1.tgw revolution
Generals Wife

The General’s Wife Part 2 : Jenderal Akira

Bookmark

No account yet? Register

2.118 votes, average: 1,00 out of 1 (2.118 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

“Apakah anda yakin Asia tidak akan melarikan diri dari kamar itu, Yang Mulia?”

Akira mengalihkan pandangannya dari peta strategi yang terbentang di mejanya yang luas, hari ini dia menerima laporan bahwa pemberontakan di ujung perbatasan selatan After Earth telah berhasil di tumpas, tanpa tersisa tentunya, sesuai instruksinya. Beberapa bulan terakhir ini, mereka direpotkan oleh pemberontakan militan bawah tanah yang ingin membentuk negara sendiri, merdeka dari pemerintahan militer di After Earth, dan tentu saja Akira tidak akan membiarkan itu semua terjadi.

Di After Earth ini, Semua orang yang ingin berbeda akan dimusnahkan.

Ruangannya ini berada di pusat komando militer terbesar Marakesh City, Sering disebut sebagai Benteng Besar, bentuknya adalah sebuah bangunan dari beton terbaik dan kerangka baja terkuat, dibuat serupa benteng raksasa dengan pengawalan berlapis-lapis dan pasukan pembunuh terlatih yang ada di bawahnya. Ruangan Akira adalah yang terbesar dan terluas dari semua ruangan di gedung itu, dengan dekorasi dari panel-panel kayu termahal yang memenuhi dinding, lantai dan seluruh perabotannya, sisa-sisa dari kejayaan masa lalu dunia sebelum perang berkecamuk.

Keseluruhan ruangan itu bernuansa cokelat, cokelat yang kosong, tanpa lukisan, foto atau apapun yang mengisi dinding-dindingnya. Satu-satunya dekorasi yang ada di sana hanya sebuah bendera terpancang di sudut ruangan, berwarna hitam dengan bintang emas di tengahnya, lambang After Earth, yang mengartikan dataran mereka yang hanya ada satu, di tengah samudera hitam nan gelap tak berujung.

Mata Akira melirik ke arah Paris, salah satu letnan pengawal sekaligus sahabatnya yang paling setia. Paris-lah satu-satunya orang di dunia ini yang dipercaya olehnya. Penampilan sahabatnya ini bertolak belakang dengan dirinya, jika Akira berambut gelap dengan mata cokelat dan sikap yang dingin sedikit menakutkan, Paris lebih tampak manusiawi, lelaki ini suka mengumbar senyum, rambutnya yang pirang pasir serasi dengan mata birunya, dan meskipun mengenakan seragam militer hitam yang menakutkan, Paris tetap tampak mempesona dan bisa membuat jantung perempuan manapun berdebar termakan pesonanya.

“Dia kehilangan ingatannya dan terluka, mungkin untuk berjalan saja dia masih susah. Aku yakin pikiran untuk melarikan diri tidak akan terlintas di benaknya.”

Paris berdehem, seolah tak setuju, “Tapi ini Asia, Yang Mulia…”

Akira terkekeh mendengar bantahan Paris,

“Percayalah Paris, Asia yang ini berbeda. Ingatan terakhirnya adalah ketika dia berusia enam belas tahun, dua tahun yang lalu. Itu berarti dia tidak ingat pertemuannya denganku dan segala kejadian setelahnya, ….. dia bahkan beringsut ngeri ketika aku menyentuhnya.” Mata Akira menerawang mengingat kembali kejadian di Rumah Sakit tadi, “Dan dia sedang mengandung anakku. Kali ini tidak akan kubiarkan dia terluka lagi, setidaknya sampai anakku lahir.”

Paris menatap Akira dengan tatapan cemas, “Kalau begitu anda harus memperlakukannya dengan baik.”

“Apa maksudmu?” Akira mengerutkan keningnya.

