the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 17 [ Flashback 2 ] : Asia, Akira dan Percikan Bagian 2

Bookmark

No account yet? Register

1.388 votes, average: 1,00 out of 1 (1.388 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

Jenderal Akira menemukan tubuh Asia yang sudah tak sadarkan diri di kamarnya di loteng atas. Dirinya tadi memanjat ke loteng setelah berhasil membuka penutup tangga yang menghubungkan lantai bawah ke kamar Asia.

Disentuhnya tubuh Asia yang lemah kekurangan oksigen, dahinya berkerut menemukan bahwa bibir dan ujung jemarinya memerah, menunjukkan tanda-tanda karbondioksida sudah mulai meracuni.

Suasana di sekeliling mereka sungguh genting. Api membakar di mana-mana sampai pada tingkat yang mengerikan. Seluruh bagian panti asuhan itu dibuat dari kayu yang sekarang pasrah dilalap api. Belum lagi bahan pelapis dinding dan karpet yang menambah besarnya kobaran api yang membakar dan mengamuk seolah ingin melahap rumah ini dalam sekali serang.

Jenderal Akira melepaskan jubah militernya yang basah kuyup, hawa panas membuat air yang membasahi jubahnya menguap, menciptakan jejak asap berwarna putih yang menguar dari jaketnya.

Bau terbakar mulai menyengat dan menyesakkan dada, membuat paru-paru seakan tercekik dan berteriak mencari oksigen. Hati-hati dibungkusnya tubuh Asia yang tak sadarkan diri dengan jubah itu, membuat Asia mengerang setengah sadar.

Jenderal Akira lalu mengangkat tubuh mungil Asia yang sekarang aman terbungkus selimut basah, merapatkannya ke dada dan memeluknya erat-erat sambil berdiri. Matanya memindai seluruh ruangan dengan ahli.

Turun kembali ke dalam rumah tempat ia masuk sama saja dengan bunuh diri, karena api di sana sudah terbangun sempurna dan mengamuk tanpa ampun. Sementara kamar ini juga hampir-hampir tidak ada harapan. Tinggal sedikit lagi, dan lantai kayu rapuh yang terbakar serta terasa panas di kakinya ini akan rubuh, melemparkan tubuh mereka berdua ke kobaran api yang telah menanti di bawah.

Jenderal Akira menoleh ke arah jendela besar di kamar itu, kusen-kusennya terbakar hebat. Pun dengan kaca jendela yang sekarang tampak memuai, menguarkan panas membakar yang mengerikan.

Hanya itu satu-satunya jalan keluar. 

Jendela itu adalah satu-satunya tempat yang membuka jalan ke udara bebas, meskipun sekelilingnya diselubungi api panas nan membakar.

Telinganya yang tajam menangkap suara hiruk pikuk di luar. Mobil paramedis sudah datang dan dari suara semprotan-semprotan air yang menggelegak laksana hujan, menunjukkan bahwa Paris juga sudah berhasil mendatangkan mobil pemadam api milik militer ke lokasi ini.

Tetapi dia dan Asia tidak bisa menunggu. Memadamkan api sebesar ini membutuhkan waktu lama. Sementara dari napas Asia yang kering dan berat, perempuan ini membutuhkan oksigen untuk menyelamatkan paru-parunya yang kekeringan.

Dia harus mengambil resiko, untuk nyawa  mereka berdua. 

Akira memeluk Asia erat-erat, berdiri di depan jendela dengan kusen yang terbakar itu untuk menilai posisi.

Mereka berdua ada di atas loteng, jika dia berhasil menembus api dan kaca jendela, lalu melompat dari posisinya sekarang ke bawah, kemungkinan mereka akan selamat.

Tubuhnya sudah terbiasa melakukan hal-hal yang ekstrim tanpa terluka karena pelatihan yang dipaksakan kepadanya sejak dia kecil. Tetapi tetap saja melompat dari ketinggian seperti ini membutuhkan teknik. Salah perhitungan sedikit, bisa saja dia mendarat dengan salah dan mengalami patah kaki, belum lagi kemungkinan Asia terlepas dari pelukannya dan jatuh terluka.

Dirinya memang tidak bisa merasakan sakit akibat ledakan bom yang membakar ujung saraf sakit  dan mematikan reseptor nyeri di otaknya, tetapi bukan berarti tubuhnya tidak bisa rusak.

Dia harus berhati-hati dan mendarat dengan cepat.

Jenderal Akira menggertakkan gerahamnya, mundur beberapa langkah untuk mengambil ancang-ancang, lalu berlari tanpa ragu dan meloncat menembus kaca yang terbakar berselubung api, sambil membawa Asia di pelukannya.

***

Paramedis langsung datang menghampiri ketika Jenderal Akira bangkit sambil membawa Asia di dalam pelukannya. Dia berhasil meloncat tentu saja, meskipun hentakan yang merambati telapak kaki sampai ke kepalanya mengisyaratkan bahwa ada cedera di tubuhnya, walaupun tak parah. Dengan perlahan dia bangkit, menilai tubuhnya sendiri.

Tubuhnya baik-baik saja.

Suara batuk-batuk kering Asia yang mengerikan langsung mengalihkan perhatiannya. Jenderal Akira langsung menyongsong paramedis yang membawa tandu khusus menghampiri mereka.

Dibantunya team paramedis meletakkan Asia di atas tandu kemudian tandu itu dibawa ke semacam kereta dorong untuk menaikkan ranjang tersebut ke atas ambulan. Team paramedis yang lain segera bertindak dan memasang masker oksigen untuk Asia.

Perempuan itu terbatuk-batuk lagi, membuat Jenderal Akira mengerutkan keningnya cemas.

“Apakah dia tidak apa-apa?” tanyanya tajam, setengah berteriak menembus hiruk pikuk suara api membakar bercampur suara air yang disemprotkan oleh pasukan pemadam api.

Petugas paramedis itu nampak pucat dan gemetaran ditanya seperti itu, lelaki malang itu menganggukkan kepala berkali-kali sambil membenarkan letak masker oksigen yang dipasangkan di mulut dan hidung Asia.

