inevitable-war
Inevitable War

Inevitable War Part 3 : The Lion and The Water Maiden

Bookmark

No account yet? Register

2.110 votes, average: 1,00 out of 1 (2.110 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

https://youtu.be/r0gy7rz-cFs

Author Playlist : Flume feat Kai, Never be Like you

I’m only human, can you see. I made mistake.

Please just look me in my face, tell me everything is okay. Cause i got it, i never be like you


 

inevitable-war

 

Semua yang ada di ruangan itu terpaku mendengar perkataan Kara, dan hal itu dimanfaatkan Mischa untuk mencoba menyelamatkan diri, dia menggeser tubuhnya perlahan, melihat jalan kecil di antara sofa dan tembok, mengukur dengan cepat ke arah pintu, dan tanpa pikir panjang langsung meloncati sofa kembali, mencoba merangsek ke pintu keluar yang terbuka lebar.

Ini semua diluar dugaannya, Mischa sama sekali tidak menyangka bahwa dia akan terbangun dengan kesadaran penuh seperti ini. Mereka bilang racun Aslan tidak mempan… benarkah?

Mischa tahu pada akhirnya dia akan dibunuh juga, dan otaknya yang cerdas langsung menyimpulkan dengan cepat kata-kata lelaki asing bermata hitam yang mencoba menyentuhnya dengan paksa tadi.

Dirinya adalah sebuah anomali, karena bisa melukai Aslan tapi tidak bisa melukai yang lain, sesuatu yang bahkan Mischa sendiri tidak bisa menjelaskan. Dirinya bahkan dicurigai sebagai sebuah senjata. Dan semua itu hanya berarti satu hal : Mischa akan dijadikan sebagai objek penelitian oleh Bangsa Zodijak.

Bangsa Zodijak dikenal suka mengambil manusia baik hidup ataupun dalam bentuk jasad mati sebagai objek penelitian, hal itu karena katanya, salah seorang dari tujuh pemimpin Bangsa Zodijak ada yang terobsesi mempelajari tubuh manusia. Manusia-manusia malang yang dijadikan objek penelitian itu bisa berakhir mengenaskan, dibedah tanpa ampun, disuntik berbagai macam obat, bahkan menjalani berbagai siksaan fisik yang mengerikan sebelum kemudian dibunuh.

Lebih baik Mischa mati cepat dalam percobaan melarikan diri daripada harus menjadi kelinci percobaan bagi Bangsa Zodijak.

Tubuh Mischa yang lincah berhasil meloncati sofa, hendak berlari ke arah pintu sampai sebuah tangan yang kuat menarik pinggangnya dengan kasar, menghentaknya mundur hingga menabrak tubuh keras pemilik tangan itu.

Mischa mendongak, dan ketika dia menyadari sedang berada di cengkeraman siapa, menjeritlah dia, disusul dengan gerakan histeris menendang, mencakar, menyikut sekuat tenaga dalam usahanya untuk dilepaskan.

Aslan sendiri berusaha meredam gerakan histeris Mischa. Tangannya bergerak ke bibir Mischa hendak menutup mulut yang menjerit itu. Tapi tanpa diduga, Mischa menggigit tangan itu kuat-kuat hingga mengucurkan darah.

“Sial!” Aslan mengumpat kasar, lalu dengan gerakan cepat membanting tubuh Mischa di lantai dan menempatkan dirinya sendiri di atas tubuh Mischa, kakinya menahan kaki Mischa dan tangannya mencengkeram kedua tangan Mischa, mematrinya kuat di lantai hingga Mischa tidak bisa bergerak.

Aslan membungkuk, mendekatkan wajahnya ke arah Mischa dengan mata hitamnya yang menyeramkan, membuat Mischa pada akhirnya memejamkan mata dan memalingkan wajah karena takut.

Napas Mischa terengah, hasil dari pemberontakannya yang menguras tenaga, dan makin tercekik ketika Aslan mengucapkan kalimat ancamannya yang mengerikan.

“Kalau kau terus meronta seperti ini, aku akan mematahkan tangan dan kakimu hingga kau tak bisa bergerak.” Mata Aslan mengarah ke bekas gigitan yang berdarah di tangannya, “Dan kalau kau sampai berani-beraninya menggigitku lagi, akan kurontokkan semua gigimu. Lalu kau tak akan kubiarkan mati, akan aku pastikan kau hidup dan merasakan kesakitan serta penderitaan.”

Ancaman itu rupanya cukup efektif, membuat tubuh Mischa membeku kaku seolah takut bergerak.

Akrep dan yang lainnya menatap pertunjukan menarik di depan mereka tanpa kata. Menarik, karena baru kali ini mereka melihat Aslan kerepotan menangani seorang manusia perempuan, dan takjub karena Aslan tidak kehabisan kesabaran lalu langsung membunuh manusia yang melawan seperti yang biasa dilakukannya.

Akrep menatap bergantian ke arah Aslan yang sedang melotot marah kepada Mischa yang terlihat lemas di bawah tubuhnya.

Pada akhirnya Akrep bergerak maju, berusaha memberikan jalan keluar terbaik, seperti yang selalu dilakukannya sebagai yang tertua dalam keluarga.

“Apa yang dikatakan oleh Kara hanyalah dugaan, meski kupikir kemungkinan besar itu benar.” mata Akrep melirik ke bekas luka gigitan yang mengucurkan darah segar di tangan Aslan. “Tapi kita tidak akan tahu sebelum melakukan semua test yang diperlukan. Perempuan itu akan diteliti di laboratorium.” Ditatapnya Aslan yang sedang mencengkeram kedua tangan perempuan itu, “Berikan dia kepadaku, Aslan, Yesil akan membiusnya sesuai prosedur lab.”

“Langkahi dulu mayatku!” Aslan meraung masih dengan kemarahan yang sama, “Aku membawa perempuan itu kesini hanya untuk menunjukkan kemungkinan senjata yang dibuat oleh kaum manusia untuk melawan kita. Tapi aku tidak pernah menyerahkan buruanku kepada siapapun, tidak juga kepadamu, Akrep.” tantangnya dengan desisan mengancam, menunjukkan keseriusannya.

“Apakah kau tidak sadar bahwa membiarkan perempuan itu berada dekat denganmu, sama saja mempertaruhkan nyawamu sendiri?” Akrep menggeram marah melihat kekeraskepalaan Aslan. Pikirannya yang logis tidak bisa menerima kelakuan Aslan yang tampak primitif saat ini, “Kemarin cakaran, hari ini gigitan, besok bisa saja dia membunuhmu.”

“Perempuan ini tidak akan mampu membunuhku.” Aslan bangkit, berucap dengan sombong sambil menarik Mischa yang berdiri dalam ketakutan dan terpaksa mengikuti, “Dan dia adalah budakku.” ujarnya kemudian dengan nada tak terbantahkan.

“Dia bukan budakmu.” Kara menceletuk kembali, memusatkan perhatian semua orang padanya, “Racunmu tak mempan padanya. Mungkin kalau aku yang menggigitnya, barulah dia menjadi budak yang sesungguhnya, budakku…” sambungnya menawarkan.

