inevitable-war
Inevitable War

Inevitable War Part 5 : A Bond Between Souls

Bookmark

No account yet? Register

2.010 votes, average: 1,00 out of 1 (2.010 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author Playlist – Frances feat RITUAL – When it comes to us

I turn tables and speak too softly, i don’t make much sense, I don’t make much sense
You’re unable to calm down lightly. You’re so intense, yeah you’re so intense

You and I, we’re one too many worlds apart. And side by side, we’re different but somehow the same
It really shouldn’t work but it does, when it comes to us


inevitable-war

 

“Apa katamu?”

Aslan mengeluarkan suara mendesis, melemparkan tatapan tajam ke arah Akrep yang seolah tak peduli.

“Aku akan mengikatnya, jika kau tak mau melakukan itu.” dengan tenang Akrep menjawab, menegaskan kembali perkataannya.

Jawaban Akrep tentu saja membuat Aslan terperangah tidak percaya. Mengikat seorang perempuan, dalam tradisi Bangsa Zodijak berarti menawarkan kontrak pernikahan untuk melanjutkan keturunan. Seorang perempuan yang mengikat kontrak dengan lelaki Zodijak akan diperlakukan dengan baik sebagai seorang istri, sampai perempuan itu bisa melahirkan keturunan bagi laki-lakinya.

Ketika seorang laki-laki Bangsa Zodijak mengikat kontrak dengan seorang perempuan, maka laki-laki itu tidak boleh menjalin hubungan atau kontrak baru dengan perempuan lain. Laki-laki Zodijak juga masih tidak boleh berhubungan dengan perempuan lain meskipun istrinya berhasil melahirkan keturunan yang sehat untuknya karena harus menunggu istrinya merawat dan membesarkan anaknya hingga mencakup usia cukup untuk dilepaskan ke asrama anak-anak. Usia Bangsa Zodijak sendiri cukup panjang, yang tertua bahkan bisa mencapai ratusan tahun, apalagi ditunjang dengan tubuh Bangsa Zodijak yang cukup kuat dan tidak mudah dilukai dan hal itulah yang menyebabkan lelaki Zodijak memilih bersenang-senang dengan perempuan di masa mudanya dan baru mengikat kontrak pernikahan dengan calon ibu dari anak-anaknya ketika usianya sudah cukup matang, karena kontrak pernikahan adalah hal sakral dan bukan sesuatu yang main-main bagi mereka.

Dalam kontrak pernikahan yang mengikat itu, kebebasan laki-laki Zodijak baru diperoleh setelah istrinya memenuhi tugas untuk merawat dan membesarkan anaknya sampai cukup usia untuk masuk ke asrama anak-anak. Bagi anak laki-laki, asrama anak-anak adalah tempat seluruh anak Bangsa Zodijak dibesarkan dan dilatih dengan keras sehingga tangguh berperang. Sedangkan untuk anak perempuan,  asrama anak-anak merupakan tempat mereka semua dididik menjadi calon ibu yang baik.

Dan seluruh kontrak pernikahan di Bangsa Zodijak yang pernah ada memang selalu berakhir dengan keturunan yang sehat dan kuat. Lelaki Zodijak juga tidak perlu khawatir, karena kesuburan perempuan Zodijak tidak perlu dipertanyakan lagi. Dalam usaha mempertahankan eksistensi bangsanya, perempuan Zodijak tidak pernah gagal untuk mengandung dan melahirkan anak-anak calon penerus mereka selanjutnya, bahkan seorang perempuan Zodijak yang subur biasanya bisa melahirkan banyak bayi dalam waktu bersamaan. Yang laki-laki akan menjadi pasukan perang nan kuat dan yang perempuan akan menjadi calon ibu subur yang kuat dan sehat.

Aslan menggertakkan gigi sambil menatap Akrep yang sepertinya telah kehilangan akalnya. Mengikat kontrak dengan seorang manusia perempuan sama saja mengikat dirinya tanpa batas. Kontrak pernikahan di kalangan Bangsa Zodijak hanya bisa diakhiri ketika pasangan perempuan Zodijak melahirkan anak-anak dan merawatnya sampai usia tertentu, sebelum kemudian setelah kontrak berakhir, pempuan Zodijak itu disingkirkan dan dikirim ke area para ibu.

Selama ini Bangsa Zodijak tidak pernah sekalipun mencoba mengikat kontrak dengan manusia, dan bahkan tidak pernah diketahui apakah Bangsa Zodijak bisa memiliki keturunan dengan manusia. Bahkan Kara dan yang lainnya, yang pernah meniduri manusia perempuan sampai saat ini pun tidak pernah sama sekali menunjukkan indikasi bisa menghamili manusia para manusia perempuan yang ditidurinya.

Jika ternyata Lelaki Zodijak tidak bisa membuahi manusia perempuan, dan jika Aslan terlanjur mengikat kontrak pernikahan dengan manusia perempuan itu… sama saja Aslan terpaksa mengikat dirinya dengan manusia perempuan itu dalam waktu yang tidak bisa ditentukan. Karena seorang lelaki Zodijak tidak boleh menjalin hubungan atau meniduri perempuan lain kalau dia masih terikat dalam kontrak pernikahan dengan satu perempuan.

