inevitable-war
Inevitable War

Inevitable War Part 1 : The Zodijak

Bookmark

No account yet? Register

2.285 votes, average: 1,00 out of 1 (2.285 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author Playlist – Adele : Million Years Ago ( Cover Lyric )

I miss the air I miss my friends, I miss my mother I miss it when life was a party to be thrown
But that was a million years ago


 

inevitable-war

“Hati-hati!”

Mischa berseru dalam bisikan sambil menarik tangan Sasha supaya kembali masuk ke balik reruntuhan ketika suara pesawat-pesawat pengintai terdengar di atas langit. Suara itu begitu menakutkan, bagaikan raungan monster siang dengan mata tajamnya berwujud radar yang bisa menemukan seluruh makhluk hidup yang tersapu olehnya.

Mischa menarik Sasha supaya rebah di tanah sementara jantungnya berdebar dan keringat menetes di pelipisnya. Hari ini sangat panas, seperti hari-hari yang lain karena langit dan sebagian besar pelapisnya telah dirusak dalam perang yang tiada akhir. Kerusakan itu menyebabkan matahari menjadi garang dan tak kenal ampun, menyengat siapapun yang berani muncul di bawah teriknya.

Udara pun sama tak bersahabatnya, membaurkan butiran debu yang mebuat hidung pedih ketika menghirupnya, bahkan mata mereka pun menjadi merah dan terasa perih ketika debu itu sampai mengenai area mata mereka.

Beginilah kehidupan mereka sekarang, di jaman yang penuh racun akibat serangan bangsa asing yang menghancurkan bumi, menciptakan perang berlarut-larut yang tak terelakkan dan sepertinya tidak akan pernah berakhir.

Kehidupan umat manusia dulu dipenuhi kemakmuran dan ketenagan sebelum kemudian Bangsa Zodijak menyerang. Bangsa itu berasal dari luar bumi entah berasal dari mana, mereka datang beribu-ribu pesawat berukuran raksasa yang ternyata berisi pasukan perang nan kejam yang dilengkapi dengan persenjataan modern yang tak ada habisnya.

Mereka mengelilingi seluruh galaksi untuk mencari dan menguasai sumber daya yang mereka butuhkan : air. Dan bumi serta penduduknya benar-benar tidak beruntung karena mereka memiliki air yang melimpah dan menggiurkan bagi Bangsa Zodijak.

Ya, Bangsa Zodijak membutuhkan air untuk bertahan hidup, sementara planet mereka yang hancur karena tidak punya perlindungan terhadap meteor memaksa mereka menyeberang antar galaksi untuk mencari planet yang bisa diduduki, membangun kerajaan mereka sendiri dan menghancurkan penduduk asli.

Ketika serangan pertama terjadi dan disusul dengan serangan-serangan selanjutnya yang seolah tiada akhir, seluruh makhluk bumi bersatu untuk melawan bangsa itu, tetapi pada akhirnya mereka semua kalah dengan mudah, kalah persenjataan, kalah kekuatan, kalah teknologi, kalah jumlah dan juga kalah dalam ketahanan tubuh.

Bangsa Zodijak sebenarnya hampir mirip dengan manusia, penampilan mereka pun sama persis, hanya saja tubuh mereka lebih tinggi, dengan permukaan kulit yang begitu keras sekaligus lentur, memungkinkan mereka bergerak dengan mudah, tapi melindungi tubuh mereka bahkan dari tembakan peluru sekalipun. Sangat sulit untuk melukai bangsa Zodijak karena seluruh tubuh mereka dilapisi oleh sistem pertahanan diri yang efektif dan sulit ditembus. Manusia bagaikan melawan tembok baja yang bahkan tidak bisa digores, membuat pertarungan ini laksana semut melawan gajah.

Satu-satunya yang membedakan secara mencolok dari penampilan Bangsa Zodijak dengan manusia adalah mata mereka. Mata mereka hitam legam, keseluruhannya. Tidak menyisakan warna putih sedikitpun layaknya mata manusia. Dan mereka juga menyebarkan virus mengerikan yang membuat manusia tak berdaya, jika mereka menggigit manusia, maka virus itu akan menguasai otak manusia, menjajahnya dan membuat kaum manusia menjadi selayaknya robot yang mudah untuk diperbudak.

Itulah yang terjadi pada Presiden yang memimpin sebuah negara adidaya, negara kuat yang menjadi salah satu harapan mereka untuk melawan Bangsa Zodijak, tetapi akhirnya tumbang juga karena virus dan kalah persenjataan. Kejatuhan negara adidaya itu menciptakan ketakutan maha dasyat di antara seluruh bangsa, memaksa bangsa-bangsa di bumi yang tersisa untuk bersatu padu, menyatukan kekuatan untuk melawan mereka dan yang Mischa dengar, mereka semua masih bertarung di sana, di belahan bumi lain, mencoba memperjuangkan apa yang tersisa dari harapan hidup umat manusia.

