1.tgw revolution
Generals Wife

The General’s Wife Part 4 : Pengkhianatan Palsu

Bookmark

No account yet? Register

1.937 votes, average: 1,00 out of 1 (1.937 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

“Apakah kau berhasil menemukan jejak-jejak pelarian Cesar yang terbaru?”

Akira mengajukan pertanyaannya itu kepada Paris sambil menyenderkan punggungnya di kursi kulit besar di ruang kerjanya.

Paris menganggukkan kepalanya pelan,

“Ada laporan bahwa Cesar muncul di pinggiran selatan kota di daerah Valixia, tetapi ketika kami menelisik ke sana, dia sudah melarikan diri menjauh. Untuk saat ini kami sedang melakukan penelusuran kembali terhadap jejak-jejak yang tertinggal.”

Akira menipiskan bibirnya,

“Cesar orang yang cerdik, sudah beberapa kali dia berhasil mengecoh prajurit kita, apalagi dia sudah berhasil mempengaruhi orang-orang untuk mengikutinya sejak peristiwa pembakaran panti asuhan itu.”

Paris menghela napas panjang,

“Peristiwa pembakaran panti asuhan saat itu memang menjadi propaganda buruk bagi tentara kita. Di mata rakyat kita menjadi semakin menakutkan dan beraura kejam.”

“Bukankah kita memang harus seperti itu?” Akira menyela dengan ekspresi tidak senang. “Ayahku tidak akan mungkin berhasil membangun After Earth kalau dia bersikap lunak. Percayalah Paris, rakyat kita itu kebanyakan adalah mahluk tidak tahu diri, sekali kita memberikan mereka kelonggaran, mereka akan meminta lebih dan pada akhirnya meminta kebebasan. Dan jika mereka memperoleh kebebasan, mereka akan menghancurkan satu sama lain, menciptakan perang dan saling membunuh.”

Akira berdiri, melangkah ke jendela besar di luar kantornya yang menghamparkan pemandangan After Earth nan seragam.

“Tidak akan ada ampun bagi siapapun yang membantu Cesar dan kelompok separatisnya. Jalankan perintah bunuh di tempat bagi siapapun yang terbukti bersalah, kalau perlu lakukan di depan orang banyak agar mereka tahu bahwa melawan kita akan menanggung konsekuensi yang mengerikan.”

Paris menganggukkan kepalanya dengan sikap resmi, dan ketika berkata kemudian, dia tampak sedikit meragu,

“Kenapa anda tidak memanfaatkan isteri anda? Bukankah Cesar akan selalu mudah terpancing jika menyangkut Asia?”

Akira mengetatkan gerahamnya,

“Asia sedang mengandung anakku, Paris. Bukan ide bagus menjadikannya umpan.”

“Kehamilan itulah yang akan menjadi senjata. Jikalau anda mengumumkan kehamilan Asia dan memanfaatkan kondisi Asia yang amnesia, Cesar akan mengira Asia mengkhianatinya dan dia akan menelan umpan itu mentah-mentah.”

Tatapan mata Akira menajam, tampak bengis dan mengerikan,

“Aku tidak sabar menunggu saat aku bisa berhadapan dengan Cesar dan membunuhnya dengan tanganku sendiri.”

***

Tangannya terikat….

Itulah yang pertama kali disadari oleh Asia ketika dia membuka matanya. Dia berada di sebuah kamar dengan nuansa putih pekat. Kedua tangannya disatukan dengan sebuah borgol dan diikatkan di kepala ranjang. Lengannya terasa pegal akibat posisi tak nyaman yang dipaksakan itu.

Asia menggerak-gerakkan tangannya dengan panik, merasakan dorongan keras untuk melepaskan diri. Tetapi usahanya itu malah menyakitinya. Pinggiran borgol besi yang dingin itu menggores pergelangan tangannya, membuatnya meringis perih.

Dan ketika langkah-langkah kaki itu mendekat, Asia merasakan jantungnya berdegup kencang. Rasa takutnya bercampur aduk dengan antisipasi.

Pintu itu terbuka, dan Asia langsung bertatapan dengan mata cokelat nyaris transparan yang menelusuri seluruh dirinya dengan tatapan menilai. Di depannya, berdiri seorang lelaki bertubuh tinggi dengan aura menakutkan, mengenakan turtle neck hitam dan celana legam.