“Kami masih memberinya pertolongan pertama, kondisinya luarnya sepertinya baik belum ditemukan luka bakar parah, tetapi kami akan memeriksa lebih lanjut.” jawab paramedis itu sambil  berteriak juga untuk mengalahkan suara ramai diluar.

Jenderal Akira berdiri menatap tubuh lunglai Asia yang sudah dinaikkan ke bagian belakang mobil paramedis, tubuh mungil itu sudah ditangani, sebaik mungkin untuk meminimalisasi kerusakann di sana.

Lelaki itu mengerutkan kening kesal, lalu memanjat naik ke bagian belakang mobil paramedis,

“Aku ikut ke rumah sakit.” gumamnya dengan nada berkuasa dan tak terbantahkan.

***

Mereka dalam perjalanan dengan mobil ke rumah sakit militer terdekat dari distrik ini. Suasana di dalam mobil paramedis sudah tenang. Team paramedis yang terdiri dari perawat laki-laki sejumlah dua orang sudah duduk di sisi lain mobil, sejauh mungkin dari sang Jenderal yang mengerikan.

Napas Asia sudah teratur, tidak ada batuk-batuk kering yang terdengar mengganggu. Hanya saja perempuan itu belum sadarkan diri.

Jenderal Akira duduk di sana, di bangku besi yang terpatri pada dinding mobil, tepat di samping ranjang Asia. Matanya menatap serius tubuh Asia. Ditariknya lengan kecil Asia dari balik balutan mantel militernya yang sudah kering, yang masih membungkus tubuh mungil itu. Tadi team paramedis telah melakukan pemeriksaan ke tubuh Asia, dan memang belum ditemukan luka bakar yang memerlukan penanganan serius.

Walaupun begitu, Jenderal Akira ingin memeriksa dengan tangannya sendiri. Ditelusurkannya jemarinya di kulit Asia, memeriksa jengkal demi jengkal lengan itu. Setelah beres di lengan yang satu, dia bergerak ke lengan yang lainnya, ke kakinya, ke bagian lain tubuhnya sampai ke tiap sisi wajah serta rambutnya.

Rambut Asia sedikit terbakar dan ada luka memerah karena panas di sisi pipinya. Tetapi itupun tidak masalah, luka kecil seperti itu akan hilang nanti dengan perawatan khusus.

Dua orang perawat yang duduk di bagian ujung mobil diam, menundukkan kepala dan tidak berani melirik sedikitpun apa yang dilakukan oleh Jenderal Akira.

Sang Jenderal Besar After Earth ini terkenal kejam dan tidak pernah pandang bulu membunuh siapapun yang mengusik hatinya, mereka tidak mau jadi korban berikutnya, jadi lebih baik mereka diam dan memalingkan wajah.

Setelah pemeriksaan menyeluruh, Jenderal Akira yakin bahwa tidak ada cedera serius di tubuh Asia, selain kemungkinan pernafasannya yang terganggu.

Lelai itu lalu tertegun, berdiri di sana menatap jemari kuatnya yang masih menggenggam jemari mungil Asia yang lunglai.

Matanya menyipit dan alisnya berkerut menyadari bahwa tangannya gemetar. Perasaan ini adalah perasaan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dirinya bahkan belum pernah merasakannya sebelumnya.

Perasaan ini bagaikan gabungan dari frustrasi, berbalut  kemarahan dan dorongan untuk berteriak kencang, untuk melonggarkan dadanya yang terasa sesak.

Jenderal Akira memejamkan mata, menelaah rasa asing yang menyeruak tanpa kenal ampun di relung jiwanya. Matanya kemudian membuka ketika menyadari sesuatu. Kenyataan ironis yang bahkan tidak pernah dibayangkannya sebelumnya.

Dia merasa takut.

Bagian dari jiwanya, entah dorongan genetiknya atau memang perasaannya yang tak terkendali… ternyata merasa  sangat takut jika sampai kehilangan Asia.

***

“Bagaimana kondisinya?”

Jenderal Akira yang telah membersihkan diri dan berganti dengan pakaian militer yang bersih berdiri di sana, di ruang rumah sakit dengan fasilitas terbaik di Marakesh City yang terletak di dalam benteng pusat militernya.

Tadi begitu sampai di rumah sakit militer terdekat di distrik tempat tinggal Asia, Jenderal Akira langsung menginstruksikan pemeriksaan menyeluruh untuk memastikan bisakah Asia dipindahkan ke rumah sakit pusat. Dan begitu team dokter menyatakan bisa, Jenderal Akira langsung mengirimkan helikopternya untuk menjemput dan membawa mereka kembali ke Marakesh City.

Saat ini Asia sudah terbaring tenang di ranjang rumah sakit di bawah penanganan dokter Frederick. Kali ini perempuan itu benar-benar tidur pulas, efek dari obat yang  yang disuntikkan dokter Frederick ke infusnya.

Mata tajam Jenderal Akira mengawasi dalam diam, menelusuri setiap jengkal tubuh Asia kembali seolah benar-benar memastikan bahwa perempuan itu tidak terluka.

“Kondisinya sudah stabil, ada beberapa luka luar yang sudah kami tangani, selain itu semua akan membaik segera.” Dokter Frederick menjawab tenang sambil menatap Jenderal Akira dengan ragu, “Sebentar lagi efek obat tidurnya habis dan nona Asia akan tersadar. Apakah anda ingin berada di sini ketika beliau sadar?”

Jenderal Akira menggelengkan kepala, “Tidak. Nanti saja. Aku akan menemuinya setelah kondisinya membaik. Untuk sekarang, kau harus memastikan dia pulih dan baik-baik saja.”

***

Sudah tiga hari Asia dirawat di kamar rumah sakit yang sangat mewah ini. Dirinya sendiri bingung kenapa bisa berada di sini. Rakyat after earth memang memiliki hak untuk menerima fasilitas kesehatan yang sama. Dengan kartu identitas yang bisa dipindai, mereka berhak untuk berobat dan dirawat secara gratis.

Dan Asia tahu pasti seperti apa rumah sakit umum yang ada di After Earth, dia pernah menginap di sana, bukan karena dirinya sakit tetapi karena dia menunggui beberapa anak panti asuhan yang jatuh sakit sebelumnya.