Mata Aslan langsung berkilat marah mendengar itu, bibirnya menipis ketika mengeluarkan kalimat ancaman.

“Sentuh dia sedikit saja maka kau akan berhadapan denganku…”

“Whoaa… Oke, Aslan… berhenti mengancam kami seperti ini.” Kaza tiba-tiba saja bergerak maju dan berdiri di antara Aslan dan Kara, melemparkan pandangan penuh peringatan kepada Kara, meminta adik kembarnya itu supaya mundur dan tidak memancing lagi kemarahan Aslan, “Kau boleh membawa anak perempuan itu semaumu, Aslan. Dia milikmu.” tambahnya.

Akrep mengerutkan kening tidak setuju.

“Setidaknya biarkan Yesil mengambil darahnya, Aslan.” ucapnya dengan nada persuasif, “Kalau memang dia adalah senjata untuk membunuh kaum kita, kita harus menyelidikinya.”

Aslan termenung, menunduk sedikit untuk menatap Mischa yang berdiri kaku dengan wajah pucat pasi di dekatnya. Kedua tangan perempuan itu masih berada dalam cengkeramannya, dan rupanya ancamannya tadi cukup berpengaruh, karena sekarang perempuan itu terdiam ketakutan dengan tubuh kaku.

Aslan lalu menganggukkan kepala, menyadari kebenaran dalam kata-kata Akrep. Didorongnya tubuh Mischa supaya duduk kembali di sofa sementara tangan besarnya mencengkeram pundak Mischa yang kurus, lalu mengedikkan dagunya ke arah Yesil,

“Ambil darahnya.” perintahnya dengan nada arogan.

Yesil yang sejak tadi bertopang dagu, tersenyum, tampak tidak terpengaruh dengan sikap arogan Aslan. Dengan tenang dia mengambil peralatan yang dibawanya.

Yesil, yang berambut warna cokelat muda, hampir sama seperti Sevgil, memang memiliki hasrat yang cukup besar untuk mempelajari tubuh manusia. Dengan kekuatannya, Yesil begitu tangguh memimpin pasukan untuk berperang, tapi ketika dia tidak sedang berperang, Yesil akan menghabiskan waktu dan seluruh perhatian di lab yang dibangun khusus untuknya, sibuk meneliti dan mempelajari mengenai tubuh manusia.

Dengan membawa peralatannya Yesil mendekat, bersikap tenang tanpa suara, lalu berlutut di depan Mischa.

Ketika Mischa menunduk menatap Yesil, dilihatnya lelaki itu balas menatap, mata hitamnya berkilauan dan bibir Yesil mengurai senyum lebar dengan maksud bersikap ramah, tapi malah membuat Mischa beringsut ketakutan dengan tubuh gemetar hebat.

“Aku tidak akan menyakitimu, manusia.” Yesil bergumam tenang, suaranya terdengar lembut, “Hanya seperti sengatan kecil dan semua selesai.”

Mischa menatap alat yang dikeluarkan Yesil dari kotak yang dibawanya, sebuah tabung mini dari bahan berkilauan serupa platinum. Ingin rasanya Mischa memberontak sekuat tenaga,  tapi dia merasakan cengkeraman Aslan di bahunya mengencang penuh ancaman, membuat tubuhnya kaku tak berani bergerak.

Yesil mengamati tangan Aslan di pundak Mischa, mengangkat alis sambil menahan senyum, lalu tangannya bergerak untuk mengambil tangan Mischa.

Merasakan sentuhan dari salah satu makhluk buas yang merupakan musuhnya itu, Mischa langsung berjingkat, berusaha menarik tangannya dan beringsut mundur.

Seketika itu juga, cengkeraman di bahunya yang kurus mengeras, membuat Mischa meringis kesakitan.

“Diam dan berikan darahmu.” Aslan mendesis penuh ancaman, membuat gemetaran Mischa semakin hebat, tapi pada akhirnya dia mengulurkan tangannya ke arah Yesil, yang segera mengambil tangan Mischa dengan lembut lalu meluruskan lengan Mischa dengan telapak tangan menengadah ke atas. Dengan gerakan tak kalah lembut, Yesil menyingkap lengan pakaian Mischa yang kebesaran dan menggulungnya sampai ke atas.

“Kau membuatnya ketakutan, Aslan.” ucap Yesil pelan sementara sebelah jemarinya mengambil cairan khusus dan mengoleskannya ke bagian dalam siku Mischa

“Dia budakku. Seorang budak sudah seharusnya takut pada tuannya.” Aslan menjawab dingin sambil melirik ke bawah, ke arah Mischa, dengan tatapan mencemooh.

“Dia bukan budakmu, racunmu tak mempan kepadanya.” Kara yang sedari tadi diam karena ditahan oleh kakak kembarnya tergelitik untuk kembali mengutarakan pendapat, tetapi mulutnya langsung menutup ketika sekali lagi Kaza yang masih berdiri di depannya melemparkan tatapan tajam memperingatkan.

“Ada tandaku di sana. Dia milikku.” Aslan menggeram dan menatap Kara dengan tajam, “Aku tahu kau suka mencicipi wanita-wanita manusia, dan yang satu ini sepertinya membuatmu tertarik. Tapi dia milikku, Kara.”

Kara mengangkat bahu, “Aku hanya penasaran bukannya tertarik padanya.” matanya melirik ke arah Mischa meremehkan, “Dia jelas bukan seleraku, terlalu kurus, kurang gizi dan seluruh badannya kotor terkena pasir…”

Mischa mengerutkan kening mendengar kalimat ejekan Kara, seketika dia menatap dirinya sendiri dan pipinya memerah malu ketika menyadari kebenaran kata-kata Kara. Pakaiannya memang kotor, penuh dengan pasir, pun dengan tubuhnya yang entah berapa lama tidak mendapatkan kemewahan untuk mandi.

Seluruh sumber dan pasokan air telah direbut dan dijaga oleh pasukan Bangsa Zodijak hingga bagi Kaum Penyelinap sendiri, air adalah kemewahan. Untuk minum mereka mencuri dari saluran air bawah tanah atau menampung hujan, sedang untuk mandi mereka hanya bisa mengandalkan hujan.

Lamunan Mischa tersentakkan ke dunia nyata ketika tiba-tiba tabung mini itu menempel di kulitnya, memberikan sensasi sedingin es, lalu terasa seperti cubitan kecil sebelum kemudian alat itu menyedot darahnya, dan warnanya yang semula platinum berubah menjadi merah darah seiring dengan darah Mischa yang terambil memenuhinya.

Setelah seluruh warna tabung itu berubah merah, Yesil melepaskan tabung itu dari kulit Mischa dan meletakkannya di kotak yang sudah disiapkannya dengan hati-hati.

Ketika hendak bangkit kembali, Yesil melirik tanpa sengaja ke arah lengan Mischa yang tadi tidak diperhatikannya, dan seketika ekspresinya berubah serius. Lelaki itu mengedikkan bahunya ke arah sisi atas lengan Mischa yang tersingkap dan menatap tajam,

“Sejak kapan kau memiliki tanda itu?”