Sejenak suasana hening, mereka saling bertatapan dengan makna berlawanan, yang satu menilai dan yang lain menghakimi.

“Untuk ukuran rakyat jelata, kau lumayan juga.” lelaki itu sedikit tersenyum mencemooh, membuat pipi Asis memerah karena nada penghinaan tersirat yang ditujukan kepadanya.

“Dan kau lelaki pengecut yang hanya berani kepada perempuan yang diikat.”  Asia mendongakkan kepalanya, mendesis tajam dengan penuh keberanian.

Sekejap Asia bisa melihat kilat terkejut di mata lelaki itu ketika mendengar Asia berani menimpalinya, tetapi dengan cepat lelaki itu berhasil menguasai diri, memasang wajah tanpa ekspresi di depan Asia.

“Kau lumayan, tetapi sayangnya mulutmu berbisa.”  lelaki itu tersenyum dan melangkah mendekat. Berdiri di tepi ranjang dan menatap Asia dengan senyum beku yang tidak sampai ke matanya,

“Aku bukan lelaki pengecut, sayang. Ketika waktunya nanti tiba, aku akan menguasaimu dengan mudah. Ketika itu terjadi, akan kupastikan bahwa tanganmu tidak sedang terikat,”

Lelaki itu menunduk, mengabaikan tatapan penuh kebencian Asia serta rontaan paniknya, dan melumat bibir Asia dengan kasar.

***

Asia membuka mata dan dalam detik yang sama, dia terkesiap lalu terduduk di atas ranjangnya.

Napasnya terengah, seolah berkejaran dengan benaknya.

Mimpi buruk itu lagi…

Asia mengerutkan keningnya,

Kenapa mimpi buruknya selalu melibatkan adegan antara dirinya dan Jenderal Akira? Apakah itu manifestasi dari  ketakutannya pada sang jenderal? Ataukah memang itu adalah potongan ingatannya yang terlupakan?

Kerutan di dahi Asia semakin dalam,

Tidak Mungkin! Tidak mungkin mimpinya itu adalah episode nyata dalam hidupnya. Meskipun dia takut kepada Jenderal Akira, tetapi lelaki itu suaminya bukan? Dan dia juga mengandung anak dari lelaki itu

….

“Ada apa?”

Suara yang terdengar di dekatnya itu membuat Asia terlonjak karena terkejut. Dengan hati-hati dia menoleh ke samping, ke arah suara berat dan sedikit serak – karena terbangun paksa dari tidurnya itu – berasal.

Dan spontan Asia langsung beringsut sejauh mungkin ke pinggir ranjang ketika melihat sang jenderal benar-benar ada di sebelahnya, berbaring miring dengan salah satu lengan menopang  kepalanya di atas ranjang itu,  rambut Akira tampak acak-acakan, membuatnya tampak sensual sekaligus berbahaya, dan….bagian atas tubuhnya yang telanjang, pinggangnya tertutup selimut cokelat lembut sehingga Asia hanya bisa menduga-duga apakah lelaki itu mengenakan celana…. atau telanjang…

Pemikiran itu membuat pipi Asia merah padam, sementara sang Jenderal hanya menatapnya dengan tatapan tak peduli,

“Apakah kau bermimpi buruk?”

Sekali lagi Akira bertanya, dan Asia hanya bisa membalasnya dengan anggukan lemah,

Akira sendiri menyipitkan matanya  ketika melihat anggukan Asia.

“Mimpi tentang apa?”

Dia tidak mungkin menceritakan mimpinya tadi kepada suaminya ini, bukan?

Dengan gugup Asia menggelengkan kepalanya.

“Aku lupa tadi mimpi apa.”  kebohongan meluncur mulus dari bibirnya, dan kemudian, Asia mengerutkan keningnya ketika menyadari sesuatu,

“Kenapa…. kenapa kau … eh.. bisa ada di sini?” maksud pertanyaan Asia adalah kenapa sang Jenderal bisa tidur di sebelahnya tanpa dia sadari. Ingatan terakhir Akira adalah meminum segelas susu yang diantarkan pelayan sebelum dia jatuh terlelap. Asia memang merasa dirinya mengantuk sekali seharian ini dan beberapa kali jatuh terlelap tanpa dia sadari, mungkin itu dikarenakan bawaan kehamilannya.

