the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 11 : Ironi

Bookmark

No account yet? Register

1.733 votes, average: 1,00 out of 1 (1.733 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

Mata Asia melebar, sekelebatan ingatan tentang mimpinya di masa lampau langsung mengusik kesadarannya.

Perempuan ini…… Letnan Athena. Asia langsung teringat akan tayangan televisi tentang rumor pertunangan Jenderal Akira dengan perempuan ini. Pantas dia merasa pernah melihat wajahnya, kecantikan itu adalah jenis kecantikan yang tidak mudah dilupakan….

Suasana menjadi canggung, entah kenapa. Dalam jeda yang lama, Asia tidak mampu berkata-kata, bingung harus bereaksi apa atas perkenalan Athena kepadanya.

Sebenarnya apa yang ada di benak Jenderal Akira? Kenapa menjadikan seseorang yang pernah menjalin hubungan dekat dengannya menjadi pengawal pribadi Asia?

Letnan Athena rupanya menyadari kecanggungan Asia, perempuan itu tersenyum lembut, lalu mengedikkan kepalanya ke arah jemari Asia yang masih termangu.

“Saya akan menunggu di luar, jangan lupa obatnya, anda harus menggunakannya untuk menghilangkan pusing anda.” Gumamnya tak kalah lembut, lalu menghormat sekali lagi dan meninggalkan Asia sendiri di kamar.

***

Cesar menatap peta di depannya dengan dahi berkerut. Tatapan matanya menyiratkan kemarahan, menguarkan aura menyesakkan yang membuat orang-orang di dalam ruangan ini merasa tidak nyaman.

“Hanya ini yang berhasil kami dapatkan. Sejak kejadian percobaan penculikan yang gagal itu, keamanan benteng Jenderal Akira sangat ketat, bahkan seekor lalatpun mungkin tidak akan bisa masuk ke sana tanpa seizinnya.” Keiro, orang kepercayaan Cesar yang biasanya selalu optimis sekarang mulai terdengar gusar.

Cesar mengusap rambut pirangnya, menyipitkan mata dan berusaha memahami peta di depannya dengan seksama, mencari detail sekecil apapun yang mungkin bisa memberikan celah untuknya. Tetapi kurang ajar, tidak ada celah.

Keiro benar, bahkan seekor lalatpun tidak akan bisa masuk dengan leluasa.

“Satu-satunya jalan adalah ketika Jenderal berengsek itu membawa Asia keluar.”

“Dan dia sepertinya tidak berniat melakukannya. Berdasar pengamatan kami, kondisi tidak berubah meskipun nona Asia sudah lebih….” Kairo berdehem, tampak canggung menerima tatapan tajam dari Cesar. ” Maksud saya, … kami pikir setelah nona Asia lebih kooperatif, penjagaan di benteng bisa lebih longgar. Tetapi ternyata tidak, semua yang dibutuhkan dimasukkan ke benteng setelah melalui pemeriksaan ketat, seluruh pegawai diseleksi, bahkan dokter pribadi juga didatangkan ke sana. Jenderal Akira seolah-olah masih menawan nona Asia di bentengnya.”

Cesar merasakan ada sepercik harapan melambung di benaknya, terasa menggelitik, bagaikan sayap kupu-kupu di dadanya, menimbulkan rasa geli yang aneh. Rasa geli adalah rasa yang tidak nyaman, seperti dipaksa menahan bersin.

Percayalah, kau akan lebih memilih bisa tertawa lepas daripada hanya bisa merasa geli.

Dan secepat harapan itu menyala, secepat itu pula Cesar memadamkannya.

“Mungkin Jenderal itu hanya menjaga supaya tidak ada yang masuk, bukannya masih menawan Asia.” Cesar mengernyit,  Bahkan menyebut nama perempuan itu saja menyisakan rasa pedih yang pahit di pangkal tenggorokannya.

“Lalu apa yang akan anda lakukan?” Keiro tampaknya tidak mempunyai ide apapun, dia selalu membuat rencana berdasarkan fakta di lapangan, dan fakta menunjukkan bahwa mereka sama sekali tidak punya harapan.

“Aku akan menggunakan diriku sendiri sebagai umpan.” Cesar menggeram, matanya menyala penuh tekad.

“Apa maksud anda?” Kali ini Keiro tidak bisa menyembunyikan ekspresi cemas di wajahnya. Apakah atasannya ini ingin berbuat nekat?

“Jenderal brengsek itu pasti sangat ingin mendapatkanku, dari segala upaya yang dilakukannya, jelas sekali bahwa dia tidak sabar untuk memenggal kepalaku dengan tangannya sendiri.” Mata Cesar menyipit penuh perhitungan, “Aku akan memberikan apa yang dia inginkan, dan kemudian, dia akan memberikan apa yang aku inginkan.”