Saudara-saudaranya tentu saja tahu mengenai konsekuensi yang harus ditanggung ketika memutuskan untuk mengikat manusia perempuan itu. Dan sekarang Akrep, yang diketahuinya paling rasional di antara saudara-saudaranya seolah sudah kehilangan akalnya dengan menawarkan diri untuk mengikat manusia perempuan itu.

“Aku juga bersedia mengikat perempuan itu.”

Kara tiba-tiba bersuara, membuat Aslan melemparkan tatapan mata membunuh ke arah saudaranya yang paling bungsu itu.

“Kau sepertinya tidak mengerti dengan apa yang kau katakan, Kara. Apakah kau tahu kalau ternyata manusia perempuan itu tidak bisa menghasilkan keturunan untukmu, kau akan terikat kontrak pernikahan abadi dengannya sehingga kau tidak akan bisa bermain-main dengan perempuan lain lagi.” Aslan mendesis mencemooh ke arah Kara dan sengaja melemparkan kalimat itu karena sudah menjadi rahasia umum bahwa Kara memang yang paling suka mencicipi perempuan di antara mereka, baik perempuan Zodijak maupun manusia perempuan.

Tanggapan Kara sendiri di luar dugaan, lelaki itu mengangkat bahu seolah tak peduli.

“Kurasa kalau manusia perempuannya yang itu, aku tidak keberatan untuk setia.” mata Kara menyipit dan menatap Aslan dengan penuh perhitungan, “Dia tampak enak untuk ditiduri.”

Aslan menggertakkan gigi, mata hitamnya berkilat penuh kemarahan tapi dia memilih tidak melayani sikap provokatif Kara dan memandang berkeliling ke arah saudara-saudaranya.

“Ada lagi yang lain?” tantangnya dengan nada penuh ancaman.

Khar tampak menggelengkan kepala tidak tertarik, Kaza memberi isyarat tanda menyerah dengan tangannya, sementara Sevgil bertukar pandang dengan Yesil seolah saling mengucapkan isyarat tanpa kata.

“Kurasa aku dan Yesil bersedia juga, tentu saja itu kami lakukan jika kau tidak mau melakukannya, kami hanyalah subsitusi dari eksistensimu.” ucap Sevgil dengan suara tenang sedikit bercanda, membuat Aslan memasang ekspresi tidak percaya bercampur muak.

“Kalian juga? Bahkan kau, Yesil?” ucapnya tidak percaya.

Sevgil yang menyukai tantangan mungkin masih bisa diterima kalau mau mengikat manusia perempuan itu karena mungkin Sevgil sedang bosan dan menganggap manusia perempuan itu sebagai mainan baru yang memancing rasa ingin tahunya. Tapi Yesil? Yesil bahkan berkali-kali berkata bahwa dia sudah berkomitmen untuk tidak akan menjalin kontrak pernikahan dengan perempuan karena dia lebih tertarik mendedikasikan diri pada penelitian yang sudah seperti kekasihnya sendiri dan membuatnya tidak pernah tertarik pada perempuan manapun. Jadi mendengar bahwa Yesil berniat mengingkari komitmen yang dibuatnya sendiri terasa begitu mengejutkan.

Apa sebenarnya yang meracuni otak saudara-saudaranya ini? Apakah mereka begitu bodohnya percaya membabi buta pada mitologi kuno yang mungkin saja hanya cerita dongeng belaka?

“Kalian semua sudah gila.” Aslan yang menemukan keseriusan di mata saudara-saudaranya bahkan tanpa sadar melangkah mundur, menatap saudara-saudaranya dengan tatapan ngeri.

“Aku belum menceritakan semuanya.” Yesil berucap perlahan, membuka mulut dan membuat seluruh saudara-saudaranya menoleh ke arahnya, “Yang satu ini merupakan penyebab aku sungguh mempercayai bahwa entah kenapa, manusia perempuan itu memiliki hubungan yang erat dengan kisah mitologi kita.”

“Dan apakah itu?” Akrep langsung bertanya tidak sabar, tampak begitu serius, memusatkan seluruh perhatiannya kepada Yesil.

“Darah manusia perempuan itu… setelah berubah menjadi air, ternyata juga berubah struktur, darah itu jadi memiliki struktur yang mirip dengan darah kita. Bukan… bukan warna, tekstur atau aromanya karena kalau melihat dari ciri fisiknya, tetap saja kita mengira bahwa itu adalah air. Yang membuatku terkejut adalah ketika aku melihat molekul air itu, di sana ada mucisevi yang kalian tahu merupakan pembeda darah kita dengan darah manusia. Struktur darah kita dengan darah manusia sangat mirip, yang membedakan hanyalah kandungan mucisevi di darah kita, kandungan itulah yang membuat tubuh kita sangat kuat, lambat menua dan tidak mudah dilukai. Dan entah kenapa air Zodijak menciptakan mucisevi ketika bertemu dengan darah manusia perempuan itu. ” Yesil menjelaskan perlahan dengan sabar, memastikan bahwa saudara-saudaranya memahami apa yang ingin disampaikannya.