Ekspresi Jenderal Akira tidak berubah ketika berucap dengan suara datar,

“Kenapa memangnya? Ini ranjangku dan kau isteriku.” jawabnya tak peduli.

“Oh..”

Asia tidak mampu berkata-kata dan merasa tenggorokannya tercekat sehingga dia berdehem, merasa tak nyaman. Matanya berkelana ke sekeliling ruangan yang bernuansa maskulin itu, hanya untuk menghindari tatapan mata sang jenderal yang tajam.

Ada senyum di bibir Akira melihat betapa salah tingkahnya Asia,  lelaki itu lalu menepuk-nepuk bantal di sebelahnya,

“Tidurlah lagi. Aku juga harus tidur kembali.”

Asia menelan ludahnya, Dan kemudian, karena tidak bisa melakukan hal lain, dia menurut  dan dengan hati-hati, membaringkan kembali kepalanya di ranjang itu.

Sesaat kemudian – bahkan sebelum Asia sempat menarik napas- dia kembali terkesiap karena tubuhnya didorong miring oleh sang Jenderal, lalu lengan kekar lelaki itu melingkari pinggangnya dan menarik Asia merapat ke dadanya. Lelaki itu memeluknya erat dari belakang dengan posisi mereka berbaring bagaikan dua sendok yang dirapatkan.

Asia menggeliatkan tubuhnya, merasa jengah, tetapi lengan kuat Akira menahannya kencang.

“Sshh… sudah! kembalilah tidur, jangan ganggu istirahatku.” gumam Akira setengah berbisik tepat di telinga Asia, membuat bulu kuduk Asia meremang.

Dan kemudian terdengar napas teratur sang jenderal, sepertinya lelaki itu sudah tertidur. Asia masih berbaring dengan mata lebar, tubuhnya kaku dan tidak nyaman… tetapi kemudian rasa kantuk menyerangnya, membuatnya terlelap tanpa sadar.

***

Ketika merasakan tubuh mungil itu terlelap dalam pelukannya, Akira membuka matanya, bangkit dari tidur pura-puranya.

Matanya menatap nyalang tubuh perempuan di dalam pelukannya.

Akira merasa tidak nyaman. Dia tidak pernah berbagi ranjangnya dengan siapapun sebelumnya, bahkan ketika memuaskan hasratnya dengan wanita-wanitanya di masa lampau, dia selalu melempar mereka keluar setelah keinginannya tersalurkan.

Akira suka tidur sendirian di ranjangnya yang luas, dan sekarang, kehadiran perempuan mungil – Yang terpaksa ditempatkannya di sini – mengusik ketenangannya.

Dan sekarang perempuan itu merusak nuansa maskulin kamarnya dengan tubuh feminim dan aromanya yang benar-benar perempuan.

Akira bangkit dengan hati-hati dari ranjangnya karena aroma feminim Asia membuatnya tidak nyaman, langkah kakinya pelan, menginjak karpet tebal ruang tidurnya dan melangkah ke jendela

Dibukanya tirai jendela, dan ditatapnya pemandangan langit malam nan hitam legam dengan buliran salju nan deras membercaki kaca jendelanya. Sebenarnya penasehat keamanannya selalu melarangnya berdiri di depan jendela, karena posisi itu membuatnya rentan diserang, seolah memposisikan diri untuk ditembak jarak jauh, meskipun sudah pasti jendelanya menggunakan bahan anti peluru.

Tetapi bukan Akira namanya kalau tidak mengatasnamakan keinginannya dibanding keselamatan nyawanya. Di masa mudanya ketika After Eart masih dalam proses menjadi negara yang stabil, Akira dengan sukarela selalu mengajukan diri untuk berada di barisan terdepan dengan resiko terbunuh paling tinggi, dan dia berhasil membuktikan ketangguhannya karena sekarang dia masih hidup.

Meskipun membawa bekas luka yang dalam di tubuhnya…

Tanpa sadar Akira menyentuh dada kirinya, tempat peluru yang dalam pernah bersarang dalam di sana. Peluru ini pernah hampir merenggut nyawanya, dan peluru ini disarangkan oleh dia.

Dia.Yang akan dibalasnya berkali-kali lebih kejam.

***

Apakah mimpi buruk yang dialami oleh Asia berarti ingatannya akan kembali?”

Akira menatap dokter Frederick yang sedang sibuk menulis resep.

