1.tgw revolution
Generals Wife

The General’s Wife Part 5 : Siapakah Cesar?

Bookmark

No account yet? Register

1.783 votes, average: 1,00 out of 1 (1.783 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

“Mungkin kau akan merasa tidak nyaman, tapi nanti aku akan menempatkan beberapa pengawal pribadi khusus untuk menjagamu. Siang ini mereka akan kukirim kemari.”

Akira memasang kancing paling atas jubah militer hitamnya, lalu berbalik menatap Asia yang duduk di tepi ranjang dengan buku terbuka di pangkuannya.

Sang Jenderal memiliki berbagai koleksi buku-buku berharga di rak buku seluas sisi dinding di ruang bacanya, peninggalan masa lampau yang rupanya berhasil diselamatkan pada masa perang berkecamuk. Koleksi buku ini mungkin tiada duanya karena sebagian besar buku ini pastilah sudah musnah karena perang.

Dan Asia – yang baru sadar bahwa dia suka membaca – tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk langsung melahap buku menarik pertama yang diambilnya dari rak buku itu.

Bukankah rumah ini sudah di kawal ketat?” Asia mengerutkan keningnya mengingat banyaknya pasukan pengawal militer yang lalu lalang di sekeliling rumah. “Sepertinya aku akan aman di sini tanpa tambahan pengawal lagi.”

Akira menyipitkan matanya, “Kau tidak tahu betapa lihainya musuh-musuh-musuhku. Apalagi setelah aku mengumumkan kehamilanmu kepada khalayak.”

“Musuh-musuhmu mengincarku karena aku mengandung?” Asia terkesiap dan tiba-tiba merasa  merinding.

Akira tersenyum tipis, lalu melangkah dan berdiri tepat di depan Asia yang masih duduk di tepi ranjang. Posisinya yang membelakangi jendela membuat sinar matahari yang berhasil memenangkan persaingan dengan hujan salju, menyeruak lembut dari punggung dan rambutnya, menciptakan siluet indah laksana malaikat.

Bukan malaikat – Asia membatin, sedikit mengkerut menatap sang Jenderal yang terbungkus pakaian serba hitam – Mungkin lelaki di depannya ini lebih cocok dideskripsikan sebagai iblis…. yang sangat tampan…

Menjadi isteriku saja sudah membahayakan nyawamu, apalagi kau sekarang sedang mengandung anakku.” Akira mengulurkan jemarinya dan menyentuh lembut pipi Asia, “Tetapi aku akan menjaga isteri dan anakku.”

Lalu tanpa diduga, sang Jenderal membungkukkan badan dan mengecup dahi Asia, dan kemudian tanpa kata melangkah pergi meninggalkan Asia duduk termangu sendiri, masih terlingkupi oleh suasana magis yang memenuhi seluruh ruangan.

***

Ketika Asia membuka matanya, dia berhadapan dengan Akira yang duduk di tepi ranjang, setengah membungkuk ke arahnya, dan menatapnya dengan tatapan membara penuh kemarahan.

“Sadarkah kau apa yang terjadi kepadamu?”, suara Akira mendesis seolah menahankan diri supaya tidak meledak, bahkan gerahamnya mengetat penuh kemarahan.

Kenapa lelaki ini tampak begitu murka?

Sebelum Asia bisa menelaah pertanyaannya, Akira tiba-tiba bangkit, menumpukan tubuhnya diranjang, dan dengan gerakan secepat kilat tanpa Asia sempat menghindar, Akira mencengkeram leher Asia dengan cengkeraman kencang yang ahli.

Sedikit gerakan saja lelaki ini akan mematahkan lehernya dan membunuhnya.

Asia membeku – merasa takut – jantungnya berdentam keras seakan memukul-mukul rongga dadanya.

Akira sendiri mendekatkan wajahnya hingga hidungnya hampir menyentuh hidung Asia, matanya menatap nyalang sementara cengkeramannya semakin kuat, membuat Asia megap-megap.

“Dokter bilang kau sedang mengandung anakku….” , tatapan lelaki itu menajam, “Jadi karena itu kau mencoba bunuh diri, eh?”

Bunuh diri? ……….. Kenapa dia harus mencoba bunuh diri….?

Kebingungan Asia tidak sempat untuk termanifestasi karena lelaki itu mengencangkan cengkeramannya, hampir memutus jalur napas Asia membuat dada Asia terasa panas seolah hampir meledak

“Nyawamu ada dalam kuasaku, hanya aku yang bisa memutuskan kapan kau mati.” geram Akira kejam , “Jangan coba-coba berbuat bodoh, atau aku akan menghabisi mereka tanpa ampun!”