“Ingatan Asia seluruhnya tentang anda sudah hilang. Yah, meskipun tipe amnesia seperti itu biasanya tidak akan berlangsung lama, seiring dengan berbagai hal dia akan mendapatkan kilasan tentang ingatannya kembali sedikit demi sedikit dan pada akhirnya pulih, tetapi pada masa-masa ini, anda bisa memperlakukannya dengan ‘berbeda‘, setidaknya itu akan meredam semua kemungkinan akan tindakan Asia yang mungkin tidak kita inginkan.”

Akira merenung, tampak menimbang-nimbang,

“Maksudmu aku harus berperan sebagai ‘suami‘ yang sesungguhnya?”, tanyanya.

Paris menganggukkan kepalanya, menatap Akira dengan pandangan penuh pengertian,

“Setidaknya anda bisa membuat Asia merasa sebagai ‘Isteri‘ sesungguhnya, Yang Mulia. Bukankah itu yang anda inginkan sejak dulu?”

Akira menelaah kalimat Paris dalam diamnya, lalu sebuah senyum tipis muncul di sudut bibirnya, senyum tipis yang kejam dan penuh perhitungan.

“Tentu saja aku bisa menjadi ‘suami’ sesungguhnya untuk Asia, Paris.” Lelaki itu terkekeh, “Aku tidak sabar lagi ingin melihat, bagaimana Asia kalau menjadi ‘isteri‘ yang sesungguhnya.”

***

“Selamat pagi.”

Suara itu mengalun lembut di telinga Asia ketika dia membuka matanya di pagi nan beku. Asia mengerutkan keningnya ketika menyadari bahwa Akira sudah berada di sana, dengan pakaian seragam militer lengkap warna hitam yang mengerikan, lelaki itu duduk begitu dekat dengan Akira, di tepi ranjangnya.

Perasaan takut yang sama merayapi hatinya.

Kenapa dia merasa takut pada lelaki ini? Apakah karena seragam militer yang dikenakannya?

Pada masa lampau, penduduk sipil seperti dirinya, selalu bersembunyi dan menghindar jika harus berurusan dengan pasukan militer. Pasukan Militer After Earth adalah pembasmi kejam yang ditakuti.

Mereka dibagi menjadi beberapa level yang dibedakan dari pakaiannya. Yang berseragam kuning berarti masih dalam tahap pelatihan, yang berseragam hijau adalah pasukan kelas bawah yang biasanya ada di baris depan, yang berseragam biru tua adalah pasukan kelas tinggi yang memiliki pangkat perwira ke atas. Dan di antara semua itu, yang berseragam hitamlah yang paling ditakuti, pasukan militer berseragam hitam adalah pasukan paling elite, yang hanya diturunkan di tugas-tugas khusus kelas tinggi, mereka sempurna dalam segala hal, mereka pembunuh ahli yang sangat kejam, dan mereka juga jarang muncul di khalayak umum.

Keberadaan mereka bagaikan mitos mengerikan di dunia dongeng, ada tetapi tak pernah terlihat.

Dan sekarang Asia berhadapan langsung dengan salah satu anggota militer berseragam hitam ini.

Bagaimana mungkin dia tidak merasa takut?

“Apa kabarmu?” Akira bertanya lagi, entah kenapa sekarang lelaki ini terdengar lebih lembut, mungkin suasana hatinya sedang baik. Tetapi walaupun begitu, masih ada aura berbahaya yang terpancar dari sana, menyelip dalam diam walau tertutupi oleh senyum manisnya.

Jemari Asia tanpa sadar menyentuh dada kirinya, berusaha menetralkan detak jantungnya yang menderas,

“Aku baik-baik saja.”

Akira tanpa diduga menyentuh dahi Asia dengan lembut, mengelus perban di kepala Asia dengan hati-hati,

“Hari ini aku akan membawamu pulang, Kau bisa beristirahat dengan tenang di rumah kita.” Jemari Akira menyentuh rambut merah kecoklatan gelap dan panjang Asia yang terjuntai lalu menyelipkannya ke balik telinga Asia, “Aku merindukanmu, Asia….”

