the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 19 : Menyerah untuk Menang

Bookmark

No account yet? Register

1.792 votes, average: 1,00 out of 1 (1.792 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

Jenderal Akira tiba-tiba bergerak secepat kilat, menyeberangi meja dan kemudian mendesak Asia di kursi sofa besarnya. Tubuhnya melingkupi tubuh Asia, memenjarakannya, membuatnya tidak bisa bergerak.

“Kalau kau memutuskan mati… aku tidak akan membiarkan Cesar mati dengan mudah,” Jenderal Akira menempelkan bibirnya di bibir Asia, dahinya di dahi Asia, dan hidungnya di hidung Asia.

Napas mereka berdua menyatu, menciptakan uap panas yang menggoda, “Akan kusiksa dia pelan-pelan dengan pisauku. Akan kukuliti dia hidup-hidup, akan kupotong tubuhnya sedikit demi sedikit, akan kusiksa dia hari demi hari, akan kubuat dia bertahan selama mungkin, dan akan kuberikan penyiksaan paling menyakitkan yang pernah dirasakan manusia.”

Mata cokelat itu begitu dekat, menatap mata Asia hampir tak berjarak, “Sementara kau mati karena keegoisanmu, saudara kembarmu akan hidup dalam siksaan, memohon padaku untuk diizinkan mati, dan aku tidak akan mengizinkannya. Jadi kalau nanti kau sudah di alam baka, silakan melihat betapa menderitanya Cesar karena perbuatanmu.”

Ancaman mengerikan itu mengena, membuat Asia membelalakkan mata ngeri dan mulai gemetaran. Apalagi Jenderal Akira mendesaknya dengan wajah yang begitu dekat dengannya.

Jenderal Akira menatap mata Asia dalam, menyadari bahwa Asia sudah memikirkan baik-baik ancamannya. Lelaki itu mundur sedikit dan menarik jemari Asia ke bibirnya, mengecup jari manis tangannya yang dilingkari cincin emas pernikahan. Kecupannya bukan jenis kecupan lembut penuh kasih sayang, melainkan lebih kepada kecupan dingin penuh intimidasi. Matanya masih menatap tajam ke mata Asia.

“Kau adalah istriku, Asia, dan aku akan menyentuh isteriku, kapanpun, dimanapun, sebanyak apapun, semauku.” desisnya dengan suara tegas tak terbantahkan.

***

The General’s Wife Part 19 : Menyerah untuk Mewn

Draft by S. finished&edited&posted by A

 

“Baiklah.”

Jawaban Asia yang diucapkan dengan dingin, tenang, dan tanpa ekspresi itu membuat Jenderal Akira tertegun, matanya mengerjap, dirinya membeku seolah tak yakin.

“Apa?” Jenderal Akira melemparkan tatapan tajam menusuk, tidak percaya dengan pendengarannya sendiri. Asia yang dia kenal tidak akan semudah itu menyerah kepadanya.

“Aku bilang, baiklah.” mata Asia membalas dengan sinar menantang, perempuan itu bahkan duduk dengan nyaman di kursinya seakan-akan ancaman mengerikan yang diucapkan Jenderal Akira tadi sama sekali tidak mengganggunya. Ekspresinya malah cenderung bosan, membuat Akira menggertakkan gigi dengan marah.

“Jangan mempermainkanku, Asia. Tidak lucu.” Ancamnya sambil menyipitkan mata.

Asia mengangkat alis dan terkekeh sinis, “Sungguh kau laki-laki aneh, Jenderal. Tadi kau meledak-ledak ingin memaksakan kehendakmu. Sekarang ketika aku bilang baiklah, kau malah mempertanyakanku.”

Jenderal Akira mengerutkan keningnya, mencoba memahami perubahan sikap Asia yang tiba-tiba. Dia kebingungan ketika tidak menemukan ketakutan di sana.

Apakah perempuan ini sedang merubah strateginya?

Baiklah, kalau begitu. Dia akan mengikuti permainan perempuan ini.

“Bagus,” Akira menegakkan tubuh, memasang ekspresi penuh ancaman. “Aku akan mengingat kata-katamu. Kau sudah bilang setuju.” Kalimat terakhir itu diucapkan dengan nada penuh penekanan dan ancaman. Sang Jenderal kemudian membalikkan badan dengan langkah kasar menghentak, meninggalkan ruangan.

Asia terus mengamati sampai pintu besar ruang kerja itu terbanting di depannya. Dia menunggu beberapa menit untuk berjaga-jaga, dan setelah yakin bahwa pintu itu tidak terbuka lagi, Asia menghela napas panjang. Tubuhnya langsung lunglai di kursi besar itu, kehilangan tenaga.

Dia tidak boleh bersikap lemah seperti kelinci ketakutan di depan Jenderal Akira. Bersikap menantang seperti ular yang siap menyemburkan bisanya juga salah. Jadi dia akan mencoba strategi baru, bersikap penuh kompromi sambil menunggu waktu yang tepat… waktu yang tepat untuk mengalihkan perhatian Sang Jenderal.

***

Jenderal Akira melangkah turun dari jeep militernya dan hendak memasuki area benteng militer di Marakesh City. Benteng ini merupakan pusat pemerintahan seluruh After Earth. Seluruh bangunannya dibuat dari marmer hitam berlapis baja, berbentuk segi lima dengan sistem keamanan militer lengkap yang mengelilinginya.

Jenderal Akira menatap seluruh area yang sekarang nampak begitu pucat diselimuti salju. Bangunan yang hitam legam nampak kontras berpadu dengan putihnya salju yang menyelubungi. Dua warna bertolak belakang yang menyatu seakan berpelukan.

Mata Jenderal Akira terpaku mengamati kekontrasan warna yang dipaksa untuk berpadu itu, senyum miris muncul di bibirnya. Penyatuan dua warna itu membuatnya teringat sesuatu. Ya, dirinya dan isteri keras kepalanya.

Sampai sekarangpun dia tidak mengerti takdir yang memaksanya menyatukan diri dengan Asia. Dirinya dan Asia bagaikan dua warna bertolak belakang, dua sisi berlawanan yang seharusnya tidak perlu bersatu karena gesekannya akan menyakiti kedua belah pihak.

Dirinya tidak ingin terikat pada siapapun, tidak dengan cara seperti ini. Dia telah tumbuh dengan doktrin kuat yang ditanamkan oleh ayahnya, Jenderal Moroko, kepadanya. Yang utama adalah kelangsungan After Earth. Satu-satunya jalan untuk mempertahankan kedamaian di After Earth adalah persamaan, karena perbedaan akan memicu perselisihan dan berujung pada perang. Seluruh tujuan hidupnya hanyalah demi mempertahankan kedamaian di After Earth.