Mereka….? Siapa maksudnya?

***

Asia mengerjap, merasa pening dan mengernyit ketika hawa dingin menusuk kulitnya, dari tirai jendela yang terbuka dia bisa melihat bahwa gugusan hujan salju yang semula hanya rintik di pagi hari telah menjadi begitu deras dan membuat warna putih menebal sejauh matanya memandang.

Mimpi aneh itu lagi… kenapa dia selalu memimpikan Jenderal Akira sebagai sosok yang menakutkan? Bahkan dalam mimpinya tadi sang jenderal mengancam akan membunuh ‘mereka’. Siapa yang dimaksud dengan ‘mereka’ itu?

Asia merasakan kepalanya pening, setiap dia mencoba mengingat, rasa nyeri mengalahkannya dan membuatnya menyerah.

Asia mengalihkan tatapan matanya kearah jendela.

Sepertinya sudah tengah hari…

Rupanya Asia ketiduran ketika membaca buku, entah karena bawaan bayi, akhir-akhir ini Asia mudah sekali mengantuk dan ketiduran di sembarang tempat.

Dan dia kembali bermimpi aneh…

Mimpi-mimpi buruknya yang keseluruhannya merupakan adegan absurd antara dirinya dan Akira  membuatnya kebingungan. Apakah itu kejadian nyata? ataukah hanya hasil imajinasinya akibat ketakutan terpendam kepada sosok suaminya?

Jemari Asia memijit keningnya yang entah kenapa terasa nyeri….

Ah, ya ampun, betapa inginnya dia mendapatkan ingatannya kembali…

Selama ini bukannya Asia tidak pernah mencoba, dia selalu berusaha dan terus berusaha menggapai ingatannya di masa lalu, tetapi seolah ada kabut hitam yang melingkupi pikirannya, membentuk tembok tebal yang menyengat kepalanya dengan rasa nyeri ketika Asia mencoba menembusnya.

Asia menghela napas panjang, lalu melangkah berdiri dari ranjang tempatnya tertidur tadi, dan melangkah keluar kamar.

Suasana sepi…. Asia menatap ke ujung lorong yang kosong, rupanya pengawal khusus yang katanya akan dikirimkan Akira belum sampai

Dengan sedikit mengendap-endap – entah kenapa – Asia melangkah keluar kamar menelusuri lorong yang lantainya berkarpet tebal dan dindingnya dihiasi berbagi lukisan itu hingga ke ujung. Di ujung lorong ada jendela kaca raksasa yang menampilkan pemandangan taman yang membeku tertutup salju, dan ada dua persimpangan.

Kalau mengikuti lorong ke arah kiri, dia akan menuju ruang makan megah tempatnya sarapan dengan suaminya setiap pagi. Tetapi kalau menuju kanan….

Asia meragu, Martha kemarin bilang sebaiknya dia tidak menuju ke bagian kanan lorong, katanya di sana ada ruang gudang senjata milik Jenderal Akira, dan suaminya akan marah besar kalau ada yang menjamah area itu tanpa seizinnya.

Meskipun begitu, benak Asia bertanya-tanya, sebab jika benar ke kanan lorong itu adalah gudang senjata, kenapa tidak ada satu pengawalpun yang berjaga di sana?

Bukankah ruangan sepenting gudang senjata seharusnya dijaga ketat?

Tetapi kenyataannya kanan lorong ini seolah-olah bukan bagian penting yang harus dijaga.

Apakah Martha berbohong kepadanya? Tapi kenapa?

Rasa ingin tahu mengalahkan ketakutannya akan kemarahan sang jenderal, dengan hati- hati Asia melangkah menyusuri bagian kanan lorong itu, dan berhenti ketika sampai diujung.

Tidak ada apa-apa di sana, selain tangga mungil cantik dari pualam putih yang mengarah ke atas.

Asia sempat meragu, tetapi kemudiam setelah menghela napas panjang, Asia memantapkan dirinya untuk menapaki tangga itu,  pelan-pelan, setapak demi setapak hingga sampai di ujung paling atas.

Asia berada di sebuah teras mungil berdinding kaca besar berbingkai putih menampakkan pemandangan langit mendung dan pucuk-pucuk pepohonan yang tertutup warna putih tebal. Teras mungil ini sepertinya adalah bagian menara dari rumah besar yang serupa kastil ini.

Karpet bulu tebal berwarna putih terasa begitu lembut membungkus kakinya, di sisi kanannya, sebuah sofa besar yang juga berwarna putih berlapis bulu serupa bulu beruang salju tampal cantik berpadu dengan pot-pot anggrek putih yang digantung di dindingnya.

