the-generals-wife
Generals Wife

The General’s Wife Part 18 : Kompromi

Bookmark

No account yet? Register

1.688 votes, average: 1,00 out of 1 (1.688 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

the-generals-wife

Asia menatap nyalang penuh kebencian kepada sosok yang sekarang berdiri di ujung ranjang. Sosok yang menjadi penghancur kehidupan bahagia yang melingkupi dirinya di masa lampau, sosok yang merenggut dirinya dari orang-orang yang dia cintai.

Sementara Akira malah memasang senyum jahatnya yang khas, memainkan pisau kecil itu di tangannya dengan gerakan mengancam yang tersirat,

“Kau ini bodoh atau apa Asia…pisau sekecil ini, menyerangku di saat aku tidur..” Akira menggeleng-gelengkan kepalanya menghina, “Kalau aku bisa dengan mudahnya mati dengan cara seperti itu, aku tidak akan berdiri di sini sebagai Jenderal besar After Earth.”

“Setidaknya aku bisa melukaimu.” Asia mendesis, bibirnya bertaut dengan geram, jemari mungilnya mengepal menahan marah.

“Melukaiku?” Akira memasukkan pisau kecil itu ke dalam saku celana piyamanya , “Tidak semudah itu, Asia. Apa kau tidak sadar betapa jeleknya aktingmu tadi? Aku sampai harus berkali-kali menahan diri supaya tidak tertawa.”

Jadi Jenderal sialan ini sudah tahu sejak semula? Darimana dia tahu?

Paris curiga tentu saja begitu kau meminta buah-buahan segar ke kamarmu. Aku berada di depan kamera pengawas, mengawasimu dan tertawa ketika kau menyembunyikan pisau itu dengan gerakan ala amatiran yang bodoh.”

Jadi karena itu Jenderal Akira pulang cepat, karena itu lelaki ini bertingkah aneh, bahkan lelaki ini sengaja mengganggunya dengan berkeliaran di dalam kamar dalam kondisi telanjang dan memamerkan tubuhnya pada Asia.

Pipi Asia merah padam. Ya, dia tahu dirinya bodoh dan naif, mengira bisa semudah itu melepaskan diri dari kungkungan Jenderal Akira yang kejam. Tetapi dia berpikir waktunya sempit sebelum Jenderal Akira menyadari bahwa ingatannya sudah kembali, sebab kalau Jenderal Akira sudah sadar, itu berarti penjagaan atas dirinya akan menjadi berkali-kali lebih kuat, dan kesempatan baginya untuk bisa lari akan menghilang.

“Pilihanmu hanya ada dua Asia, membunuhku atau bekerjasama denganku. Dan karena kau tidak bisa membunuhku, jadi yang bisa kau lakukan adalah bekerjasama denganku.” Jenderal Akira melangkah mendekat, berdiri di sisi ranjang, tepat dihadapan Asia yang secara refleks langsung beringsut ke sisi ranjang terjauh.

“Aku bisa membunuhmu!” Asia menggertak, karena memang itu satu-satunya kekuatan yang dimilikinya untuk menantang Sang Jenderal. Mungkin dia memang tidak bisa mengalahkan Jenderal Akira, tetapi setidaknya dia bisa mengusiknya, karena Jenderal Akira tidak suka ditantang.

Sepertinya tantangannya mengenai sasaran karena ada sinar tajam yang tersulut di mata Akira, lelaki itu menggertakkan giginya ketika berbicara,

“Kau tak akan bisa membunuhku, Asia, meskipun kau mencobanya, pun dengan diriku yang tidak bisa membunuhmu. Kita tidak bisa saling membunuh. Pisau tadi itu, kau pasti akan menghentikan gerakanmu meskipun aku tidak mencegahnya, karena kau tidak akan mampu membunuhku.”

Jenderal Akira berjalan ke sisi ranjang, membuka lemari besar yang ada di ujung ruangan, di dalam lemari itu terdapat brankas hitam berukuran sedang yang terbuat dari baja tebal. Jenderal Akira melirik sedikit ke arah Asia,

“Ironis bukan? aku menyimpan senjataku di dalam kamar ini, dan kau malah mencuri pisau buah untuk menyerangku.” Disentuhnya brankas itu sambil memasukkan beberapa kode. Brankas itu langsung bersuara, mengeluarkan instruksi-instruksi dengan suara yang sistematis, “Tapi tentu saja kau sulit mengakses brankas ini, karena untuk membukanya saja dibutuhkan sidik jari, pemindai retina, darahku, dan juga pemindaian seluruh tubuhku.” Jenderal Akira menjalankan beberapa instruksi dan kemudian pintu brankas itu terbuka,

Asia melirik dan menelan ludahnya, ada berbagai jenis senjata di situ, pistol berukuran kecil sampai senapan berukuran besar, pun dengan belati dan pisau berbagai ukuran. Dilihatnya Jenderal Akira memilih salah satu senjata, pistol ukuran sedang berwarna hitam legam.

Lelaki itu lalu menutup kembali pintu brankas dan lemari, kemudian berbalik dan berjalan kembali ke tepi ranjang.