Mischa tidak tahu pasti apa yang terjadi di negara lain. Seluruh sistem informasi telah musnah sehingga mereka bahkan kesulitan untuk berhubungan dengan saudara satu bangsa mereka. Mungkin saja di luar sana masih banyak yang melawan, mungkin saja masih ada harapan untuk negara-negara lain yang masih bertahan.

Sayangnya negara tempat Mischa berada sudah tumbang sejak lama. Hancur berkeping-keping dan menyisakan reruntuhan tanpa daya, pasrah untuk diluluh lantakkan sebagai pondasi baru bagi peradaban Bangsa Zodijak yang kejam. Mereka semua bagaikan makhluk buruan yang tak berdaya, hanya tinggal menunggu waktu sebelum tertangkap dan dijadikan budak tanpa jiwa bagi kamu penjajah.

Deru pesawat pengawas yang sangat canggih itu masih terdengar beberapa lama di permukaan langit, mencari-cari siapapun yang mencoba menyelinap di balik reruntuhan. Mischa memeluk Shasha, anak perempuan kecil yang sama seperti dirinya, bertahan hidup sendirian, kehilangan seluruh keluarganya dan menggantungkan hidup satu sama lain dengan kaum penyelinap, sebutan bagi warga sipil yang mencoba bertahan hidup dan melawan diam-diam, bergerak gerilya di bawah tanah, berpikir bahwa lebih baik hidup dalam pelarian tapi berjiwa merdeka daripada hidup terjamin tetapi menjadi budak dan kehilangan pemikiran bebas. Mereka yang tak mau menyerah ini dijuluki Kaum Penyelinap, kaum terbuang yang memilih berjuang secara sembunyi-sembunyi.

Keberadaan mereka mungkin merupakan gangguan yang tidak disukai oleh Bangsa Zodijak, terutama oleh kaum bangsawan yang menjadi pemimpin di antara mereka.

Bangsa Zodijak dipimpin oleh tujuh pemimpin utama yang masing-masing memiliki pasukan dengan keahlian khusus nan mengerikan. Tujuh pemimpin utama itu merupakan tujuh saudara dengan karakteristik masing-masing. Aslan, Akrep, Khar, Sevgil, Yesil, serta si kembar Kaza dan Kara, Mischa memang tidak pernah melihat langsung dan hanya pernah mendengar nama mereka dan kengerian yang ditebarkan setiap nama-nama itu disebut, tetapi Mischa tahu bahwa mereka adalah makhluk jahat, makhluk kejam yang menghancurkan sebuah dunia hanya demi membangun dunia baru milik mereka sendiri.

Saat ini Mischa sedang menundukkan kepala, rata dengan tanah, sebelah tangannya yang dibungkus sarung tangan tebal berwarna cokelat menekan kepala Shasha supaya ikut merundukkan kepala. Mereka memakai pakaian cokelat yang memang disengaja supaya sewarna dengan tanah, tetapi pesawat milik Bangsa Zodijak sangat canggih hingga kamuflase kadang tidak ada gunanya.

Setelah beberapa waktu dalam suasana mencekam, rupaya keberuntungan masih berada di pihak mereka. Pesawat itu tampaknya memutar arah dan menjauh pergi karena tidak menemukan apa-apa. Mischa menajamkan telinga, memastikan bahwa pesawat itu telah benar-benar menjauh sebelum kemudian dia menghembuskan napas lega, mengangkat tubuhnya ke posisi duduk dan mengangkat tangannya dari kepala Sahsa.

“Lain kali jangan pernah keluar dari gua reruntuhan ketika matahari sedang terik-teriknya seperti ini. Pesawat-pesawat mereka berkeliaran tanpa henti, dan di siang hari kita sangat mudah terlihat.” Mischa memberi nasehat dengan lembut kepada Sasha yang tampak menundukkan kepala penuh rasa bersalah. Anak itu memang memiliki rasa ingin tahu yang sangat tinggi, dan rasa ingin tahunya itu kadang tak tentu arah membuatnya lupa akan bahaya yang mengancam. Mischa memang tidak mungkin bisa menyalahkan Sasha sepenuhnya, anak itu masih muda, masih berusia sepuluh tahun dan dunia luar yang hancur lebur dan tampak menyedihkan di mata Mischa yang sudah menginjak usia sembilan belas tahun, tentu tampak begitu menarik layaknya rangkaian puzzle yang harus dijelajahi di mata Sasha. Sayangnya keingintahuan Sasha kadang tak tepat waktu hingga bisa saja membahayakan mereka semua.

Ya, kaum penyelinap seperti mereka biasanya pergi bergerombol, minimal lima orang dan kadang bisa lebih banyak jika mereka beruntung. Jika sampai salah satu tertangkap oleh prajurit Bangsa Zodijak, maka mereka akan diubah menjadi budak, dan sudah pasti akan patuh jika diminta memberitahukan lokasi persembunyian yang lain. Satu yang tertangkap akan merembet mencelakai yang lain.

