1.tgw revolution
Generals Wife

The General’s Wife Part 3 : Awal Mula

Bookmark

No account yet? Register

2.023 votes, average: 1,00 out of 1 (2.023 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Jenderal Akira rupanya tidak menyadari perubahan emosi Asia ketika mengetahui siapa lelaki yang menggendongnya ini. Asia pucat pasi dan gemetaran, menahankan rasa ketakutan di dadanya.

Siapa yang tidak takut dengan Jenderal Akira? Kekejamannya ketika menghabisi musuh-musuhnya masih terpatri jelas di benak seluruh penduduk After Earth. Lelaki ini…. mungkin sudah tak terhitung lagi nyawa yang tertebas oleh tangannya, baik secara langsung maupun tidak langsung.

Tidak ada yang lebih kejam dan menakutkan dibanding salah satu Jenderal pemimpin besar mereka, Jenderal Akira.

Begitulah dulu kalimat-kalimat yang didengung-dengungkan di kalangan masyarakat, bahkan nama Jenderal Akira menjadi dongeng menakutkan bagi anak-anak di After Earth.

Ketika terbangun di rumah sakit itu, Asia sudah cukup terkejut mengetahui bahwa dirinya memiliki seorang suami dan calon buah hati mereka di dalam kandungannya. Dan sekarang…. kenyataannya bahwa suaminya adalah Jenderal tertinggi yang paling ditakuti di negaranya, membuat Asia merasakan pening.

Semua ini terlalu tidak bisa dipikirkan dengan nalar. Asia seolah-olah dipaksa melakukan lompatan logika antara ingatan terakhirnya dengan kondisinya sekarang ini.

Apa yang terjadi selama dua tahun… dua tahun dimana dia kehilangan seluruh memorinya pada masa itu…. sehingga sekarang dia bisa berakhir menjadi isteri Jenderal Akira yang ditakuti?

Bagaimana mungkin dua dunia yang begitu berjauhan…. dunia atas sang Jenderal dengan dunia rakyat jelata sepertinya bisa bertemu?

***

Karena disibukkan dengan pikirannya. Asia tidak menyadari bahwa Jenderal Akira sudah menggendongnya melalui pasukannya yang memberi hormat dan memasuki rumah megah yang didominasi warma hitam dan cokelat itu.

Mereka sekarang berada di ruang utama, berupa ruangan luas tanpa perabot dengan lantai marmer hitam yang berkilauan, dipadu dengan lampu-lampu kristal gantung berukuran besar nan elegan yang menghiasi langit-langit tinggi ruangan itu, di ujung depan, tepat didepan pintu raksasa yang baru saja mereka masuki, terbentang tangga besar yang menjulang menuju ke ruangan lain di atas sana, tangga itu memiliki list pinggiran dari kayu gelap dengan hiasan uliran emas di sepanjang pegangannya, dan marmer hitam di tangga itu ditutup oleh karpet tebal berwarna cokelat gelap.

Ruangan ini indah, tentu saja. Tetapi entah kenapa terasa begitu kelam

Jenderal Akira kemudian menurunkan Asia hati-hati di sampingnya, sebelah lengannya masih memeluk pinggang Asia dengan posesif, seolah-olah menjaga Asia supaya tidak terlepas darinya.

“Selamat datang di rumah.” Suara lelaki itu entah kenapa terdengar datar, dingin dan penuh perhitungan.

Asia mendongakkan kepalanya untuk menatap Jenderal Akira, dan menemukan dirinya sedang ditatap tajam oleh mata gelap itu, tatapan Akira kepadanya begitu dalam, seolah berusaha menelisik jauh ke dalam hatinya.

“Kenapa menatapku seperti itu?” Asia sebenarnya masih merasakan perasaan takut yang menggelayut karena mengetahui siapa lelaki yang berdiri di depannya.

Tetapi lelaki ini suaminya bukan? Tidak seharusnya Asia merasa takut hingga gemetaran…

Dengan gugup, Asia menyembunyikan jemarinya yang gemetaran dibalik lipatan jaket kebesaran milik Akira yang dipakainya, menunggu ketika lelaki itu memilih memberikan jeda yang lama atas pertanyaannya dengan menatapnya masih dengan begitu tajam.

“Apakah kau sama sekali tidak mengingat sesuatu? Rumah ini mungkin?” Tatapan Akira tampak menyelidik dan mengancam, seolah-olah lelaki itu akan berbuat sesuatu yang jahat pada Asia kalau Asia berani-beraninya berbohong kepadanya.

