the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 15 : ( FLASHBACK 1 ) : Kembali Ke Awal

Bookmark

No account yet? Register

1.540 votes, average: 1,00 out of 1 (1.540 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

Panti asuhan itu merupakan bangunan tua yang sudah berdiri hampir tiga puluh tahun lamanya, sebagai salah satu panti asuhan yang dibiayai oleh negara, mengingat banyak sekali anak yang kehilangan orang tuanya, menjadi yatim piatu akibat perang berkepanjangan.

Bangunannya besar dan luas meskipun cukup sederhana, di dalamnya ada dua sayap utama yang digunakan untuk menampung anak-anak yatim berdasarkan jenis kelaminnya.

Ya, para anak yatim ini tidur dalam satu kamar besar seluas aula mini yang masing2 kamar berisi sepuluh tempat tidur tingkat, itu berarti satu kamar bisa ditiduri 20 anak.

Selain kamar anak ada sebuah ruangan kecil yang dikhususkan sebagai ruang perawatan dan tempat tidur anak balita, walaupun sebenarnya ruangan itu lebih sering kosong. Hal itu disebabkan anak-anak usia balita lebih menarik untuk diadopsi dibandingkan anak-anak yang berumur lebih besar. Mereka hanya numpang lewat, mampir untuk beberapa hari dan biasanya sebentar saja sudah ada pasangan bahagia yang mengadopsi mereka.

Ada 35 anak usia lima sampai lima belas tahun yang ditampung di panti asuhan ini, dua puluh anak perempuan dan lima belas anak laki- laki. Itu tidak termasuk Asia yang tertua di sana di usianya yang 16 tahun serta beberapa pegawai panti yang tinggal di sana. Dia tidak masuk hitungan lagi karena ibu kepala panti sudah mengangkatnya sebagai asisten, statusnya bukan lagi anak yatim yang menunggu pengadopsi, lagi pula siapa juga yang mau mengadopsi gadis remaja seperti dirinya?

Sebagai asisten ibu panti, Asia bertugas mengurus anak-anak di pagi hari dan menyiapkan mereka semua sebelum berangkat sekolah. Setelah semua anak berangkat sekolah, Asia bersama asisten yang lain mengasuh anak-anak yang belum usia sekolah sekaligus memasak porsi besar untuk makan siang seluruh penghuni sekolah. Dan kegiatan itupun berlanjut, mengurusi anak-anak sampai mereka semua beranjak tidur.

Hari-hari Asia selalu sama, ada saat-saat dimana Asia merangkak naik ke tempat tidurnya- sebuah kamar kecil di loteng yang hanya muat diisi satu ranjang – dengan keadaan lelah luar biasa. Mengurus ‘adik-adiknya’ memang memerlukan banyak energi, tetapi Asia bahagia, setidaknya dia disini diperlakukan dengan baik dan bermartabat, dan dia punya atap untuk berlindung.

Asia menjadi anak paling tua yang masih bertahan di panti asuhan ini, saudara-saudara yatim seumurannya yang bernasib sama dengannya – tidak diadopsi sampai menginjak usia remaja – memilih untuk meninggalkan panti asuhan, mengadu nasib dan hidup mandiri dengan bekal pendidikan mereka.

Meskipun anak yatim, mereka semua memiliki kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan karena di After Earth, semua sekolah adalah milik negara dan semua pendidikan ditanggung oleh negara. Asia sendiri sudah menyelesaikan pendidikannya dalam waktu singkat sehingga dia bisa mengabdikan diri ke panti asuhan tempat dia dibesarkan.

Sampai dengan saat ini Asia tidak punya ambisi apapun… baginya panti asuhan ini adalah kehidupannya dan mungkin juga akan menjadi masa depannya.

“Memangnya kak Asia tidak ingin keluar dari sini dan menjalani kehidupan yang lain? bertemu dengan jodoh kakak lalu menempuh kehidupan sendiri, mungkin?”

India, salah satu ‘adik’nya di panti asuhan yang masih berusia empat belas tahun bergumam di dapur ketika mereka sedang membersihkan sayuran untuk makan malam anak-anak.

Asia mengangkat alisnya dan terkekeh, India memang selalu bermimpi untuk mencari masa depan di luar sana berbeda dengan dirinya.

“Aku sudah bahagia berada di sini, India. Tidak butuh apa-apa lagi.”

India membelalakkan matanya tak percaya, “Padahal kak Asia begitu cantik. Sayang sekali!”

Senyum Asia melebar mendengar pujian itu. Yah, meskipun dia merasa dirinya biasa-biasa saja, tetap saja sebagai seorang perempuan dia senang dipuji cantik,

“Kau lebih cantik India.” diulurkannya tangannya dan diacaknya rambut India penuh sayang, membuat India terkikik

Suara ketukan di pintu mengejutkan mereka, membuat dua kepala itu menoleh. Itu ibu panti, Chaterine. Di panti ini, mereka semua memanggilnya dengan sebutan ‘ibu’. Chaterine adalah perempuan setengah baya berusia pertengahan lima puluhan, hampir seluruh rambutnya berwarna abu-abu, dengan penampilan keibuan plus kacamata kecil yang selalu bertengger di ujung hidungnya.

Asia sedikit mengerutkan kening melihat ekspresi Chaterine yang penuh senyum,

“Ada apa ibu? Bukankah ibu seharusnya beristirahat? Saya akan mengantarkan susu hangat ke ruangan ibu.” Asia menyapa dengan lembut, Akhir-akhir ini kondisi Chaterine memang sedang menurun, beliau mengeluh tulang-tulangnya terasa nyeri ketika matahari sudah turun tanah.

Asia sudah menganjurkan untuk menemui dokter, tetapi Chaterine selalu menolak. Chaterine memang tidak pernah mau ke dokter, meskipun biaya pengobatan sama sekali tidak menjadi masalah, alasannya adalah karena dia takut disuntik.

Di After Earth, seluruh biaya pengobatan, perumahan, pendidikan dan hal-hal lain yang berhubungan dengan kepentingan publik, ditanggung oleh negara. Pemimpin mereka, Jenderal Moroko memang mengunggulkan persamaan di semua bidang untuk seluruh rakyat. Tidak pandang bulu siapa mereka, semua memiliki hak yang sama.

Chaterine menggelengkan kepala menanggapi tawaran Asia lalu tersenyum lembut, “Apakah kau bisa meninggalkan pekerjaanmu sebentar Asia? Ada tamu untukmu yang sedang menunggu di ruang kerjaku.”

Asia menoleh ke arah India, menatap ragu. Pekerjaan memasak sudah hampir selesai, mereka tinggal menyiapkan salad buah dan puding untuk anak-anak,

“Kau bisa kutinggalkan sendiri?” tanyanya pada India.

India mengibaskan tangannya dan tertawa, “Bisa, pergilah kak, aku akan memanggil anak-anak lain untuk membantuku.”

Asia tersenyum, lalu melepaskan celemeknya dan melangkah meengikuti Chaterine.

***

Mereka berjalan dalam keheningan menyusuri lorong panti asuhan menuju ruang kerja Chaterine yang merangkap sebagai ruang tamu panti. Terletak di area depan, ruang itu dibatasi oleh sekat kaca transparan dan memiliki pintu dorong kaca yang menghadap langsung ke pintu utama panti. Setiap anak yang pulang dari luar pasti akan menyempatkan diri untuk mampir, menyapa, atau bahkan hanya sekedar tersenyum lebar ketika mereka melewati ruang Cahterine.

