the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 6 : Ingkar Janji

Bookmark

No account yet? Register

1.791 votes, average: 1,00 out of 1 (1.791 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

(Flashback)

Burung merpati itu hinggap di balkon, lalu mematuk-matuk jendela kaca berbingkai putih yang berembun karena dinginnya hujan salju di luar.

Asia, yang masih duduk merenung di atas ranjangnya mengerutkan keningnya bingung,

Kenapa ada burung merpati di tengah salju yang dingin seperti ini?

Asia menyingkapkan selimut tebal yang membungkus tubuhnya sampai ke pinggang, dia mencoba bangkit dari ranjang dan mengernyit ketika merasakan rasa nyeri menyengat di tubuhnya.

Kondisinya yang lemah dan jejak Jenderal Akira yang ditinggalkan di tubuhnya seolah merantai hasratnya untuk memberontak dan melarikan diri dari kuasa jenderal Akira yang kejam.

Air mata Asia menetes turun dari bola matanya yang bening, mengalir membasahi pipinya dan terus turun hingga menggantung putus asa di dagunya.

Suara ketukan di jendela mengalihkan perhatian Asia dari lamunannya yang menyesakkan dada. Perhatiannya terpusat pada burung putih yang menyaru serupa salju itu dan sejenak kemudian Asia menyadari bahwa ada sesuatu yang aneh di kaki burung itu.

Ada sesuatu yang diikat di sana.

Asia mengarahkan pandangannya ke bawah, kamarnya terletak tinggi di menara ujung rumah Jenderal Akira yang megah dan tertutup serupa benteng besar.

Beruntung posisi kamarnya ada di tempat tinggi sehingga dia memiliki kesempatan untuk membuka jendelanya. Di rumah ini, seluruh jendela di ruang bawah dilapisi kaca anti peluru nan tebal yang tidak bisa ditembus, dan karena kamarnya ada di menara atas, kaca anti peluru itu ditiadakan.

Yah… Meskipun tetap saja jendela ini ditutup dengan teralis baja yang rapat serupa teralis penjara.

Setidaknya Asia bisa mengulurkan tangannya yang mungil keluar jendela dan mencoba mengambil benda terikat di kaki burung merpati itu yang membuatnya penasaran.

Untungnya burung itu cukup terlatih sehingga Asia cukup mudah mengambil bungkusan kecil yang terikat di kaki burung itu. Dan begitu bungkusan itu diambil dari kakinya, burung itu langsung mengepakkan sayapnya lalu pergi.

Asia menggenggam bungkusan itu di tangannya dan membukanya dengan hati-hati.

Di dalamnya ada secarik kertas tipis yang terlipat dengan rapi, ada tulisan singkat di sana.

Air mancur taman belakang jam 7 malam. Hati-hati. -C-

Cesar!

Cesar pasti sudah tahu bahwa jam tujuh cukup aman, karena Jenderal Akira baru ada di rumah setelah jam sembilan malam.

Asia meremas kertas itu di tangannya, memikirkan untuk memusnahkan kertas itu nanti demi keamanan. Detak jantung dan nafasnya saling berkejaran tak beraturan.

***

Cesar menunggu.

Sudah lebih tiga puluh menit dari waktu yang dijanjikan.

Dengan waspada Cesar menjaga dirinya tetap berada di bawah bayang-bayang pohon besar di samping air mancur. Matanya nanar menatap rumah besar serupa benteng milik Jenderal Akira.

Dia mengggigil. Pakaiannya hangatnya yang berwarna hitam pekat – didesain untuk menyaru dengan gelapnya malam – rupanya tak cukup mampu untuk menjaga temperatur tubuhnya di tengah hujan salju yang semakin menggila.

Lima menit lagi. Cesar membatin. Menahan perasaan kuatnya untuk maju menyerbu ke dalam rumah itu dan mencari Asia. Tapi tidak! Dia tidak bisa melakukannya, dirinya sudah berjanji kepada Keiro untuk tidak melakukan perbuatan bodoh semacam itu. Ada banyak pasukan pemberontak yang setia kepadanya dan masih sangat bergantung kepada Cesar sebagai pemimpin mereka.