***

Asia sudah mandi, dia mengenakan gaun katun longgar berwarna putih dan menggulung rambutnya di atas tengkuk. Ketika dia berkaca, jemarinya tanpa sadar mengusap lembut perutnya yang tampak mulai menyembul di sana.

Usia janinnya mungkin sudah tiga bulan, mengingat ketika dia baru terbangun dari amnesia, suaminya mengatakan bahwa dirinya sedang mengandung dua bulan.

Asia mengusap perutnya di sana, merasakan kilasan melankolis yang tiba-tiba merayapi benaknya.

Seperti apa rasanya ketika dia mengetahui kehamilannya? Apakah dia bahagia? Apakah suaminya…. bahagia? Apakah dia mengalami mengidam seperti perempuan-perempuan yang sedang hamil muda pada umumnya? Bagaimana suaminya menghadapi itu semua?

Asia bersyukur karena sekarang dia sama sekali tidak merasakan gangguan karena mengandung. Satu-satunya yang dirasakannya –di luar rasa pusing yang muncul karena sekelebat ingatannya yang datang – hanyalah rasa mengantuk yang tak tahu tempat, membuatnya bisa tidur di mana saja dan kapan saja.

Meskipun begitu, tak urung kehilangan kenangan di masa awal dia mengandung membuatnya sedih…. dia ingin mengingatnya, sungguh, dia sangat ingin mengingat semuanya, semua hal yang membuatnya bisa berada di sini, sebagai isteri dari orang nomor satu di negeri ini.

Asia menatap dirinya di cermin, menyadari bahwa pipinya nampak pucat dan perutnya mulai keroncongan.

Ah dia harus sarapan, bayinya menagih nutrisi.

Asia tersenyum lembut, mengusap perutnya sekali lagi dan kemudian melangkah keluar kamar.

***

“Anda sudah nampak lebih baik.” Sapaan ramah itu membuat langkah ringan Asia terhenti, dia berhadapan kembali dengan letnan Athena yang rupanya masih menunggunya di depan pintu kamar.

“Anda masih menunggui saya.” Asia bergumam pelan, sedikit merasa malu. Bagaimana mungkin dia bisa membandingkan dirinya dengan kecantikan milik Athena. Bahkan tinggi badan perempuan itu begitu jauh dengan dirinya, membuat Asia harus mendongakkan kepala ketika berbicara dengannya, mengintimidasinya.

Letnan Athena tersenyum mendengar jawaban Asia,  “Sudah tugas saya untuk selalu berada di dekat anda. Silahkan nyonya, Jenderal Akira menunggu anda di ruang makan.”

Asia mengerutkan keningnya sambil mengikuti langkah-langkah Athena, benaknya membatin, diliputi tanda tanya.

Jenderal Akira masih ada di rumah? Bukankah biasanya lelaki itu sudah pergi pagi-pagi sekali, meninggalkan Asia untuk sarapan sendirian?

Tapi tak urung ada gejolak yang beriak kecil di benak Asia, membuat pipinya terasa panas.

***

Jenderal Akira duduk di sana di kursi besar yang terletak di bagian ujung meja makan, mengenakan mantel hitam khas militer yang dikancingkan sampai ke atas. Tubuh lelaki itu tinggi, mendominasi keseluruhan ruang makan yang begitu besar.

Meja makan mereka terletak tepat dihadapan jendela kaca nan besar, menampilkan pemandangan hujan salju yang semakin berat, seolah berusaha menghimpit sinar matahari yang sedang memaksakan sulur-sulur cahaya miliknya untuk mengurai pekatnya salju.

Lelaki itu sedang menyesap kopi yang nampak hitam pekat, begitu kontras dengan cangkir putih yang dipegangnya.

Tanpa kata, letnan Athena menarikkan kursi untuk Asia, dan mempersilahkan Asia duduk.

Jenderal Akira menyesap kopinya, menatap letnan Athena tanpa ekspresi.

“Kau boleh pergi, Athena.” Usirnya tanpa perasaan, membuat Asia mengerutkan keningnya bingung.

Sebegitu dinginkah sikap jenderal Akira kepada perempuan yang dulu pernah menjalin hubungan dengannya?

Letnan Athena sendiri mengangguk dengan hormat, lalu membalikkan badan dan meninggalkan ruangan setelah menutup rapat pintu di belakangnya.

Suasana ruang makan langsung terasa begitu sepi, Asia sendiri hanya terdiam tidak tahu harus berbuat apa. Mereka jarang sarapan bersama, dan hal ini sedikit memunculkan perasaan canggung.

Lalu sebuah piring kecil berisi muffin dan berbagai macam buah yang sudah dipotong di sodorkan padanya.