Ruangan itu sederhana, hanya terdiri dari satu set sofa kecil bercorak bunga yang manis lengkap dengan meja kopi untuk para tamu, sementara untuk Chaterine sendiri ada meja setengah biro dan kursi busa dengan komputer di atas meja. Di sudut yang lain ada lemari kabinet besar yang selalu terkunci, berisi data-data seluruh anak panti, berikut dengan arsip adopsi. Di dekat sofa, ada meja kecil berisi satu set poci teh, kompor mini dan beberapa teh celup beserta gula. Ya, Chaterine selalu suka menyajikan sendiri teh untuk para tamunya.

Asia mengerutkan kening ketika mencuri pandang ke dalam ruang kerja kaca Chaterine. Di dalam sana …. Ada sosok laki-laki sedang duduk, mengenakan pakaian seragam militer bewarna … Hitam.

Asia menelan ludah dan mulai berdebar.

Kaum militer berpakaian hitam adalah kaum elite di kelas tertinggi yang dikenal paling menakutkan, paling kejam dan paling hebat. Mereka terdiri dari lulusan terbaik sekolah militer yang kemudian diambil langsung pada usia belia oleh Jenderal Akira, putera dari pemimpin besar negeri ini dan dididik secara khusus oleh beliau.

Siapapun yang cukup sial harus berurusan dengan kaum militer berseragam hitam akan mati mengenaskan….

Itu adalah kata-kata yang beredar di kalangan penduduk After Earth. Kaum militer berseragam hitam memang jarang muncul, tetapi sekali mereka memutuskan muncul, mereka akan membumi hanguskan musuh-musuh mereka hingga tidak bersisa.

“Ibu…” Asia menyentuh lengan Chaterine yang berjalan sedikit lebih cepat dari dirinya, “Apa yang dilkukan oleh kaum militer berseragam hitam di sini?” tanyanya cemas.

Chaterine di luar dugaan malah tersenyum, “Tenang saja Asia, militer berseragam hitam yang satu ini berbeda, kau akan senang bertemu dengannya.

Asia mengerutkan kening, tetapi dia akhirnya memilih menurut kepada ibu pantinya.

Chaterine membuka pintu kaca, dan sosok berseragam militer itu langsung berdiri, perhatiannya tertuju kepada Asia, seolah-olah dia bahkan tidak menyadari kehadiran Chaterine di sana.

Mereka saling bertatapan, dua pasang mata lembut yang sama.

Asia sedikit terkejut ketika menyadari bahwa sosok militer berseragam hitam itu masih sangat muda, hampir-hampir seumuran dengannya. Mungkin dia adalah militer yang dididik sejak kecil di asrama khusus militer After Earth. Lelaki itu juga tampan, perpaduan wajah dengan mata teduh, hidung mancung dan bibir tipis membuatnya terlihat menyenangkan meski memakai seragam militer yang mengerikan itu.

” Asia.” lelaki itu seolah tidak dapat menahan seringaian lebarnya, tubuhnya dengan lincah melompat mendekat, dan sedetik kemudian, Asia merasakan dirinya dipeluk erat-erat dalam lengan kokoh sang militer berseragam hitam

***

“Kakak kembarku?”

Asia membelalakkan mata, menatap bingung pada sosok tampan yang sekarang duduk di sebelahnya, sebelah tangan lelaki itu merangkul pundaknya, seolah takut Asia akan menghilang kalau dia melepaskannya. Asia sendiri masih merasa tak percaya sekarang dirinya berada dalam rangkulan seorang militer berpakaian hitam yang mengaku sebagai kakak kembarnya.

“Benar Asia.” Chaterine memandang Cesar lalu kembali memandang Asia, ada senyum dikulum di bibirnya. Kedua anak manusia di depannya ini begitu mirip, meskipun yang satu tampak berseri-seri bahagia dan yang lain tampak shock.

“Cesar, kakakmu telah mencarimu setahun terakhir ini, pada akhirnya dia menemukan dokumen yang membawanya kemari. Sebelum mempertemukan kalian, kami sudah mengambil tes DNA untuk meyakinkan, dan hasilnya kalian memang bersaudara.” Chaterine mengangsurkan amplop hasil tes DNA kepada Asia lalu menatap meminta maaf, “Maafkan aku mengambil sampel DNA rambutmu tanpa sepengetahuanmu, aku ingin memastikan semuanya benar sebelum mempertemukan kalian berdua.”

Asia menerima amplop itu, membuka dan membacanya. Meski sebagian besar berisi kata-kata ilmiah yang tidak dia mengerti, tetapi dia bisa membaca hasil akhirnya. Mereka bersaudara dengan kemiripan genetik yang tidak bisa dipungkiri.

“Aku… ” Asia mengernyit, menatap ke arah Cesar, lalu kehabisan kata-kata, “Bagaimana mungkin? Maksudku….”

“Aku akan memberimu waktu untuk mencerna ini semua.” Cesar menyela, masih tersenyum lebar, “Pelan-pelan, adikku. Aku akan menceritakan semuanya padamu pelan-pelan.”

Lalu seolah tidak bisa menahan diri, Cesar memeluk Asia erat-erat dan mengecup puncak kepalanya, “Selama ini kupikir aku sebatang kara di dunia, kupikir aku sendirian di dunia ini. Ternyata aku punya kau, kau Asia, adalah adik kembar kesayanganku.”

***

Pelan-pelan dan menceritakan semuanya secara bertahap. Itulah yang dilakukan Cesar pada hari-hari berikutnya. Hampir setiap saat ketika sedang tidak bertugas, dia pasti datang ke panti asuhan, menemui Asia, menceritakan tahap-demi tahap perjuangannya menemukan Asia.

Cesar dan Asia dipisahkan saat berusia satu tahun. Ketika Asia diambil oleh panti asuhan pemerintah, Cesar- karena dia laki-laki– diambil oleh kaum militer dan ditempatkan di asrama panti asuhan Militer untuk dilatih sebagai tentara.

Sejak kecil Cesar tinggal di panti asuhan militer itu. Dia sangat cerdas dan berpotensi, hingga pada usia tiga belas tahun, dia diperbolehkan mengikuti seleksi sebagai kandidat Militer elite berseragam hitam. Cesar merupakan kandidat termuda yang berhasil lulus, hal itu menarik perhatian Jenderal Akira, panglima tertinggi pasukan militer elite berseragam hitam, putera dari Jenderal Moroko pemimpin besar After Earth, sehingga Cesar menjadi salah satu tentara istimewa yang menerima pelatihan khusus, langsung oleh Jenderal Akira sendiri.

Kemudian ketika usianya lima belas tahun, Cesar mendapat info bahwa dirinya diambil kaum militer dari sebuah desa di pinggiran selatan After Earth. Berniat untuk bernostalgia, Cesar mengunjungi desa itu, pada akhirnya dia malahan bertemu dengan salah satu penduduk asli yang telah tinggal di desa itu sejak lama, dan mengetahui kenyataan bahwa dia memiliki seorang adik kembar yang dipisahkan darinya.

Pencarian Cesar pun dimulai, di sela-sela tugasnya sebagai militer, Cesar menyempatkan diri melakukan penelusuran, menyelidiki berkas-berkas lama dan mencari berbagai petunjuk. Pada akhirnya dia menemukan dokumen pengiriman Asia ke panti asuhan ini. Beruntung bagi Cesar karena Asia tidak pernah berpindah panti asuhan seumur hidupnya.

Lalu seperti yang sudah terjadi, Cesar menemui ibu Chaterine, menemukan Asia dan melakukan tes DNA untuk memperoleh kepastian.

Pada akhirnya dia berhasil menemukan adik kembarnya yang terpisah sejak kecil, menemukan Asia.