Sosok bayangan hitam yang mendekat membuat tubuh Cesar menegang. Dia menajamkan matanya, berusaha mengenali siapa itu, tangannya dengan waspada menyapu pistol yang selalu terselip di pinggangnya.

Sosok itu makin mendekat. Sosok mungil yang sangat dikenalnya, yang sangat dirindukannya. Cesar tak mungkin salah orang. Ketidaksabaran membuatnya langsung muncul dari balik bayangan pohon besar itu, bertatapan langsung.

Asia, yang berhasil menyelinap dari pengawasan Martha menghentikan langkahnya. Waktunya tidak lama, mereka semua akan mengetahui bahwa Asia berjalan-jalan keluar rumah dari kamera cctv. Jenderal Akira selalu membiarkannya menelusuri seluruh penjuru rumah ini dengan bebas, tetapi Asia tahu ada kamera di mana-mana yang mengikutinya. Mereka semua sangat waspada mengingat entah sudah berapa kali Asia mencoba melarikan diri.

Dan sebentar lagi mereka pasti akan menyisir seluruh penjuru taman untuk mencarinya. Apapun yang ingin Asia katakan, dia harus cepat. Kalau tidak, dirinya dan Cesar akan berada dalam bahaya.

Asia dan Cesar berdiri berhadapan, hanya satu langkah jauhnya. Betapa inginnya Cesar merengkuh tubuh mungil Asia ke dalam pelukannya, tetapi dia tidak bisa. Cesar tahu bahwa satu-satunya alasan Asia tidak menghambur kepadanya adalah karena perempuan itu cemas ada kamera yang mengawasinya.

Bagian luar rumah ini sama dengan bagian dalamnya, ada kamera di mana-mana, bahkan beberapa dilengkapi dengan infra merah dan pengukur suhu yang bisa melihat menembus kegelapan. Beruntung Cesar cukup ahli untuk membiarkan bayangan pohon dan juga rerimbunan semak-semak menghalangi pandangan kamera, serta pakaian yang dipakainya adalah pakaian khusus yang membuat panas tubuhnya tidak bisa terdeteksi kamera.

“Bagaimana kau bisa masuk kemari?” mata Asia berkaca-kaca.

Cesar menahan gejolak yang bergolak di dadanya menatap perempuan yang paling disayanginya.

Satu tahun. Hampir satu tahun lamanya dia berjuang untuk menemukan Asia yang terenggut paksa dari dirinya. Jenderal Akira telah berhasil menyembunyikan Asia dengan baik sebelumnya. Sang jenderal selalu memastikan bahwa lokasi Asia dipindahkan setiap dua bulan sekali ke tempat baru sehingga anak buah Cesar selalu terlambat melacaknya. Hanya saja entah dengan alasan apa, tiga bulan yang lalu Jenderal Akira memindahkan Asia ke rumahnya sendiri yang serupa benteng dan tidak terlihat berencana menyembunyikannya lagi. Karena itulah Cesar pada akhirnya bisa menemukan Asia, dan dia bersumpah akan membuat Jenderal Akira menyesali kebodohannya.

“Salah seorang anak buahku berhasil mencuri cetak biru benteng ini dan kami menemukan bahwa saluran air kolam ini adalah satu-satunya tempat dengan akses keluar masuk yang tidak dijaga. Kami datang bersepuluh untuk melelehkan salju yang membekukan terowongan itu. Rekan-rekanku menunggu di luar.” Mata Cesar meredup menatap Asia. Ah betapa dia merindukan sosok mungil ini setelah dua tahun tidak berjumpa, “Kau lebih kurus.” gumamnya lembut.

Asia merapatkan jemarinya di perutnya, tampak sedih, “Kau juga, Cesar.”

Cesar menahan diri untuk memeluk Asia yang tampak begitu rapuh. Kemanakah Asianya yang kuat dan pemberontak itu? Kenapa sekarang Asia tampak….. Kalah?

Gerahamnya mengetat. Brengsek Akira! Lelaki itu pastilah yang membuat Asia jadi seperti ini!