Mischa lalu berdiri, menepuk-nepuk debu dari pakaian tebalnya yang berlapis-lapis dan terasa berat di tengah udara terik itu, tangannya terulur, memberi isyarat tanpa kata supaya Sasha menggandeng tangannya. Ketika Sasha menyambut uluran tangan itu, Mischa langsung menggenganya erat, menatap Sasha dengan lembut dan memastikan bahwa dia sudah melupakan keteledoran Sasha sebelumnya.

“Ayo. Kita harus segera masuk ke tempat persembunyian. Kita sudah mendapatkan apa yang kita inginkan.” Mischa menepuk kantong kulit yang dijaganya layaknya barang berharga. Mereka tadi mendapat tugas pergi ke permukaan untuk mencari makanan, dan beruntung mereka menemukan umbi kentang yang masih bertahan di salah satu reruntuhan bangunan serta serumpun lumut hijau dengan rasa manis yang bisa dimakan.

Pada masa pelarian ini, apapun yang bisa dimakan sangatlah berharga. Mereka harus bertahan hidup dengan apapun yang mereka bisa dapatkan, demi kebebasan dan kemerdekaan pikiran mereka.

***

“Hanya tinggal menunggu waktu sampai mereka semua menyerah. Saat ini mereka sedang mengerahkan senjata terkuat mereka, dan setelah itu mereka tidak akan punya apa-apa lagi.” Akrep adalah yang tertua dari tujuh bersaudara, berwajah tampan dengan eskpresi serius dan dahi yang selalu berkerut. Akrep hampir tidak pernah tertawa, yang ada di pikirannya hanyalah memperluas kekuasaan dan mengalahkan musuh.

Saat ini Akrep tampak serius dengan pakaian gelap yang membungkus tubuh tingginya sedang memandang lurus ke arah sebentuk bola bumi yang melayang dan transparan di depan mereka. Bola bumi itu terbagi menjadi dua warna, warna merah menunjukkan area-area yang sudah dikuasai, sedang warna biru menunjukkan daerah-daerah yang masih memberikan perlawanan akhir, dan sebentar lagi juga akan menjadi milik mereka dengan mudah.

“Aku tidak pernah menemukan bangsa yang begitu gigih mempertahankan diri seperti makhluk bumi ini. Pemimpin mereka hancur lebur dan mereka tercerai berai entah kemana, tetapi mereka tetap tidak menyerah.” kali ini Yesil yang bergumam di belakang Akrep, tubuhnya sedikit lebih pendek dan dia adalah yang paling muda di antara tujuh bersaudara, rambutnya sendiri gelap, sama seperti yang lain, tapi sedikit lebih ikal dan ekspresinya jauh lebih lembut dibandingkan dengan Akrep yang begitu kaku.

“Mereka hanya bertahan di dalam kesia-siaan.” Kaza yang sejak tadi duduk dan memperhatikan kedua saudaranya menyela dengan suara meremehkan, “Kita masih berbaik hati dengan mengubah mereka menjadi budak, bukannya langsung menghabiskan mereka. Setidaknya dari milyaran manusia yang menduduki bumi, kita masih menyisakan beberapa juta dari kaum mereka.”

“Suatu saat aku akan menghabiskan mereka tanpa sisa jika kita sudah tidak membutuhkan budak lagi untuk melayani kita.” Akrep melirik dengan ekspresi jijik ke arah sosok manusia yang sejak tadi berlutut dengan tatapan mata kosong tak berdaya, kepalanya menunduk seolah tidak ada tanda kehidupan, tetapi begitu diberi perintah, sosok ini akan bergerak cepat untuk melaksanakan. Begitulah manusia yang telah diprogram menjadi budak, mereka tiada guna di dunia ini selain menjadi hamba Bangsa Zodijak.

“Aku sudah tahu kau akan melakukan itu, Akrep, kau sangat suka menumpahkan darah mereka…” Yesil menyahut sambil setengah terkekeh, “Tapi tetap saja kau tidak bisa mengalahkan Aslan, dia membabi buta membunuh manusia hingga tidak membedakan mana yang bisa menjadi budak dan mana yang tidak berguna dan seharusnya di bunuh.”

“Ah, karena kau menyebut nama Aslan, aku jadi ingin tahu. Dimana Aslan dan yang lainnya? Apakah mereka sedang berburu?” Akrep mengangkat alis dan mengajukan pertanyaan yang sebenarnya sudah dia tahu jawabannya. Berburu yang dia maksud adalah berburu manusia, hanya sebagai olahraga untuk bersenang-senang menghapus kebosanan.