Tanpa di duga-duga, Jenderal Akira membungkuk, meraih tangan Asia dengan cepat dan menggenggamkan pistol itu di tangannya, lalu dengan masih mencengkeram jemari Asia yang menggenggam pistol, Jenderal Akira mengarahkan tangan Asia ke kepalanya sendiri, membuat Asia terkesiap.

Saat ini Asia duduk di atas ranjang, jemarinya ditarik paksa, digenggamkan kuat-kuat untuk menodongkan pistol ke kepala Jenderal Akira yang membungkuk di atasnya.

“Pistol ini kecil, tetapi memiliki daya merusak yang kuat. Salah satu produk terbaik dari lab senjata milikku. Kalau ditembakkan dari jarak setengah meter, dia bisa melubangi tubuhmu dengan lubang berdiameter sepuluh senti sampai tembus. Kalau dari jarak sedekat ini…” Jenderal Akira menggenggam jemari Asia, dengan tenang mengarahkan jari telunjuk Asia ke arah pelatuk, “Kau bisa meledakkan kepalaku menjadi hancur berkeping-keping.”

Asia gemetaran, tahu bahwa Jenderal Akira sedang mengintimidasinya, mengorek kelemahannya … kelemahan yang paling dibencinya,

“Ayo.” mata Jenderal Akira menajam, kepala mereka saling berdekatan, “Aku memberimu kesempatan terbaik, Tarik pelatukmu, tembak kepalaku, bunuh aku.”

Jemari Asia gemetar, dia berusaha menguatkan diri sementara mata cokelat nan tajam itu mengintimidasinya begitu dekat. Dia harus bisa… Dia harus bisa…

“Ayo Asia, apa aku perlu menghitung mundur?” tantang Jenderal Akira mencemooh, ” Baiklah. Sepuluh. Sembilan. Delapan. Tujuh. Enam …..”

Asia menahan napas, menggertakkan gigi, meneriaki dirinya sendiri…

Tarik pelatuknya! Tarik pelatuknya!

“Lima. Empat. Tiga. Dua …..

Keringat dingin mulai mengalir di pelipis Asia, napasnya tercekat dan jantungnya berdebar kencang,

” Satu.” Jenderal Akira mengakhiri hitungan mundurnya dengan nada suara penuh kemenangan, cengkeraman tangannya di jari Asia mengendor. Ada senyum kejam di sana ketika matanya menatap ke arah Asia yang meringis kalah, perempuan itu tampak lunglai dan luluh lantak.

“Tidak bisa membunuhku bukan, Asia? Genetik kita melarangnya bahkan tubuhmupun tahu bahwa aku adalah pasanganmu. Kau tahu? Dorongan utama kehidupan manusia adalah untuk melangsungkan keturunan. Kau hanya punya aku begitupun sebaliknya untuk meneruskan garis keturunan kita. Sampai kapan kau akan menyangkalnya?”

Asia menatap Jenderal Akira dengan marah, “Sampai aku mati.” desisnya geram, lalu dengan gerakan tak terduga dia menarik tangannya yang masih memegang pistol, dan mengarahkannya ke kepalanya sendiri. Asia sempat melemparkan senyum penuh kemenangan ke arah Jenderal Akira yang tampak terkejut, tidak menyangka Asia akan melakukan hal senekat ini.

Selamat tinggal Cesar…

Asia memejamkan matanya, berpamitan, lalu dalam hitungan detik menarik pelatuk pistol itu…

Di saat yang sama, Jenderal Akira, dengan gerakan secepat kilat, meraih pergelangan tangan Asia, memuntirnya kasar ke arah lain.

Suara letusan pistol terdengar memekakkan telinga di dekat kepala Asia, membuat telinganya langsung berdenging. Pistol itu menembak ke arah langit-langit, menanamkan pelurunya di sana.

Jenderal Akira menarik pistol itu, membuangnya jauh-jauh ke lantai, kemudian dicengkeramnya kedua pergelangan tangan Asia, di kiri dan kanan, ditindihnya tubuh mungil di bawahnya dengan bobot tubuhnya,

“Kau mau diikat lagi hah?” teriaknya marah, “Kalau kau berbuat seperti itu lagi, aku bersumpah akan mengikat kedua tangan dan kakimu, lalu menguncimu di kamar putih seperti dulu!”

Asia meringis, memiringkan kepala karena wajah Jenderal Akira yang begitu dekat dengannya, dia merasa lelah, luluh lantak dan kesakitan, tubuh dan jiwanya.

Jenderal Akira menyatukan kedua pergelangan tangan Asia di atas kepalanya, menahannya dengan sebelah tangan. Sementara tangannya yang lain mencengkeram dagu Asia supaya mendongak ke arahnya, meski Asia masih mengalihkan mata, tidak sudi menatap mata sang Jenderal.

“Katamu kau mencintaiku…”

Suara Jenderal Akira entah kenapa terdengar begitu getir hingga Asia refleks mengangkat mata hendak menatap sang Jenderal. Tetapi dia tidak bisa melihat apa-apa karena tiba-tiba bibirnya dicium.

Jenderal Akira menciumnya dengan kasar, lelaki itu menarik rahang Asia supaya membuka, lalu membenamkan bibirnya dalam-dalam di sana. Tidak ada kecupan kembut, lumatan menggoda, ataupun permintaan izin untuk memasukkan lidahnya ke mulut Asia. Lidahnya, mulutnya, semuanya merangsek masuk tanpa izin, menikmati Asia dengan kasar dan tak terkendali.

