the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 13 : Chocolate Memory

Bookmark

No account yet? Register

1.724 votes, average: 1,00 out of 1 (1.724 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

Malaikat Tuhan ataukah malaikat kematian?

Pertanyaan itu bergaung di udara, di antara dirinya dan sang Jenderal yang duduk di atas ranjang rumah sakit ini.

Asia mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan itu.

Apakah sang Jenderal sedang bercanda?

Tetapi menilik dari ekspresi tanpa senyum dan tatapannya yang tajam, lelaki itu kelihatannya serius.

Pertanyaan itu bagi Asia adalah pertanyaan tak terjawab.

Bagaimana Asia menjawabnya? Dia tidak bisa mengingat kenangan apapun di rentang waktu sejak perkenalannya dengan sang Jenderal. Hanya pengelihatan tentang pemilik sepatu boot militer misterius yang selalu muncul di ingatannya, ….. dan apakah itu Jenderal Akira? Entahlah, karena bahkan pertanyaan itu sampai saat ini belum bersua dengan jawabannya.

Jenderal Akira mengetukkan ujung telunjuknya di kerutan yang muncul di antara kedua dahi Asia,

“Jangan terlalu banyak berpikir.” Gumamnya dalam, seolah tidak suka Asia berusaha mengorek- ngorek ingatannya sendiri.

Asia mengangkat kepalanya dan memberanikan diri untuk bertanya,

“Apakah setelah pertemuan itu kita pernah bertemu lagi?”

Hening. Ada jeda sesaat dan nampak sesuatu yang misterius di mata sang Jenderal ketika menjawab,

“Menurutmu bagaimana kita bisa berakhir di ranjang ini kalau kita tidak bertemu lagi setelahnya?”

Pipi Asia memerah mendengar jawaban tak terduga itu, rasa panas menjalar di sana, membuat jemarinya tanpa sadar menangkup pipinya sendiri, berusaha menetralisir suhunya.

Kali ini mata Akira menajam, lelaki itu tanpa diduga menggerakkan tangannya ke pipi Asia, jemarinya yang kokoh menangkup jemari Asia yang mungil, yang sedang menangkup pipinya, melingkupinya.

“Apapun yang terjadi di masa lalu, kau adalah perempuan yang ditakdirkan untukku. Bagaimanapun dunia berusaha mengubah takdirmu, kau akan selalu berakhir di ranjangku, ingat itu Asia.”

Wajah Akira mendekat, jemarinya yang masih menangkup jemari Asia menggerakkan kepala Asia dengan lembut sehingga mendongak ke arahnya.

Dan kemudian, bibir Akira mengecup di sana, menempel di bibir Asia, menebarkan sensasi hangat serupa kejutan listrik kecil yang menjalari pembuluh darahnya dan memacu jantungnya. Ciuman itu hanya sepersekian detik, hanya menempelkan bibir lalu mengecup singkat, tidak ada gairah panas menggebu di sana, tidak ada cumbuan penuh nafsu seperti biasanya, Tetapi meskipun ciuman itu begitu singkat, efeknya menyisakan ledakan yang berpendar di aliran darah Asia.

“Selamat tidur.” Akira bergumam datar, mendorong Asia yang masih seolah melayang kembali terbaring ke ranjang, menyelimutinya, dan kemudian ikut berbaring dengan posisi memunggungi Asia.

Suasana menjadi hening, hanya napas teratur mereka berdua saja yang seolah berbisik memenuhi ruangan.

Kamar itu gelap, remang-remang, dan mata Asia nanar menatap punggung kokoh suaminya. Mencoba memahami meski tetap tak kunjung paham.

Jenderal Akira, suaminya, kadang terasa begitu dekat, tapi kadang seolah menjaga jarak. Kadang begitu terbuka, tapi kadang pula menutup diri…

Bagi Asia, Jenderal Akira selayaknya sebuah buku penuh misteri yang tertutup rapat, dikunci dengan gembok bersandi khusus dan bisa terbuka hanya jika buku itu mengizinkan dirinya untuk dibaca.

***

“Saya mendengar beberapa Jenderal kita berkasak kusuk tentang eksekusi Jenderal Zayed dan keluarganya.” Paris bergumam setelah selesai memberikan laporan harian tentang situasi kemanan kepada Jenderal Akira.

