang menyenangkan…” Aslan berbisik pelan, “Sudah siap untuk patuh dan menyerah…”

Mischa tidak akan menyerah. Tidak akan! Selama nyawanya masih bergelung di dalam dada, dia akan berjuang, berjuang untuk lebih baik mati daripada harus hidup tetapi menjadi budak.

Tangan Mischa yang bebas bergerak, menerjang ke wajah Aslan dan mencakar pipinya sekuat tenaga. Mischa tahu apa yang dia lakukan sia-sia, karena kulit Bangsa Zodijak yang keras dan lentur bahkan tidak bisa tergores oleh pisau atau peluru sekalipun, tapi Mischa memang tidak ingin melukai Aslan, dia hanya ingin memancing kemarahan makhluk buas itu sehingga dia bisa dibunuh dengan cepat, dilepaskan dari penderitaan ini.

Sayangnya apa yang diharapkannya tidak terjadi. Di luar dugaan, dan bahkan membuat Mischa sendiri terkejut, jari-jarinya mampu menggores kulit Aslan, menyisakan darah hangat yang mengucur di sana, darah berwarna merah gelap yang sedikit lebih kental daripada darah manusia, darah Bangsa Zodijak yang sangat sulit ditumpahkan oleh senjata apalagi oleh tangan kosong.

Tapi Mischa berhasil melakukannya….

Dengan terkejut, Mischa mendekatkan jari-jarinya ke wajah, memastikan sensasi basah di sana itu adalah darah Aslan.

Dia berhasil melukai dan menggores kulit Bangsa Zodijak hingga berdarah…?

Aslan sendiri membeku di atas tubuh Mischa, tangannya yang tadinya mencengkeram leher Mischa terlepas, lalu menyentuh pipinya sendiri yang terluka dan mengucurkan darah.

Seharusnya dirinya tidak berdarah hanya karena sebuah cakaran dari tangan manusia perempuan yang lemah. Kulit yang melapisi tubuh Bangsa Zodijak sangat kuat, tidak tertembus dan juga memiliki kemampuan regenerasi sangat cepat…

Tapi ini adalah darah… Aslan menunduk ke arah Mischa, mendekatkan wajahnya semakin dekat ke wajah perempuan itu, menghidu kembali aroma manis yang tidak ditemukannya pada makluk apapun sebelumnya.

“Sebenarnya, kau ini apa?” Aslan menggeram, dipenuhi kemarahan ketika membayangkan ada manusia-manusia semacam Mischa ini di bumi, yang memiliki kemampuan untuk melukai Bangsa Zodijak dengan tangan kosong.

Sebenarnya Mischa ini apa? Apakah dia adalah makluk penelitian yang digunakan sebagai senjata untuk melawan Bangsa Zodijak? Apakah saat ini kaum manusia tengah mengembangkan senjata itu untuk melawan mereka? 

Jika memang ini yang terjadi, maka situasi perang yang seharusnya bisa mereka menangkan dengan mudah akan berbalik melemahkan mereka.

Aslan harus menunjukkan Mischa ke saudara-saudaranya, tapi dia tidak bisa membawa perempuan itu dalam kondisi seperti ini.

Pada akhirnya, Aslan mengerutkan kening, bersiap menggigit Mischa dan menyalurkan racun yang membuat perempuan itu menjadin budaknya.

Aslan tidak suka mengangkat sembarang manusia menjadi budaknya. Dia tidak membagikan racunnya yang berharga begitu saja kepada manusia. Hanya orang-orang yang tepat yang akan dia gigit untuk dijadikan  budak dengan tanda darinya.

Sayangnya, saat ini, dia tidak punya pilihan lain.

Ketika kepala Aslan menunduk ke lehernya, tahulah Mischa bahwa dia akan digigit, bahwa dia akan dijadikan budak yang kehilangan jiwa, menjadi tubuh kosong tiada makna.

Mischa memejamkan matanya, berusaha mendorong tubuh Aslan dalam upaya tanpa makna, air matanya bercucuran ketika bibirnya memekikkan penolakan, sebuah pertahanan terakhir yang dia miliki.