Rumah sakit umum untuk anak After Earth cukup bagus, cabang-cabangnya ada di setiap distrik tanpa kecuali, dan setiap cabang difungsikan untuk menampung rakyat After Earth yang ada di distriknya.

Seluruh bangunan rumah sakit itu seragam. Bercat putih di seluruh bagian, dari atap, tembok, pagar sampai lantainya. Bangunannya berbentuk khas, menyerupai kubus raksasa sama sisi. Ruangan di tiap kamarnyapun seragam, bersih, lengkap dengan para perawat sigap yang selalu siap membantu.

Asia tahu bahwa dia tidak berada di kamar rumah sakit milik pemerintah. Kamar ini bisa disebut terlalu mewah untuk sebuah kamar rumah sakit. Perabotan-perabotan yang ada di dalamnya membuat Asia mengerutkan kening karena  dia tidak pernah melihatnya sebelumnya.

Ya, bahkan di After Earth, semua perabotan rumah tangga dibuat seragam. Perabotan-perabotan itu diproduksi oleh pabrik milik pemerintah, dan didistribusikan ke seluruh penduduk secara merata.

Penduduk After Earth memiliki meja, tempat tidur, bahkan sampai poci teh yang seragam. Semua perabotan itu dipasok oleh negara, dan seperti halnya sistem pembelian bahan makanan serta kesehatan, sistem distribusi perabotan juga diatur dengan kartu khusus penduduk yang dipindai menghasilkan sistem terintegrasi yang maju.

Jika ada perabotan yang tua, rusak ataupun tidak bisa dipakai lagi, penduduk After Earth tinggal mendatangi kantor pemerintah terdekat, mengisi beberapa formulir, memindai kartunya, dan kemudian dalam beberapa hari, perabot pengganti yang sama persis akan dikirimkan ke rumah.

Karena itulah, Asia seumur hidupnya hanya pernah melihat satu macam model perabotan. Dan karena itulah dia sadar bahwa dirinya sekarang berada di ruang yang istimewa.

Ranjang yang dipakainya besar dan empuk, dengan kepala ranjang yang terbuat dari kayu keras berwarna hitam dan dipoles sedemikian rupa sehingga berkilau. Berbeda jauh dengan ranjang seragam di After Earth yang dibuat dari dipan berkayu tipis warna cokelat muda nan lembut.

Meja dan kursi yang ada disebelah ranjangnya bahkan lebih menakjubkan lagi, kaki-kaki meja dan kursi itu dipenuhi oleh ukiran cantik berwujud bebungaan yang tersusun rapi, sesuatu yang tidak akan pernah ditemukannya di perabotan After earth yang cenderung polos dan kaku. Selain itu banyak lagi hal-hal yang berbeda, karpet warna cokelat muda yang terhampar di lantai, sofa berwarna putih di sudut ruangan, cermin antik berwarna emas yang tergantung di dinding… semuanya asing, semuanya aneh, dan semuanya membingungkan.

Kenapa dia bisa dirawat di sini? Kamar ini jelas-jelas bukan untuk dirinya. Kamar seperti ini mungkin hanya diperuntukkan untuk pemimpin negara After Earth, sang Jenderal Besar Akira beserta keluarganya nanti.

Dan ditengah kebingungannya ini, Asia tidak bisa menemukan jawaban. Perawat yang mengurusnya seolah-olah ketakutan untuk mengucapkan apapun, mengatakan bahwa dirinya dilarang berbicara, ketika Asia menanyakan kondisi panti asuhan tempatnya tinggal dan tentang nasib saudara-saudaranya serta Chaterine.

Tidak ada satupun orang yang mau memberitahunya apa yang sedang terjadi. Bahkan dokter setengah baya yang memeriksanya hanya menggelengkan kepalanya pelan dalam diam ketika Asia memohon meminta informasi.

Tentu saja Asia ingat kebakaran itu. Bahkan paru-parunya masih terasa panas dan sesak kalau mengenang peristiwa itu. Dia tahu dirinya hampir mati… kalau saja dia tidak diselamatkan.

Ingatannya tidak jelas, tetapi Asia tahu bahwa yang menyelamatkannya adalah sosok pria yang memakai sepatu boot hitam ala militer. Dahinya berkerut ketika jantungnya berdebar dengan aneh.

Apakah Cesar yang menyelamatkannya?

Tetapi dimana kakak kembarnya itu sekarang? Apakah dia baik-baik saja? kenapa sudah hampir tiga hari dia dirawat di sini dan Cesar sama sekali tidak menampakkan batang hidungnya?

Asia menghela napas panjang, menatap nanar selang infus dengan jarum yang tertancap di tangannya. Seandainya dia berani, ingin rasanya dia mencabut jarum infus ini, lalu mengendap-endap keluar dari kamarnya untuk mencari tahu apa yang terjadi.

Sayangnya dokter pendiam setengah baya yang selalu memeriksanya sudah memperingatkan supaya Asia jangan pernah mencoba memikirkan kemungkinan keluar dari kamar ini, beliau bilang bahwa kamar rumah sakit ini diawasi oleh kamera, dokter itu juga menunjukkan bahwa ada beberapa penjaga militer berpakaian hitam yang tampak berjaga di pintu masuk.

Hal itu membuat pikiran Asia semakin tenggelam ke dalam kebingungan tanpa ujung.

Diawasi kamera? Dijaga oleh militer berpakaian hitam?

Apakah ini karena pengaruh Cesar yang merupakan anggota  militer berpakaian hitam?

Tiba-tiba Asia merasa cemas. Menyadari kalau jangan-jangan yang terjadi adalah sebaliknya, mereka mengetahui keterlibatan Cesar dengan Organisasi Bendera Merah sehingga sekarang Cesar di tangkap dan dirinya berada dalam penahanan.

Tetapi seorang tahanan di After Earth tidak mungkin dirawat di kamar semewah ini bukan?

Asia menyelipkan rambutnya ke balik telinga, menatap ke arah pintu keluar dengan bingung. Dia menghela napas panjang, hampir saja tidak tahan akan ketidakpastian ketika kemudian pintu kamar yang tertutup rapat itu membuka, pertanda seseorang datang dari luar.

