the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 7 : Apa Yang Kau Lakukan Pada Diriku?

Bookmark

No account yet? Register

1.785 votes, average: 1,00 out of 1 (1.785 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

The General’s Wife Part 7 : Apa yang Kau Lakukan Pada Diriku?

Perkataan jenderal Akira menggema di seluruh sudut ruangan, mengirimkan gelenyar panas yang membuat pipi Asia merah padam, dia menundukkan pandangannya, tidak berani menatap mata cokelat tajam yang seolah menertawakannya.

“Ayolah, turunkan selimutmu.” Ada nada tidak sabar di sana, membuat Asia kembali menundukkan kepalanya dengan jemari bergetar, lalu menurunkan selimutnya, pasrah.

Sekali lagi dia duduk setengah telanjang, hanya mengenakan bra sutera warna kuning, membungkus buah dadanya yang meranum.

Selama beberapa saat, suasana terasa begitu hening, hingga Asia, dengan takut-takut mengangkat kepalanya untuk mencari tahu apa yang terjadi,

Jenderal Akira sedang menatapnya dengan tatapan intens yang seolah menusuk ke jantungnya, membuat detak jantung Asia bertambah sepersekian detik lebih cepat.

“Turunkan bramu” suara itu kemudian terdengar lebih serak dan kelam seolah diucapkan sambil menahan napas.

Asia tercekat, tetapi kalimat sang jenderal sebelumnya masih membekas di benaknya. Lelaki ini suaminya, dan sudah pasti pernah melihatnya telanjang. Kebenaran akan hal itu tidak perlu diragukan lagi, bayi yang terkandung di dalam perutnya inilah yang menjadi bukti.

Asia menguatkan hati, berpikir kalau dia tidak seharusnya merasa malu dan takut pada lelaki yang sudah menjadi suaminya.

Dengan gerakan pelan dan gemulai, Asia melepaskan branya, meletakkan dengan hati-hati di samping bantalnya untuk kemudian menatap sang jenderal dengan mata polos dan dada yang telanjang seutuhnya.

Sedetik. Hanya sedetik. Akira tertegun menatap kepolosan nan indah di depan matanya, tetapi kemudian ekspresi dingin langsung menyelubungi wajahnya ketika melihat ada goresan-goresan juga di dada Asia.

“Disini juga ada?” Lelaki itu menggeram, duduk lebih rapat di pinggir ranjang dan tanpa permisi melabuhkan jemari panjangnya begitu saja di permukaan buah dada Asia.

Asia terkesiap, reflek sedikit mundur dan menghindar. Bukan apa-apa, jemari Akira terasa begitu panas, seolah menyengat kulit rapuh di dadanya.

Tetapi rupanya gerakan menghindar Asia itu menyulut perasaan tidak senang di hati sang jenderal, ekspresinya menjadi makin keras, matanya mendadak dingin dan bibirnya menipis kejam.

Tanpa kata, dengan sedikit kasar, Akira menarik tubuh Asia supaya maju kembali, lebih dekat kepadanya, dan kemudian mengoleskan salep penghilang lebam itu tebal-tebal dengan cara sedikit kasar di seluruh permukaan dadanya.

Semua berlangsung cepat hingga akhirnya sang jenderal meletakkan wadah salep itu, lalu mengangkat dagu Asia hingga wajah mereka saling berhadapan.

“Aku selalu bertanya-tanya, apakah kau juga sudah melupakan rasanya.” Tatapan mata Akira menajam, seolah ingin menengelamkan Asia bulat-bulat di kedalamannya.

Asia mengerutkan keningnya bingung,

“Melupakan apa?” Tanyanya lemah, tak sanggup menahankan tatapan intens itu.

“Ciumanku.”

Dan kemudian, bahkan sebelum Asia sempat menghela napas, tubuhnya sudah ditarik ke dalam hempasan kokoh dada bidang sang jenderal, dagunya diangkat semakin ke atas, untuk kemudian, bibir dingin yang keras itu mendarat di bibirnya, melumatnya.

Mata Asia terbelalak, merasakan bibirnya dicecap tanpa ampun, semula terasa dingin, tetapi kemudian gairah mencairkan kebekuan itu, membuat bibir yang sedang melumat bibirnya itu terasa panas, seumpama bara api yang disesapkan dengan paksa ke bibirnya.

Lelaki itu menggeram, jemarinya bergerak menelusup ke sela-sela rambut Asia, dia mengggerakkan kepalanya, memperdalam ciumannya, membuka bibir Asia dan menerobos pertahanan bibir Asia dengan lidahnya, tanpa permisi.

Asia memejamkan matanya, seluruh tubuhnya terasa melayang dan kepalanya pening, seolah dirinya tak mampu menahan sensasi dasyat yang dikirimkan oleh ciuman jenderal Akira yang penuh gairah dan brutal.

