emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Prolog : Pertemuan

Bookmark

No account yet? Register

2.064 votes, average: 1,00 out of 1 (2.064 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

emperors-consort2

Aiko menatap langit yang semakin gelap dengan cemas, dia terlambat pulang karena terlalu asyik memetik bebungaan nan indah. Ibunya tadi menyuruhnya memetik tanaman obat-obatan di hutan barat desa untuk bahan dasar racikan berbagai macam obat. Tetapi Aiko kecil yang baru berusia sepuluh tahun mudah teralihkan perhatiannya.

Hutan di barat desa merupakan gugusan pepohonan sakura nan indah yang melingkupi langit-langitnya dan mengubah nuansa udara menjadi warna merah muda nan lembut. Di kaki-kaki pohonnya, membentang rerumputan hijau yang berpadu dengan semak-semak bebungaan nan indah berbagai warna,merah, putih, ungu, kuning, bahkan jingga. Semak-semak bebungaan itu seakan berlomba-lomba memekarkan bunganya demi menarik perhatian kupu-kupu dengan corak yang tak kalah indahnya.

Dan kemudian, setelah selesai memetik tanaman obat yang dibutuhkan, Aiko kecil memutuskan untuk memetik satu tangkai bunga di setiap warna yang ditemukannya. Ibundanya pasti akan menyukainya, Aiko tersenyum membayangkan sang Ibunda akan merangkai bunga-bunga itu dalam bejana kecil dari bahan tanah liat yang sudah diisi air, kemudian menaruh bejana itu di depan jendela, menciptakan kecemerlangan warna-warni ketika bunga-bunga itu disentuh sinar matahari, dan menguarkan harum yang menenangkan hati ketika bunga-bunga itu dihembus oleh udara yang menyapa.

Tapi tak disangkanya, kegiatan memetik bunga itu memakan waktu yang cukup lama, matahari sudah hendak beranjak istirahat ke peraduannya ketika Aiko menyadarinya. Sekarang dia berlari cemas menelusuri jalan setapak kecil menembus hutan yang tampak indah di siang hari tetapi tampak mengerikan ketika kegelapan telah merangkulnya.

Langkah-langkah kakinya tidak cukup cepat, sementara Aiko sendiri mulai ketakutan membayangkan larangan dan nasehat ibundanya. Kata ibundanya, berbahaya berada di dalam hutan di malam hari, malam hari adalah waktu roh-roh hutan bergentayangan, dan malam hari juga waktu yang disukai binatang buas pemangsa manusia untuk berkeliaran.

Ketika cahaya matahari yang keemasan mulai berganti dengan cahaya bulan yang berselubung warna perak, Aiko menghentikan langkahnya dalam ketakutan yang amat sangat.

Dia tersesat!

Entah kemana langkah kakinya tadi membawanya. Pada siang hari, perjalanan pulang menelusuri hutan merupakan hal yang mudah bagi Aiko, sudah berkali-kali dia melakukannya, dia hapal jalannya, bahkan dia hapal pepohonan di sepanjang jalan, tiap pohon mempunyai karakteristik tersendiri yang membantunya menemukan jalan pulang.

Tetapi sekarang, ketika kegelapan sudah mulai menyelubungi, semua tampak berbeda di mata Aiko, semua pepohonan itu berwarna hitam, gelap dan menyeramkan. Seolah pohon-pohon itu berubah menjadi monster dengan tangan-tangan bercakar dan mulut menyeringai hendak menangkapnya.

Aiko mulai menggigil, dia memeluk dirinya sendiri dan berdoa di tengah kegelapan. Dia memandang sekeliling, mencoba menembus kegelapan meski tak membuahkan hasil.

Lalu tiba-tiba dia mendengar gemericik air tak jauh di sana. Secercah harapan muncul di benaknya. Rumahnya berada di dekat aliran sungai. Aliran sungai itu sangat jernih hingga pada siang hari, Aiko dan anak-anak seusianya yang menghabiskan waktu untuk bermain bersama, bisa melihat ikan-ikan dan bebatuan cantik yang ada di dasar sungai.

Kalau dia mengikuti aliran sungai ini ke arah turunnya air, maka dia pasti bisa menemukan rumah.

Aiko memperkirakan bahwa rumahnya ada di lembah sehingga dia harus mengikuti arah sungai turun untuk menemukan jalam menuju rumahnya.

Dengan langkah hati-hati, berusaha tidak menarik perhatian roh-roh hutan ataupun binatang buas, Aiko melangkah menuju arah gemericik sungai. Tubuhnya sedikit terluka karena terkena goresan semak-semak dan batang pohon, tetapi tekadnya makin kuat ketika didengarnya suara air semakin dekat.