“Jadi struktur darah manusia perempuan itu berubah menjadi sama persis seperti darah Bangsa Zodijak ketika ditetesi oleh air Zodijak, hanya saja berwujud sama persis seperti air?” Khar yang dari tadi diam saja sekarang tampak mulai tertarik.

Yesil menganggukkan kepala, “Ya. Sudah pasti, dia menjadi sama persis seperti bangsa kita, hanya dengan air Zodijak yang bercampur dengan darahnya.”

“Apakah kau pernah mencoba penelitian ini dengan manusia lainnya? Kita tidak pernah menduga hal ini terjadi sebelumnya… jadi sepertinya belum pernah ada yang mencoba-coba menetesi darah manusia dengan air Zodijak. Apakah mungkin jangan-jangan, darah manusia manapun yang ditetesi oleh air Zodijak akan berubah strukturnya menjadi darah Bangsa Zodijak?” Akrep kali ini yang bertanya ekspresinya begitu serius, seakan-akan pembahasan ini sangat penting baginya.

“Aku tentu saja langsung mengambil pembanding, darah manusia yang belum digigit oleh Bangsa Zodijak dan darah manusia yang sudah digigit oleh Bangsa Zodijak, semuanya tetap sama, tidak berubah menjadi apapun, apalagi berubah menjadi darah Bangsa Zodijak.” Yesil menyahut dengan mantap, memastikan tidak ada yang terlewat dari penelitiannya, lelaki itu lalu menoleh ke arah Aslan dengan tatapan mata serius, “Manusia perempuan itu, entah bagaimana caranya, aku yakin memiliki hubungan penting dengan bangsa kita, dan jika kau tidak mau mengikatnya, maka salah satu dari kita harus melakukannya.”

Aslan tercenung sementara ekspresinya muram luar biasa. Dirinya sekarang seolah didesak untuk melakukan sesuatu yang sama sekali tidak disukainya. Di usianya sekarang yang masih begitu muda menurut ukuran Bangsa Zodijak, Aslan tidak ingin mengikat kontrak dengan perempuan, apalagi dengan manusia perempuan. Aslan tidak menyukai manusia dan selalu memandang rendah manusia sebagai makhluk dengan derajat yang sangat jauh di bawah Bangsa Zodijak.

Manusia perempuan bahkan tidak pantas menjadi budak baginya, apalagi menjadi istri.

Tetapi membayangkan saudara-saudaranya mengikat dan memiliki manusia perempuan itu membuat darah Aslan mendidih, lelaki itu mengepalkan tangan untuk menahankan kemarahannya sambil memandang saudara-saudaranya yang kali ini hanya terdiam, semua menatap ke arah Aslan seolah menunggu keputusannya.

“Tidak sekarang.” geram Aslan sambil menggertakkan gigi, “Nanti. Biarkan aku berpikir.” ucap Aslan akhirnya, melemparkan tatapan marah untuk terakhir kalinya sebelum kemudian membalikkan badan dan meninggalkan ruangan itu dengan langkah lebar penuh kemurkaan.

***

Sepeninggal Aslan, enam bersaudara yang tersisa itu saling melempar pandang, lalu pada akhirnya Yesil menyikut Akrep yang duduk di sampingnya perlahan sambil melemparkan tatapan mata mencela,

“Kau tidak benar-benar berpikir untuk mengikat perempuan manusia itu, bukan?” tanyanya.

Semua orang tahu persis bahwa Akrep yang memiliki pikiran dan perencanaan panjang tentu saja memiliki rencana untuk memiliki keturunan yang sehat di masa depan nanti. Akrep tidak akan begitu saja mengambil keputusan untuk menikahi manusia perempuan dengan resiko tidak bisa memiliki keturunan nantinya

Akrep memasang wajah datar sementara ekspresinya seperti menahan senyum,

“Pada awalnya tidak, tapi setelah mendengarkan keterangan susulanmu, bisa saja aku menjadi serius dengan tawaranku sebelumnya.” jawabnya jujur, “Aku tadinya hanya berpikir untuk memancing Aslan melakukannya. Bagaimanapun juga dialah yang menemukan manusia perempuan itu dan membawanya kemari, lagipula manusia perempuan itu hanya bisa melukai dia, hal itu menunjukkan keterikatan yang erat, bahwa Aslan-lah yang harus mengikat manusia perempuan itu.”

“Kau hanya memancing Aslan mengingat dia memiliki rasa bersaing yang tinggi denganmu?” Yesil memperjelas sambil mengangkat alisnya.

Akrep tersenyum masam, “Aslan selalu berusaha melebihiku di semua bidang, mengingat aku yang tertua di antara kalian, dan dia memang berhasil karena kalian semua juga pasti tahu bahwa dia adalah yang terkuat di antara kita.” Akrep berucap, menyetujui kalimatnya sendiri, “Aku menduga, ketika aku mengatakan akan mengikat perempuan itu kalau Aslan tidak bersedia, maka Aslan otomatis tidak akan membiarkan hal itu terjadi.”