“Asia.” Akira bergumam serak, dengan geraman kasar karena bibirnya masih sibuk melumat bibir Asia. Suaranya sensual, terdengar penuh gairah, membuat Asia luluh lantak.

Membuat Asia bertanya-tanya, bisakah lelaki sekeras ini mencintainya dengan kelembutan?

Tanpa sadar, lengan Asia bergerak merangkul leher sang jenderal yang kokoh, gerakannya itu membuat Akira mengerang, dan dengan posesif merangkul Asia hingga tubuhnya terangkat, merapat erat ke dadanya, melumat bibirnya makin dalam dan liar, seolah tak tertahankan lagi.

Sayangnya tindakan Akira itu melupakan bahwa leher Asia yang terluka masih terasa nyeri ketika ada gerakan yang menggesekkan lukanya dengan perban yang membungkusnya.

Asia merintih, rintihan itu lepas dari bibirnya yang dilumat karena kesakitan menyengat di lehernya.

Dan rintihan itulah yang membuat ciuman Akira terhenti, diam  seperti patung dengan bibir beku yang masih menempel di bibirnya.

Secepat berhentinya, secepat itu pula Sang Jenderal melepaskan ciumannya, lalu berdiri di samping ranjang, menatap Asia dengan wajah kaku tak terbaca.

Jantung Asia berdentam begitu kencang, ciuman itu masih meninggalkan rasa di bibirnya, rasa panas menyengat lagi manis yang berpadu dengan aroma jantan nan hangat yang melingkupi sekujur tubuhnya, membuat aliran aneh yang menggelenyar, merambati tulang belakangnya dengan lembut.

Jenderal Akira mengernyit, menatap ekspresi Asia yang masih menatapnya dengan tatapan bingung dan bibir membuka, basah dan hangat bekas ciumannya.

Dan matanya berubah dingin ketika bergumam

“Maafkan gerakanku menyakiti lehermu, aku tidak bisa merasa sakit, karena itulah aku kadang tidak bisa berempati dengan rasa sakit orang lain.”

Dan dengan kalimat permintaan maaf yang misterius itu, Akira membalikkan tubuhnya, meninggalkan ruangan.

Sementara Asia termangu, bertanya-tanya apa yang dimaksud Akira dengan “tidak bisa merasa sakit?”

***

Akira melangkah lebar-lebar dengan cepat menuju ke sebuah ruangan besar yang merupakan ruang kerjanya, dibantingnya pintu hingga membuka untuk kemudian dihempaskannya hingga kembali dengan kasar setelah dia memasuki ruangan, hingga menciptakan suara berdentam memenuhi lorong-lorong rumah serupa benteng itu.

Napasnya sedikit cepat, secepat jemarinya membuka lemari kaca yang terpapar rapi dengan bingkai kayu berpelitur mahal yang memenuhi sepanjang dindingnya. Di dalam lemari kaca itu tersimpan botol-botol anggur terbaik dan sangat langka, sedikit dari yang tersisa di jaman perang sebelum kepunahan. Selama ini botol-botol anggur itu hanya menjadi cadangan, Akira tidak pernah menjamahnya.

Tapi kali ini berbeda.

Diambilnya satu botol yang usianya paling tua, matanya mencari gelas kristal di sisi lain lemari kaca itu, mengambilnya, lalu menuang dengan gerakan cepat. Tidak ada waktu untuk menghirup aromanya dan mengagumi keharuman angur tua yang berkualitas. Akira langsung menenggaknya, cepat dan dipenuhi kebutuhan untuk membiarkan cairan manis nan memabukkan itu memenuhi aliran darahnya, kemudian pikirannya.

Ciuman tadi adalah salah satu dari beberapa hal yang tidak bisa dipertimbangkan dengan logikanya jika menyangkut Asia.

Dan itu tidak bisa dibenarkan, sama sekali tidak bisa dibenarkan.

Benak Akira melayang, kembali ke masa lalu, masa di mana dia masih bersama dengan Asia yang dulu, Asia yang belum kehilangan ingatannya……

========

Akira keluar dan menutup pintu berwarna putih di belakangnya, tetapi dia tidak langsung pergi, punggungnya yang tegap dan keras disandarkannya di pintu, jemarinya yang panjang bergerak ke pipinya.

Ada beberapa bekas cakaran di sana, memanjang dan masih segar, mengeluarkan darah.

Akira mengusap luka cakaran itu dengan tenang, kemudian menatap jemarinya yang berdarah. Matanya menggelap, penuh dengan emosi tak terbaca.

“Maaf yang mulia, saya tidak mengetahui anda sedang berada di sini.”

Suara itu terdengar gugup dan sedikit kaget, menghentakkan Akira dari lamunannya. Sang jenderal mendongak dan mendapati dokter Frederick berdiri di ujung tangga, satu-satunya tangga yang menghubungkan lorong dengan teras kamar putih ini.

