inevitable-war
Inevitable War

Inevitable War Part 4 : Blood Becomes Water

Bookmark

No account yet? Register

2.001 votes, average: 1,00 out of 1 (2.001 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author Playlist – Zara Larsson – Still In My Blood

I could run for my life, I could go under ground, But you’ll still be inside
I could shoutout the world, I could move from this town, But you still in my blood


inevitable-war

 

Mischa mengenali lelaki ini sebagai Kara, bukan saudaranya satu lagi yang mirip, karena rambutnya. Rambut Kara sedikit panjang, menyentuh bahu, sementara yang satunya lagi berambut pendek.

Tubuh Mischa langsung menegang waspada. Dirinya berpikir untuk lari ke kamar mandi, tapi pikiran rasionalnya langsung mengingatkan kembali bahwa tidak ada gunanya dia lari. Lelaki Zodijak ini lebih gesit, lebih kuat dan pasti akan menangkapnya sebelum dia mencapai pintu, seperti yang dilakukan Aslan kepadanya tadi.

Mata Mischa menatap waspada, siap beringsut menjauh ketika langkah Kara semakin dekat kepadanya.

Mata hitam Kara mengawasinya, lalu lelaki itu menghentikan langkah dalam jarak lima langkah lagi dari Mischa, telapak tangannya diangkat menghadap Mischa dalam posisi menyerah.

“Jangan takut.” Kara berucap pelan, “Aku tak akan mendekatimu kalau itu bisa membuatmu nyaman. Aku hanya ingin bicara.”

Bicara? Mischa mengerutkan kening. Apa yang ingin dibicarakan lelaki Zodijak ini dengannya?

Mata Mischa mengamati dengan curiga ketika Kara beranjak duduk di atas karpet, melipat kakinya dalam posisi bersila, masih dengan senyuman di bibir.

Saat ini mereka dalam posisi berhadapan, Mischa duduk di tepi ranjang dengan tubuh tegang, sementara Kara duduk bersila sambil menjaga jarak darinya.

“Begini sudah cukup?” Kara bertanya lembut, “Aku tidak pernah melukai manusia perempuan sebelumnya, jadi kau bisa tenang.”

Mischa tidak tahu harus menjawab apa, dia tidak tahu apa tujuan lelaki ini dan apa yang akan dilakukannya. Jadi sekarang Mischa hanya bisa waspada dan menanti.

“Namaku Kara. Kau pasti sudah melihat saudaraku, Kaza. Kami saudara kembar di bawah naungan rasi bintang yang sama, gemini.” Kara memperkenalkan diri perlahan, lelaki itu tidak tahu bahwa Mischa cukup familar dengan tujuh pemimpin Bangsa Zodijak dan sudah tahu bahwa si bungsu dari mereka adalah saudara kembar, semua pengetahuan itu dipelajari Mischa dari jurnal penelitian Sang Ayah.

Mata Kara menelusuri Mischa, menemukan ketakutan bercampur ketegangan di sana. Ekspresi sedih muncul di wajahnya.

“Siapa namamu?” Kara bertanya kembali, menatap Mischa dengan penuh rasa ingin tahu, sungguh dia ingin mendengar perempuan ini mengucap nama dengan mulutnya sendiri.

Mischa mengerutkan kening mendengar pertanyaan itu, menatap Kara tanpa mengendorkan kewaspadaannya, membuat Kara tersenyum miring,

“Memberitahuku namamu tidak akan melukaimu.” ujarnya kemudian dengan nada bersahabat.

Mischa mempertimbangkan hal itu, kemudian memutuskan untuk menjawab karena menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Kara benar adanya.

“Mischa.” Mischa berucap singkat, lalu mengunci kembali mulutnya rapat-rapat.

Jawaban itu membuat senyum Kara melebar, “Mischa, nama yang indah untuk diucapkan dan didengar.” pujinya pelan, “Aku mendatangimu karena kau mirip dengannya, seorang perempuan bermata biru dan berambut karamel, wajahnya memang berbeda dengan wajahmu meski kalian mirip. Tapi dia sedikit lebih tua darimu,” Kara memiringkan kepala, melemparkan tatapan menilai pada Mischa sambil berpikir, “Mungkin dua atau tiga tahun lebih tua.” mata Kara menatap Mischa dengan penuh rasa ingin tahu, “Apakah mungkin kau pernah bertemu orang yang seperti itu?”

Mischa mengerutkan kening semakin dalam, bingung dengan apa yang diharapkan Kara darinya. Bagaimana mungkin pria itu menanyakan dengan ciri yang sangat tidak spesifik? Ada ribuan wanita lain dengan mata biru dan rambut karamel yang berusia lebih tua dari Mischa di negara ini dan perempuan yang dimaksudkan oleh Kara bisa saja merupakan satu di antara ribuan itu.

Karena Mischa tidak tahu harus menjawab apa, dia hanya menggelengkan kepala.

Ada kekecewaan di mata dan ekspresi Kara, begitu dalam hingga mau tak mau hati Mischa sedikit terenyuh karena baru kali ini dia melihat dengan mata kepalanya sendiri bagaimana Bangsa Zodijak memasang ekspresi sedih.

“Tidak tahu ya?” Kara menghela napas panjang, “Aku hanya ingin tahu kabarnya, memastikan dia baik-baik saja.”

“Siapa?” tanpa sadar Mischa bertanya, didorong oleh rasa ingin tahunya. Seketika itu juga dia langsung menyesal telah melemparkan pertanyaan tersebut tanpa pikir panjang.

Kara sendiri mengangkat alis, tampak senang karena akhirnya Mischa mau bersuara.

