Inevitable War

Inevitable War Part 29 : Reach An Accord With Humans

Bookmark

No account yet? Register

3.584 votes, average: 1,00 out of 1 (3.584 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 


Yuk! Aktif bantu para author melindungi karyanya

© copyright 2017 @projectsairaakira seluruh karya di website ini telah didaftarkan dan dilindungi oleh hukum yang berlaku serta mengikat.

Dilarang meniru, menjiplak, mengubah nama tokoh, mengambil ide/inspirasi cerita baik sebagian maupun keseluruhan isi cerita yang berada di dalam website ini. Kami menyediakan hadiah dan komplimen menarik bagi laporan atau temuan dari vitamins menyangkut usaha plagiat baik keseluruhan maupun sebagian dari karya-karya ProjectSairaAkira yang dipublish di website ini.

Silahkan hubungi admin kami di [email protected] ^^


Author’s Playlist – Katty Perry – Chained To The Rythm

It is my desire
Break down the walls to connect, inspire, ay
Up in your high place, liars
Time is ticking for the empire
The truth they feed is feeble
As so many times before
They greed over the people
They stumbling and fumbling
And we about to riot
They woke up, they woke up the lions


[responsivevoice voice=”Indonesian Female” buttontext=”Dengarkan cerita ini”]

Dan didorong oleh keinginan impulsif yang entah karena apa, Aslan menundukkan kepala lalu mencium sisi pipi Mischa,yang dekat dengan bibir ranumnya,  membuat perempuan itu mendesah dan menggeliat pelan.

Bibir Aslan bergeser, mengecupi sisi kulit Mischa yang lembut untuk kemudian berakhir di telinga Mischa sebelum kemudian berbisik pelan.

“Aku tak pernah menyesalimu, kucing kecil.”


 

“Kalian pergilah dulu, aku akan menyusul dengan pesawat tercepat.” Aslan langsung memberikan perintah ketika memasuki ruang pertemuan besar tempat mereka berkoordinasi sebelum berangkat. Kaza, Akrep dan Aslan sendiri yang akan pergi untuk memantau kondisi Khar dan Sevgil sambil mengamati musuh mereka, kaum bawah tanah yang misterius. Sementara itu Yesil dan Kara tetap tinggal di dalam istana.

Kaza mengangkat alis mendengar kata-kata Aslan.

“Kau lebih mementingkan Mischa lagi?” tanyanya cepat, tidak menyembunyikan nada mencemooh dalam suaranya.

Anehnya, Aslan tampaknya sama sekali tidak terpancing kemarahannya atas perkataan Kaza yang provokatif tersebut, dia malah tampak terdiam dan menimbang-nimbang, lalu melemparkan pandangan pada Akrep dan Kaza berganti-ganti sebelum kemudian memutuskan berbicara.

“Mischa sedang mengandung anakku.” ujarnya singkat tetapi menggema di ruangan dan mampu membuat Akrep dan Kaza ternganga karena terkejut luar biasa.

“Apa?” Akreplah yang akhirnya bisa mengeluarkan suara, “Bagaimana bisa?” ujarnya seolah tak percaya, menatap Aslan dengan mata membelalak lebar.

“Tentu saja bisa. Yesil pernah bilang bahwa kehamilan itu mungkin, bukan?” Aslan menatap kedua saudaranya dengan menantang, “Apa kalian meragukan kemampuanku?”

Pertanyaan itu membuat Akrep berdehem, lalu kembali mencoba membuat Aslan memahami maksud kalimatnya.

“Maksudku… Yesil mengatakan kehamilan itu mungkin, tetapi Mischa dengan tubuh manusianya…” Akrep sekali lagi kehabisan kata-kata, lalu tampak berpikir dan ketika sadar, ada kepanikan di wajahnya, “Apakah kau tahu berapa anak yang ada di dalam kandungannya?” tanyanya kemudian dengan nada ngeri.

“Belum.” Aslan menjawab cepat, “Yesil mengatakan yang pasti lebih dari dua, tetapi dia belum bisa memastikan jumlahnya, harus menunggu sampai usia kandungannya sedikit lebih besar. Tetapi dari porsi besar makanan yang dihabiskan oleh Mischa, aku menduga bahwa bayi yang dikandungnya ada empat… dia memakan empat porsi makanan ibu hamil sampai tandas dalam sekejap.” sambung Aslan sambil menyeringai.

Akrep mengerutkan kening, “Empat porsi?” ulangnya seolah masih belum bisa memercayai apa yang didengar oleh telinganya.

