the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 17-1 : [ Flashback 2 ] Asia, Akira dan Percikan bagian 1

Bookmark

No account yet? Register

1.462 votes, average: 1,00 out of 1 (1.462 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

“Cesar?” Asia berusaha menarik perhatian Cesar yang tampak larut dalam lamunannya. Mereka berdua sedang duduk di bagian belakang panti asuhan, di sebuah bangku putih panjang yang berada tepat di sebelah pintu dapur.

Asia suka menghabiskan waktunya disini untuk menyiapkan bahan-bahan masakan, seperti mengupas buah-buahan dan memotong-motong sayuran. Setiap Cesar datang, dia selalu menemani Asia, duduk bersama di bangku putih panjang itu sambil bercakap-cakap ringan. Waktu terasa cepat berlalu jika dilalui dengan kegiatan yang menyenangkan.

Tetapi pagi ini Cesar nampak berbeda. Kakaknya hanya menanggapi kata-kata Asia sambil lalu, kadang hanya berupa gumaman tak jelas. Matanya sering terlihat kosong dan pikirannya jauh berkelana.

Asia tahu ada yang mengganggu pikiran Cesar, seperti sesuatu yang sangat berat tetapi dia tidak bisa mengungkapkannya.

“Hmm kenapa Asia?” Cesar menjawab pertanyaan Asia lama kemudian, berusaha tersenyum meski senyum itu tak sampai ke matanya.

Asia menghela napas panjang, “Adakah yang ingin kau katakan kepadaku? Kau… sepertinya kau sedang gelisah.”

Kakaknya menghela napas sama, “Kelihatan jelas ya?” Cesar nampak merasa bersalah, lalu dia menghela napas panjang seolah berusaha mempertimbangkan hendak mengatakan kepada Asia atau tidak, “Aku… mendapatkan informasi penting.”

“Informasi penting?” Asia mengulang sambil berbisik, terbawa suasana mencekam yang muncul setelah Cesar mengucapkan kata-kata itu, “Informasi tentang apa?”

Mata Cesar nampak sedih, “Tentang orang tua kita.”

Kepala Asia menoleh, jemarinya yang sibuk mengupas kentang berhenti. Diletakkannya pisau yang dipegangnya dan memusatkan diri pada apapun yang hendak dikatakan oleh Cesar.

Asia tumbuh besar tanpa mengetahui bahwa dia punya keluarga. Kedatanganan Cesar yang tidak diduga merupakan anugerah yang sangat disyukurinya. Tetapi meskipun begitu, terkadang Asia dilanda dorongan untuk mengetahui seperti apa kedua orang tuanya, bagaimana wajahnya, apakah dirinya dan Cesar mirip ayahnya ataukah mirip ibunya?

Sekarang mengetahui bahwa Cesar mendapatkan informasi tentang kedua orang tuanya, tentu saja sangat menarik perhatiannya.

“Apa yang kau ketahui tentang orang tua kita?” bisiknya tak sabar.

Cesar mengacak rambutnya tampak frustrasi,

“Seseorang menghubungiku.” Lelaki itu menghela napas panjang, “Dia meminta bertemu dan mengatakan bahwa dia mengetahui informasi penting tentang orang tua kita. Rupanya orang misterius itu pernah bertemu denganku ketika aku pulang ke panti asuhan awal tempat kita berada dan mencarimu.”

“Lalu?” Asia menatap Cesar dengan mata berbinar, “Kau mengetahui siapa orang tua kita?”

Ekspresi Cesar nampak sedih ketika menjawab, “Ya. Orang misterius itu memintaku menemuinya diam-diam. Kami bertemu di sebuah lokasi yang tersembunyi. Dia membawa berkas-berkas….” Cesar mengerutkan keningnya, seolah-olah kesulitan melanjutkan kalimatnya, “Asia… kedua orang tua kita, mereka adalah anggota penting dari kelompok pemberontak Bendera Merah.”

Asia terkesiap, menutup bibirnya dengan jemari. Secara refleks dia menoleh ke sekeliling, memastikan bahwa tidak ada orang lain di sekitar mereka yang bisa tanpa sengaja mendengar informasi mengerikan ini.

Kelompok pemberontak Bendera Merah adalah kelompok pemberontak paling kuat yang muncul di masa ketika Asia belum lahir, mereka semua mengetahui kisah tentang kelompok itu dalam pelajaran sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah After Earth. Seluruh anggota kelompok itu ditumpas habis oleh pasukan Jenderal Moroko, kekuatannya dihancurkan dengan serangan besar-besaran dan siapapun yang bertahan hidup setelah serangan itu dihukum mati.

Kelompok Bendera Merah adalah kelompok separatis yang bergerak secara gerilya. Diceritakan mereka dulu memiliki kekuatan besar karena bantuan akses orang dalam militer, yang memiliki misi sama dengan Kelompok Bendera Merah. Kelompok Bendera Merah pada dasarnya memiliki satu tujuan, mereka menganggap prinsip kesamaan adalah sesuatu yang dipaksakan dan melawan kodrat. Manusia sudah selayaknya hidup dalam keberagaman, memaksakan kesamaan sama saja menekan hak asasi manusia. Prinsip mereka bertolak belakang dengan prinsip Jenderal Moroko yang memuja kesamaan, karena baginya, kesamaan adalah satu-satunya jalan untuk mempertahankan perdamaian, dan keberagaman adalah pemicu perselisihan serta perang.

Kisah tentang kelompok pemberontakan Bendera Merah sengaja diperintahkan untuk diajarkan di sekolah-sekolah karena Jenderal Moroko ingin semua orang mengetahui bahwa siapapun yang mencoba mengubah prinsip kesamaan After Earth akan dihancurkan dengan kejam dan tak bersisa. Bahkan diketahui oleh semua orang bahwa Jenderal Moroko menginstruksikan untuk membabat habis semua anggota kelompok Bendera Merah itu, pun dengan seluruh keluarganya baik perempuan maupun anak-anak yang mungkin saja tidak berdosa.

Kalau memang benar info yang dikatakan oleh orang misterius yang menemui Cesar itu benar, kenapa mereka berdua masih hidup sampai sekarang dan tidak dibunuh dalam pembantaian itu?

Cesar melirik ke arah Asia dan langsung bisa menebak pertanyaan apa yang berkecamuk di benak Asia, “Orang misterius yang menemuiku itu bernama Mr. Alaska, dia sudah tua, mungkin seusia orang tua kita. Dia adalah seorang pengurus panti asuhan, sahabat ibu kita. Ibu kita mengetahui bahwa jika kita bersama mereka, maka hidup kita akan terancam. Karena itulah begitu kita dilahirkan, ibu kita menitipkan kita di panti asuhan itu. Mr. Alaska membantu ibu kita untuk memalsukan semua data pribadi asal-usul kita. Kita diasuh di panti asuhan itu sampai kemudian aku dipindah ke panti asuhan militer dan kau dibawa kemari.”

