the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 12 : Malaikat Yang Mana?

Bookmark

No account yet? Register

1.696 votes, average: 1,00 out of 1 (1.696 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

“Letnan Athena tidak mau bicara apapun, dia hanya membisu.” Paris melapor di pagi harinya, tatapan matanya penuh penyesalan, “Maafkan saya Jenderal, saya tidak menyangka dia akan senekat itu.”

Akira memberi isyarat tangan supaya Paris menghentikan kata-katanya,

“Jangan panggil dia dengan letnan. Dia bukan letnanku lagi.” Lelaki itu menyipitkan mata dengan muram, “Apakah kau sudah melaksanakan apa yang kuperintahkan?”

“Sudah Jenderal, semua yang ada di dalam daftar nama, anak, menantu, cucu, keluarga menantunya yang masih tersisia, semua sudah kami bawa.”

Saat itulah pintu diketuk, Paris membalikkan badan dan membukanya, lelaki itu lalu keluar ruangan dan nampak berdebat dengan seseorang di depan pintu.

Tak lama kemudian, Paris masuk kembali,

“Jenderal Zayed, ayahanda Athena, mewakili seluruh keluarganya yang ditangkap memohon untuk berbicara dengan anda.”

Akira duduk di kursinya, menatap dingin, “Hmm mengingat beliau adalah sahabat dekat ayahku, aku akan memberinya kesempatan.”

Paris menganggukkan kepalanya, lalu setelah memberi hormat melangkah meningalkan ruangan

Tidak perlu menunggu lama, mungkin sekitar 10 menit kemudian, Paris kembali, dengan Jenderal Zayed di belakangnya.

“Silahkan duduk, Jenderal.” Gumam Paris hormat, dan setelah Jenderal Zayed duduk, Paris meninggalkan ruangan itu kembali.

Suasana hening tercipta. Akira mengamati Jenderal Zayed dan menyadari bahwa lelaki itu tampak lebih tua dari terakhir kali mereka bertemu.

Setelah ayahanda Akira, Jenderal Moroko meninggal dunia, Jenderal Zayed mengundurkan diri dari kemiliteran dan menikmati masa santai bersama anak cucunya di sebuah villa di pinggir pantai yang dihadiahkan oleh Jenderal Moroko kepadanya, hadiah atas pengabdiannya dan persahabatannya selama bertahun-tahun kepada Jenderal Moroko.

Tubuh Jenderal Zayed tinggi, tegap, yang diwariskan kepada anak-anaknya, dia mempunyai dua anak, Athena dan Mars adiknya, seorang lelaki yang juga bertugas di kemiliteran. Mars sudah menikah dan sudah mempunyai seorang anak remaja.

Ketegapan Jenderal Zayed memang sudah memudar ditutup oleh kulitnya yang keriput dan rambutnya yang memutih, meskipun begitu dia masih bersikap santun layaknya seorang Jenderal Militer yang masih aktif,

“Apakah Athena membuat masalah?” Tebak Jenderal Zayed khawatir. Ketika anak perempuannya itu memaksa pulang dan mencoba memasuki kembali kehidupan mantan tunangannya yang sudah beristri, Jenderal Zayed tahu bahwa pasti akan tercipta suatu masalah di kemudian hari. Tetapi apalah dayanya, puterinya itu terlalu keras kepala.

Akira melipat sikunya di meja, duduk tegak dengan tatapan dingin, bibirnya hampir tidak bergerak ketika bersuara,

“Athena meracuni isteriku, membuat kandungannya gugur, isteriku sekarang sedang berbaring lemah, setelah meregang nyawanya di rumah sakit.”

Jawaban singkat itu langsung membuat Jenderal Zayed mengernyit dan memejamkan mata. ….. Habislah sudah.

Ditatapnya Jenderal Akira yang bersikap sedingin patung pualam di depannya. Jenderal Zayed sudah sejak dulu merasa takut kepada anak dari sahabatnya ini. Kemampuan bertarung dan insting membunuhnya melebihi manusia normal, dan sikap kejamnya ketika menghabisi musuh-musuhnya……

Dengan sedih Jenderal Zayed menghela napas…. habislah sudah…. seluruh marga Zayed akan habis setelah ini.

“Athena masih belum bisa melupakan anda. Selama bertahun-tahun, dia tumbuh besar dengan mimpi bahwa dia akan menjadi isteri anda. Ketika pertunangan itu diputuskan, dia memang mencoba kuat di depan anda….. tetapi sebenarnya, seluruh dirinya hancur di dalam, dia menjadi tak sama lagi sejak saat itu.”

Akira menganggukkan kepalanya tipis, “Saya meminta maaf kepada anda untuk itu. Anda tahu alasan saya. After Earth adalah yang terpenting.”

Jenderal Zayed menganggukkan kepalanya, “Saya juga meminta maaf mewakili Athena untuk anda dan isteri anda, Jenderal.”

Sejenak Jenderal Zayed mengamati Jenderal Akira, menyadari bahwa tidak ada tanda-tanda bahwa pemimpin besar negaranya itu hendak melunak.

“Kapan eksekusinya?” Tanyanya kemudian, pasrah.

Akira menjawab dingin, “Besok pagi. Di hadapan regu tembak di lapangan utama, di hadapan seluruh khalayak umum dan disiarkan di semua siaran. Aku ingin Athena melihatnya secara langsung.”