Kemudian tatapan matanya terpaku lekat, pada sosok yang seolah memancarkan cahaya di tengah gelap nan pekat. Sosok itu duduk bersandar di bawah pohon sakura yang menjorok menaungi sungai, diam, tak bergerak seolah mati.

Aiko terpaku, napas tertahan, badan membeku.

Siapakah itu? Apakah…. Roh hutan?

Kemudian rasa ingin tahu mengalahkan rasa takutnya. Dengan hati-hati dia mendekat, sosok itu sama sekali tak bergerak, bahkan ketika Aiko hanya berdiri satu langkah jauhnya.

Mata Aiko menatap sosok di depannya dengan hati-hati. Sosok itu mengenakan jubah yang berkilauan dengan sulaman benang emas berhias permata putih yang memantulkan cahaya bulan, karena itulah dia tampak bercahaya.

Ini manusia, bukan roh hutan.

Aiko memutuskan setelah melihat dada yang naik turun bernapas lemah. Ini adalah laki-laki, dan seorang bangsawan pula! Napas Aiko tercekat ketika menyadari gaya berpakaian sosok ini dan rambut panjang gelap yang terjuntai menutup wajahnya. Di kerajaan Shasou ini, hanya lelaki bangsawan yang boleh memanjangkan rambutnya.

Lalu laki-laki itu bergerak, mengerang pelan, membuat Aiko terjingkat mundur saking kagetnya. Lelaki itu tampak kesakitan, Aiko mengamati kulitnya yang pucat, dan kemudian membelalak ketika menyadari ada darah yang membasahi bagian dada lelaki itu, begitu basah hingga seolah membentuk kubangan di pakaiannya.

Melupakan segala rasa takut dan kewaspadaan dirinya, Aiko menghambur mendekat, berjongkok disisi lelaki itu. Ibunya adalah seorang tabib, karena itulah meskipun baru berusia sepuluh tahun Aiko sudah mengerti dasar-dasar pengobatan, dan karena sering membantu ibunya menangani orang-orang sakit dan terluka, Aiko tidak bisa menahan dirinya untuk membantu laki-laki tidak dikenal ini.

Dibukanya kantong kulit berisi tanaman obat dan bunga yang terselempang di pundaknya, untunglah dia tadi memetik daun kusuri untuk persediaan obat ibunya. Daun kusuri yang berwarna hijau pekat dan bergetah putih dengan rasa yang sangat pahit jika dicicip, sangat bagus untuk mengobati dan menutup luka terbuka.

Lelaki ini harus ditolong, tetapi terlebih dahulu dia harus melihat lukanya.

Aiko berjalan ke sungai, mengambil air dengan telapak tangan mungilnya dan membawanya ke wajah lelaki itu, dibasuhkannya jemarinya yang mungil ke wajah lelaki itu, mencoba membuatnya lebih sadar.

Tiba-tiba jemari pucat yang kokoh itu mencengkeram pergelangan tangannya. Mata itu terbuka, dan meskipun wajahnya masih terselubung kegelapan di balik tirai rambut yang berjuntai, Aiko bisa melihat bahwa iris mata lelaki itu berwarna kuning terang, begitu kontras dengan pupilnya yang hitam gelap, mata laki-laki itu begitu indah, layaknya mata harimau.

“Apa yang kau lakukan?” Suara lelaki itu menggema menembus keheningan hutan, ada sedikit nada di dalamnya yang membuat Aiko ingin menghormat kepadanya. Meskipun tampak lemah dan terluka, tetap saja ada nada mengintimidasi yang menakutkan di balik suaranya.

Apakah semua bangsawan berbicara dengan nada seperti itu?

Aiko belum pernah bertemu dengan kaum bangsawan sebelumnya, kaum bangsawan selalu tinggal di ibu kota, di garis luar istana kaisar. Sementara desanya merupakan desa terpencil di pinggir hutan yang terletak begitu jauh dari ibu kota.

“Saya hendak mengobati luka anda.” Aiko bergumam pelan, merasa terintimidasi, “Mohon perbolehkan saya melihat luka anda.”

Lelaki itu terdiam, seolah menimbang-nimbang. Lalu cengkeramannya di pergelangan tangan Aiko melemah dan lepas.

“Baiklah.” Mata lelaki itu terpejam seolah pasrah.

Aiko menghela napas panjang. Dengan hati-hati, jemari mungilnya melepas jubah berwarna emas yang basah oleh darah itu.

“Mohon ma.. maafkan kelancangan saya.” Suara Aiko lirih, dengan gemetar dia menyingkap jubah selayaknya kimono itu hingga menggantung di lengan sang bangsawan. Di balik jubah itu, ada lapisan baju zirah besi dari bahan emas yang terkoyak oleh sayatan, menembus hingga ke kulit yang berwarna pucat, dari luka sayatan itulah memancar darah segar membasahi jemari Aiko.

Ini tusukan pedang.