Kepala Asia mendongak penuh harap, berharap ada sosok yang dikenalnya berjalan memasuki pintu itu dan menjelaskan apa yang terjadi kepadanya, hanya untuk terperangah kemudian.

Oh ya. Harapannya memang terkabul, sosok yang memasuki pintu itu memang sosok yang dikenalnya.

Tetapi bukan dalam artian positif. 

Yang masuk ke dalam kamar itu adalah si militer berpakaian hitam dengan mata cokelat jahat yang bernama Akira. Lelaki itu masuk bersama dokter yang biasanya merawat Asia dan satu orang asing lain berambut pirang dan bermata biru yang sama-sama mengenakan pakaian militer berwarna hitam.

Asia mengerutkan kening, menatap bingung masih tak mengerti ke arah Akira, yang membalas tatapannya dengan tatapan dingin tanpa ekspresi. Dia ingin membuka mulut dan menanyakan apa yang terjadi tetapi terhenti karena dokter itu datang menghampiri lalu melakukan prosedur pemeriksaan rutin  pada dirinya. Pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan detak jantung, dan terakhir dirinya disuruh setengah duduk, lalu dokter itu menepuk-nepuk punggungnya untuk mengetahui kondisi paru-parunya.

Selama proses pemeriksaan itu, Asia tetap menatap ke arah Akira yang tampak muram dan tidak bersahabat, berharap dia bisa menjelaskan kepadanya apa yang sebenarnya terjadi. Sayangnya lelaki itu sepertinya tidak berminat membantunya. Akira sama sekali tidak membalas tatapan matanya, malahan memfokuskan diri memperhatikan dokter yang sedang memeriksanya.

Bahkan setelah dokter itu selesai memeriksapun, Akira mengabaikannya, mendatangi sang dokter  dan bertanya dengan nada suara tajam menusuk,

“Apakah dia sudah cukup kuat?”

Dokter itu menganggukkan kepala dengan mantap. “Anda sudah bisa memulai prosesnya dan setelah itu membawa nona Asia pulang, Jenderal.”

Asia langsung mengangkat kepala ketika mendengar dokter setengah baya itu memanggil Akira dengan sebutan Jenderal. Firasat aneh dan mengerikan langsung memenuhi kepalanya, membuat bulu kuduknya meremang di sepanjang tulang punggungnya.

Tidak mungkin!

Asia mengerjapkan mata, mencoba mengusir pikiran tak masuk akal yang menggelayuti otaknya. Dia pasti salah. Tidak mungkin lelaki ini, yang pernah berbuat kurang ajar kepadanya dengan kasar dan tak tahu sopan santun, adalah  Jenderal Akira yang itu.

Ada banyak nama Akira di After Earth, tetapi hanya ada satu Jenderal Akira di sini. Namanya bergaung bagaikan mimpi buruk dan menjadi dongeng yang digunakan untuk menakut-nakuti anak kecil. Jenderal Akira, penerus Jenderal besar Moroko dan sekarang menjadi pemimpin After Earth, adalah pendiri pasukan militer berpakaian hitam yang ditakuti. Beliau terkenal karena kemampuan membunuhnya yang tak tertandingi. Dikatakan bahwa Jenderal Akira menguasai semua jenis senjata dengan sangat ahli dan memiliki berbagai macam ilmu bela diri yang mumpuni.

Mungkin telinganya yang lemah ini sedang salah dengar. Mungkin dokter itu sama sekali tidak memanggil Akira dengan sebutan Jenderal.

Asia mengerjapkan matanya sekali lagi, berusaha mengusir pikiran aneh-aneh dari benaknya.

Sementara itu, mata cokelat Akira mengawasi kebingungannya dengan ekspresi tak terbaca, dan tangannya memberi isyarat kepada militer satunya yang berambut pirang,

“Kau bisa memanggilnya masuk, Paris.”

Lelaki berambut pirang itu membungkuk lalu memberi hormat ala militer sebelum menjalankan perintah. Dia membuka pintu dan di sana sudah menunggu sosok lelaki tua berpakaian hakim yang juga berwarna hitam-hitam serta membawa berkas-berkas di tangannya.

Hakim?

Asia mengerutkan keningnya bingung. Di After Earth, seorang hakim hanya berperan untuk menikahkan pasangan. Permasalahan yang menyangkut pengadilan, pemenjaraan, hukuman penjara untuk penjahat, pemutusan tersangka atau bersalah, semua dikelola oleh pengadilan militer.

Dan karena seorang hakim hanya bertugas menikahkan pasangan-pasangan di After Eath, kedatangannya ke kamar rumah sakit ini tentu menimbulkan tanda tanya besar bagi Asia.

Siapa yang mau menikah?

Pikiran cerdasnya tentu saja langsung menebak-nebak dengan ngeri. Di sini hanya ada dirinya sebagai satu-satunya perempuan. Dan di sana ada Akira,lelaki militer berseragam hitam yang kasar itu, beserta lelaki pirang dan dokter yang merawatnya.

Asia meringis ketakutan, jemari mungilnya meremas selimut yang mengumpul di pinggangnya dengan gelisah.

Apakah dia akan dipaksa menikah dengan salah satu dari laki-laki itu?

Hakim itu sudah tua, mengenakan pakaian resmi dan tampak gugup, si militer berambut pirang menggeser meja sehingga dekat dengan ranjang, lalu mengatur kursi-kursi supaya berjajar rapi di depan meja. Hakim itu lalu duduk di salah satu kursi, disusul oleh Akira, dan dokter yang merawatnya di sebelahnya.

Suasana terdengar hening, sementara Asia menatap semua orang di ruangan itu dengan bingung bercampur tegang.

Akira memberi isyarat tangan kepada lelaki berambut pirang yang tadi dipanggil dengan nama  Paris oleh Akira. Tanpa suara Paris mengeluarkan pistol yang tersimpan di balik mantel hitamnya, mengokangnya hingga menimbulkan suara klik mengerikan yang memenuhi penjuru ruangan nan hening. Kemudian melangkah mendekat ke samping ranjang dan menodongkan pistol itu ke kepala Asia.

“Apa….” Asia terkesiap kaget, jantungnya seolah-olah terloncat dari rongga dadanya, dia mendongak menatap Paris dengan bingung, menemukan mata biru pucat sedingin es tanpa belas kasihan di dalamnya.