“Hendak memeriksa Asia?” Akira bergumam datar, menyipitkan matanya sambil menatap tas peralatan sang dokter, “Apakah dia sedang sakit?”

Dokter Frederick menggeleng, tatapannya mengarah ke pipi sang Jenderal yang terluka.

“Tidak, saya hanya melakukan pemeriksaan mingguan, anda terluka, apakah anda ingin saya mengobatinya?”

Akira tersenyum tipis, “Tidak, ini cuma luka kecil, dan kurasa Asia mungkin baik-baik saja, melihat bahwa dia masih mampu melukaiku.”

“Anda membiarkannya melukai anda?” Dokter Frederick mengangkat alisnya, antara takut dan ingin tahu. Karena dia sadar, bahwa sang Jenderal tidak akan bisa dilukai kecuali dia memang mengizinkan itu terjadi kepadanya.

Sementara itu, perkataan dokter Frederick malahan membuat ekspresi Akira makin tidak terbaca.

“Aku melepaskan ikatannya, dokter. Dan inilah yang terjadi.” Akira mengangkat bahunya, melangkah hendak melewati dokter Frederick, “Silahkan periksa dia, tenang saja, dia sudah kuikat lagi, dan kurasa setelah air matanya kering, dia akan mengizinkanmu memeriksanya.”

Dokter Frederick mengamati langkah jenderal Akira yang makin menjauh, lalu sebuah kalimat tanpa tertahankan meluncur dari bibirnya,

“Anda semakin mirip ayahanda anda dulu ketika bersama dengan ibu anda.”

Gumaman sang dokter itu membekukan langkah Akira yang sebenarnya sudah hampir melewatinya. Sang Jenderal langsung memposisikan dirinya menghadap dokter Frederick, dan menatapnya dengan tatapan mata tajam mengintimidasi.

“Apa maksudmu?”

Tatapan itu, nada suara itu, seperti seorang prajurit yang siap mencabut nyawa musuh-musuhnya. Membuat jantung dokter Frederick berdetak lebih cepat karena ketakutan, dia lalu beringsut, berusaha menjaga jarak, dan kemudian menjawab,

“Ayahanda anda dulu juga seperti anda.” Dokter Frederick berdehem, mencoba menormalkan suaranya yang serak karena ditekan oleh kegelisahannya, “Ayahanda anda dulu juga tidak pernah bisa berhenti ‘mengunjungi’ ibu anda…. beliau menjelaskan kepada saya, bahwa itu mungkin tidak ada hubungannya dengan perasaan, hanya saja rasanya seperti kecanduan.”

“Kecanduan?” Jenderal Akira menyipitkan matanya, tampak tertarik, “Dan apakah itu normal, dokter?’

Dokter Frederick mengangguk cepat, “Kebetulan saya melakukan penelitian tentang orang-orang dengan kromosom langka dan pasangan cocoknya. Dan saya menemukan bahwa ada gaya tarik menarik yang kuat di antara pasangan ini, anda mungkin juga merasakannya kepada nona Asia saat ini, dan percaya tidak percaya, nona Asia juga pasti merasakannya, meski tindakannya selama ini menutupi hal itu.”

Jenderal Akira terkekeh, “Dari semua hal yang dilakukam Asia hingga detik ini, bahwa dia tertarik kepadaku adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi.” Jemari Akira tanpa sadar menyentuh kembali luka cakaran di pipinya, “Dia membenciku, sama seperti halnya aku membencinya, hanya saja aku tidak punya pilihan.”

“Ini semua tidak ada hubungannya dengan perasaan dan berbagai emosi manusia, Yang Mulia. Hal ini murni karena kebutuhan fisik. Tubuh anda dan tubuh nona Asia diciptakan untuk saling berpasangan, dan tarik-menarik itu akan selalu ada, meskipun jika makin kuat, hal itu bisa membahayakan.”

“Kenapa membahayakan?” Mata Akira menyambar dokter Frederick dan seketika menyadari ada sesuatu yang disembunyikan di sana. Tatapannya menajam, penuh ancamam. “Apakah ada yang belum kau ceritakan kepadaku, dokter?”

Sekali lagi sang dokter beringsut, merasa tidak nyaman akan aura mengintimidasi yang terpancar dari tubuh penuh kuasa di depannya,

“Selama ini saya menyimpannya, karena saya merasa tidak etis membicarakan keputusan pribadi ayahanda anda.” Dokter Frederick menghela napas panjang, “Tetapi karena sekarang anda mengalami hal yang sama dengan ayahamda anda, saya merasa wajib memberitahukan kepada anda.” Suara dokter Frederick tercekat, tertelan di tenggorokannya.

Akira mendesis tak sabar, “Lanjutkan.”