“Ayo! Aku datang untuk menjemputmu. Kita pergi dari sini.” Cesar mengulurkan tangannya.

Tetapi tanggapan Asia sama sekali tidak diduganya, perempuan itu bukannya menjawab uluran tangannya, malahan melangkah mundur sambil membelalakkan matanya,

“Aku tidak bisa pergi sekarang Cesar!” air mata berderai di pipi Asia, “Akira menahan Memphis dan anak-anak panti asuhan yang lainnya dan dia akan membunuh mereka kalau aku sampai melarikan diri!”

Suara Asia berbisik penuh air mata, menembus dinginnya salju beku di pekarangan belakang rumah Akira yang selayaknya benteng.

Cesar tergugu karena hal ini sama sekali tidak diduganya, matanya menyipit, berpikir keras,

“Kau tahu dimana Jenderal Akira menahan mereka semua?”

“Aku pernah menguping dia berbicara dengan Paris…” mata Asia membelalak penuh harapan, “Kau akan menolong mereka Cesar? kumohon … Aku mendengar tanggal lima nanti Paris akan memindahkan mereka dari benteng Marakesh ke La Margas di selatan… Bisakah kau dengan pasukanmu melepaskan mereka?”

Cesar merenung, tetapi kemudian ekspresinya melembut,

“Tentu saja aku bisa, aku akan melakukan segala cara yang kubisa untuk membebaskan mereka. Lagipula kau pasti tak akan mau melarikan diri denganku sebelum kau memastikan mereka aman kan?”

Asia mengangguk, setetes air mata jatuh di pipinya dan diusapnya dengan jemari bergetar.

Cesar tersenyum tipis, menahan dorongan untuk mengulurkan jemarinya dan menghapus air mata Asia.

“Kalau begitu, tanggal lima nanti aku akan melepaskan mereka semua dan setelah itu aku akan kemari untuk menjemputmu.” Cesar membuat bunyi ringan dengan tangannya di udara, dan dalam sekelebatan langsung datang burung merpati putih jinak yang tadi mengantarkan pesan untuk Cesar, “Namanya White” Cesar mengusap lembut burung yang bertengger tenang di pundaknya, “Untuk sementara kita akan berkomunikasi melalui dia.”

Asia mengangguk, tampak penuh harapan, “Terimakasih Cesar.”

Cesar tersenyum lembut lalu tanpa bisa menahan diri dia menarik Asia ke dalam pelukannya dan mengecup dahinya singkat sebelum kemudian melepaskannya lagi,

“Aku akan segera menjemputmu” janjinya sungguh-sungguh.

“Aku akan menunggumu menjemputku.” jawab Asia dalam bisikan kecil.

Dan kemudian Cesar membalikkan badan, Asia menunggu sampai tubuh Cesar hilang ditelan bayang-bayang kegelapan sebelum dia sendiri kemudian membalikkan diri, setengah berlari menuju rumah.

***

Cesar duduk dengan marah masih di tempat yang sama setelah Keiro melaporkan kegagalan misi yang diemban oleh delapan anak buahnya untuk membunuh Asia. Di meja depannya, terhampar foto delapan orang anak buahnya yang dibunuh karena menjalankan misi dengan memasuki rumah Jenderal Akira.

Berapa nyawa lagikah yang akan dikorbankan gara-gara Asia dan Akira?

Hatinya yang bergolak membuat kenangannya di masa lampau muncul kembali, ketika dia dan Asia saling mengikat janji di tengah hujan salju yang dingin menusuk kulit.

Kenangan sesudahnya bahkan lebih menyakitkan lagi.

Setelah dia meninggalkan Asia waktu itu, Cesar bekerja keras untuk melaksanakan apa yang dijanjikannya kepada Asia. Dia mengumpulkan pasukannya dan membuat rencana, sambil menanti tanggal lima untuk menyelamatkan Memphis, anak lelaki berusia lima tahun penghuni panti asuhan yang merupakan adik angkat kesayangan Asia dan beberapa anak panti asuhan lainnya yang ternyata masih terselamatkan dari kebakaran panti mereka dulu. Ternyata Jenderal Akira menggunakan mereka semua sebagai sandera untuk menahan Asia.

