the-generals-wife
Generals Wife

The Generals Wife Part 17 [ Flashback 3] : Asia, Akira dan Percikan 3

Bookmark

No account yet? Register

1.411 votes, average: 1,00 out of 1 (1.411 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

Asia membelalakkan mata, wajahnya pucat pasi. Matanya mengikuti gerakan tangan Jenderal Akira yang seolah-olah sengaja perlahan dan mengintimidasi. Lelaki itu membuka kancing kemejanya sambil tak sedikitpun melepaskan pandangannya dari wajah Asia.

“Kau akan…. apa?” Suara Asia tercekik di tenggorokan, berusaha menetralkan jantungnya yang berdebar, dia ketakutan.

Lelaki ini, Jenderal Besar pemimpin After Earth yang ditakuti karena sangat kejam. Dan baru beberapa kali mereka bersama, lelaki itu sudah mengulang-ulang kata akan membunuhnya.

“Aku akan meniduri pengantinku.” Mata Jenderal Akira menyipit, “Sekarang tentukan pilihan. Kau mau cara yang lembut atau cara yang kasar?”

Wajah Asia memerah karena takut bercampur marah, dia merasa terhina. Dirinya yang selama ini dibesarkan sebagai perempuan sopan yang beradab, sekarang diperlakukan tak lebih dari seorang pelacur yang hanya akan dimanfaatkan tubuhnya.

“Kalau kau ingin menyentuhku dengan paksa, aku akan melawanmu sekuat tenaga.” geramnya pelan, sedikit ketakutan ketika ekspresi Jenderal Akira berubah.

Ekspresinya gelap, mengerikan. Rupanya Asia telah salah menantang lelaki ini, Tidak ada satupun yang berani menantang Sang Jenderal sebelumnya. Asia telah menumbuhkan kemarahannya, dan tak ada jalan untuk kembali.

Jenderal Akira menghentikan gerakan membuka kemejanya. Dibiarkannya kemeja militer itu menggantung dengan beberapa kancing terlepas, lelaki itu tampak seperti predator yang sedang bertekad. Bertekad mengejar mangsa.

Dan Asia adalah mangsa yang dikejarnya.

“Kalau begitu aku putuskan kau menginginkan cara yang kasar.” desisnya dingin penuh kekejaman.

Jenderal Akira naik ke atas ranjang, dan selanjutnya dia tidak memberi ampun pada Asia.

***

Asia memalingkan wajah, berurai air mata.

 

Tubuh lelaki itu masih di atasnya, napasnya terasa panas menghembus sisi telinganya. Asia merasa muak dan jijik. Dia ingin menyingkirkan tubuh yang sekarang berada di atasnya ini dan mandi. Pengalaman tadi sungguh mengerikan. Jenderal Akira memperlakukannya dengan kasar dan pada akhirnya menyakitinya.

Asia sudah meronta sekuat tenaga, menendang kemanapun dia bisa. Tetapi dia kalah kuat. Melawan laki-laki biasa saja dia sudah pasti kalah, apalagi melawan laki-laki kuat dengan pengalaman bertarung seperti Jenderal Akira. Lelaki itu tinggal menangkapnya, menindihnya dengan beban tubuhnya dan mencengkeram pergelangan tangannya dengan keahlian militernya, dan Asia tidak berkutik.

Rasanya sakit. Tubuhnya kesakitan dan jiwanya juga sakit. Dia tidak pernah diperlakukan serendah ini sebelumnya, tidak pernah disakiti sedalam ini sebelumnya. Dan lelaki ini, lelaki yang tiba-tiba saja muncul di kehidupannya, dengan begitu tega merenggut semua yang dimilikinya hanya dalam sekejap mata.

Jenderal Akira mengangkat kepala, ekspresinya tidak terbaca, wajah mereka masih begitu dekat. Matanya menelusuri air mata yang mengalir di pipi Asia, dan ekspresinya melunak.

“Lain kali tidak akan sakit lagi.” gumamnya serak, sisa dari kenikmatan yang dicapainya sebelumnya.

Asia langsung menolehkan kepalanya, menatap langsung ke mata cokelat gelap itu dengan tatapan marah.

“Tidak akan ada lain kali. Aku jijik di sentuh olehmu!”

Ekspresi Jenderal Akira yang semula lembut langsung mengeras kembali, lelaki itu menyangga tubuhnya dengan kedua siku di sisi tubuh Asia, wajah mereka berdua saling berhadapan.

“Jijik katamu?” Dengan sengaja Jenderal Akira menundukkan kepalanya dan mengecup sisi leher Asia, menggoda, membuat Asia mengerutkan kening untuk menahan erangan yang hendak lepas dari tenggorokannya, “Apakah kau ingin mengingkari bahwa secara genetik tubuh kita saling memanggil? Tubuhmu diciptakan untuk memuaskanku, begitu juga sebaliknya. Tidakkah memalukan seorang perempuan yang bibirnya mengatakan tidak suka, tetapi tubuhnya menikmati?” Sambung Jenderal Akira dengan suara sinis.

“Lebih memalukan lagi seorang lelaki yang mendapatkan kepuasan dari memperkosa seorang perempuan yang jelas-jelas menolaknya.” Asia berseru, tajam dan penuh kebencian. Berharap kata-katanya berhasil menusuk harga diri Sang Jenderal.

Dan rupanya berhasil. Tubuh Jenderal Akira membeku, ketika dia mengangkat kepala, wajahnya nampak merona. Mungkin karena kata-kata Asia berhasil menohok ke dalam hatinya.

Geraham Jenderal Akira mengetat, bibirnya menipis. Lalu tanpa kata, lelaki itu mengangkat tubuhnya dari tubuh Asia, meluncur berdiri di tepi ranjang dan mengancingkan lagi celananya.

Asia sendiri memalingkan muka, tidak mau menatap lelaki yang telah merenggut kesuciannya dengan kejam. Tetapi dia tahu, mata sang Jenderal masih mengawasinya dalam diam dari sisi tempat tidur. Lama mereka berdua berdiam dalam keheningan, tak ada suara.

“Aku akan meminta pelayan mengirimkan obat pereda nyeri.” Terdengar kemudian suara sang Jenderal memecah keheningan panjang di kamar itu, disusul langkah-langkahnya yang menjauh dan suara pintu dibanting.

***

Jenderal Akira berdiri kaku di balik pintu yang ditutupnya dengan kasar. Dia terpekur di sana sementara jemarinya mengacak rambut cokelatnya hingga berantakan.

Kata-kata Asia tadi… bahwa dirinya mencapai kepuasan dengan memperkosa Asia, menusuk sampai ke dalam jiwanya.

Dirinya tidak pernah memaksa perempuan manapun sebelumnya. Semua wanita datang padanya, memohon untuk dicintai dengan sukarela.

Baru kali ini dia memaksakan kehendaknya pada perempuan.

Dengan marah Jenderal Akira melirik ke balik bahunya, ke arah pintu putih yang tertutup rapat. Perempuan itu, Asia, entah karena genetik mereka atau apa… perempuan itu menumbuhkan perasaan-perasaan yang bahkan tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

Tanpa sadar lelaki itu menyentuh dada kirinya, tempat bekas luka tembakan pernah menganga di sana. Bekas luka tembakan yang tidak akan pernah dilupakannya.

Ketika itu, Organisasi Bendera Merah berhasil mengirimkan pasukan yang bertujuan membunuhnya ketika dia masih remaja, itu semua karena dirinya adalah pewaris satu-satunya tampuk kekuasaan Jenderal Moroko.

Karena kelengahan para pengawalnya, salah seorang wakil dari Organisasi Bendera Merah itu berhasil menyusup masuk, menyerangnya dan menembak dadanya.

Beruntung waktu itu tembakan itu meleset hanya beberapa inci dari jantungnya sehingga nyawanya bisa diselamatkan. Dan karna itulah, Ayahnya, Jenderal besar Moroko langsung melakukan pemberantasan besar-besaran untuk menumpas seluruh anggota Organisasi Bendera Merah hingga tidak bersisa.

Memang semua sudah musnah. Tapi Akira tidak akan pernah lupa. Dia ingat wajah laki-laki yang menembak dadanya, meninggalkan bekas luka yang tak akan pernah bisa hilang di sana. Bekas luka yang begitu dalam baik secara fisik maupun secara psikis

Orang itu adalah ayah dari Asia dan Cesar….Pengkhianat itu adalah ayah Asia dan Cesar.