Dan kemudian, tanpa disangka, Akira menyentuhkan bibirnya dan memagut bibir Asia dengan lembut, lembut sekali, seolah lelaki itu takut menyakiti Asia, bibir yang keras dan dingin itu memagut bibir Asia, lalu mencecapnya seolah bibir Asia adalah cairan semanis madu yang ingin dihisapnya, lidahnya menggoda dengan lembut, menggoda lidah Asia. Tetapi hanya sampai di situ, lelaki itu menghentikan ciumannya, meninggalkan jejak basah dan membara di bibir Asia.

“Kita lanjutkan nanti di rumah ya.” Suara Akira terdengar serak, penuh gairah, lelaki itu lalu meraih kepala Asia, menyandarkannya di dada bidangnya, dan mengecup ujung kepala Asia dengan lembut.

***

“Dia sama sekali tidak curiga.” Akira bergumam, mengamati Asia dari monitor yang manampilkan gambar kamera cctv yang dipasang di seluruh penjuru kamar tempat perempuan itu dirawat.

Paris juga menatap ke layar yang sama, lalu mengangkat bahunya.

“Mungkin dia akan teringat nanti, setelah tahu siapa anda. Saat dia tahu bahwa anda adalah Jenderal Akira, mungkin seluruh ingatannya akan kembali lagi dan dia mulai merepotkan anda seperti dulu.”

Akira terkekeh, “Dia sudah merepotkanku sejak lama, dan aku tidak keberatan jika dia merepotkanku lagi.” Pandangan Akira menajam, memperhatikan Asia yang terbaring dengan tatapan nyalang ke arah jendela kamar perawatannya yang berteralis, “Tapi lihatlah saat ini, Asia yang hilang ingatan ini begitu berbeda, dan aku ingin memanfaatkan kesempatan sebaik mungkin.”

Kali ini Paris yang terkekeh, “Saya yakin anda akan memanfaatkan kondisi Asia yang sekarang ini dengan sebaik-baiknya, dan apapun yang akan terjadi nanti, yang anda lakukan ini akan sepadan hasilnya, eh?”

Akira menganggukkan kepalanya, matanya tak lepas dari layar monitor, ketika berbicara suaranya terdengar dingin, membuat siapapun yang mendengarnya ketakutan,

“Tentu saja sepadan, Paris. Amat sangat sepadan…”

***

“Aku merindukanmu, Asia.”

Kedua tangan Akira menahan tangan Asia di atas kepala menyatukan kedua pergelangan tangan Asia dengan satu genggaman jari yang kuat, napas mereka berdua sama-sama terengah, tubuh mereka telanjang, penuh keringat di atas ranjang yang berserakan, hasil dari pergulatan kedua tubuh mereka sebelumnya.

Asia berusaha menormalkan napasnya yang tersengal-sengal, hatinya dipenuhi rasa marah yang membara, rasa marah karena tidak berdaya, kalah di bawah kekuatan fisik lelaki bermata cokelat yang sedang menindihnya itu. Dia berusaha meronta, tetapi tekanan kuat di tangannya dan beban tubuh di atasnya membuatnya tak bisa bergerak, pada akhirnya dia hanya bisa melemparkan tatapan membunuh, penuh dengan kebencian yang bercampur putus asa kepada Akira.

Akira tersenyum, senyum yang jahat dan keji. Lelaki itu menunduk, hendak mengecup bibir Asia, tetapi Asia memiringkan kepalanya, berusaha menghindar hingga bibir lelaki itu hanya mendarat di pipinya.

Didengarnya Akira terkekeh pelan, lelaki itu lalu mengecup pipi Asia, terus memberikan kecupan-kecupan kecil hingga sampai ke telingannya, nafasnya yang panas dan menggoda membuat seluruh tubuh Asia meremang.

Dan kemudian lelaki itu berbisik.

“Aku menginginkanmu Asia, dan ketika aku menginginkan sesuatu, aku akan mendapatkannya.”

***

“Asia.”