“Diam dan ikuti semuanya, maka anda akan selamat, Nona.” ucapnya memberi perintah dengan nada datar tanpa emosi.

Asia langsung menundukkan kepalanya lagi, meskipun matanya bisa menangkap ke arah Akira yang duduk tak jauh dari dirinya. Lelaki itu bahkan tidak bereaksi apapun melihat sebuah pistol ditodongkan ke kepala Asia. Malahan Asia sempat melihat seberkas sinar geli yang memancar sedetik dari bola mata cokelatnya yang dingin.

Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Asia merasa geram, tetapi tidak berani bergerak karena moncong senjata itu terasa dingin, menempel di pelipisnya. Dia menyatukan kedua tangannya dan meremasnya untuk meredakan debar jantung yang menggila, tak kuat menahan perasaan antara bingung, takut dan frustrasi.

Hakim itu menundukkan kepala, seolah-olah berusaha mengabaikan pistol yang ditodongkan ke kepala Asia. Dia malah menyibukkan diri dengan berkas-berkas kertas yang dibawanya, menghamparkannya di meja lalu menyusunnya satu-satu. Setelah semuanya tersusun rapi, hakim itu melipat tangannya di depan dengan posisi formal,

“Baik, kita mulai.” Lelaki itu memandang gugup ke arah Akira yang hanya bersedekap tanpa ekspresi, memasang wajah tidak tertarik, membuat si Hakim mengalihkan pandangan dan berdehem gugup sebelum berucap lagi.

“Hari ini kita mulai prosesi pernikahan secara negara antara Jenderal Akira, Jenderal Besar pemimpin After Earth dengan calon istrinya yang bernama…” Mata hakim itu menoleh ke arah Asia yang sekarang semakin pucat pasi, antara terkejut dan takut, “Nona… eh… Asia.”

Asia terkesiap kaget. Apa katanya tadi? Jenderal Besar After Earth? Jadi lelaki berpakaian militer hitam yang kasar dan tidak sopan ini adalah Jenderal Akira? Jenderal Akira yang itu?

Rasa takut langsung menjalari benak Asia, bahkan melebihi rasa takut akan moncong pistol yang menempel di pelipisnya. Duduk di ranjang ini, menyadari bahwa dia sedang berhadapan dengan sang pemimpin tertinggi negara yang terkenal dengan kekejamannya tentu sangat mengerikan. Keringat  dingin mulai membasahi dahi Asia ketika menyadari satu lagi kalimat aneh yang diucapkan oleh si Hakim.

Menikah? Jenderal Akira dengan dirinya? Ada apa ini sebenarnya?

Hakim itu berdehem lagi, lalu menatap Asia serba salah seolah-olah miris mengucapkan kata-kata formal selanjutnya. Kata-kata formal yang diucapkan di setiap upacara pernikahan After Earth,

“Kita semua di sini berkumpul  dan memenuhi syarat untuk mengadakan pernikahan yang sah menurut negara. Syarat yang pertama, adanya  minimal dua saksi yang menjamin keabsahan pernikahan, dan syarat kedua tidak ada paksaan sama sekali untuk melangsungkan pernikahan ini.” Si Hakim itu menghindari pelototan marah Asia, dan memilih menunduk, membuka berkas janji pernikahan di After Earth.

“Yang Mulia, anda bisa berada di dekat calon mempelai perempuan.” ucap si Hakim dengan takut-takut.

Jenderal Akira tidak mengucapkan sepatah katapun. Lelaki itu bangkit dengan anggun, tanpa suara dan berjalan dalam diam menuju ke pinggiran kasur, dekat dengan Asia yang mulai gemetaran, ingin beringsut menjauh tapi tak berani karena todongan pistol di kepalanya.

Seharusnya Asia sadar. Apalagi sekarang. Meskipun sama-sama mengenakan pakaian militer berseragam hitam, lelaki di depannya ini mengenakan mantel yang lebih elegan dengan pangkat-pangkat begitu banyak di pundak dan dada sebelah kirinya.

Tetapi bagaimana mungkin dia bisa menduga? Sementara pertemuan mereka terjadi secara informal, di jalan setapak sebuah distrik yang mungkin terlalu kecil untuk dikenali di peta After Earth.

“Saya akan mengucapkan janji pernikahan… eh Yang Mulia anda  mengikuti kata-kata saya.” Hakim itu membaca kertas di depannya, mengangkat tangannya menghadap ke depan. Jenderal Akirapun mengangkat tangannya menghadap ke depan. Suaranya terdengar tegas, penuh penekanan ketika mengulang kalimat si Hakim yang membacakan janji pernikahan.

“… akan mencintai dan menjaga pasangan saya, memenuhi kebutuhannya, dan setia bersama di bawah hukum After Earth. Mulai sekarang, isteri saya akan berada di bawah tanggung jawab dan perlindungan saya. ”

Hakim itu mengangguk-anggukkan kepala, lalu mengangsurkan pena berwarna emas yang dibawanya,

“Silahkan menandatangani berkas pernikahan ini.” Matanya melirik ke arah Asia dengan penuh rasa bersalah, “Anda juga harus menandatangani.”

Mata Asia membelalak ketika melihat berkas pernikahan yang terbuat dari kertas resmi berwarna cokelat muda dengan emblem bendera After Earth. Napasnya tercekat ketika melihat Jenderal Akira dengan santai mengambil kertas itu dan membubuhkan tandatangannya tanpa peduli.

Lelaki itu lalu menyodorkan pena dan kertasnya kepada Asia, menatap dengan tatapan membunuh yang mengerikan, “Tanda tangan.” Perintahnya pendek, menyiratkan ancaman tersembunyi.

Asia menghembuskan napas kesal. Dorongan di dalam jiwanya membisikinya untuk membantah meski ketakutan masih menggelayuti nalarnya. Kalau dia menandatangani berkas pernikahan itu, maka pernikahan konyol tanpa sebab ini akan menjadi resmi. Asia tidak mau pernikahan ini menjadi resmi, sebab dia tidak tahu apa yang terjadi dan kenapa dia bisa terdampar di posisi ini.

Paris yang rupanya tidak sabar, mendorongkan pistolnya sedikit, lebih menekan pelipis Asia.