Negara ini berisi manusia-manusia hebat yang bertahan di tengah gempuran perang mengerikan yang tidak berujung. Menurut catatan sejarah dan cerita dari ayahandanya sendiri, After Earth ini dulunya adalah lokasi luas yang digunakan sebagai tempat penampungan serta lokasi penelitian manusia-manusia kebal yang didatangkan dari seluruh penjuru bumi.

Masa-masa menjelang tahun 2500 adalah masa yang paling kelam di muka bumi. Ketika itu, teknologi bahkan sudah melewati pencapaian tertinggi yang pernah ada, yang sayangnya juga diikuti dengan memuncaknya keangkuhan manusia. Setiap pihak mulai saling mencurigai dan mulai berusaha menunjukkan siapa yang terhebat. Teknologi membuat manusia merasa memiliki kekuatan tak terbatas, lupa akan takdirnya bahwa mereka hanyalah mahluk lemah dengan segala kekurangannya.

Awal mula didirikan After Earth terjadi ketika negara-negara yang berseteru mulai meningkatkan kekejaman dengan beralih dari menggunakan senjata nuklir menjadi menggunakan senjata biologi. Senjata ini membunuh dan menghabisi dengan kejam seluruh mahluk hidup yang bahkan sudah menderita karena radiasi nuklir. Bukan hanya manusia yang mulai punah, hewan, tumbuhan dan bahkan partikel-partikel kecil hingga ke tingkat sel, tersapu habis. Menyisakan sedikit mahluk yang bisa bertahan hidup.

Ketika semua sudah hampir terlambat, seorang pemimpin besar, ayahandanya, Jenderal Moroko akhirnya tersadar bahwa mereka terlalu sibuk menunjukkan siapa yang paling hebat, hingga lupa bahwa takdir manusia sesungguhnya adalah untuk melanjutkan eksistensinya di muka bumi. Maka Jenderal Moroko pun mengerahkan seluruh kekuatan yang tersisa, untuk menyerukan misi penyelamatan. Dibangunlah sebuah Shelter raksasa di atas gurun luas yang menjalankan project utama penyelamatan ras manusia.

Shelter raksasa itu dulu bernama Unit Militer 03 sering disebut UM03, dikelola oleh Militer terbaik dan berisi berbagai teknologi tertinggi yang khusus dipersiapkan untuk menyelamatkan eksistensi manusia di bumi. Seluruh kegiatannya diatur dan dijaga oleh pasukan militer kelas tinggi terpilih, di bawah kepemimpinan Jenderal Moroko.

Manusia-manusia dengan gen unggul yang memiliki kekebalan alami dikirimkan ke UM03, laboratorium-laboratorium dengan teknologi unggul didirikan, termasuk di dalamnya laboratorium tekonologi pangan, teknologi kesehatan, teknologi senjata, sistem energi terbarukan sampai bioteknologi untuk menyelamatkan bibit-bibit tanaman dan kumpulan sample genetik hewan sebagai antisipasi jika kepunahan mengancam.

UM03 dibangun di atas gurun, karena gurun adalah satu-satunya tempat tersisa yang masih lolos dari kehancuran akibat perang. Meskipun demikian, teknologi mengizinkan mereka untuk menciptakan rekayasa-rekayasa cuaca sehingga dapat menangkap sangat sedikit uap air yang tersisa di udara yang sangat kering sebagai sumber air terbarukan yang melimpah. Mereka juga berhasil mengembangkan bakteri-bakteri yang menguntungkan untuk perkembang biakan dan pertumbuhan tanaman di tanah yang tandus.

UM03 juga menggunakan perlindungan teknologi tinggi dari serangan nuklir. Berbentuk cangkang pelindung berupa medan energi yang diekstrak dari energi matahari, membentuk kubah raksasa berwarna biru serupa langit. Membuat orang-orang yang berada di dalamnya, seolah berada dalam satu cangkang pelindung sangat kuat, yang melingkupi mereka dari kekacauan dunia luar.

Hanya ada dua jenis manusia yang boleh memasuki UM03, mereka adalah orang-orang yang memiliki gen unggul dan gen kebal. Dua gen ini adalah dua gen yang diidentifikasi mampu bertahan dibawah serangan radiasi nuklir dan senjata biologis. Hampir seluruh penghuni UM03 memiliki gen kebal, hanya sedikit yang memiliki gen unggul. Jenderal Moroko, pemimpin shelter raksasa UM03 adalah salah satu pemilik gen unggul.

Beliau memiliki gen unggul, jenis gen yang membuat beliau memiliki kemampuan lebih dibandingkan manusia lain, gen ini memiliki kemampuan intelejensi di atas rata-rata dan kemampuan fisik layaknya manusia super.

Sedikitnya jumlah pemilik gen unggul ini semakin menjadi ketika ditemukan bahwa mereka tidak bisa berkembang biak dengan sembarang manusia, ada dua tipe gen unggul. Tipe A dan tipe B, dan dua jenis ini hanya bisa berkembang biak jika melakukan perkawinan silang.

Manusia dengan tipe A yang lebih superior hanya bisa memiliki keturunan jika kawin dengan manusia tipe B. Karena kelangkaan dan sistem reproduksi yang sulit itulah, jumlah pemilik gen unggul makin lama makin habis dan diindikasikan hampir punah. Dikatakan bahwa hanya akan ada satu atau dua pemilik gen tersebut dalam satu dekade waktu, bahkan kadang tidak ada sama sekali.

Ketika kemudian perang besar yang ditakutkan terjadi dan menghancurkan hampir seluruh dunia serta menewaskan semua manusia di luar UM03, daratan tempat berdirinya UM03 adalah satu-satunya yang bertahan. Sementara daratan lain yang mengelilinginya musnah, membuat After Earth selayaknya pulau terapung yang berdiri sendirian di tengah samudera luas yang menjadi pembatasnya.

Seluruh manusia yang berada dalam perlindungan UM03 lalu memutuskan untuk bersumpah setia di bawah kepemimpinan Jenderal Moroko, sang pemimpin besar yang mempersatukan serta menyelamatkan mereka semua. Pemerintahan pun dibangun dengan basis militer dan didasari asas persamaan yang kental. Namanya pun diubah dari Shelter UM03 menjadi After Earth, karena bumi yang lampau sudah tidak ada, mereka adalah koloni baru yang unggul, koloni yang muncul setelah bumi musnah.

Asas persamaan yang dipaksakan ini terntunya pada awalnya menimbulkan pergolakan. Manusia-manusia yang mengutamakan hak asasi mereka mencoba mengambil alih dan menggalang dukungan. Sayangnya, karena mereka masuk ke dalam After Earth tanpa kekuatan, dengan mudah mereka disapu bersih oleh pemerintahan Jenderal Moroko yang otoriter.

Lama kelamaan, pergolakan demi pergolakan melemah, hanya serupa riak-riak kecil yang mudah disapu dengan satu kali hembusan nafas. Penduduk yang semula mencoba mempertahankan perbedaan mulai kelelahan, mereka terbawa arus dan pada akhirnya bersedia mengadaptasi pola pikir Jenderal Moroko yang dipaksakan. Bahwa persamaan adalah satu-satunya jalan menuju perdamaian.