Sang Jenderal sendiri tampaknya tidak peduli, lelaki itu hanya mengangkat alisnya sedikit, “Dan bisakah kau lebih spesifik tentang “beberapa” Jenderal ini? Siapa maksudmu?”

“Sebenarnya hanya satu Jenderal yang menghembuskan ketidaksetujuannya, tetapi saya khawatir hal ini akan mempengaruhi yang lainnya.” Paris berdehem, “Pada saat rapat koordinasi kemarin, Jenderal Lourdes mengucapkan kesedihannya atas kematian Jenderal Zayed, beliau bilang bahwa Jenderal Zayed telah berjasa atas negara ini dan tidak pantas mati dengan cara seperti itu.”

Akira mengetukkan jemarinya ke mejanya, “Awasi Jenderal Lourdes kalau begitu, dia memang loyal kepada Jenderal Zayed, karena Jenderal Zayed pernah menjadi mentornya. Kalau nanti dia bertindak lebih dari yang diperbolehkan, kau lapor kepadaku, aku akan mempertimbangkan untuk turun tangan sendiri.”

Paris menganggukkan kepalanya, “Baik Jenderal, saya akan melaksanakannya.”

Akira membalas anggukan itu, lalu tatapannya menajam ketika bertanya kembali,

“Ada kabar tentang pergerakan Cesar dan pasukannya?”

Ekspresi Paris berubah muram, “Sayangnya belum, Jenderal. Cesar begitu lihai bersembunyi, dan dia pernah berada di dalam pasukan inti kita, karena itulah dia tahu metode pencarian kita dan berhasil menghindarinya.”

“Menurutmu, apakah dia masih tertarik kepada Asia?” Tanya Akira dengan nada suara tak tertebak.

Ekspresi Paris berubah, pun dengan suaranya yang berucap penuh kehati-hatian,

“Saya rasa Cesar masih sangat tertarik kepada nyonya Asia, mungkin kita bisa mengelabuhinya dan membuatnya mengira bahwa nyonya Asia telah mengkhianatinya. Tetapi kalau dulu dia mengejar nyonya Asia untuk mengambilnya kembali, sekarang dia mengejarnya untuk membunuhnya.”

“Bagus. Cinta dan dendam mempunya efek sama kepada semua laki-laki, mereka jadi lengah dan kurang hati-hati. Cesar pasti merencanakan sesuatu, aku yakin bahwa mata-matanya sudah melaporkan bahwa Asia ada di rumah sakit, di luar benteng penjagaanku. Asia pasti akan memancing Cesar untuk datang. Siapkan semuanya, Paris. Kita akan memberikan penyambuta untuk Cesar.”

***

Ketika Asia membuka matanya, dia melihat sosok Letnan Paris, sosok yang selalu setia mendampingi suaminya, sedang meletakkan sesuatu di nakas samping ranjangnya.

Paris menoleh ketika menyadari bahwa Asia terbangun, dan kemudian tersenyum penuh penyesalan.

“Oh, maaf.” gumamnya lembut, “Saya mengganggu istirahat anda.”

Asia menggelengkan kepalanya lemah, merasa malu karena Paris bersikap begitu hormat kepadanya,

“Tidak… Saya terbangun bukan karena anda.” gumamnya setengah berbisik, berusaha untuk duduk di ranjangnya, kepalanya terasa sedikit pening sehingga dia mengerutkan keningnya.

“Apakah anda baik-baik saja? Perlu saya panggilkan dokter?” Paris tampak cemas melihat ekspresi Asia.

Asia menggelengkan kepalanya, “Tidak, hanya pusing sedikit, kata dokter saya memang akan merasakannya beberapa lama sebagai efek obat.” mata Asia beralih ke kotak berwarna putih yang diletakkan di atas nakas samping ranjangnya, merasa tertarik, “Apakah itu?” tanyanya.

Paris tersenyum dan membuka kotak itu, membawanya kepada Asia, “Jenderal menyuruh saya membawakannya untuk anda.”

Asia menatap ke dalam kotak itu dan membelalakkan matanya, kotak itu berlapis kertas putih tebal nan elegan dengan corak timbul serupa bebungaan, dan di atas kertas itu ada bulatan-bulatan berwarna cokelat yang berkilap menggoda, aroma manis nan pekat langsung semerbak memenuhi ruangan.