Mischa mengerutkan kening, mengikuti arah pandangan Yesil dan menunduk untuk melihat, pun dengan yang lain yang ikut melihat dengan tertarik.

photogrid_1474296692812

Mischa kebingungan ketika melihat sebuah tanda yang sama sekali tidak dikenalnya, terpatri dengan warna hitam serupa tato.

“Sejak kapan kau memiliki tanda itu?” Kali ini suara Aslan yang menggeram dan mengulang pertanyaan Yesil, membuat tubuh Mischa terloncat kaget.

Pada akhirnya, setelah mengatasi ketakutannya, Mischa menggelengkan kepala.

“Tidak tahu…” jawabnya pelan, “Sebelumnya tidak ada.”

Semua mata yang ada di ruangan itu saling melempar pandang dalam diam, hingga Aslan yang saat ini mengerutkan kening dengan ekspresi muram memecah keheningan itu.

“Karena itulah aromanya begitu lezat.” desisnya.

“Aku tidak mencium aroma apa-apa.” Akrep mengendus, menggelengkan kepala, kemudian menoleh kepada saudara-saudaranya, “Bagaimana dengan kalian?”

Semuanya menggeleng serentak lalu memandang Mischa dan Aslan berganti-ganti dengan berbagai ekspresi yang tak bisa ditebak.

“Aroma lezat yang seperti apa?” Yesil yang masih terpaku pada tanda di lengan Mischa bertanya dengan penuh rasa ingin tahu, “Apakah aroma itu membuatmu ingin memakannya?”

Mischa terkesiap dan wajahnya pucat pasi, sementara Aslan mengerutkan keningnya tidak suka mendengar pertanyaan itu.

“Aku tidak akan merendahkan diriku dengan memakan daging manusia.” jawab Aslan kemudian, dengan suara geram menahan rasa tersinggung.

Meskipun kebutuhan utama Bangsa Zodijak adalah air, mereka tetap butuh makan. Bangsa Zodijak memang memiliki selera tinggi dalam hal makanan. Makanan adalah sesuatu yang megah, yang dimasukkan di tubuh mereka dengan tujuan menjaga kondisi dan memperkuat tubuh, karena itu menunya dibuat dengan seksama. Menu utama makanan mereka adalah hewan ternak dari planet asli Zodijak yang diternakkan dan hanya diberi pakan kualitas tinggi yang diperhitungkan matang-matang. Oleh sebab itu, daging manusia, yang Bangsa Zodijak sebut sebagai ‘pemakan sampah’ dianggap tidak layak untuk disantap

“Kita mungkin bisa membahas ini nanti setelah Yesil selesai meneliti darah perempuan itu,” Akrep menyela, lalu mengerutkan kening ketika meneliti kondisi Mischa, “Suruh dia mandi, Aslan. Dia kotor sekali.”

Penampilan Mischa memang sangat kotor, dia penuh dengan pasir dan tanah dari ujung kepala sampai ujung kaki. Bahkan pakaiannya yang berlapis dan compang-camping pun begitu kotor berlapis tanah, pun dengan wajahnya yang coreng moreng terkena lumpur dan pasir basah yang sudah mulai mengering.

“Kau akan membawanya ke area-mu?” Yesil menggelengkan kepala tidak setuju, “Semua budakmu laki-laki dan kau sama sekali tidak punya budak perempuan, Aslan. Tidak ada budakmu yang bisa mengurusnya. Lebih baik dia ikut ke laboratoriumku, aku punya beberapa budak perempuan yang bisa menanganinya dengan baik.”

“Tidak.” Aslan menolak dengan satu kata tak terbantahkan, dia lalu memiringkan kepala sedikit, memanggil salah seorang budaknya dalam diam, dan dua orang budak langsung datang menghadap. Seorang Tuan memang memiliki hubungan pikiran dengan budaknya, hingga mampu memanggil budaknya itu dengan kekuatan pikiran tanpa kata.

Aslan mendorong tubuh Mischa ke arah dua budaknya, dan dua lelaki manusia dengan tatapan mata kosong itu langsung menangkap lengan Mischa di sisi kiri dan kanan.

“Antar dia mandi.” perintah Aslan tenang.

Kedua budak itu mengangguk, lalu setengah menyeret Mischa keluar dari ruangan.

Lama kemudian, mereka semua masih menatap pintu tempat Mischa menghilang, sampai kemudian Akreplah yang berbicara, dengan ekspresi benar-benar serius.

“Apakah kalian sama denganku? Langsung teringat dengan kisah si singa dan si pengambil air?”

Semua mengangguk samar. Kisah si singa dan si pengambil air adalah kisah yang ada sejak lama di Bangsa Zodijak, dikisahkan dari para tetua mereka di masa lampau lalu diceritakan secara turun temurun.

Alkisah ada seorang laki-laki yang memiliki kekuatan luar biasa. Karena kekuatannya itu dia berubah menjadi seekor singa berbulu emas yang sedang kelaparan, singa itu memutuskan akan memakan makhluk hidup apapun yang ditemuinya pertama kali. Kemudian, ketika melanjutkan perjalanan berhari-hari lamanya dan tak menemukan apapun, singa itu sampai di tepi danau, dan bersua* dengan seorang perempuan yang sedang mengambil air untuk masukkan di kendi-kendi yang dibawanya. Ketika melihat perempuan itu, si singa habis akal, hendak meloncat dan menerkam si pengambil air lalu menggigitnya. Tapi si perempuan pengambil air lebih sigap. Ketika melihat singa itu hendak menyerangnya, dia mengambil kendinya yang penuh berisi air ajaib, dan menyiramkannya ke tubuh si singa. Air itu membuat si singa kembali ke wujud asalnya sebagai seorang laki-laki, pun dengan kekuatan si singa yang juga hilang. Kehilangan daya, si singa pun tunduk dan menyerah pada perempuan pemegang air. “Aku hanya lapar.” ucap si singa dalam nada memelas. Perempuan pengambil air itupun terenyuh, dia membawa singa itu pulang ke desanya, lalu memberinya makan.

Karena singa itu telah berperilaku baik, perempuan itu kemudian memberi si singa air yang lain, yang bisa mengembalikan kekuatannya, lalu menyuruh singa itu pergi. Si singa ternyata tak mau pergi, dia terpesona pada kebaikan hati perempuan itu dan memutuskan untuk mendampinginya selamanya dan kembali pada wujud aslinya sebagai seorang laki-laki. Pada akhirnya, si singa yang juga disebut Sang Raja terus mendampingi perempuan pengambil air sebagai pasangannya, dan merekalah yang menjadi cikal bakal Bangsa Zodijak. Sang Raja menurunkan kekuatannya yang luar biasa kepada keturunannya, dan pasangannya menurunkan hasrat dan pemujaan akan air sebagai sumber utama kebutuhan mereka.

Perempuan pengambil air itu ternyata adalah seorang Dewi yang memiliki tugas untuk menuangkan air ke seluruh wilayah dan sumber mata air, di tangannyalah air melimpah ruah, memberikan berkat bagi seluruh Bangsa Zodijak. Dahulu kala diceritakan bahwa planet mereka kaya dan melimpah akan air, tetapi entah kenapa beratus tahun yang lalu, karena berbagai peristiwa alam, air semakin surut dari planet mereka untuk kemudian hilang sama sekali.