Jenderal Akira merasakan tetesan salju menyentuh pipinya, dan dirinya mengernyitkan dahi ketika pikirannya kembali ke masa sekarang. Jemarinya bergerak menyentuh gumpalan salju berwarna putih pekat. Matanya lalu menatap warna putih serupa bubuk kesucian tanpa noda di tangannya.

Asia.

Nama itu selalu muncul di benaknya ketika dia melihat warna putih. Putih mengingatkannya pada Asia. Perempuan itu layaknya mahluk dunia lain dengan kekuatan mengerikan. Kekuatan untuk melemahkan hatinya.

Dirinya tidak pernah kesulitan menghadapi siapapun. Hanya dengan Asia dia merasakan pergolakan-pergolakan aneh, perasaan yang tidak disukainya, rasa takut, rasa cemas, rasa ngeri dan juga … penyesalan.

***

Ruang pertemuan dengan meja besar berbentuk oval itu penuh oleh orang-orang berseragam militer. Ekspresi mereka tampak serius meskipun diselimuti kegelapan. Lampu memang sengaja digelapkan karena sebuah video di layar digital besar sedang ditayangkan. Video itu menampilkan gambar-gambar ledakan bom dan beberapa hal penting yang berhasil ditangkap oleh kamera pengawas yang dipasang di beberapa penjuru.

“Sepertinya dengan ditangkapnya Cesar membuat situasi memanas.”

Salah seorang Jenderal bergumam setelah video yang berisi peristiwa ledakan bom di basis militer kecil bagian perbatasan After Earth diputar. Ya, sejak beberapa hari ini teror bom mulai terjadi, semula kecil lalu makin lama makin besar dan makin intens. Teror bom itu selalu menyerang basis-basis militer After Earth, karena memang kekuatan pertahanan After Earth ada di bagian militernya.

Meskipun menunjang asas persamaan, sistem tersebut tidak berlaku untuk bagian militer. Jenderal Moroko tetap menjalankan sistem militer sesuai kedudukan dan jasa, seperti sistem militer di masa lampau. Semakin tinggi kedudukan dan jasa yang diberikan kepada After Earth, semakin besar pula penghargaan yang akan diperoleh.

Sebagai contoh, kaum militer berbaju hitam tentu saja memperoleh fasilitas yang lebih bagus dibandingkan kaum militer berbaju biru tua. Seorang Jenderal tentu saja mendapatkan perlakuan yang lebih khusus dibandingkan seorang letnan. Hal itu dikarenakan Jenderal Moroko percaya, bahwa militer merupakan kekuatan utama negara dan pengaturan militer yang penuh dengan kedisiplinan, batas-batas kepatuhan akan cukup menjaga mereka dari pepecahan.

“Serangan ini makin lama makin besar, aku curiga ada orang dalam di basis militer kita yang membantu. Mereka tidak mungkin semudah itu masuk ke dalam dan meledakkan bom kalau tidak dibantu dari dalam,” Jenderal Akira mengerutkan kening dan bergerak menuju peta digital besar yang terpampang hampir memenuhi seluruh sisi dinding pertemuan.

Matanya mengamati dengan seksama tanda silang merah, yang menandakan lokasi ledakan bom selama beberapa hari terakhir di peta itu. Serangan itu menyebar, sengaja dibuat tidak berpola supaya tidak bisa ditebak kemana tujuan serangan berikutnya.

Tetapi tentu saja, dirinya, sebagai salah seorang yang memiliki gen unggul bisa menebaknya dengan analisa sederhana, biasanya memang susah karena yang dihadapinya adalah Cesar, seorang ahli strategi yang sepadan. Tetapi sekarang, tanpa ada Cesar di sana, Organisasi Bendera Merah rupanya telah kehilangan kepandaiannya.

Ada senyum tipis di bibir Sang Jenderal ketika berucap.

“Kita akan menuju distrik Capilano. Markas besar mereka ada di sana. Siapkan perjalanan diam-diam, berikan hadiah istimewa untuk tuan rumah yang akan kita kunjungi.”

***

Malam sudah menjelang dan hawa dingin mulai menelusup masuk ke sela-sela celah udara di pondok itu. Asia yang sedari tadi memilih duduk di ruang perpustakaan di ujung rumah, menghela napas panjang. Matanya menatap sendu ke arah jendela berkaca bening anti peluru yang menampilkan pemandangan gelap terselimut salju yang mulai turun dan memenuhi pandangan.

Dia duduk di sofa dengan buku di pangkuannya, buku yang tidak terbaca sejak tadi karena dia tidak mampu memusatkan pikirannya untuk tenggelam dalam dunia fantasi yang ditawarkan oleh kata demi kata di dalam buku itu.

Dirinya sekarang berada dalam kesendirian yang semu. Kesendirian semu karena dia tahu bahwa dirinya tidak pernah benar-benar ditinggalkan sendirian.

Ada kamera-kamera pengawas di semua sisi, pun dengan beberapa pasukan militer berseragam hitam yang lalu lalang di depan ruangan, kadang menengok sedikit ke arahnya, memastikan bahwa dirinya masih duduk di sana. Ya, pintu ruangan tempatnya berada tidak boleh ditutup, harus selalu dibuka untuk memastikan dirinya tidak mengunci diri di dalam ruangan dan melakukan hal-hal gila karena dorongan keputusasaan.

Asia bahkan tidak tahu apa yang dirasakannya sekarang, hatinya terasa sesak dan penuh oleh berbagai emosi yang pada akhirnya mencapai titik puncak dan membuatnya merasa hampa. Sebuah paradoks hati yang tak berujung.

Diam di dalam kamar ini, dibawah ancaman dan tidak bisa berbuat apapun untuk menyelamatkan Cesar membuatnya merasa pilu. Posisinya sekarang sama persis seperti waktu itu sebelum dia lupa ingatan. Posisi lemah dan mengerikan ketika dia tidak bisa berbuat apa-apa dan membiarkan Jenderal Akira melakukan apapun yang dia suka kepadanya.

Bayangan akan Cesar yang terbaring lemah di sana, begitu pucat dan disedot darahnya sedikit demi sedikit terasa amat sangat mengerikan. Hanya lelaki berhati iblis saja yang tega melakukan hal sekeji itu pada manusia lainnya. Kekejian Jenderal Akira menunjukkan kesombongannya, lelaki itu mungkin merasa dirinya memiliki kekuatan superior sehingga merasa tidak ada manusia di After Earth ini yang mampu mengalahkannya.