Sekilas kenangan lampaunya membawanya sekelebat ke dalam ingatan tentang makanan di depannya ini,

“Cokelat?” tanya Asia dengan mata berbinar. Makanan di depannya ini termasuk makanan mahal. Akibat perang nuklir, hanya beberapa varietas benih cokelat yang bisa diselamatkan, proses pengolahannya menjadi makanan pun sudah dikembangkan dengan memakai teknologi canggih, sehingga makanan yang tercipta dari biji cokelat yang diolah ini benar-benar jenis yang berkualitas dan menyajikan penampilan, citarasa dan aroma sesungguhnya dari cokelat secara maksimal.

Letnan Paris tersenyum melihat reaksi Asia,

“Ini adalah cokelat terbaik yang diolah dari benih terunggul yang ditanam di dataran Nacho, dataran paling subur di After Earth.”

Yah, tanpa dijelaskanpun, Asia bisa menebak bahwa cokelat ini adalah cokelat paling berkualitas, apalagi aromanya memenuhi ruangan dengan semerbak, menebarkan kemanisan yang menenangkan hati.

“Anda mau mencicipinya?” Letnan Paris mendekatkan kotaknya lagi, menawarkan.

Asia menelan ludahnya, dengan malu-malu dia mengulurkan jemarinya, dan mengambil satu bulatan berkilat yang sungguh menggoda.

Dengan hati-hati Asia menggigit setengah bulatan cokelat itu dan melumatnya di mulutnya, dan sejenak terpana ketika merasakan cokelat itu meleleh di lidahnya, mencair serupa lapisan lembut, manis nan nikmat yang melumuri seluruh indera perasanya dan memuja lidahnya.

Paris tersenyum melihat reaksi Asia.

“Anda memang selalu menyukai cokelat ini.”

Mata Asia berkilat penuh rasa ingin tahu, “Apakah dulu sebelum saya lupa ingatan, saya juga menyukai cokelat ini?”

Paris menganggukkan kepalanya, “Dulu… Ketika anda sedang marah pada Jenderal Akira, anda tidak mau memakan apapun. Semua menu akan berakhir sia-sia karena anda tidak akan mau menyentuhnya. Tetapi cokelat ini … Anda tidak pernah bisa menahan godaannya, anda pasti mau memakannya semarah apapun anda.” Paris tersenyum lembut melihat pipi Asia memerah, “Karena itulah Jenderal Akira selalu memastikan memiliki persediaan cokelat ini yang khusus dipesan untuk anda.”

Benarkah itu….?

Benak Asia sendiri masih bingung memikirkan kenyataan bahwa di masa lampau dia bisa marah kepada Jenderal Akira……. hingga merajuk tak mau makan?

Paris menatap ekspresi Asia, seolah mempelajari dan kemudian bergumam,

“Anda memang benar-benar satu-satunya di dunia ini.”

Asia mengangkat kepalanya, “Apa maksud anda?”

Lelaki berambut pirang di depannya ini mengangkat bahu, “Dari semua manusia yang tersisa di After Earth, hanya andalah satu-satunya yang mendapatkan posisi istimewa, bisa masuk ke dalam garis batas yang ditetapkan oleh Jenderal Akira. Apakah anda pernah menyadari bahwa beliau tidak pernah membiarkan siapapun menyentuhnya? Siapapun yg mencoba menyentuhnya selama ini akan berakhir di dalam kemurkaannya.” Paris memiringkan kepalanya, menatap Asia dengan penuh minat, ” Tetapi anda berbeda. Anda adalah satu-satunya orang yang diizinkan untuk melewati garis batas itu, anda istimewa.”

“Apa yang sedang kau coba katakan kepada isteriku, Paris?”

Suara dingin dan tenang itu terdengar tiba-tiba dari ambang pintu, membuat Paris dan Asia menoleh bersamaan. Paris langsung berdiri tegak, sedikit membungkuk untuk memberikan hormat, sementara Asia bergeming, merasa pipinya sedikit panas, dan kemudian berusaha memalingkan wajah dari tatapan sang Jenderal yang melangkah memasuki ruangan.