“Tidak… tidak! Jangan!” pekikan Mischa tertelan ketika dia merasakan rasa nyeri menyengat di lehernya ketika gigi Aslan yang tajam menembus kulitnya, merobek jaringan tubuhnya dan menghancurkan kesadarannya.

Pada akhirnya, tubuh Mischa lunglai ketika dia menyerah, membiarkan kegelapan menelan jiwanya.

***

“Aslan tidak kembali semalam.” Akrep menatap saudara-saudaranya yang sedang duduk menikmati minuman di pagi hari yang cerah.

Mereka semua tinggal di sebuah istana, yang dibuat khusus dari bebatuan hitam yang berasal dari planet asli mereka. Bebatuan itu sangat kuat, berkilauan dan tidak tertembus oleh senjata apapun yang ada di dunia manusia. Istana itu berdiri megah di setengah melayang di sebuah negara yang mereka putuskan akan menjadi basis pertempuran mereka. Di sekeliling istana megah itu, tampak pasukan-pasukan Bangsa Zodijak sedang berlatih, lalu lalang di pelataran, pun dengan pesawat-pesawat super canggih yang menderu melewati jendela kaca bening tempat Akrep berdiri sekarang.

Istana ini dibangun sebagai pusat kendali pemerintahan yang baru, untuk memimpin perang dan mengarahkan pembangunan peradaban baru setelah mereka semua berhasil meluluh lantakkan peradaban lama hingga hilang tanpa bekas. Ketujuh pemimpin Bangsa Zodijak akan berkeliling dunia untuk memimpin pasukannya masing-masing, tetapi pada akhirnya mereka akan selalu kembali ke istana ini.

Kali ini, secara kebetulan, mereka semua bisa berkumpul di pagi ini, kecuali Aslan yang memang tidak pulang semalaman. Semua yang ada di dalam ruangan itu tampak mengangkat bahu tak peduli mendengar kalimat pertanyaan yang dilontarkan oleh Akrep,  mereka semua tahu bahwa Aslan sering lupa waktu ketika sedang berburu manusia, kadang Aslan bahkan tidak pulang selama berhari-hari, dan biasanya Akrep tidak mempedulikan itu.

“Kenapa kau peduli? Bukankah Aslan memang sering tidak pulang ketika dia memutuskan untuk berburu?” Sevgil bertanya dengan tenang sambil menyesap minumannya dengan nikmat. Air. Benda berharga yang membuat mereka semua beranjak mengarungi galaksi untuk mencarinya.

Bangsa Zodijak akan mati kalau tidak meminum air. Sebuah komoditas berharga yang menjadi penentu kelangsungan hidup mereka. Sayangnya, mereka dilahirkan di planet yang miskin air, dan ketika air yang ada di planet mereka benar-benar habis, Bangsa Zodijak akhirnya memilih pergi, mengangkat senjata di bawah tujuh pimpinan terkuat mereka dan menjelajah galaksi untuk menemukan planet-planet yang menghasilkan air untuk dikuasai.

Pada akhirnya, setelah menjajah planet-planet lain, meninggalkan jejak mereka di sana dalam pertempuran yang selalu berakhir dengan kemenangan, mereka akhirnya menemukan bumi. Sebuah planet yang berwarna biru karena penuh dengan air. Bumi akan menjadi tempat pemberhentian mereka mungkin yang terakhir, tempat di mana pada akhirnya mereka bisa menetap dan membangun peradaban baru. Dan untuk menciptakan itu semua, seluruh penghuni sebelumnya, yang hanya bisa mengotori tempat ini, harus dimusnahkan.

“Aku membutuhkan Aslan untuk mengatur strategi perang esok hari.” Sama seperti Akrep, Aslan memiliki kemampuan mengatur strategi yang sangat hebat.  Akrep dengan logika sistematiknya, dan Aslan dengan insting berburunya yang tajam, berdua mereka akan menciptakan strategi perang yang tak terkalahkan.