Kebutuhan nutrisi Bangsa Zodijak memang cukup dipenuhi dengan air, mereka bisa menjadi kuat hanya berkat minum air. Makanan bukanlah kebutuhan utama, biasanya hanya dikonsumsi oleh lelaki dan perempuan Zodijak yang sakit, atau perempuan hamil. Dan makanan yang mereka makan bukanlah sembarangan, diambil dari ternak dari bibit khusus atau tanaman yang dikembangkan menggunakan  metode canggih, dengan menu yang diramu penuh perhitungan untuk menambah nutrisi dan kekuatan. Lelaki Zodijak sehat hampir tidak membutuhkan makan dan biasanya memilih untuk tidak makan, karena itulah porsi makanan lengkap, seperti yang mungkin disajikan Aslan untuk Mischa, disebut sebagai porsi ibu hamil.

Perempuan-perempuan Zodijak yang mengandung lebih dari tujuh bayi biasanya menjadi amat rakus, air saja tidak bisa memenuhi kebutuhan nutrisi mereka hingga mereka membutuhkan menu lengkap untuk memuaskan rasa laparnya yang besar. Dan jika hal itu terjadi pada Mischa, kemungkinan besar nafsu makannya yang tumbuh sedemikian besar itu disebabkan oleh bayi Zodijak di dalam perutnya yang meminta nutrisi lebih.

Akrep mengerutkan kening semakin dalam ketika membayangkan tubuh Mischa yang kurus dan mungil. Dia bahkan tidak bisa memikirkan bagaimana tubuh sekecil itu harus mengandung empat bayi Zodijak yang berukuran besar dan sangat kuat bahkan ketika masih di dalam kandungan, Mischa akan luluh lantak seketika karena proposi tubuhnya sebagai manusia perempuan, tentu tidak sebanding dengan perempuan Zodijak yang dilahirkan untuk menjadi pasangan lelaki Zodijak. Perempuan Zodijak memiliki banyak kantong rahim sehingga anak-anak mereka bisa tumbuh berdampingan di dalam perut tanpa saling mengganggu satu sama lain, seluruh tubuh yang menopang kehamilan mereka juga sangat kuat sehingga bisa membawa lebih dari tujuh anak tanpa sakit, pun dengan perut mereka yang disangga kuat oleh otot dan kulit pelindung yang keras, menghindarkan bayi yang mereka kandung dari cedera baik dari luar, maupun dari dalam.

Akrep tidak bisa membayangkan kulit perut Mischa yang tipis, kulit perut manusia yang rapuh, meregang sampai menipis untuk menampung empat atau lebih bayi Zodijak, belum dengan tendangan bayi Zodijak yang sangat kuat… mungkin bahkan kulit perut Mischa akan robek ketika bayinya mulai menendang.

Aslan terdiam sambil memandang tajam ke arah Akrep. Tanpa saling berbicara, Aslan bisa membaca seluruh kecemasan yang bersahutan di dalam pikiran Akrep, dan kecemasan itu menular, membuat Aslan menyentuhkan tangan di dahi dan meremasnya seolah frustasi.

“Kita masih belum yakin. Jika Mischa bisa mengandung, sudah tentu itu berarti tubuhnya memang sudah siap sampai dia melahirkan anak-anakku. Yesil bilang semakin sering aku memanen Mischa, semakin mirip struktur tubuhnya dengan kita. Bahkan penyakit Mischa sudah hampir menghilang karenaku.” ucap Aslan kemudian.

“Kita harapkan saja yang terbaik.” Akrep berucap singkat karena tak tahu harus menjawab apa, dia lalu menoleh ke arah Kaza yang sejak tadi kehabisan kata-kata, mulutnya masih ternganga sementara wajahnya menyimpan shock yang amat sangat, seolah-olah kenyataan bahwa Mischa hamil benar-benar memukul ketidakpercayaannya sampai ke batas yang bisa dia tahan.

“Aku… aku tidak menduga bahwa manusia bisa mengandung anak Bangsa Zodijak.” Kaza menggumamkan apa yang menggayuti pikirannya dan memilih mengabaikan pertanyaan Akrep, matanya menatap ke arah Aslan, “Bagaimana mungkin seorang manusia…”

“Bukankah kau sudah tahu bahwa Mischa dan juga Natasha bukan manusia biasa? Darahnya menjadi air suci ketika tersentuh air suci Zodijak.” Akrep menyela ketidakpercayaan Kaza dengan sinis, mata gelapnya menelusuri seluruh diri Kaza, lalu tiba-tiba melemparkan tatapan mencemooh sebelum kemudian berkata dengan sengaja, “Anak kecil itu, Sasha. Kalau kau tidak berhati-hati, kau bisa-bisa tanpa sadar sudah menghamilinya ketika dia dewasa nanti.” pancingnya perlahan.

Kaza langsung terkesiap, membelalakkan mata marah, “Tidak mungkin! Ketika aku mengikat kontrak pernikahan, maka itu adalah dengan perempuan Zodijak yang berkualitas dan mampu mengandung serta melahirkan anak-anakku yang berkualitas pula. Aku tidak akan memilih manusia perempuan hina, apalagi sekarang dia masih anak kecil!” serunya cepat dengan nada defensif kental yang malahan terasa menggelikan.