Biasanya mereka pergi ke daerah-daerah reruntuhan di negara-negara yang telah tumbang, lalu turun dan menyamar menjadi manusia. Penampilan Bangsa Zodijak memang sama persis seperti manusia, hanya mata mereka yang membedakan, sehingga untuk menyamar menjadi manusia, mereka tinggal memasang alat khusus untuk mengganti warna mata mereka secara sempurna. Biasanya mereka menyelinap ke sela-sela reruntuhan, dan mencari kaum penyelinap, kaum gerilyawan dari kalangan manusia yang tidak pernah kehilangan asa untuk menyerahkan diri dan tunduk pada Bangsa Zodijak.

Mereka sebenarnya bisa menumpas kaum penyelinap dengan mudah, tapi mereka sengaja mempertahankan untuk olah raga dan bersenang-senang. Berburu kaum penyelinap cukup meyenangkan setelah mereka berperang dan menghabisi negara-negara yang melawan. Dan yang menyedihkan, kaum penyelinap mengira bahwa mereka sedang berjuang demi kemerdekaan, padahal sebenarnya mereka semua dibiarkan hidup hanya karena keberadaan mereka dibutuhkan sebagai manusia buruan yang bisa digunakan untuk olahraga dan bersenang-senang bagi Bangsa Zodijak.

Bangsa Zodijak diciptakan sebagai bangsa pemburu dan pemusnah, jadi kegiatan apapun yang berhubungan dengan perburuan sangat menyenangkan bagi mereka. Dan Aslan, salah satu dari saudara mereka adalah yang paling senang berburu manusia atau makhluk apapapun yang kebetulan sedang sial karena planetnya dijajah oleh Bangsa Zodijak.

“Hanya Aslan yang pergi berburu di area reruntuhan yang ditinggalkan. Yang lainnya sedang bersenang-senang dengan cara mereka sendiri, memimpin pertempuran melawan sebuah negara di timur jauh, kau sudah tahu bukan bahwa bangsa manusia menggunakan senjata terkuat mereka pada akhirnya?” Yesil memiringkan kepala, “Sebuah teknologi kuno yang menyedihkan, mereka menyebutnya senjata nuklir. Teknologi yang mereka sangka besar dan paling kuat sebenarnya tidak sebanding dengan kita, mereka akan habis dalam sekejap.”

“Senjata nuklir? Maksudmu kembang api?” kali ini Kara menyela dengan senyuman lebar di bibirnya, “Aku tak sabar menanti perang ini berakhir dan seluruh perlawanan ditumpas habis, sehingga aku bisa bersenang-senang.”

“Cara bersenang-senangmu memang berbeda dengan yang lain.” Akrep mencibir sinis, “Apakah sebegitu menyenangkannya mencicipi perempuan bangsa bumi?”

Kali ini Kara tertawa terbahak-bahak sebelum menjawab.

“Bukankah kau sudah mencoba mereka? Perempuan bumi menyenangkan, mereka lembut dan lemah, mudah untuk dikuasai, jauh berbeda dengan perempuan bangsa kita.”

“Jangan sampai kau terlibat terlalu jauh dengan mereka, Kara. Jangan sampai kau mengulangi kesalahan yang sama.” Akrep langsung memberi nasehat dengan nada serius, membuat tawa Kara terhenti, tergantikan oleh anggukan singkatnya yang tampak getir.

“Jangan khawatir, Akrep. Aku hanya menganggap mereka semua budak rendahan yang tidak sebanding dengan bangsa kita. Aku sudah mendapat pelajaran di masa lampau, tidak akan mungkin aku jatuh di lubang yang sama.” Kara mengusap leher belakangnya seolah tanpa sadar, jemarinya menyentuh bekas luka lebar di sisi belakang leher yang menjalar sampai ke punggung, tertutup pakaian, sisa dari luka masa lalu yang menjadi pelajaran untuknya.

“Bagus. Aku tidak ingin tujuan kita terganggu oleh makhluk bernama perempuan. Kau boleh bersenang-senang dengan mereka, tapi setelah kau puas, bunuh mereka.” ujar Akrep sambil lalu sambil mengalihkan perhatian kembali ke tampilan bola bumi yang menunggu.

Pembahasan tentang perang dan pertempuran selalu lebih menarik bagi Akrep daripada pembahasan tentang perempuan.

***

Aslan mengamati mereka semua dalam diam, dalam senyum kejamnya yang mengerikan. Tubuhnya yang tinggi tampak tersamarkan di balik bebatuan dan puing reruntuhan yang tersaput kabut debu yang membuat udara tampak pekat dan menyesakkan. Hal ini mungkin cukup berat bagi kaum manusia, tapi tidak berarti apapun bagi Bangsa Zodijak sepertinya.

Dua anak manusia. Yang satu besar dan yang satu kecil. Yang kecil tidak menarik perhatiannya karena terlihat lemah, masih butuh beberapa tahun lagi untuk bisa dijadikan budak ataupun buruan untuk bermain-main.

Tapi yang lebih besar menarik perhatian Aslan. Mereka berjenis perempuan, terlihat dari postur tubuh yang khas. Dan yang lebih besar tampaknya begitu gesit dan berpengalaman dalam pelarian.