“Dia memang tidak akan membiarkannya. Sikap posesif Aslan terhadap perempuan itu begitu kuat hingga terasa menggelikan.” Kara menyela, setengah terkekeh, “Kau tahu, aku mencoba menemui perempuan itu di kamarnya hanya untuk mengajak berbicara dan Aslan sepertinya sudah siap membunuhku seketika itu juga ketika mengetahuinya.”

Yesil kali ini menoleh ke arah Kara dan melemparkan tatapan mata mencela yang sama seperti yang diberikannya kepada Akrep, “Kau juga tidak berniat mengikat perempuan itu, bukan?” tebaknya.

Kara sendiri malahan melemparkan tatapan penuh misteri ke arah Yesil,

“Siapa bilang? Aku sungguh-sungguh tentang perkataanku mengenai perempuan itu. Dia cantik, menyenangkan dan sepertinya aku akan mudah menyukainya.”

“Karena dia sangat mirip dengan Natasha.” Kaza menyela, tidak mempedulikan tatapan marah yang dilemparkan Kara kepadanya, “Oh, ayolah, Kara. Kau masih saja mencari sosok Natasha di antara semua budak-budak yang kau tiduri. Apakah kau tidak sadar bahwa kau memiliki selera yang hampir serupa dengan budak-budakmu? Berambut cokelat karamel dan bermata biru jernih.”

Ekspresi Kara mengeras mendengar perkataan saudara kembarnya, lelaki itu tiba-tiba bangkit berdiri dan menghindari menatap saudara-saudaranya,

“Aku akan memeriksa gudang senjata.” ucapnya cepat lalu melangkah pergi tanpa menoleh lagi.

“Bagus sekali, Kaza.” Sevgil yang sedari tadi diam mengamati menceletuk cepat, “Memukul saudara kembarmu sendiri dengan pukulan telak.” sambungnya

Kaza mengangkat bahu, “Kadang-kadang Kara perlu diingatkan bahwa dia tidak bisa membawa perasaan sentimentilnya ke semua hal yang dia temui. Natasha, manusia perempuan di masa lalunya itu bukan hanya meninggalkan bekas luka fisik tetapi juga luka di jiwa Kara. Kara rela terluka dan terkena senjata bangsa kita sendiri demi melindungi Natasha, tetapi apa yang dilakukan perempuan itu? bukannya berterima kasih pada Kara, dia malah pergi meninggalkannya.” mata Kaza bersinar penuh kemarahan, “Natasha menyakiti Kara hingga Kara menyimpan dendam, dendam karena dikhianati. Dan karena aku adalah saudara kembarnya, aku bisa merasakan kesakitan yang sama yang dirasakan oleh Kara. Bagiku semua manusia adalah makhluk rendahan, pengkhianat yang akan menusuk kita dari belakang meskipun kita memberikan belas kasihan kepadanya.”

“Karena itu kau tidak mau mengajukan diri untuk mengikat manusia perempuan milik Aslan? Karena menurutmu dia juga sama seperti Natasha?” Sevgil menyimpulkan dengan cepat, lalu melirik ke arah Yesi, “Bagaimana dengan kata-kata Yesil tadi, bahwa perempuan itu kemungkinan besar adalah dewi air dalam mitologi Bangsa Zodijak?” tanyanya kemudian.

Kaza mengangkat bahu, “Aku akan tetap pada pendirianku sampai waktu yang akan membuktikan dan memutuskan yang sebaliknya.” ditatapnya Sevgil dengan penuh rasa ingin tahu, “Kau sendiri mengajukan diri untuk mengikat perempuan itu, apa alasanmu?”

Sevgil langsung tertawa mendengar pertanyaan yang diajukan dengan nada menyelidik itu.

“Kurang lebih sama seperti yang ingin dilakukan oleh Akrep.” Sevgil mengerjapkan mata dengan jenaka, “Aku hanya ingin mengganggu Aslan, dia terlalu cepat naik darah dan kurasa akan menyenangkan melihatnya meledak sekali-kali.”

“Kalian semua memang gila,” Khar yang paling pendiam di antara mereka akhirnya memutuskan untuk berbicara, “Kurasa aku akan berdiam di sini dan memutuskan menjadi pengamat saja.” putusnya kemudian.

“Apapun yang akan kalian lakukan, kurasa kita akan tetap pada penilaian awal. Manusia perempuan itu sudah pasti merupakan sesuatu yang penting bagi bangsa kita, entah dia senjata yang akan menghancurkan kita, atau dia adalah penyelamat yang akan membawa kemakmuran bagi bangsa kita. Apapun itu, yang pasti saat ini, kita harus mengikat perempuan itu supaya ada bersama kita. Entah kenapa aku meyakini hal itu dari dalam hatiku dan itu merupakan pengecualian karena kadang aku lebih mengutamakan logika.” Akrep menyela, suaranya terdengar serius, “Dan aku serius dengan kata-kataku tadi, jika Aslan tidak mau mengikat perempuan itu. Maka aku bersedia.” ulangnya, kali ini dengan suara yang lebih mantap daripada sebelumnya

***

Langkah kaki Aslan begitu kuat menghentak ketika dirinya melangkah kembali ke area tempat dia tinggal. Pikirannya masih dipenuhi kemarahan hingga hatinya panas.