“Makan.” Gumam sang Jenderal singkat, lelaki itu sudah selesai menikmati kopinya, dan entah kenapa memilih untuk menyandarkan tubuhnya santai di kursi sambil mengamati Asia.

Asia menghela napas panjang, meraih kue muffin itu dan menggigitnya. Enak. Dia seharusnya meminta resep kue ini pada koki, anak-anak panti asuhan pasti akan senang menyantap kue ini sebagai sarapan….. dan tiba-tiba, perasaan sedih nan kuat menghantam Asia ketika menyadari bahwa panti Asuhan yang sudah seperti kampung halamannya itu sudah tak ada.

“Kenapa? Tidak enak?” Jenderal Akira rupanya menyadari perubahan ekspresi Asia, lelaki itu menyipitkan mata, menatapnya tajam.

Asia buru-buru menggelengkan kepala, menelan gigitan muffin enak itu yang entah kenapa sekarang terasa seperti segumpal kertas.

“Makan yang banyak. Ingat kau makan untuk dua orang.” Jenderal Akira mengalihkan tatapan matanya ke perut Asia, “Apakah dia baik-baik saja?”

Asia mengerutkan keningnya. Dia?

Tetapi kemudian Asia menyadari tatapan sang Jenderal ke perutnya, dia berseri sambil mengusap perutnya, menyadari bahwa Jenderal Akira sedang mencemaskan anaknya, anak mereka.

“Baik-baik saja.” Gumam Asia lembut.

Tatapan Akira menajam meskipun ekspresi datarnya tidak berubah, “Jaga dia baik-baik, keberadaannya yang paling penting untuk kelangsungan After Earth.”

Kata-kata sang Jenderal membuat hati Asia menciut, seolah-olah bagi Jenderal Akira keberadaannya hanyalah untuk melahirkan anaknya. Tetapi benarkah begitu? Kalau begitu kenapa Jenderal Akira memilihnya dibandingkan dengan perempuan-perempuan lain yang notabene jauh lebih baik dari dirinya? Seperti nona Athena misalnya, dia disebut-sebut masih mewarisi darah bangsawan dari sebuah kerajaan di bumi masa lampau, bukankah secara keseluruhan perempuan itu lebih pantas menjadi ibu dari calon penerus kekuasaan After Earth?

“Kenapa kau memilih aku untuk menjadi isterimu dan mengandung anakmu?” Asia akhirnya memberanikan diri bertanya, dan langsung dihadiahi tatapan tajam menusuk sang Jenderal.

Jenderal Akira hanya menatapnya, menelusuri keseluruhan dirinya dengan tatapan tajam dan menilai, menciptakan kecanggungan dibalik keheningan yang mencekat.

“Karena aku tidak punya pilihan lain.” Jawab Jenderal Akira akhirnya, nadanya dingin dan memukul diri Asia hingga ke pangkalnya.

Asia tidak pernah mendengarkan jawaban yang lebih merendahkan daripada itu, menikahinya karena tidak punya pilihan lain? Jawaban macam apa itu? Apakah kalau Akira memiliki pilihan lain, dia akan dicampakkan?

Dengan mata yang mulai terasa panas, Asia meletakkan peralatan makanannya dan mengelap mulutnya dengan serbet yang tersedia,

“Saya sudah kenyang, permisi.” Asia bangkit, melirik ke arah Akira yang masih duduk santai bersandar di kursi sambil melipat lengannya, menatap Asia dengan ekspresi dingin meskipun matanya bersinar sedikit …. geli?

Geli? Lelaki ini sedang menertawakan dirinya?

Asia mendengus, didorong oleh kemarahan yang tidak bisa dijelaskan oleh nalarnya, mungkin memang suasana hatinya sedang tidak bagus, mungkin juga pengaruh hormon kehamilannya yang kacau balau, Asia tidak tahu, yang jelas dia ingin segera pergi dan menjauh dari suaminya.

Dihentakkannya kakinya kesal lalu membalikkan tubuhnya melangkah ke pintu, dia sudah berhasil membuka pintu itu ketika sebuah tangan nan kokoh melalui sisi kepalanya, dan mendorong kembali pintu itu supaya menutup kembali dengan keras.

Asia berdiri terpaku dengan jemari masih memegang handle pintu, punggungnya meremang merasakan suhu panas di sana, menandakan bahwa Jenderal Akira sedang berdiri rapat di belakangnya.

Dia bahkan tidak mendengar langkah kaki sang Jenderal yang  mendekat. Di detik terakhir dia membalikkan badannya tadi, Jenderal Akira masih duduk santai di sana, entah bagaimana laki-laki itu bisa begitu cepat menyusulnya….