Tangan sang dokter langsung berhenti mendengar pertanyaan sang Jenderal,

“Maksud anda?”

Akira berdehem, tidak nyaman ketika mengucapkan kalimatnya,

“Asia semalam mengalami mimpi buruk dan aku yakin mimpi itu berkaitan erat denganku, karena matanya masih menyisakan rasa takut ketika menyadari ada aku di dekatnya.”

Dokter Frederick mengangkat alisnya,

“Anda tidur bersama nona Asia?” fakta itulah yang langsung disadari oleh sang dokter, karena tidak mungkin Akira tahu bahwa Asia mengalami mimpi buruk kalau mereka tidak tidur bersama. “Bukankah selama ini anda tidak pernah….”

“Jangan menyimpang dari pembahasan kita, dokter. Jawab saja pertanyaanku.” Akira menyela, suaranya menajam dan tatapannya mengancam.

Ditatap seperti itu membuat dokter Frederick menelan ludahnya ketakutan,

“Mimpi buruk itu sudah diperkirakan sebelumnya, Nona Asia akan mengalami berbagai kilasan ingatan dalam bentuk mimpi dan juga beberapa ingatan yang tiba-tiba datang sekelebatan. Lama kelamaan ingatan itu akan menyatu hingga akhirnya seluruh ingatan nona Asia akan kembali seutuhnya.”

Akira tersenyum ironi,

“Dan itu semua datang dalam bentuk mimpi buruk.”  gumamnya tak kalah ironi, tetapi sedetik kemudian senyumnya menghilang, “Apakah dokter punya obat untuk mencegah ingatan Asia kembali?”

Sejenak dokter Frederick tertegun mendengar pertanyaan Jenderal Akira, tetapi dia kemudian maklum, mengingat sejarah panjang hubungan sang Jenderal dengan isterinya itu, jika ingatan Asia kembali maka perempuan itu akan sangat merepotkan Jenderal Akira seperti dulu, apalagi saat ini Asia sedang mengandung anak Jenderal Akira.

Anak yang amat sangat berharga, tentu saja.

Saya memang memiliki beberapa resep obat yang bisa mengaburkan ingatan seseorang, Jenderal.”  dokter Frederick menatap dengan hati-hati “Tetapi anda tahu…. obat semacam itu tidak boleh diberikan kepada perempuan hamil.”

Tak ada ekspresi di wajah Jenderal Akira mendengar jawaban sang dokter, lelaki itu hanya menganggukkan kepalanya samar.

Dan kemudian entah kenapa dokter Frederick mendapatkan keberanian untuk bertanya,

“Apakah anda… eh… masih tetap pada niat semula untuk… untuk…”  suara dokter Frederick tersendat, “Untuk membunuh nona Asia setelah bayinya dilahirkan?”

Hening

Keheningan yang menyusul setelah pertanyaan itu diajukan terasa mencekam, apalagi Jenderal Akira hanya menatap dokter Frederick sambil menyipitkan mata, membuat dokter Frederick berdebar dan tiba-tiba saja menyesali kelancangannya bertanya.

Tetapi kemudian ada senyum tipis di bibir sang Jenderal membuat dokter Frederick seketika menghela napas lega,

“Kita lihat saja nanti dokter.” Jenderal Akira setengah  membalikkan tubuh, “Siapa tahu aku ingin menambah satu atau dua anak lagi, sebagai cadangan.”

Dan kemudian Jenderal Akira  meninggalkan ruangan bahkan sebelum dokter Frederick sempat memberikan tanggapan.

***

Ruang makan itu sama indahnya seperti ruangan lainnya di rumah ini, lantainya berpanel kayu yang tampaknya selalu digosok hingga berkilauan dan dindingnya dihiasi oleh jendela-jendela kaca nan lebar hampir memenuhi dua pertiga ruangan. Seandainya saja saat ini musim kemarau, jendela kaca itu pastilah menampilkan pemandangan taman nan hijau berhiaskan bebungaan warna-warni, dengan air mancur mini berbentuk kerang di tengahnya. Tetapi karena saat ini musim dingin, yang ada di depan mata Asia hanyalah lapisan salju yang menimbuni rerumputan dan daun-daun melengkung bersepuhkan warna putih dengan air mancur yang membeku, tak mampu menahankan dinginnya udara luar.