Ingatan Asia melayang pada kebakaran itu dan seketika kesesakan yang memenuhi rongga dadanya menghebat. Ingatannya melayang ke kenangan samar di masa lalu dan membuatnya mengerutkan kening. Dia terselamatkan bukan? Oleh seorang lelaki berseragam militer hitam? Dulu dia tidak pernah memikirkan hal ini, apalagi mempertanyakannya, karena ketika siuman dia berada ditempat asing, dinikahi paksa dan menerima perlakuan kejam bertub-tubi dari Sang Jenderal.

Tetapi sekarang dia mulai bertanya-tanya…..

Mungkinkah Jenderal Akira yang menyelamatkannya? Apakah dia berhutang nyawa kepada laki-laki itu?

Asia menghembuskan napas dengan kasar, bayangan bahwa dirinya memiliki hutang, apalagi hutang nyawa kepada sosok kejam tidak punya hati itu membuatnya merasa benci. Dia tidak mau berhutang apapun kepada Jenderal Akira.

Dengan kasar Asia menggelengkan kepalanya, berusaha menepis pikiran tidak menyenangkan yang mulai memenuhi benaknya. Dia tidak akan memikirkan hal itu lagi, lebih baik dia memikirkan yang lebih penting, seperti keselamatan orang-orang yang dicintainya tentu saja.

Ah… bahkan sampai sekarangpun dia tidak tahu bagaimana nasib anak-anak penghuni panti dan Chaterine.

Apakah Jenderal Akira sejahat itu mampu melukai anak-anak yang tidak berdosa dan wanita tua?

Asia menghembuskan napas kasar. Ya Jenderal Akira pasti mampu. Lelaki itu tidak punya hati dan tidak akan segan-segan menyiksa manusia demi mendapatkan keinginannya. Asia tidak tahu kutukan apa yang mengenai genetiknya hingga dirinya menjadi target Jenderal Akira. Seandainya saja takdir bisa diubah, dia pasti lebih memilih menjadi perempuan biasa dengan kehidupan yang biasa-biasa saja.

Sayangnya sekarang dia ada di sini. Seorang perempuan dengan kehidupan yang tidak biasa-biasa saja karena sudah diporak porandakan oleh Jenderal Akira. Dirinya tidak bisa terus-terusan menoleh ke belakang dan berharap masa lalunya bisa dirubah. Yang bisa dia lakukan sekarang adalah bertahan, melangkah maju dan menanti kesempatan untuk melawan.

Ada dua hal yang harus dilakukannya sekarang, menyelamatkan Cesar dan mencari tahu nasib Chaterine serta anak panti lainnya. Jika nanti mereka juga perlu diselamatkan, dia akan mencoba menyelamatkan mereka. Mungkin sekarang terlihat sulit dan mustahil, tetapi masa depan siapa yang tahu?

Jika dengan menyerah dia bisa membuat Jenderal Akira lengah, maka dia akan menyerah.

***

Ketika Jenderal Akira melangkah memasuki pintu ruang perpustakaan yang terbuka itu, dia mengalami deja vu.

Matanya menelusuri Asia yang tertidur di sofa, tampak begitu polos dan mungil sehingga tubuh kecilnya seolah rapuh tertelan oleh sofa besar berwarna cokelat tua yang melingkupinya.

Malam sudah beranjak semakin larut dan hawa dingin semakin menusuk. Pemanas ruangan sudah dinyalakan, tetapi pintu ruangan yang terbuka tetap saja menghantarkan hawa dingin yang mengalahkan kehangatan.

Jenderal Akira mengernyit ketika menyadari bahwa ruangan ini terlalu dingin. Anak buahnya yang berjaga di lorong mungkin tidak berani melangkah masuk ke dalam ruangan untuk sekedar menyalakan perapian karena tidak ingin mengganggu Asia yang sedang tertidur pulas di kursi.

Jenderal Akira melangkah menyeberangi ruangan dan berdiri di depan sofa tempat Asia tertidur. Langkahnya pelan tanpa sengaja, seolah tidak ingin membangunkan puteri tidur yang begitu lelap tanpa pertahanan. Dirinya lalu berdiri terpaku di sana, tidak bergerak dengan kepala menunduk dan mata menatap ke bawah, ke arah perempuannya yang sedang tertidur pulas.

Asia nampak begitu damai, kepalanya sedikit miring tertunduk ke bawah dalam posisi tak nyaman yang membuat Akira bertanya-tanya apakah hal itu akan membuat Asia sakit leher ketika nanti dirinya terbangun. Kedua lengan Asia terlipat lunglai di atas sebuah buku terbuka di pangkuannya. Mata Akira melirik ke arah buku terbuka itu, buku tentang dongeng para dewa di masa lampau, dan senyum sinis muncul di bibirnya ketika menyadari bahwa buku itu bahkan belum dibuka melampaui halaman pertamanya.

Perempuan ini tampak begitu rapuh, meskipun Akira tahu bahwa ada sebuah kekuatan besar di dalam diri Asia yang sebagian besar ia yakini berbahan bakar dari sifat keras kepala. Dirinya belum pernah menemui perempuan dengan sifat keras kepala seperti Asia, sifat keras kepala pemberani yang terasa aneh karena tidak seimbang dengan tubuhnya yang mungil.

Apa yang harus dia lakukan pada perempuan ini? Menggenggamnya terlalu keras akan membuatnya hancur, tetapi melepaskannya akan membuatnya pergi.

Sambil menipiskan bibir, Jenderal Akira akhirnya membungkukkan tubuh dan merengkuh tubuh mungil yang tertidur itu ke dalam rangkulan lengannya. Mengangkatnya dengan begitu mudah ke dalam gendongan.

Tubuh Asia dingin, membuat Akira mengerutkan dahinya tidak suka, dia harus memikirkan untuk menambah pemanas di setiap ruangan agar hal ini tidak terjadi lagi.

Sementara Asia yang tidak menyadari bahwa dirinya berada di dalam pelukan musuh besarnya, langsung meringkuk dengan nyaman di dada Akira, seolah mencari sumber kehangatan baru untuk tubuhnya yang dingin.

Akira melangkah melalui lorong menuju tangga lantai dua tempat kamar mereka berada. Seorang penjaga yang bertugas mengawal di depan pintu langsung membukakan pintu untuknya, dan Akira melangkah masuk sambil memberi isyarat kepada penjaga itu supaya pergi.

Dia kemudian menutup pintu itu dengan kakinya dan melangkah ke ranjang. Dengan hati-hati dibaringkannya tubuh Asia ke atas ranjang. Asia langsung meringkuk dengan nyaman di sana, sementara Akira kembali terpaku, berdiri lagi di tepi ranjang sambil mengamati tubuh Asia yang tampak nyaman di atas ranjang bulu angsa itu.

Pakaian Asia yang berwarna putih tampak begitu kontras dengan penutup tempat tidur yang berwarna hitam gelap. Kekontrasan ini mengingatkannya akan pemandangan yang mengganggu pengelihatannya tadi pagi. Pemandangan akan benteng Marakesh City yang hitam legam berselimut salju putih. Penyatuan yang dipaksakan.