Asia memandang sekeliling rumah itu, mengawasi setiap detailnya, mencari rasa familiar yang mungkin muncul di benaknya.

Tetapi tidak ditemukannya.

Dia sama sekali tidak ingat apa-apa. Seolah-olah ini baru pertama kalinya dia memasuki rumah megah ini. Tetapi tentu saja itu tidak mungkin, menilik kata-kata sang Jenderal, sepertinya dirinya tinggal di rumah ini sebelumnya.

“Tidak ada satupun yang kuingat.” Asia berkata jujur, dan sepertinya jenderal Akira sudah terlatih untuk mengetahui kejujuran seseorang, sudut bibir Akira sedikit naik entah kenapa ketika mendengar jawaban Asia, dan kemudian lelaki itu melambaikan tangannya kepada seseorang disudut ruangan.

Pada saat itulah Asia baru menyadari bahwa mereka tidak sendirian di lobby utama yang besar dan megah ini. Ada dua orang perempuan setengah baya berpakaian pelayan berwarna hitam yang melangkah mendekat. Dua orang perempuan itu hampir serupa, entah karena dandanan mereka yang persis sama, baik pakaian maupun rambut mereka yang disisir kelimis kebelakang dengan cepol kecil di sana, atau memang karena wajah keduanya yang begitu mirip.

“Ini Martha dan Maira. Mereka berdua bersaudara, dan merupakan pelayan pribadimu, mereka ditugaskan di sini untuk memenuhi seluruh keperluanmu.” Akira menjelaskan dengan tenang, lalu melanjutkan bertanya,

“Apakah kamar sudah disiapkan?”

Martha tampak menelan ludahnya dengan gugup, dan Asia entah kenapa memakluminya. Siapa yang tidak gugup ketika beercakap langsung dengan sang Jenderal yang melegenda kekejamannya?

“Kami sudah menyiapkan kamar putih untuk…..”

Kamarku, Martha. Kamarku.” Akira menyela dengan kasar, suaranya tajam dan menyiratkan ketidak senangan yang amat sangat, hingga Asia mengernyit ketika menatap ekspresi lelaki di sebelahnya ini.

Martha tampak sedikit terkejut mendengar selaan sang jenderal, mata lebarnya menatap ke arah Asia dan sang Jenderal berganti-ganti, tampak kebingungan.

“Tetapi bukankah…..” suaranya tertelan di tenggorokannya ketika menyadari bahwa sang Jenderal menatapnya dengan tatapan mata setajam pedang. Seandainya tatapan mata dapat membunuh, tentulah Martha sekarang sudah terkapar bersimbah darah terpotong oleh pedang yang tajam.

“Martha, Asia tidur di kamarku.” Ulang Akira, kali ini mendesis pelan, tak terbantahkan membuat Maira menyikut pelan saudaranya, mengingatkan Martha agar tidak membantah tuannya itu.

Martha melemparkan pandangan tak terbaca ke arah Asia, sementara itu Asia membalas tatapan mata perempuan setengah baya itu dengan bingung.

Ada sedikit senyum sinis di bibir Akira ketika bergumam kepada Martha,

“Asia mengalami amnesia, dia lupa semuanya.” Sang Jenderal entah kenapa tampak puas melihat wajah Martha yang langsung pucat pasi ketika mendengar kata-katanya, “Sudah tentu Isteriku akan tidur di kamarku.”

***

“Apa itu kamar putih?” Dengan suara pelan Asia mempertanyakan apa yang dari tadi mengganggu benaknya. Martha tadi bilang sudah menyiapkan kamar putih untuknya…..

Mereka sekarang berada di dalam peraduan sang Jenderal, ruangan itu lagi-lagi didominasi warna cokelat dengan panel-panel kayu yang indah di dinding dan lantainya.

Berbeda dengan ruangan lainnya dinding rumah megah itu yang penuh dengan kemewahan, tirai-tirai indah, lampu-lampu kristal  berkilauan dan berbagai macam mahakarya lukisan yang berhasil diselamatkan setelah periode perang selesai, kamar sang Jenderal sendiri nampak begitu kosong.