“Dia akan pulang kalau sudah puas bersenang-senang.” Sevgil menyahut dengan nada tak peduli, dengan rambutnya yang panjang dan sikapnya yang acuh tak acuh, Sevgil memang yang paling tampak urakan di antara semua saudaranya, lelaki itu malahan sibuk menatap air bening di dalam gelasnya, menyesapnya lagi lalu tersenyum lebar, “Tahukah kau bahwa air di bumi ini sangat unik? Berbeda dengan air di planet kita dulu yang rasanya selalu identik dimanapun sumbernya, air di bumi ini memiliki rasa yang berbeda-beda tergantung sumbernya.”

Akrep mengangkat alisnya dengan skeptis, “Air tetaplah air, sesuatu yang dibutuhkan tubuh kita. Mau bagaimana rasanya aku tidak peduli, yang penting itu adalah air dan itu sudah cukup.”

Sevgil mendengus, tidak suka dengan jawaban Akrep, “Kau sama sekali tidak memiliki selera kelas tinggi.” desisnya jengkel, lalu menolehkan kepala dan menatap ke arah Khar, yang paling pendiam di antara mereka semua, tahu bahwa biasanya Khar jarang membantah pendapat saudara-saudaranya yang lain,  “Tahukah kau bahwa di bumi ini, air bukan hanya dihasilkan dari sumber air seperti danau, laut atau sungai, tetapi kita bisa memerasnya dari buah-buahan?”

Khar hanya melirik sedikit, lalu membuang muka. Lelaki itu tidak suka berbicara dan sangat bertolak belakang dengan Sevgil yang suka mengoceh tanpa henti

“Aku sedang menikmati yang kau bilang itu, minuman ini cukup enak.” Kara-lah yang menyahut kemudian dari sudut ruangan, menunjukkan gelas berisi cairan merah yang dipegangnya, “Ini diambil dari buah yang bernama anggur, dan rasanya cukup enak.”

Sevgil baru saja membuka mulut untuk menanggapi sahutan Kara ketika tiba-tiba saja pintu ruangan mereka didorong untuk terbuka lebar dengan kasar.

Semua yang ada di dalam ruangan itu menolehkan kepala, dan menatap Aslan yang memasang wajah muram, mengenakan pakaian hitam-hitam yang menambah kemuramannya dan memanggul seorang anak manusia… perempuan di pundaknya.

“Kau tidak pernah membawa mangsa yang kau bunuh pulang ke rumah.” Akrep yang pertama menyahut, menatap Aslan dan makhluk yang dipanggulnya dengan curiga, “Ada apa?”

Aslan melangkah memasuki ruangan, masih membawa Mischa yang lunglai kehilangan kesadaran di pundaknya.

“Aku belum membunuhnya.” jawab Aslan dengan suara kasar.

Sevgil mengangkat alisnya, “Kau membawa budak? Seorang perempuan untuk menjadi budak?” serunya diikuti oleh tatapan mata tak percaya oleh yang lainnya. Aslan tidak pernah mengangkat seorang perempuan sebagai budak sebelumnya. Bahkan bisa dibilang Aslan sangat jarang mengangkat budak. Jadi melihat Aslan datang, membawa seorang budak perempuan tentu saja menjadi suatu hal yang mengejutkan bagi mereka semua.

“Dan kenapa kau terluka? Apakah kau bertarung dengan rekan kita yang lain?” Kali ini Kaza yang sejak tadi diam yang bertanya, luka cakaran di pipi Aslan memang terlihat mencolok, sudah mengering tapi tetap saja menyisakan bekas luka yang mencolok.

Aslan membanting tubuh lunglai Mischa di atas sofa yang kosong, berkacak pinggang dan menatap Mischa yang masih tidak sadarkan diri.

“Dia yang melakukannya.” ucap Aslan kemudian sambil mengedikkan dagu ke arah Mischa, membuat yang lainnya langsung menegang, menatap terkejut dan tak percaya.

“Itu tidak mungkin!” Akrep melangkah maju dengan waspada, membungkuk di atas tubuh Mischa yang terbaring di atas sofa dan mata tajamnya langsung melirik ke kuku-kuku jari Mischa, ada darah mengering berwarna gelap di sana, bukti nyata bahwa apa yang dikatakan oleh Aslan benar adanya.

Akrep terpaku, menatap ke arah Mischa dan Aslan bergantian, lalu ekspresinya berubah serius.