Dipaksa mengikat manusia perempuan hanya karena sebuah mitologi kuno?

Aslan menggertakkan gigi menahankan rasa jengkel. Tanpa sadar dia menggerutu kepada dirinya sendiri, menyesal kenapa dia harus menemukan Mischa dan membawanya kemari hingga malah menjerumuskan dirinya sendiri ke dalam permasalahan pelik seperti ini.

Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia harus mengikuti paksaan saudara-saudaranya untuk mengikat perempuan itu dan mengorbankan dirinya? Sebab jika dia tidak mau melakukannya saudara-saudaranya pasti akan mengambil alih dan memiliki perempuan itu.

Memiliki perempuan itu?

Memikirkan itu membuat rasa posesif yang begitu kental langsung menggelegak tanpa bisa ditahan dan memenuhi darahnya, membuat langkahnya semakin cepat untuk menuju kamarnya.

Dirinya bahkan bertindak di luar akal sehat dengan  menempatkan manusia perempuan itu di kamarnya sendiri. Lagipula apa yang harus dia lakukan? Aslan tidak pernah memiliki budak perempuan sebelumnya. Seluruh budaknya adalah laki-laki, dan tempat tinggal para budaknya adalah kamar raksasa serupa asrama dengan ranjang-ranjang  saling berdampingan untuk tidur bersama. Aslan tidak mungkin membiarkan Mischa tidur di area para budak yang seluruhnya laki-laki.

Meskipun begitu, kenapa dia harus peduli? Kenapa dia harus memikirkan Mischa?

Pertanyaan itu menyeruak di dalam jiwa Aslan dan mengganggunya, membuatnya menggertakkan gigi ketika menemukan jawaban yang sedari tadi bersembunyi di dalam benaknya dan menunggu untuk ditemukan.

Itu semua karena dia ingin memiliki Mischa. Karena dia ingin memiliki Mischa untuk dirinya sendiri.

Penemuan jawaban itu membuat Aslan yang tadinya ingin kembali ke kamarnya membalikkan arah, dengan mantap melangkah untuk kembali menuju ruang pertemuan tempat saudara-saudaranya berkumpul.

Hanya beberapa langkah keluar dari areanya, Aslan menghentikan langkah dan mengangkat alis ketika mendapati Kara yang sedang berjalan ke arahnya.

“Sepertinya kau jadi rajin berkunjung ke areaku sejak tadi, padahal sebelumnya kau hampir tidak pernah menginjakkan kakimu di sini.” Aslan bergumam dengan sinis, melemparkan wajah mencemooh ke arah Kara.

Kata-kata Aslan sama sekali tidak mempengaruhi Kara karena dia sudah terbiasa dengan mulut Aslan yang selalu melemparkan kata-kata kasar dan pedas.

“Aku hendak menemui Mischa dan memastikan dia sudah makan.” dengan tenang Kara menjawab sambil menunjukkan sebuah kotak putih yang dibawanya, “Salah seorang budakku membuatkan makanan manusia untuknya dan aku datang mengantarkannya.”

“Kau tidak dalam kapasitas untuk mengurusi budakku.” Aslan menggeram sementara matanya menyipit waspada, “Budakku adalah urusanku.” sambungnya.

“Tapi kau bisa membunuhnya kalau kau tidak membiarkannya makan. Kau pasti tahu bukan bahwa manusia berbeda dengan kita? Mereka butuh makan.” Kara menyela dengan berani, “Kau bisa membunuh budak-budakmu yang lain dan aku tidak peduli, tapi tidak dengan yang satu ini, Aslan. Aku tidak akan membiarkan kau menyiksanya sampai mati kelaparan, yang lain pasti juga setuju denganku.”

“Kalian semua bisa pergi ke dunia lain dan mati di sana!” Aslan meraung marah, “Manusia perempuan itu milikku, budakku! dan aku akan mengikatnya. Setelah itu kau tidak punya kesempatan lagi, Kara. Lupakan Mischa karena dia akan segera menjadi milikku lalu segeralah beralih untuk mencari mainan baru dari budak-budak perempuanmu!” Aslan membentak kasar, lalu melangkah melewati Kara yang tertegun mendengar perkataannya.

Beberapa langkah setelah Aslan melewati Kara yang masih tertegun, Aslan menyempatkan diri untuk berhenti, menoleh ke belakang sementara matanya tertuju pada kotak putih yang berada di tangan Kara yang berisi makanan untuk Mischa. Rasa posesif kembali memenuhi jiwanya tanpa bisa ditahan dan membuat darahnya mendidih.