Di kalangan Bangsa Zodijak, tokoh perempuan pengambil air memiliki kedudukan tertinggi, kadang juga dipanggil dengan Sang Ratu. Itu semua karena dia menguasai air, sesuatu yang sangat dibutuhkan oleh Bangsa Zodijak, Bangsa Zodijak lebih membutuhkan air daripada makan. Air inilah yang bahkan menjadi alasan seluruh Bangsa Zodijak meninggalkan planet asal mereka, dan berperang tiada henti.

Ketika air di planet mereka habis tak bersisa karena bencana alam beruntun tanpa sebab beratus tahun yang lalu, seluruh Bangsa Zodijak berpikir bahwa Perempuan pengambil air telah meninggalkan planet mereka dan membawa seluruh berkatnya. Karena itulah mereka menyusul demi mencari air dan menemukan kembali berkat dari si perempuan pengambil air.

Akrep menipiskan bibir sementara ekspresinya mengeras,

“Perempuan itu memiliki tanda air di lengannya.”

Sevgil mengangkat alis,

“Oh ayolah, Akrep. Apakah kau sedang menghubung-hubungkan dengan mitologi kita? Apa kau pikir karena planet bumi ini penuh air, maka perempuan pengambil air juga ada di bumi ini?”

“Aku memang berpikir seperti itu. Perempuan ini membuat Aslan-Si Singa tertarik, sama seperti kisah mitologi itu bukan?”

“Bisa saja tanda itu sengaja ditatokan atau dibuat dengan sengaja sebelumnya, atau bisa saja tanda itu hanyalah bekas luka yang mirip dengan lambang air.” Kara menyela, “Aku masih tetap berpikir bahwa perempuan itu adalah senjata yang dibuat sebagai kelemahan Aslan. Kaun manusia mungkin mengetahui kisah mitologi kita, jadi mereka memberi tanda air di lengannya, supaya kita berpikir bahwa perempuan itu adalah perempuan pengambil air yang kita hormati dalam mitologi kita.”

“Tanda itu tidak ada sebelumnya.” Yesil tiba-tiba menyahut sambil berpikir, “Aku pikir tanda itu baru muncul setelah Aslan menggigitnya.”

Mereka semua terdiam, sampai akhirnya Aslan mendengus kasar dan bergerak untuk meninggalkan ruangan.

“Kau mau kemana, Aslan?” Akrep langsung bertanya dan menghentikan langkah Aslan.

“Kembali ke areaku.” Aslan mengangkat alis dan menatap Akrep dengan tatapan menantang, “Kau tidak pernah mengurusi apa yang akan atau tidak akan kulakukan sebelumnya, Akrep. Dan kuharap akan terus seperti itu.” desisnya penuh ancaman.

Tapi Akrep terlalu sibuk berpikir untuk takut pada ancaman yang dilemparkan Aslan kepadanya.

“Jangan dekati perempuan itu dulu, Aslan.” Akrep memberikan nasehat dengan nada serius, “Aku tahu dia menarikmu dengan aromanya, sepertinya dia memang dibuat untuk membuatmu tertarik… jangan tergoda padanya sampai Yesil selesai meneliti perempuan itu dan kita tahu, sebenarnya dia ini apa.”

Aslan tidak menjawab, melemparkan tatapan tajam pada saudara-saudaranya, lalu melangkah pergi sambil membanting pintu di belakangnya.

***

Mischa setengah diseret melalui lorong-lorong istana berdinding hitam oleh dua orang manusia yang sudah tanpa jiwa dan berubah menjadi budak. Mereka melewati banyak sekali makhluk-makhluk Zodijak yang berlalu lalang, membuat Mischa terkesiap ketakutan karenanya. Sebagian dari makhluk-makhluk itu sibuk dengan pekerjaannya. Sedangkan sebagian lagi tampak tertarik, mengamati Miacha penuh rasa ingin tahu, tapi begitu melihat lambang Aslan di leher Mischa dan kedua budak yang mengapitnya, ekspresi mereka berubah dan langsung menjaga jarak dengan takut.

Mereka lalu memasuki sebuah kamar cukup luas yang sekali lagi nuansanya begitu gelap. Mischa tidak sempat mengamati ruang kamar itu karena dirinya dengan kasar langsung didorong ke sebuah ruang mandi yang sangat luas. Salah seorang budak mengucapkan kata “mandi” dengan gerakan mulut dan tanpa suara, lalu mengunci pintu dari luar dan meninggalkan Mischa sendirian di sana.

Mischa memandang ke sekeliling, ke area besar serupa permandian dengan pancuran yang dibatasi tirai di sisi satu, dan kolam mandi di tengah ruangan.

Karena tahu bahwa dia tidak akan dikeluarkan dari ruangan ini sebelum dia mandi, Mischa mengangkat bahu, melepaskan pakaian, meletakkannya di keranjang yang telah tersedia, lalu masuk ke bawah pancuran, menutup tirai dan menyalakan pancuran.

Air hangat langsung menimpa tubuhnya dari pancuran atas, memijit kepala dan pundaknya dengan sangat nikmat.

Mischa berpegangan ke dinding kristal hitam yang berkilauan itu. Cahaya redup ruang mandi membuatnya bisa melihat pantulan dirinya di dinding hitam, tampak kurus dan menyedihkan.

Pandangan Mischa beralih dari pantulan dirinya ke sekeliling ruang mandi. Mischa menemukan sebuah botol kaca berkilauan yang menempel di dinding, botol itu berisi cairan berwarna oranye bening yang menggoda. Dengan penuh rasa ingin tahu, disentuhnya botol itu, tanpa sengaja menemukan sebuah tombol yang langsung disentuhnya.

Cairan kental keluar dari botol itu dan Mischa menampungnya dengan telapak tangan, menatap cairan itu dengan curiga. Didekatkannya cairan itu ke hidungnya dan aroma lemon yang pekat langsung menyapa hidung. Masih dipenuhi keingintahuan, Mischa menjilat cairan itu dan mengerutkan kening sedikit karena rasanya getir.

Mungkinkah ini sabun mandi?

Mandi dengan air bersih adalah kemewahan baginya, apalagi mandi dengan sabun… itu adalah sesuatu yang luar biasa mewah, yang bahkan Mischa tidak berani membayangkan akan merasakannya lagi.

Mischa menyentuhkan cairan itu di air, lalu menggosok-gosokkan kedua tangannya menciptakan busa yang menguarkan aroma lemon segar memenuhi ruangan.

Dengan hati-hati disentuhkannya sabun itu di tubuhnya. Busanya terasa dingin ketika menyentuh kulit, kontras dengan air hangat yang membasahi Mischa.

Mischa tidak bisa menahan diri untuk mengambil sabun itu lagi, menggosokkan ke seluruh tubuh, wajah, dan rambutnya kuat-kuat, menciptakan busa dimana-mana.

Digosokkannya tubuh dengan sekuat tenaga, membersihkan diri sebersih-bersihnya. Setidaknya takdir sudah berbaik hati padanya dengan membiarkannya mandi sebelum dibunuh. Jika dia mati nanti, dia akan mati dalam kondisi bersih.