Lama kemudian, ketika ciuman itu berakhir dan Jenderal Akira melepaskan pertautan bibir mereka, napas keduanya sama-sama tersengal.

Jenderal Akira mengangkat kepala ke sisi leher Asia, menggigit kecil telinganya, napasnya terasa panas di sana, membuat Asia mengernyit,

“Kau diciptakan untuk mencintaiku, Asia. Berhentilah melawannya.”

Lelaki itu bangkit, turun dari ranjang dan membalikkan badan, lalu berjalan ke arah pintu, menyempatkan diri untuk membungkukkan badan dan mengambil pistol yang tergeletak di lantai dan kemudian melangkah keluar dari kamar.

Asia yang masih terengah, memejamkan mata perih ketika mendengar pintu itu ditutup, disusul oleh suara klik pelan pintu yang dikunci.

***

Ketika keluar dari kamar,  Akira langsung bertatapan dengan Paris yang menunggu di luar pintu.

“Saya mendengar ada tembakan.” Paris tampak waspada, beberapa penjaga tampak bersiaga di belakangnya sambil tetap menjaga jarak.

“Asia mencoba menembak kepalanya sendiri.” Akira menunjukkan pistol di tangannya, lalu menyerahkannya ke tangan Paris, “Simpan ini, aku akan ke ruang kerjaku.”

Paris menerima pistol itu di tangannya, matanya mengikuti arah kepergian sang Jenderal, sampai atasannya itu menghilang di turunan tangga.

Apakah hanya perasaannya saja? Ataukah memang jemari Jenderal Akira tadi gemetaran?

***

Akira menenggak anggur keras itu dan membiarkan cairan manis getir yang panas mengaliri tenggorokannya. Dibantingnya gelas kosong di tangannya ke meja hingga terdengar suara benturan kasar.

Entah sudah berapa gelas yang ditenggaknya, dan dia tetap tidak bisa menyingkirkan perasaan yang mengganggu di dada.

Detik itu ketika dirinya lengah dan memberikan kesempatan bagi Asia untuk menodongkan pistol itu ke kepalanya sendiri…. Dirinya bagaikan disambar oleh kilatan menyakitkan yang sama dengan masa itu, masa ketika Asia mencoba membunuh dirinya sendiri dengan menerjunkan diri dari jendela kamar putih di lantai dua yang lupa dikunci.

Rasanya menyesakkan dada, begitu nyeri sampai napasnya tercekat di paru-paru, membuatnya ngilu.

Dia tidak mau mengalami hal itu lagi. Menunggu dan menunggu di waktu yang seolah tak berujung sementara dokter Frederick tidak bisa memastikan kapan Asia terlepas dari kondisi kritisnya.

Asia harus berhenti mencoba melukai dirinya sendiri.

***

“Bangun.”

Suara itu terdengar dekat di telinganya, membuat Asia menggeliat dan membuka matanya sedikit. Kepalanya terasa pening, hasil dari menangis semalaman.

Semalam ketika ditinggalkan dan dikunci di dalam kamar, Asia yang dipenuhi oleh perasaan campur aduk, menangis karena frustrasi. Dia terus menangis dan menangis sampai sulur matahari yang redup mencoba menembus kaca jendela kamarnya. Pada akhirnya Asia tertidur karena kelelahan.

Posisi tubuhnya tengkurap dengan kepala dimiringkan. Rambutnya terburai berantakan menaungi kepalanya, Asia menggeliat,mencoba bangkit ketika punggungnya membentur sesuatu yang keras.

Asia terkesiap.

Jenderal Akira sedang berada di atasnya, menindihnya, dadanya menekan punggung Asia, sementara kedua tangannya yang kokoh ada di kiri dan kanan kepala Asia, memerangkapnya kuat.

Jantung Asia berdebar, dia tidak berani berbalik karena dengan begitu dia akan berhadap-hadapan dengan sang Jenderal dalam kondisi rentan.

“Posisimu sangat menggoda.” Jenderal Akira menelusurkan bibirnya di sisi telinga Asia,meniupkan aroma napas berbau anggur yang manis. “Aku jadi tidak tahan.”

Asia menggertakkan gigi, menekan kepalanya semakin dalam ke bantal, mencoba mengusir rasa bergelenyar yang berjingkat di seluruh garis tulang punggungnya,

“Lepaskan aku, Jenderal.” desis Asia, menggigit bibirnya ketika dirasakannya Jenderal Akira menyingkirkan rambut yang menutupi tengkuknya, menampakkan bagian leher belakang yang pucat dan menggoda.

Jenderal Akira yang mabuk rupanya tidak bisa menahan diri dari godaan itu, lelaki itu menundukkan kepalanya, mengecup dan menjilat tengkuk Asia, lalu menggigitnya lembut seperti pernyataan kepemilikan singa jantan kepada betinanya.

“Kenapa aku harus melepaskanmu? Kau istriku bukan?”

Kali ini Asia meronta mendengar kata-kata sang Jenderal, “Lepaskan!” dia mulai berteriak, panik dan putus asa.

Akira membalikkan tubuh Asia dengan kasar, mereka berdua berhadap-hadapan. Asia yang telentang, dengan Akira yang membungkuk di atasnya,

“Kau tidak boleh mencoba melukai dirimu lagi!” desis Akira penuh nada mengancam.