Benteng militer di Marakesh City adalah benteng yang hampir tidak mungkin untuk tertembus. Yah… Sebagian besar benteng dan penjara militer di After Earth ini memang mustahil untuk ditembus. Karena itulah satu-satunya kesempatan bagi Cesar adalah menyergap rombongan pasukan pemindahan tawanan di tengah jalan.

Semua sudah terencana dengan baik waktu itu, di tengah-tengah misi, Cesar dan Asia masih saling bertukar informasi melalui burung merpati White untuk mematangkan rencana pelarian bagi Asia.

Pada waktu itu semua tampak akan berhasil, hati Cesar dipenuhi oleh antisipasi bahwa dia akan bisa bersama lagi dengan Asia, dan melepaskan perempuan kesayangannya dari cengkeraman Akira.

Tapi ternyata dia salah. Salah besar.

Penyergapan itu menjadi malapetaka untuknya. Mereka ternyata telah ditunggu, mereka dijebak. Yang ada di dalam mobil yang mereka sergap bukanlah Memphis dan anak-anak panti asuhan yang lain, melainkan sepasukan militer ahli berseragam hitam.

Bukannya menjalankan misi penyelamatan, pasukan Cesar habis dibantai, dia sendiri ada di tengah pertumpahan darah itu dan terluka parah, beruntung beberapa pasukannya yang tersisa menyelamatkannya.

Sayangnya rekan-rekannya yang lain tidak seberuntung Cesar, mereka semua mati sia-sia dalam misi penyelamatan yang sebenarnya tidak pernah ada.

Setelah itu Keiro dan beberapa orang kepercayaannya mencoba mengatakan padanya bahwa kemungkinan besar Asia telah mengkhianatinya. Sebab siapa lagi yang bisa menggagalkan misi itu selain Asia sendiri?

Bahkan sampai detik terakhirpun Asia masih mengirimkan kabar melalui White bahwa semua baik-baik saja, bahwa Jenderal Akira tidak tahu apa-apa dan misi penyelamatan itu akan berhasil.

Ketika itu Cesar tidak mau menerima bahwa ada kemungkinan Asia mengkhianatinya, dia mengirimkan White kepada Asia, tetapi burung itu tidak pernah kembali. Cesar ingin menyusup masuk lagi ke rumah Akira, tetapi Keiro dan yang lainnya menahannya karena itu terlalu beresiko.

Pada akhirnya Cesar memilih untuk menunggu dalam perasaan terombang-ambing antara ketidak percayaannya bahwa Asia tega mengkhianatinya dengan ketakutannya bahwa Asia sama saja dengan perempuan-perempuan lainnya yang berhati lemah dan tak setia.

Dan ternyata Asia memang mengkhianatinya…

Jemari Cesar mengepal menahankan kemarahannya menyadari kenyataan pahit tersebut.

Ketika kemarin Keiro datang dan membawa rekaman pengumuman Jenderal Akira tentang kehamilan isterinya, hati Cesar bagaikan ditusuk sembilu. Dia mencoba tidak percaya tetapi bukti nyata jelas-jelas terpampang di depan matanya.

Sebagai orang yang pernah menjalani pendidikan militer, Cesar ahli dalam membaca bahasa tubuh. Dia bisa melihat dan menilai dengan akurat bahwa tidak ada penolakan sama sekali dari Asia atas perlakuan mesra sang Jenderal yang dipamerkannya di depan umum. Bahkan Asia tampak tersipu ketika sang Jenderal berkali-kali dengan sengaja menyentuhnya dengan gerakan intim. Asia juga tidak terlihat berusaha melarikan diri meskipun penjagaan atas dirinya sangatlah longgar.

Bahasa tubuh Asia bukanlah sandiwara ataupun sesuatu yang dipaksakan. Asia terlihat sungguh-sungguh menerima Jenderal brengsek itu sebagai suaminya.

Pantas saja waktu itu Asia tidak mau lari bersamanya ketika ada kesempatan. Perempuan itu juga menjebaknya dengan menempatkan Cesar dan pasukannya dalam misi penyelamatan palsu yang membuat mereka dibantai habis-habisan.