Dan Asia tertegun ketika matanya menatap sebuah pintu besar dari bshan gading berwarna putih bersih di sisi lain teras mungil itu.

Kata-kata Martha- pelayannya – ketika Asia pertama kali tiba di rumah ini langsung menyeruak ke benaknya. Perempuan itu dulu mengatakan bahwa sudah menyiapkan ‘kamar putih’ untuknya.

Jemarinya gemetar ketika memegang handle pintu besar itu, merasakan rasa familiar yang amat sangat membanjiri dadanya.

Apakah ini…. kamar putih itu?

***

“Apakah ada petunjuk mengenai pergerakan dari Cesar dan kelompoknya?” Akira melangkah dengan diiringi beberapa orang tentara di belakangnya, mereka baru saja pulang dari mengunjungi salah satu benteng militer mereka di daerah konflik di selatan yang sudah berhasil dipadamkan beberapa waktu sebelumnya.

Kunjungan tadi membuat Akira kehilangan kesabarannya, karena dari beberapa orang – anak buah Cesar – yang berhasil ditangkap, tidak ada satupun yang mau memberikan informasi mengenai Cesar.

Oh, tentu saja mereka disiksa. Tertangkap dalam kuasa Jenderal Akira yang kejam merupakan mimpi buruk bagi siapapun musuhnya. Penyiksaan yang diberikan, kadang oleh Jenderal Akira sendiri – yang merupakan seorang ahli penyiksaan untuk tujuan interograsi – bisa membuat siapapun memohon untuk mati.

Dan para anak buah Cesar itu memang memohon untuk mati, berkali-kali malahan. Sayangnya mulut mereka terkunci. Cesar rupanya telah melatih pasukannya dengan baik, mereka sangat loyal dan setia.

Bagi mereka lebih baik mati daripada mengkhianati Cesar.

Dan Akirapun akhirnya memberikannya, kematian yang cepat dan tidak menyakitkan, setelah sebelumnya mereka disiksa dan diinterograsi bertubi-tubi. Kematian yang cepat itu adalah bentuk penghargaan Akira akan kesetiaan mereka pada atasannya, meskipun atasan mereka adalah musuh besar Akira sendiri.

Ya, Akira adalah seorang Jenderal yang penuh kontradiksi, dia kejam, tapi  yang kadangkala orang tidak tahu, Akira selalu menghormati orang-orang yang memegang kehormatannya.

Paris, yang berjalan mengiringi atasannya menghela napas panjang, berucap dengan hati-hati karena tahu bahwa suasana hati sang Jenderal sedang buruk.

“Para tawanan tadi tidak memberikan informasi apapun, begitupun dengan orang-orang kita yang menyelidiki lokasi dimana Cesar kami duga berada, informasi itu ternyata hanya pengalihan, kami memperkirakan saat ini Cesar sudah berada di lokasi berlawanan, dia memang sangat cerdik.”

“Memang.” Akira membuka pintu ruang kerjanya lalu memberi isyarat kepada orang-orang yang mengikutinya supaya kembali ke posisinya masing-masing, hanya Paris yang disuruhnya memasuki ruangan.

Setelah Paris masuk dan menutup pintu, Akira duduk di kursinya dan menatap Paris tajam

“Cesar memang sangat pandai. Kau pasti ingat ketika dia menjadi yang paling menonjol di antara teman seangkatannya di pendidikan militer, dia mencapai nilai tertinggi hampir di semua hal. Sebagai mentornya aku telah melatihnya dengan baik dan dia menyerapnya dengan sempurna.” Mata Akira bersinar penuh ironi. “Sayangnya, muridku yang paling sempurna ternyata tumbuh menjadi musuh terbesarku.”

“Tetapi tetap saja anda selangkah lebih maju dibanding Cesar.” Paris tersenyum, “Karena anda memiliki nona Asia. Pengumuman tentang kehamilan nona Asia pasti telah sampai ke telinga Cesar. Dia pasti telah menyerap kesalah pahaman itu seratus persen seperti yang kita inginkan. Dan menyangkut nona Asia, biasanya Cesar  akan melupakan kepandaiannya dan bersikap ceroboh.”

Akira hanya menampakkan ekspresi datar ketika mendengar kata-kata Paris, kalaupun dia tidak setuju, itu sama sekali tidak terlihat di wajahnya.

“Ngomong-ngomong tentang Asia, apakah Morie sudah mengkoordinasikan denganmu tentang pengiriman pengawal pribadi untuk Asia?”

Paris menganggukkan kepalanya,

“Empat orang pengawal militer kita yang terbaik sudah dikirimkan tadi pagi untuk menjaga nona Asia dari jarak dekat, dia akan aman karena pengawal militer ini adalah yang paling ahli dan tidak pernah gagal menjalankan tugasnya.”