Pertanyaan sang Jendral dibiarkan tak terjawab, mengambang di udara. Paris sendiri hanya memberi hormat, dan kemudian menggumam berpamitan meninggalkan ruangan.

Mata Akira beralih ke jemari Asia yang masih memegang setengah bulatan cokelat di sana.

“Suka?” tanya Akira dengan ekspresi sedikit geli.

Asia menganggukkan kepalanya, salah tingkah.

“Suka, ehm…..terimakasih.” gumamnya pelan, malu-malu.

Langkah Jenderal Akira semakin mendekat, dan kemuian jemarinya terulur, menyentuh dagu Asia, dan mendongakkannya.

“Tidak perlu berterimakasih. Kau selalu membayar cokelat itu berkali-kali lipat dari harganya.”

“Membayarmu?” mata Asia menatap potongan cokelat menggoda di jemarinya, lalu beralih ke arah sang Jenderal dengan bingung, “Apa maksudmu?”

“Membayar dengan tubuhmu.” tak ada senyum di mata Akira ketika mengucapkan kalimat itu, hanya ada nyala api terselubung yang penuh misteri, “Aku selalu memberikan cokelat itu untuk membujukmu supaya mau bercinta denganku.”

Pipi Asia memerah meskipun dia tidak mampu menahan dirinya untuk bertanya,

“kenapa kau harus membujukku? Bukankah aku…. adalah isterimu?” tanyanya kemudian dengan pipi membara karena malu.

Mata Akira menyipit mendengar pertanyaan malu-malu Asia, lelaki itu memiringkan kepalanya dan menatap penuh ironi,

“kadangkala seorang isteripun perlu dibujuk.” gumamnya penuh misteri.

Sang Jenderal mengambil butiran cokelat itu dari jemari Asia, dan memasukkannya ke bibir Asia yang sedikit ternganga, membiarkan butiran itu melumer menjadi cairan kental nan lembut di sana.

Lalu bahkan tanpa memberi kesempatan Asia menelan cokelatnya, lelaki itu mengecup bibir Asia, lidahnya menelusup masuk, mencicipi rasa manis alami Asia yang berpadu dengan pekatnya cokelat.

Ciuman rasa cokelat…..

Kenangan Asia langsung menyambar, membawa kilatan-kilatan putih berpendar ke masa lalu…

***

“Kata dokter kau menolak makan. Sudah hampir dua hari ini tidak ada makanan yang masuk ke dalam tubuhmu.”

Lelaki itu menggeram, menjulang di atasnya, kedua tangan Asia terangkat, menyilang menjadi satu di atas kepalanya, kedua pergelangannya terjebak dalam cengkeraman jemari kokoh sang Jenderal.

Asia tidak berkata-kata, hanya menatap Akira dengan tatapan menantang. Tatapannya itu selalu berhasil menyulut kemarahan Akira, karena itu Asia sengaja melakukannya.

Jika dia tidak bisa mengalahkan sang Jenderal, dia sudah cukup puas bisa membuatnya marah.

“Tatapan mata itu lagi.” Jenderal Akira menipiskan bibirnya, “Sampai kapan kau akan berusaha menguji kesabaranku, Asia?”

Asia memalingkan matanya, sengaja. Tahu bahwa hal itu akan membuat Akira semakin murka.

“Asia!” Akira menguarkan namanya dalam desisan geram, lelaki itu menggunakan sebelah tangannya untuk mencengkeram dagu Asia, menolehkan kepala Asia dengan paksa, kepala Akira menunduk, membuat wajah mereka semakin berdekatan, “Jangan pernah memalingkan kepalamu dariku ketika kita sedang berbicara!”

Dua mata itu bertatapan. Yang satu murka, yang satu menantang. Lama.

Alis sang Jenderal mengerut, “Aku tidak suka memaksamu bercinta denganku, Asia.”

“Lalu kenapa kau terus melakukannya?” Asia menyambar dengan suara lantang.

Akira memalingkan wajah, ekspresinya seolah tidak mendengar kata-kata Asia, lelaki itu menatap ke arah nakas kecil di samping ranjang. Di sana ada kotak elegan berwarna putih tebal dengan aksen bebungaan menghiasi pinggirannya, berisi butiran cokelat mahal yang berkilauan.

Cokelat dan kelembutan.