Aslan menipiskan bibir seolah menahan senyum melihat tanggapan Kaza atas pancingannya, dan tanpa diduga Akrep melakukan hal yang sama.

“Kami akan berangkat lebih dahulu.” seperti biasa Akrep langsung menengahi supaya konfrontasi di antara dua saudaranya itu tidak berlanjut.

Aslan menganggukkan kepala, mengalihkan pandangannya dari Kaza yang sedang larut dalam penyangkalan diri seperti biasa

“Aku akan menyusul nanti.” ucapnya cepat.

***

“Bangun.”

Aslan menggeramkan perintah dengan nada dingin, tangannya yang sedingin nada suaranya bergerak menepuk pipi Mischa, perlahan untuk kemudian mendesak.

Mischa yang masih tenggelam dalam tidur panjangnya merasakan namanya dipanggil dengan nada memerintah yang tak menyenangkan, membuatnya terpaksa lepas dari kungkungan mimpi indah yang hangat. Perlahan dia seolah bergerak untuk mencapai cahaya sebelum kemudian membuka mata.

Kamar itu anehnya tidak seterang biasanya tetapi dipenuhi cahaya yang sedikit redup. Mischa mengerjapkan mata, sejenak kehilangan orientasi, tetapi kemudian dalam sekejap pula kesadaran memenuhi dirinya, membuatnya tahu dia berada di mana.

Ini di kamar Aslan, tempatnya dikurung dan diharuskan tidur setiap malam, sebuah tempat yang menandakan kebebasan semu yang selama ini dia peroleh dengan menyakitkan.

Mata Mischa terbuka lebar dan dia mendongakkan kepala ketika menyadari siapa yang memanggil namanya, dan benar juga, matanya langsung bertemu dengan mata hitam pekat yang sedari tadi menatapnya tajam, mata milik Aslan.

Aslan mengenakan pakaian perang lengkap berwarna hitam yang membungkus  dan membentuk otot-otot tubuhnya, sementara di belakang punggungnya terselip senjata yang sangat besar yang bahkan Mischa tidak bisa membayangkan itu apa, juga di bagian-bagian lain tubuhnya.

Lelaki ini akan pergi berperang? Tetapi bukankah Aslan bilang bahwa seluruh negara yang bertahan, bahkan negara Timur Jauh yang berjuang hingga saat terakhir telah dihabisi tanpa sisa?

Kebingungan masih menyelimuti diri Mischa hingga dia tidak meronta ketika Aslan menariknya supaya bangun, lalu mengatur posisi Mischa supaya duduk di tepi ranjang dengan kaki menjuntai di pinggiran ranjang yang besar itu. Aslan kemudian melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Mischa hingga memaksa Mischa harus mendongak sampai lehernya pegal ketika mencoba menantang matanya.

“Kau lapar?” pertanyaan Aslan yang langsung diucapkan ketika Mischa baru saja memperoleh kesadarannya itu seolah memancing macan tidur, Mischa semula tidak merasa lapar dan langsung kelaparan karenanya. Dia menelan ludah, sedikit kebingungan karena sebelumnya tidak pernah merasakan ini, sensasi lapar menyiksa yang menuntut untuk dipenuhi.

Mischa menunduk, menyentuh perutnya tanpa sadar sambil bertanya-tanya kenapa dia bisa selapar itu, padahal seingatnya sebelum tidur dia telah menghabiskan porsi makan besar di luar nalar orang dewasa.

Sebelum tidur?

Kerutan di kening Mischa semakin dalam ketika dia mencoba mengingat-ingat apa yang terjadi, dan ketika kesadaran itu menyentuhnya, matanya membelalak, teringat ketika Yesil dengan dingin memberitahukan hal paling mengerikan dalam hidupnya dan dirinya kemudian diberi semacam obat yang merenggut kesadarannya.

Mischa menatap perutnya dengan ngeri dan tak percaya.

Dia hamil! Bayi alien jahat tumbuh di dalam dirinya…. Tidak! Tidak! Bagaimana mungkin ini terjadi pada dirinya?

“Jangan coba-coba.” Aslan yang sejak tadi berdiri tegak sambil membaca seluruh reaksi Mischa tiba-tiba berbicara, mengalihkan perhatian Mischa dari perutnya hingga mendongak menatap Aslan. Ekspresi lelaki itu tampak keras, penuh ancaman dan sedikit menyeramkan apalagi di tengah cahaya remang-remang seperti ini, “Jangan coba-coba bersikap histeris, memberontak, apalagi berpikir untuk melukai dirimu atau anak di dalam kandunganmu.”

Kata-kata Aslan seolah memberikan kepastian pada keraguan Mischa yang masih tersisa. Dia benar-benar hamil… semua itu bukan mimpi buruk mengerikan yang pasti akan berlalu ketika dia terbangun, mimpi buruk yang ini lebih mengerikan, karena menempel selamanya dan mengancam untuk menyakitinya baik jiwa maupun raga. Dada Mischa terasa sesak, membuat matanya mengerjap ketika menahankan rasa panas yang merayap, memaksa untuk menumpahkan air mata.