Akira mengangguk tipis,

“Bagus, karena aku membutuhkan Asia dijaga ketika aku tidak ada … aku sangat mengenal Cesar dia tidak tahan dengan pengkhianatan, dan saat ini dia pasti berniat membunuh Asia karena mengira Asia mengkhianatinya.”

Paris memiringkan kepalanya, menatap Akira dengan ekspresi ingin tahu,

“Anda benar-benar ingin melindungi nona Asia ya?”

Ekspresi sang jenderal langsung mengeras ketika mendengar pertanyaan Paris,

“Aku ingin melindungi anakku, Paris. Dan kebetulan saja anakku itu ada di dalam perut Asia.” desisnya dengan nada terganggu.

Paris membuka mulutnya hendak berbicara, tetapi ketukan di pintu menghentikannya.

Dengan bergegas Paris membuka pintu karena apapun yang akan disampaikan oleh si pengetuk pintu pastilah hal yang penting. Tidak ada yang berani mengetuk ruang kerja jenderal Akira kalau tidak benar-benar mendesak.

Sejenak Paris berbicara dengan seseorang diambang pintu, lalu orang itu pergi dan Paris menutup pintu di belakangnya, ekspresinya nampak khawatir.

“Kenapa?” Akira bertanya waspada, menyadari ada yang tidak beres.

Paris sedikit memiringkan kepalanya dengan cemas,

“Para pengawal yang saya kirim tadi pagi, ternyata belum sampai ke rumah anda, badai salju semalam telah menumbangkan puluhan pohon di jalanan dan menghambat mereka. Badai salju juga menghalangi mereka untuk mengirimkan pemberitahuan sehingga kita terlambat menerima informasi.”

“Apakah rumahku sudah bisa dihubungi?” Akira bangkit, meraih senjatanya di bawah meja dan menyelipkannya di tubuhnya.

Paris menggelengkan kepalanya,

“Kami sedang mencoba…. badai salju rupanya juga menghalangi…”

“Pohon bertumbangan… dan badai salju yang menghalangi komunikasi, semua ini terlalu kebetulan.” mata Akira menyiratkan kemarahan ketika berbicara, “Siapkan helikopter saljuku.”

***

“Kenapa anda tidak ada di kamar anda, nona?”

Suara sapaan itu membuat Asia terlonjak kaget, jemarinya seketika terlepas dari handle pintu kamar berwarna putih yang sedang dipegangnya. Dia menolehkan kepala, dan berhadapan dengan satu…dua…tiga…… delapan orang berpakaian hitam-hitam yang berdiri di belakangnya, Asia tentu saja tidak mengenal orang-orang ini, tetapi mereka berjubah hitam militer…. meskipun jubah yang dipakai beberapa orang tampak kedodoran..Asia mengerutkan keningnya melihat keanehan itu, tetapi segera ditepiskannya pertanyaan yang muncul di benaknya.

Mereka ini…. jangan-jangan adalah pengawal pribadi yang kata suaminya tadi pagi akan dikirimkan untuknya?

“Aku….eh aku sedang jalan-jalan dan tersesat di sini.”  Asia meremas kedua tangannya di depan tubuhnya, merasa bersalah seperti pencuri yang tertangkap basah.

Salah seorang lelaki yang berada di posisi paling depan mengangkat alisnya,

“Anda tersesat di rumah anda sendiri?”

Asia makin gelisah, merasa diinterograsi,

“Rumah ini begitu besar… dan aku mengalami luka di kepala yang membuatku kehilangan ingatan, jadi aku….”

“Anda mengalami hilang ingatan?” , lelaki didepannya menyela, hampir berteriak, entah kenapa dia kelihatan sangat terkejut, lalu dengan tatapan gelisah langsung menoleh ke arah rekannya, “Kita harus memberi tahu tuan Cesar.” gumamnya setengah berbisik.

“Cesar? siapa Cesar?” Asia mendengar bisikan itu, dan nama Cesar terasa begitu familiar baginya, entah kenapa membuat jantungnya berdetak lebih kencang,

“Tuan Cesar adalah…..” Suara helikopter di langit sana terdengar begitu keras, membuat wajah semua lelaki di depannya memucat. Si pemimpin langsung mencekal lengan Asia dengan kasar, setengah menyeretnya, “Ayo! Kami harus membawa anda keluar dari sini!”

Mereka semua berlari sambil menyeret Asia yang terseok-seok kebingungan karena dibawa berlari dengan tiba-tiba,

“Bukankah kita mendapatkan perintah untuk bereskan di tempat?” salah seorang lelaki bertanya kepada si pemimpin.