***

Selesai mandi, Mischa melirik ke kanan dan kiri, merasa bingung karena pakaiannya yang tadi dia letakkan di keranjang yang berada di balik tirai pancuran mandi sudah tidak ada.

Siapa yang masuk kemari dan mengambil pakaiannya? Bagaimana dia bisa keluar dari sini kalau pakaiannya tidak ada?

Mata Mischa memandang sekeliling dan sedikit lega ketika menemukan sebuah gaun terusan polos sepanjang lutut digantung di sisi dinding ruang mandi itu, warna biru mudanya tampak kontras dengan tembok yang hitam legam.

Apakah gaun ini untuknya? Dia tidak melihatnya ketika pertama masuk tadi…

Mischa menyentuh gaun itu dengan jemarinya, tidak bisa menahan diri untuk tidak merasa kagum dengan kehalusan bahannya. Dari pengetahuan yang diperoleh melalui jurnal-jurnal penelitian ayahnya di masa lampau, Mischa sedikit banyak tahu kalau bahan-bahan ini bukanlah kain biasa. Ini adalah kain kualitas terbaik yang dipakai oleh perempuan-perempuan Bangsa Zodijak dengan kelembutan tekstur  yang mungkin seratus kali lebih baik dari kain sutera alami kualitas nomor satu.

Perempuan-perempuan Bangsa Zodijak sangat jarang terlihat. Ayah Mischa dulu sempat mencari tahu dan mempelajari struktur sosial kehidupan Bangsa Zodijak dan mendapati bahwa perempuan Bangsa Zodijak hanya digunakan sebagai alat untuk melanjutkan keturunan. Perempuan Zodijak yang siap menikah akan disatukan di satu tempat, sementara para laki-laki akan memilih mana yang paling potensial menjadi ibu dari anak-anaknya. Seorang calon ibu yang kuat di Bangsa Zodijak bisa melahirkan lima sampai sepuluh anak dengan jenis kelamin yang sama dalam satu kali kehamilan, setelah itu perempuan Zodijak tidak akan pernah bisa mengandung lagi. Pernikahan antara Bangsa Zodijak biasanya adalah kontrak untuk melanjutkan keturunan, para perempuan Zodijak yang sudah mengandung lalu diurus, dirawat sampai melahirkan anak-anak mereka, para ibu diwajibkan mengurus anak-anak mereka sampai remaja, anak laki-laki akan dididik sebagai prajurit dan anak perempuan akan dididik sebagai calon ibu potensial berikutnya.

Setelah seluruh proses selesai dan sang anak siap dilepaskan untuk melanjutkan ke jenjang mandiri, kontrak pernikahan pun diakhiri, sang ibu akan dipisahkan dari anak-anaknya lalu ditempatkan di daerah terpisah, sebuah area khusus yang menjadi tempat para ibu yang sudah tidak bisa mengandung lagi karena perempuan Zodijak tidak bisa mengandung lebih dari satu kali. Perempuan-perempuan itulah yang kemudian bisa dipilih menjadi kekasih, tanpa kontrak pernikahan dan tanpa status, hanya untuk memuaskan nafsu. Ayahnya dulu bilang bahwa lelaki Zodijak berhak memiliki banyak kekasih dan bebas memilih dari para ibu yang sudah dipisahkan dari anak-anaknya, tetapi mereka hanya akan memiliki satu istri “perawan” yang bisa memberinya kontrak pernikahan untuk melanjutkan keturunan. Struktur kedudukan para perempuan itu pun bergantung pada laki-laki yang memilihnya, semakin tinggi kedudukan laki-laki tersebut, semakin tinggi pula posisi perempuan tersebut dalam struktur sosial para perempuan.

Tidak ada ikatan kasih sayang anak dengan ibunya bagi Bangsa Zodijak, bagi mereka ibu hanyalah penghantar dan perawat yang akan mempersiapkan masa depan mereka, dan wanita hanyalah komoditas untuk melanjutkan keturunan serta memuaskan nafsu.

Sungguh berbeda dengan kaum manusia… sampai dengan saat ini, betapa Mischa bersyukur dilahirkan sebagai manusia, dimana wanita dihargai, dicintai dan memiliki keterikatan erat sebagai seorang anak, seorang istri, maupun seorang ibu.

Pemikiran tentang sosok ibu membuat hati Mischa sedih. Ibunya juga terbunuh dalam perang hanya sekejap setelah melahirkannya. Mischa tidak pernah merasakan kasih sayang seorang ibu, tapi ayahnya bilang bahwa ibunya sangat mencintainya dan sangat bahagia ketika mengandung Mischa

Mischa menghembuskan napas keras untuk mengusir kesedihan, lalu mengambil gaun itu dan memutuskan untuk memakainya daripada dia harus bertelanjang.

Dimasukkannya gaun longgar berpotongan lurus itu melalui kepala, lalu Mischa berdiri kebingungan, mencoba menilai situasi dengan bantuan panca indranya.

Hening…

Entah karena ruang mandi ini tertutup rapat, entah karena memang tidak ada kegiatan apapun di luar sana.

Apa yang sebaiknya dia lakukan? Apakah dia berdiam diri sampai ada yang memerintahkan keluar, atau mencoba keluar saja karena barangkali pintu kamar mandi sudah tidak dikunci lagi?

Pada akhirnya jiwa pemberontak Mischalah yang menang, mendorongnya mencari cara untuk menyelamatkan diri atau setidaknya melarikan diri dari tempat ini.

Setengah mengendap-endap, Mischa melangkah ke pintu, lalu menghentikan langkahnya pelan di depan pintu. Dengan ragu dipegangnya kenop pintu dan setelah menghela napas panjang, diputarnya perlahan.

Suara “klik” terdengar pelan, dan Mischa merasa menemukan secercah harapan untuk melarikan diri. Dengan hati-hati, Mischa melangkah keluar dari ruang mandi, menjejakkan kakinya ke karpet abu-abu tebal di bawah sana, lalu tertegun.

Dirinya sekarang berada di dalam sebuah kamar luas bernuansa hitam sedikit gelap. Mata Mischa mengitari kamar itu sambil mencari-cari pintu keluar, tapi perhatiannya entah kenapa tertarik ke atas ranjang dan seketika Mischa terkesiap sementara wajahnya berubah pucat pasi.

Di atas ranjang itu, sosok yang dikenali oleh Mischa sedang berbaring.

Aslan… makhluk buas itu berbaring telentang di atas ranjang besar yang mendominasi ruangan, dengan berbantalkan kedua tangannya, sementara matanya terpejam rapat.

Mischa menelan ludah ketika matanya menemukan pintu keluar dari kamar tempatnya berada sekarang ini. Sialnya untuk mencapai pintu itu, Mischa harus melewati tubuh Aslan yang terbaring di ranjang.