Jika dirinya memeluk Asia, akankah mereka berdua seperti itu? Hitam dan putih yang dipaksa bersatu? Akan seperti apa mereka nanti? Akankah hitam mengeras dan menelan putih sampai habis? Ataukah putih melelehkan warna hitam lalu memudarkannya hingga lenyap?

Dengan kasar lelaki itu mengacak rambutnya, lalu memutari ranjang, dia membuka mantel militernya, dan melipatnya dengan rapi sebelum meletakkannya di atas nakas yang terletak di samping ranjang. Setelah itu Akira duduk dan melepaskan sepatunya, lalu dia naik ke atas ranjang, berbaring di sebelah Asia dengan tubuh kaku dan mata menatap langit-langit kamar.

Lama sekali dia berada dalam posisi seperti itu sampai kemudian sebuah gerakan mengejutkannya. Tubuh Asia yang sepertinya mencari kehangatan bergeser dan mendekat ke arahnya, menempel seolah mencari perlindungan dari hawa dingin.

Akira menoleh sedikit ke arah rambut Asia yang terburai di lengannya. Ada senyum masam di sana, ketika pada akhirnya dia menggerakkan lengan dan merengkuh tubuh Asia, membiarkan perempuan itu meringkuk dengan rapuh di bawah balutan sebelah lengannya.

***

Entah kenapa Asia terbangun begitu saja.

Matanya terbuka dan dirinya merasa bingung ketika memandang warna hitam yang pekat di matanya. Jantungnya langsung berdebar, apalagi ketika menyadari ada lengan kuat yang memeluk sisi pinggangnya dan jemari kokoh yang merengkuh perutnya.

Dia terkesiap pelan lalu menghembuskan napas pelan dan berusaha menetralkan debar jantungnya. Setidaknya tubuh laki-laki yang begitu dekat dengannya sekarang tampaknya belum menyadari bahwa Asia sudah terbangun.

Kenapa dirinya berada di atas ranjang? Bersama dengan laki-laki ini pula! Apa yang terjadi?

“Kau tertidur di kursi, aku mengangkatmu kemari.”

Suara tenang yang diucapkan lambat-lambat itu membuat Asia hampir saja terloncat kaget. Dia mendongak dan menyadari bahwa lelaki di sebelahnya ini ternyata sedang menunduk menatapnya dengan tatapan aneh yang tidak mampu diartikan oleh benaknya.

Merasa malu karena ketahuan, Asia langsung meronta dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Jenderal Akira. Sayangnya, diluar dugaannya, Sang Jenderal malahan melepaskannya begitu saja, membuat tubuhnya yang meronta terdorong jauh, penuh rasa jengkel sekaligus malu.

“Kau tidak perlu meronta untuk lepas dari pelukanku, Asia,” Jenderal Akira memiringkan tubuh, menopang kepala dengan sebelah tangan dan siku di atas bantal. Tatapannya penuh ejekan, “Kau tinggal meminta dan aku akan melepaskanmu, aku memutuskan tidak akan memaksamu lagi.”

“Tidak akan memaksaku?” Asia terengah, beringsut ke sisi terjauh ranjang dan berusaha meredakan emosi di matanya.

Dia tidak boleh terpancing emosi, lelaki ini sedang berusaha memanipulasi dirinya seperti biasa. Asia sudah bertekad untuk bersikap tenang, karena terbukti sikap tenangnya adalah satu-satunya hal yang bisa membuat Jenderal Akira kebingungan. Jika dia terpancing emosi dan meledak, hal itu akan memuaskan sang Jenderal, karena dia akan menjadi sosok Asia lama yang diinginkannya. “Maafkan aku wahai jenderal yang terhormat, tapi aku rasa kalimat itu adalah salah satu kebohongan terbesarmu.”

Jenderal Akira memasang wajah tanpa ekspresi, “Aku serius.” Gumamnya kemudian.

Asia mengerutkan kening, berusaha menenangkan diri sambil mencoba membaca arti di balik bola mata hitam kelam yang sekarang sedang menatapnya dengan intens.

Tidak terbaca. Bola mata itu terlalu legam dengan benteng pertahanan emosi yang terlalu kuat, bagaimanapun Asia mencoba menembusnya dia tidak akan pernah berhasil.

“Tadi siang kau mengucapkan kata-kata mengancam menjijikkan hanya untuk memaksakan dirimu boleh meniduriku semaumu, sekarang kau bilang tidak akan memaksaku. Apakah aku salah menganggap bahwa apapun yang keluar dari mulutmu adalah kebohongan?” Asia tersenyum miris, “Tidak ada yang lebih menjijikkan dari seorang laki-laki yang tidak bisa memegang perkataannya sendiri.”

“Aku belum selesai berbicara,” Jenderal Akira melanjutkan, ekspresinya mengeras, mungkin tersinggung akan perkataan Asia, “Apakah kau lupa bahwa tadi siang aku menawarkan kompromi?”

“Kompromi darimu selalu berujung mencurigakan, aku yakin kompromi yang kau tawarkan hanya akan menguntungkan dirimu, bukan kami.” Asia menyahut sambil menatap Jenderal Akira dengan hati-hati.

Kata ‘kompromi’ ini sedikit banyak mulai mengusik pikirannya. Sekarang, ketika dirinya tidak lagi terbawa emosi setelah melihat kondisi Cesar yang menyedihkan, kata ‘kompromi’ itu terdengar begitu menggoda. Dengan ragu dirinya menimbang-nimbang, apakah perlu tetap bertahan, ataukah sebaiknya dia melunak saja?

“Kompromi yang ini mungkin akan sedikit menguntungkanmu,” ucap Jenderal Akira dengan nada dingin, “Aku tidak akan membunuh Cesar. Setelah kau melahirkan seorang anak dengan selamat, aku akan melepaskannya. Dia boleh pergi dengan damai, menempuh hidupnya sendiri.”

Mata Asia membelalak mendengar kalimat itu. Harapan berpendar di benaknya, membuat binar-binar tak tertahankan muncul di sana.

Benarkah ini? Benarkah apa yang didengar oleh telinganya ini?

Sekarang dirinya merasa seperti sosok orang malang yang rapuh, orang malang tanpa harapan yang didatangi oleh iblis menggoda, memberikan penawaran menarik, yang mungkin harus dibayarnya dengan harga mahal.

Akan selalu ada bayaran mahal di balik setiap tawaran iblis bukan?

“Kau tidak mungkin memberikan kebebasan Cesar hanya dengan imbalan seorang anak. Tidak ada untungnya bagimu. Dengan atau tanpa Cesar, kau bisa memaksaku memberikan anak kepadamu,” Asia mengungkapkan kecurigaannya, “Jadi kenapa kau menawarkan kompromi ini kepadaku, Jenderal? Apa yang sebenarnya kau mau?”