Dokter Frederick menunduk, tampak sedih, “Ayahanda anda begitu terikat secara fisik kepada ibu anda, begitu terikatnya hingga beliau mampu melakukan apapun asal bisa bersama ibu anda. Dan hal itu membuat beliau takut, beliau adalah seorang pemimpin, dan seorang pemimpin tidak boleh terbelah pikirannya hanya karena seorang perempuan. Ayahanda anda percaya bahwa ibu anda, akan menjadi kelemahannya. Karena itulah setelah ibu anda melahirkan anda, ayahanda anda meminta saya membereskan semuanya.”

Rahang Akira berdenyut samar, “Apakah engkau hendak mengatakan padaku bahwa ayahku memerintahkanmu untuk membunuh ibuku?”

Kali ini dokter Frederick sudah menjadi begitu pucat pasi, seakan-akan menceritakan ini semua sangat menyiksa batinnya,

“Beliau memerintahkan saya memberikan obat dosis tertentu….” suara dokter Frederick melemah, “Obat itu membuat ibunda anda terlelap dan tidak terbangun lagi … setelah melahirkan anda.”

Menyedihkan.

Hanya itu yang terlintas di benak Akira ketika mengetahui kenyataan bahwa ayahnya telah membunuh ibunya, dan itu semua karena alasan konyol bahwa sang ayah takut ibunya mengalihkan perhatiannnya. Baginya sungguh menyedihkan, seorang jenderal dengan nama besar seperti ayahnya, ketakutan hanya karena pengaruh seorang wanita.

Akira mengenal ayahnya, bagi ayahnya tidak ada yang lebih berharga daripada kejayaan After Earth. Ayahnya telah mengalami buruk dan kejamnya perang yang menghancurkan sebagian besar planet bernama bumi ini, dan bagi ayahnya After Earth adalah jangkar, tempatnya berlabuh, satu-satunya yang berharga untuknya. Dan apapun yang mungkin berada antara sang ayah dengan After Earth, harus dimusnahkan.

Jadi, bukankah dia juga sama seperti ayahnya? Dia bahkan sudah bersiap membunuh Asia, nanti setelah perempuan itu menyelesaikan tugasnya untuk melahirkan keturunannya.

Benar bukan?

……..

Benarkah?

***

Di sana, di dalam ruang kerjanya yang sepi dan tertutup rapat, Akira menenggak hampir seluruh isi botol anggurnya. Kilasan masa lalu yang mengganggu itu menimbulkan rasa tidak nyaman dalam benaknya, menuntut untuk dimusnahkan.

Anggur ini sangat membantu tentu saja, dan Akira sadar, menghabiskan anggur sebanyak ini sekaligus – yang tak pernah dilakukannya sebelumnya – akan membuatnya mabuk berat. Efek dari mabuk berat seperti ini memang membahayakan, karena mabuk bisa saja membuat Akira kehilangan kewaspadaannya.

Tetapi malam ini, untuk menghilangkan kekacauan benaknya hanya ada dua pilihan, mabuk atau menumpahkan darah orang-orang.

Sayangnya di malam yang damai ini tidak tersedia darah untuk ditumpahkan. Jadi satu-satunya pilihan Akira hanyalah membiarkan pesona anggur nan memabukkan ini menguasainya.

***

Kantuk yang nyaman hampir saja membawa Asia menjelajahi  alam mimpi ketika pintu kamarnya tiba-tiba terbuka, menyelipkan cahaya samar-samar dari lorong yang memecah kegelapan di kamar, sebelum kemudian pintu itu ditutup kembali dengan suara berdebam yang kasar.

Asia memicingkan mata, otomatis terenggut dari genggaman rasa kantuk. Dia bangun dan duduk di atas ranjangnya, lalu debar jantungnya memacu tak tertahankan ketika menyadari bahwa suaminyalah yang memasuki kamar.

Suaminya, lelaki itu masih memakai pakaian yang sama dengan yang dikenakannya tadi sebelum meninggalkan kamar ini dengan gusar. Langkah lelaki itu panjang-panjang, lalu berhenti tepat disamping ranjang, berdiri diam menatap Asia, menembus nuansa remang-remang yang menyelimuti kamar.

“Aku memang tidak bisa merasakan sakit.” Akira bergumam dengan suara parau yang hampir tidak bisa dikenali, “Dulu, sebuah bom yang dirancang untuk membunuhku meledak hanya beberapa inci dari tubuhku, membuatku terluka parah, dan memerlukan waktu berbulan-bulan untuk memperbaiki kondisiku.” lelaki itu tersenyum miring, “Ayahku, sang Jenderal besar melakukan apa saja untuk memulihkanku, dan pada akhirnya aku bisa sembuh, meskipun ada beberapa hal yang sudah terlanjur rusak parah dan tak bisa disembuhkan.”