Dia sedang menjaga anak kecil itu…

Aslan masih tidak bisa menyingkirkan senyum kejamnya ketika menghitung-hitung. Kalau perempuan itu sehat dan gesit, mungkin dia bisa  memisahkan perempuan itu dari anak kecil pengganggu yang dijaganya, lalu membuat perempuan itu berlari-lari dalam pengejarannya selama beberapa saat sebelum kemudian membunuhnya.

Hal itu terasa menggoda meskipun membunuh perempuan masih terasa kurang menantang baginya.

Di dataran tandus penuh dengan puing-puing bangunan yang runtuh dan menjadi penghalang ini, Aslan suka menunggu hingga sosok manusia laki-laki muncul, sebelum mendekati lalu memburu mereka. Penampilan Aslan dalam penyamaran dengan mata manusia kadang membuat manusia laki-laki itu kurang waspada dan baru sadar ketika semua sudah terlambat.

Manusia laki-laki lebih menyenangkan untuk diburu, karena tubuh mereka lebih kuat yang berarti mereka bisa lebih lama bertahan, berlari-lari atau kadang melawan dengan menyedihkan, sebuah olahraga yang efektif bagi dirinya. Sayangnya, akhir-akhir ini dia jarang menemukan kaum laki-laki naik ke permukaan dan keluar dari tempat persembunyian. Entah karena mereka memang sudah habis diburu, entah karena mereka berubah menjadi pengecut dan menyuruh kaum perempuan yang keluar menantang maut.

Apapun itu, sekarang Aslan sudah jauh-jauh datang kemari dengan harapan bisa bersenang-senang dalam perburuan. Dia tidak ingin pulang dengan tangan kosong. Mangsa apapun yang ditemukannya, akan dilalapnya meskipun sekarang yang muncul adalah sosok perempuan dan anak kecil yang tak berguna.

Aslan menegakkan tubuh, lalu melangkahkan kaki untuk menunggu di tempat yang tepat sebelum kemudian menyapa mangsanya.

***

Mischa membungkukkan tubuh supaya debu yang mengotori udara tidak menampar wajahnya dan masuk ke pernapasannya, kain yang dia gunakan untuk menutup wajahnya sama sekali tidak membantu. Dirinya mungkin bisa bertahan, tetapi Mischa mencemaskan Sasha yang masih kecil. Anak itu baru pertama kali naik ke daratan atas, keluar dari gua-gua yang tertutup puing bawah tanah.

Mischa terpaksa membawa Sasha naik karena anak itu menangis dan merengek ingin melihat dunia luar. Pada akhirnya tangisan dan rengekanya mengganggu anggota kelompok mereka yang lain sehingga mereka semua menyuruh Mischa segera menyingkir dan membawa Sasha naik ke atas untuk mencari persediaan makanan.

Sekarang mereka sudah hampir separuh berhasil. Bahan makanan sudah didapat dan saat ini, Mischa dan Sasha harus melalui dua bangunan tinggi yang telah runtuh sebelum masuk ke pintu terowongan bekas stasiun kereta bawah tanah yang menjadi pintu penghubung ke lokasi persembunyian mereka di bawah sana.

Hanya tinggal sedikit lagi… dan sayangnya langkah Mischa harus terhenti karena matanya menangkap sosok itu. Sosok tinggi berjubah hitam, berambut legam yang sedikit panjang menyentuh kerah jubahnya. Sosok itu sudah pasti laki-laki dan sedang bergeming seolah-olah menanti mereka.

Mischa tidak pernah melihat lelaki itu sebelumnya. Dia sepertinya bukan anggota kelompok mereka… bahkan pakaiannya terlalu bagus dan rapi. Kaum penyelinap biasanya menggunakan kain cokelat berlapis-lapis yang compang-camping yang berguna sebagai pelindung panas terik menyiksa di siang hari dan sebagai penghangat ketika malam menjelang dengan hawa dingin yang menusuk tulang.

Perasaan Mischa langsung dirambati oleh rasa tidak enak. Semacam alarm peringatan bahaya yang menyala dari dalam tubuhnya, membuat bulu kuduk di belakang leher dan sepanjang tulang punggungnya meremang.

Secara impulsif, Mischa langsung menghela Sasha supaya berjalan di belakangnya, berlindung di balik tubuhnya dan Micha menjadikan tubuhnya sendiri sebagai tameng untuk melindungi Sasha dari apapun yang sedang menunggu di depan mereka.

Sejenak Mischa merasa ragu, ingin membalikkan diri dan berlari, tapi dia tidak punya pilihan lain. Satu-satunya jalan untuk memasuki lokasi persembunyian kelompoknya adalah pintu terowongan itu. Pintu-pintu yang lain sudah tertutup reruntuhan gedung dalam bongkahan besar yang tidak mampu diangkat oleh manusia tanpa alat berat, lagipula jalan masuknya mungkin sudah luluh lantak dan tak bisa dilalui.