“Manusia perempuan. Dia pergi setelah mematahkan hatiku.” Kara menatap Mischa dalam, “Kau mengingatkanku padanya.”

Kembali Mischa terkejut menatap ekspresi sedih yang nyata di mata Kara. Seorang lelaki Zodijak patah hati karena manusia perempuan? Itu adalah sesuatu yang bisa dibilang sangat tidak mungkin. Keangkuhan lelaki Zodijak sudah mendarah daging, bahkan pada wanita kaumnya sendiri saja mereka tidak menghargai, apalagi pada manusia perempuan?

Apakah Kara sedang mencoba menipunya dengan cara menarik simpati Mischa sebelum menggiringnya ke pembantaian?

Kara menatap Mischa, tersenyum seolah paham akan apa yang sedang berkecamuk di benak Mischa.

“Manusia perempuan memesonaku.” Kara menggerakkan tangannya dengan ekspresif ketika berbicara, “Mereka begitu lembut dan hangat, memberimu kenyamanan. Kelembutan mereka tidak akan pernah kau temukan pada perempuan Zodijak karena kami sudah diciptakan untuk tangguh, pria dan wanita, sama saja, sama kuat dan kerasnya.” Kara menepuk-nepuk punggung tangannya sendiri, “Kau pasti sudah tahu bukan bahwa kulit kami keras dan tak tertembus? Berbeda dengan kulit manusia yang rapuh, hangat dan lembut, membuatmu merasa damai.”

Mischa tidak menjawab, dan sepertinya hal itu tidak berpengaruh bagi Kara, karena lelaki itu terus berbicara.

“Perkara kulit yang tak tertembus ini, reaksi Aslan berbeda terhadapmu, entah apa yang terjadi padanya, padamu, pada kalian berdua, tapi kulitnya melembut untukmu hingga bisa kau lukai.” Mata Kara sedikit menyipit menatap Mischa, “Tahukah kau bahwa keberadaanmu sekarang menjadi masalah yang sangat penting di antara kami? Kau adalah perempuan, manusia pula, yang bisa melukai Sang Raja.”

“Sang Raja?” Sekali lagi Mischa tidak mampu menahan diri, pertanyaan itu tercetus begitu saja dari bibirnya.

“Aslan- Si Singa. Kami menyebutnya Sang Raja karena dia berada di bawah rasi bintang Leo, menjadikannya yang paling kuat diantara kami. Akrep memang yang paling tua, paling berpengalaman dan paling bijaksana. Tapi tetap saja, pemimpin Bangsa Zodijak dipilih berdasarkan yang terkuat di antara yang lain.” Kara tersenyum ironis, “Dan karena kau bisa melukai yang terkuat dari kami. Semua jadi mengincarmu, karena kau sangat berbahaya bagi kami.” Suara Kara merendah lirih seolah-olah apa yang dikatakannya adalah sesuatu yang rahasia. Lelaki itu sepertinya tidak menyadari bahwa kata-katanya membuat Mischa sangat ketakutan.

“Kecuali aku.” Kara menyambung pelan, “Aku tidak sedang mengincarmu dan aku tidak pernah melukai manusia perempuan seumur hidupku, dan kuharap akan terus begitu.” Tatapan Kara berubah serius, “Kalau kau mau, aku bisa membantumu melarikan diri.”

Bibir Mischa terbuka karena terkejut dan tak menyangka bahwa Kara akan menawarkan itu kepadanya. Tapi tentu saja Mischa tak begitu saja mempercayainya, bisa saja lelaki Zodijak ini sedang menjebaknya supaya bisa dimangsa oleh dirinya sendiri.

“Aku tahu kau masih tidak mempercayaiku.” Kara menganggukkan kepala, memasang ekspresi penuh pengertian, “Tapi suatu saat nanti, ketika kau memutuskan untuk mempercayaiku, kau tinggal bilang.”

“Keluar, Kara.”

Suara yang tiba-tiba terdengar dari pintu yang terbuka entah sejak kapan membuat Mischa dan Kara menoleh secara bersamaan.

Mischa sedikit terkesiap ketika melihat Aslan berdiri di pintu dengan ekspresi muram luar biasa. Aslan sama sekali tidak menoleh ke arah Mischa lelaki itu memusatkan perhatiannya kepada Kara.

Kara mengangkat bahu, tersenyum ke arah Aslan lalu bangkit berdiri. Dua saudara itu saling berhadap-hadapan, Kara lebih pendek dari Aslan, tetapi tetap saja tinggi untuk ukuran manusia. Kedua-duanya tampak sama-sama kuat, hanya saja ekspresi wajah Kara memang tampak lembut karena dihiasi senyum, berbeda dengan Aslan yang selalu memasang wajah garang menyeramkan.

“Aku hanya sekedar menyapanya…” Kara membuka mulut hendak menjelaskan.

“Keluar.”

Sekali lagi Aslan mengucapkan perintahnya dengan nada dingin, mengerutkan kening dengan tidak sabar, tidak mau mendengarkan kalimat apapun yang diucapkan oleh Kara.

Pada akhirnya Kara menoleh ke arah Mischa, tersenyum lembut meminta maaf, lalu melangkah ke pintu.

Ketika Kara melewati Aslan yang berada di dekat pintu, Aslan menolehkan kepala dan menatap Kara dengan garang.

“Jangan coba-coba lagi, Kara. Kau akan menyesalinya.” desisnya memberi peringatan.

Kara hanya menolehkan kepala sedikit dan memilih menghindari konflik, lelaki itu pun hanya melangkah meninggalkan ruangan tanpa kata.