Mata Mischa menelusuri tubuh Aslan, menilai seperti apa sosok musuh yang harus dihadapinya. Tubuh Aslan tinggi dengan otot yang tangguh dan kuat seperti kebanyakan para lelaki Bangsa Zodijak. Rambutnya yang berwarna cokelat gelap sedikit panjang menyaru* dengan bantal alas kepalanya. Lelaki itu memakai pakaian hitam-hitam dengan celana dari bahan kulit gelap yang tampak lembut. Sementara sepatu boot dari bahan yang sama tampak masih terpasang di kakinya.

Mischa mencuri-curi pandang ke arah wajah Aslan untuk memastikan mata lelaki itu masih terpejam. Untungnya apa yang ditakutkan Mischa, bahwa mata itu tiba-tiba terbuka ternyata tidak terjadi.

Kenapa Aslan ada di sini dan tertidur dengan santainya di atas ranjang?

Ini kamar siapa?

Mischa menghela napas panjang sementara jantungnya berdebar, meningkat seiring dengan aliran darahnya yang mengecang memenuhi pembuluh nadinya.

Pintu itu… apakah pintu itu terkunci? Ataukah masih ada kesempatan bagi Mischa untuk menyelinap keluar? 

Mischa menajamkan pendengarannya dan memastikan bahwa suasana benar-benar hening, entah karena kamar ini kedap suara, atau kemungkinan besar memang tidak ada kegiatan apapun di luar sana.

Dia harus berhasil melewati Aslan dan setidaknya keluar dari ruangan ini. Diliriknya kembali Aslan dan bersyukur mata itu masih terpejam. Lelaki Zodijak itu terlihat tidak berbahaya ketika sedang tidur karena mungkin yang paling menakutkan bagi Mischa adalah mata hitam legam yang penuh dengan nafsu membunuh mengerikan.

Mischa menggerakkan kakinya perlahan, sepatunya juga sudah hilang entah dimana bersama dengan pakaiannya sehingga dia tidak mengenakan alas kaki. Karpet tebal empuk itu menyelubungi kakinya, meredam suara langkahnya.

Setiap langkah membuat debaran di jantung Mischa semakin kencang, sementara matanya tak lepas dari sosok tubuh Aslan yang tidak bergerak di atas ranjang. Suasana yang begini senyap sedikit mengganggu Mischa karena entah kenapa napasnya yang berat jadi terdengar kencang. membuat Mischa terpaksa menahan napas, berusaha menarik dan menghembuskan napasnya perlahan untuk meminimalisasi suara.

Satu langkah, dua langkah… jantung Mischa serasa mau pecah menahan debarannya. Mischa mengernyit sambil meletakkan satu tangan di dada, lalu melanjutkan langkah kembali, maju perlahan sambil terus waspada akan posisi Aslan yang tampaknya sama sekali tidak bergerak.

Dia berhasil melewati Aslan, tubuh Mischa sudah berada di ujung kepala ranjang, tinggal beberapa langkah lagi dia bisa mencapai pintu.

Mischa menatap pintu keluar, menetapkan fokusnya di sana sebagai pintu penyelamatnya. Tanpa sadar dia melebarkan langkah kaki, berusaha mencapai dan hendak membuka pintu itu secepat dia bisa, dan dia berhasil.

Napas Mischa memburu ketika kedua tangannya yang gemetar menyentuh pelapis tebal pintu yang sangat berat itu, ditemukannya kenop pintu berbentuk lingkaran dengan aksen mahkota, dan tangannya makin gemetar ketika memutar kenop pintu.

Tidak terbuka, tidak ada suara klik seperti ketika dirinya berada di kamar mandi…

Mischa memejamkan mata, harapannya pupus sudah. Pintu ini ternyata terkunci.

Dengan takut Mischa mencoba menilai situasi, ditolehkannya kepala perlahan ke arah Aslan dan Mischa terperanjat ketika mendapati bahwa Aslan ternyata sudah bangun.

Entah sejak kapan, lelaki itu duduk di pinggir ranjang, kedua lengan di sisi tubuh, punggungnya tegak dan mata hitamnya terbuka, menatap mengerikan ke arah Mischa.

Rasa takut langsung merayapi diri Mischa, dia segera membalikkan tubuh untuk melindungi diri, menempelkan punggungnya ke pintu dan menjaga kedua tangannya di dada.

Setidaknya lelaki itu bisa terluka karena serangannya… itu berarti di saat-saat genting, Mischa harus berusaha menyerang sekuat tenaga untuk mempertahankan diri. Mata Mischa mengamati pipi Aslan dimana bekas cakarannya masih ada tapi sudah sembuh secara ajaib, menyisakan gurat merah yang hampir pudar.

Aslan tiba-tiba bangkit dari duduknya tanpa suara dan berdiri, membuat Mischa tersentak.

Mereka berdua bertatapan, yang satu dipenuhi teror ketakutan, yang lainnya lagi gelap dan tak terbaca.

“Kenapa kau diam? Jika kau ingin membunuhku, maka lakukan saja!” pada akhirnya Mischa yang berseru memecah keheningan, mendongakkan dagu dengan sikap berani meski hatinya ketakutan setengah mati

Seulas senyum kejam muncul di bibir Aslan sementara lelaki itu masih berdiri sambil tetap menjaga jarak dari Mischa dan matanya menatap tajam ke arah Mischa.

“Kalau aku ingin membunuhmu, kau sudah mati sejak semalam.” Aslan tiba-tiba melangkah mendekat sementara Mischa kembali terkesiap.

“Jangan mendekat!” teriaknya keras sambil mengulurkan kedua lengannya di depan dada.

“Mendekat atau bukan, itu bukan berasal dari kehendakmu. Itu berdasar dari kehendakku.” Aslan mendesis kasar, lalu melompat untuk menangkap Mischa.

Seketika Mischa berkelit, tubuhnya yang kurus memang memungkinkannya bergerak gesit. Mischa lalu berlari secepat dia bisa untuk menghindari kejaran Aslan. Pintu kamar mandi…. Dia harus bisa mencapainya dan mengunci dirinya di dalam supaya Aslan tidak bisa meraihnya!

Mischa menyeberangi ruangan itu dan memaksa langkahnya bergerak cepat. Napasnya terengah beriringan dengan debar jantungnya, tahu bahwa Aslan menggeram dengan tidak sabar lalu bergerak mengejarnya. Dirinya hampir meraih pintu kamar mandi ketika pundaknya dicengkeram dan tubuhnya ditarik ke belakang, hingga terbanting mundur ke atas karpet.

Mata Mischa berkunang-kunang karena bantingan yang cukup keras, dan ketika dia berhasil menjernihkan pandangannya, Aslan sudah melompat, membungkuk di atas tubuhnya.

Seketika itu, didorong oleh ketakutannya Mischa menjerit, berusaha memukul dan menendang sekuat tenaga dengan histeris. Tapi kali ini Aslan tidak lengah, didorong oleh pengetahuannya bahwa Misha bisa melukai dirinya, dia sekarang lebih berhati-hati dan tidak meremehkan perempuan di depannya ini.

“Diam, kelinci kecil pemberontak, Jangan sampai aku mematahkan lehermu.” Aslan menekan kedua tangan Mischa di karpet sementara dirinya menunduk, menghidu* aroma manis yang menguar menggoda dari tubuh Mischa.