Aiko mengenali luka itu karena dia sering membantu ibunya mengobati tentara-tentara yang terluka di medan perang, sebagian besar dari mereka terluka parah karena tusukan pedang.

Mata lelaki itu menyipit, napasnya semakin berat.

“Mereka mencoba membunuhku.” gumamnya dalam gemeretak yang mengerikan, “Tapi mereka tidak tahu siapa yang mereka hadapi.”

Ada nada penuh dendam yang mengerikan di sana, membuat bulu kuduk Aiko meremang. Tetapi dia menulikan telinganya, luka lelaki ini parah dan mengobati luka ini adalah prioritas utamanya.

Dengan hati-hati Aiko mengambil kain bersih di sakunya, dia selalu membawa-bawa saputangan sutera bersulam bunga sakura berwarna merah muda, hadiah dari ibunya. Benda ini berharga baginya, dan sekarang dia harus mengorbankannya. Aiko bergegas melangkah kembali ke sungai dan mencelupkan saputangan itu ke air lalu digunakannya sapu tangan basah itu untuk membasuh darah yang menutupi luka sang bangsawan.

Setelah darah itu terserap ke saputangan, Aiko lalu mencuci kembali sapu tangan itu di air sungai dan kemudian menggunakan lagi untuk membasuh luka sang bangsawan, begitu terus bolak balik sampai darah yang menutupi luka sang bangsawan itu menipis, menampilkan luka tusukan yang menganga dalam dan daging terkoyak mengucurkan darah. Hebatnya, selama proses pencucian luka itu berlangsung, lelaki itu bergeming, tak bergerak, hanya napasnya yang terdengar semakin berat.

Aiko mengernyit melihat dalamnya luka itu,

“Saya akan mengobati anda, daun kusuri ini bisa menghentikan pendarahan anda.” Aiko mengeluarkan daun kusuri dari kantong kulit miliknya. Sejenak dia kebingungan, daun kusuri ini harus ditumbuk sampai halus sebelum ditempelkan di luka, penumbukan diperlukan untuk memancing keluar getah terdalamnya yang memiliki khasiat paling efektif menutup luka. Ibunya biasanya mengunakan alat penumbuk khusus dibuat dari batu marmer alami, untuk menumbuk daun kusuri ini hingga membuatnya halus sampai warnanya yang hijau berubah putih karena terselubung getahnya.

Mata Aiko beredar ke sekeliling, disini dimana dia bisa menemukan alat untuk menumbuk daun kusuri?

Jika hanya ditumbuk dengan batu biasa, getahnya tidak akan keluar sempurna. Aiko pernah melihat dikeadaan darurat ibunya pernah mengunyah daun kusuri ini begitu saja karena tidak cukup waktu untuk menumbukknya, hasil kunyahannya itu berwarna putih. Dan ketika ditempel di luka, hasilnya sama berkhasiatnya. Tetapi ibunya tidak pernah menyarankan Aiko untuk mencobanya, karena Aiko masih terlalu kecil serta rasa daun kusuri ini teramat pahit, tidak akan tertahankan kecuali oleh tabib yang berpengalaman.

Tetapi tidak ada cara lain…

Aiko memejamkan mata, menguatkan hatinya dan memasukkan daun kusuri itu ke mulutnya. Baru saja lidahnya bersentuhan dengan hijaunya daun, rasa pahit yang pekat langsung menyebar tak tertahankan. Aiko meletakkan kedua tangan mungilnya di mulutnya, membekapnya untuk menahan refleksnya memuntahkan daun itu. Air matanya sampai keluar ketika dia memberanikan diri melakukan kunyahan pertamanya, tidak tahan oleh rasa pahit yang menusuk lidahnya.

Aiko menguatkan hati, tetap mengunyah dan mengunyah dengan bercucuran air mata. Hingga karena pahitnya, lidahnya mulai mati rasa.

Mungkin sudah cukup. Aiko menyapihkan hasil kunyahannya ke kedua telapak tangan, dan puas melihat hasilnya, warna hijau pekat daun kusuri sudah berubah menjadi putih. Itu tandanya getah terdalamnya sudah berhasil dikeluarkan.

Aiko berlutut di dekat luka itu, hendak menempelkan hasil kunyahannya ke luka yang masih mengalirkan darah. Tetapi gerakannya terhenti karena lelaki itu beringsut.

“Kau hendak menempelkan muntahanmu ke lukaku?” ada nada jijik bercampur kemarahan di dalam suara lelaki itu, membuat pipi Aiko memerah karena malu.

“Mohon maaf tuan….” Aiko menelan ludahnya, menyadari suaranya yang terbata. “Daun ini adalah daun kusuri, dan perlu dikunyah untuk mengeluarkan getah obatnya, saya bisa saja menumbuknya, tetapi tidak ada alat….”