Ketika itu hati Cesar langsung hancur berkeping-keping, dia menyadari bahwa dirinya memang sangat bodoh masih berpegang teguh dalam usahanya menyelamatkan Asia selama dua tahun tanpa menyerah. Waktu dua tahun ternyata bisa merubah seseorang, mungkin Asia memang mudah tergoda dengan ketampanan dan kehidupan nyaman dan mewah dalam naungan kekuasaan Jenderal Akira.

Dan Asia sekarang mengandung anak dari lelaki iblis itu, dengan sukarela pula!

Cesar memandang kembali foto-foto yang ada di mejanya. Foto delapan orang anak buah terbaiknya yang mati sia-sia di tangan Jenderal Akira karena gagal membunuh Asia.

Semua nyawa yang tercabut paksa, semua darah yang tertumpah ini… Semuanya disebabkan oleh Asia.

Cesar tidak akan membiarkan nyawa anak buahnya jadi korban lagi gara-gara Asia.

Kali ini dia sendiri yang akan datang, akan dicabutnya nyawa perempuan pengkhianat itu dengan kedua tangannya…

***

“Bolehkah aku tahu…. siapa Cesar itu?”

Pertanyaan itu membuat langkah Jenderal Akira yang hendak keluar dari ruangan itu terhenti.

Ketika lelaki itu memutar kembali tubuhnya dan menoleh ke arah Asia, ekspresinya tampak begitu menusuk dan penuh kecurigaan.

Kenapa reaksi suaminya seperti itu?

“Darimana kau tahu tentang Cesar?” suara Akira lebih tepat disebut sebagai geraman mengancam, membuat Asia otomatis beringsut di atas ranjangnya.

“Orang-orang yang mencoba menculikku tadi… ” Asia menelan ludahnya, “Mereka bilang harus membawaku ke hadapan Cesar.”

Sejenak Jenderal Akira mematung, matanya masih menatap tajam ke wajah Asia seolah mempelajarinya. Lalu kemudian ekspresi keras dan curiganya sedikit melembut,

“Kau sama sekali tidak ingat apapun ya?” Akira melangkah, mendekat kembali di tepi ranjang, dan duduk di sana.

Asia menatap suaminya dengan bingung,

“Apakah… Apakah Cesar ada hubungannya dengan masa laluku? Kenapa dia mencoba membunuhku?”

“Dia mencoba membunuhmu?” mata Akira menyipit.

“Salah seorang lelaki tadi mengatakan bahwa mereka diperintahkan untuk membunuhku di tempat, tetapi lelaki yang lain, setelah tahu bahwa aku mengalami amnesia tiba-tiba merubah pikirannya dan mengatakan bahwa aku harus dibawa ke hadapan Cesar.” entah kenapa mengucapkan nama ‘Cesar’ seolah-olah menggugah hatinya, seakan ada sesuatu yang ingin menyeruak keluar tetapi tak mampu menembus dinding penghalang “Bisakah kau menberikan penjelasan kepadaku? Aku… Aku merasa mengenal Cesar… Apakah … Apakah dia musuhmu yang pernah kau ceritakan itu?”

Mata Akira sedingin es ketika menjawab pertanyaan Asia.

“Ya. Dia musuhku Asia, musuh besarku.” suara Akira tampak penuh kemarahan, “Dulu dia adalah murid didikku di pendidikan militer yang sangat brilian, aku yang mengambilnya dari jalanan karena melihat potensinya dan memasukkannya ke pelatihan elit militer, aku mengajarkan semua keahlianku kepadanya dan bahkan pernah menganggapnya sebagai orang kepercayaanku. Tetapi dia mengkhianatiku. Kecerdasan otaknya merupakan ironi karena membuat ambisinya tidak pernah terpuaskan. Dia memimpin kelompok pemberontak yang ingin memerdekakan diri dari After Earth ” Tatapan Akira tampak pahit, “Cesar adalah duri dalam daging, pengkhianat murni yang tidak tahu terimakasih. Sekarang dia menginginkanmu karena kau isteriku dan sedang mengandung anakku.” Jemari Akira terulur dan menelusuri pipi Asia, “Tak akan kubiarkan dia mendapatkanmu. Dia akan mati di tanganku sebelum sempat menyentuhmu.”