Aslan menunggu sampai Kara menghilang di ujung lorong sebelum kemudian menutup pintu di belakangnya dan mengalihkan tatapan mata ke arah Mischa.

Mischa sendiri sudah berdiri dengan waspada, menyesali diri kenapa dia tidak segera berlari ke kamar mandi dan mengunci pintunya dari dalam

“Pintu kamar mandi tidak bisa dikunci dari dalam.” entah kenapa Aslan seolah bisa membaca pikiran Mischa, mungkin lelaki itu membaca lirikan menilai Mischa ke arah pintu kamar mandi.

Mischa melemparkan pandangan putus asa bercampur marah ke arah Aslan, “Kenapa kau tidak membunuhku saja?”

Aslan menyipitkan mata dengan ekspresi marah mendengar pertanyaan Mischa, “Mati atau hidupnya dirimu ada di tanganku.” desisnya dingin, “Perlukah kukatakan kepadamu bahwa seluruh Bangsa Zodijak yang berada di istana ini sangat ingin membunuhmu? Kabar tersebar begitu cepat dan sekarang semua orang tahu bahwa kau adalam manusia perempuan yang berbahaya karena bisa melukaiku. Mereka semua tidak sabar untuk membunuhmu begitu melihatmu. Apakah kau sedang memohon kepadaku supaya aku bisa melepaskanmu untuk dibunuh oleh mereka?”

Mendengar bahwa dirinya menjadi incara Bangsa Zodijak yang begitu buas membuat Mischa begidik ngeri. Tetapi meskipun begitu, kebanggaan dirinya sebagai manusia tidak semudah itu dikalahkan.

“Lebih baik aku mati bunuh diri daripada harus memohon untuk dibunuh oleh Bangsa Zodijak.” Mischa mendesis menantang sementara seluruh tubuhnya menegang waspada.

Kemarahan Aslan langsung menguar dari aura tubuhnya, lelaki itu tiba-tiba melangkah maju perlahan sedikit semi sedikit mendekati Mischa, sementara Mischa otomatis melangkah mundur hanya untuk menemukan bagian belakang lututnya terbentur tempat tidur.

“Manusia lemah yang sombong. Kalian semua tidak ada apa-apanya bagi kami. Aku selalu menganggap bahwa kalian semua tidak pantas tinggal di planet ini, menikmati air yang melimpah tetapi begitu bodoh dan perusak.” ejeknya dengan nada mencela.

Mischa mengerutkan kening marah, “Tapi planet bumi adalah milik kami manusia. Kami diciptakan di sini sejak awal, mendiami planet yang merupakan hak kami. Kalianlah bangsa tidak tahu diri yang hanya bisa datang dan merebut hak kami. Mungkin sebenarnya kalian itu harus musnah, karena itulah planet asal kalian tidak mau menghasilkan air lagi.”

“Berani-beraninya kau!” Aslan meraung, merangsek maju ke arah Mischa dan langsung merenggut kedua pergelangan Mischa sebelum Mischa bisa menghindar, Aslan mengangkat tubuh Mischa hingga wajah Mischa yang mendongak hampir sejajar dengan dagunya, sementara kedua kaki Mischa terpaksa berjinjit karena ditarik oleh Aslan.

Aslan menundukkan kepala, membuat mata biru Mischa bertatapan begitu dekat dengan mata hitam kelam yang mengerikan itu.

Selalu seperti itu, setiap menatap mata Aslan, Mischa gemetar ketakutan. Mata yang kelam itu memang begitu menakutkan dilihat, mata yang menjadi mimpi buruk umat manusia yang hancur lebur dan hampir musnah karena makhluk bermata hitam itu akan langsung membunuh dengan keji atau meracuni umat manusia dengan gigitannya tanpa ampun yang membuat manusia kehilangan daya.

“Buka matamu.” Aslan menggeram dengan nada memaksa ketika melihat Mischa memalingkan wajah dengan mata menutup rapat, “Buka matamu, dasar manusia!” cengkeraman Aslan di pergelangan tangan Mischa semakin kencang, membuat Mischa mau tak mau membuka matanya kembali.

Tanpa diduganya, di detik Mischa membuka mata, di detik itu pulalah Aslan menyatukan bibirnya dengan bibir Mischa, merenggut kelembutan bibir Mischa dalam sebuah pagutan yang begitu dalam. Aslan mencium Mischa dengan mata terbuka, mempererat cengkeramannya ketika Mischa mulai meronta sekuat tenaga. Ketika tahu bahwa Aslan tidak berniat melepaskannya, Mischa menendang kesana kemari, berusaha melepaskan dirinya dari sebuah ciuman yang dipaksakan kepadanya.

Aslan sendiri bergeming seolah-olah seluruh rontaan dan tendangan Mischa tak berarti baginya, lelaki itu memang melepaskan Mischa, lalu Aslan mendorong Mischa ke ranjang dengan kasar kemudian.

Mischa menatap Aslan yang berdiri di tepi ranjang dengan tatapan ngeri, dia langsung beringsut bangun, berusaha mundur dengan bertumpu pada sikunya.

Aslan sendiri malahan memalingkan wajah, lalu menatap makanan yang disajikan untuk Mischa yang masih utuh. Lelaki itu mengangkat sebelah alisnya.

“Tidak mau memakan hidangan yang disajikan?” Aslan menatap Mischa mengejek, “Dasar manusia perempuan sombong, padahal aku tahu kau lapar sekali.”