Jemari Akira terulur dan menyentuh pipi Asia, menelusuri kehalusannya dengan lembut. “Aku kehilangan kemampuanku untuk merasakan, aku tidak bisa merasa sakit, seluruh saraf sakitku kehilangan kemampuannya.” Lelaki itu tampak penuh ironi, “Tahukah kau bahwa rasa sakit itu adalah pertahanan tubuh kita untuk melindungi diri? Ketika kau melakukan sesuatu dan merasa sakit, maka otomatis kau akan berhenti karena kau sadar akan melukai dirimu jika melanjutkan. Sayangnya karena aku tidak merasa sakit, aku tidak berhenti,  hingga kadang aku hampir membunuh diriku sendiri karena aku tidak menyadari batas kemampuan tubuhku.”

Akira menundukkan kepalanya, membungkukkan tubuhnya hingga wajahnya sejajar dengan wajah Asia, napasnya menghembuskan aroma manis memabukkan yang terasa asing bagi penciuman Asia, lalu melanjutkan racauannya dengan suara berbisik,

“Dan aku terbiasa tidak merasa sakit Asia, sampai aku bertemu denganmu.” Napas Akira sedikit cepat, “Kau membuatku merasa sakit di setiap napasku, di seluruh tubuhku, bahkan di sini, di dalam dadaku.” Akira mengernyit seolah tidak senang, matanya menatap tajam ke arah Asia, ” Dan aku tidak suka itu Asia, aku tidak suka dengan efek yang kau timbulkan pada diriku, kau membuatku sakit dimana-mana.”

Ditatap dengan tatapan tajam dan semarah itu dari seorang Jenderal seperti Akira seharusnya membuat Asia mengkerut ketakutan. Tetapi tidak. Entah kenapa malam ini Akira nampak berbeda, lelaki itu seperti kehilangan kesadarannya hingga meruntuhkam sedikit tembok pertahanan yang selalu terpasang tanpa celah menutupi emosinya.

Berdiri membungkuk, dengan wajah yang begitu dekat, dengan tatapan tajam yang yang dipayungi oleh rambutnya yang acak-acakan, Akira malahan tampak seperti anak kecil yang merajuk. Dan hal itu membuat Asia tersenyum, senyum lembut seperti yang ditunjukkan seorang ibu ketika dengan sabarnya menghadapi kemarahan anaknya.

Alis Akira berkerut ketika menyadari senyum yang muncul perlahan di bibir Asia.

“Kenapa kau tersenyum?”

Asia menatap lelaki itu lembut, sedikit gemetar pada awalnya, tetapi Asia berhasil memberanikan diri untuk menyentuh tangan kokoh sang Jenderal yang masih menangkup pipinya,

“Maaf kalau aku membuatmu sakit dimana-mana.” Gumam Asia lembut setengah berbisik, “Adakah yang bisa kubantu untuk meredakannya?”

Jawaban Asia berikut sentuhan jemarinya sepertinya memantik sesuatu di dalam diri sang Jenderal, lelaki itu tersenyum, dan ada nyala penuh gairah di matanya,

“Oh… ada Asia, tentu saja ada.” Kepala Akira makin merapat ke arah Asia, dan bibir mereka hampir bersentuhan, “Tahukah kau apa yang dikatakan oleh dokter Frederick sebelum pulang tadi?”

“Apa?” Asia bertanya, setengah penasaran, setengah kewalahan ,menahankan debar di dada karena bibir suaminya sudah menempel dengan bibirnya, membaurkan napas panas yang menggoda.

“Dia bilang kau sudah kuat. Dan kalau aku menyentuhmu…..itu tidak akan membahayakan bayimu – asal aku bisa menahan diri untuk bersikap lembut.”

Dan kemudian setengah detik setelah mengucapkan kalimat itu, bibir sang Jenderal langsung melumat bibir Asia penuh gairah.

***

Entah sudah berapa lama, entah sudah berapa kali…… sang Jenderal dengan penuh kesabaran seolah mengajarkan Asia kembali bagaimana mengenali dirinya, mengenali tubuhnya, dan menemukan jalan untuk menuju kenikmatannya sendiri, hal-hal yang mungkin dilupakannya karena amnesia.

Rasanya luar biasa.

Asia bisa melihat bagaimana semua ini mempengaruhi suaminya – yang sedang berada di dalam dirinya – napas lelaki itu cepat dan debar jantungnya begitu kuat memukul-mukul rongga dadanya. Sayangnya kamar ini begitu gelap, menahankan keinginan Asia untuk menyerap keindahan suaminya dengan indera pengelihatannya.

Mata lelaki itu menyapunya, menyadari bahwa Asia sedang menatapnya,

“Apakah aku menyakitimu?” Suara Akira terdengar seperti geraman,

Asia menggelengkan kepalanya, membuat Akira tidak menahan-nahan dirinya lagi, melampiaskan semuanya, memuaskan dirinya, dan tentu  saja dengan membawa Asia bersamanya.

***

Asia membuka matanya dan langsung mengerutkan kening. Pagi ini terasa sangat dingin dan tubuhnya sedikit begidik karena sapuan udara dingin yang menyentuh kulitnya.