Masih ada satu pintu di lokasi lain, tetapi mereka harus melalui sekitar lima puluh gedung besar yang sudah runtuh, dan perjalanan itu akan sangat berbahaya karena mereka mungkin masih akan ada di permukaan sampai matahari tenggelam, padahal para pemburu dari Bangsa Zodijak biasanya menginspeksi reruntuhan di malam hari dengan senjata lengkap dan kekejaman yang luar biasa.

Akhirnya, dengan berharap bahwa yang ada di depannya itu adalah manusia sama seperti mereka yang mungkin kebetulan tersesat dan terpisah dari kelompoknya, Mischa membawa Sasha untuk mendekat sosok misterius berpakaian hitam itu.

Langkahnya sudah semakin dekat ketika Mischa memutuskan untuk menghentikan langkah di jarak aman dan menyapa.

“Apakah kau butuh bantuan?” tanyanya pelan dan waspada. Tangannya bergerak pelan, menyentuh pisau yang selalu diselipkan di pinggangnya. Jika dirinya bertemu dengan Bangsa Zodijak, pisau itu mungkin tidak berguna, tetapi setidaknya Mischa bisa melawan dan memperlambat musuhnya sembari memberi kesempatan bagi Sasha untuk lari dan berlindung.

Sosok berpakaian hitam itu mengangkat kepala, menatap Mischa dengan pandangan mata tak tertebak, dan Mischa sendiri tidak bisa menahan diri untuk tidak menghembuskan napas lega ketika melihat warna putih berpadu dengan bola mata hitam di mata lelaki itu.

Bukan hitam legam sepenuhnya…. Mischa membatin dalam kelegaan. Berarti dia bukan Bangsa Zodijak melainkan manusia biasa.

Mischa mengamati tubuh lelaki itu dan kagum dengan ketegapannya. Lelaki ini tampak kuat. Seandainya saja dia bisa membujuk lelaki itu masuk ke dalam kelompok mereka, mungkin lelaki ini bisa sangat membantu.

“Apakah kau tersesat?” Mischa bertanya lagi, mencoba untuk bersikap ramah sementara lelaki itu hanya berdiam dan mengamatinya dengan tatapan mata tajam seolah mencerna perkataannya. Tak lama kemudian, lelaki itu mengangguk.

Jadi lelaki ini benar-benar tersesat dan terpisah dari kelompoknya? Mischa membatin, merasa kasihan.

“Apakah kau terpisah dari kelompokmu?” tanyanya kemudian untuk meyakinkan dugaannya.

Sekali lagi lelaki itu mengangguk.

“Aku sendirian di sini.” bahu lelaki itu sedikit terangkat ketika membuka mulut untuk pertama kali. Dan entah kenapa suara lelaki itu terdengar sedikit aneh dengan aksen berat yang diseret, berbeda dengan orang-orang yang pernah bercakap-cakap dengan Mischa sebelumnya.

Kemungkinan besar lelaki ini orang asing….

“Apa yang akan kau lakukan?” Mischa bertanya lagi, tahu bahwa dirinya mungkin membuat lelaki itu tidak nyaman, tetapi tergoda untuk menawarkan supaya lelaki itu mau bergabung dan memperkuat kelompok mereka supaya lebih mampu mempertahankan diri di bawah sana.

“Aku tidak tahu.” sekali lagi lelaki itu menjawab lambat-lambat dengan nada misterius yang seharusnya menyentil kecurigaan Mischa. Sayangnya Mischa memilih untuk menumpulkan kecurigaan itu, tertutup oleh rasa senang karena kemungkinan menemukan anggota kelompok baru yang cukup kuat.

“Kau bisa bergabung dengan kelompokku.” Mischa menawarkan, “Kami ada dalam kelompok kecil, hanya delapan orang, tapi kami cukup kuat.”

Lelaki itu melirik ke arah Sasha yang masih bersembunyi di belakang tubuh Mischa, “Kalian kuat? Dengan anak kecil seperti itu?” ucapnya kemudian dengan nada meremehkan.

Pipi Mischa memerah karena nada merendahkan yang tidak ditutup-tutupi itu, dan sikap defensifnya langsung muncul seketika.

“Hanya Sasha yang masih kecil di kelompok kami, sisanya adalah perempuan dan laki-laki dewasa.”

“Oh ya?” kali ini lelaki asing itu tampak tertarik, “Berapa laki-laki dewasa dan berapa perempuan dewasa di sana?”

“Tiga laki-laki dewasa dan lima perempuan, termasuk aku dan Sasha.” Mischa menunjuk Sasha sambil lalu, “Kau bisa bergabung dengan kami kalau kau tertarik. Berada di sini, kau harus masuk ke dalam satu kelompok, kau tidak akan bisa bertahan kalau sendirian, mereka pasti akan menemukanmu.” Mischa mengulurkan tangannya dengan sopan, “Namaku, Mischa. Siapa namamu?”