Mischa melirik ke makanan yang tampak lezat itu, memaksanya untuk menelan ludah karena harus menahan diri sekuat tenaga supaya tidak langsung meloncat dan melahap makanan itu sepuasnya, menghabiskannya dan membiarkan perutnya yang mulai terasa perih menjadi kenyang. Rasa kenyang yang selama ini seolah-olah hanya mimpi baginya…

Mischa mengerutkan kening untuk mengusir pikiran tentang makanan dan rasa kenyang yang menggoda di benaknya. Dia harus kuat dan tidak menunjukkan kelemahan di depan lelaki Zodijak ini, kalau tidak, Aslan pasti akan menginjak-injaknya.

Sayangnya, perut Mischa sama sekali tidak berkompromi dengan hatinya, begitu matanya menatap makanan yang tersaji lezat penuh godaan, perutnya langsung berbunyi, meraung minta diisi karena telah dibiarkan kosong begitu lama, hanya diisi makanan seadanya tanpa pernah merasakan apa itu kenyang.

Pipi Mishca langsung memerah malu ketika suara perutnya yang keroncongan terdengar begitu jelas di ruangan yang hening, sementara Aslan melemparkan tatapan mencela ke arah Mischa.

“Budak kami tidak butuh makan.” Aslan menjelaskan perlahan, masih berdiri tegak di samping ranjang sambil menatap Mischa penuh perhitungan, “Begitu kami menggigit mereka, kebutuhan mereka akan makanan menghilang, kami mengaliri darah mereka, mengubah struktur alami mereka, sehingga mereka semua hanya membutuhkan air.” Aslan tampak memusatkan perhatian ke leher Mischa, dimana tanda rasi bintang Leo yang khas masih tertera jelas di sana.

Dengan sengaja, Aslan memberi isyarat tangan ke arah pintu, dan dalam sekejap, memenuhi panggilan tuannya lewat kontak batin antara Sang majikan dengan budak, pintu terbuka perlahan dan seorang budak manusia berwajah kosong muncul di pintu lalu berdiri dengan patuh.

“Buang makanan itu.” perintah Aslan dingin, membuat Mischa terperangah kaget. Mischa tidak bisa berbuat apa-apa ketika budak itu mengangguk, lalu mengangkat nampan makanan dan membawanya keluar dari kamar itu sebelum menutup pintu di belakangnya.

Perasaan Mischa dipenuhi kekecewaan belum lagi perutnya yang terasa perih ketika makanan itu menghilang dari jangkauannya. Tetapi pikiran Mischa teralihkan oleh sesuatu yang lain, oleh perintah Aslan tadi.

“Kau menyuruh budak itu membuang makanan tadi?” bibir Mischa bergetar seolah tak percaya, “Benar-benar membuangnya?” tanyanya memastikan.

Aslan bersedekap, tampak arogan dan begitu angkuh di mata Mischa.

“Karena kau menolak makanan itu, maka tidak ada yang memakannya di sini. Kami tidak memakan makanan rendahan seperti makanan manusia dan seperti yang kubilang tadi, budak-budak kami tidak perlu makan. Jadi, ya. Makanan tadi dibuang ke tempat sampah untuk dimakan cacing-cacing tanah…”

Makanan semewah itu… makanan sebanyak itu…. Kaum Penyelinap mungkin rela melakukan apa saja hanya untuk mencicip sedikit saja dari makanan tadi… dan setelahnya mereka akan menangis bahagia atas kesempatan langka tersebut. Tetapi Aslan membuangnya seolah makanan itu sama sekali tidak berharga…

Didorong oleh rasa marahnya akan kurangnya penghargaan Aslan terhadap makanan dan sikap angkuhnya, Mischa merangsek maju tanpa sadar, tubuh kurusnya melenting bertenagakan rasa marah, dan dia bangkit berdiri di atas ranjang, lalu melemparkan telapak tangannya sekuat tenaga untuk menampar pipi Aslan yang tidak sempat menghindar karena tidak menyangka bahwa Mischa akan berani menamparnya.

Aslan membelalakkan mata hitamnya yang mengerikan dengan murka, sementara tangannya bergerak menyentuh pipinya yang memerah akibat tamparan Mischa sekuat tenaga Mischa yang dilabuhkan ke pipinya.

Mischa tahu dia telah menantang Si Singa, dan entah ancaman mengerikan apa yang akan menimpanya, tetapi sebelum dirinya sempat berpikir jauh, tubuh Mischa yang berdiri di pinggiran ranjang empuk itu terhuyung dan dirinya jatuh ke depan tanpa sempat mempertahankan diri.

Dan beruntung Mischa tidak sampai terbanting ke karpet karena Aslan dengan sigap menangkapnya.

Beruntung? Mischa meringis dengan kesal ketika merasakan lengan-lengan Aslan yang melingkari tubuhnya. Sepertinya dia tidak beruntung, tetapi sedang sial yang sesial-sialnya.

Aslan sendiri setengah menggendong Mischa, lengannya melingkari pinggang Mischa, membuat tubuh Mischa menempel erat di dadanya. Lelaki itu dengan sengaja mengangkat tubuh Mischa naik ke atas, membuat kepala Mischa sejajar dengan dirinya dan tanpa diduga langsung mencium bibir Mischa tanpa permisi.

Ciuman itu dalam, dan kasar. Seolah-olah Aslan sedang meluapkan kekesalannya. Mischa sendiri terkesiap, lalu langsung melakukan segala cara untuk meronta dan menolak ciuman yang dipaksakan kepadanya itu, tangannya bergerak berusaha memukuli pundak Aslan yang sekeras batu sementara kakinya menendang kesana kemari. Mischa bahkan menggeleng-gelengkan kepala untuk melepaskan bibirnya dari pagutan bibir Aslan, tetapi semua itu percuma, karena Aslan malahan memeluk Mischa makin erat dan rapat kepadanya.