Cesar menghela napas panjang, “Dia melihatku ketika aku ke panti asuhan di kota asal kita untuk melacakmu, tetapi dia tidak berani mengatakan apapun padaku, karena aku memakai seragam militer hitam. Tak lama kemudian dia terdorong untuk mengatakan semua kepadaku.” Tiba-tiba mata Cesar berbinar, “Karena itulah Asia…. karena itulah aku selalu berpikir bahwa prinsip kesamaan yang dipaksakan ini tidak benar. Ternyata kedua orang tua kita juga berpikir sama.’

Asia menggelengkan kepala dengan cemas, “Jangan Cesar. Jangan katakan itu, sudah cukup kedua orang tua kita menjadi korban, aku tidak mau kau juga….”

“Mr. Alaska memberiku berkas-berkas tentang orang tua kita, aku menyembunyikannya tentu saja. Di dalamnya ada foto kedua orang tua kita.” Cesar menangkupkan jemarinya yang besar di pipi Asia, mendongakkan wajah Asia supaya menghadap ke arahnya, “Kau… kau bagaikan pinang dibelah dua dengan ibu kita. Ibu kita sangat cantik, sepertimu.”

Mau tak mau Asia tersenyum mendengar pujian dari saudara kembarnya itu, tetapi tak urung, kecemasan masih membayangi matanya,

“Cesar…. kau tidak akan berbuat apa-apa mengenai informasi ini bukan?” tanya Asia mencoba memastikan, “Mr. Alaska ini, dia tidak memintamu berbuat macam-macam terkait organisasi Bendera Merah yang sudah punah ini bukan?”

Cesar mengerutkan keningnya, melepaskan jemarinya dari pipi Asia dan mengacak rambutnya, kebiasaannya kalau sedang gelisah,

“Organisasi Bendera Merah belum punah Asia, mereka masih ada, mengumpulkan kekuatan diam-diam untuk memulai pertempuran lagi. Mr. Alaska, dia mengatakan bahwa ayah kita adalah wakil dari ketua organisasi ini. Dia berharap aku melanjutkan perjuangan ayah kita, mereka membutuhkan orang dalam, Asia, orang dari kalangan militer. Dan karena aku adalah anggota elite berseragam hitam, aku sangat diperlukan karena kami ada di dalam lingkaran dalam, dekat dengan Jenderal Akira.”

“Tidak!” Asia berteriak, matanya berkaca-kaca antara panik dan ketakutan, “Jangan lakukan ini Cesar. Dulu ketika Jenderal Moroko berkuasa saja organisasi itu diluluh lantakkan. Apalagi sekarang… kalian menghadapi Jenderal Akira yang berkali-kali lebih kejam daripada ayahnya, kalian akan ditumpas habis…..” Air mata Asia jatuh mengalir di pipinya, “Jangan lakukan itu Cesar. Kita sudah menempuh tahun-tahun sendirian tanpa keluarga dan kita baru saja bertemu, jangan sampai kau menghancurkan apa yang sudah kita miliki bersama….”

“Aku tidak bisa Asia.” Cesar menyela, suaranya tegas dan tak terbantahkan, “Aku merasa berkewajiban untuk melanjutkan apa yang menjadi impian kedua orang tua kita.”

“Cesar!” Asia memekik, menghapus air mata yang terurai di pipi dengan punggung tangannya, lalu menatap Cesar dengan marah, “Kalau kau…. kalau kau memutuskan untuk bergabung dengan organisasi pemberontak itu… kalau kau lebih memilih mereka daripada aku…” Napas Asia tersengal, berpacu antara kemarahan dan kesedihan, “Lebih baik… lebih baik kau tidak menemuiku lagi!”

***

Asia melangkah turun dari perbukitan melalui jalan setapak kecil yang ditumbuhi rerumputan menghijau di kiri dan kanannya. Jalan setapak ini adalah satu-satunya penghubung panti asuhan mereka yang terpencil di atas bukit dengan jalan raya kota yang merupakan pusat perekonomian di distrik mereka.

Dia hendak ke pasar, kali ini sendirian tanpa membawa anak-anak karena musim liburan sudah habis dan mereka harus kembali bersekolah.

Asia memakai gaun putih sebetis dari bahan ringan dan nyaman, angin bertiup cukup kencang pagi ini hingga kaki gaun Asia bergerak ke sana dan ke mari mengikuti hembusan angin.

Angin itu juga meniup rambut panjangnya tak pandang bulu sehingga Asia harus terus menerus menyelipkan sisi rambutnya ke belakang telinga. Matahari sudah mulai naik ke angkasa meskipun masih malu-malu dan memutuskan untuk bersembunyi terlebih dahulu di balik awan. Suasana di sekelilingnya tampak hijau, sejuk dan nyaman.

Sayangnya suasana hati Asia tidak sedamai apa yang dihadirkan oleh sekelilingnya. Matanya sembab karena menangis semalaman. Dia takut, cemas dan sedih memikirkan Cesar.

Kemarin, ketika Asia mengultimatum saudara kembarnya itu, Cesar memberikan tanggapan yang tidak disangka-sangkanya. Cesar meminta maaf karena tidak bisa memilih Asia. Dia lalu pergi setelah mengatakan bahwa setelah Asia tidak marah, dia akan kembali dan menemui Asia lagi.

Asia sangat cemas dengan kekeraskepalaan Cesar dalam mempertahankan prinsipnya.

Tidak bisakah mereka puas dengan kehidupan seperti ini saja? Bukankah kedamaian yang tercipta di After Earth merupakan apa yang diimpikan oleh semua orang?

“Kelihatannya kau sedang sedih.”

Sapaan yang diucapkan dengan suara dalam dan tenang itu membuat Asia terkesiap hingga hampir terlompat mundur ke belakang, dia langsung mendongakkan kepalanya dan terpana.

Lelaki itu…. malaikat berseragam militer hitam itu…. Asia mengerutkan kening, berusaha mengingat-ingat nama yang disebutkan lelaki itu sebelum perpisahan mereka.

Akira.

Entah kenapa bulu kuduk Asia berdiri ketika mengingat nama itu. Nama yang sama dengan Jenderal Kejam yang mungkin akan langsung menghukum Cesar kalau dia ketahuan bekerjasama dengan organisasi pemberontak Bendera Merah.

Tetapi orang di depannya, meskipun mengenakan pakaian militer berseragam hitam, tidak mungkin dia adalah Jenderal Akira yang itu.