Pandangan matanya mengarah ke luar, ke arah sinar matahari yang tampak remang-remang. Rupanya hujan salju turun makin deras di pagi hari ini, meluncur jatuh seumpama butiran putih nan pekat, menumpuk tinggi dan melapisi permukaan apapun yang dijatuhinya dengan warna putih tanpa jeda.

Bahkan pemanas ruangan yang telah dinyalakan maksimal itupun tidak mampu menahankan udara dingin yang menyelinap diam-diam ke dalam kamar ini.

Asia menaikkan selimut sampai ke leher, dia tidak tahu ini jam berapa, dan suasana remang-remang di luar tidak cukup memberi petunjuk untuknya, tetapi mungkin kalau dia berbaring beberapa menit lebih lama, masih bisa dimaklumi.

Seluruh tubuhnya terasa sakit, luka dibalik perban lehernya, bahkan memar-memar di kulitnya terasa nyeri ketika bergesekan dengan seprei sutera yang melapisi ranjang ini…

Asia menyadari bahwa tubuhnya telanjang, bahwa tak ada busana yang melapisi sejengkalpun kulitnya.

Kenangan akan semalam, ketika dia menyerahkan diri kepada suaminya membuat tubuhnya bergetar. Asia mengerjapkan matanya, berusaha menyingkirkan kenangan-kenangan erotis yang membuat rasa panas merayapi kulitnya.

Jemari Asia tanpa sadar menyentuh sisi kosong di sebelahnya yang terasa dingin

Kemanakah Jenderal Akira?

Tiba-tiba, sebelum Asia mendapatkan jawaban atas pertanyaan di dalam benaknya, pintu kamarnya terbuka dan sosok yang tadi dipikirkannya melangkah memasuki kamar.

Lelaki itu tampak begitu tampan dengan sweater turtle neck hitam yang membungkus otot tubuhnya dan celana tentara warna gelap, mantel hitamnya belum dipakai, masih tergenggam di sebelah lengannya.

Asia hanya terpaku menatap suaminya – yang semalam telah menunjukkan kepadanya bagaimana menjadi suami yang sesungguhnya – dan pertanyaan-pertanyaan lain mulai bermunculan tak terkendali di benaknya.

Bagaimana mereka bertemu? Kenapa mereka bisa menikah? Apakah mereka saling mencintai? Kenapa setelah keintiman mereka semalam, pagi ini suaminya terasa kembali menjadi sang Jenderal yang terasa begitu jauh dan tak dikenalinya?

“Kau sudah bangun.” Ada sinar samar di mata Akira yang tidak bisa tersapu oleh pandangan sekilas. Lelaki itu melangkah tenang, dan seperti kebiasaannya, berdiri di samping ranjang Asia. “Kau tampak tidak sehat.” Kali ini ada nada tidak senang di sana, mata Akira menelusuri keseluruhan kulit Asia yang pucat, lalu jemarinya bergerak tanpa izin menyentuh dahi Asia.

Rahangnya tampak mengeras ketika menemukan betapa dinginnya kulit tubuh Asia.

“Kau kedinginan.” Geramnya.

Jenderal Akira memutar tubuhnya, dengan langkah panjang-panjang menuju ke arah pintu, lalu memanggil dengan suara tegas, membuat beberapa pelayan langsung datang tergopoh-gopoh.

Lelaki itu lalu mengucapkan serentetan instruksi dengan cepat kepada para pelayan yang langsung bergerak untuk memenuhi perintahnya.

Setelah itu sang Jenderal menoleh kembali ke arah Asia.

“Mereka akan menyiapkan mandi uap untukmu yang akan menghangatkanmu, aku sudah memastikan bahwa kau akan mengenakan baju yang paling hangat setelahnya. Cuaca beranjak semakin ekstrim hari ini, mungkin musim dingin kali ini adalah musim dingin terberat di After Earth.” Lelaki itu menyipitkan matanya, ekspresinya begitu dingin, mengalahkan dinginnya salju di luar sana. ” Kau harus tetap sehat Asia, demi After Earth, karena anak yang ada di dalam kandunganmu akan memimpin negara ini suatu saat nanti.”

Asia meringis, tiba-tiba merasakan lubang besar di dadanya, karena suaminya yang lembut dan penuh kasih semalam telah hilang, dan kembali menjadi sosok Jenderal dingin tanpa emosi yang terasa begitu jauh.

“Apakah…. apakah kau menikahiku karena mencintaiku? Apakah kita menikah karena cinta?”

Tiba-tiba saja pertanyaan yang telah menghantui benak Asia akhir-akhir ini meluncur begitu saja, keluar dari bibirnya dan tak tertahankan.

Mata Akira menajam mendengar pertanyaan Asia itu, tatapannya bahkan menusuk lebih dalam lagi, ada kemarahan yang tersirat di sana.