Ketika pada akhirnya bibirnya dilepaskan, Mischa terengah, berusaha menghirup napas sebanyak-banyaknya dan memompa paru-parunya supaya kembali teraliri oksigen.

Aslan sendiri tidak berkata-kata, lelaki itu dengan kejam melepaskan pegangannya di tubuh Mischa dan mendorong Mischa mundur hingga terbanting kembali ke atas ranjang. Setelah itu, tanpa berkata-kata, Aslan melangkah keluar dari kamar dan membanting pintu di belakangnya hingga memperdengarkan suara berdebam yang menggema di seluruh kamar.

***

Kara menunggu di lorong kamar tempat Mischa dikurung. Lelaki itu setengah menunduk sambil menyandarkan punggungnya ke tembok sementara kedua tangannya terlipat di dada. Begitu melihat Aslan, Kara langsung menegakkan tubuh dan menatap tajam.

“Kau membawa makanannya keluar.” Kara bergumam menarik perhatian Aslan, tetapi Aslan hanya melirik angkuh dan meneruskan langkahnya tanpa merasa perlu berhenti untuk mendengarkan perkataan Kara.

Kara berdecak menghadapi sikap Aslan. Akhirnya, meskipun dengan kesal, Kara ikut melangkah dan mensejajari langkah Aslan.

“Makanan itu belum disentuh sama sekali, dia akan kelaparan kalau kau membuang makanan tadi.” seru Kara kembali sementara suaranya dilumuri oleh ketidaksetujuan yang kental.

Aslan mengangkat alis, “Kenapa kau peduli?”

“Karena dia adalah anomali, mungkin saja dia adalah senjata buatan manusia, tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa dia adalah dewi air dari mitologi kita, bukan?” Kara berseru cepat, “Kau tidak bisa melukainya sebelum kita tahu dia itu apa!”

“Dewi air?” Aslan terkekeh mencemooh, “Apakah kau sudah tertular Akrep sehingga mempercayai bahwa mitologi itu benar-benar terwujud di dunia nyata?”

“Mitologi itu nyata, Aslan. Keberadaan kita sendiri adalah buktinya, bukankah Bangsa Zodijak berasal dari Sang Singa dan Dewi Air?” Kara berucap cepat dengan nada serius, “Kau harus mengembalikan makanan itu kepadanya, kalau tidak dia akan kelaparan. Manusia butuh makanan, dia akan sakit kalau kelaparan.” dengan cepat Kara mengubah topik kembali ke pembicaraan awal mereka.

Kali ini Aslan menghentikan langkah dan menolehkan kepalanya dengan waspada, “Dan kenapa kau peduli pada manusia perempuan itu?” tanyanya  tajam.

Kara tertegun, sedikit menelan ludah sebelum menjawab, “Aku selalu peduli pada anak manusia, kau pasti tahu kenapa.”

Aslan mendengus, “Alasan sentimentil lagi? Kau peduli karena benar-benar peduli, atau kau peduli karena ingin menanti saat untuk membalaskan dendammu pada orang yang salah?” tuduhnya.

Kara melemparkan tatapan tersinggung ke arah Aslan, “Aku benar-benar peduli pada Mischa! tidak ada hubungannya dengan masa lalu.” jawabnya dengan suara tegas.

Kali ini seluruh tubuh Aslan terpusat pada Kara, mengintimidasi dengan ukuran tubuhnya yang lebih kuat dan lebih tinggi daripada Kara.

“Kau tahu namanya? Kalian sudah berkenalan tadi?” geram Aslan kasar.

Kara menggelengkan kepala, “Bukan itu yang seharusnya kita bicarakan, aku hanya meminta kau memberinya makan dan tidak membiarkannya kelaparan.”

Tatapan Aslan menjadi begitu tajam sementara ekspresinya diwarnai kemurkaan mengerikan.

“Manusia perempuan itu tidak mau makan dan menolak kebaikan hatiku, jadi aku mencabut makanan itu karena dia tidak tahu berterima kasih.” suara Aslan terdengar tak terbantahkan, “Jika dia ingin makan, maka dia harus memohon kepadaku.”

Tanpa menunggu reaksi Kara, Aslan membalikkan badan, lalu melangkah pergi meninggalkan ruangan.

***

“Aslan tidak bisa melakukan itu, bagaimanapun Mischa butuh makan.” Kara mondar-mandir di ruang makan sementara Kaza hanya bertopang dagu dan memasang ekspresi tidak peduli.

“Dia milik Aslan, Kara. Sudah sejak lama kita semua tidak pernah saling mengurusi perihal perlakuan kita kepada budak kita masing-masing. Aslan boleh saja membiarkan budak-budaknya mati dan kita sama sekali tidak bisa membantahnya, begitupun sebaliknya” Kaza berucap tenang, sedikit terganggu karena Kara tidak berhenti bergerak bolak-balik dengan gelisah menyeberangi ruangan dengan langkah-langkah panjangnya.

Kara menghembuskan napas kesal, “Aku tahu. Aku jelas tahu peraturan tak tertulis di antara kita. Tapi  manusia perempuan itu bahkan tidak bisa disebut budak Aslan, bukan? Racun Aslan bahkan tidak berpengaruh apapun padanya.”

“Tetap saja ada tanda Aslan di lehernya, itu sudah cukup menjadi bukti.” Kaza mengangkat alis, “Jangan pernah memiliki pikiran gila untuk coba-coba menggigit manusia perempuan itu hanya untuk melihat apakah mungkin kau bisa mempengaruhinya dengan racunmu. Kita punya aturan yang harus dipatuhi sebagai Bangsa Zodijak, budak yang sudah digigit oleh yang satu, tidak boleh digigit oleh yang lain.”