Jenderal Zayed mengusap matanya basah, “Cucu lelakiku…. Asthon, dia masih begitu muda, dia pasti sangat ketakutan…. pastikan dia meninggal dengan cepat.” Gumamnya dengan suara lemah, gemetaran.

Jenderal Akira mengangguk, “Aku akan memastikan kalian semua meninggal dengan cepat, kalian akan diperlakukan baik setelah meninggal. Anda tetap akan menjadi pahlawan di After Earth, sahabat ayahanda saya.”

Akira lalu mengulurkan tangannya kepada Jenderal Zayed, yang segera disambut.

Jabat tangan mereka yang terakhir.

***

Pagi itu, tiga orang pengawal menyeret paksa Athena dari sel penjara dan membawanya melalui ruang bawah tanah yang beku, menuju sebuah ruangan di ujung lorong.

Mereka mendudukkan Athena dengan kasar dan memasangkan borgol elektronik berwarna hitam di tangannya ke kursi baja tempatnya duduk, borgol elektronik itu sangat berbahaya, jika dipaksa dibuka tanpa izin, maka borgol itu akan meledak, menghancurkan siapapun yang terikat di sana. Kursi dan meja yang ada di ruangan itupun dipatri dengan kencang ke lantai sehingga tidak bisa digeser, sama sekali tidak ada celah untuk melarikan diri.

Ruangan itu adalah ruang interograsi bawah tanah yang ada di benteng Marakesh City. Ruangan itu sempit dan tanpa jendela, keseluruhannya didominasi warna hitam dengan langit-langit rendah dan dinding serta lantai batu nan lembab, mungkin untuk menciptakan suasana mengintimidasi. Cahaya dalam ruangan itu juga remang-remang, berasal dari lampu otomatis kecil yang ditanamkan di setiap ujung ruangan.

Hanya ada satu penghubung ruangan itu dengan dunia luar, sebuah pintu berwarna hitam.

Dan pintu itu sekarang terbuka.

Sosok Jenderal Akira yang mengenakan turtle neck warna hitam, senada dengan celananya memasuki ruangan, diikuti Paris yang berdiri dalam diam di belakangnya setelah menutup pintu.

Ekspresi lelaki itu tampak gelap, mengerikan. Apalagi dengan pencahayaan yang begitu minim, membuatnya tampak seperti iblis yang dikirim dari dunia kegelapan ke dunia atas,

“Ayahmu menemuiku.” Akira bergumam tenang, “Dia mewakilimu, meminta maaf padaku.”

Athena memalingkan wajahnya, “Apakah anda juga akan melibatkannya Jenderal? Mengingat persahabatannya dengan ayah anda? Mengingat jasanya kepada After Earth?”

Mata Akira menyipit, “Aku menerimamu masuk ke rumahku karena mengingat jasa ayahandamu, tapi ternyata aku salah. Kali ini aku tak akan salah lagi, Kau dan seluruh keluargamu akan menanggung akibatnya. Jasa ayahmu di masa lampau, tidak akan bisa melindunginya lagi.”

Air mata menetes dari sudut mata Athena, “Saya mohon…. anda boleh menyiksa saya, membalaskan dendam kepada saya, tapi jangan usik keluarga saya.”

Ekspresi Akira berubah dingin, “Kau mengusik keluargaku, Karena itu aku akan melenyapkan keluargamu, seluruhnya sampai tidak bersisa. Setelah itu aku akan duduk di sini, melihat matamu, menikmati kosongnya tatapan itu karena rasa bersalah dan duka mendalam. Tatapan mata yang bisa kau temukan di mataku.”

Athena menyambar Akira dengan tatapan tajam, “Rasa duka anda hanyalah duka semu, karena anda kehilangan penerus anda.” Napas Athena terengah, “Saya gagal membunuh Asia bukan? Asia selamat bukan? Berarti anda bisa melanjutkan rencana anda dan membuat penerus anda yang lain. Selamat!”

Dalam gerakan secepat kilat, Akira maju, tubuhnya setengah berdiri, membungkuk melampaui meja, jemarinya telurur dan mencengkeram leher Athena kencang, membuatnya tercekik,

“Kau membuat isteriku sekarat dan kesakitan!” Desis Akira mengancam, menatap Athena penuh perhitungan. Sedikit saja Athena menyulutnya, dia bisa saja membunuh perempuan ini hanya dalam sedikit gerakan

Athena meringis dan mengernyit, mencoba bernafas dari jalur udara yang dipersempit oleh cekikan sang Jenderal,

“Seolah anda peduli! Saya tahu pasti Jenderal, perempuan itu membenci anda! Dan anda memanfaatkan kondisinya! Anda pikir karena dia amnesia, anda bisa bebas mempermainkan peremuan itu? Bermain-main sebagai suami sejati hanya demi mendapatkan anak dan penerus anda?” Athena terengah kembali, “Saya yakin, kalau ingatan Asia kembali, dia akan sangat berterimakasih karena saya telah membantunya menggugurkan anak itu!”

Cengkeraman Akira mengencang, membuat tubuh Athena mengejang karena kehilangan jalur napasnya,

Ketika itulah Paris, yang sedari tadi berdiri bersandar di dinding dekat pintu melirik jam tangannya, dan menyela dengan hati-hati,

“Sudah waktunya, Jenderal.” Gumamnya pelan.