***

Asia mengambil selimut panjang yang berantakan di kaki ranjang untuk membungkus tubuh telanjangnya. Baju yang dipakainya sudah tidak layak dipakai lagi, tergeletak di lantai jauh di sana, bukti nyata kekasaran Jenderal Akira kepadanya.

Air matanya masih mengalir, tetapi dia mengusapnya dengan punggung tangan, berusaha untuk kuat.

Dirinya duduk di atas ranjang yang berantakan dan matanya sembab penuh air mata, mencoba menguatkan diri. Ditahannya isakannya, membuat bahunya berguncang. Dihembuskannya napas dalam-dalam , berusaha melonggarkan ronga dadanya yang terasa sesak, tersumpal oleh rasa sakit di dalam jiwanya.

Setelah merasa cukup kuat, Asia melangkah turun dari ranjang. Kakinya gemetaran, dan tubuhnya terasa nyeri. Tetapi dia menguatkan diri. Dorongan untuk menghapus sisa jamahan Jenderal Akira di tubuhnya lebih kuat daripada keinginan lemahnya untuk bergelung dan menangis keras-keras di atas ranjang.

Dengan langkah pelan dia membuka sebuah pintu kecil di sudut ruangan. Pintu berwarna putih yang menyaru dengan warna putih kamar. Dugaannya benar, di balik pintu putih itu ada kamar mandi berukuran luas. Semuanya berwarna putih, sama seperti kamar utama yang menyambung kemari. Kamar mandi itu sederhana, sebagian besar dilapisi marmer putih polos dengan corak abstrak serupa awan berwarna abu-abu. Seluruh perabotan di sana berwarna putih, dari wastafel, bingkai cermin, lemari, bahkan tirai yang membatasi area pancuran mandi juga berwarna putih. Hanya bathubnya yang berwarna hitam, terpasang di tengah ruangan, tampak mencolok dilatar belakangi warna yang kontras di belakangnya.

Asia melangkah ke area pancuran, menyalakan air hangat sampai maksimal, hingga pancaran air dari pancuran menghantam kepala dan punggungnya dengan keras. Kakinya terasa lemah dan gemetar, hingga dirinya harus berpegangan pada dinding marmer di depannya untuk menjaga keseimbangan.

Meskipun tubuhnya lemah, sebuah tekad kuat muncul di jiwanya. Tubuhnya memang sudah ternoda, kalah oleh kekejaman Jenderal Akira. Tetapi hatinya tidak lemah. Dia akan melawan.

Mata Asia menyala penuh tekad. Tidak akan dibiarkannya Jenderal Akira menang mudah. Lelaki itu harus tahu bahwa keinginannya tidak harus selalu terpenuhi.

Asia akan melawan. Sekuat tenaga.

***

Ketika Dokter Frederick keluar dari kamar putih, dia langsung berhadapan dengan Jenderal Akira yang menunggu di sana. Sang Jenderal berdiri sambil bersandar di tembok dekat tangga putih yang menghubungkan area lorong rumah utama dengan teras kamar putih.

Ekspresi Jenderal Akira nampak datar, tetapi tatapan matanya begitu tajam ketika menatap doker Frederick.

“Bagaimana kondisinya?” Jenderal Akira bertanya tanpa basa-basi, nada pertanyaannya sedikit memancing kegugupan Dokter Frederick.

“Saya sudah memeriksa keseluruhan, nona Asia baik-baik saja.”

Jenderal Akira menyipitkan matanya, “Jadi aku bisa mengunjunginya lagi ?”

Dokter Frederick menganggukkan kepalanya, “Kebetulan ini memang periode masa suburnya, anda harus sering sering eh… mengunjunginya.”

Jenderal Akira mengalihkan matanya ke arah pintu kamar putih, perhatiannya seolah terpusat di situ, bahkan dia tidak mau repot-repot lagi menoleh ke arah Dokter Frederick,

“Oke. Kau boleh pergi.” gumamnya memberikan pengusiran halus yang langsung ditanggapi cepat oleh dokter Frederick. Dokter setengah baya itu membungkukkan tubuh untuk memberi hormat kepada Sang Jenderal, lalu buru-buru menjauh pergi menuruni tangga dan menjauh sejauh mungkin dari Jenderal Akira yang mengerikan.

***

Pintu kamarnya terbuka kembali dan kali ini tubuh Asia langsung menegang dengan waspada. Dia tahu siapa yang masuk sekarang. Aura mengerikan yang membuat tubuhnya merinding langsung menguasainya ketika sosok berpakaian militer hitam itu memasuki ruangan dan menutup kembali pintu di belakangnya.

Asia yang sedang duduk di pinggiran ranjang setelah menjalani pemeriksaan oleh dokter Frederick langsung mencengkeramkan kedua jemarinya di pinggiran ranjang, siap sedia untuk melawan.

Jenderal Akira berdiri di sana, menatapnya dengan tatapan memindai dari ujung kepala sampai ujung kaki, dan kemudian bergumam, “Sepertinya kau memang baik-baik saja.” lelaki itu menipiskan bibir dengan aneh, ada senyum tersembunyi di bibirnya, “Aku senang kau baik-baik saja.” Kata-katanya memang baik, tetapi tidak ada yang baik di nada suaranya, malah terdengar seperti ejekan penuh ironi.

Asia melemparkan pandangan penuh kebencian ke arah Sang Jenderal, dan menyembur dengan marah.

“Bagaimana kalau kau pergi ke neraka saja?” desisnya, mendongakkan dagu dengan angkuh.

Kali ini Jenderal Akira tersenyum, senyum penuh kesenangan melihat kekeraskepalaan dan tantangan yang dilemparkan oleh Asia kepadanya.

Perempuan ini menyenangkan. Dengan segala kekeraskepalaan konyol dan sikap sombong menantangnya, entah kenapa membuat Akira tergoda untuk melayaninya. Dia merasa ingin bermain-main, tarik ulur kekuatan emosi antara kedua belah pihak, dan ketika nanti waktunya tiba, Akira senang menjadi pemenang, menunjukkan kepada Asia bahwa dirinyalah yang berkuasa.

“Pelayan akan datang mengantarkan makanan.” Akira mengalihkan pembicaraan, “Kau harus memakannya sampai habis. Ingat jaga kesehatanmu supaya kau bisa lekas mengandung bayi yang sehat.”

Asia langsung menggeram marah, “Aku bukan hewan ternak yang bisa diatur-atur dan diternakkan untuk keturunan! Kalau aku memutuskan untuk mogok makan sampai mati kelaparan, kau bisa apa?”

Ekspresi Jenderal Akira berubah menakutkan, “Aku bisa apa katamu? Kau lupa ada banyak saudara-saudaramu yang berada dalam tawananku? Dan juga ibu pengurus panti yang tua itu, siapa namanya? Chaterine? Aku bisa saja memotong jarinya satu-persatu setiap kau menolak makan dan mengirimkan jari itu kepadamu.” Jenderal Akira terkekeh, “Sepuluh kali kau menolak makan, dia akan kehilangan sepuluh jarinya.” Mata Akira berubah mengerikan dan senyum ironinya langsung hilang dalam sekejap ketika dia melanjutkan, “Dan ketika sepuluh jari itu habis, lalu kau tetap membangkang…… aku akan mencari bagian-bagian tubuh lain untuk dipotong.”

Asia ternganga, begidik ngeri mendengarkan ancaman Jenderal Akira yang mengerikan. Bahkan tubuhnya terpaku di sana saking ngerinya mendengar kata-kata itu.

Dengan sedih, menyadari posisinya yang kalah, Asia memalingkan muka, menggigit bibir menahan air mata yang mulai terasa panas di sudut matanya.

Bagaimana dia bisa melawan Jenderal Brengsek ini kalau posisi laki-laki ini di atas angin seperti ini? Lelaki ini pengecut, menggunakan anak-anak panti dan Chaterine sebagai senjatanya.

Melihat Asia yang hanya memalingkan muka dan tidak membantah, Jenderal Akira merasa puas. Lelaki itu melangkah mendekat, berdiri tepat di depan Asia yang masih duduk di tepi ranjang.

Tangannya terulur dan mengangkat dagu Asia dengan gerakan tegas dan tak terbantahkan. Dipaksanya mata Asia menatap ke arah matanya.

“Sekarang, kau pasti tahu harus menurut kepada siapa.” Lelaki itu menelusuri seluruh diri Asia dengan lapar, “Buka bajumu dan berbaring di atas ranjang, Asia.”

***

“Bagaimana mungkin kita tidak bisa menangkap Cesar?” Jenderal Akira membentak marah, berseru kepada beberapa Jenderal lain yang melapor kepadanya, “Dia cuma seorang manusia dan kita memiliki jaringan yang luas di After Earth, bagaimana mungkin pasukan militer yang katanya terbaik di negara ini, kesulitan untuk menangkap satu orang saja?”