“Mohon tanda tangan berkas pernikahan ini, Nona.” Pintanya lembut, berbanding terbalik dengan ancaman yang ditebarkan pistol itu di kepalanya.

Ditekan oleh dua orang militer berbaju hitam yang mengerikan, yang satu menodongkan pistol ke kepalanya dan yang lain menyodorkan kertas dan pena dengan tatapan mengancam, membuat Asia akhirnya tidak mampu berbuat apa-apa. Jemarinya gemetar ketika menerima pena dan kertas itu dari tangan Jenderal Akira, dia membubuhkan tandatangan seadanya, di bawah tatapan semua orang yang mengintimidasi.

Jenderal Akira langsung mengambil kertas itu begitu Asia selesai menandatanganinya, seolah-olah takut Asia akan merobek kertas itu. Lelaki itu menyerahkan kembali berkas pernikahan itu kepada si Hakim yang langsung menerimanya dengan hati-hati dan memasukkannya ke dalam map khusus yang telah disiapkan.

“Sekarang anda boleh memasangkan cincin pernikahan ke pengantin wanita, dan menciumnya.” Hakim itu bergumam serba salah, tidak tahu kalimatnya benar atau tidak. Dia hanya mengucapkan sesuai kebiasannya ketika memimpin upacara pernikahan di After Earth

Meskipun baru kali ini dia mengalami, menimpin pernikahan rahasia Jenderal besar After Earth dengan pengantinnya yang berada di bawah todongan pistol.

Jenderal Akira mengeluarkan sesuatu dari kantong mantel hitamnya, kotak mungil berbungkus beludru hitam yang elegan. Lelaki itu membuka kotak mungil itu dan mengeluarkan isinya, sebuah cincin emas polos tanpa hiasan apapun, tetapi begitu cantik dipandang.

Tanpa permisi, Jenderal Akira mengambil tangan Asia dan memasangkan cincin itu di jemari mungilnya. Asia menunduk menatap jemarinya yang kini bercincin, gemetaran tak karuan karena takut dan marah. Dia mendongakkan kepala menatap sang Jenderal, dan langsung disambar oleh mata tajam penuh kuasa yang balas menatapnya dengan arogan.

“Sekarang kau milikku.”

Lelaki itu bergumam penuh nada kepemilikan, lalu menarik lengan Asia supaya condong ke arahnya, bibir Akira bergerak hendak mengecup bibir Asia, tetapi di detik terakhir, Asia berhasil memalingkan kepalanya, membuat kecupan panas itu hanya berhasil mendarat di sudut bibir Asia.

Jenderal Akira menarik kepalanya menjauh, menatap Asia dengan pandangan intens yang susah diartikan, seolah-olah senang karena Asia berani melawannya meskipun hanya dalam bentuk perlawanan kecil.

“Nanti.” 

Bisik Jenderal Akira penuh ancaman, hanya satu kata tapi terdengar bagaikan janji yang membuat buku kuduk berdiri.

Si Hakim sendiri nampak lega karena keseluruhan prosesi pernikahan ini telah berakhir. Lelaki itu mengeluarkan sapu tangan dari sakunya dan mengusap keringat di dahinya yang ternyata telah bercucuran tanpa disadarinya.

“Sekarang  sebagai hakim agung tertinggi di After Earth, saya nyatakanbahwa pernikahan kalian berdua telah sah dan diakui di dalam hukum negara.” Jemarinya dengan cekatan membereskan berkas-berkas di meja seolah tak sabar meninggalkan ruangan itu. “Saya akan membereskan seluruh berkas resmi yang akan menyusul, para saksi juga bisa menandatangani berkas ini nanti, kartu pernikahan dan lain sebagainya dan akan saya kirimkan kepada Yang Mulia.”

Si Hakim membungkukkan tubuhnya penuh hormat, lalu berpamitan dan membalikkan badan meninggalkan ruangan itu disusul oleh dokter Frederick yang  juga berpamitan meninggalkan ruangan.

***

Jenderal Akira menatap Paris yang telah menurunkan senjatanya dari kepala Asia,

“Kau boleh meninggalkan aku bersama isteriku, Paris, aku rasa dia  akan menuntut penjelasan.” perintahnya datar dengan nada resmi.

Paris mengangguk, mengunci kembali senjatanya, dan menyimpan pistol itu di balik mantelnya, lalu membungkukkan badan dan memberi sikap hormat ala militer,

“Baik Jenderal.” gumamnya penuh hormat, lalu melangkah pergi meninggalkan kamar rumah sakit  dan menutup pintu di belakangnya.

Ditinggalkan berdua saja dengan lelaki mengerikan ini membuat jantung Asia berdebar, dirinya menatap sang Jenderal dengan tatapan was-was.

“Anda… benar-benar Jenderal Akira pemimpin besar After Earth?” Asia bertanya lirih, merasa sedikit takut.

Lelaki itu melempar tatapan tajam membunuh, seolah-olah menganggap Asia sebagai perempuan bodoh,

“Seharusnya kau tidak menanyakan apa yang sudah kau ketahui Asia.” jawabnya dingin, tanpa emosi.

Asia menelan ludah, merasa malu. Tetapi rasa ingin tahunya yang menggelegak membuatnya memberanikan diri bertanya kembali, “Apa…. yang sebenarnya terjadi?” tanyanya pelan, memulai percakapan karena Jenderal Akira sepertinya belum berniat memulai percakapan.

Lelaki itu menoleh, menatap Asia dengan pandangan menusuk yang menakutkan,

“Aku sudah bilang bahwa aku akan menemuimu lagi bukan?” Jemari Jenderal Akira menyentuh jari Asia lagi, mengangkat cincin di sana hingga berkilau di bawah cahaya lampu, “Dan sekarang kau adalah milikku.” Tatapan lelaki itu berubah menjadi kejam, “Seharusnya aku menahanmu karena berkonspirasi dengan pemberontak, tetapi karena kau adalah isteriku, maka kau akan mendapatkan perlakukan khusus.”

Asia mengerutkan keningnya, “Pemberontak?” tiba-tiba dia ingat kebakaran itu dan merasa ngeri, apakah kebakaran itu berhubungan dengan tuduhan pemberontak yang ditujukan kepadanya?