Ya… Benar-benar kosong…. seluruh dindingnya kosong tanpa hiasan, menampilkan kayu mahoni gelap yang berkilauan dan terawat, ada satu jendela besar di sudut ruangan dengan tirai putih tipis yang berlapis tirai cokelat tua yang lebih tebal, sebuah kursi kulit besar dengan busanya yang empuk diletakkan tepat di depan jendela dengan lampu baca berdiri di sampingnya. Untuk menyimpan pakaian, terdapat lemari besar yang menyatu di keseluruhan satu sisi dinding, lagi-lagi terbuat dari kayu yang sama, sehingga ketika pintu lemari itu ditutup, bentuknya hampir menyerupai dinding kamar.

Satu-satunya perabotan yang tampak besar dan mencolok adalah sebuah ranjang berukuran sangat besar, dengan kepala ranjangnya yang megah, dilapisi oleh sprei sutra lembut berwarna cokelat tua, dan selimut besar yang digulung di kaki ranjang berwarna senada, ada meja kecil di kiri dan kanan ranjang, tempat meletakkan lampu tidur berbentuk mangkuk terbalik yang dihiasi dengan ornamen-ornamen berbentuk bunga berwarna krem yang cantik.

Selebihnya tidak ada apa-apa lagi di ruangan itu.

Ketika pada akhirnya barang-barang Asia sudah selesai dirapikan di kamar sang Jenderal, Asia berdiri ragu-ragu di tengah ruangan, merasa begitu asing dengan semua yang ada di kamar ini, dengan hati-hati Asia menoleh ke arah sang Jenderal yang berdiri dengan santai sambil menyandarkan tubuhnya di dinding dekat pintu, melipat kedua tangannya dan sepertinya memilih untuk hanya menatap Asia dengan matanya yang tajam, bukannya menjawab pertanyaan yang diajukan oleh Asia.

“Apa itu kamar putih?” dengan sedikit kesal Asia mengulang kembali pertanyaannya.

Akira mengangkat alisnya. “Kenapa kau begitu ingin tahu, isteriku?”

Asia menelan ludah, menyadari ada yang berbeda dengan aura suaminya ini. Tadi di rumah sakit, lelaki ini tampak begitu lembut dan baik, seperti suami idaman. Tetapi sekarang, berada di dalam rumah sang Jenderal yang muram dan penuh misteri, lelaki ini memancarkan aura aneh penuh intimidasi yang mengerikan.

Apa mungkin aura mengintimidasi itu muncul dari pandangan Asia karena dia mengetahui bahwa suaminya adalah Jenderal Akira yang terkenal itu?

“Tidak… hanya saja tadi Martha bilang….” Asia menyahut pelan, tiba-tiba merasakan dorongan untuk bersembunyi di suatu tempat yang aman, jauh dari tatapan tajam Akira.

“Martha tidak tahu apa yang dia katakan.” Akira menegakkan tubuhnya, lalu dengan perlahan melangkah mendekati Asia, “Kamar putih sebelumnya disiapkan untukmu karena kondisi kehamilanmu yang masih muda, kau tahu….. janinmu masih lemah, jadi kau diharapkan beristirahat total di kamar putih…. tanpa gangguan dariku.”

Kata-kata terakhir Jenderal Akira diucapkan dengan nada lambat-lambat dan sensual, menyiratkan arti tersendiri, membuat Asia gemetar karena merasakan rasa panas yang menggelenyar di punggungnya, merayap pelan ke kuduknya dan membuatnya merasa tidak nyaman.

“Kalau begitu, kenapa kau menempatkanku di kamar ini?” Tanpa sadar Asia mundur selangkah, menyadari bahwa Akira melangkah makin mendekat kepadanya.

Sang Jenderal menghentikan langkahnya ketika melihat Asia mundur menjauhinya setiap dia melangkah maju mendekatinya. Ada sedikit sinar geli di sudut matanya yang menghilang dengan cepat.

“Karena aku ingin mengganggumu, mungkin?”

Kata-kata itu membuat Asia refleks memegang perutnya dengan gerakan melindungi. Mata Akira mengikuti gerakan tangan Asia, ke arah perutnya. Dan seketika itu juga, pandangan mata sang Jenderal yang panas dan sensual langsung membeku, berubah menjadi dingin dan keras. Bahkan bibirnya pun menipis seolah menahan amarah.

“Sudah, lupakan saja!”

Tiba-tiba saja sang jenderal membalikkan tubuhnya, melangkah dengan langkah panjang-panjang dan tegas ke arah pintu, ketika sampai di ambang pintu, lelaki itu menolehkan kepalanya dan menghantam Asia dengan tatapan kejam yang menakutkan.

“Beristirahatlah.”