Aslan memejamkan mata sementara dahinya berkerut dalam. Dia tidak bisa menahan diri untuk menundukkan kepala, menempelkan hidungnya ke sisi leher Mischa dan menghirup aromanya yang mengikat laksana candu, membuat tubuh di bawahnya semakin gemetar ketakutan.

Tangan Aslan bergerak menelusuri lengan Mischa ke pundaknya, sementara Mischa berbaring kaku ketakutan dengan kepala dimiringkan dan mata dipejamkan rapat-rapat, tak kuat menanti apa yang akan terjadi pada dirinya.

“Terlalu kurus. Kau akan remuk kalau aku menidurimu.” Aslan bergumam dengan nada tidak suka, dan gumamannya itu membuat Mischa terpaku dalam kengerian yang amat sangat.

Menidurinya? Lelaki Zodijak ini berpikir untuk menidurinya??

Mischa tahu, juga dari ayahnya, bahwa kekuatan lelaki Zodijak kadang bisa meluluh lantakkan pasangannya, karena itu wanita-wanita Zodijak biasanya cukup tangguh sehingga bisa melayani lelakinya tanpa remuk redam.

Jika lelaki Bangsa Zodijak meniduri manusia perempuan, seperti yang dilakukan kebanyakan pria Zodijak pada budak-budaknya, kadang-kadang hal itu bisa berakibat kematian bagi yang tidak memiliki kekuatan. Jika manusia perempuan itu bertahan selepas percintaan, hanya ada dua kemungkinan, yang pertama, manusia perempuan itu sangatlah kuat dan yang kedua, lelaki Zodijak tersebut bersikap luar biasa lembut, melawan kodratnya sendiri.

Lamunan Mischa tersentak karena tangan Aslan bergerak menyentuh pinggang dan pahanya, meraba di sana seolah memeriksa. Seketika itu juga Mischa mencoba mencakar sementara lututnya menekuk, otomatis berusaha menendang selangkangan lelaki itu untuk mencari titik lemahnya.

Tendangannya mengenai selangkangan Aslan, sayangnya lelaki itu sama sekali tidak menunjukkan ekspresi kesakitan, malahan menyeringai dengan tatapan mengejek ke arah Mischa

“Di situ tidak bisa dilukai, apalagi hanya dengan sebuah tendangan,” Aslan menyeringai, setengah mengejek, Kemaluan lelaki Zodijak tidak selembek punya manusia lelaki, yang lemah dan mudah disakiti.” desisnya sinis, tidak menyaring kata-katanya hingga membuat pipi Mischa merah padam.

Sepertinya meronanya warna kulit Mischa membuat Aslan tergoda hingga lelaki itu menggeram, menundukkan kepala lalu melumat bibir Mischa dengan kasar tanpa permisi.

Mischa langsung meronta, menendang, memukul dan berusaha mendorong dada lelaki itu sekuat tenaga, dan ketika semua usahanya untuk menjauhkan Aslan tidak berhasil, Mischa menggunakan giginya untuk menggigit bibir Aslan sampai terluka, tahu bahwa dia memiliki kekuatan untuk menyakiti Aslan.

Rasa darah Aslan dan aromanya membasahi lidah Mischa ketika Aslan mengumpat dan melepaskan ciumannya dengan kasar.

Lelaki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Mischa sementara mata hitamnya dipenuhi kemarahan mengerikan dan bibirnya meneteskan darah.

“Apakah kau sudah lupa apa yang kukatakan tentang hukumanmu jika kau menggigitku lagi?” geramnya murka.

Tentu saja Mischa ingat, dan hal itu membuatnya semakin ketakutan, air matanya hampir menetes karena takut dan ngeri, tapi Mischa menahannya, memejamkan mata dan menggigit bibir untuk membendung isakannya yang sudah berada di ujung tenggorokan.

Aslan menunduk, sementara sebelah tangannya mencengkeram dagu Mischa,

“Buka matamu, kelinci.” desisnya mengancam,

Mau tak mau Mischa membuka mata, membuat Aslan bertemu dengan mata biru indah yang berkaca-kaca.

“Satu-satunya alasan kau masih hidup adalah karena aku memutuskan untuk menjadikanmu mainanku.” geram Aslan dingin, “Kau harus makan banyak supaya kuat melayaniku, dan pada saat kau siap nanti, aku akan memanenmu.”

Sambil mengucapkan kata-kata mengerikan di telinga Mischa, Aslan bangkit, lalu berdiri tegak di atas karpet, menatap Mischa yang masih terbaring tanpa daya. Mata hitamnya menelusuri seluruh tubuh Mischa dan lelaki itu menggertakkan gigi sebelum kemudian melangkah menuju pintu dan pergi meninggalkan Mischa sendirian di kamar yang terkunci.

***

“Yesil.”

Aslan melambaikan tangan ke kamera pengawas yang terpasang di bagian depan area istana yang ditempati oleh Yesil.

Yesil menjaga ketat area ini karena di dalamnya sekaligus ada laboratoriun penelitiannya yang berharga. Saudaranya itu sudah pasti mengawasi sendiri kamera ini dan akan mengirimkan budaknya atau pengawalnya untuk menjemput Aslan.

Sesuai dugaan Aslan, pintu terbuka tak lama kemudian dan dua orang pengawal dari bangsanya memberi hormat sebelum mengantarkannya ke Laboratorium milik Yesil lalu meninggalkannya di sana karena area laboratorium Yesil termasuk area terlarang yang tidak boleh dimasuki sembarang orang.

Aslan langsung membuka pintu kaca pembatas dan menatap punggung Yesil yang membungkuk ke arah meja, sibuk memeriksa sesuatu sambil duduk di atas kursi kerjanya.

Ruang lab ini hampir sama dengan ruang lab pada umumnya, bersih, steril dan berbau cairan kimia. Yang membedakannya adalah karena banyak alat-alat yang begitu canggih beserta suasana menyeramkan bagi manusia, karena di toples-toples yang terpajang memenuhi rak, banyak sampel bagian-bagian tubuh manusia yang direndam di air pengawet khusus sebagai bahan penelitian.

“Apakah kau sudah berhasil meneliti darah itu?”

Yesil membalikkan kursi putarnya menghadap Aslan dan mengangkat alis melihat bekas gigitan yang berubah warna menjadi merah tua pekat di bibir Aslan.

“Belum, masih butuh waktu beberapa jam lagi lalu aku akan mengumpulkan semuanya untuk membahas hasil pemindaian darah.” ujarnya sambil melemparkan tatapan mata penuh arti, “Digigit lagi, eh?”

Aslan otomatis menggerakkan jari untuk menyentuh luka di bibirnya,

“Dia bisa melukaiku dengan mudah.” jawabnya kemudian.

Yesil memiringkan kepalanya, “Sudah pasti dia berbahaya bagimu. Baru sehari tapi kau sudah luka dimana-mana. Meskipun begitu, kau tetap tidak mau menjauhkan dirinya darimu?”

“Aromanya membuatku… lapar dan hal itu membuatku ingin tahu karena sebelumnya tidak pernah seperti ini. Dan anehnya kemampuan regenerasi penyembuhan diriku melambat kalau luka itu disebabkan olehnya” Aslan menyahut dengan suara mengambang, membuat Yesil memasang wajah penuh ingin tahu.