Yah, mana mungkin pemimpin tertinggi After Earth bisa muncul di desa terpencil dalam lokasi yang mungkin hanyalah sebuah titik kecil di dalam peta?

“Kelihatannya kau sedang sedih.” Lelaki itu berdiri di sana dan mengulang sapaannya, mengenakan seragam militer lengkap. Dia tidak mengenakan topinya sehingga rambut cokelatnya yang tampak lembut itu berantakan tertiup angin. Tentu saja lelaki itu tahu bahwa Asia terkejut setengah mati dengan kehadirannya yang tidak diduga-duga, dan bukannya tampak menyesal, lelaki itu malah tampak geli.

“Saya tidak sedang sedih.” Asia menjawab pelan, lalu menganggukkan kepala sopan, dan hendak berjalan melewati lelaki yang berdiri di titik pertemuan yang sama dengan kemarin, di bawah pohon besar berdaun lebar yang menjulang menaungi jalan setapak itu.

Asia harus menghindari lelaki itu, lelaki ini mengenakan seragam elite militer hitam dan mungkin saja mengenal Cesar. Mengingat rencana Cesar yang mengerikan kemarin, akan sangat berbahaya jika sampai dia salah berbicara dengan lelaki itu.

Asia mengernyit dan menghela napas panjang, tidak mampu memikirkan apapun dan hanya ingin menjauh dari semua kaum militer yang mengerikan.

Sayangnya apa yang diinginkannya sepertinya tidak kesampaian. Lelaki itu bukannya membiarkannya pergi dan menjauh, malah mengikuti langkahnya dan berjalan di sebelahnya.

Asia merasa dirinya sedikit bergetar. Bagaimanapun juga, di After Earth ini sudah tertanam di benak penduduk bahwa kaum militer berseragam hitam adalah kaum yang paling kejam dan menakutkan. Mungkin Cesar sedikit berbeda, tetapi Cesar adalah saudara kembarnya. Sedangkan lelaki ini… dia tidak mengenalinya.

Bagaimana kalau dia salah bicara dan lelaki ini memutuskan membunuhnya? Katanya kaum militer berseragam hitam memiliki kemampuan membunuh yang sangat ahli.

Pemikiran itu tanpa sengaja membuat Asia begidik ngeri, ternyata hal itu tidak luput dari pengamatan lelaki di sebelahnya.

“Kau takut kepadaku?” gumam lelaki itu, tubuh Asia yang mungil membuatnya harus menunduk untuk menatapnya.

Asia mendongakkan kepalanya, dan entah kenapa jantungnya langsung berdebar ketika matanya bertemu dengan mata cokelat gelap nan dalam, “Sudah sewajarnya kami takut bukan?” Jawab Asia pelan, tidak mau menyinggung lelaki itu.

Lelaki itu terkekeh, “Apakah kau masih ingat namaku?” Tanyanya kemudian, terdengar misterius.

Asia menganggukkan kepalanya, “Ya.. saya ingat, anda memperkenalkan diri sebagai Akira.” Asia menatap Akira dan sedikit bingung menyadari lelaki itu tampak menikmati ketika suara Asia mengalunkan namanya.

“Bagus. Dan aku sudah mengizinkanmu memanggilku dengan nama saja.”

Ada nada berkuasa yang sombong dalam suara lelaki itu, membuat Asia mengerutkan kening. Tetapi dia menahan pemikirannya dan melanjutkan melangkah, memutuskan bahwa dia sebaiknya tidak macam-macam dengan militer berseragam hitam. Lagipula, sepertinya semua militer berseragam hitam – kecuali Cesar tentu saja – memiliki pembawaan arogan.

Asia melirik sedikit kepada lelaki yang sekarang sedang berjalan di sebelahnya ini. Tiba-tiba merasa bingung kenapa Akira berjalan di sebelahnya.

“Anda mau ke kota juga?” tanya Asia pelan, sedikit penasaran. Sebenarnya dia ingin menanyakan apa yang dilakukan oleh lelaki itu berdiri sendirian di bawah pohon di tengah padang rumput yang membentengi jalan setapak kecil menuju panti asuhannya berada, tetapi Asia menahan diri, dan mencoba menanyakan sesuatu yang lebih umum.

Lelaki itu menunduk menatap Asia lagi, entah kenapa tatapannya tampak tajam dan menusuk,

“Aku sedang mencari jalan untuk menjemput seseorang.” Jawabnya dengan nada dingin penuh misteri.

“Oh.” Asia bergumam pelan untuk menanggapi, tidak tahu harus berkata apa. Nada suara lelaki itu entah kenapa menyiratkan dia tidak mau membahas lebih lanjut.

Mereka berdua kemudian berjalan dalam keheningan. Asia memilih untuk memandang sekeliling, berpura-pura melupakan kehadiran lelaki itu disebelahnya.

Mereka sudah memasuki area pinggiran kota, dimana jalan setapak sudah berganti menjadi jalan besar yang beraspal halus. Suasana perkotaan semakin terasa karena banyaknya orang yang berlalu lalang. Rumah-rumah tinggi dengan atap dan tembok yang berwarna seragam menyambut mereka, seolah menunjukkan bahwa keadamaian tercipta dari keseragaman.

“Kau mau kemana?” Akira tiba-tiba memecah keheningan, menunduk lagi menatap ke Asia yang langsung menghindari tatapan tajamnya.

Tatapan itu menyebabkan jantungnya berdebar, ada sesuatu di dalam sana yang membuatnya kebingungan, memaksa napasnya menjadi berat dan terengah.

Tanpa sadar Asia mengangkat tangan dan mengusap tengkuknya yang tiba-tiba meremang, “Saya akan ke pasar, berbelanja seperti biasa.”

“Itukah kehidupanmu selama ini? Mengurus anak-anak panti? Berbelanja ke pasar dan memasak untuk mereka?” Lelaki itu mengajukan pertanyaan lagi, dan entah kenapa meski pertanyaan itu adalah pertanyaan biasa, Asia merasa ngeri dengan nada suaranya yang penuh intimidasi.

“Ya. Itulah kehidupan saya selama ini. Saya dibesarkan di panti asuhan itu, mereka adalah keluarga saya. Lagipula saya bahagia, saya memiliki kamar mungil yang cantik dan tersembunyi di atas loteng dan adik-adik yang menyenangkan. Itu sudah lebih cukup untuk saya.” Jawab Asia pelan, berusaha meredakan kegugupannya.

Dia mulai merasa tidak nyaman. Ada sesuatu yang aneh di tubuhnya, sesuatu yang dia tidak tahu dan tidak pernah dirasakannya sebelumnya.