“Kalau kau bersikap histeris, melukai dirimu sendiri atau anakmu, aku akan melakukan sesuatu yang sangat buruk pada adikmu, Sasha. Dia akan sangat sangat menderita.” Aslan mendesiskan kalimat Aslannya sepatah demi patah kata dengan nada lambat-lambat seolah memastikan Mischa mendengar dan mencerna kalimat ancamannya dengan seksama, dan Mischa melakukannya, seluruh ancaman itu tercerna habis hingga hanya kengerian dan rasa takut yang tersisa pada dirinya.

Mischa sekuat tenaga menahan tangis dan dorongan untuk menjerit, seluruh tubuhnya gemetar, tangannya terkepal sementara dia menggigit bibirnya sampai terasa sakit dan menahan dirinya. Aslan akan melukai Sasha jika dia tidak bisa menahan diri dan itu tidak boleh terjadi, dia sudah bersumpah untuk melindungi Sasha bagaimanapun caranya dan alien licik di depannya ini dengan jahat sudah memanfaatkan kelemahannya yang satu itu untuk memenuhi keinginannya yang egois.

Air mata mengalir di sudut mata Mischa tanpa bisa ditahan karena sudah tak terbendung lagi. Tetapi Mischa tetap tidak bersuara, bahkan tidak terisak sekali, dia mencoba membuang seluruh emosinya hingga terasa seperti cangkang kosong yang dingin.

Begini lebih baik, jika dia membuang emosi dan bersikap seperti cangkang kosong, dia tidak akan merasa sakit. Lagipula sekarang dirinya hanya seperti tubuh seorang induk tanpa kehendak yang diperalat untuk melahirkan anak-anak Aslan, bukan? Jika memang itu yang diinginkan oleh Aslan, maka dia akan memenuhinya. Mischa akan bersabar sampai tiba waktunya nanti dirinya bisa melepaskan diri dan membalas alien jahat ini sampai tuntas.

“Mischa?” Aslan mendekat, lalu membungkuk dan menumpukan kedua tangannya di pundak Mischa, membuat tubuh Mischa terkesiap sejenak dengan defensif, lalu berhasil menguasai dirinya dan kembali memasang ekspresi kosong tanpa emosi.

Aslan bukannya tidak menyadari kekosongan yang tiba-tiba menyelimuti diri Mischa. Perempuan itu biasanya menantang matanya dengan berapi-api, memberontak, menendang bahkan mencakar dengan tujuan utama untuk melawan dan melukai dirinya. Tetapi saat ini, api di mata Mischa seolah padam dan perempuan itu menatapnya dengan pandangan menerawang seolah sedang melamun, layaknya robot tanpa jiwa.

Sepertinya perempuan ini menggunakan strategi baru. Aslan menyimpulkan dalam hati, menipiskan bibir karena geram bercampur gemas. Baiklah. Biarlah waktu yang menunjukkan siapa yang menang dalam pertarungan emosi antara Aslan dan Mischa, yang pasti sampai dengan saat ini, Aslan belum pernah merasakan kekalahan sama sekali.

Tangan Aslan meremas kedua bahu Mischa, mengguncangnya sedikit seolah hendak membuat perempuan itu tersadar.

“Aku adalah pemimpin Bangsa Zodijak, karena itulah anak yang kau kandung akan menjadi penerus selanjutnya. Anak itu penting bagiku karena itulah aku berusaha melunakkan diri dan memberimu ruang.” ucap Aslan kemudian.

Mischa mengerjapkan mata tetapi memilih tidak bersuara meskipun pertanyaan menyelimuti benaknya.

Memberi ruang? Apa maksud Aslan?

“Aku berjanji akan bersikap baik kepadamu.” Aslan akhirrnya menjawab pertanyaan Mischa dengan cepat, “Dan kau juga harus bersikap baik. Dengan begitu kita akan melewatkan suasana damai sampai anakmu dilahirkan ke dunia ini.”

Kali ini Mischa tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya, “Dan apa yang terjadi setelah anakmu lahir?” tanyanya kemudian, menolak menyebut anak yang ada di perutnya ini sebagai anaknya juga.