Jenderal Akira membeku. Sesaat lelaki itu hanya menatap Athena penuh kemarahan, lalu melepaskan cengkeramannya dari leher Athena, membiarkan perempuan itu terkulai sambil terbatuk-batuk di atas kursinya.

“Lihat baik-baik. Akibat perbuatanmu.” Desis Akira geram.

Lalu layar otomatis muncul di dinding, menampilkan pemandangan di lapangan tembak yang menyerupai stadion olahraga di bumi masa lampau. Orang-orang ramai berkerumun di kursi penonton yang penuh, suasana riuh.

Athena menatap ke layar, matanya terpaku kepada sosok-sosok yang berdiri di ujung lapangan. Mereka berbaris rapi, dengan tangan diikat ke belakang dan mata tertutup kain hitam. Di depannya, sepasukan regu tembak paling ahli, berseragam militer dari Marakesh City sudah menunggu dengan senjata laras panjang yang terkokang. Mereka adalah pasukan penembak yang tidak pernah meleset.

Dan yang bebaris itu, seluruhnya ada enam orang, Athena mengenali semuanya, Ayahandanya, adik lelakinya, adik iparnya, ayah dan ibu adik iparnya, dan…. Asthon… keponakan tersayangnya, keponakannya yang masih berumur empat belas tahun!

Air mata langsung mengalir deras dari mata Athena,

“Tolong…. jangan lakukan…. tolong… anda tidak mungkin melakukannya…” suara perempuan itu tercekat, memohon pengampunan

“Mereka menunggu perintah dari anda, Yang Mulia.” Gumam Paris tenang.

“Jangan lakukan itu Akira.” Athena meninggalkan sikap formalnya, “Demi kenangan kita di masa lampau, kita pernah saling mencintai…. kau pernah bilang bahwa kau menginginkanku menjadi ibu dari anak-anakmu.”

Akira mengernyitkan keningnya, lelaki itu duduk dengan tenang dan menyilangkan kakinya,

“Kau terlalu hina untukku, Athena. Bagaimana mungkin kau bermimpi menjadi ibu dari anak-anakku? bahkan spermaku-pun menolak membuahimu.” Sang Jenderal memberi isyarat dengan tangannya kepada Paris. “Lakukan.”

“Tidaak !! jangan !! Kumohon…… Akira !” Athena menjerit sekuat mungkin, berusaha beranjak dari kursinya, sayangnya dia terborgol begitu erat, tak bisa bergerak.

Layar itu menampilkan regu tembak yang bersiaga membidik, lalu terdengar dentuman serentak, dan satu persatu tubuh yang terikat di sana ambruk lunglai ke tanah, tak bernyawa lagi.

“Tidaaakkk……tidaak….” Athena menjerit histeris, air matanya tumpah berderai, tubuhnya lunglai, goncang oleh kesedihan yang menghancurkan hati. Ayahnya.. adiknya… seluruh keluarganya.. bahkan keponakannya yang seharusnya masih memiliki masa depan menjelang…. Semua ini salahnya! Athena sudah siap mati ketika dia memberikan obat itu kepada Asia…. tapi dia tidak pernah menyangka bahwa Akira akan menghabisi keluarganya.

Angkat kepalamu.” Jenderal Akira bergumam tegas, membuat Athena, yang sudah kehilangan hasratnya untuk menentang menurut dan mengangkat kepalanya.

Akira menatap mata Athena, dan menemukan apa yang dicarinya. Mata yang penuh derai air mata itu tepat seperti apa yang diinginkanya, kosong, hancur dan penuh duka serta perasaan bersalah.

Lelaki itu lalu memberi isyarat pada Paris yang langsung mendekat dan meletakkan sebuah kotak tipis dari kayu berlapis beludru di meja baja.

Akira membukanya, isinya adalah set pisau dari berbagai ukuran dan ketebalan. Pisau-pisau itu berkilauan, menakutkan, seperti seperangkat alat penyiksa di masa lampau.

Athena langsung menggigil, dipenuhi ketakutan yang langsung menghantam jiwanya yang telah hancur.

Tidak pernah ada yang meragukan keahlian Jenderal Akira bermain pisau untuk menyiksa musuh-musuhnya, lelaki itu dikenal memiliki keahlian menyiksa dengan kedisiplinan tingkat tinggi, dia mampu menyiksa sampai di limit kesakitan maksimal, tapi tidak sampai membunuh korbannya. Dikatakan bahwa semua korban-korbannya selalu memohon untuk dibunuh saja dengan cepat karena tidak tahan akan siksaannya.

Akira menggulung lengan bajunya dengan gerakan pelan dan sengaja, lelaki itu lalu mengambil satu pisau, yang cukup tipis dan kelihatan sangat tajam karena dirawat dan diasah dengan seksama, kemudian menimang-nimang pisau itu di tangannya,

“Aku sudah bilang bahwa aku tidak akan membuat kematianmu mudah kan Athena?” Mata Akira menelusuri set pisau itu satu persatu, lalu mengalihkan tatapannya ke Athena dan tersenyum, “Nah Athena, …. kau mau pakai pisau yang mana dulu?”

***

“Anda harus melihat ini.” Keiro tergopoh-gopoh, membawa sebuah televisi portabel kuno ke ruangan Cesar. Televisi itu memang kuno dan merupakan produk peninggalan bumi masa lampau. Rakyat After Earth sekarang menggunakan televisi digital virtual tanpa fisik, hanya berupa spektrum cahaya yang muncul di dinding, dimana seluruh siarannya diatur oleh pemerintah.