“Seorang perempuan biasa bisa melukai Kaum Zodijak dengan tangan kosong?” ujarnya lambat-lambat, “Apakah dia adalah hasil dari laboratorium senjata penelitian yang dibuat oleh manusia, untuk melawan kita?”

“Aku pikir juga begitu.” Mata Aslan yang gelap seluruhnya terpaku ke arah Mischa, “Jika memang mereka mengembangkan senjata seperti ini, makhluk kuat di balik tubuh yang seolah rapuh tak berdaya, maka kita harus mengatur ulang strategi kita. Musuh yang kita hadapi ternyata tak sebodoh yang kita kira.”

“Hei, berhenti bersikap terlalu serius,” Kara bangkit dari duduknya, melangkah ke depan, berdiri di samping Akrep lalu menunduk mengamati wajah Mischa yang tampak damai dengan mata terpejam, “Perempuan yang cantik.” suara Kara berubah bimbang, membuat yang lainnya saling berpandangan karena mereka tahu pasti bahwa penampilan perempuan ini seperti membuka kembali luka lama bagi Kara, “Setidaknya kita bisa menunggu sampai perempuan ini bangun.”

“Tidak ada gunanya kita menunggu perempuan ini bangun.” Aslan menyela, mencoba mengalihkan tatapan mata Kara yang seolah terpaku tak mau beralih dari wajah Mischa, “Aku sudah menggigit dan mengalirkan racunku ke darahnya. Dia akan terbangun dengan jiwa ‘kosong’ sebagai budakku, kita tidak akan bisa berkomunikasi dengannya.”

“Setidaknya kita memiliki tubuhnya untuk diteliti.” Akrep menyela cepat, memutuskan dengan bijaksana, lalu menoleh ke arah Yesil yang sejak tadi mengamati semua kejadian sambil menopang dagunya santai, “Kau siapkan alat-alatmu, kita akan meneliti tubuh perempuan ini.” Yesil adalah satu-satunya saudara mereka yang memiliki kemampuan di bidang penelitian biologis, khususnya tubuh manusia. Mereka bisa mengalahkan manusia secara lebih efektif, selain berkat kekuatan mereka, juga berkat penelitian dari Yesil yang menghasilkan data menyangkut kelemahan-kelemahan tubuh manusia.

“Dia terbangun.” Khar yang sejak tadi terdiam tiba-tiba berbicara, kali ini berhasil membuat seluruh tatapan mata gelap ketujuh lelaki pemimpin Bangsa Zodijak itu tertuju pada satu perempuan yang bergerak pelan dan mengerjapkan mata karena kesadarannya telah kembali.

***

Mischa mengerjapkan mata, dia merasa mual dan kepalanya pusing. Dirinya kehilangan orientasi, tidak ingat kenapa dia ada, bagaimana dia ada, dan apa yang terjadi kepadanya.

Ketika berhasil membuka matanya dan memusatkan pikiran, Mischa langsung terpekik ketika menyadari bahwa dirinya berada di satu ruangan, dengan beberapa pasang mata berwarna gelap memandangnya tajam. Ingatannya langsung kembali, ke dini hari yang mengerikan ketika dia diserang dan digigit oleh Aslan.

Mata Mischa bergerak dengan panik, dan ketika dia mengenali wajah Aslan ada di salah satu dari makhluk buas yang mengelilinginya, ketakutan langsung merayapi dirinya, membuatnya pucat pasi.

Seketika Mischa mencoba bangkit, berusaha meloncat dari sofa tempatnya berada dan berakhir di tembok yang menghalangi punggungnya.

“Menjauh dariku!” teriak Mischa panik, tubuhnya gemetar ketakutan sementara matanya menatap makhluk-makhluk asing di depannya berganti-ganti, dipenuhi teror layaknya mangsa yang dirubungi banyak predator yang siap menerkamnya, “Pergi! Menjauh dariku!”

Kara membelalakkan mata melihat reaksi Mischa, dia memandang ke arah Aslan dengan takjub,

“Kau benar-benar sudah menggigitnya?” desisnya tak percaya.

Aslan menganggukkan kepala sambil menggertakkan gigi, “Kau bisa lihat bekas luka di lehernya bukan? Ada tandaku, di sana.” geramnya marah.