Itu adalah saran dari Paris untuknya supaya dia bisa menaklukkan sifat pembangkang Asia. Akira tidak pernah bersikap lembut kepada perempuan, pun dia juga tidak mengerti apa hubungannya cokelat dengan menaklukkan hati perempuan. Tetapi saran Paris layak dicoba, mengingat Paris terkenal sebagai playboy yang telah menaklukkan banyak hati wanita.

Lelaki itu meraih satu butir cokelat, menimangnya dengan sebelah tangan. Asia mengerutkan kening melihatnya ,

“Apa yang hendak kau lakukan dengan cokelat itu…mmph….” dengan terkejut Asia mengatupkan bibirnya ketika tanpa izin sang Jenderal memasukkan butiran cokelat ke dalam mulutnya. Butiran cokelat itu langsung meleleh menimbulkan sensasi manis yang meledak di mulutnya, membuat Asia mengerjapkan matanya kaget, dia membuka mulutnya, hendak memprotes, tetapi Sang Jenderal mengambil kesempatan itu, melumat bibir Asia yang terbuka, menjalinkan bibir mereka dalam ciuman dalam yang penuh gairah….ciuman rasa cokelat.

***

Ingatan Asia kembali ke masa sekarang, dan menemukan dirinya berada dalam situasi yang sama, ciuman dengan jejak manis cokelat yang kental, dan lelaki yang sama,dengan gairah yang sama mendesaknya.

Ciuman itu semakin dalam, Akira melumat bibirnya seolah-olah ingin mencecap setiap rasanya, sebelah tangannya bergerak lembut, menangkup belakang kepala Asia dan menekannya semakin merapat, semakin dalam, semakin panas.

Entah kenapa gairah lelaki itu, yang dilepaskannya dalam ciuman membara ini membuat hati Asia menghangat, meskipun ciuman ini begitu dalam dan sedikit kasar hingga Asia yakin bibirnya akan sedikit memar.

Sebuah erangan terlepas dari bibir sang Jenderal ketika lelaki itu memaksakan dirinya untuk melepaskan pertautan bibir mereka.

“Ayo.” geramnya dengan nafas terengah.

Asia mengerutkan keningnya, “Ayo kemana?”

Mata Akira menyipit, ekspresi bergairahnya pudar seketika berganti dengan tatapan dinginnya yang biasa.

“Kau akan dipindahkan dari kamar ini.” gumamnya memberitahu, ada nada penuh misteri yang terselip disana dan menyisakan tanda tanya di benak Asia.

***

Mantel tebal berwarna putih dibalutkan ke tubuhnya, pun dengan tudung warna serupa yang berpinggiran bulu nan tebal, Asia menatap dirinya sendiri dengan bingung,

Apakah Akira sedang berusaha membuat dirinya menyaru serupa salju?

Lelaki itu melingkarkan syal yang juga berwarna putih ke leher Asia, lalu mundur sedikit, mengabaikan ekspresi bingung Asia dan memilih untuk mengamati penampilan Asia yang duduk di atas kursi roda, seolah tenggelam dalam tumpukan baju warna putih yang dibalutkan di tubuhnya.

“Sempurna.” Akira mengedikkan bahunya, memberi isyarat kepada Paris yang berdiri diam di ujung ruangan tanpa kata sejak tadi, hanya mengamati ketika sang Jenderal sibuk mendandani isterinya.

Dengan segera Paris mendekat, memegang pendorong di belakang kursi roda Asia, dan mengarahkannya ke arah lorong.

Asia panik, dia mendongakkan kepala, menatap ke arah Akira,

“Kau tidak ikut?” tanya Asia spontan.

Ekspresi Akira tidak terbaca, tetapi matanya menyipit menanggapi pertanyaan Asia.

“Aku akan menyusulmu.” gumam Akira dengan bibir menipis, “Nanti. Setelah aku membereskan sesuatu di sini.”

Paris sendiri tidak memberi kesempatan kepada Asia untuk bertanya lebih lanjut, lelaki itu memberi hormat kepada Akira, lalu bergegas mengarahkan kursi roda Asia ke ujung lorong.