Pagi ini matahari bersinar malu-malu di balik hujan salju, cahayanya nan lembut terpaksa harus bersaing dengan rintik buliran hujan salsu yang meredupkan sinarnya. Meskipun begitu sinar matahari itu mampu menembus dinding kaca, menampakkan sulur lembut keemasan dan menciptakan nuansa hangat di seluruh ruang maka yang kontras dengan pemandangan penuh salju di luar sana.

Di ujung depan kaca besar, ada meja makan panjang yang sepertinya digunakan untuk perjamuan-perjamuan makan malam dengan kursi-kursi tinggi ala jaman renaissance tertata rapi di setiap sisinya.

Langkah Asia sedikit meragu ketika melihat Jenderal Akira duduk di kepala meja, sedang menyesap kopi.

Tadi pagi Asia terbangun sendirian, dengan sisi ranjangnya kosong dan  dingin, sepertinya suaminya sudah meninggalkan ranjang jauh sebelum Asia bangun.

Lelaki itu juga tak ada dimana-mana…. ketika Martha – pelayannya yang begitu pendiam – melayani keperluannya untuk mandi, Asia hampir saja tidak bisa menahan diri untuk bertanya dimanakah sang Jenderal berada.

Tetapi rasa malu-lah yang membuatnya mampu untuk tidak bertanya, sebab,  bagaimana mungkin seorang isteri malahan menanyakan keberadaan suaminya kepada seorang pelayan?

Isteri… suami…

Pemikiran itu membuat benaknya berkecamuk ketika Asia sambil melamun berjalan menyusuri lorong demi lorong rumah itu, dan kemudian berakhir di ruang makan nan indah ini, menemukan suaminya di sana.

Jenderal Akira sudah rapi, mengenakan seragam militer lengkap berwarna hitam yang entah kenapa menimbulkan rasa takut yang menggelitik di benak Asia.

Mata cokelat tajam itu menatap Asia di ambang pintu, lalu lelaki itu memberi isyarat tangan supaya Asia mendekat.

Mau tak mau Asia mendekat, dan Akira mengedikkan dagunya ke arah kursi samping yang terdekat dengannya,

“Duduklah, Sarapan.”

Asia duduk, dan harum aroma kopi berbaur dengan croissant hangat berlapis mentega kental langsung membuat perutnya keroncongan.

Akira rupanya menyadari kecanggungan Asia, lelaki itu mengambil croissant hangat untuk Asia di piring kecil yang telah disediakan.

“Makanlah, croissant ini buatan koki terbaikku, dia berdarah perancis, sebuah negara di eropa yang sayangnya sudah hancur karena perang, tetapi setidaknya masih ada warisan kuliner yang bisa kita nikmati.”

“Terima kasih” Asia menerima piring kecil itu dari tangan sang Jenderal kemudian menggunakan garpu dan pisau untuk mencicipi croissant itu.

Rasanya luar biasa enak…. Asia membatin sambil menikmati lembutnya kulit pastri nan harum dan berlemak serta wangi mentega, rasa nikmatnya menyisakan sensasi berlemak nan lezat di langit-langit mulutnya, bahkan setelah Asia menelan makanannya.

Karena begitu intensnya Asia menikmati makanannya, dia sampai tidak menyadari bahwa Akira sedang mengamatinya dengan matanya yang tajam, dan begitu dia sadar, pipinya langsung bersemu merah,

“Kau sudah tidak mual lagi rupanya,”

Asia mengambil serbet dan melap mulutnya sedikit gugup,

“Apakah dulunya….sebelum aku hilang ingatan aku mual-mual?”

Jenderal Akira menganggukkan kepalanya sambil menyesap kopinya,

“Sangat mual hingga kau tidak bisa menelan apapun… jangankan makan, mencium aroma makananpun kau langsung memuntahkan isi perutmu.” Jenderal Akira menatap Asia dari tepi cangkirnya, “Aku sampai harus mendatangkan dua dokter keluarga untuk mengawasimu.”

“Oh…” , Asia termangu tak enak hati, “Maafkan aku.”

Sudut bibir Akira sedikit terangkat seolah akan tersenyum, jemarinya terulur ke arah bibir Asia, mengusap sisa remah croissant di bibir Asia dengan lembut dan menimbulkan gelenyar aneh di kulit Asia,

“Tidak perlu minta maaf. Kau isteriku dan sedang mengandung anakku. Aku akan selalu memastikan bahwa kalian berdua baik-baik saja.”