Sedang bagi Asia sendiri, sudah pasti dia bahagia, tiba-tiba menemukan kakak kembar yang begitu mempesona, padahal seumur hidupnya Asia merasa bahwa dirinya sebatang kara. rasanya tentu membahagiakan… sangat membahagiakan malahan.

Cesar sendiri memiliki kepribadian riang yang membuatnya mudah dicintai. Dia sangat baik kepada anak-anak panti, setiap dia datang, dia selalu membawa berbagai makanan manis seperti manisan jeli, permen, kembang gula, kue-kue kecil, semua yang disukai anak-anak.

Begitu mendengar kedatangan Cesar, semua anak panti akan berhamburan, berlari merubunginya dan mengantri untuk mendapatkan makanan kesukaan mereka, Cesar akan membagikannya satu-satu dengan senyum lebarnya yang khas, mengusap rambut masing-masing anak dengan penuh sayang dan tertawa bersama mereka.

Anak-anak panti memandang Cesar dengan tatapan kagum memuja. Mereka benar-benar terbengong-bengong pada awalnya menemukan seorang militer berbaju hitam yang ternyata tidak semenakutkan rumor yang beredar.

***

Sore itu Asia sedang berdiri di depan tungku besar, mengaduk-aduk sup jagung kental beraroma harum di dalam panci besar yang hampir mendidih, dia sedang menyiapkan makanan untuk empat puluh anak yatim piatu berbagai usia yang di tampung di panti asuhan ini plus para pengurus panti dan ibu panti.

Anak-anak lain yang sudah beranjak remaja membantunya di dapur, mengiris roti dan meletakkannya di keranjang, menyiapkan meja dan mengatur piring gelas di tempatnya.

Waktu makan malam sudah hampir tiba, Asia melirik ke arah jam dinding besar di atas jendela dapur. Diusapnya keringat yang menetes di dahinya. Tinggal mendidihkan sup, lalu semua siap sudah.

“Miss Asia…. ada tamu untukmu!” Memphis, seorang anak kecil berambut ikal dengan senyuman yang lebar menawan dan pipi kemerahan menarik-narik ujung roknya dengan bersemangat, “Lihat! Dia datang lagi dan membawakan manisan untuk kita semua!”

Lalu pintu terbuka, Asia menolehkan kepalanya dan tatapannya terpaku ke bawah, ke arah sepatu boot hitam mengkilap khas tentara militer. Dia mendongak dan bertatapan langsung dengan Cesar yang sedang tersenyum lebar,

“Hai adikku, aku datang lagi.”

Asia tersenyum lembut mendengar sapaan itu, Cesar seolah berusaha membiasakan Asia supaya menerima bahwa mereka adalah kakak beradik,

“Kami akan makan malam, kau makan malam bersama kami ya?” Asia menawarkan dengan lambut, setelah hari-hari yang mereka lalu bersama dan juga berkat intensnya Cesar berkunjung ke panti, hubungan mereka sedikit demi sedikit menjadi akrab,

“Apakah ada jatah untukku?” Cesar menengok panci sup yang mendidih itu dari balik pundak Asia, “Kau tahu, porsi makanku banyak.”

Asia terkekeh, “Pantas perutmu tampak menggelembung dan sudah tidak kencang lagi.” Disikutnya perut rata berotot Cesar dibelakangnya, membuat kakak kembarnya itu menghindar sambil tertawa terbahak. Hati Asia selalu terasa hangat mendengar tawa Cesar, “Selalu ada jatah untukmu, Cesar, duduklah dan makan bersama kami.” Ajak Asia bahagia.

***

Enam bulan sudah berselang sejak Asia menemukan kakak kembarnya, Cesar. Dalam enam bulan ini hubungan mereka begitu dekat, dan keterikatan batin di antara keduanya bahkan saling menguat ketika mereka telah saling menemukan.

Pernah Asia terserang demam tinggi yang membuatnya tidak bisa bangun, sementara Cesar sedang bertugas di perbatasan hampir dua minggu lamanya. Namun tiba-tiba di suatu siang yang tak terduga, Cesar tiba-tiba muncul di panti asuhan dengan wajah cemas dan pucat pasi.

Asia mengerutkan keningnya tidak menyangka kalau Cesar datang, bukankah masih beberapa lama lagi sebelum masa tugasnya selesai?

“Kau sakit! Aku tahu!” Cesar duduk di tepi ranjang, mengusap dahi Asia yang panas terbakar dengan cemas.

“Darimana kau tahu?” Rasa pening dan panas membuat Asia kepayahan tetapi tetap saja dia ingin tahu. Dia sama sekali tidak bisa menghubungi Cesar ketika kakaknya itu sedang bertugas, dan kalaupun bisa, dia tidak mau. Asia tidak mau merepotkan dan mengganggu karier kakaknya di bidang militer.

“Tentu saja aku tahu, aku saudara kembarmu, Asia. Ketika kau sakit, aku juga merasa sakit.” Cesar meremas jemari Asia cemas, “Aku langsung meminta izin pulang begitu aku merasakannya, ternyata memang firasatku benar.”

Asia memejamkan mata, “Seharusnya kau tidak perlu pulang, Cesar. Ini hanya demam biasa.”

Cesar menggelengkan kepalanya kuat-kuat, “Kau adikku, selama bertahun-tahun terpisah, aku bahkan tidak pernah ada ketika kau sakit. Sekarang aku ada dan akan kutebus semua waktu yang terbuang di masa lalu. Aku kakakmu, kau adalah adik yang sangat kusayangi. Aku bersumpah akan selalu melindungimu, ketika kau sakit, aku ingin menjadi peganganmu. Ketika kau dalam bahaya aku akan menjadi penyelamatmu.”

Asia tersenyum merasakan sesak di dada karena haru, dibalasnya remasan tangan Cesar dengan lembut,

“Terimakasih kakak.” Bisiknya dengan suara serak, berpadu air mata.

***

Sudah satu minggu berselang Cesar tidak datang ke panti asuhan. Terakhir kemarin, kakak kembarnya itu mengabari bahwa dia akan sangat sibuk di Marakesh City, pusat ibukota After Earth.

Jenderal Moroko, Pemimpin besar After Earth baru saja meninggal dengan damai di usia tuanya, dan Jenderal Akira sebagai putera satu-satunya Jenderal Moroko akan dilantik sebagai Jenderal besar After Earth akhir minggu ini.

Karena itulah Cesar begitu sibuk dalam rangka persiapan pelantikan Jenderal Akira, sebab Jenderal Akira selain sebagai pelatih Cesar juga merupakan pemimpin tertinggi pasukan militer elit berseragam hitam. Di saat-saat seperti ini, seluruh pasukan militer sedang dipusatkan di After Earth untuk kepentingan pelantikan.

Asia teringat dia pernah bertanya kepada Cesar tentang Jenderal Akira. Nama Jenderal Akira memang telah bergaung ke seluruh negeri, tetapi dalam artian yang mengerikan. Beliau dikenal sangat kejam, berkali-kali lebih kejam dari ayahandanya.

Kata Cesar, Jenderal Akira menguasai hampir semua teknik membunuh dengan tangan kosong secara sempurna, dan yang lebih menakutkan, beliau juga menguasai berbagai senjata dari senjata ringan semacam belati kecil sampai senjata api berat. Yang lebih parah lagi beliau dikenal berjiwa kejam dan tidak memiliki belas kasihan.

Karena itulah muncul kecemasan yang mengganggu di benak Asia.