Asia menatap menilai, semula bingung akan perintah Akira yang diucapkan tiba-tiba. Lalu dia teringat akan insiden tadi, menyadari bahwa ancamannya untuk bunuh diri membuat Akira ketakutan. Ya, lelaki itu pasti takut tidak bisa memperoleh keturunan kalau sampai Asia mati.

Seketika Asia mendongakkan kepalanya dengan angkuh, ” Kau boleh membelenggu tubuhku, tetapi nyawaku adalah milikku sendiri.”

Mata Akira menajam, terpercik oleh kemarahan, meskipun begitu bibir Akira malahan bergerak turun,mengecup sudut bibir Asia yang gemetar,

“Kalau kau berani-beraninya menggores tubuhmu sedikit saja, aku akan membunuh kakak kembarmu.”

Asia terkesiap, berusaha mendorong dada Jenderal Akira yang kokoh, perbuatan yang sia-sia karena bagaikan mendorong batu.

“Kau tidak akan bisa!” serunya panik.

Jenderal Akira terkekeh, melumat bibir Asia dengan gemas,

“Dia ada dalam tawananku, Cesarmu itu.” desisnya di sela ciuman.

Asia memalingkan wajahnya, berusaha menghindari bibir Akira yang terus berusaha mencumbunya,

“Kau bohong!” erangnya putus asa, napasnya tersengal karena Jenderal Akira sekarang memusatkan cumbuannya di sisi leher Asia.

“Tidakkah kau rasakan Asia? Betapa cocoknya tubuh kita? Aku bisa mencumbumu berhari-hari tanpa henti dan tidak merasa bosan.”

Asia mengernyitkan kening, lelaki ini sepertinya setengah mabuk dan melantur, dari aroma napasnya yang berbau alkohol pekat seperti malam itu, dan dari buku-buku yang pernah dibacanya, Asia tahu bahwa minuman anggur beralkohol bisa memengaruhi pikiran manusia dan membuatnya kehilangan kewarasan.

Kata buku itu, perkataan orang mabuk tidak bisa dipercaya, tetapi bagaimanapun juga, perkataan Jenderal Akira tentang Cesar tadi mengusik rasa cemas di hatinya

“Kau bohong! Semua yang kau katakan adalah kebohongan!” jemarinya yang mungil mengepal, memukul punggung Jenderal Akira yang kuat. Tidak akan berimbas apa-apa pada lelaki itu tentu saja, tetapi setidaknya Asia bisa melampiaskan rasa frustrasinya.

Jenderal Akira mengangkat kepalanya, ada tatapan kejam di sana, tatapan yang biasanya membuat gentar musuh-musuhnya,

“Mungkin kau harus melihat dengan mata kepalamu sendiri.”

Lelaki itu menarik tubuh Asia supaya duduk, jemarinya membuka laci, ada semacam kain panjang seukuran dasi berwarna hitam yang dikeluarkannya dari lemari, membuat Asia gemetar dan memandang gugup.

“Apa yang akan kau lakukan?” Tiba-tiba pikiran buruk memenuhi benaknya, lelaki ini ingin mengikatnya?

Akira tersenyum kejam, “Aku akan menutup matamu.”

Tubuh Asia langsung gemetar gugup, bayangan matanya ditutup membuatnya lebih ngeri dari pada diikat tangannya.

Apa rencana sang Jenderal? apakah lelaki ini berencana bertindak mesum kepadanya?

Jenderal Akira terkekeh, biasanya dia tidak pernah tertawa seperti ini, tetapi mabuk membuat pertahanan dirinya sedikit mengendur,

“Kau pikir aku sedang berencana mewujudkan fantasi seksualku kepadamu? Tidak Asia, meskipun itu kedengaran cukup menggoda, tetapi bukan itu yang sedang kurencanakan.” Senyumnya menghilang, berganti dengan tatapan dingin menakutkan, “Aku akan membawamu ke tempat Cesar berada.”

Tubuh Asia membeku, antara takut dan cemas. Kalau Jenderal Akira seyakin ini bisa membawanya ke tempat Cesar berada, berarti apa yang ditakutkannya benar-benar terjadi, Cesar sudah jatuh ke dalam perangkap Jenderal Akira.

Ya Ampun…. Asia meringis dalam hati, merasa cemas sekaligus takut.

Jenderal Akira selalu kejam terhadap musuh-musuhnya…. bagaimana nasib Cesar sekarang?

Asia masih tetap terdiam, sedikit berdebar karena memikirkan nasib Cesar. Pada akhirnya dia membiarkan saja ketika Jenderal Akira yang ada di belakangnya, mengikat kain hitam itu kencang di kepalanya.

Lelaki itu sepertinya sedang puas, karena dia meletakkan kedua jemari kokohnya di pundak Asia, meremasnya pelan, lalu mengecup sisi pipi Asia dari belakang,

“Kita siap untuk berangkat menemui saudaramu tercinta.” Bisiknya mengerikan di telinga Asia.

***

Bau ini sangat dikenalnya, bau obat-obatan dan aroma khas desinfektan yang menyengat. Asia, yang telah menghabiskan hari-harinya kemarin di rumah sakit menyadari bahwa mereka telah memasuki sebuah fasilitas kesehatan atau rumah sakit. Benaknya meraba-raba karena matanya masih diikat rapat.