“Dan ngomong-ngomong, Mischa sudah makan. Aku sudah memberinya makan. Jadi kau bisa membuang apapun yang ada di tanganmu itu ke tempat sampah.” ujar Aslan kejam sebelum kemudian melanjutkan langkahnya kembali dan meninggalkan Kara yang masih terdiam tanpa kata.

***

“Aku akan mengikatnya.”

Aslan memasuki ruangan, tidak peduli dengan apa yang dilakukan oleh saudara-saudaranya yang masih berada di ruangan itu dan langsung menyemburkan keputusannya.

Akrep sedang mempelajari tentang persediaan senjata mereka, sementara yang lainnya, kecuali Yesil sudah menyiapkan diri untuk bersiap-siap mengendarai pesawat tempur mereka untuk menggempur musuh di timur jauh yang masih belum tertaklukkan.

Semuanya langsung tertegun mendengar kalimat yang diucapkan oleh Aslan dan apapun kegiatan yang mereka lakukan, terhenti seketika karenanya.

“Apakah kau yakin?” Akreplah yang pertama kali bisa berkata-kata, menatap Aslan dengan pandangan menyelidik.

Aslan menganggukkan kepala, “Kau bisa memanggil para pendeta untuk mempersiapkan upacara dan kontrak pernikahan.” jawabnya dingin.

Akrep menganggukkan kepala, “Aku akan segera menyiapkannya, dalam waktu singkat.” ucap Akrep tenang, lalu memandang Aslan hati-hati, “Mengikat perempuan itu hanyalah insting yang kami rasakan, Aslan dan kami masih tidak tahu kenapa insting itu mendorong kami untuk melakukannya, untuk memaksamu melakukannya. Tapi yang perlu kau tahu, kami tidak ingin membuatmu merasa terpaksa, jika kau benar-benar tidak mau, kau tinggal bilang dan aku yang akan mengambil peran itu dengan penuh tanggung jawab… untuk mengikat manusia perempuan itu…”

“Manusia perempuan itu milikku!” Aslan meraung marah, melemparkan tatapan mata membunuh ke arah Akrep dan membuat Akrep terdiam seketika.

Keheningan langsung meliputi ruangan, membuat udara terasa panas, menguar oleh aura kemarahan yang terpancar dari wajah Aslan.

Akrep hanya mengangkat bahu dan memilih untuk tidak mengkonfrontasi saudaranya yang berdarah panas itu, sementara Aslan memalingkan kepala, menatap ke arah saudara-saudaranya masih dengan ekspresi gusar yang kental di wajahnya.

“Apakah kalian akan pergi berperang?” tanyanya dingin.

Sevgil menyeringai, dihias senyum di sinar matanya, “Tentu saja, seperti biasanya, Aslan. Kita akan menggempur musuh dengan dahsyat hari ini.” ucapnya dengan nada optimis sedikit sombong.

“Bagus.” Aslan menjawab dengan dingin, “Aku akan menyiapkan diri, lalu ikut pergi berperang bersama kalian. Membunuh manusia sebanyak mungkin sepertinya bisa sedikit mengembalikan suasana hatiku.” ucapnya kemudian dengan nada kejam.

***

“Kau akan membiarkan Aslan mengikat Mischa?”

Kara datang kemudian dengan marah ketika saudara-saudaranya telah pergi dari ruangan itu, mempersiapkan diri untuk berangkat berperang, sementara hanya Akrep yang tinggal untuk mengkoordinasi pasukan di pusat kendali.

Akrep menoleh, mengangkat alis melihat keseriusan di wajah Kara, “Kau pasti sudah tahu bahwa manusia perempuan itu ditakdirkan untuk Aslan, Kara.”  jawab Akrep kemudian.

Kara mengernyitkan keningnya tidak setuju, “Aslan akan meremukkan Mischa, Akrep. Manusia perempuan itu begitu rapuh, begitu lemah jika dibandingkan dengan kekejaman dan kekasaran Aslan. Kalau Aslan tidak bisa menahan emosinya, bisa saja dia membuat perempuan itu tewas, dan kalau sampai perempuan itu tewas sebelum kita mendapatkan jawaban, kita juga yang akan rugi. Seharusnya kau memberikan manusia perempuan itu kepadaku, aku akan menjaga dan memperlakukannya dengan baik. Hanya aku satu-satunya di antara kalian yang tahu bagaimana memperlakukan manusia perempuan dengan baik tanpa meremukkan mereka ketika aku memilikinya.”

“Bukan aku yang bisa menjadi penentu di sini, Kara.” Akrep menyela cepat, “Kau pasti sudah tahu siapa pemimpin tertinggi di antara kita, seberapapun besar kau tidak suka dengannya, Aslan tetaplah pemimpin kita yang harus kita hormati. Lagipula alam sudah menunjukkan bahwa perempuan itu sudah ditakdirkan menjadi milik Aslan, dan meskipun kau tidak setuju, kau tidak akan pernah menang melawan Aslan.”