“Lapar ingin memakannya?” selidik Yesil lagi.

Aslan menggelengkan kepala, “Lapar ingin menidurinya. Satu-satunya hal yang menahanku untuk menidurinya adalah karena dia akan remuk lalu mati kalau kutiduri sekarang, tubuhnya masih kurang kuat.”

“Kau benar, seperti yang Kara bilang, dia terlalu kurus, kurang makan dan lemah, dia tidak akan bisa mengimbangimu. Biarkan dia kuat dulu, lalu kau boleh melakukan apapun yang kau suka. Hanya, berhati-hatilah, Aslan.”

Aslan menatap Yesil tajam, “Kenapa?”

“Kau tidak pernah meniduri manusia perempuan sebelumnya, pasangan tidurmu hanyalah perempuan-perempuan Zodijak yang kau ambil dari area perempuan sebagai kekasih karena sama seperti kita semua, kau belum mau menjalani kontrak pernikahan. Ingatlah selalu bahwa tubuh manusia berbeda dengan perempuan kaum kita, karena itu kau harus berhati-hati.”

Aslan tersenyum getir, “Jadi menurutmu aku harus belajar pada Kara yang berpengalaman meniduri budak-budak perempuannya dalam jumlah tak terhitung?”

“Aku tidak menampik bahwa Kara berpengalaman meniduri manusia perempuan, dia tidak pernah sampai membunuh manusia perempuan yang ditidurinya.” Yesil mengangkat alis, “Meski aku tetap tidak setuju dengan cara Kara melarikan diri dari trauma masa lalunya.”

“Kara masih belum lupa?” Aslan mengerutkan kening, bertanya.

Yesil menggeleng muram, “Kurasa dia tak akan pernah lupa. Bekas luka dihatinya terlalu dalam, sama seperti bekas luka di punggungnya  yang tak bisa hilang bagaimanapun aku mencoba mencari cara menghilangkannya.” Mata gelap Yesil menelusuri Aslan, “Jangan sampai kau berakhir seperti Kara, Aslan.”

Aslan menggelengkan kepala, “Tidak akan.” ucapnya yakin, lalu beranjak hendak meninggalkan ruangan, “Aku kemari untuk menanyakan hasil pemeriksaan darah yang ternyata belum selesai. Jika sudah selesai hubungi aku.”

Yesil menganggukkan kepala, “Sudah tentu aku akan menghubungi kalian, Akrep bahkan sudah menanyaiku hampir seratus kali hari ini. Dia sama penasarannya denganmu.”

“Akrep hanya menanti alasan untuk membunuh manusiaku.” Aslan mengangkat bahu, lalu membalikkan badan untuk keluar dari ruangan.

“Aslan.” Yesil memanggil lagi, suaranya terdengar ragu, membuat Aslan menghentikan langkah dan menoleh kembali.

“Ini tentang Kara. Kau harus memperhatikannya. Anak manusia yang kau bawa sangat mirip dengan ‘perempuan itu’ dan itu bisa membuat Kara hilang orientasi, aku takut Kara mengincarnya hanya untuk membalas dendam demi masa lalunya.

***

Mischa duduk di pinggir tempat tidur, memandangi meja di samping ranjang yang penuh dengan makanan.

Seorang budak tadi datang mengantarkan menu makanan lengkap untuk manusia, untuk dirinya, lalu menguncinya kembali di ruangan ini.

Makanan yang dibawakan untuknya itu menggoda, semua adalah makanan-makanan yang dirindukan oleh Mischa dan hampir dilupakannya, karena beberapa menunya bahkan Mischa belum pernah menyantapnya.

Mischa dilahirkan pada jaman perang, ketika itu negaranya masih ada dan masih berjuang menghadapi Bangsa Zodijak. Masa kecilnya dipenuhi dengan pelarian dari satu tempat ke tempat lain dalam suasana mencekam, pertaruhan antara hidup dan mati. Namun kemudian dia kehilangan ayahnya dalam sebuah ledakan dan harus bertahan hidup, bergabung dengan Kaum Penyelinap lalu membiasakan diri dengan makan makanan seadanya, serangga, lumut dan hewan-hewan kecil lainnya, apapun itu yang penting bisa dia telan untuk menyambung hidup, sedangkan rasa dan tampilan makanan sudah pasti berada di urutan terakhir.

Sekarang di hadapannya terbentang berbagai macam menu makanan, ayam panggang yang tampak menggiurkan, daging steak dengan aroma harum, kentang tumbuk bercampur krim kental segar dan buah-buahan warna warni yang dipotong dadu menggugah selera, tak lupa segelas susu bercampur potongan stroberi segar di dalam sebuah gelas transparan yang menampilkan keindahan kontras warna putih dan merah yang menyatu.

Mischa lapar, amat sangat lapar. Perutnya sudah berbunyi gaduh sejak tadi ingin segera diisi. Tapi Mischa takut untuk makan. Dia takut makanan ini adalah pengantar supaya dia bisa lebih gemuk, lebih sehat dan kuat sehingga Aslan bisa melakukan keinginannya yang mengerikan.

Saat kau siap nanti, aku akan memanenmu…

Mischa begidik ketika mengingat kata-kata Aslan dan pada akhirnya, rasa takutnya berhasil mengalahkan rasa lapar hingga Mischa memilih tak usah makan, menguatkan diri supaya tak tergoda oleh tampilan dan aroma yang menggugah selera dari makanan di depannya.

Tiba-tiba kenop pintu berputar, terdengar suara klik pelan ketika pintu itu membuka perlahan sementara Mischa menatap pintu dengan tubuh tegang waspada.

Lalu sosok Lelaki Zodijak yang berbeda muncul di sana, bukan Aslan, tetapi Mischa mengenalinya sebagai sosok yang berusaha menyentuhnya dan kemudian bersitegang dengan Aslan.

…. Kara?

Kara menutup pintu di belakangnya perlahan, sambil matanya tak lepas dari wajah Mischa yang ketakutan.

Hening yang mencekam, sebelum kemudian Kara menyeringai dengan tatapan tajam penuh arti ke arah Mischa.

Bersambung ke part berikutnya


* Bersua*

sua/ bersua /ber·sua/ : bertemu; berjumpa: di tengah perjalanan  contoh : ia bersua dengan seorang sahabat lama yang kemudian membantunya mencapai tempat tujuan; di hutan itu ia bersua dengan binatang aneh;

*Menyaru*

saru/ menyaru/ : tidak nyata kelihatan (kedengaran); tidak terbedakan rupanya (suaranya dan sebagainya) karena bercampur atau tidak terbedakan antara yang satu dan yang lainnya; samar: bunyinya menyaru dengan bunyi meriam; menyaru/me·nya·ru/ : menyamar; menyerupai; menjadi tidak terbedakan contoh : dia menyaru sebagai tukang loak;

*Menghidu*

hidu/menghidu/:  mencium (bau); membaui: contoh : dia menghidu aroma bunga (tembakau dan sebagainya)

714 Komentar

Tinggalkan Balasan