“Dan budak yang digigit oleh dua tuan yang berbeda, sudah pasti akan mati karena tubuhnya tidak bisa menahan dua racun dari dua Bangsa Zodijak.”

Sebuah sahutan yang tiba-tiba terdengar di pintu membuat Kaza dan Kara menolehkan kepala. Mereka langsung bertatapan dengan Yesil yang berdiri di sana dengan ekspresi tenang.

“Aku mengumpulkan semua saudara kita. Hasil pemeriksaan darah yang kulakukan sudah keluar.”

***

11401785

Mischa berbaring miring, meringkuk sambil memeluk perutnya yang terasa perih. Rasa lapar memang sudah menjadi temannya sehari-hari. Mereka semua, Kaum Penyelinap selalu bertahan melalui hari demi hari dengan ditemani oleh rasa lapar yang menyiksa. Lumut dan serangga tidak bisa memenuhi nutrisi mereka, karena itulah mereka makin menyedihkan, semakin kurus dan lemah dari hari ke hari dan menyongsong kematian yang tidak terelakkan.

Kalau mereka tidak mati kelaparan, mereka semua akan mati karena dijadikan buruan untuk kesenangan Bangsa Zodijak.

Air mata Mischa yang diteteskannya sejak tadi meleleh di pipi hingga membasahi tempat tidurnya. Tubuhnya berguncang karena isakan marah bercampur sakit hati.

Marah karena dirinya hanyalah manusia yang lemah yang tidak bisa berbuat apa-apa ketika ditindas, dan sakit hati karena tidak rela Aslan membuang-buang makanan tanpa penghargaan sedikitpun.

Seandainya saja dia punya kesempatan untuk melarikan diri dari tempat ini, meskipun mustahil, apa yang akan dia lakukan?

Mischa menyusut air matanya, dipenuhi rasa tidak berdaya yang menggerogoti hati. Dirinya hanyalah seorang manusia lemah yang tidak bisa mengubah kehancuran yang menggerus seluruh umat manusia dengan kejam.

Jika dia berhasil keluar dari tempat ini, dirinya tidak akan bisa membawa perubahan, semua akan sama, dunia akan tetap hancur dan dirinya mungkin akan mati di luar sana karena sudah kehilangan kelompoknya.

Jadi apa yang akan dia lakukan? Berdiam di sini dan menyongsong kematian, atau berusaha melarikan diri dan berjuang meskipun pada akhirnya juga akan mati dalam kekalahan?

Sebelum Mischa menemukan jawaban, terdengar kembali suara pintu terbuka. Tubuh Mischa langsung menegang meskipun posisinya saat ini adalah memunggungi pintu.

Suara langkah tenang terdengar mendekat seiring dengan perintah dari suara yang sudah dikenal oleh Mischa, sebuah perintah yang diberikan kepada seorang budak yang dengan patuh mengikuti dan meletakkan sesuatu di meja.

Budak itu sepertinya sudah pergi karena Mischa mendengar suara pintu tertutup kembali. Sementara sosok Aslan, sosok lelaki yang memberi perintah tadi, masih berdiri di pinggir ranjang dan Mischa bisa merasakan bulu kuduknya meremang karena tahu pasti bahwa Aslan mengawasinya dengan tajam.

“Kalau kau tidak ingin makan karena takut aku akan memanenmu begitu kau kuat, kau bisa mendorong dirimu untuk makan dengan pikiran bahwa ketika kau sudah kuat, kau bisa sedikit lebih bertenaga untuk melawanku.” Aslan bergumam dingin, memberi jeda sejenak seolah menunggu Mischa bereaksi, tetapi ketika Mischa tidak mengatakan apapun, Aslan pun melanjutkan dengan suara penuh ancaman,

“Karena aku akan sangat suka jika mangsaku memiliki tenaga untuk melawan sebelum kuhabisi.”

Setelah mengucapkan kalimat mengerikan yang menggema di seluruh ruangan, Aslan kemudian melangkah pergi, sekali lagi meninggalkan Mischa sendirian di dalam kamar.

Setelah yakin bahwa aura keji Aslan sudah menghilang, Mischa menolehkan kepalanya perlahan untuk melirik ke belakang, dirinya lalu bangkit, duduk di atas ranjang sementara pandangan matanya terpaku pada meja di samping ranjang.

Di sana tidak ada hidangan lengkap menggoda seperti tadi. Tetapi yang berada di atas nampan itu tidak kalah menggiurkannya dengan yang sebelumnya. Segelas susu hangat dan beberapa keping biskuit yang sepertinya baru diangkat dari oven, menguarkan aroma harum nan menggoda.

Sejenak Mischa ragu, tetapi kalimat Aslan tadi mendorongnya untuk mengambil keputusan. Dirinya tidak bisa terpuruk seperti ini, menolak makan hanya karena ketakutan bahwa Aslan akan memanennya begitu dirinya dianggap siap nanti.

Yang terjadi biarlah terjadi, yang terpenting sekarang, Mischa tidak akan kehilangan semangat juangnya hanya karena rasa takut. Saat ini yang bisa dia lakukan hanyalah berjuang dan melawan. Dan untuk melakukan itu semua dia butuh tenaga dari makanan.

Mischa tidak akan bisa melawan jika dia lemas karena lapar, dia akan lebih punya kesempatan kalau dia kenyang dan bertenaga. Bukankah dia bisa melukai Aslan? Bukan tidak mungkin pada akhirnya nanti, jika dia mengerahkan seluruh tenaga, dia akan bisa mengalahkan dan membunuh makhluk buas itu?