Orang-orang yang berlalu lalang ke area pasar tampak langsung memberikan jalan. Kehadiran lelaki berseragam militer hitam memang menimbulkan aura ngeri yang tidak bisa ditekan. Secara otomatis, mereka menghindar dan mengambil jarak. Asia sendiri merasakan perbedaan itu ketika sekarang dia berjalan bersama Akira. Semua memberi jalan, padahal sebelumnya ketika hendak menuju pasar, karena begitu ramainya, Asia bahkan harus merelakan badannya tersenggol di sana sini.

Pasar di After Earth tentu saja berbeda dengan pasar di bumi sebelum perang nuklir. Di sini, pedagangnya adalah pegawai pemerintahan. Semua hasil pangan disetor ke pemerintah, dan dikelola oleh pemerintah. Penduduk datang ke pasar bukan untuk melakukan transaksi jual beli melainkan mengambil jatah bahan makanan yang sudah disediakan. Masing-masing mereka membawa kartu otomatis yang berisi data keluarga dan history jatah bahan makanan yang sudah diambil setiap harinya. Kartu itu akan dipindai oleh setiap pegawai pemerintahan, dan kemudian mereka akan mencetak list barang yang boleh diambil. Setelah itu bagian pengambilan akan menyiapkan barang-barang ke dalam kardus yang seragam untuk dibawa pulang oleh pemilik kartu.

Daftar bahan makanan yang boleh diambil setiap hari, ditentukan berdasarkan hari. Dengan kata lain, variasi menu makanan setiap hari seluruh keluarga di After Earth pun sudah ditentukan oleh pemerintah.

Asia tentu saja akan menukarkan kartunya dengan banyak bahan makanan hari ini, mengingat jumlah anggota panti asuhan yang banyak. Tetapi untunglah pihak pemerintah memiliki perlakukan yang berbeda untuk instansi sosial seperti panti asuhan atau panti jompo. Asia hanya perlu mendaftarkan kartunya untuk dipindai setiap harinya. Bahan makanan untuk mereka akan dikirim dengan jasa pengiriman khusus milik pemerintah.

“Apakah anda juga ingin ke pasar?” Asia akhirnya bertanya meskipun sadar pertanyaannya konyol, dia penasaran mengingat lelaki itu sepertinya belum mau beranjak dari mengiringi langkahnya.

Pada akhirnya, karena tidak ada jawaban, Asia mendongakkan kepalanya, dan sedikit terkejut ketika menyadari bahwa mata cokelat itu sedang menatap tajam ke arahnya.

Sejak kapan Akira memandanginya seperti itu?

Tanpa sadar, terpaku oleh tatapan intens yang dilemparkan Akira kepadanya, langkah kaki Asia terhenti, pun dengan langkah kaki Akira.

Mereka berdua bertatapan di sana, berdiri diam dan terpaku satu sama lain, sementara orang-orang lalu lalang bergerak di sekeliling mereka.

Akira yang sepertinya tersadar terlebih dahulu. Lelaki itu mengerutkan kening, dan kemudian, tanpa diduga dia mencekal Asia, menariknya menuju jalan kecil dengan tembok-tembok perumahan After Earth membentengi di kiri dan kanannya.

“Kenapa….” Asia memekik akibat cekalan yang begitu kuat di lengannya, jantungnya berdebar ketakutan karena dirinya diseret dengan cepat ke area yang sepi. Dirinya ingin menangis dan meminta tolong, tetapi kepada siapa? Semua orang takut kepada militer berseragam hitam.

Dan jika lelaki ini memutuskan untuk membunuhnya, tidak akan ada satupun orang yang berani menyelamatkannya.

Akira melepaskan cekalannya, mendorong Asia ke tembok hingga Asia terhuyung mundur, menabrak tembok di belakang punggungnya. Lelaki itu lalu mendekat, tampak seperti predator yang ingin mencabik-cabik mangsa, membuat Asia gemetaran.

Asia menyilangkan kedua lengannya di dada, memeluk dirinya sendiri seolah berusaha melindungi diri ketika Akira berdiri di depannya, begitu rapat dengan kedua telapak tangan di tembok dan lengannya memagari kiri dan kanannya, memerangkap Asia.

“A…apakah saya berbuat salah?” Suara Asia tertahan di tenggorokan seperti suara mangsa yang terperangkap dan putus asa. Dia mencoba mendongak, tetapi segera memalingkan muka, tak tahan ditatap oleh mata cokelat tajam yang seolah menusuk kedalaman jiwanya.

Ada senyum sinis yang muncul di bibir Akira, senyum sinis yang mengerikan,

“Salah? Tentu saja.” Sebelah jemari Akira terulur dan mencakup dagu Asia, memaksanya mendongak. Lelaki itu menunduk sehingga wajah mereka sejajar, sangat dekat hingga Asia bisa merasakan panas mereka yang saling berpadu. “Kau membuatku menginginkanmu.”

Bibir lelaki itu tiba-tiba memagutnya tanpa permisi. Ciumannya brutal, seolah Akira sudah menahan diri begitu lama. Lumatannya tak kenal ampun, memaksa bibir Asia membuka dan memberi jalan lidahnya untuk mencecap keseluruhan diri Asia.

Asia berusaha menjerit dan meronta, tetapi Akira mendesaknya ke tembok, membuatnya tidak bisa bergerak. Dia begitu ketakutan. Baru kali ini seorang lelaki memperlakukannya dengan begini kasar dan tak tahu adat.

Dan ….yang lebih menakutkan bagi Asia sebenarnya bukan karena perlakukan brutal lelaki ini, tetapi lebih karena dorongan di dalam dirinya, dorongan untuk menyerah dan pasrah.

Tidak!

Asia berusaha menguatkan dirinya. Dia memejamkan mata, mengernyitkan dahi, lalu menggigit bibir kuat yang sedang melumat bibirnya tanpa ampun.

Akira langsung menghentikan ciumannya, menarik kepala dan mundur selangkah. Mereka bertatapan, yang satu penuh ketakutan dan terluka, yang lainnya tampak puas. Napas keduanya terengah-engah.

Akira menyentuhkan ibu jari ke sudut bibirnya yang berdarah akibat gigitan Asia, tatapannya mengerikan ketika dia mencicip darahnya sendiri sambil tak lepas memandang Asia.

“Kau membuatku senang.” Lelaki itu membungkukkan tubuh menghormat, “Aku akan menemuimu lagi Asia. Aku berjanji.”

Setelah itu Akira membalikkan badan, meninggalkan sendirian Asia yang berdiri di sana dengan mata panas penuh air mata. Tatapan Asia terus menatap punggung lebar berseragam militer hitam yang mengerikan itu dengan waspada, sampai hilang dari pandangan.