Cesar menyimpan dan merawat televisi portabel kuno tersebut untuk kepentingan informasinya di bawah tanah, supaya dia bisa mendapatkan informasi dari atas, dan yang paling penting, tidak terlacak.

“Ada apa?”

“Jenderal Akira, dia mengeksekusi Jenderal Zayed dan seluruh keluarganya.”

Cesar langsung beranjak kaget, meraih televisi portabel itu dan menatap tayangan eksekusi yang disiarkan secara langsung tersebut,

Dahinya mengerut. Bukankah Jenderal Zayed adalah sahabat baik ayah Jenderal Akira? Cesar tahu persis bahwa Jenderal Zayed adalah salah satu pemimpin militer yang setia kepada Jenderal Akira.

Mata Cesar menelusuri tayangan itu,

“Tidak ada letnan Athena di sana, kenapa?”

Keiro menghela napas panjang, “Informan saya mengatakan bahwa letnan Athena ada di sel bawah tanah benteng Marakesh, menjalani hukumannya sendiri.

Letnan Athena dihukum? Kenapa? Bukankah Letnan Athena notabene adalah mantan tunangan Jenderal Akira sendiri? Hubungan mereka dekat bukan?

“Memangnya dia melakukan apa?”

“Kabar ini belum tentu benar, tapi santer terdengar, letnan Athena meracuni nona Asia… dan membuatnya keguguran.”

Jemari Cesar mengepal, “Keguguran? Keracunan? Apakah …. apakah dia baik-baik saja?” Cesar benci karena merasa peduli kepada perempuan yang telah mengkhianatinya. Tapi mau bagaimana lagi? Dia peduli. Untuk Asia, dia selalu peduli.

“Nona Asia selamat. Saat ini beliau dirawat di rumah sakit militer Marakesh City.”

Cesar langsung menoleh cepat, “Jadi Asia sekarang ada di luar benteng.”

Otaknya langsung berpikir keras, membuat rencana.

***

“Kenapa belum tidur?” Akira memasuki kamar tempat Asia dirawat, berjalan ke tepi tempat tidur sambil mengerutkan keningnya tak suka. Waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam. Seharusnya semua pasien memang sudah tidur.

Asia sedang setengah duduk di ranjang rumah sakit, dengan bantal besar yang menyangga punggungnya, sambil membaca buku mungil di tangannya. Dia meletakkan buku itu di pangkuannya dan tersenyum lembut, diamatinya penampilan sang Jenderal dengan tatapan tertarik, lelaki itu mengenakan kemeja putih berkerah lebar dengan lengan kemeja digulung sampai siku, Asia baru sadar bahwa dia hampir tidak pernah melihat sang Jenderal dengan pakaian selain yang berwarna hitam, dan rambut lelaki itu basah, tampak segar seolah habis mandi.

“Terimakasih atas buku-bukunya, tadi salah seorang anak buahmu mengantarkannya, katanya atas perintahmu.” Gumamnya lembut.

Jawaban Asia membuat tatapan keras Akira sedikit melunak, lelaki itu duduk di kursi tepi ranjang, mengangkat alisnya,

“Buku tentang apa?”

Asia tersenyum, menunjukkan sampul novel itu kepada Akira, “Aku duga, dari tahun terbitnya, ini adalah buku yang berhasil diselamatkan dari masa lampau, buku ini dibuat jauh sebelum perang antar bangsa terjadi…. dan ajaibnya, buku ini berkisah tentang masa depan, dimana dunia punah akibat perang dan kemudian tercipta dunia baru yang berisi orang-orang yang bertahan…..” Asia mengerutkan keningnya, “Bahkan meskipun hanya dalam imajinasi, orang-orang di masa lampau sudah tahu dan menduga-duga bahwa perang dunia itu… kehancuran itu akan terjadi..”

“Manusia adalah virus, kita adalah parasit dan bumi adalah inangnya. Kita dengan pongahnya menyedot seluruh daya bumi, menganggap itu adalah hak kita sebagai mahluk paling istimewa.” Gumam Akira tenang. “Anggaplah tubuh kita diserang virus maka mekanisme alami yang terjadi, tubuh kita akan sekuat tenaga melawan virus itu, menghancurkannya. Dan itulah yang dilakukan bumi, cepat atau lambat dia harus menghancurkan umat manusia untuk menyelamatkan dirinya dari manusia yang telah merangsek sebegitu banyaknya, hingga menyerap seluruh daya bumi. Pilihannya hanya dua, bumi yang hancur atau manusia yang hancur.”

Akira menghela napas panjang, “Sayangnya kedua-duanya hancur. Manusia hanya tersisa sedikit, dan bumi hanya terselamatkan sedikit, karena itulah ayahku memberi nama negara ini After Earth, masa setelah bumi. Di masa ini, manusia dan bumi melupakan perseteruannya di waktu lampau dan memilih untuk berdamai. Ayahku berusaha menjaga perdamaian itu, semua diatur dengan sistem untuk mencegah manusia berubah menjadi virus tak terkendali. Kehancuran di masa lampau tak boleh terjadi lagi.”

Asia mendengarkan dengan penuh minat. Baru kali ini sang Jenderal menyebut tentang Ayahnya, sang Jenderal besar Moroko, dan sepertinya suasana hati sang Jenderal sedang baik, lelaki itu tidak pernah mengucapkan kalimat sepanjang itu sebelumnya ketika bercakap-cakap dengannya.