Mata Asia dengan ragu menatap ke arah tangan kokoh yang masih menempel di pintu, tepat di sebelah kepalanya. Jemari itu panjang, dan kuat… Asia terkesiap ketika melihat cincin emas polos tanpa hiasan apapun melingkar di jemari Akira.

Apakah itu cincin pernikahan mereka?

Mata Asia melirik ke arah jemarinya sendiri dan baru menyadari bahwa ada cincin emas polos mungil yang sama di jemarinya. Dia bahkan tidak menyadari bahwa cincin itu ada sebelumnya.

“Merajuk, Asia?” Gumaman sang Jenderal terdengar lembut di sisi lehernya, lelaki itu menundukkan kepalanya, sengaja membiarkan napas panasnya menghembus sisi leher Asia, sebelah lengan Akira merangkul pinggangnya dan merapatkan punggung Asia ke dadanya, sementara sebelah tangannya yang lain masih menempel di pintu, seolah memenjarakan Asia hingga tak bisa kemana-mana, “Kadang kala aku merindukan dirimu yang dulu, yang selalu merajuk, mengamuk, memberontak dan menentang setiap perkataanku.”

Dirinya yang dulu seperti itu? Benarkah?

Asia membuka mulutnya hendak membantah, tetapi tindakan Akira kemudian membungkamnya.

“….. meskipun aku tidak keberatan juga dengan Asia yang ini. Gadis polos yang sedang hamil anakku dan tidak tahu apa-apa, yang hanya bisa memasrahkan dirinya ke dalam tanganku, hmm?” Sang Jenderal meraih dagu Asia, memiringkannya ke belakang, lalu melumat bibir Asia lembut.

Lama kemudian, setelah puas melumat keseluruhan bibir Asia, sang Jenderal melepaskan ciumannya, membiarkan Asia dengan napas terengah dan wajah panas memerah karena malu.

“Hapus pikiran macam-macam dari kepalamu yang mungil itu.” Akira melepaskan pegangannya dari tubuh Asia, membebaskannya, “Yang harus kau lakukan hanyalah sehat dan baik-baik saja, sampai anak itu lahir.”

Lelaki itu membuka pintu setelah menyingkirkan Asia dengan halus ke samping. Mata sang Jenderal langsung bertatapan dengan mata indah letnan Athena yang berdiri siaga di depan pintu.

Asia sendiri, yang baru menyadari kehadiran Athena di balik pintu langsung merasa malu.

Apakah Athena bisa mendengar percakapan mereka tadi? Apakah dia bisa  menduga ciuman mereka tadi? Tapi pintu kayu ini begitu besar bukan? Seharusnya percakapan mereka tidak  mudah tembus keluar dengan pintu sebesar ini.

Jenderal Akira sendiri hanya mengangguk tipis pada Athena dan sedikit melirik pada Asia yang ada di belakangnya,

“Jangan banyak bergerak. Istirahatlah.” Gumamnya tanpa rasa pada Asia, lalu melangkah pergi meninggalkan dua perempuan yang menatap kepergiannya.

***

Dua perempuan itu bertatapan dengan canggung setelah kesunyian sepeninggal Jenderal Akira.

“Mungkin aku akan beristirahat di kamar.” Asia bergumam pelan, tersenyum gugup di tengah tatapan Letnan Athena yang entah kenapa terasa begitu menyelidik.

“Beristirahatlah nyonya, anda tampak pucat.” Letnan Athena bergumam dengan suara aneh seolah-olah menunggu sesuatu.

Dan kemudian, entah kenapa Asia merasakan denyut menyakitkan di perutnya, terasa di remas-remas dengan kasar, seolah menohok sampai ke pangkal tenggorokannya. Asia terhuyung, berpegangan pada dinding, merasakan napasnya terengah dan pandangannya mulai berkunang-kunang.

Rasa sakit itu begitu menyiksa tak tertahankan….

Jemari Asia mengusap perutnya dengan cemas, gemetaran ketika merasakan cairan hangat mengalir di kakinya…. darah…. dia berdarah! Bayinya berdarah!

“Maafkan saya nyonya. Tetapi inilah yang terbaik. Anda akan terbebaskan, begitupun jenderal Akira.”

Telinganya masih terngiang ucapan Letnan Athena yang menatapnya dengan tatapan mata penuh penyesalan, sebelum akhirnya rasa sakit menohok kembali di perutnya, membuatnya kehilangan kesadaran.

***

Jenderal Akira turun dari helikopternya di landasan pacu bagian atas rumahnya, lalu berlari melalui lorong tinggi, diikuti oleh Paris dan  beberapa pengawal di belakangnya.

Telepon  dari Athena  – yang mengatakan bahwa dia sudah membunuh Asia – langsung membuat dirinya yang sedang dalam perjalanan ke Benteng Marakesh City berbalik arah pulang dengan menggunakan helikopter salju.