“Aku akan berbicara dengan Yesil.” Kara seolah-olah tidak mendengar apa yang dikatakan oleh Akrep, “Yesil pasti tahu bahwa Aslan pasti akan meremukkan Mischa kalau dia mencoba memilikinya. Dia akan setuju denganku supaya Aslan tidak buru-buru memanen Mischa sebelum tubuh Mischa siap.”

Sambil mengucapkan kalimatnya dalam gerutuan cepat, Kara melangkah keluar dari ruangan, sama sekali tidak mempedulikan Akrep dan membuat Akrep hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah masam.

***

Pintu kamar terbuka dengan kasar dan Mischa yang kali ini tidak bisa tidur kembali langsung tersentak. Kali ini Mischa sudah siap dengan kedatangan Aslan. Dirinya duduk di sebuah kursi yang berada di sudut ruangan sambil memasang kursi lain di depannya yang seolah-olah bisa menjadi tameng baginya.

Aslan berdiri, menatap Mischa dan bibirnya menipis dan memasang ekspresi mencemooh seolah-olah garis pertahanan yang dipasang oleh Mischa menggelikan baginya.

“Aku berubah pikiran.”

Aslan tiba-tiba berucap, matanya terpaku tajam ke arah Mischa, sementara ekspresinya menilai dengan cara mengerikan ke arah Mischa.

Mischa sendiri mendongakkan kepala, menatap ke arah Aslan dengan bingung.

Berubah pikiran tentang apa?

Dan Mischa tidak perlu menunggu lama untuk menemukan jawaban atas pertanyaannya karena Aslan langsung melemparkan jawaban itu ke depannya.

“Aku tidak akan menunggu kau siap untuk memanenmu.” desis Aslan lambat-lambat, “Aku akan memanenmu malam ini, segera setelah aku mengikatmu.”

“Mengikatku?” Mischa berucap dengan terbata. Bahkan mendengar kata ‘mengikat’ terasa lebih mengerikan daripada mendengar kata ‘memanen’ dari bibir Aslan.

Memanen berarti memuaskan nafsu, dan Mischa juga tahu arti ‘mengikat’ bagi bangsa Zodijak, mengikat berarti sebuah komitmen serius, sebuah kontrak pernikahan untuk melanjutkan keturunan.

Lelaki Zodijak ini sedang bercanda, bukan? Bagaimana mungkin Aslan akan melakukan kontrak untuk melanjutkan keturunan dengannya yang notabene seorang manusia? 

“Malam ini, setelah aku pulang dari berperang, kita akan melakukan upacara pernikahan, pengikatan dirimu menjadi milikku.” mata Aslan masih lekat menatap Mischa, “Setelah itu kau harus bersiap-siap, aku akan memanenmu dan jika ternyata tubuhmu sanggup dan kau masih hidup setelah kupanen, aku akan menunggu dalam waktu tertentu untuk memastikan apakah kau bisa memberiku keturunan atau tidak. Jika ternyata kau tidak bisa memberiku keturunan, maka aku akan membunuhmu.” Aslan menyipitkan mata penuh ancaman, “Lebih baik aku membunuh istriku daripada harus selamanya terikat kontrak pernikahan dengan perempuan yang tidak bisa memberiku keturunan.” ucapnya kemudian lalu melangkah kembali ke pintu.

“Tunggu dulu!” Mischa meloncat dari duduknya, entah kenapa rasa panik bercampur ingin tahu bisa mengalahkan ketakutannya, membuatnya berani menghadapi Aslan, “Kenapa kau harus mengikatku? Apa yang ada di benakmu? Bangsa Zodijak tidak pernah mengikat manusia sebelumnya, kami sudah jelas-jelas tidak bisa memberi kalian keturunan karena susunan genetik kita berbeda. Itu sama saja kau memberikan hukuman mati untukku tapi kau mengulur-ulurnya. Apakah kau sedang menggunakan kontrak pernikahan yang sakral bagi bangsa Zodijak hanya untuk mempermainkanku?”

Aslan membalikkan badannya dan menyeringai marah ke arah Mischa,

“Tinggi sekali kau menilai dirimu, dasar manusia rendahan yang tak tahu diri. Aku tidak akan mengorbankan kesakralan sebuah kontrak pernikahan hanya untuk makhluk berderajat rendah seperti dirimu.” desis Aslan gerem, “Kontrak pernikahan ini terjadi karena sebuah alasan dan karena saudara-saudaraku berpikir bahwa ini semua baik adanya, sama sekali tidak ada hubungannya dengan kepentinganmu.” tiba-tiba Aslan memutuskan untuk memutari ranjang dan mendekat ke arah Mischa, membuat Mischa menyesal karena dia menantang Aslan tadi.

Mischa melangkah mundur di setiap langkah Aslan yang mendekat hanya untuk menemukan punggungnya tertahan di tembok dan tidak bisa mundur lagi.

Aslan terus mendekat, tidak peduli dengan Mischa yang membuka kedua telapak tangan jauh di tubuhnya dan meenghadap ke arah Aslan, sebuah gerakan tubuh refleks yang menandakan penolakan atas sebuah kedekatan yang dipaksakan, dan langkah Aslan baru berhenti ketika tubuhnya erat di depan Mischa.