“Dia terlalu licin, Jenderal.” Paris menggumam, menyimpulkan dari seluruh hasil pembahasan strategi mereka, “Dia selalu berpindah-pindah tempat, bersembunyi di bawah tanah dan berada dalam perlindungan penduduk yang berhasil dihasut supaya berpihak kepadanya. Dia pernah menjadi anggota militer tertinggi, jadi dia tahu metode kerja kita dan selangkah lebih maju. Setiap kami berhasil mengendus dan menemukan jejaknya, dia selalu sudah berpindah tempat.”

Akira terdiam mendengar penjelasan itu. Lelaki itu mengacak rambutnya dengan marah. Merasa murka karena keberadaan Cesar di luar sana, berkeliaran bebas dan belum tertangkap terasa mengusiknya. Pada akhirnya dia menutup pertemuan itu, mengusir semua bawahannya, kemudian merenung setelah ditinggalkan sendirian dengan pintu ruangan yang menutup dari luar.

Akira merenung, duduk di kursi kulit besar di belakang mejanya di salah satu benteng militer area Marakesh City. Alisnya berkerut tidak suka.

Ini tidak baik…. sudah terlalu lama.

Sudah hampir delapan bulan sejak mereka mendapatkan Asia dan sejak Cesar melarikan diri, tetapi pasukan terbaik yang dikirimnya tetap saja tidak bisa menemukan keberadaan pengkhianat itu.

Akira tahu Cesar pasti sedang mencari cara untuk menemukan keberadaan Asia, sedikit banyak lelaki itu pasti mendapatkan informasi mengenai pembakaran panti asuhan, penyanderaan anggota panti dan juga penculikan Asia.

Cesar pasti tahu bahwa Asia sedang berada di dalam cengkeraman tangannya. 

Untuk  memastikan Asia tidak terlacak, dirinya memang selalu memindahkan posisi Asia ke berbagai benteng militernya setiap beberapa bulan sekali. Tetapi bulan ini, dia terpaksa memindahkan Asia kembali ke bentengnya di Marakesh City dan menguncinya lagi di kamar putih. Ada berbagai pekerjaan mendesak yang membuatnya harus membawa Asia kembali ke kediaman utamanya di Marakesh City.

Akira merenung.

Asia… perempuan itu belum hamil juga setelah delapan bulan berlalu. Entah karena belum waktunya, atau karena kesalahannya.

Akira teringat dokter Frederick yang menegurnya dengan halus karena frekuensinya mengunjungi Asia yang terlalu sering. Dokter itu mengingatkan bahwa kualitas pembuahan akan berkurang kalau dia tidak memberi jeda waktu untuk beristirahat, dia juga memberitahu bahwa sebaiknya Jenderal Akira mengunjungi Asia hanya di masa subur.

Senyum masam muncul di bibir Akira, senyuman penuh ironi. Sudah hampir tiga minggu terakhir dia menahan diri untuk tidak mengunjungi Asia, karena nasehat dokter Frederick. Dan itu membuatnya setengah gila. Terbaring setiap malam di ranjangnya yang luas, dan tiba-tiba terbangun karena  menginginkan tubuh mungil itu dipelukannya.

Asia masih menolak tentu saja. Perempuan itu tidak pernah berhenti memaki, menantang, mengucapkan kata-kata penuh kebencian dan bersikap galak kepadanya. Tetapi Akira selalu memastikan dirinya yang berkuasa. Perempuan itu boleh saja menentangnya, tetapi di tempat tidur, dialah yang menguasai Asia.

Mata Akira melirik ke arah kalender penanggalan digital di atas mejanya. Mata itu menyipit, berpikir sejenak, lalu bibirnya menipis ketika menyadari.

Dokter Frederick kemarin menyarankan supaya dirinya hanya mengunjungi Asia di masa suburnya. Dokter itu juga memberikan catatan mengenai perhitungan masa subur Asia. Dia juga akan memeriksa Asia terlebih dahulu untuk memastikan perempuan itu benar-benar subur dan siap untuk dibuahi.

 Sekarang adalah waktunya.

Akira langsung beranjak dari duduknya, berniat mencari dokter Frederick.

***

“Bagaimana?” Akira kembali menunggu di tempat biasanya, bersandar di tembok dekat tangga area teras kamar putih, ekspresinya nampak tidak sabar, menanti.

Dokter Frederick menganggukkan kepalanya antusias, tampak senang,

“Saya sudah melakukan pemeriksaan menyeluruh, Jenderal. Nona Asia sekarang ada di masa suburnya.”

“Bagus.” Jenderal Akira tanpa sadar menghembuskan napas yang ditahannya sejak tadi karena menunggu jawaban dokter Frederick. Dirinya sudah tidak tahan, tiga minggu dia sengaja tidak menemui Asia karena tidak mau tergoda, dan ketika mengetahui bahwa sekaranglah waktunya, dia tidak bisa menahan diri lagi, “Kau boleh pergi dokter.”

Tanpa menunggu jawaban dokter Frederick, Akira langsung melangkah membuka kunci pintu kamar putih dan memasuki kamar itu, membuat dokter Frederick hanya bisa memandang pintu kamar yang tertutup dan menarik napas panjang.

Sepertinya dia pernah mengalami kejadian yang sama, dan berulang. Dulu Jenderal Moroko juga seperti itu dengan ibunda Jenderal Akira. Beliau tidak bisa menahan diri, sama seperti ini.

Yah, memang tidak bisa disalahakan. Hasil penelitian dokter Frederick memang menunjukkan bahwa genetik kedua mahluk ini saling tarik-menarik, mau dibantah seperti apapun, kedua orang itu akan selalu berusaha saling mencari.

***

“Aku merindukanmu, Asia.”

Kedua tangan Akira menahan tangan Asia di atas kepala menyatukan kedua pergelangan tangan Asia dengan satu genggaman jari yang kuat, napas mereka berdua sama-sama terengah, tubuh mereka telanjang, penuh keringat di atas ranjang yang berserakan, hasil dari pergulatan kedua tubuh mereka sebelumnya.

Asia berusaha menormalkan napasnya yang tersengal-sengal, hatinya dipenuhi rasa marah yang membara, rasa marah karena tidak berdaya, kalah di bawah kekuatan fisik lelaki bermata cokelat yang sedang menindihnya itu. Dia berusaha meronta, tetapi tekanan kuat di tangannya dan beban tubuh di atasnya membuatnya tak bisa bergerak, pada akhirnya dia hanya bisa melemparkan tatapan membunuh, penuh dengan kebencian yang bercampur putus asa kepada Akira.

Akira tersenyum, senyum yang jahat dan keji. Lelaki itu menunduk, hendak mengecup bibir Asia, tetapi Asia memiringkan kepalanya, berusaha menghindar hingga bibir lelaki itu hanya mendarat di pipinya.

Didengarnya Akira terkekeh pelan, lelaki itu lalu mengecup pipi Asia, terus memberikan kecupan-kecupan kecil hingga sampai ke telingannya, nafasnya yang panas dan menggoda membuat seluruh tubuh Asia meremang.

Dan kemudian lelaki itu berbisik.

“Aku menginginkanmu Asia, dan ketika aku menginginkan sesuatu, aku akan mendapatkannya.”

***

“Jenderal Akira.” Dokter Frederick yang sebelumnya dipersilahkan olehnya masuk, bergumam pelan sedikit tak jelas ketika memasuki ruangannya.

Akira yang sedang berdiskusi dengan Paris mengalihkan pandangannya, dan mengerutkan kening ketika menatap Dokter Frederick di sana. Biasanya dokter ini hanya menemuinya setelah dia melakukan check up pemeriksaan penuh pada Asia, atau setelah dia memastikan  masa subur Asia.

“Ada apa? Apakah ini berhubungan dengan Asia?” Akira langsung waspada dan menunggu.

Dokter Frederick nampak gugup dan sedikit ketakutan, entah ada apa dengan dokter ini, setiap berhadapan dengannya pasti terlihat gemetaran.

“Nona Asia… saya hanya ingin melaporkan kondisinya. Hasil pemeriksaan terakhir, berat badannya turun sampai beberapa kilo, Saya melakukan pemeriksaan ke area dapur dan menemukan bahwa Nona Asia sering menolak makanannya, banyak sekali hidangan yang dikembalikan ke dapur dalam kondisi utuh.”

“Apa?” ekspresi Jenderal Akira mengeras. Bibirnya menipis marah. 