Aslan menatap Mischa tajam dengan mata gelapnya, bibirnya mengeluarkan desisan, hampir seperti geraman ketika dia menjawab,

“Maka seperti kontrak pernikahan Bangsa Zodijak pada umumnya, aku akan melepaskanmu, begitu juga adikmu. Kau akan hidup dalam kebebasan, membangun koloni dengan manusia yang tersisa di wilayah damai, aku bahkan akan menyediakan wilayah damai untukmu, sebuah wilayah yang sesuai perjanjian yang kita sepakati kemudian tidak akan tersentuh dalam serangan Bangsa Zodijak. Kau akan hidup di wilayahmu itu dengan damai dan tenteram, juga makmur karena aku akan memastikan kebutuhanmu dan manusia-manusia yang berada di wilayah damai bersamamu itu terpenuhi.” Aslan menyipitkan mata, menatap Mischa dengan pandangan mencela, “Aku bersedia berkompromi sampai sejauh itu denganmu padahal aku bisa saja memaksamu atau mengikatmu, bahkan membiusmu sampai kau melahirkan anakku, tetapi tidak kulakukan. Jika kau memakai logikamu, kau pasti tahu bahwa tawaran ini sangat menguntungkanmu. Kau hanya perlu selama lima belas bulan ke depan menjaga dirimu dan mengandung anakku dengan baik sampai dilahirkan.

Lima belas bulan. Mischa tentu saja tahu bahwa bayi-bayi Zodijak dilahirkan setelah genap lima belas bulan di dalam kandungan ibunya. Lima belas bulan mungkin terasa singkat bagi makhluk-makhluk yang menikmatinya, tetapi bagi dirinya yang merasakan setiap pertambahan waktu layaknya neraka, lima belas bulan akan terasa sebagai siksaan yang amat panjang.

Tetapi Aslan benar. Tawarannya sangat menggiurkan, dan jika Mischa menolak tawaran ini, Aslan tidak mungkin akan menyalaminya dengan lapang dada lalu membalikkan badan dan pergi. Aslan sudah pasti akan melakukan apa yang dikatakannya tadi, dia akan memaksa, mengikat dan membius Mischa sampai anaknya lahir ke dunia ini.

Ini bukanlah sebuah tawaran, ini sama saja Aslan tidak menawarkan pilihan kepadanya, memaksa Mischa mengambil keputusan sesuai keinginannya.

Akhirnya Mischa menganggukkan kepala meski menyimpan ekspresi sakit di wajahnya.

“Aku menerima tawaranmu.” akhirnya Mischa berucap ketika Aslan hanya mengangkat alis seolah menunggu jawabannya.

Aslan menegakkan punggung, melepaskan pegangan tangannya dari pundak Mischa.

“Bagus.” ucapnya singkat, lalu mengedikkan dagu ke arah perut Mischa, “Kau sedang menahan lapar luar biasa, bukan?” tanyanya kemudian.

Mau tak mau Mischa menganggukkan kepala, perutnya terasa perih menahan lapar seolah-olah bayi di dalam perutnya memrotes ingin nutrisi. Kengerian merayapi benak Mischa meskipun dia berhasil menahannya, membuatnya bertanya-tanya seperti apa selera makannya nanti kalau kandungannya semakin membesar?

“Aku menyiapkan makanan untukmu.” Aslan membalikkan badan, menuju ke arah lemari besi yang berkilauan seolah terbuat dari batu pualam yang sebelumnya tidak ada di ruangan itu. Lemari itu sangat besar, hampir memenuhi sisi dinding kamar Aslan, “Kami kaum laki-laki tidak benar-benar membutuhkan makanan kecuali kami sedang ingin menambah nutrisi dan makanan yang kami pilih pun bukanlah makanan sembarangan, tetapi kaum wanita kami memiliki nafsu makan yang luar biasa ketika mengandung, dan karena kau mengandung anakku, sepertinya kau mengalami hal yang sama. Nafsu makanmu yang sekarang terlihat di luar nalar sebenarnya masih di dalam batas kewajaran bagi kami, bahkan perempuan-perempuan yang mengandung belasan anak sekaligus memiliki nafsu makan hingga tiga kali lipat darimu saat ini. Bayi-bayi kami sangat rakus.” Aslan menyeringai ketika melihat kengerian di wajah Mischa, “Karena itulah lemari seperti ini selalu tersedia bagi seorang ibu yang sedang mengandung.”

Aslan menghentikan kata-katanya, lalu membuka pintu lemari itu dengan mudah, menampakkan isinya kepada Mischa, membuat mata Mischa melebar karenanya.

Di dalam lemari yang memenuhi sepanjang dinding tersebut, terdapat berbagai macam makanan yang tampilannya amat sangat menggiurkan, dari protein seperti daging unggas dan daging merah yang dimasak dnegan saus berkilauan hingga menguarkan aroma harum, salad sayuran hijau yang menggoda mata karena kesegarannya, juga buah-buhan ranum dengan ukuran besar yang tidak biasa, lebih besar dari buah-buahan bumi yang pernah lihat gambarnya di buku-buku pengetahuan milik ayahnya, warna-warni buah-buahan itu juga lebih cerah, menggoda mata sekaligus membuat Mischa menelan ludah karena rasa laparnya yang semakin menjadi-jadi.