Asia mengerutkan keningnya ketika dia dibawa dengan lift yang mengarah ke bagian bawah rumah sakit, dia melihat Paris menekan tombol lift dengan beberapa kode angka yang acak, lalu lift itu bergerak turun. Kerutan di kening Asia makin dalam ketika menyadari bahwa angka yang menyala di atas pintu lift sudah menunjukkan mereka berada di lantai paling bawah rumah sakit ini, tetapi liftnya masih bergerak turun.

Ketika beberapa saat kemudian pintu lift terbuka dan mereka dihadapkan kembali pada lorong putih bersih yang steril, Asia tidak dapat menahan diri untuk sedikit mencondongkan kepalanya kebelakang, dan bertanya kepada Paris yang mendorong kursi rodanya dengan tenang melintasi lorong itu.

“Ini lantai rahasia ya?”

Paris menatap Asia dari ujung matanya, dan tersenyum tipis.

“Ya, fasilitas ini dibangun di lantai rahasia yang bahkan tidak tercatat dalam denah pembangunan rumah sakit, ini adalah lorong rahasia dan hanya orang-orang yang dipilih Jenderallah yang mengetahui keberadaan fasilitas ini.” Paris memilih untuk tidak menginformasikan bahwa semua orang yang bertanggung jawab atas pembangunan fasilitas rahasia ini, baik arsitek sampai tenaga pembangun, semuanya ‘dilenyapkan‘ atas perintah Jenderal Akira.

“Lorong ini menghubungkan beberapa tempat perlindungan penting yang juga rahasia tetapi sangat aman, normalnya ketika kami terpaksa membawa orang luar melewati fasilitas ini, kami akan membius mereka supaya mereka tidak ingat apapun.”

“Kalau begitu kenapa anda tidak membiusku?” Asia langsung bertanya, menyadari betapa pentingnya fasilitas ini untuk keperluan militer, dan dia hanyalah orang luar.

Paris kembali tersenyum, lebih lebar daripada sebelumnya,

“Karena Jenderal melarang kami. Anda sedang dalam masa pengobatan saat ini, ada banyak sekali jenis obat yang diterima oleh tubuh anda, dan Jenderal Akira tidak mau menambah lagi.”

Pipi Asia memanas sedikit, menyadari tatapan penuh arti Paris, dan menerima pesan yang disampaikan oleh orang kepercayaan suaminya itu, bahwa Jenderal Akira, suaminya, memang memperlakukannya dengan istimewa.

“Kalau begitu… Kenapa aku terpaksa harus menggunakan fasilitas lorong rahasia ini? Tidak bisakah aku keluar lewat pintu depan seperti orang biasa?” Asia melontarkan apa yang masih mengganjal di benaknya, matanya menelusuri sepanjang lorong yang dilaluinya, dinding, lantai, bahkan atapnya berwarna putih bersih. Karena inikah Akira mendandaninya dengan pakaian putih?

Perlu anda sadari. Anda bukanlah orang biasa, dan anda tidak akan bisa menggunakan cara yang biasa.” Suara Paris berubah serius, meskipun langkahnya mendorong kursi roda Asia tetap tenang, ” Anda adalah isteri dari orang nomor satu di After Earth, dan itu berarti anda juga menanggung resiko ancaman keamanan yang sama besar dengan Jenderal Akira, karena ketika musuh-musuh Jenderal Akira tidak bisa mencapai beliau, mereka akan mengalihkan sasarannya kepada anda.”

Tiba-tiba ada rasa tidak enak yang muncul merayap dari perut Asia ke dadanya, “Mengincarku?”

Paris berdehem, “Kami menerima informasi terpercaya bahwa pemberontak yang pernah mencoba menculik anda dulu sedang mencoba memanfaatkan keberadaan anda di rumah sakit, di luar benteng Jenderal Akira. Mereka sedang membuat rencana untuk menculik anda kembali. Satu hal yang saya tahu pasti, ketika mereka berhasil mendapatkan anda, mereka akan membunuh anda.”

Kali ini bulu kuduk Asia meremang, dia ingat kengerian itu, rasa takut yang menyeruak ketika dirinya diseret dengan kasar oleh orang-orang yang tak dikenalnya, pun dengan rasa ngeri ketika memandang salju putih yang ternoda percikan merah darah dari orang-orang yang terkena murka suaminya.

Paris sepertinya menyadari ketakutan Asia, suaranya melembut ketika berkata,

“Jangan khawatir, nyonya. Kami semua akan melindungi anda, karena anda adalah perempuan yang sangat istimewa.”