“Dan menurutmu, sistem persamaan yang kita jalankan ini sempurna untuk keberlangsungan After Earth?” Tanya Asia kemudian.

“Sangat sempurna, Asia.” Tatapan mata Akira menajam, “Karena itulah aku selalu menumpas siapapun yang mencoba menentangku, tanpa ampun. Perbedaan adalah awal dari kehancuran.”

Entah kenapa Asia sedikit begidik, ada aura menakutkan dari sang Jenderal ketika dia berbicara dengan nada tajam seperti itu. Ditundukkan kepalanya, dan mencoba mengalihkan pembicaraan.

“Dokter Frederick tadi memeriksaku, katanya sisa racun di tubuhku telah sepenuhnya ditawarkan, dan aku telah melalui masa-masa kritisku.”

Mata Akira menyipit, lelaki itu melipat tangannya dan menyandarkan tubuhnya dengan santai ke sandaran kursi, “Bagus.” Tanggapnya singkat.

Asia menghela napas panjang, lalu memberanikan diri untuk bertanya, “Aku merasa sedikit lebih sehat…. bolehkah aku pulang ke rumah?”

Suasana rumah sakit yang begitu putih dan steril membuat Asia merasa tidak nyaman, dia tidak suka berada di sini, warna putih ini… entah kenapa membawa memori tidak menyenangkan dari sesuatu yang bahkan tidak bisa diingatnya.

Tatapan Akira mengeras, tidak setuju, “Sembuh dulu, Asia.” Desis Akira tajam.

Asia berusaha tidak mempedulikan nada tajam dari suara Akira, “Aku…. aku ingin segera sembuh, aku ingin segera hamil lagi.” Gumamnya malu-malu.

Mata Akira menyambar dengan tajam, “Kenapa kau tiba-tiba berpikir begitu, Asia?”

Asia mengerutkan keningnya, sedikit menciut ketika merasakan tatapan menusuk dari Akira,

“Tadi dokter Frederick memeriksaku, dia bilang kondisiku meningkat drastis dari yang terakhir kali, kalau aku terus seperti ini aku akan bisa segera hamil lagi.”

Mata Akira menyipit, “Dokter Frederick mengatakan itu?”

Asia menganggukkan kepalanya, terkesiap ketika Akira mendadak berdiri,

“Mau ke mana?”

“Menemui dokter Frederick.” Jawab Akira terdengar gusar, lalu melangkah panjang-panjang meninggalkan ruangan dan membanting pintu di belakangnya.

***

“Kenapa kau mengatakan hal itu pada isteriku?” Akira menyerbu ke ruangan dokter Frederick menatap marah.

Dokter Frederick, yang sedang memeriksa berkas laporan kesehatan di tangannya mendongakkan kepalanya dan menatap sang Jenderal yang tampak siap meledak, dengan was-was.

“Mohon maaf…. saya mengatakan apa?”

“Perihal kemungkinan hamil lagi dengan segera, kepada isteriku.” Sambar sang Jenderal gusar, “Dia jadi berniat segera hamil setelah sembuh.”

Dokter Frederick mengangkat alisnya bingung,

“Bukankah itu yang anda inginkan, Jenderal? Supaya nyonya Asia segera hamil lagi? Anda mengatakan bahwa penerus After Earth harus segera dilahirkan, bukan?” Suara dokter Frederick sedikit gemetar, dia takut salah bicara, dan menerima todongan pistol serta ancaman mengerikan seperti kemarin, bahkan semalaman dia tidak bisa tidur karena berkali-kali mimpi buruk, mimpi diledakkan kepalanya dengan pistol oleh Jenderal Akira.

Akira mengetatkan gerahamnya,

“Aku ingin kau mencari perempuan lain, lakukan seleksi kembali, untuk menemukan perempuan lain yang bisa mengandung anakku.”

Kebingungan semakin menyelimuti ekspresi dokter Frederick,

“Tapi… kenapa? Pencarian itu akan memakan waktu lama, hanya dalam puluhan tahun kita bisa menemukan wanita dengan sistem genetik yang cocok…. Seleksi kita waktu itu hanya menemukan dua orang, dan perempuan yang satunya sudah meningal karena sakit… untuk mencari lagi perempuan dengan sistem genetik istimewa itu…. bisa dibilang mustahil, bahkan mungkin perempuan seperti itu belum dilahirkan lagi sampai puluhan tahun ke depan…”

Dokter Frederick berdehem, mulai was-was dengan ekspresi Jenderal Akira yang menggelap, ” Dan…. Bukankah nyonya Asia masih bisa hamil lagi sebelum… sebelum…” Lelaki itu tidak bisa menyelesaikan kalimatnya, tatapan tajam sang Jenderal seolah membuat lidahnya menggumpal, tak mampu berkata.

“Kalau begitu kau bisa mencarikan ibu pengganti? Kau bisa menciptakan pembuahan itu di luar bukan? Ambil sel telur Asia dan spermaku, lakukan pembuahan di luar, dan kemudian masukkan hasil pembuahan itu ke perut wanita lain yang sehat, yang bisa mengandung dan melahirkan anakku dengan selamat.”

Dokter Frederick mengerutkan keningnya, mulai bertanya-tanya.