Aslan menatap ekspresi Mischa lalu tampak seperti seolah menahan senyum,

“Lemari ini dibuat dengan teknologi khusus sehingga mampu mengatur suhu makanan tetap sama seperti yang seharusnya berapa lamapun itu. Ada partikel khusus di udara yang mencegah pembusukan sekaligus mencegah penurunan suhu. Kualitas makanan ini akan tetap sama seperti ketika dia baru saja matang.” Aslan mengamati mata Mischa yang melebar menyembunyikan kekagumannya, lalu melanjutkan, “Aku mengisi penuh lemari makanan ini, dan jika kau menghabiskan isinya, sensor akan berbunyi sehingga budak-budakku akan mengisinya lagi.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, Aslan menutup lemari makanan tersebut, lalu membalikkan badan menghadap Mischa sambil setengah berkacak pinggang seolah menunggu sesuatu. Dan Mischa tahu Aslan yang pongah sedang menunggu ucapan terima kasih Mischa atas apa yang dia kira sebagai kebaikan hatinya.

“Terima kasih.” Mischa mendesiskan ucapan terima kasihnya itu dengan terpaksa hanya supaya Aslan menuntaskan maksudnya dan segera meninggalkan dirinya sendirian.

Aslan mengangkat alis karena ketidaktulusan dalam suara Mischa sangat jelas terdengar, tetapi akhirnya lelaki itu mengangkat bahu seolah tak peduli.

“Uruslah dirimu sendiri dengan baik. Aku ingin melihat kau baik-baik saja ketika aku kembali nanti.” ucapnya  tenang kemudian, bergerak melangkah ke pintu.

“Kau akan pergi berperang?” akhirnya Mischa menanyakan keingintahuannya, sekaligus menyiratkan kebingungannya karena seharusnya tak ada lagi musuh yang bisa dihadapi. Penampilan Aslan bukanlah penampilannya yang biasa untuk pergi memburu Kaum Penyelinap hanya untuk bersenang-senang mengingat lelaki membawa senjata berat di punggungnya, belum lagi dengan senjata-senjata lain yang terselip di dada, pinggul bahkan pahanya.

Aslan menganggukkan kepala dengan dingin, memilih menjawab keingintahuan Mischa dengan kalimat mengambang.

“Ada musuh yang pengecut dan menyembunyikan diri di balik bayang-bayang.” ujarnya singkat, lalu membalikkan badan dan hendak pergi tanpa permisi.

“Aslan.”

Suara panggilan Mischa membuat Aslan menolehkan kepala, menatap Mischa sambil mengangkat alis karena tidak biasanya perempuan itu menahan kepergiannya.

“Ada apa?” tanya Aslan kemudian dengan nada tidak sabar ketika melihat Mischa tampak gugup bahkan setengah takut dengan tangan terjalin yang saling meremas.

Mischa tampak menelan ludah, lalu bertanya, “Aku tahu bahwa Wanita Zodijak bisa melahirkan sampai belasan anak.” kengerian merayapi ekspresi Mischa, membuatnya pucat pasi, “Apakah… apakah kau tahu berapa anak yang berada di dalam kandunganku?” tanyanya kemudian dengan suara tercekat, merendahkan diri untuk bertanya karena dia tahu hanya Aslan yang bisa menjawabnya.

Aslan mengarahkan pandanganya ke perut Mischa, lalu tatapan mata gelapnya kembali ke mata Mischa yang masih basah oleh air mata.

“Yesil belum memutuskan karena kandunganmu belum cukup besar. Tapi kita akan segera tahu nanti.” jawabnya singkat sebelum kemudian bergegas pergi, meninggalkan Mischa dengan tanda tanya besar yang menyesakkan dan melingkupinya tanpa ampun.

***

Yesil yang kembali ke dalam ruangan pendingin tempat Vladimir ditempatkan langsung bertatapan dengan Kara yang masih menunggu di dalam sana dengan penuh rasa ingin tahu. Hawa sedingin es yang melingkupi ruangan itu tampaknya sama sekali tidak memengaruhi Kara, karena lelaki itu masih tampak berapi-api, seolah tidak sabar menunggu kabar dari Yesil.

“Bagaimana?” tanyanya cepat.

Yesil melirik ke arah tubuh Vladimir yang terbujur kaku, lalu mengerutkan kening.

“Obatnya tetap tidak bereaksi ya? Dia tidak bangun juga, mungkin aku harus menambah dosisnya kali ini.” ujarnya cepat, sengaja mengalihkan perhatian dan menghindari untuk menjawab pertanyaan Kara.

Tetapi tentu saja Kara tidak membiarkan Yesil menghindar, dia menyipitkan mata dan menggeram,

“Itu bisa kita lakukan nanti, Yesi. Sekarang jawab pertanyaanku, apakah Mischa hamil?” kejarnya tak sabar dengan nada mengintimidasi, ketika melihat Yesil membalikkan badan, suara Kara terdengar membentak mencari perhatian, “Jangan menghindariku, Yesil! Aku akan mengejarmu bahkan jika itu melukai diriku sendiri.” sambungnya penuh ancaman.