Kalimat itu singkat, tetapi penuh dengan nada memerintah yang otoriter.

Dan sebelum Asia sempat memberikan reaksi, pintu kamar itu terbanting keras di depannya.

***

Akira berdiri di batas teratas benteng besar After Earth di pusat kota Marakesh City, matanya memandang ke arah daerah pemukiman penduduk yang terbentang di bagian utara benteng. Marakesh City adalah pusat pemerintahan yang berada di posisi paling strategis di After Earth.

Marakesh City tampak begitu damai dan tenang, masing-masing rumah terbangun seragam, sama persis, dibiayai oleh negara. Bangunannya terbuat dari pualam putih dengan atap berwarna hitam, dan diwajibkan mengibarkan bendera After Earth selama setahun penuh di pelataran depannya. Dan saat ini seluruh atap perumahan itu tampak putih karena musim salju yang berlangsung sepanjang tahun. Kibaran bendera After Earth yang didominasi warna hitam tampak mencolok ditengah gugusan salju yang menghampar. Semua penduduk menjalankan peraturan yang sama, tidak ada perbedaan apakah kaya atau miskin, apakah warna kulit mereka. Di After Earth, semua manusia berkedudukan setara.

Ayah Akira, adalah Jenderal besar yang termasuk dari salah satu pendiri utama After Earth, para Jenderal itulah yang dahulu mengumpulkan pasukan dan menyelamatkan penduduk sipil yang selamat lalu membangun After Earth dari nol. Sekarang hasil kerja keras mereka telah terwujud dalam satu tatanan kota yang indah dan sepurna.

Dan setelah ayahnya meninggal, tugas itu kemudian diletakkan ke pundak Akira, sebagai putera satu-satunya dan penerus utama jenderal besar Moroko. Dan kemudian takdir itu datang, Takdir yang  membawanya sampai dengan saat ini, menikahi seorang perempuan biasa bernama Asia.

Akira mengernyit ketika angin laut yang membawa buliran es nan dingin berhembus kencang di sisi wajahnya, aroma laut alami yang khas ini selalu menjadi aroma yang menaungi After Earth,  disebabkan negara After Earth dikelilingi oleh samudera luas tanpa batas.

Pemandangan samudera yang biru bersepuhkan serpihan es putih ini adalah pemandangan yang sangat berbeda ketika dia menerima kabar itu, saat itu musim kemarau, di matanya terbentang  hamparan samudera begitu biru dengan angin kering yang menghembusnya ketika Akira menerima kabar yang membawa takdirnya yang seharusnya tidak pernah bersua dengan takdir Asia, menjadi saling bertabrakan. Dan matanya menjadi semakin dingin ketika memorinya menyeruak menjelajah ke masa lalu.

***

Marakesh City 2 Tahun Lalu

“Anda tidak bisa menikah dengan sembarang perempuan,Yang Mulia.”

Akira menolehkan kepalanya dari lembaran  hasil tes di tangannya, ekspresinya keras, dingin dan tak terbaca, dan tatapan membunuh di matanya membuat Frederick, dokter keluarga mereka itu menelan ludahnya karena merasa ngeri.

Tidak ada yang berani menyampaikan kabar buruk ini kepada sang Jenderal. Pada akhirnya, Frederick sebagai kepala staff dokter keluargalah yang terpaksa melakukan itu. Kedudukannya sebagai orang kepercayaan ayah Jenderal Akira, sang Jenderal Besar Moroko membuat posisinya lebih baik dibanding dokter yang lainnya. Ya, di usianya yang ke enam puluh tahun ini, dokter Frederick telah mencapai kedudukan tertingginya sebagai dokter utama sang pemimpin besar After Earth, dia bahkan bisa disebut menjadi sahabat dan orang kepercayaan Jenderal Moroko sejak lama.

Tetapi menghadapi putera satu-satunya Jenderal Moroko ini terasa lebih menakutkan. Reputasinya sebagai pembunuh kejam, yang berkali-kali lebih kejam daripada ayahnya. Membuat Frederick harus menguatkan hatinya untuk menyampaikan hasil pemeriksaan Lab ini kepada Jenderal Akira….. meskipun hatinya dipenuhi rasa takut yang amat sangat. Kalau sampai suasana hati Jenderal Akira yang buruk semakin memburuk, tidak menutup kemungkinan nyawanya akan melayang saat ini juga.

Tetapi rupanya sang jenderal bisa menahan ekspresinya, lelaki itu meremas lembaran kertas hasil analisa lab pemeriksaan dirinya digenggaman tangannya yang keras, lalu membuang kertas itu.