Ancaman dari Akira terdengar sungguh-sungguh dan mengerikan hingga membuat Asia tanpa sadar menggigil. Hal itu tak luput dari perhatian sang Jenderal.

“Kau kedinginan? Apakah pemanasnya kurang hangat?” lelaki itu mengerutkan kening dan disambut dengan gelengan Asia.

“Tidak.. Kurasa pemanasnya cukup.”

Tatapan Akira menajam, “Tapi tadi kau menggigil.” tukasnya.

Tidak tahukah sang Jenderal kalau Asia menggigil gara-gara aura kejam yang ditebarkannya ke ruangan ini?

“Sudah tidak lagi, lihat.” Asia mengeluarkan tangannya dari selimut, menunjukkan bahwa dirinya baik-baik saja.

Sejenak Akira mengamati Asia dengan mata menyipit, mengintimidasi, lalu lelaki itu memasang ekspresi datar.

“Baiklah kalau begitu, beristirahatlah.” Akira bangkit dari duduknya di ranjang hendak pergi.

“Tunggu!”

Entah keberanian dari mana Asia meraih lengan baju Akira, membuat langkah Akira terhenti.

Sang Jenderal menghentikan langkahnya lalu menoleh. Matanya menatap tajam ke arah Asia lalu beralih ke lengan bajunya yang dipegang oleh Asia, membuat Asia seketika melepaskan pegangannya dengan perasaan gugup luar biasa.

Ya ampun! Berani-beraninya dia melakukan itu pada Jenderal Akira…

“Kenapa?” Akira bertanya dengan suara sedingin es, membuat hati Asia mengerut dan mengurungkan niatnya,

“Eh maafkan aku… Tidak ada apa-apa.” gumamnya gelisah sambil meremas jemarinya yang berkeringat.

Akira sepenuhnya membalikkan badan dan sedikit mengangkat alisnya,

“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kau menahan kepergianku?”

Asia menelan ludahnya, haruskah dia mengatakan bahwa dirinya ketakutan ditinggalkan sendirian di kamar ini? Peristiwa tadi, sedikit banyak menyisakan rasa nyeri dan ketakutan yang menggores jiwanya.

Diseret-seret dengan kasar oleh banyak lelaki tak dikenal, lalu berada di antara pertumpahan darah yang mengerikan…. Perempuan mana yang tidak merasa trauma?

Tapi tidak seharusnya dia minta ditemani lelaki yang menumpahkan darah orang-orang tadi dengan cara yang mengerikan bukan?

Asia sibuk dengan pikirannya sendiri yang berkecamuk hingga tidak menyadari bahwa tatapan sang Jenderal makin menajam dan ekspresinya menggelap.

“Kemarikan tanganmu.” geram Akira, secepat kilat duduk di tepi ranjang dan dengan arogan mengulurkan jemarinya untuk meminta tangan Asia.

“Kenapa?” Asia hendak mengulurkan tangannya, tetapi masih meragu, apalagi melihat ekspresi sang Jenderal yang tampak galak.

“Kemarikan tanganmu, Asia.” Akira menekan setiap kata-katanya dengan nada tak sabar, membuat Asia akhirnya dengan enggan melakukan apa yang dituntut oleh sang Jenderal.

Lelaki itu memegang pergelangan tangan Asia dan mengamatinya, ekspresinya semakin menggelap, ketika mendongakkan kepalanya untuk menatap Asia, matanya membara penuh kemarahan,

“Pergelangan tanganmu memar-memar.” desis Akira marah.

Asia mengamati pergelangan tangannya yang masih ada dalam genggaman jenderal Akira, dia bahkan baru menyadari bahwa tangannya memar setelah sang Jenderal mengatakannya, tadi rupanya dirinya terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga tidak memperhatikan kondisi fisiknya.

“Dokter Frederick tidak memeriksanya?” tanya Akira lagi.