“Kalau ini ada hubungannya dengan semalam, aku menegaskan padamu bahwa itu adalah suatu kesalahan. Aku mabuk karena meminum anggur, jadi apapun yang kulakukan, apapun yang kukatakan semalam, itu bukan diriku yang sebenarnya.” Mata Akira menyipit dingin, “Dan mengenai cinta, aku menikahimu karena aku mencintai negaraku. Seharusnya kau juga begitu, Asia.”

***

Aku menikahimu karena aku mencintai negaraku …

Asia yang sudah mengenakan baju hangat sesudah mandi uap yang membuat tubuhnya nyaman, duduk sendirian sambil memangku sebuah buku tebal di depan jendela besar berkaca lebar yang menampilkan pemandangan derasnya hujan salju di luar sana.

Sebuah perapian besar menyala di salah satu dinding, seorang pelayan memaksa untuk menyalakannya, meskipun sudah ada pemanas ruangan di sini, untuk memastikan bahwa ruang membaca ini sudah benar-benar hangat.

Mata Asia terperangkap pada nyala api perapian itu, sementara benaknya terus mengulang-ulang kata-kata yang diucapkan sang Jenderal kepadanya.

Aku menikahimu karena aku mencintai negaraku …

Berarti mereka menikah tanpa cinta. Bodohnya dia yang untuk sesaat mengira bahwa ada romansa antara dirinya dan sang Jenderal.

Mabuk karena anggur.

Sesiangan ini dalam kesendiriannya, Asia berkutat di ruang baca yang ada di rumah ini, sebuah ruangan yang dilengkapi dengan perpustakaan lengkap yang menyimpan buku-buku langka dari jaman bumi masih berjaya, jaman sebelum After Earth ada.

Asia mencari buku-buku tentang anggur, mencari tahu sebanyak-banyaknya, karena dalam masanya sekarang di After Earth, mereka semua tidak mengenal anggur.

Dan pada akhirnya dia menemukan, bahwa minuman anggur adalah minuman yang berasal dari buah bernama anggur, buah berbentuk bulat kecil dengan warna ungu gelap, merah dan bahkan hijau,  yang bibitnya mungkin sudah punah dan tak terselamatkan sehingga tidak bisa ditanam kembali di After Earth. Manusia di masa lampau mengolah sari buah itu dengan beberapa teknik yang menghasilkan produk minuman dengan zat yang memabukkan di dalamnya.

Minuman itu membuat seseorang kehilangan kesadarannya, kehilangan akal sehatnya, hingga kadang berubah menjadi orang lain.

Lelaki lembut kekanak-kanakan dan penuh cinta yang mendatanginya semalam bukanlah suaminya….sosok itu hayalah manifestasi dari hilangnya kesadaran sang Jenderal. Suaminya yang sesungguhnya adalah sosok Jenderal Akira yang kejam, yang bisa mencabut delapan nyawa sekaligus dengan tangan kosong. Yang sangat mungkin tidak punya cinta di dalam hatinya.

Asia memejamkan mata, berusaha mengingat kembali kenangan semalam yang memabukkan.

Tangannya terikat, dan lelaki itu menyakitinya. Asia sudah berusaha memberontak sekuat tenaga, tetapi lelaki itu begitu kuat, memaksanya…

memaksanya!

Tersentak Asia membuka matanya, napasnya tersengal. Ingatan yang datang padanya adalah ingatan yang berbeda, ini buknlah ingatan yang diinginkannya, ingatan sekilas ini mengirimkan rasa sakit ke seluruh tubuhnya.

Dan kemudian seolah tak tertahankan, kilasan ingatan lain menghampirinya tanpa peringatan.

Kebakaran…

kebakaran hebat yang membuat napasnya sesak, dadanya nyeri dan matanya terasa panas, berair hingga hampir tidak bisa dibuka. Api ada di mana-mana, membungkusnya, mengelilinginya, menahan setiap langkahnya.

Cesar…. Cesar….

Nama itu terucap bagaikan mantra di bibirnya yang mengelupas dan kering, langkahnya terhuyung berusaha menembus api yang berkobar di depannya. Kulitnya terbakar, tentu saja, menambahkan rasa sakit yang sudah menyerang dirinya bertubi-tubi.

Sampai akhirnya nyala api itu terlalu panas untuk ditahan oleh tubuh mungilnya yang rapuh, Asia rubuh, terbaring meringkuk di lantai, sementara api yang mengelilingi tubuhnya semakin mendekat, bersiap melahapnya dan berpesta pora setelahnya.

Dia akan mati…

Asia memejamkan matanya, pasrah sekaligus ngeri akan kesakitan yang semakin mendera, dadanya terasa panas seolah akan pecah, untuk bernapaspun terasa amat menyiksa.

Dan kemudian ketika sampai di titik di mana Asia hendak menyerah pada kematian yang sudah siap menjemputnya, langkah kaki itu terdengar, suara sepatu nan berat semakin lama semakin dekat, menembus api yang berkobar dan mendekatinya.