Sudah berapa lama hal ini berlangsung? Dan kenapa sampai dia tidak tahu?

“Aku akan mengurusnya. Terima kasih dokter, kau boleh pergi.” gumamnya kemudian.

Dokter Frederick mengangguk, seperti biasa lelaki itu tampak lega ketika disuruh pergi sehingga tidak menahan-nahan lagi langsung pergi menjauh.

Sementara itu Akira beranjak berdiri, hendak langsung menemui Asia, sebelum kemudian Paris menahannya.

“Jenderal, kalau saya boleh memberi saran.” cegahnya berhati-hati, membuat Akira menghentikan gerakannya dan menatap Paris tajam.

“Saran apa?” tanyanya dengan ekspresi gusar.

Paris nampak berpikir, “Saya punya referensi koleksi cokelat terbaik yang pasti akan disukai perempuan. Saya pikir, kalau nona Asia menolak makanannya, anda bisa membujuknya dengan memberikan cokelat itu. Saya akan mengirimkan cokelat itu ke rumah anda dan meminta pelayan menyimpannya di kamar nona Asia.”

Akira mengerutkan keningnya, “Cokelat?” nadanya suaranya meremehkan, “Paris, kau tahu betapa keras kepalanya Asia. Dia bertekad untuk melawanku dengan kekuatan penuh. Dan kurasa dia tidak akan semudah itu diluluhkan hanya dengan cokelat.”

Perkataan Jenderal Akira entah kenapa membuat Paris tersenyum lebar,

“Jenderal, anda belum mencobanya. Saya sudah tahu efeknya. Percayalah, gunakan cokelat dan kelembutan. Kombinasi itu akan membuat perempuan bertekuk lutut di kaki anda.”

***

“Kata dokter kau menolak makan. Bahkan sudah hampir dua hari ini hanya sedikit makanan yang masuk ke dalam tubuhmu.”

Lelaki itu menggeram, menjulang di atasnya, kedua tangan Asia terangkat, menyilang menjadi satu di atas kepalanya, kedua pergelangannya terjebak dalam cengkeraman jemari kokoh sang Jenderal.

Asia tidak berkata-kata, hanya menatap Akira dengan tatapan menantang. Tatapannya itu selalu berhasil menyulut kemarahan Akira, karena itu Asia sengaja melakukannya.

Jika dia tidak bisa mengalahkan sang Jenderal, dia sudah cukup puas bisa membuatnya marah.

“Tatapan mata itu lagi.” Jenderal Akira menipiskan bibirnya, “Sampai kapan kau akan berusaha menguji kesabaranku, Asia?”

Asia memalingkan matanya, sengaja. Tahu bahwa hal itu akan membuat Akira semakin murka.

“Asia!” Akira menguarkan namanya dalam desisan geram, lelaki itu menggunakan sebelah tangannya untuk mencengkeram dagu Asia, menolehkan kepala Asia dengan paksa, kepala Akira menunduk, membuat wajah mereka semakin berdekatan, “Jangan pernah memalingkan kepalamu dariku ketika kita sedang berbicara!”

Dua mata itu bertatapan. Yang satu murka, yang satu menantang. Lama.

Alis sang Jenderal mengerut, “Aku tidak suka memaksamu bercinta denganku, Asia.”

“Lalu kenapa kau terus melakukannya?” Asia menyambar dengan suara lantang.

Akira memalingkan wajah, ekspresinya seolah tidak mendengar kata-kata Asia, lelaki itu menatap ke arah nakas kecil di samping ranjang. Di sana ada kotak elegan berwarna putih tebal dengan aksen bebungaan menghiasi pinggirannya, berisi butiran cokelat mahal yang berkilauan.

Cokelat dan kelembutan.

Itu adalah saran dari Paris untuknya supaya dia bisa menaklukkan sifat pembangkang Asia. Akira tidak pernah bersikap lembut kepada perempuan, pun dia juga tidak mengerti apa hubungannya cokelat dengan menaklukkan hati perempuan. Tetapi saran Paris layak dicoba, mengingat Paris terkenal sebagai playboy yang telah menaklukkan banyak hati wanita.

Lelaki itu meraih satu butir cokelat, menimangnya dengan sebelah tangan. Asia mengerutkan kening melihatnya,

“Apa yang hendak kau lakukan dengan itu…mmph….” dengan terkejut Asia mengatupkan bibirnya ketika tanpa izin sang Jenderal memasukkan butiran cokelat ke dalam mulutnya. Butiran cokelat itu langsung meleleh menimbulkan sensasi manis yang meledak di mulutnya, membuat Asia mengerjapkan matanya kaget, dia membuka mulutnya, hendak memprotes, tetapi Sang Jenderal mengambil kesempatan itu, melumat bibir Asia yang terbuka, menjalinkan bibir mereka dalam ciuman dalam yang penuh gairah….ciuman rasa cokelat

***

Pelayan perempuan itu sepertinya orang baru. 

Asia mengamati dengan waspada ketika pelayan baru itu membereskan tempat makannya dengan gerakan kikuk dan belum berpengalaman.

Sehari-hari, Asia memang dikurung di dalam kamar putih ini. Dia hanya bisa keluar jikalau Jenderal Akira yang jahat itu memutuskan untuk membawanya keluar. Itupun dengan didampingi oleh Jenderal Akira sendiri serta diiringi oleh puluhan pengawal yang begitu ketat menjaga mereka. Tetapi untungnya, di saat sore menjelang malam, di jam-jam Jenderal Akira pulang, pengawalan atasnya cukup dilonggarkan, bahkan Asia diperbolehkan berjalan-jalan keluar dengan pengawalan tentu saja.

Pelayan yang melayani Asia sehari-hari adalah pelayan setengah baya bernama Martha. Pelayan perempuan itu sangat berpengalaman dan selalu memasang wajah datar cenderung cemberut, tubuhnya juga tampak tegap dan kuat sehingga Asia tidak berani mengusiknya.

Tapi entah keberuntungan apa yang menghinggapinya hari ini, entah Martha sedang berhalangan, atau memang dia sudah keluar dari tempat ini. Yang pasti, pelayan perempuan yang sekarang ada di kamarnya adalah perempuan muda yang kikuk dengan tubuh tidak lebih besar dari tubuh mungil Asia.

Asia langsung membuat rencana. Jemarinya menelusuri sekeliling, dan matanya terpaku pada vas bunga besar dari marmer yang tampak kuat dan berat.

Dirinya meringis membayangkan apa yang akan dilakukannya. Dia akan memukul pelayan perempuan itu ketika lengah, dan melarikan diri. Ada sedikit rasa bersalah menelusup di hatinya ketika membayangkan betapa kepala pelayan malang ini akan terasa sangat sakit sesudahnya.

Tetapi Asia harus melarikan diri bukan? dan jika memang ini satu-satunya jalan, dia harus melakukannya meski itu harus melukai pelayan muda yang malang ini.

Dengan hati-hati, memastikan pelayan muda itu tidak memperhatikannya dan sedang sibuk mengurus sisa makanan di meja, Asia menggeser tubuhnya dan meraih vas bunga yang berat itu, dia lalu menggenggam ditangannya dan mulai beranjak mengendap-ngendap ke arah pelayan muda yang terlena dengan kesibukannya itu.

Pelayan ini jelas kurang latihan. Kalau Martha yang ada di sini, pelayan setengah baya itu tidak akan pernah memunggunginya. Matanya selalu mengawasi seluruh tingkah laku Asia, seolah tak mempercayainya. Dan Martha benar, seharusnya mereka semua tidak mempercayainya. Selama ini dia bersikap manis karena menunggu mereka semua lengah dan memberinya kelonggaran.

Asia meminta maaf dalam hati, lalu mengangkat vas bunga itu tinggi-tinggi setelah dia berada di belakang pelayan muda itu, kemudian setelah menghela napas cepat, dia mengayunkan tangannya dan memukulkan vas bunga dari marmer itu kuat-kuat di kepala pelayan muda yang malang itu.

Entah karena pukulannya yang sekuat tenaga, atau karena pelayan muda itu memang bertubuh kecil, tubuh pelayan muda itu langsung tumbang, tak sadarkan diri di lantai hanya dengan satu kali pukulan saja.

Asia meletakkan vas bunga itu dengan hati-hati, memandang sekeliling dan menajamkan pendengarannya. Semuanya hening, tampak baik-baik saja. Itu berarti dia masih aman, belum ketahuan.

Dengan pandangan menyesal dia berjongkok, menatap pelayan muda yang pingsan itu dan meringis.