Asia langsung menggeleng mendengar pertanyaan itu, “Tidak… Mungkin dokter fokus membalut luka di leherku dan memeriksa kondisi janinku… Aku sendiri juga tidak terlalu memperhatikan…”

“Buka bajumu.” Akira menyela dengan suara tegas, membuat kata-kata yang terkumpul di ujung lidah Asia tertahan

Suaminya memintanya membuka baju? untuk apa?

Pikiran-pikiran aneh langsung berkecamuk di benak Asia, membuatnya takut.

Akira rupanya menyadari ketakutan yang muncul di mata bening Asia, lelaki itu mengerutkan keningnya tak suka,

“Singkirkan pikiran yang tidak-tidak dari benakmu, Asia. Aku memintamu membuka baju untuk memeriksa adakah luka lain di tubuhmu.”

Pipi Asia merah padam ditukas seperti itu, dan makin memerah ketika dengan terpaksa jemarinya bergerak membuka kancing demi kancing gaun tidurnya di bawah tatapan mata sang Jenderal yang mengintimidasi.

Ketika Asia sampai di kancing terbawah gaunnya, dia menjatuhkan tangannya di samping tubuhnya dan menatap Akira tak berdaya.

Akira membalas tatapan matanya tanpa ekspresi, “Turunkan.” perintahnya tegas seperti kepada bawahannya.

Dengan pasrah Asia menurunkan gaun itu hingga gaun tidur sutranya jatuh menumpuk di pinggangnya, sementara bagian bawah tubuhnya masih tertutup selimut di atas ranjang. Asia bersyukur dia tidak telanjang sepenuhnya, masih ada bra sutera kuning yang menutupi payudaranya. Tetapi tetap saja, duduk di atas ranjang, di bawah tatapan mata suami yang masih asing untuknya, hanya mengenakan pakaian dalam pula, terasa begitu menggelisahkan untuk Asia.

Mata Akira mengamati sekujur tubuh Asia dan ekspresinya tampak marah ketika menemukan memar-memar di kulit Asia yang pucat, tangannya terulur lalu dengan gerakan cepat jemarinya menarik bahu Asia dan menyandarkan wajah Asia di dadanya

Asia tersentak, jantungnya berdentam hingga memukul-mukul rongga dadanya ketika wajahnya ditenggelamkan ke dada bidang keras yang penuh keharuman aroma maskulin nan menggoda, apalagi dengan kenyataan bahwa bagian atas tubuhnya hampir telanjang sehingga kulitnya langsung meresapi kehangatan yang menguar dari tubuh sang Jenderal yang melingkupinya.

Rasa panik bercampur malu akibat tindakan Jenderal Akira yang tiba-tiba itu membuat Asia menggerak-gerakkan tubuhnya dengan gelisah,

“Sshh…” Akira menekan punggung Asia hingga bagian depan tubuh Asia tenggelam ke dadanya, tubuh mereka berdua begitu merapat sementara sisi kepala Akira ada di samping Asia, membuat bibirnya hampir menyentuh telinga Asia, “Diamlah, aku sedang memeriksa punggungmu.” gumam Akira dengan nada tak sabar.

Bagaimana mungkin Asia bisa tenang sementara napas panas sang Jenderal begitu menggelitik telinganya dan membuat sekujur tubuhnya menggelenyar?

Detik demi detik berlangsung begitu lama dan Asia hanya mampu memejamkan matanya dan berdoa semoga dentaman jantungnya yang menggema keras dalam rongga dadanya tak sampai terdengar keluar. Sementara itu Jenderal Akira masih bergeming dan memeriksa, seluruh tubuhnya, begitu tenang seolah-olah kedekatannya dengan Asia sama sekali tak mempengaruhinya.

Apakah hanya Asia saja yang merasa begitu tak karuan dengan posisi mereka yang bisa dikatakan berpelukan ini?

Untunglah tiba-tiba Akira melepaskan pelukan mereka dan berdiri tegak, ekspresinya tampak muram ketika menatap Asia,

“Aku punya salep untuk memar yang bisa kau pakai. Tunggu dulu.” lelaki itu melangkah ke kamar mandi yang terhubung langsung ke kamar mereka, dan beberapa lama kemudian masuk kembali sambil membawa sebentuk krim yang ditempatkan dalam wadah kristal bening berukuran mungil.