Setelah yakin Akira benar-benar pergi, tubuh Asia seperti kehilangan tenaga, merosot terduduk di jalan tanpa daya. Asia menutup wajahnya dengan kedua tangan dan menangis tersedu-sedu. Meluapkan ketakutan dan kebingungan yang memenuhi benaknya.

***

“Ah Jenderal, saya mencari anda di ruangan anda, tetapi anda tidak ada.” Paris yang berpapasan dengan Akira di lobby depan benteng tempat Akira tinggal selama berkunjung di distrik ini, langsung memberi hormat.

“Aku hanya sedang menyapa seseorang.” Jawab sang Jenderal Akira dengan nada misterius penuh kepuasan, jemarinya tanpa sadar menyentuh bekas gigitan Asia yang menyisakan sedikit lebam berwarna gelap di sudut bibirnya. Jenderal Akira lalu membalas sikap hormat Paris dengan anggukan singkat, kemudian melangkah memasuki ruang kerjanya yang segera diikuti oleh Paris.

“Bagaimana?” tanya Akira, sambil duduk di kursi kerjanya, jemarinya membuka berkas-berkas tebal yang diletakkan di atas meja kerjanya. Dibukanya halaman pertama, dan foto Asia langsung muncul di sana, hasil kerja dari satelit rahasia yang diarahkan ke panti asuhan tempat Asia tinggal.

“Sepertinya akan ada halangan dari dalam.” Paris menjawab dengan hati-hati, seolah menunggu sang Jenderal menyelesaikan membaca semua data yang diletakkan olehnya di atas meja.

Jenderal Akira membuka halaman demi halaman, berisi foto-foto kegiatan sehari-hari Asia yang disertai keterangan singkat berisi keterangan waktu kapan gambar itu diambil. Kemudian tangannya membeku dan ekspresi kemarahan langsung merayapi wajahnya.

“Apa ini?” dagunya mengedik pada foto Asia yang sedang bersama seorang lelaki militer berseragam hitam. Dia mengenalinya. Cesar. salah satu murid didik yang dilatih sendiri olehnya secara ekslusif.

“Kami sedang dalam penyelidikan.” Jawab Paris cepat, “Diketahui bahwa Cesar mengunjungi nona Asia belum lama ini, setelah itu dia selalu melakukan kunjungan rutin setiap dia mendapat libur atau cuti militer.”

Ekspresi Jenderal Akira mengeras, “Kau mengetahui apa jenis hubungan dua orang ini? Apakah mereka sepasang kekasih?”

Paris tampak bingung menjawab, “Kami masih menyelidiki. Sejauh ini dari pengamatan satelit, mereka berdua tidak tampak seperti sepasang kekasih, anda tahu…. mereka tidak melakukan hal-hal yang biasa dilakukan sepasang kekasih seperti… eh berpelukan atau berciuman. Cesar datang ke sana, dan mereka menghabiskan waktu dengan bercakap-cakap atau melakukan kegiatan bersama, seperti saudara.” Paris tampak berpikir, “Kemungkinan besar begitu, itu dugaan terkuat kami, mengingat Cesar dan Asia sama-sama berasal dari panti asuhan.”

“Selidiki secepatnya. Aku mau laporan kepastian akan status keduanya paling lambat nanti sore. Jika ternyata Cesar adalah kekasih Asia, aku minta kau membawanya ke ruanganku malam nanti.” Jenderal Akira menutup berkas itu dengan marah, “Selidiki Cesar, kirim dia keluar, geledah kamarnya dan pasang penyadap serta kamera untuk mengikutinya. Kau harus mendapat jawaban segera.”

Paris tampak ragu, “Anda akan melakukan apa kepada Cesar, Jenderal? Dia adalah lulusan termuda dengan prestasi terbaik di militer elite. Anda bahkan bersedia melatihnya sendiri karena dia sangat berpotensi.”

Mata Akira menyipit, “Itu semua tidak akan menghalangiku membunuhnya.” Suaranya terdengar penuh ancaman, “Jika Cesar telah menyentuh Asia, maka aku akan menghabisinya dengan kedua tanganku sendiri.”

***

Asia duduk di pinggiran ranjang mungil di dalam kamarnya dengan letih. Kamar ini adalah tempat pelariannya yang paling menyenangkan. Kamar ini dimilikinya setelah ibu panti, Chaterine mengangkatnya sebagai asisten. Ketika itu Chaterine bilang bahwa dia boleh memiliki kamar sendiri.

Dulunya Asia tidur bersama anak-anak lain di kamar besar dengan banyak ranjang bertingkat layaknya asrama. Lalu Chaterine mengizinkannya untuk menggunakan loteng di bagian paling atas panti asuhan sebagai kamarnya. Loteng ini kecil, tetapi nyaman, memberinya kesendirian yang dibutuhkannya ketika kelelahan.

Untuk mencapai loteng ini, Asia harus menaiki tangga kayu tunggal yang terhubung dengan lubang kotak yang langsung menembus lantai kamarnya. Jika Asia sedang ingin menyendiri, tangga itu bisa dilipat dan ditarik ke atas. Sehingga jika dilihat dari bawah, kamar Asia nampak seperti atap biasa dan tidak ada yang bisa naik ke kamarnya.

Kamarnya berlantai kayu, berjendela besar, dan beratap miring sebelah. Ranjang kecil berseprei bunga ada di bagian sudut temboknya, sementara di dekat jendela terdapat meja kayu yang bawahnya merangkap lemari baju dan kursi untuk duduk. Bagian yang paling menyenangkan di dalam kamar ini adalah jendela besar berbentuk setengah lingkaran yang menghadap langsung ke bagian depan panti asuhan. Begitu besarnya jendela itu hingga kadang-kadang di pagi hari, Asia membuka jendela, membiarkan sinar matahari masuk dan kemudian duduk di kusennya sambil menatap ke luar, bersyukur karena hari itu matahari masih bersinar untuknya.

Sekarang, kamar ini menjadi tempat pelarian sempurna, karena hari ini terasa begitu melelahkan baginya.

Setelah semalaman kurang tidur karena menangis memikirkan Cesar, paginya dia harus mendapatkan pengalaman buruk, dicium oleh lelaki militer berseragam hitam dengan kasar dan mengerikan.

Jemari Asia menyentuh bibirnya sendiri. Lalu dengan keras mengusap bibirnya dengan punggung tangannya.

Mengerikan.

Dia belum pernah dicium oleh siapapun sebelumnya dan lelaki jahat itu merenggut kepolosan bibirnya dengan kasar dan memaksa. Apakah dengan menjadi militer berseragam hitam lelaki itu merasa bebas melecehkan perempuan kapanpun dia mau?