Hal itu membuat Yesil menghela napas panjang, lalu membalikkan tubuh kembali menghadap Kara yang keras kepala.

“Aku memilih tidak memberitahumu karena tidak ingin menyakitimu. Tapi, ya. Jika kau memaksa, Ya, Mischa memang hamil, dia sedang mengandung anak Aslan.”

Jawaban yang diberikan oleh Yesil dengan suara lantang tersebut membuat Kara terperangah. Yah, meskipun ketika dia ditinggalkan sendirian dia sudah menduga pemikiran itu dengan jelas di kepalanya, tetap saja ketika hal itu diucapkan dan di benarkan di depan matanya, logika Kara masih tidak bisa menerimanya.

“Hamil…?” Kara meremas rambutnya seolah frustasi, “Apakah memang seorang manusia perempuan yang istimewa seperti Mischa bisa mengandung anak dari lelaki Zodijak?” Kara mengusap wajahnya seolah kebingungan, “Tetapi aku… aku juga memanen Natasha dalam waktu panjang ketika kami bersama, tetapi dia tidak hamil…kenapa bisa berbeda?”

Kebingungan Kara yang nyata membuat Yesil mengerutkan kening. Dirinya menimbang-nimbang, cukup lama, tetapi aura putus asa dan kebingungan Kara terlalu menguar di udara, menekan dan menyesakkan dada hingga akhirnya Yesil memutuskan bahwa mungkin saat ini adalah saat yang tepat untuk mengatakan kenyataan sesungguhnya pada Kara.

“Natasha pernah hamil, Kara.” ucapnya kemudian, dengan nada pelan berhati-hati.

Perkataan Yesil tersebut langsung membuat Kara mendongakkan kepala, matanya menatap Yesil tak percaya, tetapi ketika melihat serta meyakini bahwa Yesil tidak sedang berbohong ataupun bercanda, Kara langsung membeku sementara ekspresinya begitu rapuh, seolah-oleh dirinya adalah sebuah cermin yang menanti waktu sekejap untuk retak dan hancur berkeping-keping,

“Apa?” tanyanya dengan nada shock luar biasa.

***

Aslan mendaratkan pesawatnya di tengah gurun pasir dalam kesenyapan yang menjadi ciri khas Bangsa Zodijak, dia lalu memasang tabut kamuflase yang membuat pesawatnya hilang tak kasat mata seperti  yang dilakukan oleh pasukannya yang lain.

Mereka berada di atas puncak bukit, mengepung kawasan yang ditunjukkan oleh Khar dan Sevgil sebagai tempat perlindungan Kaum Penyelinap yang saat ini telah mendapatkan invasi dari Kaum Bawah Tanah nan misterius. Ketika mereka bisa mengawasi, maka mereka akan mengawasi dan membiarkan Khar serta Sevgil menjalankan tugasnya untuk mengumpulkan informasi. Tetapi ketika keadaan tidak memungkinkan, Aslan sudah pasti akan memerintahkan penyerangan untuk mendapatkan saksi hidup yang bisa membantu mereka memetakan siapa musuh mereka sebenarnya.

Aslan melangkah mendekat tanpa suara ke arah Akrep yang masih mengintai bersama pasukannya yang lain, lalu menggumamkan kalimat untuk menarik perhatian Akrep.

Akrep sedang memejamkan mata, dia sedang memerhatikan situasi dari dalam otak Sevgil, membuatnya bisa melihat apa yang dilihat oleh Sevgil dengan jelas.

Saat ini Kaum Penyelinap menunjukkan ketidakmampuannya bersembunyi karena keberadaan mereka terendus oleh Kaum Bawah Tanah yang datang dengan helikopternya yang berisik. Akrep telah melihat helikopter itu diparkir di bawah reruntuhan untuk menyembunyikannya di bawah bayang-bayang, menunjukkan bahwa Kaum Bawah Tanah tidak memiliki teknologi kamuflase secanggih yang dimiliki oleh Bangsa Zodijak. Helikopter itu model lama, tetapi telah dimodifikasi dengan teknologi yang anehnya cukup modern, kekurangannya memang hanya ada pada suaranya yang cukup berisik dan permasalahan itu disebabkan oleh bahan bakar yang kotor, menunjukkan bahwa mereka hanya memiliki bahan bakar sisa yang tidak diolah lagi demi menjalankan helikopter tersebut.

Meskipun jauh di bawah Bangsa Zodijak, teknologi mereka yang cukup maju tetap saja mengejutkan, apalagi jika benar seluruh teknologi itu dibangun di bawah tanah.

Sebenarnya siapa musuh mereka ini? Kenapa mereka sama sekali tidak menyadarinya sampai dengan saat ini?