Kenapa Jenderal Akira bersikeras mencari perempuan lain, padahal ada nyonya Asia? Nyonya Asia yang sedang lupa ingatan, dan bersedia dengan sukarela untuk mengandung keturunan sang Jenderal lagi? Mengenai resiko kematian setelah melahirkan…. toh sang Jenderal pernah bilang dia akan membunuh nyonya Asia setelah perempuan itu melahirkan anak-anaknya, bukan?

“Saya khawatir itu tidak bisa dilakukan. Saya memang belum pernah menceritakannya kepada anda, Mohon maaf sebelumnya, itu semua karena ayahanda anda meminta saya untuk tidak mengatakannya kepada anda, tetapi ada baiknya saya mengatakannya…”

Dokter Frederick menelan ludahnya. “Setelah ibunda anda eh… meninggal, Jenderal Moroko ternyata memiliki keinginan untuk memiliki keturunan lagi, beliau meminta saya melakukan percobaan, kebetulan ada beberapa sel telur ibunda anda yang pernah saya ambil untuk mempelajari mutasi genetik, sel telur ibu anda istimewa, begitu kuat, tiada duanya. Karena itulah sel telur itu bisa dibuahi oleh sperma ayah anda.”

Mata dokter Frederick berbinar, mengingat masa-masa dimana dia menemukan keajaiban di depan matanya, “Saya lalu melakukan percobaan untuk mempelajari keistimewaan genetik sel telur ibu anda dan ayah anda, saya mencoba memasangkan sperma ayah anda dengan sel telur perempuan biasa, dan ternyata…. sperma ayah anda menghancurkan sel telur itu hingga tidak bersisa, karena itulah pembuahan dengan perempuan biasa tidak mungkin terjadi.

Dokter Frederick berdehem kembali dan melanjutkan, “Lalu seperti yang anda katakan, saya melakukan pembuahan di luar dan melihat bahwa kekuatan sel telur ibu anda begitu kokoh, hingga dia bisa bertahan dan tidak hancur ketika sel sperma ayah anda memasuki dan membuahinya, hasil pembuahan itu kemudian saya masukkan ke dalam rahim perempuan sehat yang telah diseleksi dengan metode seketat mungkin…”

“Dan hasilnya?” Jenderal Akira mencondongkan tubuhnya, tertarik.

Dokter Frederick menghela napas panjang, “Wanita itu mati.” Gumamnya penuh penyesalan, “Embrio di dalam tubuhnya telah menyedot seluruh daya hidupnya dan mematikan sistem imunnya, ketika itu usia kandunganya baru dua bulan, tubuh wanita itu kurus kering, sistem imunnya hancur, dia menderita semua penyakit yang bisa diderita semua manusia di dunia ini, Tubuhnya kurus kering dan layu… lalu perempuan itu mati begitu saja, karena tak kuat menopang kehidupan istimewa di perutnya, sekaligus mematikan embrio itu.”

Mata dokter Frederick meredup, tampak lelah, “Kami tidak menyerah dan mencoba melakukan percobaan kepada beberapa perempuan lain, ….. semuanya mati. Yang kuat bisa bertahan lebih lama, sampai usia kandungan tiga bulan, yang lemah bahkan mati sedemikian cepat ketika usia kandungannya hanya beberapa minggu, …. dan kemudian persediaan sel telur habis, ayahanda anda pun menyerah.”

Akira menegakkan tubuhnya kembali, “Jadi hanya Asia yang bisa mengandung dan melahirkan anakku?”

Dokter Frederick menganggukkan kepalanya,

“Tidak ada pilihan lain yang Mulia, jika anda ingin memberikan penerus untuk After Earth, anda harus membiarkan Nyonya Asia mengandung dan melahirkan anak anda.”

***

Asia sudah mulai terlelap ketika dia merasakan sisi ranjangnya melesak, dia mengeluh dan mencoba menoleh, hanya untuk merasakan tubuh kokoh yang membentur tubuhnya, dan sebuah lengan keras yang melingkari pinggangnya, menariknya ke belakang dan merapatkannya ke tubuh kokoh itu.

“Jenderal?” Asia bergumam dengan suara serak setengah tidur, Lalu tiba-tiba menyadari bahwa ini adalah di rumah sakit dan lelaki ini tidur di ranjang rumah sakit bersamanya,

Tidakkah lelaki ini akan dimarahi karena tidur di ranjang pasien? Tiba-tiba Asia merasa geli, rasa geli yang ironis. Siapa coba yang berani memarahi Jenderal besar yang arogan ini?

“Kenapa…?” Asia mulai bertanya karena Akira tidak mengatakan apa-apa, hanya nafas hangatnya yang terasa menghembus ubun-ubunnya, apakah Jenderal Akira tertidur?

“Sttt… diam, Asia.” Lelaki itu mengeluarkan perintah dengan nada galaknya yang biasa, membuat Asia mengerutkan keningnya jengkel.

Ya sudahlah, toh dia sudah mengantuk tadinya. Mungkin suaminya itu tidur di sini karena sudah kemalaman dan malas pulang ke rumah.

Suasana hening, pelukan hangat dan nyaman itu mengantarkan Asia untuk mengantuk kembali, dia menggumam hampir tertidur, mencari posisi nyaman setengah meringkuk, lalu mulai terlena ke dalam panggilan alam mimpi.

Sejenak, entah dia bermimpi atau bukan, dirasakannya kecupan lembut di pucuk kepalanya, dan dia mendengar Jenderal Akira melontarkan namanya ke udara, dengan suara lembut nan penuh siksaan.