Lelaki itu mengangkat alis, menatap tangan mungil Mischa yang terulur dengan tatapan mata skeptis yang tidak disembunyikan. Tapi tak lama kemudian, tangan kuatnya terangkat dan menyambut uluran tangan Mischa, menggenggamnya erat seolah mengukur kekuatan.

“Kau bisa memanggilku, Nikolai.” lelaki itu tersenyum lebar, “Terima kasih sudah mengajakku. Aku tidak sabar untuk bergabung dengan kelompokmu.”

***

Mischa membuka mata tiba-tiba karena rasa tidak enak yang mengganggu perasaannya. Dia langsung menoleh ke samping, ke arah tempat Sasha tidur dan terkejut ketika tidak menemukan sosok Sasha di sana. Selimut itu berantakan tapi kosong… begitupun selimut tempat tidur anggota kelompoknya yang lain… semua kosong.

Malam tadi mereka semua berangkat tidur dalam rasa senang karena Mischa telah membawa orang baru yang masih muda dan cukup kuat. Semua lelaki yang ada di dalam kelompok mereka sudah setengah umur, bahkan paman Benny sudah berusia enam puluh tahun dan lebih pantas dipanggil kakek. Kedatangan anggota baru membawa harapan, karena itulah mereka bisa tidur dengan bahagia malam ini.

Lelaki bernama Nikolai itu cukup kooperatif, membantu mengangkat barang-barang, bahkan membantu menyiapkan makanan tanpa ragu. Dan dia cukup tampan hingga membuat anggota perempuan mereka saling melirik dengan genit, beberapa bahkan tampak salah tingkah dan mempermalukan dirinya sendiri karena mencoba menarik perhatian Nikolai. Lelaki itu sendiri hanya tersenyum tipis menanggapi tingkah konyol para perempuan, seolah-olah sudah terbiasa mendapatkan perhatian lebih semacam itu karena ketampanannya.

Setelah makan malam ceria yang mereka habiskan bersama, semuanya beranjak tidur dengan tenang. Sampai kemudian Mischa terbangun dalam kebingungan karena semua orang tidak ada dan suasana sangat sepi.

Jantung Mischa berdebar dalam firasat buruk ketika dia mengangkat selimut dan berdiri, berjalan perlahan tanpa suara menuju pintu ruang tidur mereka. Tempat persembunyian ini sebelumnya adalah stasiun bawah tanah yang sekarang sudah runtuh dan tidak befungsi lagi. Kelompok ini memanfaatkan bangkai kereta api yang setengah terguling dari rel tempatnya seharusnya berada, untuk menjadi tempat perlindungan. Mereka tidur di ruang-ruang yang tersisa di gerbong yang masih bisa ditinggali dan memanfaatkan sanitasi yang tersedia di sana.

Dengan sigap, Mischa mengenakan mantel compang-camping pelindung tubuhnya dan tak lupa membungkus kakinya dengan sapatu dari bahan kain bersol karet yang memudahkannya berlari ataupun melangkah di lapisan tanah yang tajam. Mischa melangkah pelan menembus kegelapan dalam suasana hening yang mencekam, begitu heningnya suasana hingga yang terdengar hanyalah suara napas yang berkejaran dengan debaran jantungnya sendiri. Lalu udara dingin menyentuh wajahnya dan entah kenapa Mischa terdorong untuk melewati beberapa gerbong penumpang menuju ke ruang makan.

Apakah para anggota yang lain sedang berkumpul di ruang makan untuk berbincang-bincang? Mischa menduga meski dirinya tidak yakin.

Pada akhirnya dia sampai di salah satu gerbong yang mereka pakai sebagai tempat makan, dan membuka pintunya perlahan.

Gerbong itu gelap dan senyap, membuat kebingungan semakin melekat di otak Mischa.

Kemana semua orang…?

Mischa melangkahkan kakinya untuk memasuki ruang makan, memutuskan untuk mencari-cari di setiap gerbong, tapi langkahnya terhenti ketika dia menginjak cairan yang basah dan lengket, cairan itu menembus ujung sepatunya yang terbuat dari bahan kain, hingga jari kakinya basah.

Cairan apa ini?

Mischa mengerutkan kening dan berjongkok, sementara tangannya bergerak menyentuh cairan yang menarik perhatiannya. Cairan itu menggenang dan sepertinya mengalir dari satu sumber…

Dalam kegelapan, cairan itu tampak hitam… tapi memancarkan aroma yang khas. Mischa mendekatkan jemarinya ke hidung untuk memastikan, dan ketika menyadari bahwa dugaannya benar, Mischa menyentakkan tangannya dalam ketakutan yang amat sangat.