“Maafkan aku, tetapi aku harus melakukannya.” Asia menggerakkan tangannya, dan mulai melepaskan seragam khusus pelayan yang dipakai oleh pelayan muda itu.

***

Dia berhasil melarikan diri sejauh ini!

Asia merasakan dadanya berdebar penuh antisipasi. Diletakkannya kedua jemarinya di dada untuk menahankan debaran, sementara matanya menatap waspada ke sekeliling. Baju pelayan yang dipakainya cukup membantu untuk menyaru dan tak menonjol.

Bahkan para pengawal yang berjaga dimana-mana tampak membiarkannya saja berkeliaran dengan seragam ini.

Asia sudah sampai di halaman belakang, dirinya tadi mengendap pelan-pelan ke arah pepohonan rapat yang membatasi di sekeliling rumah itu. Ditembusnya pepohonan rapat itu untuk sekedar mencari ujung maupun jalan keluar. Tetapi ketika dia sampai ke ujung, rasa kecewa langsung menyeruak ke dasar hatinya.

Ujung dari hutan itu adalah tembok beton kokoh yang sangat tinggi hingga Asia harus mendongakkan kepala maksimal untuk melihat ujung tembok itu, bagian atasnya dipenuhi kawat berduri dengan gambar-gambar tengkorak berlatar merah dihiasi tulisan yang menyatakan bahwa kawat itu berbahaya dan mengandung listrik.

Asia sudah pasti tidak bisa melompati tembok itu. Dan kalau seluruh bagian rumah ini dikelilingi tembok, maka pupuslah harapannya untuk melarikan diri.

Dia tidak mungkin keluar lewat pintu utama bukan?

Asia mengerutkan keningnya, berdoa di dalam  hati semoga saja ada pintu keluar lain selain pintu utama. Dia meletakkan jemarinya di tembok dingin itu, lalu melangkah menelusuri tembok dengan hati-hati.

Tiba-tiba suara aneh itu terdengar.

Asia terkesiap dan menoleh ke arah sumber suara. Suara itu seperti geraman bercampur seruan mengerikan dari mahluk yang sudah pasti bukan manusia.

Mata Asia membelalak ketika menemukan di depannya ada empat…. tidak… ada delapan, mahluk aneh berkaki empat dengan telinga berdiri, berwarna hitam, mata cokelat mengerikan dan moncong mengerikan yang menyeringai menampakkan gigi taringnya.

Suara-sura keras dan geraman berasal dari mahluk itu…. mahluk yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya.

Otaknya yang panik berpikir cepat dan menelaah pengetahuan yang ada di sana.

Hewan ini mirip deskripsi anjing di buku sejarah masa lampau yang pernah dibacanya. Tetapi di buku dikatakan bahwa anjing hanya berfungsi sebagai peliharaan, gambarnya pun  lucu-lucu. Dan karena dianggap bukan hewan pangan atau ternak yang produktif, dikatakan bahwa anjing tidak dibudidayakan lagi di After Earth.

Ternyata dia dan buku itu salah,

Hewan-hewan ini jelas-jelas adalah anjing, meski bukan dalam versi lucu yang disebutkan di buku. Versi yang ada sekarang sangat mengerikan, dengan geraman galak dan gigi taring menyeringai seolah siap mengoyak tubuhnya.

Asia membalikkan badan, dan berlari. Satu kesalahan yang dilakukannya karena dia tidak familiar dengan hewan bernama anjing tersebut. Dan sesuai instingnya, hewan-hewan penjaga itu langsung melompat, mengejar dan mengeroyoknya dengan ganas.

Tubuh Asia tumbang karena dikeroyok, dan ditengah ketakutannya yang menggila, Asia kehilangan kesadarannya.

***

Tangannya terikat….

Itulah yang pertama kali disadari oleh Asia ketika dia membuka matanya. Dia kembali berada di kamar itu, kamar sialan yang penuh dengan nuansa putih pekat. Kedua tangannya disatukan dengan sebuah borgol dan diikatkan di kepala ranjang. Lengannya terasa pegal akibat posisi tak nyaman yang dipaksakan itu.

Asia menggerak-gerakkan tangannya dengan panik, merasakan dorongan keras untuk melepaskan diri. Tetapi usahanya itu malah menyakitinya. Pinggiran borgol besi yang dingin itu menggores pergelangan tangannya, membuatnya meringis perih.

Dan ketika langkah-langkah kaki itu mendekat, Asia merasakan jantungnya berdegup kencang. Rasa takutnya bercampur aduk dengan antisipasi.

Pintu itu terbuka, dan Asia langsung bertatapan dengan mata cokelat nyaris transparan yang menelusuri seluruh dirinya dengan tatapan menilai. Sang Jenderal berdiri, di sana, dengan tubuh tinggi dengan aura menakutkan, mengenakan turtle neck hitam dan celana legam.

Sejenak suasana hening, mereka saling bertatapan dengan makna berlawanan, yang satu menilai dan yang lain menghakimi.

“Untuk ukuran rakyat jelata, kau lumayan juga. Aku tidak menyangka kau bisa mengecoh penjagaku dan melarikan diri sampai sejauh itu. Sayang sekali kau melakukan kebodohan dan tertangkap lagi. Kau tentu tidak tahu kalau aku punya banyak penjaga lain berkaki empat yang lebih sigap dari penjagaku yang berkaki dua. Aku pikir sekarang kau sedang merasa malu karena telah mencoba hal yang sia-sia.” lelaki itu sedikit tersenyum mencemooh, membuat pipi Asia memerah karena nada penghinaan tersirat yang ditujukan kepadanya.

“Kenapa aku harus malu kepadamu? Kau hanyalah lelaki pengecut yang hanya berani kepada perempuan yang diikat.” Asia mendongakkan kepalanya, mendesis tajam dengan penuh keberanian.

Sekejap Asia bisa melihat kilat terkejut di mata lelaki itu ketika mendengar Asia berani menimpalinya, tetapi dengan cepat lelaki itu berhasil menguasai diri, memasang wajah tanpa ekspresi di depan Asia.

“Aku memang bilang kau lumayan, Asia, karena itu aku suka menidurimu. Tetapi sayangnya mulutmu berbisa.” Jenderal Akira tersenyum dan melangkah mendekat. Berdiri di tepi ranjang dan menatap Asia dengan senyum beku yang tidak sampai ke matanya,

“Aku akan memasang kamera pengawas tanpa kecuali di seluruh area rumah ini. Mulai sekarang kau akan diawasi dan tidak bisa berbuat macam-macam lagi, Asia.” Jenderal Akira tampak puas ketika mengucapkan kata-katanya.

Ada nada sinis yang muncul kemudian ketika dia melanjutkan, nada sinis yang mengerikan.

“Aku bukan lelaki pengecut, sayang. Ketika waktunya nanti tiba, aku akan menguasaimu dengan mudah. Ketika itu terjadi, akan kupastikan bahwa tanganmu tidak sedang terikat,”

Lelaki itu menunduk, lalu melepaskan borgol yang mengikat tangan Asia, dia mengabaikan tatapan penuh kebencian Asia serta rontaan paniknya, dan melumat bibir Asia dengan kasar.

***

“Jenderal.”

Suara panggilan Paris membuat Jenderal Akira yang sedang menginspeksi beberapa pasukan militer berseragam hitam menolah. Dia memberi tanda supaya Paris menunggu, lalu melanjutkan kegiatannya.

Setelah selesai, dia mendatangi Paris yang menunggu.

“Ada apa?” tanyanya.

Paris membungkuk dan memberi hormat, “Kami menemukan burung aneh yang terbang di sekitar rumah di luar musimnya. Karena mencurigakan, kami meminta ahli burung menangkapnya.” Paris mengeluarkan secarik kertas dari sakunya. “Burung ini mengantarkan pesan. Pesan dari Cesar untuk Asia.”

“Apa?” Akira mendesis, ekspresinya tampak marah, “Jadi mereka berdua berhubungan diam-diam?” Diterimanya secarik kertas itu dan membaca isinya, keningnya berkerut setelah membaca isi di dalam kertas itu. “Jadi Asia tahu bahwa tanggal lima nanti kita akan memindahkan penghuni panti asuhan dari Benteng Marakesh City ke Asrama di La Margas dan meminta Cesar mencegat dan menyelamatkan teman-temannya? dia menguping percakapan kita dari balik pintu rupanya.” Jenderal Akira meremas kertas kecil itu sampai hancur dalam genggaman tangannya.