***

Buah apel yang ditampung Asia di keranjang itu berjatuhan karena dia tidak berhati-hati melangkah. Asia menggerutu dan membungkuk untuk memungut buah apel itu satu-persatu.

Dia baru saja pulang dari pasar, membeli sekeranjang apel untuk dibuat selai atas permintaan ibu panti asuhan. Di dalam perjalanannya pulang, melalui jalan setapak dengan padang rumput kering akibat musim kemarau di kiri dan kanannya, kaki Asia terantuk batu, membuat buah apel di keranjangnya terguling dan bertebaran ke mana-mana.

Apel, adalah salah satu buah peninggalan jaman bumi yang bibitnya berhasil diselamatkan dan dibudidayakan kembali di After Earth.

Ada banyak mahluk hidup yang berhasil diselamatkan dan dibudidayakan kembali, termasuk berbagai macam sayuran pangan, buah-buahan, kopi, teh dan cokelat dan juga jenis hewan-hewan produktif seperti sapi dan bison untuk memenuhi kebutuhan protein mereka, selain itu ada pula berbagai jenis ikan yang melimpah di samudera.

Sayangnya banyak juga yang tak terselamatkan atau tidak dibudidayakan lagi karena dianggap kurang berfungsi, seperti anjing dan kucing misalnya, Asia tentu saja tidak pernah melihatnya atau menyentuhnya, dia tahu tentang mahluk-mahluk itu ketika mendapatkan pelajaran di sekolah. Mereka tidak dibudidayakan lagi karena tidak bisa menghasilkan susu dan daging, mereka hanya bisa jadi peliharaan. Dan di After Earth, tidak diperbolehkan memelihara hewan yang tidak produktif.

Buah-buahan lain tidak bisa dibudidayakan bukan karena tidak berguna, melainkan karena bibitnya tidak berhasil diselamatkan, seperti anggur misalnya, Asia penasaran dengan buah itu, katanya buah itu bisa diubah menjadi minuman yang mempengaruhi peradaban di masa lampau, minuman para bangsawan dan orang elite.

Asia mengambil beberapa buah apel dan sedikit mengerutkan kening ketika memegang buah apel yang rusak karena terantuk bebatuan.

Yah,sayang sekali. Anak-anak panti, terutama yang masih kecil sangat suka selai apel buatan Asia, mereka memakannya sebagai paduan roti gandum bakar nan hangat untuk sarapan.

Pandangannya terpaku pada butir apel terakhir yang belum diambilnya. Butir apel itu bergulir jauh di jalan setapak yang menurun dan berhenti ketika terantuk sepatu boot berwarna hitam.

Asia menaikkan pandangannya dan langsung gemetaran, orang militer! Yang berpakaian hitam pula!

Asia memandang gelisah ke kiri dan kanan, merasakan dorongan yang kuat untuk lari. Tapi lari kemana? Di kiri kanannya adalah padang ilalang kering yang luas tak berbatas, dia bisa saja membalikkan badannya dan kabur, tapi orang militer itu bisa menembak punggungnya dengan mudah kalau begitu bukan?

Pada akhirnya, Asia hanya bisa berdiri terpaku, menatap sosok di depannya yang membungkukkan tubuhnya dengan elegan dan mengambil apelnya.

“Ini apelmu.” Lelaki itu tersenyum tipis dan mengulurkan apel itu ke arah Asia, senyumnya, walaupun tipis, sedikit memudarkan aura mengerikan yang diciptakan oleh pakaian militer hitamnya yang mengerikan.

Asia memberanikan diri untuk mengamati lelaki itu, dan terkejut ketika menyadari bahwa lelaki itu tampan sekali. Rambutnya berwarna cokelat tua sedikit panjang mengenai kerah bajunya,bentuk tubuhnya tinggi dan sempurna,membuat Asia harus mendongakkan kepalanya untuk menatap wajahnya. Matanya cokelat dan keseluruhan komposisi wajahnya menciptakan struktur yang luar biasa tampan dan sempurna.

“Apakah kau tak mau mengambil apelmu?” Lelaki itu masih mengulurkan tangannya, terlihat geli karena Asia hanya terperangah menatapnya.

Asia tergeragap, memberanikan diri untuk melangkah maju – dengan masih tetap menjaga jarak aman – dan kemudian mengambil apel itu. Jemari mereka sedikit bersentuhan, dan Asia terkesiap seperti habis tersengat listrik karena sentuhan itu.

Dia merasakan seperti deja vu, sesuatu yang familiar tapi tidak tahu apa….

Lelaki itu juga mengerutkan keningnya, seolah merasakan sensasi yang sama, ……. mungkinkah?

“Siapa namamu?” Tanya lelaki itu kemudian.

Asia membuka mulutnya, sempat merasa ragu, tetapi kemudian sadar bahwa lelaki ini seorang militer. Pertanyaan dari seorang militer, apalagi yang berpakaian hitam, harus dijawab kalau masih sayang nyawa.

“Nama saya Asia.” Jawabnya kemudian dengan sopan.

Lelaki itu menganggukkan kepalanya, “Dan kau boleh memanggilku, Akira. Dimana kau tinggal?”

Asia menunjuk ke sebuah bangunan besar di puncak bukit, bangunan itu mencolok karena hanya satu-satunya di puncak bukit itu. “Saya tinggal di panti asuhan milik pemerintah.”