Asia merasa marah, marah karena dirinya hanyalah seorang perempuan lemah, rakyat jelata yang tak berdaya.

Dengan letih Asia mengambil obat yang sudah dia siapkan di meja, dia memasukkan ke mulutnya obat pusing untuk meredakan nyeri di kepalanya. Kepalanya memang mulai terasa berdentam-dentam akibat kurang tidur dan kebanyakan menangis. Obat itu biasanya akan membuatnya tidur pulas seperti pingsan, tapi tidak apa-apa. Bukankah itu yang dibutuhkannya?

Air mata tanpa sadar mengalir kembali dari sudut matanya. Asia merebahkan tubuhnya di ranjang, memiringkan tubuh dan meringkuk laksana bayi, memejamkan mata dan menangis.

Dia hanya ingin tidur dan melupakan semuanya.

***

“Sepertinya kita harus bertindak Jenderal.” Sore itu sesuai tenggat waktu yang ditentukan, Paris datang menghadap ke ruangan Jenderal Akira. Dengan hati-hati dia meletakkan berkas-berkas di meja Akira.

“Berkas-berkas ini kami temukan, disembunyikan di balik penutup lantai di bagian bawah tempat tidur Cesar di asrama.” Lanjut Paris menerangkan.

Jenderal Akira membuka berkas itu, dan halaman pertama langsung membuatnya mengerutkan kening,

“Data berkas anggota Organisasi Bendera Merah?” Gumamnya mengingat-ingat, “Bukankah organisasi ini sudah dimusnahkan oleh ayahku hingga tak bersisa?”

Paris menganggukkan kepalanya, “Benar Jenderal. Begitu mendapatkan berkas itu, kami langsung menelusuri rekaman jejak Cesar beberapa hari yang lalu dengan satelit. Dia pergi menemui seseorang, seorang pegawai panti asuhan.”

Paris menatap sang Jenderal yang tampak menyimak perkataannya, “Kami menangkap pegawai panti asuhan itu dan menginterograsinya. Dia mengungkapkan segalanya. Cesar dan nona Asia adalah saudara kembar yang terpisah sejak kecil. Cesar diambil oleh salah satu militer kita dan dipindahkan ke panti asuhan militer, sementara nona Asia dipindahkan ke panti asuhan yang sekarang. Dari keterangan yang kami dapat, Cesar dan nona Asia adalah anak kembar dari pasangan suami isteri yang berkedudukan sebagai wakil di Organisasi Bendera Merah.” Paris menghela napas, “Organisasi Bendera Merah selama ini ternyata telah mulai membangun kekuatan diam-diam, dan Cesar sudah menyetujui untuk bekerja sama.”

Ekspresi kemarahan tampak merayapi wajah Jenderal Akira, membuatnya tampak mengerikan.

“Apakah Asia terlibat?”

Paris memasang ekspresi datar, “Kami masih belum bisa memastikan. Tetapi melihat mereka bersaudara dan melihat siapa orang tua mereka, ada kemungkinan bahwa….”

“Apakah kau bisa menemukan dimana posisi Cesar sekarang?” Akira menyela, tampak marah luar biasa.

Dengan ekspresi menyesal, Paris menggelengkan kepala, “Sepertinya Cesar menyadari bahwa dirinya sudah ketahuan. Tentu saja dia tidak menyangka bahwa kami akan menggeledah kamarnya. Dia sangat lihai karena dia mempelajari semua ilmu anda.” Gumam Paris menilai, “Jika dia memutuskan untuk melarikan diri, dia akan sangat sulit ditangkap.”

“Tapi dia tidak akan meninggalkan saudari kembarnya sendirian.” Siapkan pasukan ke panti asuhan tempat Asia berada, tangkap seluruh penghuninya, lalu bakar panti asuhan itu.” Desisnya murka, “Cesar akan segera mengetahuinya dan sadar bahwa aku tidak akan segan-segan menghabisi orang-orang yang dicintainya jika dia tidak menyerahkan diri.”

***

Malam itu, pasukan penyerang yang dikirim oleh Paris sudah tiba lebih dulu di lokasi. Mereka menyerbu panti asuhan, menggedor pintunya dan langsung menodongkan senjata ketika Chaterine membuka pintu dengan ketakutan.

Seluruh anggota panti asuhan dikumpulkan di ruang aula yang lebar. Chaterine memeluk anak-anak kecil yang menangis ketakutan di kakinya, sementara anak-anak yang lain berkumpul di belakangnya, semuanya gemetar ketakutan.

Para militer berpakaian hitam itu, lalu menggiring mereka keluar, sambil menodongkan senjata dengan dingin, tidak peduli bahwa sekarang yang ada di hadapan mereka hanyalah wanita tua dan anak-anak kecil yang tidak berdaya.

Ketika mereka di bawa keluar ke halaman beralas rumput yang sekarang gelap dan hanya mengandalkan cahaya bulan, Chaterine memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang militer yang membawa senjata di sebelahnya,

“Maaf….” tanyanya lemah menahan takut, “Ka… kami tidak mengerti… sebenarnya apa yang terjadi?”

Militer itu menolehkan wajah menatapnya dengan tatapan dingin membunuh, membuat jantung Chaterine menciut, tetapi tak urung sebuah jawaban keluar juga darinya,

“Salah seorang anggota kami berkhianat, dia sering berkunjung kemari bukan? Mengunjungi saudarinya? Sekarang diam, dan ikuti perintah kami untuk berkumpul di lapangan jika tidak ingin celaka.”

Chaterine langsung terkesiap. Dia teringat Cesar…. Astaga….benarkah Cesar berkhianat?

Kalau begitu, mereka semua sedang mencari Asia?

Mata Chaterine langsung memindai anak-anak panti yang ada di belakangnya. Asia tidak ada di sana.

Berarti saat ini Asia mungkin masih berada di kamarnya di loteng, mungkin tertidur kelelahan karena tadi Asia pulang dengan wajah pucat pasi dan mata sembab, dan ketika Chaterine bertanya, Asia bilang dia tidak enak badan.

Saat ini kaum militer ini tidak mengetahui bahwa Asia masih tertinggal di dalam rumah panti Asuhan itu. Dia harus melindungi Asia. Setidaknya kalau Asia di sana, dia punya kesempatan untuk melarikan diri atau menunggu Cesar menjemputnya.

Chaterine tidak tahu pengkhianatan seperti apa yang dilakukan oleh Cesar sehingga pasukan militer hitam menyerbu mereka. Tetapi baginya, Asia, bahkan Cesar sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri dan kesalahan apapun yang dilakukan oleh mereka, dia harus melindunginya.