Langkahnya terhenti, dan pemandangan yang ditemukan di depan matanya membuatnya terpaku. Asia yang terkulai tak sadarkan diri dengan darah mengalir di antara kedua kakinya, dengan letnan Athena yang hanya berdiri tegak di sampingnya, tidak berusaha menolong.

“Dokter!” Akira memberi isyarat kepada tim medis di belakangnya yang dipimpin oleh dokter Frederick. Tim medis langsung merangsek maju, menangani Asia lalu membawanya ke tandu, dokter Frederick memeriksa Asia, dan wajahnya nampak khawatir,

“Kita harus membawa nyonya ke Rumah Sakit, peralatan di sana lebih lengkap untuk penanganan…”

“Naikkan ke helikopter.” Sela Akira tak sabar,

Tim medis langsung bergerak cepat, mengangkat tandu Asia dan bergegas ke landasan pacu di bagian atas.

Jenderal Akira hanya melemparkan lirikan sekilas ke Asia yang begitu pucat di atas tandu, lalu mengetatkan gerahamnya dan mengalihkan tatapannya ke arah Athena.

Perempuan cantik itu mengangkat dagunya, tatapannya keras dan menantang.

Berani beraninya!

Akira mendecakkan lidahnya, menyipitkan matanya dan lengannya langsung menyambar lalu mencengkeram leher Athena dengan gerakan mematikan, mendorong perempuan itu dengan kasar hingga membentur dinding,

“Apa yang kau lakukan, Athena?”

Athena mengerjapkan matanya merasakan pandangan matanya mulai berunang-kunang disebabkan cengkeraman kencang yang menghalangi jalur nafasnya. Dia mencoba berbicara meskipun megap-megap,

“Saya berusaha membebaskan anda dari kutukan genetik itu. Sekarang anda bebas, anda tidak harus terikat dengan nyonya Asia.”

“Kau pikir aku ingin dibebaskan?” Jenderal Akira mendesis kemarahan semakin menguar dari setiap pori-pori tubuhnya, “Tunggu saja Athena, seperti kata-kataku sebelumnya, kalau sampai terjadi sesuatu pada Asia dan bayinya, aku sendiri yang akan mencabut nyawamu dengan tanganku, dan percayalah, aku tidak akan membuat detik-detik kematianmu mudah.”

Jenderal Akira melepaskan cengkeramannya, membanting Athena hingga menubruk tembok dan terjatuh, lalu membalikkan badan, meninggalkan Athena ditangan Paris dan anak buahnya yang langsung meringkus perempuan itu.

Suara deru baling-baling helikopter memenuhi landasan di bagian paling atas rumah, Akira melangkah menuju helikopter salju itu, membiarkan hujan salju yang makin deras menjatuhi tubuhnya, meninggalkan jejak keputihan yang berbulir-bulir di mantel hitam militernya.

Dengan cepat Akira naik ke helikopter, dan helikopter itu langsung terbang, menembus lebatnya hujan salju di After Earth menuju rumah sakit militer khusus dengan peralatan penunjang yang lebih lengkap dan modern di Marakesh City.

Mata Akira menggelap, tanpa ekspresi, duduk di sana sambil menatap tim dokter yang berusaha menyelamatkan nyawa Asia. Sekelebatan, di sela-sela tubuh tim medis yang mengerumuni, Akira bisa melihat kulit Asia yang pucat pasi, seputih salju yang sekarang menderas dan menghantam kaca helikopternya.

Darah ada di mana-mana, darah Asia.

Akira memalingkan wajahnya.

Dia tidak pernah terganggu dengan darah sebelumnya, baginya darah hampir sefamiliar air, sesuatu yang biasa ditemukannya dalam kesehariannya.

Tetapi ini darah Asia…. dan mungkin juga… darah bayinya.

***

Akira mengetatkan gerahamnya marah, wajahnya begitu keras dan muram, tatapannya membunuh dan aura kejam menguar dari seluruh tubuhnya. Manusia normal manapun tidak akan ada yang berani mendekati sang Jenderal jika ingin selamat.

“Bagaimana bayinya?” Suara Akira lebih terdengar seperti desisan penuh ancaman, bagai ular berbisa yang siap mematuk, membuat dokter Frederick gemetaran.

“Nyonya Asia…. ” suara dokter Frederick tertelan di tenggorokan, “Obat yang diminum nyonya Asia telah menimbulkan kontraksi hebat di rahimnya, melukai rahimnya dan menimbulkan pendarahan, saya menyesal Yang Mulia, bayi dalam kandungan Nyonya Asia tidak bisa bertahan.”