“Apa yang terjadi dengan panti asuhan tempat saya tinggal? Saya mengingat terjadi kebakaran di sana, … apakah mereka semua baik-baik saja?” Asia langsung mempertanyakan kondisi keluarganya, tiba-tiba merasa cemas setengah mati.

Jenderal Akira melemparkan tatapan merendahkan ke arah Asia. “Mereka semua ada di dalam tawananku. Dan menjadi jaminanku. Kau harus melakukan apa yang aku inginkan, kalau tidak aku akan membunuh mereka.”

Asia membelalakkan matanya, “Kenapa…. kenapa anda melakukan itu? Mereka tidak bersalah… mereka hanya anak-anak… dan Chaterine… beliau sudah tua…”

“Dengar.” Jenderal Akira menyela jahat, “Aku tidak peduli dengan wanita tua atau anak-anak, ketika aku bisa menggunakan mereka maka akan aku gunakan. Hati nurani tidak ada di dalam kamusku. Jadi sekarang lebih baik kau menggunakan akal sehat dan menuruti perintahku, atau aku akan membunuh semua orang yang penah mengenalmu.”

Jenderal Akira mendekatkan dirinya ke arah Asia, memandangnya dengan tatapan keji,

“Kau pikir aku tidak tahu? Kau dan Cesar adalah keturunan dari salah satu wakil Organisasi Bendera Merah yang pernah ditumpas oleh ayahku.  Saudara kembarmu, Cesar, yang pernah kulatih dengan tanganku sendiri, ternyata adalah orang tidak punya harga diri dan mencoba menusukku dari belakang. Aku tahu dia bekerja sama dengan Organisasi Bendera Merah untuk memberontak terhadap pemerintahanku.” Mata Jenderal Akira menyipit. “Aku tidak akan pernah menoleransi pengkhianat, sudah pasti akan aku hukum mati saudaramu dengan tanganku sendiri.”

Asia terperangah, ketakutan, “Anda menangkap Cesar?” serunya

“Segera. Begitu dia ada di tanganku, dia akan langsung mati.” Lelaki itu menatap Asia yang masih kebingungan, jemarinya tiba-tiba mencekal dagu Asia dengan kasar, tatapannya berubah dingin, menusuk dan mengerikan,

“Dengar. Aku hanya akan menjelaskan satu kali. Kau adalah satu-satunya perempuan yang bisa memberikanku keturunan, karena itulah aku tidak membunuhmu dan menikahimu. Tapi ingat ini, nanti, segera setelah kau melahirkan anakku, aku akan membunuhmu, beserta saudaramu.”

Tubuh Asia gemetar karena begidik mendengar nada ancaman yang diucapkan tanpa hati itu. Sementara Jenderal Akira terlihat seolah tidak peduli. Lelaki itu beranjak, lalu menatap Asia tajam,

“Bersiap-siaplah, aku akan membawamu pulang, isteriku.”

Ada nada mengejek penuh ironi di balik kata-katanya, seperti sebuah janji untuk menyakiti, yang membuat Asia begidik ngeri.

***

Ketika kendaraan militer itu sampai di sebuah rumah serupa benteng militer yang kelam dan mengerikan. Jenderal Akira yang sedari tadi duduk di sebelahnya langsung mencekal lengannya dengan kasar, menariknya turun dari mobil. Mobil itu dijaga ketat oleh pasukan pengiring bersenjata mengerikan dengan wajah datar tanpa ekspresi, memupuskan harapan Asia  mendapatkan celah baginya untuk mencoba melarikan diri.

Asia hanya meringis, merasakan genggaman kuat di lengannya. Menurut ketika mengikuti langkah Jenderal Akira memasuki rumah, menaiki tangga dan membawanya ke bagian ujung lorong di salah satu sayap kamar.

Di ujung lorong itu ada kaca besar yang memantulkan cahaya matahari dari luar. Di bagian ujungnya, ada tangga pendek melingkar menuju sisi tersembunyi dari lorong. Jenderal Akira membawa Asia menaiki tangga pendek itu sehingga mereka sampai di sebuah teras mungil yang cantik.

Jenderal Akira membawa Asia melewati teras mungil itu dan berhenti di pintu kamar berwarna putih bersih. Lelaki itu membuka pintu kamar itu, dan menarik Asia masuk ke dalam kamar.

Kamar itu sangat cantik, keseluruhannya bernuansa putih. Dari karpet yang menutupi lantai, tirai besar yang menutup jendela, sampai ke penutup tempat tidurnya, semuanya berwarna putih. Bahkan perabotannya pun juga bernuansa putih, seolah-olah dekorasi kamar ini memang diciptakan untuk menuju harmoni yang mencerminkan kesucian nan putih bersih. Di sudut kamar, ada vas-vas bunga yang diisi bunga mawar yang juga bernuansa putih, menguarkan aroma harum nan segar yang menggoda indera penciuman.

Jika saja Asia tidak dalam situasi seperti ini, dia pasti akan berhenti sejenak dan meresapi keindahan yang ada di dalam kamar ini. Tetapi sekarang, dibawa paksa dengan kasar dan masih menyimpan kecemasan akan nasib orang-orang yang disayanginya, membuatnya seleranya tumpul hingga tak mampu mengagumi keindahan apapun.

“Ini akan menjadi kamarmu.” Jenderal Akira bergumam dingin, “Setiap malam aku akan datang menidurimu sampai kau hamil. Kau harus berhasil mengandung anakku dan melahirkan penerus After Earth yang sehat.”

Asia terkesiap, merasa terhina sampai ke dasar mendengar kalimat itu. Harga dirinya sebagai wanita mendorongnya untuk melakukan pembelaan diri. Didorong oleh kemarahannya, dia mengangkat tangan, dan langsung menampar pipi Jenderal Akira sekuat mungkin sampai kepala lelaki itu terdorong ke belakang.

“Anda memang lelaki yang tidak tahu sopan santun. Saya tidak menduga seorang Jenderal terhormat yang dididik dengan terhormat pula, ternyata tidak tahu bagaimana cara menghargai perempuan.” Seru Asia, dengan napas terengah menahan marah.