Benarkah ini rumah sakit? Kenapa di rumah sakit?

Asia tadinya berpikir mereka akan di bawa ke penjara atau benteng tempat Jenderal Akira selalu menahan musuh-musuhnya.

Kalau memang benar dirinya ada di rumah sakit… mungkinkah Cesar sedang terluka? Atau Cesar sakit karena disiksa oleh Jenderal Akira?

Dirinya tadi dibawa menaiki mobil, melalui perjalanan yang berkelok-kelok begitu lama, Asia tadi menghitung dalam hati, perjalanan ini lebih dari satu jam lamanya. Selama di perjalanan tadi dia berusaha memaksimalkan inderanya yang lain, indera selain pengelihatannya.

Di endusnya aroma basah daun cemara, mungkin terbilas oleh salju yang mencair di tengah hari. Selain aroma dedaunan itu, aroma yang ditemukannya bercampur aduk hingga dia tidak bisa didefinisikan.

Telinganya sendiri berusaha memindai berbagai suara, ada suara ramai seolah mereka melalui sekumpulan pasukan, suara langkah-langkah kaki yang teratur, dan juga suara beberapa pintu gerbang yang dibuka.

Sayangnya itu semua masih belum cukup untuk memberinya petunjuk dimana dirinya dan kemana dirinya akan di bawa. Dia bahkan merasa curiga bahwa Jenderal Akira sengaja membawanya berputar-putar sebelum mencapai lokasi yang dimaksud dengan tujuan untuk mengacaukan orientasinya.

Lalu mobil itupun berhenti. Jenderal Akira, yang sejak tadi duduk dalam keheningan misterius di sebelahnya tiba-tiba menarik lengannya untuk turun dari mobil tentara yang membawa mereka. Mobil itu rupanya cukup tinggi, karena ketika Asia mencoba menjejakkan kakinya mencari tanah untuk turun, dia tidak menemukannya.

Lalu sebuah lengan menarik pinggangnya tiba-tiba membuat Asia memekik kaget, lengan itu mengangkatnya dan membuatnya melayang di udara sejenak, lalu mendaratkan dirinya di tanah dengan perlahan.

Itu lengan Jenderal Akira, dan lelaki itu sedang membantunya turun.

Asia mendengar suara langkah-langkah dan pintu yang sepertinya berat dibuka. Jenderal Akira mencekal sebelah lengannya kembali dan membawanya melewati pintu itu.

Asia tahu dirinya memasuki ruangan sebuah bangunan, karena suhunya lebih hangat. Ketika berada di luar tadi, hawa dingin musim salju terasa menusuk kulit, sekarang kehangatan langsung menyembur dari segala sisi, menetralkan kulitnya yang kedinginan.

Mereka dibawa melewati lorong demi lorong, menaiki Lift yang membuat Asia bertanya-tanya apakah mereka naik atau turun, dan ketika pintu lift itu terbuka, aroma yang dikenalnya langsung menyeruak. Aroma obat-obatan dan desinfektan yang menyengat.

Jenderal Akira melangkah ke belakang dan membuka ikatan penutup matanya. Ketika penutup itu dilepas, Asia mengerjapkan matanya sejenak, menyesuaikan pengelihatannya dengan cahaya terang yang menyinari ruangan ini.

Ruangan ini benar-benar rumah sakit, Asia menyimpulkan dalam hati. Mungkin ini rumah sakit militer tempatnya di rawat, atau mungkin juga ini salah satu lab atau fasilitas kesehatan rahasia lain milik Jenderal Akira.

Matanya memandang lurus ke depan, dan kemudian terkesiap melihat apa yang terpampang di depannya. Tubuhnya gemetar dan dia melangkah maju karena terkejut, sebelah jarinya menutup mulut yang bergetar karena shock yang melanda.

Di depan matanya…. dibatasi oleh jendela kaca lebar berukuran dua kali satu meter yang sangat tebal dan bening, berbaring Cesar, kakak kembarnya di atas ranjang rumah sakit.

Mata Asia berkaca-kaca dan dadanya bergemuruh oleh rasa sakit melihat pemandangan itu. Cesar tampak pucat, matanya terpejam rapat hingga bulu mata kecokelatannya yang tebal menyentuh pipi. Wajahnya tertutup oleh masker oksigen yang berembun. Lelaki itu sama sekali tak bergerak seperti patung, sementara alat-alat penunjang kesehatan beserta kabel-kabel yang mengerikan tertancap di tubuhnya. Monitor kesehatan berbunyi pelan di sebelah ranjang, menciptakan grafik lemah tanda-tanda kehidupan Cesar.

Yang paling mengerikan, Asia melihat kantong-kantong darah yang tergantung rendah di sisi ranjang Cesar. Matanya memindai dan kemudian terkejut karena menyadari bahwa Cesar bukannya sedang menerima transfusi darah, darah Cesar sedang disedot dari tubuhnya!

Asia menoleh pelan ke arah Jenderal Akira, bibirnya gemetar dan pipinya masih basah oleh air mata, menahankan sesak di dada karena kondisi Cesar yang mengenaskan.