***

“Bagaimana?” Cesar mengenakan mantel berpergiannya, matanya menatap ke beberapa pengintai yang dikirimnya untuk mengawasi rumah sakit tempat Asia dirawat.

“Tidak ada pergerakan apapun, kami berusaha mengawasi sedekat mungkin ke seluruh bagian yang memungkinkan sebagai pintu keluar, dan kami bisa memastikan bahwa nona Asia masih ada di dalam rumah sakit dan belum dipindahkan kemanapun.”

“Bagus.” Cesar menyipitkan matanya, mengancingkan mantelnya dan melangkah menuju meja besar di tengah ruangan, di sana terhampar denah rumah sakit pemerintah yang berhasil di dapatkan oleh orang-orang andalannya.

Jemarinya menunjuk sebuah lokasi di denah itu, “Jadi menurutmu Asia dirawat di kamar ini?”

Salah satu anak buahnya yang bertugas menyamar sebagai orang dalam mengangguk,

“Benar sekali. Bersamaan dengan informasi bahwa nona Asia di bawa ke rumah sakit, seluruh lantai paling tinggi di rumah sakit itu ditutup, dan banyak militer pemerintahan mondar mandir di sana, saya perkirakan ada tiga lapis pasukan yang menjaga seluruh akses masuk ke lantai itu.”

Cesar tersenyum tipis. “Aku akan datang dengan menyusup, berapapun lapis pasukan tidak akan bisa menghalangiku, malam ini aku akan berkunjung ke sana.”

***
Malam mulai menjelang, memekatkan butiran salju yang putih hingga serupa warna kehitaman ketika Cesar pada akhirnya berhasil mencapai lantai yang ditujunya. Dia berhasil menyusup ke dalam dengan bantuan anak buahnya, dan kemudian menumpang di bagian atas lift yang membawanya ke atas. Ketika lift itu bergerak turun, Cesar melompat ke kabel di samping dinding dan kemudian menggunakan keahlian memanjatnya untuk melompat masuk ke ruang ventilasi udara yang berdasarkan denah rumah sakit menghubungkan ruangan demi ruangan di lantai ini.

Keahliannya sebagai tentara membuatnya berhasil merayap tanpa suara di ruangan ventilasi udara yang sempit itu. Dia mengintip ke semua ruang ventilasi udara yang menampilkan pemandangan kamar dari atas, dan menipiskan bibirnya tidak sabar ketika hanya menemukan ruangan remang-remang dan ranjang yang kosong.

Sampai akhirnya saluran ventilasi itu membawanya ke kamar yang paling ujung. Cesar merasakan antisipasi berdegup di dalam dirinya. Kalau memang Asia ada di rumah sakit ini, dia pasti akan berada di kamar yang paling ujung itu.

Cesar tidak tahu apa yang akan dilakukannya ketika bertemu dengan Asia nanti, apakah dia akan menatap Asia seperti orang bodoh yang penuh kerinduan, ataukah dia akan langsung meluapkan kemarahannya kepada perempuan yang mengkhianatinya? Mungkin dia akan langsung mengarahkan jemarinya ke leher rapuh Asia, meremukkan leher itu sekaligus mencabut intisari kehidupannya.

Mata Cesar menajam ketika menatap ke lubang dengan ram besi rapat di bawahnya, ke arah kamar yang remang-remang. Dia memperlambat napasnya ketika menyadari ada sosok berselimut yang terbaring di ranjang itu.

Ini adalah satu-satunya kamar di lantai ini yang berpenghuni.

Sejenak Cesar menghembuskan napas, mencoba melegakan dadanya yamg dirayapi rasa sesak. Pikiran waspadanya memperingatkannya bahwa ada sesuatu yang salah, suasana terlalu sepi, terlalu hening.

Tapi pemandangan sosok tubuh yang terbaring di atas ranjang itu seolah-olah menumpulkan hatinya.

Asia..

Keputusan Cesar bulat, jika memang ini satu-satunya kesempatan untuk melihat Asia lagi, maka dia akan melakukannya Mungkin dengan ini dia akan mendapatkan jawaban dari semua pertanyaan yang berkecamuk di benaknya.