Tiga buah bus militer besar sudah terparkir di halaman depan panti asuhan, membuat Chaterine mengernyit membayangkan bahwa roda-roda bis yang besar itu tentu sudah menghancurkan rerumputan dan semak indah yang membentengi jalan setapak kecil sebagai satu-satunya akses ke panti asuhan ini. Seluruh anak kecil penghuni panti asuhan didata dan digiring satu persatu untuk menaiki bus itu, membuat Chaterine makin ketakutan.

“Tunggu dulu!” dia berseru kepada salah seorang militer itu, “Kami akan di bawa kemana?”

Lagi-lagi dia menerima tatapan dingin tak kenal ampun, “Diam dan tunggu di sini.”

Hanya itu jawaban yang diterimanya. Membuat Chaterine terdiam, meremas-remas kedua tangannya dengan gelisah dan memutuskan untuk menunggu. Udara dingin meniup di padang rumput itu, menusuk tulang sehingga tangan tuanya yang gemetar akhirnya bergerak untuk merapatkan sweater tipisnya supaya menutup.

Tadi mereka dibangunkan paksa dengan gedoran-gedoran yang mengerikan, hingga sweater tipis yang membungkus baju tidurnya adalah satu-satunya yang bisa diraihnya dalam ketergesaan.

Mata Chaterine mengikuti satu demi satu ketika anak-anak panti itu dipindai, didata dan dimasukkan satu demi satu ke dalam bis. Mereka masih anak-anak. Tidak mungkin anak-anak diputuskan bersalah dalam kasus pengkhianatan terhadap negara. Chaterine berusaha menenangkan diri meski jantungnya memukul-mukul dengan kencang ketika anak terakhir sudah dinaikkan dan salah seorang militer bertubuh besar, yang sepertinya adalah pemimpin mereka, berjalan ke arahnya.

Mereka belum menemukan Asia….. Chaterine menelan ludahnya. Matanya melirik ke arah pasukan militer di dalam panti asuhan yang sekarang pasti sedang menyisir semua area di dalam panti asuhan. Mereka belum menyadari ada kamar kecil tersembunyi di bagian loteng atas…. Setidaknya Chaterine harus berusaha melindungi Asia.

“Kau tentu tahu bahwa kami tidak menemukan apa yang kami cari.” Pemimpin pasukan itu menatapnya dengan tajam menginterograsi, “Apakah kau menyembunyikannya?”

Chaterine menelan ludahnya, berusaha tampak meyakinkan. “Asia sudah tidak ada, dia pergi bersama saudaranya.” Jawabnya tenang meski jantungnya berdebar tak terkendali.

Pemimpin pasukan itu menyipitkan mata, “Apakah kau sedang menyembunyikan perempuan yang kami cari?” tanyanya dengan nada mengerikan.

Chaterine menggelengkan kepala kuat-kuat, “Aku tidak menyembunyikan siapa-siapa.” Jawabnya tegas.

Beberapa lama dia ditatap dengan tatapan tajam mengerikan yang memindai ekspresi wajahnya sampai detail terkecil. Chaterine mengetatkan gerahamnya, berusaha memasang wajah datar yang tidak terbaca.

“Kau ikut kami ke benteng. Kami akan menginterograsimu kembali di sana.” Gumam pemimpin militer itu memutuskan.

Chaterine menahan diri sekuat tenaga untuk tidak memejamkan mata dan menghembuskan napas lega keras-keras. Dia hanya mengepalkan tangan, berusaha meredam emosinya.

Tak lama kemudian pemimpin militer itu menginstruksikan sesuatu kepada anak buahnya, yang langsung mendorong Chaterine dan menggiringnya masuk ke dalam salah satu bus yang ada di sana. Anak-anak di dalam bus langsung berebutan menghambur ke kakinya sambil menangis ketakutan ketika Chaterine memasuki bus itu.

Bus besar itu kemudian bergerak, beriringan menuruni jalan kecil perbukitan, roda-rodanya bergerinjal kasar, melibas rumput dan bebatuan di kiri kanan jalan, karena jalan setapak itu terlalu kecil.

Chaterine menatap ke arah bangunan besar berwarna putih yang ada di puncak bukit itu. Panti asuhan mereka. Tempat mereka tinggal selama bertahun-tahun.

Dia mengucap doa kecil di benaknya, semoga mereka bisa kembali lagi ke sana…. dipejamkannya matanya, membayangkan Asia yang bersembunyi di kamar loteng itu. Dia masih sempat merapalkan doa untuk keselamatan Asia, sebelum kemudian panti asuhan itu hilang dari pandangan.

***

Pemimpin pasukan itu mengumpulkan semua anggotanya yang telah selesai menggeledah seluruh ruangan di dalam panti asuhan, beberapa bahkan sudah menyisir padang rumput di belakang hingga beberapa meter jauhnya.

“Apakah kalian menemukan sesuatu?” tanyanya.

“Kami sudah menggeledah seluruh lokasi. Zero. Target tidak ditemukan.” Jawab salah satu anak buahnya, mewakili semuanya.

Pemimpin pasukan itu melemparkan pandangan tajam ke arah panti asuhan, lalu menggerakkan tangannya untuk memberi isyarat perintah eksekusi yang telah diinstruksikan kepadanya.

“Bakar.” Perintahnya.

***

Ketika Jenderal Akira datang berserta sepasukan militer elite berpakaian hitam yang mengiringi mobilnya, api sudah mulai melalap bangunan panti asuhan itu.

Jenderal Akira turun dari mobilnya, menatap ke arah panti asuhan yang terbakar, sementara pasukan yang sudah datang sebelumnya langsung memberi hormat kepadanya.

Jenderal Akira menatap pemimpin pasukan pendahulu itu dengan dingin, “Kau sudah menemukan apa yang aku cari?”

Pemimpin pasukan itu, yang tadinya nampak begitu tegas dan mengerikan, sekarang kelihatan begitu ciut di bawah aura sang Jenderal besar yang berkuasa, dia menelan ludahnya dengan gugup sebelum menjawab.

“Kami tidak menemukannya Jenderal. Seluruh area sudah kami pindai, dan kami tidak menemukan target.” Lelaki itu tampak gugup karena Jenderal Akira menyipitkan mata dan menatapnya tajam, “Pengelola panti asuhan sudah kami interograsi dan menyatakan bahwa target sudah melarikan diri bersama keluarganya.” Sambungnya buru-buru.

Jenderal Akira menatap pemimpin pasukannya dengan ekspresi mengerikan. Ketika berbicara, suaranya terdengar mendesis geram,

“Kau membakar panti asuhan itu tanpa menungguku. Padahal aku menginstruksikan kepadamu untuk menungguku. Sekarang jawab pertanyaanku, dan jawabanmu akan menentukan apakah kau masih akan hidup atau tidak.” Sang Jenderal mengeluarkan pistol dari balik saku jaket militernya, dan kemudian mengokangnya, lalu menodongkan pistol itu tepat ke kepala pemimpin pasukan pendahulu yang sekarang menjadi pucat pasi dan gemetar ketakutan.