Suara maskulin yang sama itu langsung menyentakkan Asia dari mimpinya, dia terperanjat, dan begitu bertatapan dengan mata cokelat yang sama dengan mimpinya, Asia langsung beringsut, menjauh  ke sudut mobil limousine hitam itu, refleks berusaha melindungi dirinya.

“Asia? Kau kenapa, sayang?” Jemari Akira terulur, menyentuh lengan Asia membuat Asia gemetar.

Asia rupanya tertidur di dalam mobil, dalam perjalanan mereka pulang dari rumah sakit, dan dia bermimpi.

Mimpi yang terasa sangat nyata.

Apakah itu mimpi biasa, ataukah kilasan ingatan di masa lalunya yang hadir sekelebatan pikiran?

Asia menatap jari Akira yang menyentuh lengannya lembut, dia pada akhirnya hanya bisa menggelengkan kepalanya,

“Tidak, aku tidak apa-apa…” ditatapnya Akira dengan curiga, tetapi lelaki itu hanya memasang ekspresi datar yang tidak terbaca, bahkan kemudian Akira malahan tersenyum lembut kepadanya, meluruhkan semua kecurigaan dan ketakutan Asia.

“Mari, kita sudah sampai ke rumah, kau pasti senang di sini.” Lelaki itu mengulurkan tangannya.

Asia hanya memandangi tangan itu, lama, sejenak dia meragu. Tetapi pada akhirnya, setelah menghela napas panjang, dia menerima uluran tangan itu, yang langsung digenggam oleh jemari Akira yang hangat.

Seseorang membukakan pintu mobil, sehingga hawa dingin menelusup masuk ke dalam, membuat Asia sedikit menggigil. Hal itu tidak lepas dari perhatian Akira, lelaki itu berdecak pelan,

“Mantelmu kurang tebal, aku akan memarahi siapapun yang bertugas menyiapkan pakaianmu.” gerutunya sedikit marah, dan kemudian tanpa disangka-sangka, sang jenderal melepaskan mantel hitamnya dan menarik tubuh Asia. “Ini pakailah.”

Asia terkesiap ketika lelaki itu memakaikan mantelnya menyelubungi pundak Asia dan membungkus tubuhnya. Mantel itu terasa berat dan hangat, seakan sisa dari panas tubuh Akira masih ada di sana. Dengan lembut Akira mengancingkan mantel itu sampai ke leher Asia.

Sementara Asia mengamati dirinya sendiri dengan tidak berdaya, mantel itu tetap saja mengerikan, dengan  pangkat di pundaknya dan tanda bintang di bagian dadanya, menunjukkan bertapa berbahayanya pemilik mantel ini. Belum lagi dengan aroma maskulin yang langsung memenuhi indera penciuman Asia, aroma itu harum dan hangat seperti perpaduan kayu-kayuan dan citrus yang menenangkan sekaligus mengintimidasi.

“Sekarang lebih baik.” Akira tersenyum tipis, tampak puas mengamati tubuh Asia yang mungil terbenam di dalam selubungan mantelnya, digenggamnya kembali tangan Asia.

Akira turun lebih dulu dari mobil, sambil masih menggenggam tangan Asia. Dan kemudian, setelah sedikit ragu, Asia menggeser tubuhnya ke arah pintu, hendak melangkah turun. Tetapi entah kenapa gerakannya sedikit terhuyung sehingga Akira menahannya dengan lengannya.

“Kakimu masih lemah setelah berbaring sekian lama, biarkan aku membantumu.” Tanpa diduga Akira langsung membungkuk, melingkarkan tangannya di belakang punggung dan di belakang lutut Asia, lalu mengangkat Asia ke dalam gendongannya.

Asia memekik kaget ketika dia berakhir di dalam gendongan Akira, kepalanya dipaksa bersandar di dada bidang itu, tertahan di sana.

Dan ketika mereka sepenuhnya keluar dari mobil. Asia mengerutkan keningnya ketika mereka menatap pemandangan di depannya. Mereka berada di halaman luas sebuah rumah yang sepenuhnya berwarna hitam karena dinding-dindingnya dibungkus oleh marmer hitam legam, rumah itu begitu besar, dua lantai dengan tentara-tentara bersenjata mondar-mandir di balkon dan beberapa titik di teras rumah.