Cesar, sebagai seorang militer berjiwa bebas, selalu membicarakan ketidak setujuannya akan kebijakan yang dijalankan Jenderal Moroko dan Jenderal Akira dalam menjalankan After Earth. Di sini, semua dijalankan berdasarkan persamaan. Seluruh penduduk memakai baju dari bahan yang sama, yang dijatah pemerintah, makanan mereka juga sama, bahkan sampai warna genting dan cat rumah pun harus sama. Hal ini sesuai dengan keyakinan Jenderal Moroko bahwa perbedaan pada akhirnya akan menimbulkan pepecahan dan perang, sebaliknya persamaan akan menciptakan persatuan.

Terakhir kemarin Cesar bilang dia dan teman-temannya sedang menggalang dukungan dari teman-temannya yang berpikiran sama, mereka ingin mengajukan usulan supaya kebijakan persamaan itu dilonggarkan, supaya rakyat After Earth setidaknya memperoleh hak untuk memilih warna pakaiannya sendiri, atau cat tembok rumahnya sendiri. Asia tidak setuju dengan itu semua, dia takut hal itu akan menyulut kemarah Jenderal Akira yang menakutkan itu, dan pada akhirnya membahayakan keselamatan jiwa Cesar.

Pernah suatu sore mereka duduk bersama di halaman panti asuhan yang berumput hijau, menikmati suasana sore sambil mengawasi anak-anak panti bermain kejar-kejaran di halaman.

Mereka berdua tengah duduk di bawah pohon, di hadapan mereka terhampar rerumputan hijau nan lembut diselingi bunga ilalang yang berwarna putih pucat, menciptakan suasana damai yang melingkupi hati.

“Aku percaya bahwa kita semua ditakdirkan untuk berdamai.” Asia bergumam memulai pembicaraan dia tersenyum sambil membiarkan helaian angin meniup rambut panjangnya.

Cesar, yang duduk di sebelah Asia sambil memejamkan mata dan kaki berselonjor santai, hanya mendengus untuk menunjukkan ketidak setujuannya ketika mendengarkan kata-kata perempuan di sampingnya,

“Kalau begitu kenapa bisa terjadi perang yang begitu dasyat di bumi ini? Membuat semuanya hancur dan manusia harus mengulang semua dari awal?” Gumam Cesar miris, “Tidak Asia, manusia tidak diciptakan untuk berdamai. Aku yakin secara alami manusia menginginkan perang. Terlebih ketika hak-haknya dirampas, secara alami manusia akan berperang untuk memperjuangkan hak-haknya itu.”

“Tapi sekarang di After Earth dipenuhi kedamaian bukan? Dan kedamaian itu membuat kita semua baik-baik saja.”

“Itu adalah kedamaian yang dipaksakan.” Cesar menggeram, tampak gusar. “Sang Jenderal besar memaksa kita semua seragam karena perbedaan apapun dianggapnya bisa memicu perang. Kita diharuskan memakai pakaian yang sama, memakan makanan yang sama, mendengarkan musik yang sama, bahkan untuk mengecat rumah kita saja diharuskan seragam! Hak kita sebagai manusia yang membutuhkan ruang untuk berkreasi dan berekspresi di rampas begitu saja!”

“Tetapi bukankah itu baik? Dengan segala sesuatu yang sama, manusia tidak akan bisa merasakan iri dan dengki. Bukankah iri dan dengki itu adalah salah satu penyakit hati paling berbahaya? Karena rasa iri dan dengki bisa memicu kejahatan yang lain, termasuk pertikaian atau bahkan perang sekalipun.”

Jawaban itu membuat Cesar tidak bisa berkata-kata. Dia hanya menghela napas, lalu mendengus, “Kau benar-benar pecinta kedamaian bukan?”

Pembicaraan mereka kemudian berlanjut kepada seorang tokoh musisi pecinta perdamaian yang hidup di jaman sebelum perang Nuklir bernama Bob Marley, tidak ada literatur yang menyebutkan ciri fisik ataupun sisa-sisa hasil karyanya, yang ada hanyalah kisah hidupnya yang terkenal, dan kata-kata darinya yang begitu menginspirasi, bahwa para perusak perdamaian tidak pernah mengambil libur, jadi para pecinta perdamaian juga seharusnya tidak pernah berlibur.

Cesar hanya tertawa, dia malah menggoda Asia tertarik dengan ketampanan Bob Marley ini, membuat Asia tertawa karena dia bahkan tidak bisa membayangkan wajah Bob Marley ini seperti apa.

Malam itu begitu hangat, tetapi kecemasan Asia tetap menghantui. Pada akhirnya dia memperingatkan Cesar untuk menahan diri memperjuangkan kebebasan untuk melakukan hal yang berbeda.

“Apapun yang ada di benakmu, janganlah kau lakukan Cesar, aku tahu kau punya rencana, tetapi kumohon jikalau itu membuat seluruh anugerah kedamaian yang kita nikmati ini musnah, hentikanlah rencana itu.” Asia memohon dengan suara rendah, penuh kesungguhan.

Tetapi jawaban Cesar hanya berupa senyum, kakaknya itu merangkul Asia ke dalam pelukannya, dan tidak menjanjikan apa-apa.

***

Mereka semua sedang duduk di ruangan besar yang diperuntukkan untuk ruang aktivitas di dalam panti asuhan itu.

Asia duduk sambil melipat kaki di karpet bersama beberapa anak panti asuhan lainnya, menonton televisi. Anak-anak yang lain tampak melakukan berbagai kegiatan yang disukainya, beberapa tampak tenggelam dalam bacaannya, yang lain sedang asyik menggambar di sudut ruangan.

Pukul tujuh sampai delapan malam adalah jam bebas bagi anak-anak panti untuk bersantai dan melakukan aktivitas kesukaan. Mereka semua sudah mengerjakan pekerjaan sekolah dan bersantap malam sebelumnya, nanti tepat pukul delapan, mereka akan menerima segelas susu hangat dan sekeping biskuit jagung sebelum kemudian masing-masing dari mereka harus masuk kamar dan tidur.

Acara televisi yang sedang mereka tonton menayangkan tentang sosok perempuan bangsawan yang akan menjadi pasangan dari penerus pemimpin mereka. Perempuan itu bernama Athena, dan ada info dari orang dalam bahwa Jenderal Akira, yang merupakan putera satu-satunya dari Jenderal Besar, sudah mengajukan lamaran pernikahan kepada puteri sahabat ayahnya itu.

Tampilan di televisi memunculkan sosok seorang perempuan yang sangat rupawan, sementara sosok Jenderal Akira sendiri masih begitu misterius, dikatakan bahwa Jenderal yang akan meneruskan tampuk pimpinan dari ayahnya itu tidak suka jika sosoknya dipublikasikan.

“Dia cantik sekali.” Gumam salah seorang anak panti dengan mata membelalak, “dan dia adalah perempuan pertama yang masuk akademi militer serta berhasil membuktikan bahwa perempuan juga bisa mendapatkan nilai terbaik….. nona Athena memang perempuan yang tepat untuk menjadi ibu negara kita nantinya.”

“Ya, nona Athena memang sangat cantik.”

Bahkan Asia, sebagai seorang perempuan terpesona dengan kecantikan Athena yang terpampang jelas dalam tampilan di televisi.

“Dan aku dengar Jenderal Akira sangat tampan, meskipun sampai sekarang wajahnya masih misterius.” Sambung yang lain bersemangat, “Bayangkan jika mereka menikah nanti, anak-anak mereka pasti akan memiliki penampilan yang sangat rupawan!”

Asia tersenyum, dia amat sangat setuju. Dengan ibu secantik nona Athena, anak Jenderal besar Akira sudah pasti amat sangat rupawan.

***

Akira membanting pintu di belakangnya dengan muram. Bibirnya menipis tidak suka.