Akira memejamkan matanya, geraham lelaki itu makin mengetat penuh kemarahan, seolah-olah siap meledak dan menghancurkan apapun yang ada di dekatnya.

“Bagaimana kondisi Asia?” Jenderal Akira membuka matanya kembali, menatap tajam dokter Frederick, membuat sang dokter tanpa sadar memundurkan langkahnya menjauh,

“Kami berusaha menstabilkan nyonya Asia, kondisinya masih kritis, meskipun kami sudah berhasil menghentikan pendarahannya, tetapi beliau terlanjur kehilangan banyak darah……karena itu …. kami tidak yakin….”

Dokter Frederick terkesiap ketika dalam gerakan secepat kilat Jenderal Akira menarik pistol dari sakunya dan menodongkannya, tepat di arah antara kedua mata sang dokter. Tubuh dokter Frederick gemetaran, wajahnya pucat pasi.

“Jangan menjawab pertanyaanku dengan jawaban bertele-tele.” Ekspresi Akira tampak dingin, “Apakah menurutmu kau akan berhasil menyelamatkan nyawa isteriku?”

Dokter Frederick ternganga berusaha menjawab tetapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokannya terasa begitu kering dan pita suaranya mengerut lalu menghilang, dengan panik dia berusaha menelan ludah berkali-kali, berusaha membasahi tenggorokannya, hingga akhirnya lelaki itu berhasil mengeluarkan suara tercekik untuk menjawab,

“Ke… kemungkinannya delapan puluh persen kami bisa…. eh kami bisa menyelamatkan nyawa nyonya Asia.”

“Bagus.” Jenderal Akira menyipitkan matanya, masih menodongkan pistol itu ke kepala dokter Frederick, “Kalau sampai kau gagal melaksanakan tugasmu dan kehilangan Asia, aku akan meledakkan otakmu dengan pistolku ini, dan bukan cuma kamu, seluruh keluargamu akan kulenyapkan. Apakah kau mengerti?”

Dengan gemetaran dokter Frederick mengangguk, puluhan tahun dia mengabdi kepada Jenderal besar Moroko, tidak pernah sekalipun beliau menodongkan pistol kepadanya. Tetapi karakter ayah dan anak ini memang berbeda. Jenderal Akira dididik ayahnya dengan keras, hingga mungkin sang Jenderal sudah kehilangan hatinya.

“Saya… mengerti.” Jawab dokter Frederick kemudian, “Saya akan menyelamatkan nyonya Asia.”

Jenderal Akira menurunkan pistolnya, mungkin puas dengan jawaban sang dokter, membuat tubuh dokter Frederick melemas karena lega bercampur cemas.

“Aku akan menemui isteriku.” Akira membalikkan badan, hendak menuju kamar tempat Asia dirawat.

“Yang Mulia.” Suara dokter Frederick pelan, tapi penuh kecemasan yang diselipi rasa takut yang amat sangat.

Akira menghentikan langkahnya, lalu membalikkan tubuhnya dengan gusar,

“Ada yang belum kau katakan padaku?”

Dokter Frederick mengangguk, sadar bahwa jika dia salah bicara, nyawanya akan langsung melayang.

“Kondisi nyonya Asia…. obat itu begitu keras dan melemahkan rahimnya…., Jika suatu saat anda membuatnya hamil kembali, maka semakin besar kandungan nyonya Asia akan semakin memperbesar resikonya, dan jika bayi itu berhasil dilahirkan, maka kemungkinan besar kita akan kehilangan nyonya Asia.”

Jenderal Akira tertegun.

“Apakah maksudmu,  kalau sampai Asia hamil lagi, Asia akan mati setelah melahirkan anaknya?”

“Kemungkinan besar begitu Jenderal…. rahimnya sudah begitu lemah, jika beliau bisa bertahan sampai melahirkan maka pendarahan hebat yang pasti menerpa setelah melahirkan akan langsung merenggut nyawanya.”

Sejenak suasana hening dan tegang, seolah ada senar tajam yang dirangkai di seluruh ruangan, menunggu untuk tertarik dan putus, lalu melukai siapapun yang ada di dalamnya.

“Begitu.” Jenderal Akira memecah keheningan dengan suara dingin lalu membalikkan badan, “Aku akan menemui isteriku.”

***

Asia terbaring lemah, dia tahu dirinya tidak berada di rumah, melainkan di rumah sakit. Ruangan ini… hampir sama putih dan sterilnya dengan ruangan tempat dia bangun dan mengalami amnesia beberapa waktu yang lampau

Dia sadar bahwa lengannya terhubung dengan infus dan berbagai alat kedokteran lainnya. Perutnya masih terasa kram dan nyeri meskipun dia tahu bahwa dokter sudah melakukan apa yang mereka bisa untuk membantunya. Dia juga tahu bahwa dia telah kehilangan bayinya, karena rasanya berbeda…. benar-benar berbeda….terasa kosong dan hampa….