“Dia mengalami lupa ingatan!” sambil terus berlari si pemimpin menjawab, matanya fokus mencari jalan keluar dari rumah besar selayaknya benteng ini, “Kita telah salah paham dan ditipu oleh Jenderal Akira itu.”

“Tapi dia sedang mengandung anak jenderal brengsek itu!” seorang lelaki bertanya lagi, rupanya dia melirik ke arah Asia yang terseret sambil memegangi perutnya yang sedikit membuncit.

Si pemimpin menoleh ke arah Asia dan mengernyit,

“Kita bawa saja dia ke hadapan tuan Cesar, biar tuan Cesar yang memutuskan. Ayo cepat!! Kalian dengar suara helikopter itu bukan? Kalau yang menaikinya adalah orang yang kita bayangkan maka itu adalah pertanda buruk! Satu-satunya kesempatan kita adalah segera pergi dari rumah ini! Cepat!”

“Tunggu dulu! Siapa Kalian? Kalian bukan orang suruhan suamiku?!” Asia mendengar percakapan itu dan yakinlah dia bahwa orang-orang ini adalah penyusup, musuh-musuh suaminya yang berniat buruk – mereka memanggil jenderal Akira sebagai jenderal brengsek…. seorang anak buah tidak akan pernah memanggil atasannya seperti itu –  Dan ketika para lelaki itu tidak mempedulikan pertanyaannya, malah menyeretnya semakin cepat berlari, Asia meronta sekuat tenaga – meskipun itu menghabiskan tenaganya- dan menyentakkan lengannya dari cengkeraman kasar pemimpin kelompok itu, “Lepaskan aku!! Kalian tidak bisa membawaku begitu saja!” Asia mencoba berlari tetapi kedelapan orang itu mengepungnya, membentuk benteng kokoh yang tidak tertembus.

Suara helikopter itu terdengar makin dekat, seolah-olah berada di atap rumah.

Asia bisa melihat kepanikan mulai menjalari wajah-wajah di depannya, bahkan si pemimpin – yang sekarang mengeluarkan belati dari balik mantelnya – nampak begitu pucat pasi…. dan ketakutan..

“Jangan menyulitkan kami, nona. Anda harus menurut kami bawa keluar dari sini.” Lelaki itu menyeringai penuh ancaman, lalu mencengkeram leher Asia dan membawa Asia ke tubuhnya menempelkan besi tajam itu ke leher Asia, “Kalau tidak, pisau ini akan mengiris leher anda.”

Asia gemetar ketika merasakan dinginnya belati di lehernya, belati itu sangat tajam, bahkan hanya dengan ditempelkan di lehernya saja, bagian pinggirnya langsung menggoreskan luka di kulitnya, menjejakkan rasa nyeri dan aliran darah hangat yang mengalir.

“Cepatt!!” si pemimpin memberikan instruksi lagi kepada teman-temannya, dan kembali Asia di seret-seret dengan kasar, kali ini dengan belati di lehernya.

Mereka akhirnya bisa keluar dari rumah itu, dan sekarang berada di hamparan salju yang menyelimuti taman besar di bagian belakang rumah. Hujan salju langsung menerpa pipi Asia, dan hanya dia sendiri yang tidak bermantel sehingga dia menggigil kedinginan.

Tubuhnya terus diseret, kali ini sang pemimpin setengah mengangkatnya sambil terus mempertahankan belati di lehernya. Asia sendiri harus memejamkan matanya karena hujan salju menghalangi pandangan matanya, dan rasa dingin yang menusuk tulang mulai menyiksa tubuhnya, menimbulkan nyeri di mana-mana, membuat Asia hampir kehilangan kesadarannya.

Tiba-tiba, entah kapan, entah bagaimana, Asia merasakan tubuhnya ditarik dan berpindah tangan, seketika membentur dada yang kokoh, dia hendak membuka matanya, tetapi sebuah jemari lembut menutup kedua matanya, hingga Asia tidak bisa melihat apa-apa.

“Tutup matamu.”

Itu suara Akira!

Kelegaan yang luar biasa menjalari tubuh Asia, dia menurut, memejamkan matanya meskipun jemari sang jenderal masih menutup di sana.

Lalu Asia merasa tubuhnya dibawa berputar seiring dengan sang jenderal yang bergerak cepat, Asia pasrah, mengikuti alur gerakan tubuh sang jenderal.

Suara senapan yang ditembakkan terdengar tetapi sepertinya senapan itu dipukul hingga jatuh berderak, terdengar suara pukulan, suara teriakan, suara goresan besi yang beradu dengan besi dan kulit manusia, suara erangan kesakitan dan ada cipratan cairan hangat beraroma tajam yang mengenai Asia…..darah?