“Apa maksud semua ini?” dia bertanya lemah kepada Jenderal Akira yang menatapnya tanpa ekspresi.

Jenderal Akira melirik ke arah Cesar sekilas, lalu menajamkan tatapannya kembali ke arah Asia.

“Seharusnya kau bersyukur karena satu-satunya alasan aku membiarkan Cesar hidup adalah karena aku memerlukan darahnya.” desis Jenderal Akira sinis, “Kalau tidak dia sudah lama mati di ujung koleksi pisauku.”

Asia bergidik, meskipun begitu rasa marah yang mulai merayapi benaknya berhasil menyerap kengeriannya.

“Kenapa kau mengambil darah Cesar seperti itu?”

Akira tersenyum kejam, “Karena aku membutuhkannya untukmu. Kau,Asia. Jika kau hamil kau akan mengalami pendarahan hebat dan bisa mati, sayangnya darahmu termasuk langka. Satu-satunya cara kau bertahan adalah mendapatkan transfusi darah dari saudara kembarmu yang sama-sama berdarah langka. Kau seharusnya berterimakasih kepadaku….”

Jenderal Akira tidak berhasil menyelesaikan kalimatnya karena Asia sudah melayangkan tangannya sekuat tenaga, menampar sisi pipi sang Jenderal keras-keras hingga kepalanya sedikit terlempar ke belakang, menimbulkan suara tamparan yang begitu keras bergaung di ruangan.

Sejenak suasana hening. Jenderal Akira hanya terdiam, menatap mengejek dengan sebelah jarinya mengusap pipinya di bekas tamparan Asia.

“Kau benar-benar manusia rendah, lebih rendah dari binatang!” Asia terengah, dipenuhi kemarahan yang amat sangat, “Aku sangat membencimu! Kau adalah manusia paling tidak punya hati!” dengan histeris Asia mendekat, berusaha memukul, mencakar dan menendang sang Jenderal.

Tentu saja apa yang dilakukannya sia-sia, tubuh mungilnya tidak sepadan dengan tubuh sang Jenderal yang tinggi dan kuat. Jenderal Akira hanya menangkis serangannya dengan setengah hati, bahkan ada sinar geli yang muncul sedikit di matanya.

Asia terus melampiaskan kemarahannya, berusaha melukai Jenderal Akira dengan sekuat tenaga, membuat napasnya terengah-engah sementara matanya kabur oleh air mata.

Tiba-tiba Jenderal Akira mencengkeram kedua tangan Asia, menghentikannya dengan gerakan efisien dan cepat, lalu sedikit mengangkat tubuh Asia supaya sejajar dengan kepalanya, membuat Asia terpaksa menjinjitkan kaki.

“Sudah? Kau sudah puas? Tenangkan dirimu!” bentaknya kejam, menanamkan tatapan tajam ke dalam mata Asia yang berurai air mata.

Asia terengah, melemparkan tatapan penuh kebencian kepada Akira.

“Aku membencimu.” Desisnya penuh emosi.

Sayangnya pernyataan kebenciannya hanya ditanggapi oleh senyum sinis sang Jenderal.

“Bencilah aku sesukamu, Asia. Aku tidak peduli dengan perasaanmu. Kau tidak perlu mencintaiku untuk memberiku anak.” Balasnya kejam, “Tapi karena aku sudah muak dengan sifat menentangmu yang keras kepala, aku akan menawarkan kompromi untukmu. Dan sebaiknya kau menerimanya demi menyelamatkan nyawa saudaramu.”

***

“Kompromi apa?” Asia menatap waspada ketika ikatan penutup matanya dibuka dan dirinya didudukkan di kursi sofa besar berwarna kecokelatan di ruangan yang sepertinya ruangan kerja Jenderal Akira.

Mereka sudah kembali ke pondok yang sama, pondok misterius yang entah berada di mana dengan pemandangan hutan pinus berselimut salju sejauh mata memandang.

Hati Asia terasa berlubang, lubang menyedihkan yang menganga dalam, menyisakan rasa perih yang menyesakkan dada ketika pikirannya tertuju pada Cesar, dia merasakan sakit yang sama, sesak yang sama dan rindu yang sama. Hatinya dipenuhi oleh rasa nyeri yang berdenyut dan sesak, membuat napasnya terasa berat.

Sementara itu Jenderal Akira seolah tak peduli, lelaki itu mengambil botol minuman di salah satu rak kayu besar berwarna hitam yang ada di belakang kursi kerjanya, kemudian mengambil gelas kristal dan menuang minuman berwarna emas itu ke dalam gelas.

Lelaki itu lalu melangkah duduk dengan gelas di tangannya, di kursi lain yang berada tepat di depan Asia. Matanya mengamati tajam ke arah Asia yang bernapas berat dan berusaha meredam emosi. Kemudian Jenderal Akira mengulurkan gelas itu ke arah Asia.

“Minum.” Gumamnya tegas, seolah tak terbantahkan.

Asia langsung melemparkan tatapan memberontak penuh kebencian.

“Tidak sudi.” Desisnya galak.

Ekspresi Jenderal Akira tidak berubah mendengarkan jawaban kasar itu, hanya gerahamnya yang sedikit mengeras.

“Minum, Asia. Tentu saja ini bukan racun, ini brandy. Minum atau aku akan ke sana, dan memaksamu minum langsung dari mulutku.”