Bekas luka itu memang tampak jelas di leher Mischa, membentuk bayangan urat hitam laksana tato yang mengalur dan menyambung menjadi satu huruf khas yang melambangkan diri Aslan. Guratan khas itu berbeda-beda terukir di tubuh manusia, tergantung siapa yang menggigit mereka dan racun siapa yang mengaliri darah mereka, guratan itu juga menentukan budak-budak itu dimiliki oleh siapa. Dan guratan yang terpampang jelas di leher Mischa menunjukkan bahwa dia memang sudah ditandai oleh Aslan.

zodiac-signs

 

“Tapi dia tidak berubah menjadi budakmu. Dia masih memiliki kesadarannya yang lama, bukannya menjadi kosong tanpa jiwa…” Kara berbisik lagi, kali ini penuh dengan rasa tertarik, “Sepertinya racunmu tak mempan.” tanpa bisa dicegah dan didorong oleh rasa ingin tahu yang meluap, Kara melompati sofa lalu mendesak Mischa yang ketakutan di tembok, “Aku jadi penasaran…”

Tangan Kara bergerak, hendak mencengkeram tangan Mischa, dan refleks, Mischa memukul, menyerang dan menampar untuk mempertahankan diri. Sayangnya, berbeda dengan ketika dia menyerang Aslan, kulit Kara terasa begitu keras, begitu tak tertembus hingga seluruh usahanya sia-sia.

Kara terus mencoba mencengkeram tangan Mischa, dan Mischa terus menjerit karena tidak mau disentuh, sampai akhirnya, Aslan meloncat gesit, berdiri di antara Mischa dan Kara, membentengi dengan tubuhnya.

“Hentikan!” Aslan meraung, membuat Kara seketika berhenti dan terpaku.

Ruangan itu hening seiring dengan kemarahan Aslan yang menguar memenuhi seluruh penjurunya.

Kara sendiri meremas pergelangan tangannya, menyentuh kulit dan pipinya yang tidak terluka suatu apapun dan menatap saudara-saudaranya berganti-ganti.

“Cakarannya tidak melukai kulitku sama sekali.” simpulnya pelan, “Jangan-jangan…perempuan ini hanya bisa melukai Aslan, sepertinya perempuan ini adalah sebuah senjata yang dibuat khusus untuk membunuh Aslan…”

Bersambung ke Part berikutnya

858 Komentar

  1. lemonpinkskyyy menulis:

    :mimisankarnamu

  2. Asiah Silita menulis:

    Sumpah ini ceritanya bagus banget :ayojadian :ayojadian :ayojadian

  3. Bella Miacara menulis:

    Nama2nya keren..

  4. Antika Hadinata menulis:

    :ayojadian

  5. Leni Meilina menulis:

    :bantingkursi

  6. No..no…no Kara
    Mischa dibuat unt jadi jodohnya Aslan :sebarcinta

  7. Lusy Fitriyani menulis:

    Suka karakter mischa disini,berani melawan dan pantang menyerah :gakmauahgakmau

  8. Kiara julian menulis:

    :DUKDUKDUK

  9. mrswhiteee_ menulis:

    :menor

  10. Keren banget dah

  11. riyamuchtar menulis:

    :ayojadian

  12. Ariyantipita menulis:

    :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

  13. Ternyata keren bgt ceritanya :babeinicintaku

  14. mayasazkia menulis:

    :DUKDUKDUK

  15. Ana jubaidah menulis:

    Keren

  16. Bagus bgt :kumenangismelepasmu

  17. Anggi putri menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta :sebarcinta

  18. Ayo mischa :luculuculucuih

  19. Kira Yamato menulis:

    :kumenangismelepasmu 5

  20. Anastasya Wahyu menulis:

    :kumenangismelepasmu

  21. Tiap part ini pasti tegang deh ikutan

  22. Yuni Widaningsih menulis:

    Jadi ngebayangin visualnya Aslan kayak gmn ya :awaskubalasnanti ganteng ganteng nyeremin :habisakal

  23. Ini kayaknya ke 5 kali aku baca ulang lagi. Gak pernah bosan saking sukanya dgn wb cerita ini 😍😍

Tinggalkan Balasan