“Kau.”

Kalimat itu menguar di udara, memecah suasana hening tanpa nada, seolah menghentikan detak jantung Asia meskipun hanya dalam waktu sepersekian detik.

Mata Asia membelalak, sementara eskpresi wajahnya tampak tidak percaya. Bingung akan jawaban singkat yang sama sekali tidak disangka-sangkanya.

“Aku?” dia mengulangi jawaban itu, dari sudut pandang dirinya tentu saja. Dirinya lapar akan penjelasan dan tidak cukup kenyang hanya dengan jawaban singkat yang mengusik kalbunya.

“Ya. Kau. Menyerah padaku. Terikat kepadaku selamanya, seumur hidupmu,” mata Jenderal Akira menyipit, “Setelah Kau melahirkan anakku nanti, aku akan membangunkan Cesar. Aku berjanji dia akan pulih, dia akan bangun dengan keadaan sehat, dia akan bisa melanjutkan hidupnya seperti sedia kala. Aku akan menjaminnya, bahkan kalau nanti dia ingin kembali menjadi orang militer, aku akan mengizinkannya.”

Asia mengerutkan kening, “Cesar tidak akan mau berada di bawah kuasamu lagi.” desisnya geram.

“Oh, aku belum menyelesaikan kalimatku, Asia.” Jenderal Akira menyela dengan suara tenang, “Dia akan melanjutkan kehidupannya, tanpa ada kau, Asia. Aku akan menyuruh dokter untuk mengambil ingatannya dan mengisinya dengan ingatan baru. Ingatan yang tidak ada kau di dalamnya. Dia akan terlahir kembali menjadi manusia baru, manusia baru yang lebih bahagia.”

Asia tertegun. Mengambil ingatan Cesar? Dia baru saja menemukan saudaranya. Saudara kembarnya yang hilang begitu lama, belahan hatinya yang sangat dicintainya. Dan sekarang dia harus memilih menghilangkan diri dari seluruh pikiran Cesar?

“Bukankah itu yang kau inginkan, Asia? Kebahagiaan Cesar? Percayalah kepadaku, kakak kembarmu itu akan lebih bahagia terlahir kembali tanpa kau di dalamnya. Hidupnya akan tenang, tidak perlu terbebani konflik memikirkanmu, atau impian konyolnya bersama Organisasi Bendera Merah. Kau hanya perlu berkorban sedikit, kau hanya perlu menjadi milikku, selamanya, tidak memberontak dan tidak melarikan diri.”

Kata-kata sang Jenderal bagaikan bisikan iblis yang mencoba membujuknya jatuh ke dalam lubang gelap hitam yang tak berujung.

Asia mengernyit, sekarang dia menemukan jawabannya. Lelaki ini bukanlah malaikat, apa yang ada di dalam jiwanya terlalu gelap untuk menjadi malaikat, bahkan malaikat kematian sekalipun. Lelaki ini adalah iblis, iblis yang menyamar serupa malaikat untuk menjerat korbannya.

“Kenapa sekarang kau menjadi tamak, Jenderal? Dulu kau hanya menginginkan seorang anak, dan sekarang bahkan kau menginginkanku untuk terikat selamanya bersamamu?” Asia bertanya, tak lupa menyertakan nada jijik yang mengganggu di dalam suaranya.

Pertanyaannya yang memancing itu sama sekali tidak berhasil mengubah ekspresi Jenderal Akira yang datar, lelaki itu mengangkat bahu, seolah tak peduli.

“Mungkin karena aku sangat membencimu, Asia. Aku ingin menghukummu dan membuatmu terus menderita. Aku menikmati penderitaanmu, tidak tahukah kau? Aku sangat sadar bahwa hukuman yang paling berat untukmu adalah membuat dirimu terikat denganku selamanya, dan tidak bisa lari lagi. Dan aku bersedia memberikan kebebasan bagi Cesar, hanya untuk bisa menikmati penderitaanmu.”

Asia membelalakkan matanya, merasa sakit sekaligus pedih. Oke. Lelaki ini benar-benar iblis yang jahat. Memberikan keselamatan kepada yang satu hanya untuk melihat penderitaan yang lain? Hanya orang yang benar-benar jahat yang bisa melakukannya.

Dia menghela napas panjang, lalu memutuskan untuk menyerah. Kalau memang penderitaannya bisa menjamin keselamatan Cesar, dia akan melakukannya.

“Apakah aku bisa memegang kata-katamu?” Asia bertanya pelan, menatap Jenderal Akira dengan tatapan penuh ancaman.

Jenderal Akira mengangguk sedikit, ada kepuasan terpancar dari matanya ketika menyadari bahwa Asia memutuskan untuk menyerah.

“Kau bisa memegang kata-kataku, Asia. Aku bersumpah demi kejayaan After Earth.”

“Apakah aku boleh meminta kebebasan juga untuk Chaterine, ibu panti asuhanku dan anak-anak panti lainnya?” Asia bertanya lagi.

Alis Jenderal Akira sedikit terangkat mendengar pertanyaan Asia, ada nada mengejek yang tersirat di balik kata-katanya.

“Mencoba peruntunganmu lagi, Asia?”

Pipi Asia memerah karena malu, “Kalau kau memintaku terikat selamanya denganmu, kau harus membebaskan orang-orang tak bersalah yang ada di antara kita.” jawabnya tegas.

Jenderal Akira mengangkat alis mendengar jawaban Asia, dia lalu menganggukkan kepala, “Mereka baik-baik saja sampai sekarang dan melanjutkan kehidupannya dengan baik, dalam pengawasanku tentu saja, ” mata Jenderal Akira menyipit, “Aku membiarkan mereka menjalani kehidupan normal mereka, tetapi aku tidak akan melepaskan mereka, mereka semua tetap berada di dalam pengawasanku meskipun tidak sadar. Jadi ketika kau memutuskan untuk melanggar janjimu, Asia… aku tetap punya seseorang untuk kubunuh.”

Kalimat terakhirnya diucapkan begitu dingin dan dengan nada penuh ancaman, membuat bulu kuduk Asia berdiri. Dia menatap mata kelam yang berkilat penuh kekejaman itu dan menyadari keseriusan yang tersirat di sana.

Kondisi Chaterine dan anak panti lainnya baik-baik saja, Jenderal ini tidak berbohong kepadanya. Tetapi jika Asia macam-macam, mereka semua tidak akan baik-baik saja. Oke. Asia mengerti. Sekarang dia harus bersikap hati-hati.

Lelaki licik di depannya ini sudah menawarkan kompromi, sebuah kompromi yang menggiurkan, meskipun masih saja terasa mencurigakan. Tawaran dari sosok iblis memang akan selalu menyimpan pedang tersembunyi yang akan menusuknya di kemudian hari, Asia harus tetap waspada.

“Baiklah, aku menerima kompromimu. Aku akan terikat denganmu selamanya. Tidak memberontak dan tidak akan mencoba melarikan diri.”