Gara-gara obat….

Asia mengerutkan keningnya, merasakan matanya panas karena rasa pedih yang mengiris kalbunya.

Obat yang manakah? Hari ini hanya satu obat saja yang dia minum, obat yang diterimanya dari letnan Athena. Tetapi benarkah? Apakah letnan Athena setega itu? Apakah letnan Athena seberani itu melakukan sesuatu yang pasti akan membuat Jenderal Akira marah?

Tapi inilah yang terbaik…. anda akan terbebas, begitupun Jenderal Akira.

Kalimat terakhir Letnan Athena masih terngiang di benaknya. Apa maksudnya dengan terbebas? Membunuh calon bayinya dengan begitu kejamnya? Asia meringis, mengusap perutnya dan begitu terpukul ketika perutnya terasa begitu kosong, tidak ada lagi kehidupan di sana, bayinya sudah tidak ada….

“Sakit?” Suara sang Jenderal tiba-tiba terdengar, membuat Asia terkesiap, dia mengalihkan tatapannya dan menemukan suaminya sedang berdiri di ujung kaki ranjang, mengamatinya.

Entah sudah sejak kapan lelaki itu ada di sana.

Akira melangkah ke sisi tempat tidur, ekspresinya tidak terbaca,

“Kau sepucat salju.” Mata lelaki itu seolah menusuk kedalaman sanubarinya, “Kau kehilangan banyak darah.”

Asia memalingkan wajahnya, matanya terasa panas. Dia tidak ingin Akira melihatnya dalam kondisi yang begitu rapuh.

“Maaf,” Asia memejamkan matanya, “Aku kehilangan bayi kita.” Suaranya gemetar, menahankan isak yang seolah berlomba untuk berlompatan dari tenggorokannya.

“Jika ada yang harus minta maaf, Aku yakinkan padamu, itu bukanlah dirimu.” Akira bergumam dengan suara geram, sedikit menakutkan.

Asia menolehkan kepalanya kembali ke arah Akira, tak bisa menahan diri untuk tidak  menatap ekspresi Akira.

Lelaki itu berdiri di sana dengan mata tajam menyala.

“Aku akan membuat perempuan itu membayar, Asia.” Tiba-tiba  jemari sang Jenderal menyentuh lembut kelopak mata Asia,  membuat mata Asia menutup, “Beristirahatlah.”

Asia menurut, memejamkan matanya di bawah lingkupan hangat telapak tangan sang Jenderal. Dokter mungkin telah memasukkan semacam obat penenang ke dalam infusnya,membuat tubuhnya serasa melayang, melingkupinya dengan kedamaian, dan menina bobokan kesadarannya.

“Maukah kau menggenggam tanganku?” Asia bergumam dengan mata masih terpejam.

Entah darimana keberanian untuk meminta itu berasal, mungkin juga karena Asia sudah hampir kehilangan setengah kesadarannya. Dia membutuhkan genggaman itu, ada rasa kehilangan yang hampa di dalam dadanya, membuatnya terasa penuh dan berat.

Asia membutuhkan pegangan, dan Jenderal Akira ada di sana. Mereka sama-sama berduka atas kehilangan bayi mereka, bukan?

Jeda yang lama, hingga Asia mengira bahwa Akira tidak akan mengabulkan permintaannya. Tetapi kemudian, tanpa diduga, kehangatan jemari itu melingkupi jemari mungilnya, menyelip hingga saling bertautan dan meremasnya lembut.

“Tidur, Asia.” Gumam sang Jenderal tegas, tak terbantahkan.

Asia menganggukkan kepalanya, tersenyum kecil dan larut dalam tidur lelapnya.

Lama setelah itu, sang Jenderal masih duduk di sana. Menarik sebuah kursi ke samping ranjang Asia, dengan sebelah tangan terulur, dimana jemarinya masih bertautan dengan jari Asia. Kakinya yang panjang terbalut celana militer hitam dijulurkan hingga ke bawah ranjang Asia. Mata cokelatnya menatap tajam ke arah isterinya, ekspresi wajahnya tetap saja tidak terbaca, entah apa yang ada di benaknya.

Dan posisi itu tidak berubah hingga berjam-jam lamanya.

***

“Kalau kau mendekat, aku akan melompat!” Asia membelalakkan matanya nyalang, rambutnya berantakan tertiup angin, menatap Akira yang berdiri di pintu penghubung antara balkon dengan kamar.

Akira menipiskan bibirnya gusar, lalu menyuruh anak buahnya diam di belakangnya, memberikan ruang antara dirinya dan Asia untuk berbicara.