Asia mengikuti semua itu dalam kegelapan total karena matanya terpejam dan jemari sang Jenderal masih menutup matanya. Tubuhnya terombang ambing, dibawa kesana kemari, tetapi sang Jenderal terus menjaganya supaya tetap merapat.

Dan kemudian suara gaduh itu berhenti, hening langsung menerpa….pun dengan gerakan sang jenderal yang kemudian ikut berhenti.

***

Paris selesai mendaratkan helikopternya dan berlari tergopoh menyusul Akira yang lebih dulu berlari begitu kaki helikopter menyentuh landasan di bagian atap rumah.

Dan pemandangan di depannya membuat Paris tertegun.

Jenderal Akira berdiri di tengah hamparan salju, dengan Asia berdiri bersandar di dadanya, sebelah tangan sang jenderal menutup mata Asia, sedang sebelah kirinya memegang belati panjang seukuran setengah lengan yang berlumuran darah, menetes-netes meninggalkan genangan merah pekat di salju yang putih.

Dan disekeliling sang jenderal…. bergelimpangan mayat-mayat lelaki, jumlahnya delapan orang – Paris menghitung dalam hati-  semua mayat itu tergeletak dengan luka parah dan mengalirkan darah merah segar dari tubuhnya, tampak begitu merah, kontras dengan salju putih yang menghampar.

Darah itu juga menciprati sang jenderal dan ada sedikit yang mengenai Asia, meninggalkan jejak merah di wajah sang Jenderal, membuatnya tampak semakin menakutkan dan sedikit  mengerikan.

Akira membawa Asia mendekat ke arah Paris, masih menutup mata Asia dengan jemarinya.

“Bawa Asia ke Martha untuk di bersihkan, suruh dokter Frederick datang dan panggil anak buahmu untuk membereskan itu.” Akira mengedikkan kepalanya ke arah mayat-mayat bersimbah darah di salju, kemudian sedikit mendorong Asia ke arah Paris.  “Aku akan membersihkan diri dulu.” Akira mengusap darah segar di pipinya, “Setelah itu temui aku di ruang baca.”, lanjutnya kepada Paris sambil melepaskan Asia dan memberikannya kepada Paris.

“Tutup matamu Asia, dan jangan kau buka sampai kau berada di kamar.” perintah Akira tegas ketika melihat Asia hendak membuka matanya, membuat Asia langsung memejamkan matanya kembali.

Paris menganggukkan kepalanya kepada sang Jenderal, lalu membimbing Asia yang menurut memejamkan matanya – membuat Paris geli melihat sikap Asia yang begitu penurut kepada sang Jenderal, kontras sekali dengan masa lampau dulu sebelum dia kehilangan ingatannya –

“Mari nona, saya akan mengantar anda ke kamar.” gumamnya lembut

***

“Apakah dia terluka?” Akira sedang mengusap wajah dan rambutnya yang basah dengan handuk, lelaki itu melepas pakaian militernya dan berganti dengan kemeja santai berkerah lebar dan berleher rendah berwarna gelap.

Akira berdiri memunggungi Paris, menatap ke arah badai salju yang menghebat di luar, buliran salju yang keras bahkan memukul-mukul kaca menimbulkan bunyi gemeletuk.

Meskipun di luar begitu dingin, di dalam rumah tetap hangat dan nyaman karena adanya sistem penghangat otomatis di setiap ruangan.

Paris berdiri tegak, menatap punggung sang jenderal dari belakang.

“Dokter Frederick bilang kondisi bayinya baik-baik saja.”

Akira masih menatap jauh ke luar,

“Asia?”

“Nona juga baik-baik saja, ada sedikit luka sayatan kecil di lehernya…. dokter Frederick sudah menjahit luka itu, nona Asia sedikit shock, selebihnya kondisinya baik.”

Akira memejamkan mata sambil menghembuskan napas, hanya beberapa detik. Dan ketika lelaki itu membalikkan badan, wajahnya datar tanpa ekspresi.

“Kau sudah mengumpulkan komandan pengawal rumahku dan pasukannya yang bertugas jaga hari ini? Mereka lalai dalam bertugas hingga delapan orang suruhan Cesar bisa menyusup ke rumah ini.”