“Jawab pertanyaanku. Apakah sebelum memutuskan untuk membakar panti asuhan itu, kau sudah memeriksa loteng?”

Pemimpin pasukan itu menatap bingung, dia menoleh sedikit ke arah pasukannya yang juga menggeleng-gelengkan kepala bingung. Maka tahulah dia bahwa dia telah membuat kesalahan besar dan nyawanya akan melayang.

“Ampun Jenderal. Kami melewatkannya. Kami bahkan tidak tahu bahwa ada loteng….”

Pemimpin pasukan yang malang itu tidak bisa melanjutkan kata-katanya…. untuk selamanya. Karena Jenderal Akira langsung menembak kepalanya detik itu juga.

Hening. Keheningan yang mencekam. Hanya ada suara tubuh pemimpin pasukan yang sudah kehilangan nyawa dan ambruk di tanah, terdengar berdebum dan menciptakan ketakutan kepada semua orang yang ada di sana.

“Paris. Kau urus pasukan orang bodoh ini.” Gumam sang Jenderal, menatap cemas ke arah panti Asuhan yang dilalap api, “Air. Mana air.” Perintahnya tak sabar.

Salah seorang anggota pasukannya langsung membawa tiga botol air yang berhasil mereka dapatkan. Jenderal Akira mengambil botol itu dan menyiramkannya ke tubuhnya hingga rambut, kulit dan pakaiannya basah kuyup.

“Siapkan paramedis. Aku akan masuk.” Jenderal Akira berlari cepat, dan tanpa ragu memasuki panti asuhan yang sudah dilalap api.

***

Kebakaran…

Kebakaran hebat yang membuat napas Asia sesak, dadanya nyeri dan matanya terasa panas, berair hingga hampir tidak bisa dibuka. Api ada di mana-mana, membungkusnya, mengelilinginya, menahan setiap langkahnya.

Cesar…. Cesar….

Nama itu terucap bagaikan mantra di bibir Asia yang mengelupas dan kering, langkahnya terhuyung berusaha menembus api yang berkobar di depannya. Kulitnya terbakar, tentu saja, menambahkan rasa sakit yang sudah menyerang dirinya bertubi-tubi.

Sampai akhirnya nyala api itu terlalu panas untuk ditahan oleh tubuh mungilnya yang rapuh, Asia rubuh, terbaring meringkuk di lantai, sementara api yang mengelilingi tubuhnya semakin mendekat, bersiap melahapnya dan berpesta pora setelahnya.

Dia akan mati…

Asia memejamkan matanya, pasrah sekaligus ngeri akan kesakitan yang semakin mendera, dadanya terasa panas seolah akan pecah, untuk bernapas pun terasa amat menyiksa.

Dan kemudian ketika sampai di titik di mana Asia hendak menyerah pada kematian yang sudah siap menjemputnya, langkah kaki itu terdengar, suara sepatu nan berat semakin lama semakin dekat, menembus api yang berkobar dan mendekatinya.

Sosok bersepatu itu kemudian membungkuk, mengangkat tubuh Asia dan membawanya bersamanya…..

 

145 Komentar

  1. Ahhh ternyata begitu ya :inlovebabe

  2. Anak2nya kasian
    Gmn nasip mereka skrng

  3. Ayo jendral selamatkan asia..

  4. Kurome Hiyoshi menulis:

    Hoh… Jenderal Akira ternyata sudah mencium Asia di pertemuan yang kedua(?)

  5. fitriartemisia menulis:

    Ah Akira… si tukang sosor wkwkwwwkkk???

  6. Syafriska Amelia Nst menulis:

    G bs nahan ye bang main sosor aja
    Hahaha :KETAWAJAHADD

  7. Oooo anak anak panti kemana yah sekarang??

  8. Baca ulang

  9. Nyosor aja si Akira

  10. First kiss’nya Asia jendral Akira ??

  11. Prisma Lincia menulis:

    Ooh~~ ternyata seperti itu~~

  12. aninagustina menulis:

    Wah si babang jendral ga kuat nahan nih main nyosor aja.. tu yg d soor masih polos gtu.. hadeuh :dragonpingsan

  13. fitriartemisia menulis:

    Gemassshhhhhhhhhhh

  14. carlawella menulis:

    sabar bang jngn main sosor2 aj.. nunggu halal dulu :KENTUUT

  15. carlawella menulis:

    :KETAWAJAHADD

  16. Jenderal :tepuk2tangan

  17. mustika lisa amalia menulis:

    Eaa,,, sosor terus jenderal :gulungguling

  18. Lely Damayanti menulis:

    Akira my superhero :lovelove :iloveyou

  19. :matamemohon :matamemohon :matamemohon

  20. Kakakakakakak.. saya abis makan.. lanjut baca lagi :’)

  21. Sinta Setiawati menulis:

    Yermyata yang menyelamatkan asia adalah akira..semula dikira cesar..

  22. Airaqyoung1215 menulis:

    :kisskiss :kisskiss :kisskiss

  23. Akira??

  24. Dhian Sarahwati menulis:

    Kesan pertama Akira d pasar buruk jadi Asia marah…trus gmn keadaan anak2 panti & ibu panti???

  25. Ini salah satu chapter favorite ku :lovely

  26. Akira. Kok keren banget sich

  27. Suningsihsuning menulis:

    trus mendi anak” pantie

  28. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    Dan ternyata pemilik sepatu boot itu ada sang jendral sendri :mimisankarnamu :mimisankarnamu ..

    Uhhh…..kissing ny akira bikin paber :bantingkursi :bantingkursi

  29. Nisaul Badriyah menulis:

    eps yg membuatq faham dg betul jalan kisah ini…

    akira ndk tau tempat main sosor aja.kasihan asia yg polos jendral…🤣🤣🤣

  30. DianNurUlfah menulis:

    :bantingkursi

  31. :lovely :lovely :lovely :lovely :lovely omo omo

  32. Selamatkan Asia, Jenderal…… :evilmode

  33. Linda Siswanti menulis:

    Dr pertama sebelum d culik, memang jenderal akira ga bisa nahan kl ketemu asia, nyosorrr aja, gmana asia ga takut thorr, hahahahahaha…

  34. Berarti kemungkinan ibu&anak2 panti masih idup kan ya, kukira mereka ikut mati kebakar

  35. Kinky Rain menulis:

    :gakmauahgakmau

  36. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

Tinggalkan Balasan