Dokter Sialan. Seharusnya dihabisinya saja dokter itu di tempat. Batinnya mengutuk. Hari ini adalah hari pelantikannya sebagai Jenderal Besar After Earth menggantikan ayahandanya, dan dokter itu tidak menunggu-nunggu lagi untuk menyampaikan kabar buruk bagi dirinya.

Dokter Frederick baru saja menyampaikan, dengan penjelasan panjang lebarnya, bahwa Akira menderita kelainan genetik sehingga spermanya hanya bisa membuahi perempuan dengan sistem genetik yang cocok. Perempuan itu tiada duanya di After Earth, hanya satu-satunya. Dan mau tak mau, Akira harus mengambilnya menjadi isteri, menghamilinya kemudian menjadikan anaknya sebagai penerus sah After Earth.

Hanya ada satu orang perempuan yang bisa mengandung anaknya di After Earth? Kurang Ajar!

Akira sangat tidak suka diperintah, apalagi dalam hal sepenting ini. Bagaimana mungkin untuk memilih ibu dari calon anaknya saja dia tidak bisa?

Rahang Akira berkedut menahan marah. Untung saja dia bisa menahan diri tidak menarik pistol dan menembak dokter sialan itu. Kurang ajar. Merahasiakan hal sepenting ini begitu lama darinya dan memilih saat yang paling tidak tepat untuk mengungkapkannya.

***

“Akira?” sosok cantik dan mempesona itu langsung berdiri begitu Akira memasuki ruangan. Akira menatap Athena, tunangannya dan tiba-tiba merasa lelah. Hari ini adalah hari pelantikannya dan sebelumnya dia juga sudah mengumumkan kepada seluruh rakyat After Earth bahwa Athena, tunangannya, akan menjadi ibu negara mereka.

Akira tidak mempedulikan perasaan Athena tentu saja. Dia memilih Athena sebagai pasangan bukan karena cinta atau perasaan emosional lainnya. Bagi Akira, Athena adalah pion yang cocok untuk mendukung pemerintahannya.

Athena masih memiliki darah ningrat dari masa sebelum perang, Jenderal Zayed, ayah Athena adalah jenderal kepercayaan ayahnya, dan Athena adalah salah satu perempuan hebat yang bisa meniti karir sebagai tentara elit berpangkat letnan, belum lagi, perempuan cantik itu lumayan bisa menyenangkannya, selain itu Athena sangat mencintai dan memujanya.

Di mata Akira, Athena hanyalah paket lengkap yang dibutuhkannya untuk menunjang masa kepemimpinannya di After Earth. Selama ini ayahnya tahu, bahwa Athena bukanlah paket lengkap yang tepat, tetapi ayahnya diam saja. Akira menipiskan bibirnya, menahan kemarahan di dalam benaknya.

Sekarang dia harus kerepotan memikirkan cara untuk menyingkirkan ‘paket lengkap’ itu, demi seorang gadis antah berantah penghuni panti asuhan yang tidak diketahui asal-usulnya, seorang gadis yang kebetulan memiliki genetik paling tepat untuk mengandung anaknya.

“Kenapa? Kau tampak muram dan lelah.” Athena berdiri begitu dekat dengan Akira, jemarinya mengelus sisi luar lengan Akira dengan mesra, “Aku bisa menemanimu beristirahat di kamar kalau kau mau.” Suaranya berbisik lembut dan menggoda.

Tetapi Akira mencengkeram jemari Athena lalu menyingkirkannya dari lengannya. “Aku akan menemui ayahmu. Kita akan membatalkan pertunangan kita.”

Mata lebar Athena yang cantik membelalak, bibirnya membuka, “Apa maksudmu?” suara Athena bergetar ketika berbicara dan menatap wajah Akira yang tanpa ekspresi. Dia tahu Akira selalu serius dengan kata-katanya, lelaki itu tidak pernah bercanda. “Bukankah kita akan menikah tidak lama lagi? Semuanya sudah disiapkan…”

“Semuanya batal.” Akira menyela dingin. “Aku tidak bisa menikahimu karena kau tidak akan pernah bisa memberiku anak.”

***

Cesar sedang berjalan santai menuju asrama, dia telah menyelesaikan shift malamnya hari ini dan besok bisa mengambil jatah liburnya. Tentu saja dia akan menghabiskan hari liburnya ke panti Asuhan tempat Asia tinggal. Sudah seminggu dia tidak bertemu, dan betapa rindunya dia kepada adik kesayangannya itu.

Menemukan Asia bagaikan menemukan secercah harapan dalam hidupnya. Asia bagaikan setitik cahaya di lorong tak berujung tempatnya berjalan selama ini. Sekarang dia punya tujuan hidup, dia akan menjaga adiknya sebaik mungkin.

Langkah Cesar berhenti ketika pintu utama area ruang temu para perwira di Marakesh City terbanting hingga menimbulkan suara bantingan keras. Hari sudah malam sehingga suara itu terdengar nyata. Cesar melihat Jenderal Zayed yang keluar dari sana dengan wajah muram, disusul oleh Letnan Athena, calon ibu negara, tunangan dari Jenderal Besar Akira yang keluar dengan air mata bercucuran.

Jenderal Zayed hanya mengangguk singkat ke arah Cesar yang berdiri terpaku, lalu bergegas pergi ke mobil tentara yang telah menunggu di sana, sementara Letnan Athena berjalan pelan, masih terisak.

Letna Athena adalah perempuan yang menjadi panutan di kalangan militer. Dia dikenal sebagai perempuan tangguh, cerdas dan memiliki kemampuan bertarung yang hebat. Bahkan Cesarpun mengaguminya.

Tetapi letnan Athena yang sekarang lebih tampak seperti gadis rapuh yang tak berdaya. Mungkin karena sekaraang beliau sedang tidak mengenakan seragam militer, melainkan gaun putih indah yang dikenakannya tadi pagi untuk menghadiri pelantikan Jenderal Akira sebagai Jenderal Besar After Earth.

“Letnan Athena?” Cesar mengenal Letnan Athena dengan baik tentu saja, mereka pernah berada dalam satu divisi selama beberapa bulan ketika menjaga perbatasan di distrik barat.

“Cesar.” Athena nampak susah payah tersenyum, menahan air matanya, perempuan itu nampak begitu sedih, “Ah… maaf.” Athena menarik napas panjang, seolah menahan isakannya, tetapi kemudian tangis itu pecah berhamburan, Athena menutup wajahnya dengan kedua tangan, menangis sesenggukan hingga bahunya berguncang, “Maaf kau harus melihatku dalam kondisi memalukan seperti ini.” Bisik Athena gemetar di sela isakannya.

Cesar terpaku bingung, merasa ikut sedih entah kenapa melihat seorang perempuan kuat tiba-tiba menjadi begitu rapuh, pecah berantakan, dihelanya Athena dan dipeluknya perempuan itu untuk memberikan kekuatan.

Pada hari itu, Cesar mengetahui bahwa Jenderal Akira membatalkan pertunangannya dengan Athena dan bukan hanya itu, beliau juga langsung memberikan persetujan ketika Letnan Athena yang kalut mengajukan diri untuk pindah tugas ke perbatasan, ke divisi paling jauh dari Marakesh City.

Jenderal Akira telah membuang Letnan Athena dengan alasan aneh, bahwa Athena tidak akan bisa memberinya keturunan, dan ada perempuan lain yang bisa, dan perempuan itulah yang akan menjadi isteri Jenderal Akira.