Jemari Mischa sedikit gemetar ketika meraih gelas susu hangat itu, tidak percaya bahwa dirinya berkesempatan merasakan lezat dan nikmatnya susu di dalam tangannya. Dengan hati-hati, menjaga supaya tidak ada yang tumpah setetespun, Mischa mengarahkan gelas itu ke tenggorokannya, dan meneguk susu putih hangat yang langsung mengalir dan membasuh lidahnya dengan kenikmatan.

Sejenak Mischa tertegun, kemudian air mata menetes dari sudut matanya, air mata syukur bercampur ironi nan dalam. Syukur karena kesempatan menikmati makanan yang layak, dan ironi karena dia mendapatkannya dari musuh yang dibencinya.

Pada akhirnya, Mischa mengambil keping-keping biskuit itu, menghabiskannya dengan penuh tekad, lalu meneguk susu hangat itu sampai tandas sementara air matanya masih bercucuran membasahi pipi.

Jika Aslan nanti memutuskan untuk memaksakan kehendak kepada Mischa, Aslan tidak akan menghadapi perempuan lemah yang tunduk dan pasrah, lelaki buas itu akan menghadapi perempuan yang siap melawan dan rela mati demi mempertahankan kehormatannya.

***

Ketika Aslan melangkah memasuki ruang makan, keenam saudaranya sudah berkumpul di sana.

Akrep seperti biasa duduk di kursi besarnya dengan wajah tegang dan tak sabar karena Yesil yang duduk di sebelahnya bersikeras menunggu mereka semua lengkap terlebih dahulu sebelum membeberkan hasil test darah Mischa. Kara dan Kaza duduk berdua di sofa, Kara menatap Aslan dengan jengkel sementara Kaza seperti biasa memasang ekspresi tidak peduli. Khar yang pendiam duduk di meja makan, tampak malas sambil melirik ke arah  yang Sevgil sebaliknya tampak begitu antusias.

“Sekarang bicaralah, Yesil. Aslan sudah datang.” Akrep melemparkan tatapan mencela ke arah Aslan karena saudaranya itu terlambat datang dan membuat mereka semua menunggu lama, lalu memusatkan perhatiannya kembali kepada Yesil.

Yesil mengangkat bahu, tersenyum pada Aslan, lalu mengeluarkan sebuah tabung kecil dan meletakkannya di atas meja. Tabung itu berisi cairan berwarna biru bening yang tampak segar dan jernih.

“Kalian tahu ini apa?” Yesil mengedikkan dagunya ke arah tabung di depannya, sementara seluruh saudaranya memberikan reaksi yang sama, menggelengkan kepala.

“Aku melakukan test pada sampel darah Mischa dengan berbagai cara, jika aku menggunakan peralatan pemeriksaan manusia, aku menemukan bahwa tidak ada yang aneh dari darah Mischa, semuanya aman, kandungan darahnya sama, seperti layaknya manusia biasa.” Yesil menghela napas penuh antisipasi, “Lalu entah kenapa aku memikirkan ide gila yang datang entah darimana. Aku mengambil sedikit air Zodijak dari penyimpanan rahasia dan meneteskan air Zodijak yang berharga ke sampel darah Mischa, kuambil sedikit dari wadah berharga kita, satu-satunya wadah yang menampung air Zodijak dari planet kita yang tersisa, dan ternyata beginilah jadinya.”

Aslan mengerutkan kening, “Darahnya berubah menjadi air?” tanpa meminta izin, lelaki itu mengambil tabung yang dibawa oleh Yesil, mengangkatnya ke atas dan air kebiruan itu memantulkan cahaya lampu hingga menampilkan bulir-bulir air bening yang tampak segar.

Mata Aslan menatap Yesil dengan curiga, “Kau tidak mengganti isi tabung ini dengan air untuk mempermainkan kami, bukan?” tuduhnya waspada.

Yesil menggelengkan kepala, tampak tersinggung, “Kau tahu bahwa aku adalah seorang peneliti berintegritas yang menjunjung tinggi keabsahan hasil penelitian. Aku tidak akan memanipulasi hasil penelitian hanya untuk main-main.” ekspresi Yesil yang biasanya santai berubah serius.

Aslan seolah tidak peduli dengan sikap tersinggung Yesil, lelaki itu membuka tutup tabung, dan meneteskan tetesan air ke tangannya.

“Aku tidak menyarankan kau mencicipinya,” Yesil berseru cepat, “Cairan itu memang tampak seperti air, tapi kita tidak tahu itu apa.”

Aslan mengangkat alis dengan sombong, “Cairan seperti ini tidak mungkin membunuhku.” desisnya lalu mengangkat telapak tangannya ke bibir dan menuangkan air itu ke mulutnya.

Seketika itu juga, ketika cairan biru jernih tersebut terasa di mulutnya dan mengalir ke tubuhnya, Aslan tertegun, dan memejamkan mata, merasakan sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan dengan kata-kata, merasakan sensasi meledak luar biasa bercampur dengan rasa sesak di dada yang membuat air matanya mendesak keluar begitu saja tanpa bisa ditahan.

“Aslan?” Akrep setengah bangkit dari duduk, memandang Aslan dengan tatapan khawatir, begitupun dengan saudara-saudaranya yang lain. Aslan tidak pernah menangis sebelumnya, baru kali ini terjadi.

Aslan membuka mata, menatap saudaranya satu-persatu, ketika dia berbicara, suaranya terdengar serak.

“Itu… adalah air paling murni yang pernah kurasakan… lebih murni dari air berharga yang tersisa dari planet Zodijak…rasanya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata…”

Akrep berdiri dan bergerak mendekat dengan penasaran, “Biarkan aku mencobanya…” tangannya terulur, hendak mengambil air itu dari tangan Aslan, tetapi Aslan langsung melangkah mundur, menggenggam erat tabung berisi darah Mischa yang telah berubah menjadi air di tangannya dengan sikap posesif.