Kebodohan salah satu pengurus rumah ini telah membuat Asia berhasil melepaskan ikatannya dan sekarang berdiri di tepi balkon, hendak melompat dengan penuh ancaman.

“Kau tidak akan berani melakukannya.” Akira bergumam dingin, “Aku akan menghancurkan semua orang yang kau kenal kalau kau melompat.”

“Aku tidak peduli lagi!” Asia menjerit, penuh kemarahan, “Aku benci padamu! Aku benci! Kau datang di kehidupanku dan menghancurkan segalanya! Dan sekarang…. anak ini…dia adalah penyebab semua ini terjadi….” Napas Asia terengah, menatap perutnya dengan marah, “Aku benci anak ini, aku benci!! Lebih baik aku mati daripada harus mengandungnya!” Dengan histeris Asia memukuli perutnya yang masih rata.

“Jangan lakukan itu.” Akira menyipitkan matanya tidak suka, lelaki itu melangkah maju, hendak mencekal tangan Asia tetapi Asia menghindar naik ke ujung balkon.

“Jangan mendekat!” Asia menatap penuh ancaman, posisinya siap melompat, membuat Akira menahankan langkahnya dan menggertakkan giginya marah,

“Turun dari sana, Asia. Jangan sampai aku membuatmu menyesal.” Ancamnya dengan nada mengerikan.

Bukannya ketakutan, Asia malahan terkekeh,

“Kau Jenderal yang kejam, kau pikir dengan tiranimu itu kau akan mendapatkan apa yang kau mau?” Asia mengusap bulir air mata yang menetes di sudut matanya, “Dengarkan aku wahai Jenderal yang kejam, jikalau aku disuruh memilih antara mati dan melahirkan anakmu, maka aku akan memilih … mati.”

Lalu dengan senyum di bibirnya, Asia melompat dari balkon lantai dua itu.

***

Mata Akira mengerjap, dan kemudian tercenung lama dalam kegelapan kamar rumah sakit yang sepi. Mimpi buruk. Dia ternyata ketiduran di kursi di samping ranjang Asia.

Tatapan Akira menelusuri wajah Asia yang tertidur di depannya, begitu rapuh, begitu pucat, begitu lelap. Matanya lalu beralih ke arah jemari mungil Asia yang masih bertautan dengan jemarinya sendiri yang kokoh.

Akira melepas pertautan jari mereka dengan lembut,  lalu berdiri tanpa suara dan melangkah menuju toilet. Di wastafel, lelaki itu menunduk untuk membasuh mukanya, dan kemudian menatap bayangan dirinya di cermin.

Mimpi itu…. adalah ingatan di masa sebelum Asia amnesia. Luka di kepalanya karena melompat itulah yang membuat perempuan yang sekarang terbaring di ranjang rumah sakit ini mengalami amnesia.

Dan kemudian kalimat demi kalimat berkelebatan di benak Akira.

Jikalau aku disuruh memilih antara mati dan melahirkan  anakmu, maka aku akan memilih mati!

Kalimat yang diucapkan Asia sebelum melompat benar-benar membuat Akira tertegun saat itu, bahkan dia tidak pernah menyangka bahwa perempuan keras kepala itu akan berani melompat dari balkon itu.

Dan kemudian, kata-kata dokter Frederick tadi terngiang di telinganya.

…….Jika suatu saat nyonya Asia hamil lagi, maka kemungkinan besar beliau akan kehilangan nyawanya ketika melahirkan….

Akira menyentuh wajahnya yang basah dan terkekeh penuh ironi.

Keadaan ini…. semua skenario ini sepertinya selalu membawa mereka semua ke dalam situasi yang penuh ironi….

 

219 Komentar

  1. Dapet bgt feelnya :nangiskeras

  2. Dhian Sarahwati menulis:

    Bener dugaanku,Athena jahat…

  3. Nangis aku :lovely :nangiskeras

  4. Yaaa ampuuuunnnn Athena kamu ini berdosa banget!!!!! :bantingkursi

  5. OH GODDD

  6. Suningsihsuning menulis:

    athena awas kaauuuu

  7. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    ohh jdi penyebab Asia amnesia gara2jatuh dari balkon :DUKDUKDUK :DUKDUKDUK ….

    Athena jahat :kamukokbikinemosi

  8. Athena jahat banget :kaubikinemosijiwaka

  9. Makanya ai, perlakuin perempuan dgn baik :bantingkursi

  10. Athena sinting, bisa2nya ck ck
    next nyawamu yg ilang :panikshow

  11. Kinky Rain menulis:

    :panikshow

  12. Geram sekali dengan Athena

  13. Syakila Femmy menulis:

    😍😍

Tinggalkan Balasan