“Siapkan rencana. Buat seolah-olah Mobil tahanan berisi penghuni panti asuhan. Siapkan tentara lengkap di semua penjuru dan sergap pasukan Cesar. Mereka pasti lengah dan mengira penyergapannya tidak ketahuan. KIta habisi mereka.”

Paris memberi hormat patuh, “Baik Jenderal, saya akan mengkoordinasikannya.”

Ketika Paris membalikkan badan, Jenderal Akira memanggil lagi, ekspresi wajahnya nampak keji dan haus membunuh.

“Cesar. Kalau dia ada di sana. Tangkap dia hidup-hidup. Sisakan dia untukku. Aku yang akan membunuhnya dengan caraku sendiri.”

Paris mengangguk, memberi hormat sebelum membalikkan badan dan melangkah pergi.

Dia tahu apa yang dimaksud Jenderal Akira ‘dengan caranya sendiri‘.

Dan itu terlalu mengerikan untuk dibayangkan.

***

Asia mendongakkan kepala dan melihat Jenderal Akira memasuki ruangan dengan marah. Dia menatap bingung sambil memindai Sang Jenderal, mencari penyebab kemarahannya.

Kemudian, ketika matanya menemukan apa yang ada di tangan kanan sang Jenderal, wajah Asia langsung pucat pasi.

Bangkai burung. Jenderal Akira membawa bangkai burung. Itu adalah White, merpati jinak yang selama ini menjadi perantaranya berhubungan dengan Cesar.

White sudah menjadi bangkai dan ada di tangan Jenderal Akira…. itu berarti….

Asia gemetar, bergerak mundur dan mencari pegangan di meja, kakinya terasa lemas.

Itu berarti rencana mereka gagal. Mereka sudah ketahuan. Dan sekarang Cesar sedang menyiapkan rencana penyelamatan… tanpa sadar bahwa dia sudah ketahuan.

Cesar……

Asia mengerjapkan matanya yang penuh air mata, menahan tangis dan rasa frustrasi yang berkembang di benaknya.

Jenderal Akira sendiri memilih diam, menikmati kekagetan Asia dan tersenyum sinis.

“Kurasa kau tahu apa artinya ini.” Sang Jenderal melemparkan bangkai burung yang telah kaku itu ke kaki Asia, “Itu artinya aku akan menangkap dan membunuh saudara kembarmu.”

Setelah melemparkan pandangan penuh kemenangan, Jenderal Akira membalikkan badan dan melangkah keluar kamar. Meninggalkan Asia yang gemetaran penuh air mata sambil menatap bangkai White di kakinya.

***

Asia mengusap air matanya dan membungkus bangkai White dengan selimut putih tebal dengan rapi, dia meletakkan bangkai itu di meja, menunggu pelayan datang untuk meminta supaya bangkai burung ini dimakamkan dengan baik.

Jantungnya berdegup kencang karena takut dan cemas. Hari ini tanggal lima. Tanggal yang sudah ditentukan untuk misi penyelamatan Cesar.

Dan tanggal ini menjadi tanggal pembantaian…..

Asia mengusap air matanya. Ini semua salahnya. Kalau saja saat itu dia tidak meminta tolong kepada Cesar, ini semua tidak akan terjadi….. dia sama saja menghantarkan nyawa Cesar kepada Jenderal Akira yang kejam.

Dia tidak pantas hidup…

Asia mencari-cari dalam keputusasaannya, dan matanya melihat gelas kristal yang terletak di atas meja. Pikiran gelapnya langsung mencari cara untuk mati. Dialah penyebab segalanya, penyebab penghuni panti asuhan dan Chaterine ditahan, penyebab Cesar celaka…. seharusnya dia tidak pernah ada sehingga semua hal buruk ini tidak terjadi.

Dengan gemetar diambilnya gelas itu, dan dipecahkannya di tembok. Gelas itu pecah, menjadi pecahan kaca tajam yang hancur berupa kepingan-kepingan tajam kecil. Asia melirik ke arah kamera pengawas yang sekarang dipasang di kamarnya. Dia tahu dirinya sedang diawasi dan sekarang pasti orang-orang itu sedang menuju kemari karena menduga apa yang akan dia lakukan.

Jemari Asia gemetaran. Dia harus cepat. Diambilnya pecahan gelas itu. Dan setelah memejamkan mata menguatkan hati, di sayatnya pergelangan tangannya sekuat tenaga.

Irisan di pergelangan tangannya langsung memancarkan darah segar, menguar seolah-olah nadinya yang terbelah bersuka cita memompa darahnya supaya berhamburan.

Asia memalingkan muka, tidak tahan menatap darahnya yang memancar. Pandangannya berkunang-kunang, mulai kehilangan kesadarannya.

Masih didengarnya suara derap sepatu berlarian dan pintu yang dibuka keras ketika tubuhnya jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.

***

“Nona Asia hamil.” Dokter Frederick bergumam pelan ketika menyampaikan kondisi Asia kepada Jenderal Akira.

Akira yang sedang menunggu di depan kamar putih langsung menolehkan kepala kaget, wajahnya pucat ketika mendengar kabar yang tidak diduganya itu,

“Hamil?” tiba-tiba Akira terbata, “Bagaimana kondisinya? Bagaimana kondisi bayinya?”

“Untunglah luka sayatan di pergelangannya tidak begitu dalam, dan pendarahannya tidak mengganggu bayinya. Genetik Nona Asia termasuk unggul sehingga dia bisa bertahan tanpa memerlukan  transfusi darah…anda tahu saya kesulitan menemukan darah dengan genetik khusus yang bisa ditransfusikan ke Nona Asia.”

Jenderal Akira membuka mulutnya, hendak mengatakan bahwa Asia memiliki saudara kembar yang bisa diambil darahnya. Tetapi dia menahan diri. Tidak. Dokter Frederick belum perlu tahu. Dokter itu tahu kalau Cesar adalah buronan yang terlibat dengan Organisasi Bendera Merah, tetapi dia belum tahu kalau Asia adalah adik kembar Cesar.

Lebih baik dia menyimpan dulu informasi ini dari Dokter Frederick, toh informasi ini belum begitu diperlukan.

“Kalau begitu aku akan menemui isteriku.” Jenderal Akira meninggalkan Dokter Frederick dan melangkah memasuki kamar putih.

***

Ketika Asia membuka matanya, dia berhadapan dengan Akira yang duduk di tepi ranjang, setengah membungkuk ke arahnya, dan menatapnya dengan tatapan membara penuh kemarahan.

“Sadarkah kau apa yang terjadi kepadamu?”, suara Akira mendesis seolah menahankan diri supaya tidak meledak, bahkan gerahamnya mengetat penuh kemarahan.

Kenapa lelaki ini tampak begitu murka?

Sebelum Asia bisa menelaah pertanyaannya, Akira tiba-tiba bangkit, menumpukan tubuhnya diranjang, dan dengan gerakan secepat kilat tanpa Asia sempat menghindar, Akira mencengkeram leher Asia dengan cengkeraman kencang yang ahli.

Sedikit gerakan saja lelaki ini akan mematahkan lehernya dan membunuhnya.

Asia membeku – merasa takut – jantungnya berdentam keras seakan memukul-mukul rongga dadanya.

Akira sendiri mendekatkan wajahnya hingga hidungnya hampir menyentuh hidung Asia, matanya menatap nyalang sementara cengkeramannya semakin kuat, membuat Asia megap-megap.

“Dokter bilang kau sedang mengandung anakku….” , tatapan lelaki itu menajam, “Jadi karena itu kau mencoba bunuh diri, eh?”

“Mengandung?” Asia terkesiap, wajahnya pucat pasi karena kaget, “Aku mengandung anakmu?”

Jenderal Akira rupanya larut dalam kemarahannya sehingga tidak mempedulikan ekspresi terkejut yang muncul di wajah Asia. Lelaki itu mengencangkan cengkeramannya, hampir memutus jalur napas Asia membuat dada Asia terasa panas seolah hampir meledak

“Nyawamu ada dalam kuasaku, hanya aku yang bisa memutuskan kapan kau mati.” geram Akira kejam , “Apakah kau tidak ingat teman-teman di panti asuhan lamamu? Mereka semua ada dalam tahananku. Jangan coba-coba berbuat bodoh, atau aku akan menghabisi mereka tanpa ampun.”

Asia merasakan napasnya tercekat di tenggorokan, dia berusaha meronta dan melepaskan diri dari cengkeraman itu.

Untuk beberapa lama, Jenderal Akira sepertinya berniat untuk membunuh dan mencekiknya, tetapi kemudian lelaki itu seolah tersadar dan melepaskan cengkeramannya di leher Asia.