“Dan tidak perlu kupaksa.” Jenderal Akira menyela dengan nada yang membuat Asia membelalakkan mata jengkel.

“Kau sendiri bilang kau tidak akan memaksaku!” serunya keras, mencoba mempertahankan diri.

Ada tatapan menantang yang dilemparkan oleh Jenderal Akira ketika membalas tatapan Jengkel Asia,

“Dan kau sudah berkompromi untuk patuh, Asia. Jadi aku memang tidak perlu memaksamu.” ucap Sang Jenderal dengan nada penuh kemenangan.

Asia ternganga, benci dengan kemampuan laki-laki ini untuk mempermainkan pikirannya. Dengan geram dia menggertakkan gigi, memilih untuk tidak berkonfrontasi lalu membalikkan badan dengan kasar, memunggungi sang Jenderal.

“Terserah padamu!” serunya marah. Tubuhnya terbujur kaku dengan kepala menatap nyalang ke sisi lain tembok di ujung ranjang, berusaha memutus kontak dengan lelaki yang dibencinya.

Sayangnya keinginannya tidak terkabul, Sang Jenderal malah beringsut mendekat, menempelkan bagian depan tubuhnya begitu rapat ke punggung Asia dengan sengaja, kepalanya berada di atas kepala Asia, dengan dagunya menyentuh pucuk kepala Asia, sementara sebelah tangannya menyelip menggoda di bawah lengan Asia, menantang perempuan itu untuk memberontak. Jemarinya yang kokoh bergerak, mencengkeram lembut sisi depan tubuh Asia supaya merapat mundur ke tubuhnya.

Mereka berdua berbaring serupa dua sendok yang disatukan, begitu rapat di ujung ranjang, hanya memenuhi satu sisi ranjang yang begitu lebar.

“Apakah dengan memelukmu seperti ini aku mengganggumu, Asia?” Jenderal Akira menundukkan kepalanya, napasnya terasa panas di telinga Asia, berbisik pelan dengan nada menggoda yang menjengkelkan, membuat Asia langsung menggeram dengan marah.

“Tidak. Aku sama sekali tidak merasa terganggu!” serunya kesal.

Lelaki itu bukannya menjauh, malah semakin mengetatkan pelukannya. Jemarinya bergerak pelan meraba perut Asia dengan usapan lembut seringan bulu, membuat bulu kuduk di sepanjang punggung Asia meremang, sebuah kecupan lembut didaratkan di sisi telinganya.

“Kalau seperti ini?” lelaki itu menyusulkan gigitan pelan di telinganya, “Apakah aku menggangumu?”

Asia menggigit bagian dalam mulutnya untuk mencegah dirinya mengerang frustrasi,

“Ya! Kau sangat menggangguku dan membuatku merasa jijik, Jenderal. Jadi aku minta kau menghentikannya.”

“Kau beruntung.” Di luar dugaan, Jenderal Akira melepaskan pelukannya dan menjauhkan tubuhnya, “Kau sedang tidak bisa diganggu dan aku sedang tidak tergoda untuk mengganggumu,”

Entah kenapa suaranya berubah menjadi dingin mengerikan sebelum kata-katanya berlanjut, “Besok aku akan pergi ke sebuah kota. Di sana, hampir seluruh kekuatan Organisasi bendera merah akan terpusat karena mereka dengan bodohnya tidak sadar bahwa aku bisa membaca pola mereka. Aku akan menyapu bersih seluruh organisasi itu tanpa ampun, dan kali ini aku tidak akan menyisakan satu orangpun, bahkan seorang bayi sekalipun. Aku tidak akan mengulangi kesalahan ayahandaku yang melewatkan kalian. Seluruh anggota Organisai Bendera Merah akan aku habisi, berikut keluarganya dan semua orang yang mengenalnya. Mayat mereka semua akan aku gantung di lapangan After Earth untuk memberi peringatan ke semua penduduk bahwa mereka akan bernasib sama jika tergoda untuk memberontak.”

Asia menolehkan kepalanya dan menatap kembali Sang Jenderal, ada kepedihan di sana, kepedihan karena dia tidak mampu menyelamatkan orang-orang yang disebutkan oleh sang Jenderal. Ini di luar kemampuannya, betapa inginnya dia menolong orang-orang itu, tetapi dia tahu, ketika Jenderal Akira memutuskan untuk menghabisi orang, tidak akan ada yang bisa menghentikannya.

“Kau senang sekali memamerkan kekejamanmu. Apakah kau menceritakan rencanamu itu hanya untuk menggangguku?”

“Tidak untuk mengganggumu, Asia.” Jenderal Akira bangun dari ranjang, berdiri di sisi ranjang dan melihat Asia dengan pandangan meremehkan, “Aku sedang berusaha menunjukkan kebaikan hatiku kepadamu. Tidakkah kau sadar bahwa pemusnahan seluruh anggota Organisasi Bendera Merah ini merupakan salah satu jalan untuk membersihkan masa lalu Cesar? Untuk membuatnya terlahir kembali sebagai orang baru?”

Asia tergugu, dan tetap terdiam seperti itu sampai Sang Jenderal melangkah dengan santai meninggalkan ruangan.

***

Suasana kota Capilano yang seharusnya tenang dan damai berubah menjadi begitu mencekam. Seluruh penduduk yang tidak bersalah, bersembunyi di rumah mereka masing-masing dan mengunci pintunya rapat-rapat mencoba melindungi diri dari hal-hal mengerikan yang sudah pasti terjadi di luar sana.

Sementara itu di luar masih bersahut-sahutan terdengar suara ledakan yang berpadu dengan tembakan senapan yang semakin meluas. Teriakan teriakan panik yang berpadu dengan kesakitan terdengar bersahutan, memekakkan telinga dan meremas hati siapapun yang mendengarnya.

Yang terjadi di luar sana, adalah pembantaian yang sangat mengerikan. Pasukan militer hitam kembali menunjukkan kekejamannya dengan melakukan penyerangan tanpa ampun ke lokasi persembunyian Organisasi Bendera Merah.

Organisasi Bendera Merah yang malang itu kocar-kacir, hilang arah karena Cesar pemimpin mereka yang berkharisma telah hilang meninggalkan mereka. Sebelumnya mereka membuat serangan-serangan bom karena dilanda keputusasaan untuk mencari pemimpin mereka yang mereka percaya sedang ada di bawah tawanan pasukan militer After Earth. Mereka sudah mencoba bertindak hati-hati, tetapi sayang tanpa pengarahan ahli strategi Cesar, mereka mudah terbaca.

Dan disinilah mereka, disapu bersih dengan kejam dan tanpa ampun. Dibunuh dengan keji ketika mereka tidak siap. Pasukan militer hitam tidak pandang bulu, semuanya dibunuh tanpa ampun, bahkan perempuan dan anak-anak kecilpun turut menjadi korban kekejaman mereka. Operasi ini benar-benar menyapu bersih, menghilangkan nyawa demi nyawa tanpa ampun, tanpa belas kasihan sedikitpun.