“Jadi aku harus menikahi siapa?” Suara sang Jenderal terdengar pahit. “Apakah kau pikir aku punya pilihan?”

Dokter Frederick menghela napas panjang,

“Inilah yang ditakutkan ayah anda, sang Jenderal Besar Moroko, beliau menyampaikan pesan ini kepada saya sebelum beliau meninggal sebulan yang lalu. Senjata biologis berupa racun yang tersebar di udara dan menewaskan hampir seluruh umat manusia pada masa perang jaman dahulu itu hanya menyisakan orang-orang yang memiliki kekebalan tubuh untuk bertahan hidup, ayah anda, sang Jenderal besar Moroko tentu sqja termasuk dalam orang-orang yang memiliki kekebalan alami di dalam tubuhnya.”

Dokter Frederick menelan ludahnya dalam, “tetapi ternyata ada satu kerusakan yang diimbaskan oleh racun biologis itu ke tubuh ayahanda anda.  Susunan kimiawi spermanya berbeda dengan manusia kebanyakan, sehingga tidak bisa membuahi sembarang perempuan. Sperma itu hanya bisa membuahi perempuan dengan sel telur yang memiliki kode kimiawi tertentu. Dan seperti halnya ayah anda dan keturunannya, susunannya sangatlah langka”

“Lalu kelainan itupun diturunkan kepadaku.” Kepahitan terdengar jelas di suara Akira, “Pantas saja aku tidak pernah melihat ibu kandungku. Apakah ibu kandungku adalah salah satu perempuan istimewa yang didapatkan ayahku untuk memiliki keturunan?”

Mau tak mau dokter Frederick mengangguk mendengar pertanyaan itu. Ya. Hal ini merupakan sesuatu yang sangat dirahasiakan, dan hanya orang-orang tertentu yang boleh mengetahuinya,

“Ayahanda anda melakukan pemeriksaan kepada seluruh perempuan di After Earth.  Anda tahu, beliau membuat kebijakan yang masih dijalankan sampai dengan sekarang, kebijakan itu adalah peraturan yang  mewajibkan semua perempuan yang sudah mengalami menstruasi untuk memeriksakan diri ke rumah sakit perwakilan yang ada di kota masing-masing. Yang tidak diketahui oleh masyarakat adalah bahwa kami mengambil setiap  sampel cairan dari seluruh perempuan yang sudah akil baliq di After Earth untuk diperiksa secara khusus, dan kami mengemban tugas untuk menemukan perempuan dengan susunan kimiawi yang cocok dengan ayahanda anda. Kebijakan itu memang memudahkan kami dan pada akhirnya kami bisa menemukan calon perempuan yang bisa menjadi ibu dari anak-anak sang Jenderal Besar Moroko.”

“Dan Perempuan itu adalah Ibu kandungku?” Akira menyela, lelaki itu membalikkan badannya membuat ekspresi wajahnya tidak terlihat, dia menatap ke luar ke arah jendela kaca yang menghamparkan pemandangan samudra yang tak berbatas dikarenakan pusat penelitian medis tempatnya sekarang berdiri ada tepat di tepi samudra di daerah selatan Marakesh City.

Dokter Frederick menganggukkan kepalanya, “Ya, ibu kandung anda. Setelah kami menemukannya,  Sang Jenderal besar Moroko mengambilnya dan kemudian menikahinya.”

Akira terkekeh, tetapi sama sekali tidak ada kesenangan dari kekehannya, suaranya lebih seperti tawa ironis yang penuh penghinaan,

“Selama ini aku selalu diberitahu bahwa ayahku mencintai ibuku, dan sayangnya ibu kandungku meninggal ketika melahirkanku. Ternyata pernikahan kedua orang tuaku hanyalah pernikahan kontrak hanya demi menghasilkan keturunan. Pantas saja tidak ada foto atau kenangan satupun tentang ibuku yang tertinggal.” Mata sang jenderal bersinar penuh kebencian, sehingga membuat dokter Frederick mengerut ketakutan. “Dan sekarang kau menyuruhku supaya mengikuti jejak ayahku?”

“Ini adalah mandat dari ayahanda anda. Sebagai penerusnya, sebagai pemimpin besar yang bertanggung jawab atas kelangsungan tampuk kepemimpinan After Earth, anda harus mempunyai keturunan yang berasal dari darah daging anda sendiri, untuk dididik menjadi pemimpin besar selanjutnya.” Dokter Frederick memberanikan diri berkata,dan kemudian melanjutkan sambil jemarinya mengeluarkan kertas data yang dari tadi sudah dipegangnya.