Asia mengalihkan pandangannya dengan gugup, berusaha memecahkan nuansa aneh menyesakkan dada akibat sentuhan intim Akira di bibirnya.

Tangannya terulur ke arah teko kopi, hendak menuangkan isinya ke kopi, tetapi jemari panjang sang Jenderal tiba-tiba mencengkeram pergelangan tangannya, mencegahnya,

Asia menatap Akira dengan tatapan ingin tahu, bingung.

“Tidak boleh terlalu banyak minum kopi.” Gumam Akira tegas sambil melempar pandangan tegas, lalu menjentikkan jarinya dan beberapa saat kemudian seorang pelayan datang entah dari mana, “Bawakan susu.” perintahnya kemudian.

Sang pelayan membungkukkan tubuhnya dan bergegas pergi, sejenak kemudian dia kembali sambil membawa segelas susu di atas nampan perak dan meletakkannya dengan hati-hati di depan Asia.

“Terimakasih.” Asia bergumam lembut sebelum pelayan itu pergi, lalu meneguk susu hangat itu.

“Habiskan.” , Akira mengerutkan keningnya ketika Asia hanya meminum setengah gelas.

Sedetik Asia merasakan dorongan untuk melawan sikap Akira yang begitu arogan, tetapi untunglah dia berhasil menahan diri. Setengah bersungut-sungut Asia menghabiskan susunya sampai tandas, lalu meletakkan gelasnya sambil menatap Akira.

Asia langsung tertegun ketika menyadari arti tatapan Akira, lelaki itu tampak….. kecewa?

Apakah suaminya tadi sebenarnya berharap Asia akan membantah perintahnya?

“Hari ini kau ikut denganku, kita ke pusat kota, aku akan mengumumkan kabar bahagia kehamilanmu kepada seluruh rakyat After Earth.” Akira bergumam kemudian, memecah keheningan.

***

Tempat itu gelap, hanya diterangi cahaya obor remang-remang yang membuat seluruh ruang dipenuhi cahaya kuning keemasan. Cahaya itu memang tidak memadai, tetapi mereka memang tidak bisa menyalakan lampu listrik, karena hal itu akan menyebabkan posisi mereka ketahuan.

Pemerintah Militet After Earth memiliki monopoli terhadap sumber daya listrik, setiap warga mendapatkan jatah listrik yang sama dan cuma-cuma. Sayangnya pemerintah Militer After Earth juga memiliki teknologi tinggi untuk melacak seluruh pemakai listrik secara terperinci.

Jika ada pemakaian listrik di tempat yang tidak terdaftar, Militer akan curiga dan mengirimkan pasukan untuk melakukan pengecekan… dan mereka tentunya akan menemukan lokasi  markas sementara gerakan pemberontak di bawah tanah ini yang sudah dirahasiakan rapat-rapat.

Hal itu tidak boleh terjadi, karena itulah semua harus berpuas diri hanya dengan penerangan temaram obor. Daya listrik yang mereka miliki dari generator manual hanya digunakan untuk keperluan mendesak saja. Lagipula mereka semua sering berpindah dan tak boleh menetap terlalu lama di satu lokasi, untuk menghindari keberadaan mereka terendus oleh pemerintah militer.

Bahkan mereka tidak boleh menyalakan pemanas listrik untuk melawan dinginnya hawa di musim salju yang membekukan tulang… mereka bergantung pada perapian besar yang dijaga agar tetap menyala sepanjang waktu.

Di dalam salah satu ruangan terbesar bangunan bawah tanah itu  hanya ada dua orang : Cesar sang pemimpin utama pemberontakan, dan Keiro, orang kepercayaannya.

Ekspresi Cesar tampak begitu tegang,

“Kau sudah memastikan kebenaran berita itu?” suara lelaki itu terdengar getir.

Keiro menganggukkan kepalanya,

“Pagi ini Jenderal Akira mengumumkan kabar kehamilan isterinya kepada seluruh khalayak… dan dia bersama Asia benar-benar nampak seperti pasangan yang berbahagia.”

Cesar mengerutkan keningnya dalam,

“Kau yakin itu bukan sandiwara? Atau Asia dipaksa? aku kenal sekali Asia, dia tidak akan mau bermesra-mesraan dengan sang Jenderal.”