Jenderal Akira sendiri hanya terpaku di sana, seolah tidak menyangka Asia akan berani menamparnya. Mata cokelatnya yang beku tiba-tiba menyala, terbakar oleh kemarahan. Jemarinya bergerak mengusap pipinya yang memerah, bekas tamparan keras Asia, lalu dengan sengaja menyentuh bibirnya, dimana bekas gigitan Asia di ciuman pertama mereka di waktu lampau telah memudar.

“Perempuan rendahan, keturunan pemberontak yang tidak tahu diri.” Jenderal Akira menyipitkan mata, memandang Asia dengan ekspresi menakutkan, “Berani-beraninya kau menamparku.”

Tiba-tiba saja, lengan yang kokoh itu mengangkat tubuh mungil Asia, seolah dirinya hanyalah beban ringan tanpa bobot, lalu melemparkannya ke ranjang.

Ranjang itu empuk, sehingga tubuh Asia tidak merasa sakit, tetapi jantungnya berdebar kencang ketika matanya menatap ke arah sang Jenderal yang sekarang berdiri di tepi ranjang, menatapnya tajam sambil melepas satu demi satu kancing mantel militernya yang berwarna hitam

“Apa….apa yang akan kau lakukan?” Asia berteriak, beringsut ke sisi ranjang terjauh, berusaha untuk menyelamatkan diri. Matanya menatap ngeri ke arah jemari kuat yang sekarang melemparkan mantel militer itu ke lantai, masih menyisakan kemeja militer hitam di baliknya.

Jenderal Akira menatap Asia dengan keji, bibirnya menipis ketika dia mengucapkan kalimat kasar yang terdengar mengerikan di telinga Asia,

“Apa yang akan kulakukan?” Lelaki itu mulai melepas satu demi satu kancing kemeja militernya, “Meniduri pengantinku, tentu saja.”

149 Komentar

  1. Eehhh ituu muluttt yyaa tolong dikondisikann :DOR! :DOR!
    Yya kalii luu kira asia apaann cobaa maen ditidurin, trus suruh bunting, abis itu dibunuhh..
    Si jendral mahh minta diapainn inii hhmm :semangatyangmembara :beranilawansaya

  2. Semua perempuan jg marah kalo digituin bang
    Kepo sm nasip anak2 panti

  3. Si jendral minta ditabok nih ya jelas lah udah ngrendahin asia banget..

  4. Kurome Hiyoshi menulis:

    Lah… Asia dipikir apaan? Mesin pembuat anak? Weh… Pantes tuh Akira langsung diberi cap tangan sama Asia

  5. fitriartemisia menulis:

    Nahkan awalnya asia gak berontak, lama2 kesel juga hahaha

  6. Waktu penyelamatan keren banget. Waktu pernikahan miris yee ‘tanpa paksaan’ tapi ditodong pistol. Mbuh lah. Enggh :nangisgulinggulingan

  7. Ngeri juga :blackpukpuk

  8. Baca ulang

  9. Hadeuh si Akira :BANTING!

  10. Akira kok mulutnya kasar bangat yah :DOR!

  11. Prisma Lincia menulis:

    Awal² omongannya Akira nyebelin banget :DOR!

  12. Benih cinta yg ada akhirnya kalah dgn dendam membara.. kasihan dirimu Asia..

  13. aninagustina menulis:

    Memang lidah tak bertulang, hadeuh omongannya bang, sadis n kejam gtu.. ayo lawan terus asia :ternyatahulk

  14. fitriartemisia menulis:

    Tiduriiii ya ampuuun eike salfok mulu wkwk

  15. carlawella menulis:

    bang jngn kasar2 sama istri sendiri :ASAHPISAU2 :ASAHPISAU2

  16. Seketika hakim & dokter frederick napas lega setelah keluar dri ruangan :NGAKAK

  17. mustika lisa amalia menulis:

    Jenderal, kalo pengen punya anak ya bilang baik2 dong. Asia bukan mesin pencetak anak :MELOROT

  18. Lely Damayanti menulis:

    Pantas Asia benci Akira,,soalnya kasar gtu :aw..aw :huhuhu

  19. Dia yg nikahan gue yg dek2an yaampun :bantingkursi :bantingkursi

  20. Kak.. tau kan
    Saya jadi rajin komen biar dapet points :bengongaja

    Ini cerita udah saya beli novelnya tapi ttp enakan baca di hp 😀

  21. Sinta Setiawati menulis:

    Yakin deh,.ujungnya pasti akira jatuh cinta dengan asia..karena cuma asia yang setara.dengannya dalam hal keberanian..

  22. Airaqyoung1215 menulis:

    :kisskiss :kisskiss :kisskiss akiii

  23. Kelakuan bar bar akira minta ditabok emang?

  24. Ronaronaroo menulis:

    〒_〒

  25. Ramahta S Milala menulis:

    Asia sering keluar masuk rumah sakit, dimulai setelah dia bertemu dengan akira

  26. Dhian Sarahwati menulis:

    Nikah d todong pistol??ohh..no….
    Emang dasar jendral Akira arogan,awal2nya kasar jadi asia benci…
    Eh???..benci & cinta tipis ya??benci2 cinta lama2

  27. Gk kebayang jadi Asia :nangiskeras

  28. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Pengen juga di banting di kasur empuk kaya asia :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA

  29. Lu pantes ditabok bang…….. :bantingkursi

  30. Seram

  31. Bella Miacara menulis:

    Love it..

  32. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  33. Love and hate relationship :bantingkursi

  34. :bantingkursi d :bantingkursi :bantingkursi

  35. Linda Siswanti menulis:

    Ini baru berkesan sumur idup, nikah dengan orang yg ga d cinta malah ga kenal terus d todong pake senjata, aduh thorr jiwa halu qu meronta-ronta, hahahahaa

  36. Pas nyelamatin beuh kerennya minta ampun, gw sempet kagum pas dia lompat dri jendela
    Tpi gajadi kagum pas adegan nikah, yg romantis dikit kek…ini malah ditodong pke pistol 🙄

  37. Kinky Rain menulis:

    :backstab :panikshow

  38. Jendral :panikshow :backstab

  39. Bener – bener minta di tabok sih mulutnya

Tinggalkan Balasan