***

“Anak perempuan itu masih kecil, baru enam belas tahun.” Jenderal Akira menatap muram ke arah dokter Frederick, “Dan kau ingin aku membuahinya?” ada nada terhina di dalam suara sang Jenderal, tetapi dokter Frederick berusaha mengabaikannya dan menjelaskan,

“Perempuan yang mengandung anak anda harus dalam kondisi yang prima, dalam kondisi genetik istimewa ini, enam belas sampai dua puluh tahun adalah kondisi terbaik. Anda harus ingat, perempuan ini juga memiliki kelainan genetik yang berbeda dengan manusia kebanyakan, anda tidak bisa melihat kondisi rahimnya sama dengan kaum perempuan biasa di After Earth.”

Akira menyipitkan mata tidak suka. Bayangan dia harus meniduri anak kecil berumur enam belas tahun yang tidak dia kenal, yang punya asal usul tidak jelas dan yang pasti tidak akan bisa memenuhi seleranya, membuatnya muak.

“Apakah kita tidak bisa menggunakan cara lain? Inseminasi buatan mungkin? Atau bayi tabung?”

Dokter Frederick menelan ludahnya, wajah Jenderal Akira yang muram membuatnya sedikit ngeri. Dia tidak ragu sedikitpun bahwa jika sedikit saja dia membuat hati Jenderal Akira tidak senang, lelaki itu akan mengambil pistol dan meledakkan kepalanya

“Ayahanda anda bersikeras bahwa anda harus menggunakan cara konvesional. Yang pertama, penerus anda harus dilahirkan di dalam pernikahan yang sah, untuk memberikan dukungan kekuatan mutlak baginya di masa depan nanti.”

Dokter Frederick berdehem tak enak hati sebelum melanjutkan, “Yang kedua, ayahanda anda percaya bahwa bayi yang diciptakan dari proses konvesional akan menjadi manusia yang lebih tangguh, anda tahu bukan bagaimana sel sperma berkompetisi untuk menjadi yang lebih dahulu menembus sel telur? Hanya sel sperma terbaik yang berhasil, sementara yang lain yang tertinggal akan musnah. Kita tidak bisa melakukan kompetisi itu dengan inseminasi buatan dan bayi tabung. Dalam dua proses itu, kita sebagai manusia telah mencampuri sistem alami, dengan memilihkan sel sperma yang kita anggap terbaik. Ayahanda anda berpesan dalam warisannya, bahwa anda bagaimanapun juga, harus menggunakan cara alami.”

“Ayahku sudah ada di alam baka, dan kau masih bersikeras mengikuti perintahnya?” Akira membentak marah, membuat dokter Frederick beringsut ketakutan di kursinya. “Karena perintah ayahku jadi kau merasa berhak memaksaku meniduri seorang gadis tidak jelas yang pasti tidak akan aku sukai?!”

“Anda… p…pasti akan menyukainya.” Dokter Fredercik memberanikan diri untuk menjawab, meskipun dia mulai gemetaran.

Mata Akira menyipit tajam, “Apa maksudmu?”

Tatapan mata itu sangat tajam hingga dokter Frederick hampir kehilangan napas, “Sama seperti ayah dan ibunda anda, tubuh kalian saling memanggil. Kalian diciptakan untuk berpasangan, bahkan jika anda menolakpun, tubuh anda akan tertarik pada perempuan itu. Percayalah, saya sudah melihat Ayahanda anda ketika bersama ibunda anda dulu. Ketika anda bertemu dengan perempuan itu, anda akan tahu.”

Akira merenung, lalu menggeram kepada Dokter Frederick, “Oke. Aku akan mengikuti saranmu. Aku akan melihat anak perempuan itu. Dan jika perkataanmu tidak terbukti, kau akan berakhir di ruang siksaan. Dengan koleksi pisauku.”

Kata-kata itu menggema di seluruh ruangan, menciptakan teror menakutkan yang menyiksa batin dokter Frederick dalam jangka waktu yang cukup lama.

***

“Lihat!”

Anak-anak panti itu berteriak dengan bersemangat sambil menunjuk-nunjuk ke arah kerumunan orang di sepanjang jalan. Mereka berlima, Asia dan empat anak panti dengan usia yang bervariasi antara sepuluh sampai lima belas tahun. Ibu panti meminta Asia mengajak anak-anak ke pasar untuk mengajari mereka berbelanja.

Mereka sudah menyelesaikan berbelanja bahan baku kering dan sedang dalam perjalanan ke arah pasar di pusat kota yang menjual buah-buahan ketika kerumunan orang di sepanjang jalan menghentikan langkah mereka.

Asia menggandeng salah seorang anak panti yang berada paling dekat dengannya, dan memberi isyarat kepada ketiga anak panti yang lain supaya mereka berlima tetap saling menjaga untuk bergandengan dan tidak melepaskan pegangan apapun yang terjadi.

“Ada apa?”Asia bertanya kepada seorang perempuan setengah baya yang sedang berdiri di depannya, ikut dalam kerumunan.

Perempuan itu hanya melirik sedikit dari ekor matanya, lalu mengalihkan pandangannya kembali ke ujung jalan, seolah-olah menanti sesuatu muncul di sana.

“Rombongan utama Sang Jenderal Besar akan lewat.” Jawab perempuan itu acuh tak acuh, bahkan untuk menatap Asia ketika berbicarapun, dia merasa tak butuh.

“Jenderal Besar… Yang Mulia Jenderal Akira?” Salah seorang anak panti dalam gandengannya berbisik di telinga Asia.

Asia memberikan jawaban dengan menganggukkan kepalanya, tiba-tiba saja merasa tertarik untuk menunggu iring-iringan sang Jenderal besar datang.

Sejak kematian Jenderal Besar Moroko, ayahanda Jenderal Akira, seluruh rakyat After Earth memang belum pernah mendapat kesempatan untuk melihat secara jelas wajah Jenderal Akira. Sang Jenderal memang tidak pernah muncul, sedikit sekali orang yang pernah melihat wajahnya, hanya reputasinya yang berhamburan di mana-mana, dan itu adalah reputasi mengerikan sebagai tentara dengan kemampuan membunuh paling menakutkan.

Dan kemudian, apa yang ditunggu-tunggu oleh semua orang muncul. Panji-panji bendera hitam dengan bintang emas di tengahnya tampak di ujung jalan diikuti dengan mobil-mobil tentara yang kokoh beriringan di belakangnya. Asia sedikit berjinjit dan melongokkan lehernya untuk lebih jelas melihat menembus kerumunan merasa kecewa karena kaca mobil di iring-iringan itu begitu gelap pekat dan tak tertembus. Asia tiba-tiba merasakan genggaman di tangannya dipererat, dia menoleh dan tersenyum melihat anak panti di sebelahnya tampak menahan napas penuh antisipasi.

Yah, pengalaman melihat iring-iringan sang Jenderal Besar, pemimpin tertinggi mereka tentu adalah pengalaman langka yang bisa membuat siapapun menahan napas.

“Banyak sekali tentara!” Seru salah seorang anak panti, “Mereka seperti paman Cesar!!”

Bagi anak-anak, sering bergaul dengan Cesar nan baik hati meskipun berseragam militer hitam, membuat mereka jadi tidak takut pada kaum militer elite berseragam hitam. Dalam pandangan kanak-kanak mereka, satu contoh baik bisa digeneralisasikan pada semua.

Berbeda dengan apa yang dirasakan Asia, dan mungkin sebagian besar orang dewasa yang berkerumun di sini. Asia merasakan ada rasa tegang dengan tensi yang main naik, membuat semuanya berdiri kaku dan terpaku takut ketika iring-iringan rombongan itu lewat.

Kaum militer berpakaian hitam memiliki reputasi seram yang tak terbantahkan, mereka tak pandang bulu, pembelot dari sisi manapun akan dihabisi tanpa ampun.

Tiba-tiba Asia teringat Cesar beserta idenya tentang kebebasan, dan Asia langsung merasa cemas.

“Disini rupanya kau Asia.”