Asia mengerutkan keningnya, menatap Akira sambil sedikit menyipitkan mata, berusaha menilai apakah ancaman sang Jenderal tadi benar-benar akan dilakukan atau hanya gertakan saja.

Jenderal Akira membalas tatapan Asia dengan tak kalah tajamnya. Lelaki itu lalu bergerak, hendak berdiri, seolah benar-benar akan melaksanakan ancamannya.

Seketika itu juga, Asia meraih gelas minuman dari tangan Jenderal Akira, dan menenggak apapun minuman yang ada di dalam gelas itu.

Cairan pekat bercampur getir dan terasa panas langsung membakar tenggorokannya, membuatnya matanya panas mengeluarkan air mata dan terbatuk-batuk keras.

Sementara Jenderal Akira hanya menatapnya mencemooh seolah Asia adalah orang terbodoh yang pernah dia lihat,

“Aku menyuruhmu minum sedikit saja, bukan menandaskan isinya.” Gumamnya mengejek. Lelaki itu menatap kulit Asia yang memerah karena pengaruh brandy, lalu memajukan tubuhnya, menyangga dagu dengan pertautan kedua jemarinya yang bertumpu di lututnya,

“Sudah lebih tenang?” tanyanya dingin, tidak meminta jawaban, karena bahkan sebelum Asia menjawab dia sudah melanjutkan, “Kalau begitu mari kita membicarakan kompromi yang menguntungkan untuk kita berdua.”

Asia sebenarnya merasa dirinya melayang-layang, minuman itu ternyata memberi efek mengerikan ke dalam otaknya. Apakah Jenderal Akira sengaja? Memberinya minuman ini untuk membuatnya lemah dan mudah diatur?

Asia mencubit dirinya sendiri diam-diam, berusaha untuk memfokuskan pandangan matanya dan pikirannya sehingga tidak mudah diperdaya.

“Kompromi apa?” Kilasan keadaan Cesar yang terbaring lemah di kamar rumah sakit membuat jantungnya berdenyut sakit lagi, Asia mengusap pipinya yang mulai terasa panas akibat efek minuman, lalu menguatkan hati.

Kompromi apapun akan dilakukannya supaya bisa melepaskan Cesar dari kabel-kabel sialan yang menyedot darahnya itu.

“Kau memberiku anak, dengan sukarela tentu saja. Aku sudah muak harus mengikat dan memerkosamu. Kalau kau setuju untuk melakukannya, aku tidak akan membunuh Cesar.”

Asia mendongakkan dagunya sinis, “Dan kenapa aku harus percaya akan kata-katamu? Sedangkan kau adalah manusia paling rendah dan tidak berintegritas yang pernah aku kenal.”

“Hati-hati dengan kata-katamu Asia. Atau aku akan mengurungkan niatku untuk berkompromi denganmu. Dengan atau tanpa persetujuanmu, aku tetap bisa mendapatkan apa yang aku mau.” Akira memperingatkan sambil menyipitkan matanya, “Aku akan selalu memegang janjiku. Kau bisa pegang kata-kataku.”

Asia termangu, ragu. Kalau dia tidak menerima kompromi dari Jenderal Akira, dia tetap akan dipaksa memberikan apa yang lelaki itu minta bukan? Ingatan mengerikan tentang pemenjaraannya di kamar putih itu membuatnya begidik dan trauma. Dia tidak mau mengalaminya lagi, diperlakukan kasar dan dipaksa seperti itu lagi.

“Kenapa kita tidak melakukan cara bayi tabung atau semacam itu?” Akhirnya pertanyaan yang selama ini terpendam di benak Asia berhasil di tanyakan.

Ya, dia bingung, kenapa Jenderal Akira repot-repot melakukan ini semua? Menculiknya, menahannya, memerkosanya, menghancurkan kehidupannya?

Tidak bisakah lelaki itu mengambil sel telurnya saja dan kemudian melenggang sesuka hati setelah mendapatkan anak yang diinginkannya?

Jenderal Akira membeku di kursinya, dia lalu menatap Asia dengan pandangan menilai, pandangan yang memindai Asia lambat-lambat dari ujung kepala sampai ujung kaki yang membuat bulu kuduk Asia meremang. Ini adalah kali pertama – kecuali ketika Asia hilang ingatan – mereka berdua bisa duduk bersama, dan bercakap-cakap dengan tenang. Biasanya pertemuan mereka berdua selalu dihabiskan dengan cakaran, pemaksaan dan saling melemparkan makian satu sama lain.

Asia memang lebih memilih bersikap hati-hati dan menahan emosinya karena ada Cesar yang harus diselamatkannya. Sementara Jenderal Akira, entah motivasi apa yang ada di benaknya sekarang. Mungkin lelaki itu sudah putus asa untuk memiliki anak dan memilih memperlunak sikapnya kepada Asia.

“Calon pemimpin After Earth tidak boleh dilahirkan dengan cara klinis seperti bayi tabung.” Jenderal Akira akhirnya menjelaskan dengan tenang, “Dia harus tangguh, bahkan ketika dia diciptakan.”