Sosok bersepatu itu kemudian membungkuk, mengangkat tubuh Asia dan membawanya bersamanya…..

Lalu ingatan itu hilang, menyisakan rasa sakit tak terkira di kepala Asia.

Asia berdiri, hendak mencari pertolongan karena rasa nyeri yang amat sangat menyerang kepalanya, bagaikan sembilu yang ditancapkan tanpa ampun di sana.

Buku yang ada di pangkuannya jatuh begitu saja, langkahnya terhuyung. Semakin lemah.

Dia mencoba bertahan, tetapi nyeri itu makin tak tertahankan, memukul kepalanya hingga pandangannya gelap.

Asiapun menyerah, rubuh.

Dan lantai ruangan itu langsung menyambutnya…

 

200 Komentar

  1. fitriartemisia menulis:

    abis manis langsung dilepeh, eughhh akira minta dicium banget lah ini ya

  2. Syafriska Amelia Nst menulis:

    Jgn dingin2 amat bang Akira
    Ntr uda cinta br tw..
    Nah loh..

  3. :TERHARUBIRU Asia.

  4. ASIA :LARIDEMIHIDUP :LARIDEMIHIDUP :TERHARUBIRU

  5. Baca ulang

  6. Sekarang aja dingin sama Asia

  7. nah loh.. ingatan asia udh kembali kah ?

  8. Dingin bnget yh sikap ny akira

  9. Like this yooo … ?

  10. Prisma Lincia menulis:

    Nah..

  11. aninagustina menulis:

    Sikap bang jendral dingin² menusuk deh :tidakks!

  12. Dipertiwie menulis:

    “Jendral , dari apa yang pernah saya dengar , biasanya , kata-kata yang terucap dari mulut orang mabuk itu berasal dari hati lohhh …” :GAPAPAKOK :GAPAPAKOK :dragonmintacium

  13. fitriartemisia menulis:

    akira mah kayak dispenser, hot cold nya bisa tiba2..

  14. :PEDIHH

  15. asia ingatanya mau kembali?! :gulung2

  16. jendral kok dingin bgt sihh :GERAAH :PEDIHH :PEDIHH :DOR! :DOR!

  17. Aduhhhh, jendral akira kebawa suasana ihh :dragonmintacium :tidakks!

  18. Sekali jenderal tetep akira

  19. mustika lisa amalia menulis:

    Jenderal tak tersentuh, jenderal akira

  20. Lely Damayanti menulis:

    Jendral knp gk jujur saja sm Asia

  21. :huhuhu :huhuhu :huhuhu

  22. :bergoyang :bergoyang :bergoyang

  23. Entah Kenapa gak pernah Bosen baca Cerita ini, padahal Kalau di inget2 bisa 10kali aku udah baca Cerita ini Dan masih terbaik di ingatan Semangat Kakak bikin Cerita yang lainnya love love….

  24. Entah Kenapa gak pernah Bosen baca Cerita ini, padahal Kalau di inget2 bisa 10kali aku udah baca Cerita ini Dan masih terbaik di ingatan Semangat Kakak bikin Cerita yang lainnya love love…. :kisskiss

  25. Arfan Naendra menulis:

    :kisskiss bahagia akhirnya bisa baca cerita ini untuk kedua kalinya …. sempat bertanya2 ….. ada cerita se amazing ini ….

  26. “aku tidak bisa merasakan sakit, tapi kau membuatku sakit” entah kenapa itu kalimat berasa manis :kisskiss

  27. Airaqyoung1215 menulis:

    :berharapindah

  28. Kata” akira nyesekin bnget cuyy??

  29. Dhian Sarahwati menulis:

    Udah manis langsung d lepeh..Masih blm percaya cinta,sini ak ajarin apa itu cinta… :kisskiss :kisskiss

  30. :huhuhu

  31. Diana Ekawati menulis:

    :kisskiss

  32. Mabuk… mabuk…. :kamubikinngakak

  33. Perkataan Jendral Akira sadissss :kumenangismelepasmu

  34. IM IN LOVE WITH THIS STORIES

  35. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    hmm sepertinya Asia udah mulai ingat kembali :akucumapenonton :panikshow :panikshow :panikshow

  36. Baca ulang :mimisankarnamu

  37. Bella Miacara menulis:

    Do..

  38. Haha lucu juga liat jenderal akira dingin, nanti lama2 jadi bucin :kutungguapesmu

  39. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  40. Alah demen mah blg :Jambakantagonis

  41. Kinky Rain menulis:

    :endingnyagimanaini?

  42. Jenderal akira awalnya aja dingin2 bgt, pas dah bucin beh sweet walaupun masih kaku :awaskubalasnanti

  43. Akira dingin kyk kulkas 2 pintu…hihihii

Tinggalkan Balasan