Suara itu membuyarkan lamunan seram Asia. Merasa mengenal suara itu, Asia menolehkan kepalanya, “Ibu?” Ternyata Chaterine yang tiba-tiba berdiri di sebelahnya.

Chaterine tersenyum, “Aku tadi ada urusan di kota, dan kebetulan akan mampir ke sekolah untuk bertemu dengan wali kelas anak-anak.”

Salah seorang anak yang dibawa Asia menggoyang-goyangkan tangan Chaterine, menarik perhatiannya, “Ibu? Ibu akan kesekolah? Bolehkah kami ikut?” tanyanya bersemangat, anak-anak panti memang suka kalau diajak ke sekolah. Di komplek sekolah negeri After Earth memang terdapat lapangan luas berisi permainan anak-anak yang lengkap, setiap ke kota, anak-anak ini memang suka meminta diajak mampir ke sana.

Chaterine tersenyum, “Boleh saja.” Ditatapnya Asia yang masih terpaku ke arah iring-iringan mobil militer hitam itu, “Biarkan anak-anak bersamaku, Asia, kau bisa pulang sendiri? Kebetulan tadi aku menumpang mobil keluarga Lincoln sehingga kita bisa menitipkan belanjaan kita ke sana. Apakah kau sudah selesai berbelanja?”

“Saya bisa pulang sendiri ibu.” Asia nampak berpikir, “Saya hanya tinggal membeli sekeranjang apel. Nanti sekalian di perjalanan pulang saya akan mampir.” Gumamnya.

Rombongan orang-orang yang berkumpul di tepi jalan mulai bubar ketika iring-iringan Jenderal Akira mulai hilang dari pandangan. Chaterine dan Asia sibuk mengatur anak-anak supaya tetap ada dalam gandengan dan tidak terbawa arus orang-orang yang membubarkan diri. Setelah jalan mulai lengang, mereka berjalan menuju tempat parkir mobil keluarga Lincoln – tetangga mereka di atas bukit yang selalu berbaik hati mengantar anak-anak panti ke kota – untuk meletakkan belanjaan dan menggiring anak-anak ke dalam mobil.

Setelah seluruh anak panti yang dibawa Asia masuk ke mobil, Chaterine lalu memindahkan barang-barang belanjaan ke dalam bagasi, Asia menasehati anak-anak supaya tenang di dalam mobil yang akan membawa mereka ke sekolah, lalu dia menutup pintu dan berjalan ke belakang untuk membantu Chaterine.

“Entah kenapa Jenderal Akira memutuskan mengunjungi distrik ini.” Chaterine dan Asia telah memasukkan barang belanjaan terakhir dan menutup bagasi ketika pada akhirnya dia bergumam, “Kau tahu distrik ini kecil dan jauh dari pusat kota, tetapi anehnya Jenderal Akira memutuskan tempat ini sebagai kunjungan pertamanya setelah beliau dilantik sebagai Jenderal Besar.”

Asia mengangkat bahunya, “Mungkin beliau ingin mengunjungi dari yang terjauh dulu? Saya juga tidak tahu.” Senyumnya melebar ketika teringat Cesar, “Tetapi setidaknya Cesar ada di dalam rombongan itu, dia bilang mereka akan menginap di benteng di desa York tidak jauh dari bukit tempat panti asuhan kita. Dia akan berusaha mencuri-curi waktu untuk mampir.”

Chaterine tersenyum, “Cesar sangat menyayangimu, aku senang Asia, kau memiliki kakak yang begitu baik. Dia sangat menyayangimu sampai merelakan apapun asal kau bahagia.”

Asia tertawa, hatinya membuncah karena terasa hangat, “Dan sayapun juga begitu, saya selalu ingin Cesar berbahagia nantinya.” Dia lalu mengangguk dan berpamitan dengan sopan kepada Chaterine, “Kalau begitu saya pulang lebih dulu, ibu.”

“Apelnya jangan lupa Asia, besok kita akan mengisi persediaan selai apel kesukaan anak-anak.”

Asia mengangguk, lalu dia tersenyum lebar dan melambai kepada anak-anak di dalam mobil, sebelum kemudian membalikkan badan dan melangkah pergi.

***

Akira termenung di jalan setapak itu sambil mengernyit ke arah rumah besar bercat putih yang ada di atas bukit. Bangunan besar itu merupakan satu-satunya bangunan di sana, warna putihnya yang memantulkan matahari tampak kontras dengan hijaunya rerumputan yang menyelimuti tanah di sekelilingnya.

Itu panti asuhannya.

Ketika sampai di benteng tadi, Akira langsung berpesan pada Paris agar mengatur seluruh pasukan sementara dia pergi diam-diam mencari anak gadis itu. Paris, sebagai anak buah kepercayaannya, tentu saja tahu dan siap sedia mendukung seluruh rencananya.

Panti asuhan itu tidak terlalu jauh dari benteng tempat pasukannya menetap sementara di distrik ini dan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dirinya datang ke distrik ini berkamuflase sebagai kunjungan resmi kenegaraan, padahal tujuannya hanya satu, melihat anak perempuan yang akan menjadi ibu dari anaknya.

Sekarang bagaimana caranya dia melihat anak perempuan itu tanpa kelihatan mencolok?

Akira tentu saja sudah menerima berkas dan data diri anak perempuan bernama Asia. Dia hanya memandang fotonya sekilas dan tidak tertarik, foto itu diambil ketika Asia mendaftarkan diri dalam pendaftaran wajib untuk perempuan yang mulai akil balik. Yang terpatri di benak Akira adalah anak kecil polos, kerempeng dan sama sekali tidak menggugah nafsu untuk menidurinya.

Akira memutuskan untuk berdiam, menunggu di salah satu pohon yang menjulang ditengah padang ilalang yang mengapit jalan setapak menuju panti asuhan itu. Dia sedang berpikir cara untuk memasuki panti asuhan itu tanpa terlihat mencolok dan mencurigakan.

Tiba-tiba ada gerakan di ujung jalan, tak jauh dari dirinya. Akira menoleh, menatap sosok yang sedang berjalan ke arahnya itu, menyadari kehadirannya, dan seketika jantungnya langsung memukul rongga dadanya, begitu kerasnya hingga Akira mengernyit.

Anak perempuan itu …. dokter Frederick benar … bahkan dalam jarak masih jauh, Akira sudah tahu.

Itu adalah perempuan yang akan menjadi ibu bagi calon anaknya.

Perempuan itu, Asia, sedang membawa keranjang penuh berisi buah apel. Akira bersandar di pohon, mengamati. Rupanya Asia tidak menyadari kehadirannya, perempuan itu sedang merenung entah apa, dan kekurang hati-hatiannya membuat kakinya terantuk batu. Keranjang yang dibawanyapun oleng, menyebabkan buah apel yang ditampung di keranjang itu berjatuhan.

Perempuan itu menggumam pelan seolah menggerutu, lalu membungkuk untuk memungut buah apel itu satu-persatu. Akira tetap diam dan mengamati ketika perempuan itu menatap kecewa pada beberapa buah apel yang rusak karena terantuk bebatuan di bawah kakinya.

Ada sebutir apel yang menggelinding dan berhenti karena terantuk sepatu bootnya. Akira mengamati apel itu, lalu dia mengangkat kepalanya dan matanya bertemu dengan mata bening yang begitu indah.

Sayangnya ada ketakutan yang menyeruak di mata indah itu ketika melihatnya, mungkin perempuan itu menyadari bahwa dia mengenakan seragam militer elite berwarna hitam, dan merasa terintimidasi. Akira tersenyum sinis ketika melihat Asia menoleh samar ke kiri dan kanan dengan gelisah.