Sekeliling rumah itu adalah taman yang sangat indah dengan bebungaan terawat mekar warna warni, meskipun keindahan itu dinodai oleh penampakan beberapa penjaga bersenjata di sana. Sebuah bendera besar lambang After Earth dengan bintang emas dan latar belakang hitam tampak berkibar di atap rumah megah itu. Keseluruhan rumah itu lebih tampak seperti benteng militer yang mengerikan daripada hanya sebuah rumah biasa.

Tetapi bukan itu saja yang membuat Asia merasa aneh, dia bingung karena  di depannya, sepasukan militer berpakaian hitam  yang seolah sudah menunggu di sana, langsung menegakkan barisan ketika melihat mereka berdua.

“Hormat untuk Jenderal Akira.” Salah seorang komandan pasukan itu memberi instruksi dan seluruh pasukan langsung meletakkan telapak tangan kanan di dada kiri secara serentak, sebuah salam hormat yang lazim di kalangan militer di After Earth.

Asia ternganga, terkejut luar biasa.

Bukan…bukan karena sepasukan militer berseragam hitam yang ada begitu banyak di depannya, bukan pula karena pasukan itu memberi hormat kepada mereka…. tetapi karena mereka menyebut pria yang sedang menggendongnya ini dengan nama “Jenderal Akira’

Asia mendongakkan kepalanya takut-takut, menatap ekspresi tegas dari wajah di atasnya, dan kemudian detak jantungnya kembali berdentam tak teratur akan pengetahuan yang baru diperolehnya.

Ketika lelaki itu memperkenalkan dirinya bernama Akira, Asia sama sekali tidak berpikiran sejauh itu, pun ketika melihat seragam militer hitam lelaki itu. Toh di After Earth nama ‘Akira’ adalah nama yang lazim di gunakan, dan kenyataan bahwa lelaki itu anggota militer tetap saja tidak membuat Asia berpikir jauh.

Tetapi sekarang, berdiri di depan ratusan pasukan yang memberi hormat, dan sebutan jenderal untuk Akira…..

Ada banyak ‘Akira’ di After Earth, tetapi hanya ada satu Jenderal Akira di sini.

Nama lelaki itu bergaung bagaikan mimpi buruk di telinga penduduk sipil After Earth, jenderal Akira adalah pemimpin pasukan tertinggi mereka, jenderal muda yang menerima tampuk pimpinan di usia sangat muda setelah menerima warisan dari ayahnya, sang Jenderal Besar Moroko, salah seorang penguasa berpengaruh yang menjadi penyatu Afer Earth yang sudah almarhum karena usia tua. Jenderal Akira menerima tampuk pimpinan bukan karena warisan kekuasaan, tetapi karena memang kemampuannya yang melebihi manusia normal. Diceritakan sang jenderal selalu mendapatkan nilai dan prestasi tertinggi  pada saat pendidikan militernya, dan beliau memiliki kemampuan bela diri terbaik, ditambah keahliannya menggunakan seluruh senjata yang ada di muka bumi ini dengan sempurna. Itu semua masih ditambah lagi dengan pribadi tak kenal takut dan tak kenal belas kasihan.

Semua orang ketakutan ketika mendengar nama Jenderal Akira disebut, Sang Jenderal memang sangat menakutkan karena kekejamannya, pembunuh keji dengan kemampuan tak tertandingi……. Orang bilang Jenderal Akira adalah manusia tak punya hati yang senang melenyapkan nyawa manusia hanya demi kesenangannya, tak terhitung nyawa yang hilang karena dirinya.

“Oh Tuhan….. Lelaki ini Jenderal Akira yang itu?…… Suaminya adalah Jenderal Akira?”

359 Komentar

  1. Tak bosan aku membaca

  2. aku suka banget ….

  3. Yuni Widaningsih menulis:

    Warrr…biazza :gabut

Tinggalkan Balasan