Dengan hati-hati Cesar mengeluarkan peralatan  pemancar panas suhu tinggi dari sakunya, alat itu kecil dan berbentuk silinder seukuran jari, tapi teknologi nano yang tersimpan di dalamnya membuat alat itu mampu memancarkan panas tinggi yang mampu melelehkan baja sekalipun. Tenti saja alat canggih semacam ini tidak didapatkannya secara legal, dia punya banyak koneksi yang membantunya mendapatkan barang-barang dan senjata teknologi canggih milik militer untuknya.

Dengan hati-hati dan berusaha tak bersuara, Cesar melelehkan baut yang mematri kuat ram besi rapat di bawahnya, satu-satunya penghalang antara dirinya dengan Asia.

Secepat kilat Cesar menyelesaikan pekerjaannya, secepat kilat pula dia menyingkirkan ram besi itu, dan kemudian dengan keahliannya hasil pendidikan militer bertahun-tahun, Cesar melompat dari ketinggian dan mendarat dengan sempurna di lantai dengan karpet empuk yang membantu meredam suara hentakan kakinya ketika menumpu.

Cesar bangkit dengan ketidaksabaran yang menggila, setengah melompat ke arah ranjang, berusaha membalik tubuh berbalut selimut yang membelakanginya, bersiap membekap mulut Asia….. hanya untuk menemukan sebuah boneka hampa mirip manusia yang berbaring di sana…

Cesar terperangah dan terlompat mundur saking terkejutnya. Dan di detik yang sama, lampu menyala, menyinari kamar itu dengan cahaya terang benderang yang menyilaukan mata.

“Tidak kusangka kita akan bertemu secepat ini, Cesar.”

Suara sapaan sehalus beludru terdengar dari belakangnya. Suara Jenderal Akira.

Harusnya dia sadar. Cesar mengutuk kekurang waspadaannya sendiri, ini semua terlalu mudah, harusnya dia curiga. Tetapi hasratnya untuk menemukan Asia telah menelan kewaspadaannya. Dan sekarang semua sudah terlambat.

Dia sudah dijebak.

 

188 Komentar

  1. fitriartemisia menulis:

    hmmmmmmmmmmmm

  2. :LARIDEMIHIDUP :LARIDEMIHIDUP

  3. Trap :tendangkerikil

  4. Ikut deg”an weh

  5. mustika lisa amalia menulis:

    Omg, caesar :tidakks! :tidakks!

  6. Lely Damayanti menulis:

    Bgmn nasib Cesar selanjutnya???

  7. Entah kenapa kalo baca ceritanya kak sairaakira bawaannya deg-degan terus disetiap chapter wkwkwk

  8. Dera Puspita menulis:

    Terjebakkk..
    Gimana Nasip Caesar selanjutnyaaa :bantingkursi

  9. Omg omg omg…….dag Dig dug

  10. ?????

  11. Arfan Naendra menulis:

    ??? ….

  12. HMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM

  13. weh keren perkiraan akira memang akurat ??
    pantes jadi jendral wkwk

  14. Airaqyoung1215 menulis:

    Bunuh deh …
    Love AA couple

  15. Gawatt ???

  16. Kaikou Nezumi menulis:

    Cieeeeee pertemuan antara Akira dan Cesar setalah sekian lamanya?

  17. Deg degan gw

  18. fainacorazone07 menulis:

    Aku penasaran selanjutnya mereka kaya apa

  19. Dhian Sarahwati menulis:

    Deg2an..penasaran apa yg akan terjadi

  20. vara azzahra menulis:

    :sungguhmenakutkan :weknihweknihwekwek

  21. LauraOlivia00 menulis:

    :bantingkursi

  22. Kehidupan Akira peuh dengan ancaman, sementara Asia manusia yg cinta kedamaian.
    Akankah mereka dpt bersatu??? :mimisankarnamu

  23. Suningsihsuning menulis:

    haaduuuhh priiibbeeenn cooo

  24. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi
    tidakkk cesar :tidaaakksssnooo :tidaaakksssnooo

  25. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  26. Yaampunn :tidaaakksssnooo

  27. Asiah Silita menulis:

    :lovely

  28. Jgn percaya atuh Cesar😭

  29. Kinky Rain menulis:

    :larikarenamalu

  30. Yah Cesarr…

Tinggalkan Balasan