Perempuan ini ingin lari. Hah! Dia bahkan tidak tahu apa yang akan dihadapinya nanti.

Akira menatap kembali apel di kakinya, lalu membungkuk untuk mengambilnya, diulurkannya apel itu ke arah Asia,

“Ini apelmu.” Dia mencoba tersenyum tipis dan bersikap ramah, untuk memudarkan ketakutan pekat di mata Asia

Perempuan itu sepertinya ragu, dia tidak menerima apelnya, malahan menatap Akira dengan pandangan menilai

“Apakah kau tak mau mengambil apelmu?” Akira masih mengulurkan tangannya, merasa geli karena Asia hanya terperangah menatapnya.

Apakah Asia tertarik kepadanya?

Karena saat ini dia begitu tertarik kepada Asia. Sangat.

Dokter Frederick benar, tubuhnya tahu bahwa yang ada di depannya ini adalah pasangannya. Akira tidak pernah sekalipun merasakan perasaan seperti ini kepada wanita manapun. Perasaan mendamba yang pekat, dorongan primitif untuk memanggul Asia, membawanya pergi lalu mengunci mereka berdua di dalam kamar, dan memuaskan dirinya, berkali-kali.

Mungkin akan butuh waktu berhari-hari sampai dia puas. Akira menilai, merasa senang dengan pemandangan di depannya. Asia telah tumbuh dari perempuan kecil polos yang ada di foto, menjadi perempuan yang amat cantik. Penampilannya sederhana, tetapi membuat mata Akira senang.

Asia sendiri nampak tergeragap, perempuan itu lalu memberanikan diri untuk melangkah maju – dengan masih tetap menjaga jarak aman – dan kemudian mengambil apel itu dari tangan Akira.

Akira sengaja menahan apel itu sebelum melepaskannya, membuat Jemari mereka sedikit bersentuhan, dan tanpa bisa ditahan dia terkesiap ketika merasakan letupan yang berpendar aneh dari sentuhan kulit mereka.

Akira merasakan seperti deja vu, sesuatu yang familiar tapi tidak tahu apa….

Perempuan itu juga tampak mengerutkan keningnya, seolah merasakan sensasi yang sama …. mungkinkah?

“Siapa namamu?” Akira bertanya kemudian, membuka percakapan dan berusaha wajar.

Asia membuka mulutnya, kelihatan ragu, tetapi pastinya dia sadar bahwa pertanyaan dari seorang militer, apalagi yang berpakaian hitam, harus dijawab kalau masih sayang nyawa.

“Nama saya Asia.” Jawabnya kemudian dengan sopan.

“Dan kau boleh memanggilku Akira” Entah kenapa Akira secara impulsif langsung menyebutkan nama aslinya, ada dorongan dari dalam dirinya supaya Asia mengenal dirinya yang sesungguhnya.

Sejenak Akira waspada, melihat apakah dia dikenali, tetapi Asia tampak biasa saja ketika Akira menyebut namanya. Memang ada banyak nama Akira di After Earth, perempuan itu sepertinya sama sekali tidak menghubungkan dirinya dengan Jenderal besar Moroko yang bernama sama.

“Dimana kau tinggal?” Akira bertanya lagi untuk mengalihkan perhatian Asia dari namanya.

Asia dengan polosnya menunjuk ke sebuah bangunan besar di puncak bukit, bangunan itu mencolok karena hanya satu-satunya di puncak bukit itu. “Saya tinggal di panti asuhan milik pemerintah.”

Mata Akira menelusuri lengan Asia yang mungil, kulitnya tampak lembut, sepertinya enak kalau dicecap dengan lidahnya ….

Sudah cukup. Akira mengerang dalam hati. Dia harus membiarkan anak perempuan ini pergi. Dorongan di dalam dirinya semakin kuat, ingin merenggut anak perempuan ini ke dalam pelukannya dan memilikinya.

Belum waktunya. Akira mengingatkan dirinya sendiri. Nanti akan ada saatnya, tapi bukan sekarang.

“Aku akan sering berada di sekitar sini. Jangan terkejut jika nanti kau bertemu denganku lagi.” Dia sengaja memberi peringatan terselubung pada Asia, lalu meminggirkan tubuhnya yang menghalangi jalan sehingga Asia bisa lewat, “Silahkan, nona.” Gumamnya sopan.

Asia mengangguk, menggumamkan terima kasih, lalu dengan hati-hati hendak melewati Akira dan melangkah pergi

Tubuh Asia hampir melewatinya, mereka begitu dekat hingga Akira bisa menghirup aromanya, aroma alami manis yang berpadu dengan shampoo berbahan buah-buahan dari rambutnya yang tertiup angin.

Akira tidak bisa menahan dirinya untuk bertanya lagi, tergoda untuk lebih lama menikmati keharuman Asia yang sedang berada di dekatnya,

“Kalau aku tidak sedang berseragam militer, kau akan melihatku seperti apa?”

Langkah perempuan itu terhenti, seolah terkejut dengan pertanyaan yang diajukan tiba-tiba itu, kemudian setelah mengamati Akira kembali, perempuan itu memberikan jawaban yang tidak diduga,

“Saya akan mengira bahwa saya sedang bertemu malaikat.”

Jawaban itu membuat Akira itu terkekeh ironis, dia pernah disebut iblis, penjahat, setan kejam, monster, pembunuh, psikopat dan berbagai sebutan jelek lainnya, tetapi tidak ada satupun yang pernah menyebutnya sebagai malaikat.

“Tergantung kau ingin bertemu dengan malaikat yang mana, sayang.” Akira bergumam sopan lalu menganggukkan kepala dan melangkah melalui Asia ke arah yang berlawanan.

Meninggalkan Asia berdiri di sana, menatap punggung kokoh berpakaian hitam itu berlalu dan menjauh.

***

“Kau benar.” Akira menatap dokter Frederick yang kali ini dibawanya ke dalam rombongan kunjungan, Masih terasa jelas rasa frustrasi tubuhnya karena keinginan yang tak tersalurkan, “Aku menginginkan perempuan itu.”

Dokter Frederick hanya menganggukkan kepalanya. Hal itu sudah pasti terjadi. Dia pernah melihat Ayahanda Akira, Jenderal Moroko menghadapai situasi yang sama.

“Segera. Aku ingin segera mendapatkannya.” Akira tampak merenung lalu mengangkat telepon dan memberi perintah, “Panggil Paris kemari.” Setelah meletakkan gagang telepon, Akira menatap dokter Frederick dengan tatapan tajam mengancam, “Well kali ini aku akan mengikuti anjuranmu, dokter Frederick, aku akan membuahi perempuan itu dengan cara alami. Sekarang, begitu Paris datang. Kita harus mengatur rencana untuk mendapatkan perempuan itu secara rahasia dan membawanya ke dalam bentengku di Marakesh City.”

 

166 Komentar

  1. Lucu banget awal pertemuan mereka :terlalutampan :ihircihuy

  2. Bella Miacara menulis:

    Love it..

  3. Ouuuuhhhmmm :menantiadegankiss

  4. Jenderal Akira sbnrnya suka Asia dr pandangan pertama :SELAMATPAGI

  5. PutryNurlaila menulis:

    :ayojadian

  6. dewantilaraswaty menulis:

    :ayojadian :ayojadian

  7. Pas anjr, psiko temennya psiko juga :bantingkursi :Jambakantagonis :idihkokbikinemosi

  8. Ariyantipita menulis:

    :ayojadian :ayojadian :ayojadian

  9. Manis juga pertemuan pertamanya😃

  10. Kinky Rain menulis:

    :lovelove

  11. Woww :sebarcinta

Tinggalkan Balasan