“Cesar sudah mati Asia. Tidak ada lagi yang bisa kau lakukan.” Akira berbohong tentu saja. Dalam penyergapan tadi, Cesar tidak ditemukan, sebagian besar pasukan Cesar memang ditumpas habis, tetapi Cesar sendiri sepertinya berhasil melarikan diri.

Ekspresi terpukul langsung melumuri wajah Asia, air mata mengaliri lagi pipinya, kepedihan yang pekat langsung menghancurkan hatinya.

“Apakah kau puas sekarang? menghancurkan kehidupanku?” bisik Asia lemah, penuh kepedihan.

Reaksi Asia yang lemah dan diluar ekspetasinya membuat Jenderal Akira tertegun. Lelaki itu menunduk, lalu menatap wajah Asia yang sedih dan dipenuhi air mata.

Lama suasana hening dan tidak ada suara, hanya berisi isak tangis Asia yang memenuhi udara.

Jenderal Akira tiba-tiba memutuskan menjauh karena tidak nyaman. Dia terbiasa menghadapi Asia yang kuat, dia tidak biasa menghadapi Asia yang menangis seperti ini.

Dengan langkah lebar lelaki itu melangkah ke pintu kamar putih dan membukanya, hendak keluar ruangan tanpa kata.

Sementara itu, di saat yang sama, mata Asia mengikuti langkah sang Jenderal, lalu sudut matanya menemukan sesuatu.

Ya… sesuatu yang berbeda.

Jendela kamarnya terbuka. Terbuka lebar bahkan sampai ram besi yang menjadi teralis jendela juga terbuka.

Sepertinya pelayan yang membersihkan kamar membuka jendela untuk mengusir bau anyir darahnya yang tadi berceceran di lantai, dan kemudian lupa menutupnya.

Asia langsung memutuskan. 

Dia tidak mau mengandung anak Jenderal sialan ini dan membuat Jenderal Akira mendapatkan keinginannya.

Lebih baik dia mati.

Dengan gerakan cepat, didorong oleh tenaga keputusasaan, Asia melompat dan menuju ke jendela yang terbuka, gerakannya gesit, sehingga ketika Jenderal Akira menoleh saat menyadari apa yang terjadi, Asia sudah dalam posisi naik di atas jendela, siap melompat.

Mata Jenderal Akira melebar, ekspresinya kaget, seolah tidak menyangka bahwa Asia akan senekat ini

“Kalau kau mendekat, aku akan melompat!” Asia berteriak sambil membelalakkan matanya nyalang, rambutnya berantakan tertiup angin, menatap Akira yang berdiri di pintu penghubung antara teras kamar putih dengan kamarnya.

Derap sepatu pun terdengar berdatangan kembali dari kejauhan karena beberapa pengawal yang berjaga di tangga langsung berdatangan ketika mendengar teriakan Asia.

Akira menipiskan bibirnya gusar, lalu menyuruh anak buahnya diam di belakangnya, memberikan ruang antara dirinya dan Asia untuk berbicara.

Kebodohan salah satu pengurus rumah ini telah membuat Asia berhasil menemukan kesempatan untuk bunuh diri lagi, perempuan itu sekarang sudah hendak melompat dari jendela dengan penuh ancaman.

“Kau tidak akan berani melakukannya.” Akira bergumam dingin, “Aku akan menghancurkan semua orang yang kau kenal kalau kau melompat.”

“Aku tidak peduli lagi!” Asia menjerit, penuh kemarahan, “Aku benci padamu! Aku benci! Kau datang di kehidupanku dan menghancurkan segalanya! Dan sekarang…. anak ini…dia adalah penyebab semua ini terjadi….” Napas Asia terengah, menatap perutnya dengan marah, “Aku benci anak ini, aku benci! Lebih baik aku mati daripada harus mengandungnya!” Dengan histeris Asia memukuli perutnya yang masih rata.

“Jangan lakukan itu.” Akira menyipitkan matanya tidak suka, lelaki itu melangkah maju, hendak mencekal tangan Asia tetapi Asia menghindar makin naik ke ujung jendela.

“Jangan mendekat!” Asia menatap penuh ancaman, posisinya siap melompat, membuat Akira menahankan langkahnya dan menggertakkan giginya marah,

“Turun dari sana, Asia. Jangan sampai aku membuatmu menyesal.” Ancamnya dengan nada mengerikan.

Bukannya ketakutan, Asia malahan terkekeh,

“Kau Jenderal yang kejam, kau pikir dengan tiranimu itu kau akan mendapatkan apa yang kau mau?” Asia mengusap bulir air mata yang menetes di sudut matanya, “Dengarkan aku wahai Jenderal yang kejam, jikalau aku disuruh memilih antara mati dan melahirkan anakmu, maka aku akan memilih … mati.”

Lalu tanpa bisa dicegah, Asia melompat dari jendela itu.

***

Jenderal Akira menunggu, ekspresinya tegang, matanya terus menatap ke arah pintu ruang penanganan gawat darurat di rumah sakit militer itu. Sudah hampir dua jam dokter Frederick dan team dokter lain menangani Asia, dan tidak ada satupun dari mereka yang keluar dari pintu itu untuk memberi kabar kepadanya.

Untungnya ketika melompat dari jendela kamarnya tadi, gaun Asia tersangkut beberapa kali di saluran air yang memang menjulang dari atas ke bawah. Hal itu menyebabkan Asia tidak langsung terbanting dari lantai dua ke tanah.

Tetapi tetap saja jatuh seperti itu membuat kerusakan yang parah. Ketika dirinya sampai ke bawah untuk menemukan tubuh Asia, perempuan  itu terbaring tak sadarkan diri dengan darah mengucur dari kepala, hidung dan mulutnya.

Mereka segera membawa Asia ke rumah sakit dengan helikopter, penanganannya langsung dan cepat.

Akira melirik ke arah jam yang berada di atas pintu penanganan intensif, merasa semakin frustrasi dan tidak mampu menahan diri untuk mengumpat dalam hati. Lelaki itu menunduk, menatap jemarinya yang mengepal hingga buku-buku jarinya memutih. Tangannya gemetaran tadi, dan masih gemetaran sampai saat ini ketika dia berpikir bahwa Asia mungkin akan mati.

Rasa takut ini, rasa takut yang sama dan terasa semakin menjadi. 

Apakah tubuhnya yang mendorongnya untuk merasa takut? Karena tubuhnya tahu bahwa satu-satunya perempuan yang bisa memberinya keturunan bisa saja mati di dalam sana?

Bahkan dirinyapun tidak tahu jawabannya.

Jenderal Akira tidak selesai menelaah pikirannya karena tiba-tiba pintu ruang penanganan intensif itu terbuka, memunculkan dokter Frederick yang keluar dengan wajah lelah. Perhatian Akira langsung teralihkan, tubuhnya menegang ketika dia melangkah mendekati dokter Frederick.

“Bagaimana?” tanyanya cepat dan tidak sabar.

Dokter Frederick menatap sang Jenderal dan menghembuskan napas sedikit lega, “Ibu dan bayinya baik-baik saja Jenderal. Saya sudah melakukan penanganan untuk luka di kepalanya untungnya sekali lagi, pengaruh genetik yang kuat mencegah Nona Asia kehilangan banyak darah sehingga kami tidak membutuhkan transfusi. Selebihnya bagian-bagian tubuhnya yang lain hanya menderita luka ringan. Ajaibnya bayi di perutnya begitu kuat sehingga bertahan.” Dokter Frederick menghela napas panjang, “Mudah-mudahan hal seperti ini tidak terjadi lagi.” gumamnya cemas, mengusap keringat yang tiba-tiba menetes di dahinya.

Jenderal Akira menganggukkan kepalanya samar, “Aku akan memastikan hal ini tidak terjadi lagi, dokter.” gumamnya penuh tekad.

***

Jenderal Akira duduk di sana, dikursi sofa berwarna putih itu dan menyilangkan kakinya. Kedua tangannya bersedekap sementara matanya menatap lurus ke arah ranjang, tempat Asia terbaring lemah dan tidak sadarkan diri.

Perempuan itu tampak begitu kurus, begitu kecil dan tak berdaya. 

Mata Jenderal Akira menyipit dan menanti. Dokter Frederick bilang obat yang diberikannya memang akan membuat Asia tertidur beberapa lama, tetapi perempuan itu akan terbangun begitu efek obatnya habis, tak lama lagi.