“Sudah, Jenderal.” Paris menatap Akira hati-hati, “Saya sudah menahan komandan dan pasukannya di benteng, anak buah saya juga sudah menyelidiki, penyusup itu masuk melalui saluran pembuangan air yang sedang tidak digunakan di bagian belakang taman, saluran itu menembus ke samping kolam air mancur dekat taman samping ruang makan. Biasanya pada musim kemarau dan hujan, saluran itu penuh berisi aliran air deras dari pembuangan sanitasi taman belakang, tetapi di musim dingin, karena air di kolam membeku, saluran itu tidak dipergunakan, sebab seluruh lubangnya tersumbat es beku, kami menemukan beberapa mesin peleleh es ditinggalkan di pinggir kolam tertutup oleh salju, kami menduga mereka datang berdelapan karena harus bekerjasama memecah hambatan es di saluran tersebut untuk membuat jalan masuk, semakin banyak orang semakin cepat mereka bisa masuk dan keluar. Pasukan pengaman rumah mengaku lalai tidak menyisir segala kemungkinan akses masuk ke rumah ini.”

Paris menghela napas, “Saya menduga mereka diperintahkan membunuh nona Asia di tempat, lalu pergi. Entah kenapa mereka malah memutuskan membawa nona Asia dan memperlambat diri.”

“Mereka tahu kalau Asia mengalami amnesia, dan Asia tidak bersalah. Karena itu mereka ingin membawanya kepada Cesar.” mata Akira nampak begitu dingin, “Karena itulah aku menghabisi mereka semua.”

Suara Akira tampak sedingin badai salju di luar sana hingga Paris merasakan bulu kuduknya meremang. Semua orang tahu bahwa Jenderal Akira seperti mesin pembunuh yang sempurna, lelaki itu sangat tangguh dan tak terkalahkan dalam pertempuran dengan tangan kosong.

Jenderal Akira sangat mematikan dengan tangan kosong…. dan jika bersenjata… well… berikan senjata kepada sang Jenderal dan sudah pasti lawannya tak akan punya harapan.

Melawan sang jenderal yang bertangan kosong sama saja cari mati, dan melawan sang jenderal yang bersenjata sama saja bunuh diri.

Seperti delapan orang malang tadi yang menemui nasib buruk karena harus berhadapan langsung dengan sang jenderal dan pada akhirnya tewas mengenaskan.

Akira tampak berpikir, lalu bergumam,

“Cesar tidak boleh tahu kalau Asia mengalami amnesia, perketat perimeter keamanan, periksa semua pegawai rumah ini dan musnahkan jika kau menemukan indikasi penyusupan atau pengkhianatan.”

Paris mengangguk patuh,

“Saya akan melaksanakannya, Jenderal.”

“Dan hukum komandan pengawal serta pasukannya yang bertugas hari ini, aku ingin mereka menerima hukuman yang berat di depan yang lain supaya pasukan lain melihat bahwa kelalaian menjaga rumah dan isteriku akan membawa konsekuensi mengerikan. Katakan kalau yang kedua kalinya aku tidak akan memberi ampun, jika sampai terjadi lagi aku akan menjatuhkan hukuman mati.”

“Baik Jenderal.”

Akira mengangguk, tampak puas, lelaki itu mengedikkan bahunya,

“Kau boleh kembali ke benteng, Paris. Koordinasikan semuanya, termasuk penambahan pengawal rumah dan pengawal pribadi Asia. Aku akan melihat keadaan Asia.”

***

Asia duduk di tepi ranjang sambil memilin tangannya di pangkuan, tadi Martha sudah memandikannya dengan air hangat, memakaikan pakaian tebal untuknya dan membawakan minuman panas karena Asia masih menggigil kedinginan.

Dokter keluarga telah memeriksanya dan – syukurlah – mengatakan bahwa kondisi bayi yang sedang bertumbuh kembang di perutnya ini, baik-baik saja.

Sekarang setelah duduk dengan selimut tebal di pangkuannya dan menghabiskan minuman panasnya serta berada di ruang kamarnya yang hangat dan kering, Asia mulai merasa nyaman dan gigilannya berhenti.

Tapi rasa mual di perutnya menghebat.

Sebelum sang jenderal menghardiknya untuk menutup mata tadi, Asia sempat mengintip ke bawah, ke arah hamparan salju di kakinya. Dan di salju itu ada rembesan warna merah yang bercipratan di mana-mana..

Darah….

Asia bergidik ngeri lalu menghela napas panjang untuk menekan rasa mualnya. Darah itu tertumpah dari tangan suaminya…

Delapan orang… dan astaga, Akira bisa menghabisi semuanya dalam waktu singkat dengan sebelah tangan menutup mata Asia pula.

Suaminya benar-benar lelaki yang sangat berbahaya….

Tetapi bagaimanapun juga Jenderal Akira adalah pemimpin tinggi negeri ini, karena itulah dia yang tertangguh di antara yang paling tangguh…. lagipula lelaki itu membunuh untuk menyelamatkan Asia.