Asia ternganga mendengar jawaban egois dan tak masuk akal itu,

“Jadi maksudmu kompromi yang kau minta itu, bahwa kau akan…. akan melakukan itu….” suara Asia tertelan di tenggorokan, hilang entah kemana. Jika lelaki di depannya ini bersikeras menggunakan cara alami, itu berarti mereka akan tidur bersama, sebuah kegiatan yang dulu ditolak Asia sekuat tenaga.

Akira menganggukkan kepalanya dingin,

“Ya. Aku akan meniduri dan membuahimu, dengan cara alami.” Tiba-tiba ekspresi mengejek muncul di bibirnya, “Tidak usah memasang wajah jijik seperti itu Asia, kau pasti merasakan ketertarikan fisik yang sama karena genetik kita yang saling tarik menarik. Atau mungkin aku harus mengingatkanmu akan percintaan kita ketika kau hilang ingatan? Kau menikmatinya, Asia. Amat sangat malahan. Aku bahkan masih mengingat suara erangan yang kau lepaskan ketika kau mencapai…”

“Hentikan!” Asia berteriak, wajahnya merah padam, pipinya panas entah karena efek brandy yang semakin menjadi, ataukah efek kata-kata kasar Jenderal Akira barusan, “Aku setuju melakukannya.”

Napas Asia terengah, menyadari bahwa dirinya telah merendahkan diri di depan Jenderal sialan ini, lalu dia melanjutkan dengan penuh tekad, “Tetapi hanya ketika aku subur, dokter Frederick akan memeriksaku dan ketika dia memastikan aku subur, maka aku akan mengizinkanmu membuahiku. Selain itu, aku tidak ingin disentuh olehmu seujung jaripun.”

Jenderal Akira menatap Asia merendahkan, “Tidak. Aku akan menyentuhmu semauku.” Jawabnya tanpa kompromi.

Asia menggertakkan giginya, “Kalau kau menyentuhku, aku akan bunuh diri. Aku tidak main-main Jenderal, sedikit saja kau menyentuhku, aku akan mencari cara untuk mati.”

Mata Akira menyipit, “Kalau begitu aku akan membunuh Cesar seketika itu juga.” Desisnya.

Ancaman itu bukannya membuat Asia takut, malah membuatnya tertawa,

“Silahkan Jenderal. Habisilah nyawa kami berdua. Dan kau tidak akan bisa mendapatkan apa-apa.” Ditatapnya Jenderal Akira penuh kemenangan, “Kau membutuhkan kami berdua, aku dan Cesar. Mungkin akan lebih memuaskan bagi kami kalau kami mati, dan melihatmu dari alam baka, melihatmu tidak punya keturunan untuk selamanya.”

Kata-katanya rupanya sedikit memancing emosi Jenderal Akira yang kejam, rahang lelaki itu berkedut geram, lalu mata cokelatnya yang tajam terangkat dan memandang Asia dengan sinis,

“Jangan menilaimu terlalu tinggi, Asia.” Desisnya sinis, “Kalau kau memutuskan untuk mati, aku ingin kau mengingat kata-kataku ini.”

Jenderal Akira tiba-tiba bergerak secepat kilat, menyeberangi meja dan kemudian mendesak Asia di kursi sofa besarnya. Tubuhnya melingkupi tubuh Asia, memenjarakannya, membuatnya tidak bisa bergerak,

“Kalau kau memutuskan mati… aku tidak akan membiarkan Cesar mati dengan mudah.” Jenderal Akira menempelkan bibirnya di bibir Asia, dahinya di dahi Asia, dan hidungnya di hidung Asia.

Napas mereka berdua menyatu, menciptakan uap panas yang menggoda, “Akan kusiksa dia pelan-pelan dengan pisauku. Akan kukuliti dia hidup-hidup, akan kupotong tubuhnya sedikit demi sedikit, akan kusiksa dia hari demi hari, akan kubuat dia bertahan selama mungkin, dan akan kuberikan penyiksaan paling menyakitkan yang pernah dirasakan manusia.”

Mata cokelat itu begitu dekat, menatap mata Asia hampir tak berjarak, “Sementara kau mati karena keegoisanmu, saudara kembarmu akan hidup dalam siksaan, memohon padaku untuk diizinkan mati, dan aku tidak akan mengizinkannya. Jadi kalau nanti kau sudah di alam baka, silahkan melihat betapa menderitanya Cesar karena perbuatanmu.”

Ancaman mengerikan itu mengena, membuat Asia membelalakkan mata ngeri dan mulai gemetaran, apalagi Jenderal Akira begitu mendesaknya dengan wajah begitu dekat dengannya.

Jenderal Akira menatap mata Asia dalam, menyadari bahwa Asia sudah memikirkan baik-baik ancamannya. Lelaki itu mundur sedikit dan menarik jemari Asia ke bibirnya, mengecup jari manis tangannya yang dilingkari cincin emas pernikahan. Kecupannya bukan jenis kecupan lembut penuh kasih sayang, melainkan lebih kepada kecupan dingin penuh intimidasi. Matanya masih menatap tajam ke mata Asia,

“Kau adalah istriku, Asia. Dan aku akan menyentuh isteriku, kapanpun, dimanapun, sebanyak apapun, semauku.” Desisnya dengan suara tegas tak terbantahkan.

 

210 Komentar

  1. Kinky Rain menulis:

    :backstab

Tinggalkan Balasan