“Dari apa yang kami lihat itu bukan sandiwara, dan sama sekali tidak terlihat ada pemaksaan terhadapnya, bahkan kami lihat penjagaan terhadap Asia sangat longgar tetapi dia bahkan tidak sedikitpun mencoba melarikan diri.”

Untuk menguatkan informasinya, Keiro mengeluarkan rekaman publikasi sang Jenderal tentang kehamilan isterinya.

Cesar menatap setiap detik rekaman itu dengan tatapan mata terluka,

Dia bahkan bisa melihat pipi Asia bersemu merah malu-malu ketika Jenderal sialan itu bersikap mesra kepadanya.

“Saya juga mendapatkan informasi dari orang kita yang menyamar sebagai pengantar susu, dalam kesempatan singkatnya, dia sempat mendengar para pelayan di dapur bergosip bahwa….” , Keiro menelan ludahnya sedikit ragu, kemudian melanjutkan dengan suara pelan, “Bahwa Jenderal Akira dan Asia, mereka tidur satu kamar… satu ranjang… selayaknya suami isteri sesungguhnya.”

Ekspresi wajah Cesar semakin muram mendengar perkataan Keiro, dan matanya redup, penuh luka.

“Sepertinya Asia telah mengkhianati kita dan jatuh dalam pesona Jenderal Akira. Kalau begitu tidak ada yang bisa kita lakukan selain mengirim pembunuh untuk Asia, jadi sekali dayung dua pulau terlampaui, kita bunuh perempuan  pengkhianat itu dan anak Jenderal iblis yang ada di kandungannya.” Suara perintah Cesar terdengar seperti geraman penuh kemarahan, dan Keiro segera bergerak, melaksanakan perintahnya.

***

Larut malam kemudian, di dalam kamarnya yang gelap, Cesar  termenung, duduk setengah membungkuk di tepi ranjangnya.

Cesar bisa dibilang tampan, dengan mata redup dan tulang pipi tinggi selayaknya bangsawan di masa lampau. Matanya yang hijau gelap terlihat sangat kontras dengan rambut pirang kecokelatannya yang sedikit panjang, memberikan pesona tersendiri di wajahnya.

Dan mata gelap itu sekarang tampak begitu sedih, menatap nanar sebuah foto yang tergenggam di jemarinya. Foto itu menampakkan dirinya dan Asia sedang tersenyum lebar sambil berangkulan ke arah kamera dengan latar belakang panti asuhan, tempat semua kisah itu bermula.

Lama kemudian, Cesar memejamkan matanya frustrasi, jemarinya meremas foto itu dengan kasar lalu membuangnya ke perapian yang menyala, api disana langsung mengubah kertas itu menjadi abu tak bersisa.

“Asia…. kenapa kau mengkhianatiku?” rintihnya pelan penuh luka mendalam dari seorang lelaki yang terkhianati.

 

229 Komentar

  1. dulu aku kira caesar itu pacarnya asia :ngetawain

    1. Sama :bantingkursi

  2. Airaqyoung1215 menulis:

    Kasihannn wkwkwk

  3. Caesarnya missunderstanding haha *apaan sih gue ?

  4. Kaikou Nezumi menulis:

    Jadi penasaran sama Cesar

  5. :berharapindah :please

  6. Dhian Sarahwati menulis:

    Cesar ga tau aj kl Asia amnesia…anda tertipu cesar

  7. Hubungan Cesar dan Asia :sembursemburbyur :banjirairmatahuhuhu

  8. Bagian sedih banget karna Caesar udh salah paham kalo Asia berkhianat :lovely

  9. Ga afdhol kalo ga ada saingannya bang.
    ceritanya masih penuh misteri…
    Lanjut baca ahh :ayojadian

  10. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    kau salah paham tampan :kisskiss :mukadua

  11. yasmin cavelli menulis:

    ❤️❤️❤️

  12. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  13. Cesar dan asia

  14. Bella Miacara menulis:

    Love..

  15. Bella Miacara menulis:

    Love it..

  16. :kumenangismelepasmu ceasar

  17. Kinky Rain menulis:

    :kumenangismelepasmu

  18. Selli Munthaza Alesa menulis:

    :backstab :backstab

  19. Caesar?????

  20. Baca lagi :v

Tinggalkan Balasan