Suara pintu dibuka membuat Asia terkesiap dan menatap ke arah pintu, dia langsung beringsut ketika melihat Akira yang memasuki kamar,

Lelaki itu sepertinya habis mandi, karena rambutnya basah, dan tampak santai dengan kemeja gelapnya yang membungkus dada dan punggungnya yang sempurna dengan pas. Asia baru sadar bahwa dia jarang sekali melihat sang jenderal berpakaian selain pakaian militernya.

“Bagaimana keadaanmu?” Akira berdiri di tepi ranjang, nampak begitu berkuasa, membuat Asia harus mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah suaminya.

“Aku baik-baik saja.” dengan lembut Asia menyentuh perutnya, “Dia juga baik-baik saja di sini.”

Sedetik Asia melihat sudut bibir sang Jenderal terangkat naik seolah hendak tersenyum, tetapi sepertinya itu hanya imjinasinya saja, karena ketika Asia mengerjap dan menatap Akira, lelaki itu masih memasang wajah datar tanpa ekspresi.

Akira mengulurkan jemarinya, dan menyentuh leher Asia, sentuhan itu membuat Asia tersentak dan itu tak luput dari perhatian sang jenderal.

“Apakah kau takut kepadaku?”  Jemari Akira merayapi leher Asia dengan sentuhan lembut seringan bulu, namun mengirimkan gelenyar panas tak terkira yang menstimulasi seluruh bagian kulit sensitif  Asia,

Asia menggelengkan kepalanya, menatap Akira dengan waspada. Bukan….., sentuhan Akira telah menimbulkan sensasi aneh yang merambati sekujur tubuh Asia, sensasi itu seolah kehausan, yang hanya bisa dipuaskan dengan merasakan sentuhan hangat kulit Akira di kulitnya. Rasa dahaga itulah yang membuatnya takut.

Jemari Akira lalu berhenti, tepat di perban putih tipis yang membungkus luka sayatan belati di sana.

“Sakit?” suara Akira terdengar sedikit parau.

Otomatis Asia menggeleng. Tadi ketika dokter menjahit luka itu memang terasa sakit, tetapi sekarang sudah tidak lagi.

Tanpa diduga, jemari sang Jenderal bergerak dan mengangkat dagu Asia supaya mendongak, lelaki itu lalu menunduk dan mendaratkan kecupan panas dikulit leher Asia, tepat di atas perbannya, nafasnya yang hangat mengirimkan sensasi aneh di tubuh Asia, membuat napasnya terengah,

Sang jenderal mengangkat kepalanya, masih tetap membungkuk hingga matanya beradu begitu dekat dengan mata Asia.

“Kau tidak akan mengalami insiden mengerikan seperti tadi untuk kedua kalinya, aku berjanji.” Ada ketegasan di mata cokelat bening yang nyaris transparan itu, dan sebelum Asia sempat berkata-kata, sang jenderal mendorong tubuhnya berbaring di ranjang, lalu menyelimuti Asia.

Kecupan dari bibir yang dingin  mendarat di dahi Asia sebelum lampu kamar dimatikan dan lampu tidur dinyalakan.

“Tidurlah, Dokter bilang kau harus banyak beristirahat.” Akira bergumam sebelum membalikkan tubuhnya hendak meninggalkan kamar itu.

Tetapi sebelum sang Jenderal membuka pintu kamar dan melangkah pergi, Asia berhasil mengumpulkan suaranya untuk menyuarakan pertanyaan yang mengganggunya,

“Boleh aku tahu…. siapakah Cesar itu?”

Akira tertegun. Langkahnya membeku di tengah ruangan.

***

“Mereka tidak kembali.” hanya kalimat singkat itu yang dilaporkan Keiro kepadanya.

Tapi Cesar langsung tahu artinya.

Misinya telah gagal. Delapan orang terbaik yang dikirimkannya menyusup ke dalam benteng itu telah mati sia-sia.

“Penjagaan di dalam rumah sang Jenderal pasti akan diperketat setelah ini, Hampir mustahil bagi kita untuk menembusnya…. mungkin kita bisa melupakan sejenak misi kita untuk nembunuh nona Asia dan fokus pada rencana penyerangan kita di perbatasan yang berikutnya?”

“Tidak!” Cesar menggelengkan kepalanya dengan tegas. “Tidak ada yang mustahil bagiku, aku mengenal rumah Jenderal karena aku dulu sering masuk ke sana. Aku sendiri yang akan masuk ke sana dan menuntaskan misi untuk membunuh Asia.”

Suara Cesar terdengar gemeretak penuh kemarahan memenuhi seluruh ruang bawah tanah yang remang-remang itu.

 

204 Komentar

Tinggalkan Balasan