Tanpa kata Akira duduk kembali di tepi ranjang lalu mengambil tangan Asia dan mengoleskan salep itu di pergelangan tangannya.

Rasanya sedingin es dan sama sekali tidak disangka-sangkanya sehingga Asia terkesiap dan hampir menarik tangannya.

Sang Jenderal menahan tangan itu dalam genggamannya dan menatap Asia dengan mata cokelat mudanya yang nyaris bening.

“Kenapa? Sakit?” tanyanya.

Asia menggelengkan kepalanya, “Bukan… Dingin.”

Sedetik tampak ada senyum di bibir Jenderal Akira yang langsung menghilang tiba-tiba.

“Memang terasa dingin tapi nanti memarmu akan membaik. Aku selalu menggunakan salep ini jikalau ada memar di tubuhku.”

Asia membelalakkan matanya, “Kau bisa memar?” selama ini Asia selalu memandang Jenderal Akira sebagai manusia super yang tidak bisa terluka, jadi informasi yang keluar dari bibir Akira sendiri itu terasa mengagetkan untuknya.

Ada sinar geli di mata Akira meskipun bibirnya tidak tersenyum,

“Tentu saja Asia.” nama Asia diucapkan lambat-lambat dengan melodi penuh arti yang entah kenapa terdengar begitu merdu di telinga Asia. “Aku seorang militer, itu berarti aku harus selalu siap ketika badanku penuh luka dan memar. Nah tanganmu sudah selesai,” Jenderal Akira meniup lembut salep bening yang dioleskannya ke pergelangan tangan Asia, “Sekarang tinggal bagian dada dan punggungmu, turunkan lagi selimutmu.”

Asia memang tadi menaikkan kembali selimutnya sampai ke dada, meskipun dia belum mengenakan kembali baju tidurnya. Permintaan sang Jenderal itu kembali membuat pipi Asia memerah seperti kepiting rebus,

“Eh… Aku bisa mengoleskannya sendiri…” gumamnya gugup.

Mata Jenderal Akira menajam mendengar kata-katanya,

“Kau isteriku Asia, dan kau sedang hamil anakku. Itu artinya aku sudah pernah melihatmu lebih telanjang dan dalam suasana yang lebih intim daripada ini. Jadi hilangkan rasa malumu dan turunkan selimutmu.”

 

232 Komentar

  1. Kangen

  2. Arfan Naendra menulis:

    :muach kangen sama mereka

  3. kalau aja jendral akira beneran beraikap manis sama asia :matamemohon

  4. Airaqyoung1215 menulis:

    Akiii :kisskiss :kisskiss :kisskiss :kisskiss

  5. Kaikou Nezumi menulis:

    Gemesh sama mereka yg sekarang, jadi deg”an kalau Asia ingatannya balik

  6. ???

  7. Gemes astaga :kisskiss

  8. Dhian Sarahwati menulis:

    Gemes ma mereka..gmn kl ingatannya balik ntar???

  9. Rachmakafka07 menulis:

    Entah berapa kalinya aku baca ulang mereka tapi gak pernah bosen2😊🙌

  10. Kangennnn

  11. Aku kangen banget ama pasutri ini :lovelove

  12. Dulu pas baca ini pasti mikir nya cesar itu pacar asia dulu. Gak tau nya…
    Author memang pintar buat kita selalu salah tebak😂😂😂

  13. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    modus GK nih sang jendral :awaskaunanti :awaskaunanti :lalayeye :larikarenamalu

  14. yasmin cavelli menulis:

    ❤️❤️❤️

  15. Itu mulutnya kayaknya butuh sensor jendral… :ayojadian

  16. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  17. Bella Miacara menulis:

    Love it. .

  18. Jagung manis Jagung manis :mimisankarnamu :mimisankarnamu

  19. Kinky Rain menulis:

    :muachgemesh

  20. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  21. Mengira asia caesar pacaran, rupanya saudara kembar :happy

Tinggalkan Balasan