Akira mengetatkan gerahamnya, memikirkan apa yang akan dikatakannya dan apa yang akan dilakukannya kepada Asia ketika perempuan itu tersadar nanti. Asia harus diberi pelajaran, perbuatannya meloncat dari jendela tanpa mempedulikan keselamatan dirinya dan bayinya benar-benar tak termaafkan.

Dirinya ingin menghukum Asia, tetapi benaknya kebingungan.

Hukuman seperti apa yang bisa diberikan kepada perempuan hamil?

Tiba-tiba ada gerakan pelan dari ranjang, membuat Jenderal Akira waspada dan mengalihkan perhatiannya ke arah ranjang. Jemari Asia yang terbaring di sana nampak bergerak pelan. Perempuan itu selanjutnya menggerakkan kepalanya yang diperban dengan tak nyaman.

Lalu mata perempuan itu terbuka. Pelan dan seperti kebingungan. Akira mengamati ketika Asia mengerjap-ngerjapkan matanya yang sepertinya terasa pedih karena cahaya lampu yang langsung menusuk ke matanya. Dlihatnya Asia memejamkan mata, dan kemudian membukanya lagi,

Akira diam di sana, mengawasi dalam diam ketika Asia mengamati ruangan dan juga mengamati tangannya yang diinfus. Asia sepertinya masih belum menyadari kehadirannya di sofa putih ini sehingga Akira memutuskan untuk diam sejenak dan mengawasi. Dibacanya ekspresi Asia yang sedang mengerutkan kening, sepertinya perempuan itu sudah menyadari bahwa dirinya sedang berada di rumah sakit.

“Akhirnya kau bangun juga.” Pada akhirnya, Akira tidak bisa menahan diri untuk menyapa. Kemarahan dan frustrasi yang dirasakannya karena Asia nekat melompat sepertinya menunggu untuk diluapkan. Dia harus memarahi perempuan ini.

Akira bangkit dari duduknya dan melangkah mendekati ranjang. Dia tahu Asia sedang mengamatinya dengan mata besarnya yang polos. Akira sedikit tertegun ketika menyadari ada keterkejutan di mata Asia ketika melihatnya, menyusul dengan ketakutan yang terpancar di mata perempuan itu.

Kenapa perempuan itu menatapnya dengan takut? 

Akira membatin, mengerutkan keningnya, berpikir bahwa Asia mungkin takut karena telah melakukan perbuatan nekat itu,

“Aku tidak ingin kau mengulangi ini lagi, Asia.” Akira bergumam serak, dengan suara kasar diseret penuh ancaman.

Dilihatnya perempuan itu mengerutkan kening mendengar kata-katanya, seolah menahan kebingungannya. Lalu kalimat mengejutkan tercetus dari bibir mungil nan menggairahkan itu,

“Anda siapa? Ini di mana?” perempuan itu mengeluarkan pertanyaannya dengan suara pelan dan ketakutan.

Akira tersentak mendengar perkataan Asia. Perempuan ini tidak mengenalinya? Bagaimana mungkin? 

Mata Akira menelusuri perban tebal yang membalut kepala Asia, apakah mungkin hal ini adalah efek dari luka di kepala Asia?

Benarkah Asia melupakannya? atau jangan-jangan Asia sedang berpura-pura dan mempermainkannya?

Mata Akira menyipit menyelidik ketika bertanya, “Apakah kau sedang bercanda?” suaranya rendah, mengancam dan membuat bulu kuduk berdiri

Ditatapnya Asia dalam-dalam, dan dilihatnya Asia menelan ludahnya ketakutan sebelum menjawab,

“Saya tidak bercanda, sungguh…. Anda siapa?” tanyanya lagi dengan suara kebingungan mirip anak kecil yang tersesat dan tak tahu harus meminta tolong kepada siapa.

Akira mengerutkan keningnya, matanya otomatis memindai seluruh ekspresi wajah Asia. Perempuan ini tampaknya tidak berpura-pura. Kebingungan dan ketakutannya terasa nyata.

“Aku akan memanggil dokter untuk memeriksamu.” Tiba-tiba ada secercah senyum tipis di bibir Akira yang tidak bisa ditahan. Kalau dugaannya benar, perempuan ini kehilangan ingatannya.

Tiba-tiba Akira terdorong untuk menggoda perempuan yang sedang kebingungan itu, dia membungkuk begitu dekat, berbisik dengan suara serak menggoda.

“Aku adalah Akira, suamimu.” Jemarinya  tanpa izin bergerak, lalu menyapu perut Asia yang tak terlindungi, membuat Asia terkesiap kaget karena informasi dan sentuhan yang tak terduga itu, “Dan kau isteriku, sedang mengandung anakku.” Sambung Akira  itu dengan suara setengah berbisik penuh kemenangan.

 

150 Komentar

  1. Ayu permatasari menulis:

    :AKUGAKTERIMA :AKUGAKTERIMA :AKUGAKTERIMA :AKUGAKTERIMA

  2. Si jendrall mahhh sbenernya bingung sama perasaan dia sendiri, bingung mau menyalurkan perasaan yg dialaminya gimana.. Jadi kesadisannya malah muncul muehehe :KETAWAJAHADD :KETAWAJAHADD :KETAWAJAHADD

    1. Kasian jendral, perasaan itu baru buat dia, jafi bingung sendiri takut sendiri

  3. :DOR! :ngupildoeloe

  4. Kasian asia tragis bgt
    Si jendral ga prng mengenal cinta siih
    Kayanya bapaknya jg gt deeh

  5. Asia yg amnesia..

  6. Kurome Hiyoshi menulis:

    Hoh…
    Jadi begini cerita sebelum Asia lupa ingatan….

  7. fitriartemisia menulis:

    Kusukaaaa kusukaaaaaaa part ini???
    Apalagi pas Asia lompat. Eugh! Badaiiii

  8. :dragonnangis :beruraiairmata

  9. Aaaahhh ???

  10. Ooooo GITU. :inlovebabe :YUHUIII :wowkerensekali

  11. Baca ulang

  12. :ngemilbesar

  13. Prisma Lincia menulis:

    Ternyata,,, begitu ceritanya~~~

  14. aninagustina menulis:

    Maklum aja sih, akira kn tumbuh tanpa kasih sayang ibu, jdinya kejam dan ngga berperasaan gtu deh..
    Kasian bnget hidupmu asia :ELUSELUS

  15. fitriartemisia menulis:

    Coba asia gak selamet. Eughh nyesel dah babang akira hihi

  16. carlawella menulis:

    :KECEWAHATI :KECEWAHATI

  17. Part tertegang sejauh ini

  18. mustika lisa amalia menulis:

    Asia kau bukan superman :KENTUUT

  19. Lely Damayanti menulis:

    Keberuntungan utk Akira,,Asia hilang ingatan

  20. part ini bikin aku tegang :hueekk :hueekk

  21. Kangen update-an LD terus IW kangen WOA jugaaaaaa :gerah :gerah

  22. Airaqyoung1215 menulis:

    :dancing :bergoyang akiii semangat!!!

  23. Flashback end ?

  24. Desy Ratna Wulandari menulis:

    Senang bisa bergabung di PSA. Aku msh baru jd agak meraba2, msh blm tau cara utk memberi dukungan selain komen ( blm tau cara vote, like dan sejenisnya)

  25. Dhian Sarahwati menulis:

    Kisah yg panjang sblm amnesia…asia yg malang.

  26. Baca berulang kali tetep sama tegangnya, sama keselnya, sama kasiannya, sama kayk pertama kali baca ceritanya.. huhuhuuu,, bersyukur sekaligus ga nyangka sih ini bisa berakhir bahagia..

  27. uda pernah ninggalin review disini blom ya? Suasananya seperti lg ikutin cerita film horor tanpa jumpscare

  28. Antika Hadinata menulis:

    :lovely

  29. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Nekat banget asia smpe melompat :mimisankarnamu :mimisankarnamu darinl
    ketinggian :mimisankarnamu

  30. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Huhhh!!!!sesak Nafas baca nya :mimisankarnamu :mimisankarnamu :mimisankarnamu

  31. Kangen baca jenderal akira :lovely

  32. Part ini,pasri sakit banget jadi asia….. :berkacakaca

  33. asdfghjkl

  34. metawulandarikarina menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  35. Bella Miacara menulis:

    Love it..

  36. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  37. Akira kamu sungguh kejam :kumenangismelepasmu

  38. Klo bukan pengecut, apa namanya? Ngiket orang, maksa orang, ga boong kesel :bantingkursi

  39. Kinky Rain menulis:

    :panikshow

  40. Anggun Julitaaa menulis:

    :NGAKAKGILAA :haisalamkenal :habisakal

Tinggalkan Balasan