Akira menganggukkan kepalanya, “Aku akan sering berada di sekitar sini. Jangan terkejut jika nanti kau bertemu denganku lagi.” Gumam lelaki itu misterius. Lalu meminggirkan tubuhnya, memberi jalan untuk Asia lewat, “Silahkan, nona.” Gumamnya dengan suara tegas.

Asia mengangguk, menggumamkan terima kasih, lalu dengan hati-hati melangkah hendak melewati orang militer bernama Akira itu, sampai kemudian suara lelaki itu menghentikannya,

“Kalau aku tidak sedang berseragam militer, kau akan melihatku seperti apa?” Tanya lelaki itu aneh.

Asia menoleh dan melihat ketampanan sempurna di depan matanya, membuatnya tidak bisa menahan diri untuk melepas kata-kata itu ke udara,

“Saya akan mengira bahwa saya sedang bertemu malaikat.” Jawabnya spontan.

Membuat Lelaki itu terkekeh ironis, “Tergantung kau ingin bertemu dengan malaikat yang mana, sayang.” Gumam lelaki itu misterius, dan kemudian menganggukkan kepala, lalu melangkah melalui Asia ke arah yang berlawanan. Meninggalkan Asia berdiri di sana, menatap punggung kokoh berpakaian hitam itu berlalu dan menjauh.

***

Asia mengerjapkan matanya, tersadar begitu saja. Dan dalam sedetik, rasa pening menyerang kepalanya membuatnya mengeluh.

“Ingat sesuatu lagi?” Suara parau di atasnya membuat Asia mendongak, dan sejenak langsung melupakan peningnya karena dipenuhi oleh rasa malu.

Entah sejak kapan posisinya berubah, dia membalikkan badan dengan posisi menggelayut di tubuh sang Jenderal, bahkan lengannya memeluk pinggang Jenderal Akira, sementara pahanya melingkari kaki sang Jenderal.

Wajah Asia merah padam ketika dia menarik tangan dan kakinya, gerakan tiba-tiba itu membuat rasa pening menyergapnya lagi hingga dia mengerutkan dahinya.

Jenderal Akira berdecak dan bangkit dari posisi berbaringnya, lelaki itu duduk di sisi ranjang dan mengambil sebuah pil mungil kecil dari wadah samping ranjang, lalu menyerahkannya pada Asia,

“Ini, telan.” Gumamnya memerintah.

Asia menatap pil putih kecil itu, tubuhnya gemetar, teringat akan pil yang diberikan Letnan Athena kepadanya, yang membuatnya kesakitan dan kehilangan bayinya.

Pil itu begitu sama… sama persis

Wajah Akira tampak muram, tahu persis apa yang ada di benak Asia,

“Jangan kau pikirkan tentang perempuan itu lagi. Dia sudah lenyap dari dunia ini.” Gumam Akira dingin, nadanya menakutkan. Membuat Asia bertanya-tanya, apakah sang Jenderal telah membunuh letnan Athena, mantan tunangannya sendiri?

Akira, mengulurkan tangannya lagi, kali ini dengan gerakan tegas, “Pil dari tanganku tidak akan menyakitimu, Asia. Telanlah.” Perintahnya lagi.

Asia menghela napas panjang, dan kemudian menurut mengambil pil tak berasa itu dari tangan Akira dan meletakkan di lidahnya. Asia memejamkan matanya, menunggu pil itu bereaksi.

“Teringat sesuatu?”

Pertanyaan sang Jenderal membuat Asia membuka matanya, membuatnya menyadari bahwa mereka sama-sama duduk di atas ranjang rumah sakit yang sempit ini.

Tidak tahu apakah itu mimpi atau ingatan.” Jawab Asia kemudian, sedikit merasa malu.

“Kau sakit kepala jadi kemungkinan besar itu ingatan.” Suara Akira menajam, “Bisa kau ceritakan tentang apa?”

Kenapa lelaki ini selalu bersikap tajam dan mengintimidasi jika berhubungan dengan ingatannya? Sebenarnya ada apa?

Aku ingat tentang pertemuan pertama kita.”

Ekspresi Akira tidak terbaca.

“Pertemuan pertama…. ketika apel-apel itu terjatuh dari keranjangmu dan mengenai sepatuku.” Gumam sang Jenderal akhirnya,

Asia membelalakkan matanya, jadi itu bukan mimpi? Itu adalah ingatan? Dan benarkah itu ingatan akan pertemuan pertama mereka?

“Jadi kau ingat itu semua, Asia.” Ada senyum tipis di bibir Jenderal Akira, “Kuharap kau sudah bisa memutuskan, malaikat yang mana yang kau temui waktu itu. Malaikat Tuhan….. ataukah malaikat Kematian?”

 

218 Komentar

  1. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  2. Suka liat pertemuan jenderal akira sama asia lucu banget :sebarbenihcinta

    1. One of my favorite scene saat Jenderal Akira mengeksekusi seluruh keluarganya Athena… Pembalasan yg bnr2 setimpal utk kejahatan Athena :bantingkursi

  3. Malaikat kematian anjrot :mimisankarnamu

  4. Kasian sama keluarganya, apalagi ayahnya…
    sama athena nya sih enggak

  5. Kinky Rain menulis:

    Sebener nya gak adil sih karna keluarga athena harus menanggung akibat atas perbuatan athena, sementara mereka gak tau apa2..

  6. Anggun Julitaaa menulis:

    :haisalamkenal

Tinggalkan Balasan