Tangan Aslan bergerak, mencengkeram kedua pergelangan tangan Mischa dengan kasar dan menahannya di depan tubuh sementara Aslan berdiri dekat sekali di depan Mischa.

“Lepaskan aku!” Mischa meronta, berusaha melepaskan tangannya dari cengkeraman Aslan, tapi tentu saja gerakannya percuma, pegangan Aslan begitu kuatnya hingga menyiksa dirinya dan menyakitinya. Lelaki itu malahan menundukkan kepala hingga napasnya yang panas terasa begitu dekat di bibir Mischa,

“Kau rupanya tahu banyak tentang kebudayaan bangsa kami, apakah aku harus mencurigaimu? Jangan-jangan kau benar-benar senjata yang sengaja disusupkan kemari untuk membunuhku?”

Pertanyaan itu tidak dijawan oleh Mischa dan Mischa malahan memutuskan untuk memalingkan wajah menghina, membuat kemarahan menyelimuti diri Aslan.

“Kalau semua berdasarkan keputusanku, aku hanya akan menjadikanmu pemuas nafsuku sampai aku puas sebelum kemudian dengan senang hati aku akan membunuhmu. Dan bisa dibilang itulah rencanaku sebelumnya.” Aslan mendorong pergelangan tangan Mischa ke dinding dan mencengkeramnya di sana sementara dirinya dengan kurang ajar menggunakan tubuhnya untuk mendorong tubuh Mischa rapat di tembok, membuat usaha Mischa untuk meronta dan melarikan diri benar-benar sia-sia.

“Manusia perempuan sialan.” umpat Aslan dengan kasar, “Kenapa aku harus bertemu denganmu dan mengalami ini? Kau tidak membawa apapun kepadaku selain nasib buruk!” sambungnya kasar dan entah kenapa kemudian malah memutuskan untuk menunduk sementara bibirnya mencari-cari bibir Mischa.

Seketika itu juga Mischa berusaha memalingkan wajahnya ke kiri dan ke kanan, sekuat tenaga menghindari pagutan bibir Aslan yang mulai menyerangnya. Gerakan Mischa yang tak mau menyerah itu membuat Aslan kesulitan untuk menemukan bibir Mischa sementara ciumannya hanya mendarat di pipi dan sudut bibir Mischa.

Dengan gemas Aslan melepaskan cengkeramannya di salah satu pergelangan tangan Mischa dan menggunakan tangannya untuk mencengkeram rahang Mischa supaya kepalanya berhenti menghindar, setelah Mischa terperangkap, Aslan menggunakan jarinya yang masih mencengkeram rahang Mischa untuk memaksa bibir Mischa terbuka, dan tanpa menunggu-nunggu lagi, Aslan langsung menanamkan bibirnya di sana, memagut Mischa dengan kasar dan tanpa ampun dengan tujuan untuk menyakiti, Aslan bahkan menggunakan giginya untuk setengah menggigit bibir Mischa, seolah menunjukkan jika dia bisa menyakiti Mischa kalau mau, tetapi memilih tidak melakukannya. Ciuman itu dilakukan karena dorongan primitif, hanya untuk menunjukkan bahwa laki-laki yang kuatlah yang berkuasa dan perempuan yang lemahlah yang terkalahkan.

Mischa merontak, menggunakan salah satu tangan kurusnya yang terbebaskan untuk memukuli punggung Aslan, tapi semua itu tidak ada gunanya karena pukulan dari kepalan mungilnya sepertinya tidak bisa menandingi kekuatan Aslan.

Pada akhirnya, ketika ciuman paksa itu berakhir, Mischa hanya bisa memalingkan muka dan menahankan air matanya sekuat tenaga karena dia tidak mau meneteskan air mata dan terlihat lemah di depan lelaki ini padahal dia sedang menahan nyeri di bibirnya yang berdenyut kesakitan.

Aslan sendiri seketika melepaskan pegangannya dari Mischa dan melangkah mundur seolah tubuh Mischa tiba-tiba mengeluarkan bara api yang menyengat ketika dia menyentuhnya. Ekspresi Aslan tetap sama, dingin dan dipenuhi kekejaman yang menyeramkan.

“Para budakku akan menyiapkanmu. Dan malam ini, setelah upacara kontrak pernikahan, aku akan memanenmu.” geramnya kasar bagaikan sebuah janji mengerikan yang masih tetap menguar di udara bahkan setelah lelaki itu melangkah pergi meninggalkan ruangan.

Bersambung ke part berikutnya

570 Komentar

  1. Aslan

  2. Anggi putri menulis:

    Lanjut

  3. Krren

  4. Desi ratna menulis:

    :kumenangismelepasmu

  5. Chika anastasia menulis:

    Sosor trusss

  6. aslan tsundere

  7. Yuni Widaningsih menulis:

    Elah…muna lu Aslan lain di mulut lain juga di hati, pen gua tembak :menor :backstab

Tinggalkan Balasan