Itu darah… darah yang masih segar…

Apa yang terjadi? Mischa mulai panik, hendak bergerak melalui ruang makan dan menuju gerbang lainnya, putus asa menemukan anggota kelompoknya yang lain yang seolah menghilang dalam senyap. Tapi langkahnya terhenti ketika menemukan sosok tinggi dalam kegelapan, hanya bertemankan cahaya remang yang membentuk siluet tubuhnya.

Mischa mengenali sosok itu, itu Nikolai…

Nikolai sendiri tampaknya menyadari kehadiran Mischa, lelaki itu membalikkan badan perlahan menghadap ke arah Mischa, membiarkan cahaya remang dari satu-satunya lentera kecil yang tergantung di atas dapur menerangi wajahnya.

Mischa langsung memekik, menutup mulut dengan tangan sementara  seluruh tubuhnya gemetar ketakutan.

Mata itu berwarna hitam legam seluruhnya… dia telah membuat kesalahan dengan membawa lelaki ini masuk ke tempat persembunyian mereka!

Nikolai…Lelaki ini bukan manusia! Dia adalah salah satu dari Bangsa Zodijak yang menipu mereka!

“Mereka semua sudah kuburu sampai habis, ada yang mencoba bersembunyi, ada yang mencoba lari… tapi mereka tidak bisa lari jauh. Sungguh olahraga yang menghibur memburu dan membunuh mereka semua.” Lelaki itu menyeringai, “Sekarang tinggal kau, hidangan penutupku, Mischa. Apakah kau ingin bersembunyi dan lari? Larilah sekuat yang kau bisa, aku akan memberi kesempatan bagimu untuk bermain-main sebentar sebelum aku menghabisimu seperti aku menghabisi teman-temanmu.” ucapnya dengan nada mengerikan yang penuh ancaman.

Mischa menatap laki-laki itu dan air mata mengalir deras di pipi karena sadar bahwa dialah yang telah membawa monster itu masuk ke persembunyian ini dan membunuh teman-temannya…

Kesedihan Mischa tidak bisa terlepaskan karena tiba-tiba saja lelaki itu bergerak mendekat, dengan langkah pelan dan penuh ancaman, membuat Mischa melangkah mundur dengan jantung berdebar seperti mau pecah. Dan ketika sampai ke pintu yang membatasi gerbong makan dengan gerbong lain, Mischa membalikkan badan, membanting pintu gerbong dan menguncinya dengan tangan gemetar, lalu berlari sekuat tenaga, berusaha menyelamatkan diri dan lari sejauh mungkin dari monster kejam itu.

Bersambung ke Part Berikutnya

910 Komentar

  1. Lusy Fitriyani menulis:

    Coba baca ulang di psa,kak au7 yg mengenalkan psa,jadi baca karyanya disini :sebarcinta

  2. mrswhiteee_ menulis:

    Baca ulang :backstab

  3. Gak pernah bosen baca lagi dan lagi :DUKDUKDUK

  4. Cerita PSA selalu menarik untuk dibaca ulang, gabisa cuma baca sekali. Baca kedua ketiga kali pun tetep masih berasa degdegan dan penasaran nya

  5. Haryani Ani menulis:

    :sebarcinta :gakterima :aaakecoa

  6. Baca lagi dr awal. Gak pernah bosen bc cerita ini berkali2. :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK

    1. Baca ulang, walaupun udah beli e-book nya 🙂

  7. riyamuchtar menulis:

    :DUKDUKDUK

  8. Ana jubaidah menulis:

    Keren

  9. Baca ulang :kumenangismelepasmu

  10. Kira Yamato menulis:

    :kumenangismelepasmu t

  11. :DUKDUKDUK 7

  12. Chika anastasia menulis:

    Baca lgi

  13. Desi ratna menulis:

    :endingnyagimanaini?

  14. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  15. Aslannn

  16. Elda Virginia K menulis:

    Imajinasiku tentang bangsa zodijak mulai kembali…

  17. Baca lagi dong :hatikuberbungakarnamu

  18. Baca lagi dong

  19. Re-read :DUKDUKDUK

  20. Pooja Kharisma menulis:

    Baca ulang untuk yang kesekian kalinya :sebarcinta

  21. Lagi dan lagi baca :sebarcinta

  22. Elda V. K. menulis:

    Baca kisah Aslan n Mischa lagi… :menantiadeganmesra

  23. Baca ulang :sebarcinta

  24. Baca ulang IW .. hm udah ke 3 4 kali kayaknya hahahaha

  25. Lebih dari 5 kali baca cerita ini aaaaa :sebarcinta

  26. Yuni Widaningsih menulis:

    Baca ulang kangen Aslan sama Mischa, sambil ngumpulin koin hu..huy.. :awaskubalasnanti

  27. kangen mereka lagi :happy

  28. Baca ulang dond. Seru banget

  29. Tiba – tiba rindu dengan cerita ini :NGAKAKGILAA

  30. Sangkibg gak sabarnya sudh keburu beli pdf nya di play store

Tinggalkan Balasan