“Mereka menyuruh seluruh Kaum Penyelinap yang ada di koloni itu untuk berbaris, lalu memeriksa satu-satu kaum laki-lakinya, yang sehat langsung dipisahkan dari yang lemah.” Akrep membuka mata untuk menjelaskan kepada Aslan, “Sementara itu mereka juga menyuntikkan cairan biru ke tubuh perempuan-perempuan yang ada di kelompok itu.”

“Air suci Zodijak?” Aslan bertanya, menebak dengan tepat karena Akrep langsung menganggukkan kepala.

“Air suci Zodijak.” Akrep mengulang untuk membenarkan, “Dalam jumlah kecil. Sepertinya diambil dari tubuh Natasha” simpulnya dengan nada yakin.

“Itu berarti mereka sedang berusaha mencari reaksi seperti yang terjadi pada Mischa.” sekali lagi Aslan menyimpulkan dengan benar, “Aku menduga mereka mencari perempuan-perempuan seperti Natasha dan Mischa untuk memasok energi mereka. Mereka menggunakan air suci Zodijak sebagai cairan khusus untuk menambah kekuatan, mengubah mereka menjadi mutan, sama seperti Vladimir dan pasukannya yang aku temui ketika itu. Mereka juga mencari kaum laki-laki yang sehat untuk menambah pasukan yang bisa disuntikkan air suci Zodijak.”

“Sepertinya kau benar.” Akrep memejamkan lagi, dia melihat salah satu Kaum Bawah tanah yang memakai tudung hitam dan penutup wajah itu datang mendekati Khar yang berdiri di antara kaum laki-laki manusia, menanti giliran untuk diperiksa. Sepertinya penampilan Khar yang segar menarik perhatian mereka sehingga salah satu anggota pasukan itu memutuskan memeriksa Khar terlebih dahulu.

Tak lama kemudian Akrep membuka mata, menolehkan kepalanya ke arah Aslan dengan waspada.

“Mereka bukan sekumpulan orang bodoh.” ujarnya cepat, “Mereka menyadari bahwa Khar adalah Bangsa Zodijak. Apa yang harus kita lakukan, Aslan? Apa perintahmu?” tanyanya dengan nada mendesak.

Bersambung ke Part Berikutnya

[/responsivevoice]

555 Komentar

  1. Menegangkan :KAGEET

  2. Dwi App Darkest menulis:

    ditunggu lanjutanya

  3. Ikutan tegang duh mas khar ku

  4. ketahuann, q yg deg deg kan :wowtakkusangka :duuh

  5. Misca :lovelove :lovelove

  6. Sevgil jadi cctv deh. Btw, Lemari makan lengkap dengan partikel khususnya beli dimana dah, keren bener

  7. Dera Puspita menulis:

    :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss

  8. Sinta Setiawati menulis:

    Wow.. :bantingkursi :bantingkursi

  9. Seruuuu :bantingkursi

  10. Airaqyoung1215 menulis:

    :berharapindah :berharapindah :berharapindah :berharapindah aslan

  11. Permisi pak ? Itu lemari penyimpan makanannya nggak ada rencana direproduksi di Indo ? Hehe :week

  12. devilaputri menulis:

    Penasaran sama kara-natasha??

  13. Kaikou Nezumi menulis:

    Bang Kharrrrrr, Daijoubu??

  14. semoga mischa menerima kandungannya

  15. Anik Julian menulis:

    Aku penasaran sm lemari pendingin milik aslan. Emang ada ya . Apa sdh ada di indonesia . Kl ada aku jg mau deh. :lalayeye :lalayeye . Ah Kak AY imajinasimu bener2 kereeen. :kisskiss

  16. Lely Damayanti menulis:

    Segera bertindak cepat :luculuculucuih

  17. Susi Susanti menulis:

    Padahal bangsa zodijak di kisah ini adalah penjajah di bumi tapi kenapa aku jadi pro mereka…. 😅😅😅

  18. lemonpinkskyyy menulis:

    :lovely

  19. Bella Miacara menulis:

    Hmmmm…

  20. Nismaulida wardani menulis:

    :panikshow

  21. Lusy Fitriyani menulis:

    Jgnkan akrep aku juga ga bisa ngebayangin mischa hamil seandainya sampai belasan bayi,perutnya melendung segede gimana,apa ga meledak tuh :bantingkursi :sungguhmenakutkan :otakkugaknyampe

  22. Aku suka teknologi Bangsa Zodijak.. eh teknologi imajinasi Kak AY.. :babeinicintaku

  23. Deg deg mak serr :habisakal

  24. Yanthie sunardi menulis:

    Aku merasa novel ini agak berat,beda ama novel akram elana,yg greget bngt sampe aku baca hanya dlm waktu sehari smlm,gk bs berhenti sblm end,.klw inj jujur aku ada jeda ny,berasa capek gt baca,tetep bagus sich novel ny,tapi krn berat jadi hrs istirahat

Tinggalkan Balasan