“Tidak!” raung Aslan marah, “Ini milikku. Dia juga milikku. Tidak ada satupun dari kalian yang boleh menyentuhnya sedikitpun. Tidak sedikitpun.” Aslan melirik ke arah Kara dengan penuh ancaman, “Kalau kalian berani melakukannya, kalian akan berhadapan dengan kekuatanku.”

“Aslan.” Kali ini Yesil bergumam dengan nada menenangkan, “Apakah kau sadar bahwa manusia perempuan itu mengubahmu menjadi sangat posesif dengan cara primitif? Kau seolah-olah rela mati hanya demi mempertahankannya tetap menjadi milikmu…” tanya Yesil dengan nada hati-hati, tahu pasti bahwa Aslan begitu mudah meledakkan kemarahannya jika disulut.

Aslan sendiri tertegun mendengar perkataan Yesil, benaknya berputar dan dirinya sendiri menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Yesil benar adanya.

Kenapa bisa seperti itu? Selama ini Aslan bahkan tidak pernah menghargai makhluk yang berwujud manusia karena menurutnya mereka semua memang hanyalah makhluk lemah yang tidak berharga. Bahkan Aslan mengangkat budak manusia bukan karena dia mau, tetapi lebih karena dia membutuhkan pelayan untuk melakukan perintahnya. Tidak pernah sekalipun dia ingin memiliki manusia, dirinya bahkan dengan mudah bisa memberikan budaknya untuk dibunuh atau dijadikan mainan pasukannya hanya untuk bersenang-senang.

Tapi tidak dengan Mischa. Membayangkan perempuan itu berada di luar kuasanya, dimiliki oleh yang lain sudah membuat darahnya mendidih dipenuhi kemarahan luar biasa.

Aslan menghela napas panjang, lalu menghembuskannya untuk menenangkan diri, sebelum kemudian dia menatap Yesil menyelidik.

“Apakah dia memang senjata yang dibuat khusus untukku?” Aslan mendesis tajam.

Yesil menggelengkan kepala, “Bukan… aku tidak menemukan apapun yang aneh di darahnya, tidak ada perubahan kimiawi yang dihasilkan oleh ulah manusia, karena jika itu yang terjadi aku pasti akan menemukan jejaknya. Darahnya sama sekali tidak bereaksi dengan semua hal yang berhubungan dengan bumi, darahnya baru bereaksi ketika kita meneteskan air dari planet kita. Air yang hanya dimiliki oleh kita, dijaga ketat dan disimpan sebagai artefak berharga dimana tidak semua makhluk bisa mengaksesnya. Hanya kita bertujuh yang bisa mengaksesnya, bahkan Bangsa Zodijak yang lainpun tidak bisa, apalagi manusia. Teknologi manusia tidak akan mungkin bisa mengubah darah menjadi air dengan diteteskan oleh air Zodijak yang mustahil untuk mereka miliki.”

Yesil menatap mata seluruh saudaranya satu-persatu untuk memastikan bahwa mereka semua memahami maksudnya sebelum kemudian melanjutkan penjelasannya kembali,  “Menurutku apa yang ada di darahnya adalah sesuatu yang alami, bukan hasil rekayasa kimiawi. Darahnya membawa pesan untuk kita, sebuah pesan bahwa perempuan itu benar-benar Dewi Air dalam mitologi kita. Kau, Si Singa, terikat dengannya karena sejarah kalian berdua di masa lampau. Manusia perempuan itu adalah petunjuk bagi kita, kalau kalian bersatu, kejayaan kita akan datang seperti masa lampau. Kalau menurut saranku, kau harus mengikatnya, Aslan. Supaya dia menjadi bagian dari kita, karena aku yakin bahwa kehadirannya akan membawa kejayaan bagi bangsa kita, entah dengan cara apa.”

“Persetan dengan semua mitologi itu.” Aslan menyela dengan suara mencemooh yang kental, “Aku tidak menyangka kalian masih mempercayai mitologi itu padahal teknologi kita sudah begitu modern. Dan aku tidak akan bersatu dengan perempuan manapun, apalagi dengan manusia perempuan hanya karena kepercayaan terhadap sebuah mitologi.”

“Kau adalah pemimpin kami, karena kau yang terkuat dari kami.” Akrep bergumam dengan nada tenang, “Seharusnya sebagai seorang pemimpin kau selalu mengedepankan kepentingan Bangsa Zodijak di atas semua egomu, Aslan. Yesil akan melanjutkan penelitiannya, berikan perempuan itu kepadanya untuk diteliti, dan jika memang nanti kesimpulannya perempuan itu benar-benar dewi air dalam mitologi kita, maka seperti yang dikatakan oleh Yesil, kau harus memikirkan untuk mengikatnya supaya dia selalu bersama kita.”

“Aku tidak akan melakukannya dan kau tidak dalam kapasitas untuk memberi perintah kepadaku, Akrep.” Aslan menggeram, membelalakkan mata dengan marah.

Akrep sendiri menyipitkan mata, lalu menatap Aslan dengan penuh perhitungan.

“Kalau kau tidak mau melakukannya, maka salah satu dari kita harus melakukannya. Aku sendiri bersedia mengikat perempuan itu jika memang perlu.” ucap Akrep dengan penuh tekad, menciptakan keheningan mencengangkan yang meliputi seluruh ruangan.

Bersambung ke part berikutnya

663 Komentar

Tinggalkan Balasan