Lalu beberapa lama kemudian, suara gaduh itu memudar, berganti dengan keheningan yang mencekam. Keheningan semu yang membuat bulu kuduk berdiri.

Pemandangan yang muncul setelahnya, bahkan lebih mengerikan lagi. Setelah asap peperangan mulai menipis, tampak tubuh-tubuh berlumuran darah yang bergelimpangan kehilangan nyawa. Darah merah pekat mengalir deras dari tubuh-tubuh itu, menodai putihnya salju dan karena banyaknya yang tertumpah, cukup untuk menciptakan aliran merah mengerikan yang memenuhi selokan-selokan kecil di sekitarnya.

Bau anyir darah yang berpadu dengan tubuh yang terbakar menyeruak di udara, menciptakan orkestra kematian yang paling menyayat hati. Tubuh-tubuh itu kehilangan nyawa tanpa ampun, dicabut nyawanya dengan paksa dan keji.

Jenderal Akira melangkah membelah salju yang penuh darah, jejak-jejak merah sepatu boot militernya tercipta mengikuti setiap gerakan kakinya. Ekspresinya tenang, sama sekali tidak tampak terganggu dengan pemandangan keji yang tersaji di depan matanya. Langkah kakinya terhenti ketika sesosok mayat menghalangi jalannya. Dengan tatapan kejam dia melirik ke arah mayat itu, menyipitkan matanya lalu dengan tanpa perasaan, menggunakan kakinya untuk menendang dan menyingkirkan mayat itu.

Matanya memindai seluruh ladang pembantaian, mencari tanda-tanda kehidupan yang mungkin terlewat. Misinya adalah sapu bersih, tidak akan ditinggalkannya satu tubuhpun dalam keadaan bernyawa.

Mayar-mayat itu tampak diam, seolah beku ditelan putihnya salju yang berpesta pora menerjuni bumi demi memeluk tubuh-tubuh yang sudah kehilangan nyawa. Kemudian perhatian Sang Jenderal teralihkan oleh sebuah gerakan samar. Gerakan itu pelan, tetapi mampu ditangkap oleh indera sang Jenderal yang peka.

Masih ada yang bernafas….

Mata sang Jenderal tertumbuk pada sosok kurus kecil yang meringkuk di antara mayat-mayat itu. Seorang anak laki-laki, mungkin masih remaja, sedang terluka parah dan mencoba bertahan hidup dengan mengambil napas pendek-pendek yang menciptakan uap beku di udara.

Ada senyum keji di bibir Jenderal Akira ketika dia mengambil pisau dari balik jaket militernya. Dia akan menunjukkan kebaikan hatinya kepada anak remaja yang terluka parah itu, dengan menghabisi nyawanya dengan cepat.

Langkah sang Jenderal tenang, ketika dia mendekati tubuh yang masih tersengal itu. Perlahan dia membalikkan tubuh yang meringkuk itu dengan kakinya.

Suara teriakan memberi peringatan dari anak buahnya masih sempat terdengar di telinganya, ketika matanya menatap ke arah tubuh tersebut dan menyadari benda apa yang dipeluk oleh tubuh kecil nan kurus yang sekarat itu.

Sebuah bom…. bom yang cukup besar untuk meruntuhkan sebuah bangunan.

Dia tidak sempat menghindar, ketika ledakan itu mulai berpendar lalu meledak dengan dasyat, menciptakan suara menggelegar yang memekakkan telinga.

 

404 Komentar

  1. Kak, tolong di confirm dong.. Penasaran ampe kebayang2 sama lanjutannya :'( :'( :'(

    1. Licha Sherrinford menulis:

      Please confirm kak?
      Penasaran…

  2. carlawella menulis:

    lari jendral…. :LARIDEMIHIDUP :LARIDEMIHIDUP

  3. :CURIGAH

  4. Febrianti kurnia menulis:

    Tolong segera dikonfirm y…terimakasih

  5. mustika lisa amalia menulis:

    Kelanjutannya gimana? Akira gak papa kah? Selamat kan akira??
    Aduh, penasaran banget, pengen lanjut cerita. Tapi apa daya, masih belum di verifikasi akunnya, semoga cepat di verifikasi, biar lanjut baca ceritanya ??

  6. Bilkis Butsainah Hanun menulis:

    Kak confirm dong aku penasaran serius?

  7. Lely Damayanti menulis:

    Ini mah senjata makan tuan namanya

  8. kira-kira gimana yah reaksi asia denger akira kena bom :tandatanya? :tandatanya?
    sedih, khawatir, kesakitan atau malah senang?? :mengintai

  9. Sistem baru?

  10. Inget waktu pertama baca part ini.. langsung kesel sama authornya gara2 di gantungin :panikshow

  11. Kak penasaran cerita selanjutnya ??
    Tolong di verifikasi akun aku ya kak ??
    Plisssss……

  12. Akiraaa, just say I Love U. Yang kuat jendral :nangiskeras :nangiskeras

  13. Yatz Yuangka Kato menulis:

    Tegang bngtt, masih menunggu konfirmasi ??

  14. Airaqyoung1215 menulis:

    Oh Tidakkkkkkk
    Akiii :berharapindah

  15. Kompromi ?

  16. Kaikou Nezumi menulis:

    Ahhhhhhhh udah penasaran sama kelanjutan nasib bang Akira, tapi Belum di verifikasi akunnya??, Please Verifikasi kak

  17. kak tolong akunku diverifikasi dong huhu udah penasaran banget ini sama kelanjutannya.

  18. udah punya bukunya, ngikurin dari jaman wattpad awaaal. Kenapa sih masih jatuh cinta aja sama asia akira

  19. Semoga jendral tdk apa2

  20. Serius deh kak. Ep selanjutnya mau baca tapi gk diverfikasi???

  21. Dhian Sarahwati menulis:

    Kena bom dong Akira???..gmn reaksi Asia??

  22. Zahidah zahra menulis:

    Kaka konfrim akuuuu… :matamemohon

  23. Wahhh nasib akira gmn :berkacakaca

  24. Akira gimana dong….. :aw..aw

  25. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Gimana ya Nasib akira :KUMENANGISMEMBAYANGKAN :KUMENANGISMEMBAYANGKAN

  26. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  27. Masih kecil makan di suapin🌫️

  28. Yaampun jenderal :kumenangismelepasmu

  29. Baca ulang, karena kangen akira dsn asia

  30. Masih idup kan, Jendral?!! :banjirairmatahuhuhu

  31. Dia gak mati kan ya😭🤧

  32. Kinky Rain menulis:

    :akugakngerti :bantingkursi

  33. Ngeri ngeri sedap

Tinggalkan Balasan