“Perempuan yang bisa menjadi ibu dari anak-anak anda, seperti halnya ibu kandung anda, bukan hanya perempuan istimewa, tetapi juga perempuan yang sangat langka, Yang Mulia. Begitu anda dilahirkan, dan hasil test awal menunjukkan bahwa sel sperma anda memiliki susunan kimiawi yang sama dengan ayahanda anda, Jenderal Besar Moroko  langsung memerintahkan kami melakukan pencarian atas perempuan yang bisa menjadi ibu dari anak-anak anda. Selama bertahun-tahun, kami telah menganalisa seluruh laporan pemeriksaan kesehatan dari semua perempuan yang telah mengalami akil balik di After Earth, dan baru seminggu yang lalu kami menemukan dua perempuan yang memenuhi syarat, sayangnya yang satu menderita penyakit parah yang tidak memungkinkannya hidup lama. Sehingga hanya ada satu yang tersisa.”

“Siapa?” Tiba-tiba saja Akira merasa tertarik.

“Seorang perempuan dari distrik empat di pinggiran kota, usianya baru enambelas tahun, anda hanya tinggal menunggu beberapa saat lagi sehingga dia siap dibuahi, dia tinggal di sebuah panti asuhan yang dikelola oleh bagian sosial distrik tersebut.”

“Dari panti asuhan?” Akira mengerut tidak suka, “Jadi maksudmu aku harus menjadikan perempuan jelata dengan asal usul yang tidak jelas sebagai ibu dari anak-anakku?”

“Hanya dialah satu-satunya kesempatan anda.” Dokter Frederick berkata jujur. Perempuan yang memenuhi syarat untuk bisa dibuahi oleh sang Jenderal memang sangat langka, dan jika sang Jenderal melepaskan yang ini, kemungkinan baru beberapa dekade lagi akan muncul perempuan dengan jenis sel telur istimewa seperti ini. Itu sama saja artinya sang Jenderal melepaskan kesempatannya untuk memiliki keturunan. Hal itu tidak boleh terjadi, Frederick sudah berjanji kepada Jenderal Besar Moroko  untuk memastikan bahwa Jenderal Akira harus meneruskan garis keturunannya.

Rahang Jenderal Akira tampak menegang ketika memikirkan semua kemungkinan, dan ketika lelaki itu berkata, suaranya terdengar bengis dan tanpa belas kasihan.

“Kalau begitu aku akan mengambil perempuan itu, membuatnya hamil anakku, dan segera setelah dia melahirkan anak laki-lakiku dengan jumlah yang cukup, aku akan membunuh perempuan itu.”

 

283 Komentar

  1. Arfan Naendra menulis:

    :iloveyou

  2. bisa ae si jendral ngarang ceritanya :lovely

  3. Airaqyoung1215 menulis:

    :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi
    :berharapindah :berharapindah

  4. Jenderal akira??

  5. Nak marah si jenderal nggak bisa ganggu wkwk

  6. Kaikou Nezumi menulis:

    Penasaran pasxmereka ketemu

  7. Ga kebayang tinggal di rumah yang serba iten begitu wkwk

  8. :iloveyou :iloveyou

  9. Dhian Sarahwati menulis:

    Dingin dingin sadis…

  10. Jendral jendral :mengintai

  11. HAHAHAHA
    Pengen nya dibunuh setelah melahirkan anaknya eh ternyata ngebuciin juga nanti :ayojadian :ayojadian

  12. duh sadis amat bang akira :grrr
    gimana nasib neng asia selanjutnya?

  13. ❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤❤

    1. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

      :ayojadian

  14. SERAFINA MOON LIGT🌙❤💡 menulis:

    kejam kau jenderal :bantingkursi :bantingkursi :bantingkursi

  15. Diah Wardani menulis:

    :lovely

  16. Duh sadis amat jendral akira

  17. Kejam kali kau bang :lovely

  18. Kinky Rain menulis:

    :sebarcinta

  19. Ngerii ihh :nangiskeras

  20. Indah Narty menulis:

    :sebarcinta

  21. Niat awalnya sadis….

  22. Semua akan bucin pada waktunya

  23. Ga kebayang nanti jadi bucin :haisalamkenal

Tinggalkan Balasan