Dalam kegelapan itu, Aiko bisa merasakan kalau mata kuning harimau lelaki itu menatapnya tajam, tetapi kemudian dia mendengus dan memalingkan kepalanya,

“Lakukan. Setelah itu singkirkan tangan kotormu dari tubuhku.” gumamnya kemudian.

Aiko mengerutkan keningnya mendengar nada sombong dalam suara sang bangsawan, tetapi kemudian dia mengangkat bahu mencoba memaklumi. Kata ibunya, kaum bangsawan memang tidak suka disentuh oleh rakyat jelata, ibunya bercerita bahwa dia pernah mengobati kaum bangsawan dan dia diharuskan memakai dua lapis sarung tangan kulit supaya tidak bersentuhan langsung dengan sang bangsawan.

Dengan hati-hati, setelah memutuskan bahwa dia sudah diizinkan, Aiko membalurkan kunyahan daun kusuri itu ke luka tusukan pedang yang menganga. Lelaki itu beringsut, mungkin merasa kaget. Memang sentuhan pertama daun kusuri ke luka akan menciptakan sensasi panas seperti terbakar, tetapi efek selanjutnya akan membuat kulit mati rasa, luka perlahan menutup, pendarahan berhenti, dan tidak ada rasa sakit lagi.

“Tahan, anda akan baik-baik saja ” Aiko berbisik lembut, memberikan semangat dan ketabahan kepada pasiennya, seperti yang diajarkan ibunya.

Lama kemudian, dia menyelesaikan proses itu, seluruh bagian luka tusukan yang menganga sudah ditutup dengan daun kusuri, menciptakan gundukan putih bersih yang menutup rapat. Tidak ada lagi darah yang mengucur.

Aiko menghela napas lega dan menghapus keringat yang tanpa sadar membasahi dahinya,

“Sudah selesai.” gumamnya gembira, “Ini bisa menutup pendarahan anda. Tetapi untuk lebih baiknya, anda harus menunggu ibuku, dia seorang tabib, kita bisa menunggu pagi hari karena saya yakin bisa menemukan jalan pulang ketika telah terang tanah, lalu saya akan membawa orang untuk mengangkat anda dengan tandu ke ru….”

Kata-kata Aiko terhenti ketika jemari pucat lelaki itu itu menyentuh dagunya dan mendongakkan wajahnya,

“Anak kecil, siapa namamu?”

Aiko membuka mulutnya untuk menjawab, tetapi suaranya terhenti di tenggorokan ketika telinganya menangkap suara-suara. Itu adalah suara berdesau ditiup angin yang bersumber tak jauh dari tempatnya. Suara-suara itu memanggil namanya!

Aiko menajamkan telinganya, berusaha meyakinkan diri, dan kemudian ketika dia mengenali suara ibunya yang memanggil-manggilnya cemas, rasa lega yang amat sangat membanjiri dirinya.

Tanpa sadar digenggamnya jemari lelaki itu yang masih menyentuh dagunya, diremasnya lembut,

“Itu suara ibu saya, beliau mencari saya! Ibu saya adalah seorang tabib, anda akan selamat!” serunya gembira dan bergegas bangkit dari duduknya, “Tunggu sebentar, saya akan menghampiri mereka, setelah itu saya akan kembali kemari lagi untuk menjemput anda.”

Tanpa menoleh kembali kepada sosok lelaki bangsawan itu, Aiko berlari ke arah suara, dia menembus semak-semak dan kembali ke jalan utama, dia hampir memekik lega ketika menemukan obor-obor yang menyala tak jauh dari lokasinya.

“Aiko!” ibunya berseru begitu melihat sosoknya, sementara Aiko sendiri langsung berlari menubruk ibunya yang langsung memeluknya.

“Ibu!” Aiko memeluk ibunya erat-erat, “Maafkan aku ibu, aku terlalu asyik memetik bunga dan tersesat…”

Hana, sang ibu, memeluk anak perempuan semata wayangnya dengan lega, airmatanya mengalir tak tertahankan. Tadi ketika langit beranjak gelap dan Aiko belum juga pulang, Hana panik bukan kepalang, beruntung kepala desa dan beberapa penduduk langsung sigap mengajaknya ke hutan sambil membawa obor nan terang, untuk mencari Aiko.

“Tidak apa-apa anakku, yang penting kau selamat.” Hana menunduk menatap anaknya, dia memekik ketika menemukan pakaian dan jemari Aiko yang berdarah, “Astaga Aiko! Kau terluka?”

Aiko menunduk dan melihat dirinya, di bawah cahaya obor, darah yang melekat di tubuhnya tampak merah dan mengerikan.

“Bukan ibu, bukan aku. Tadi aku menolong seseorang yang terluka.”

“Orang yang terluka?” Hana menjadi waspada, “Siapa?”

“Aku tidak tahu ibu, tetapi dia laki-laki dan rambutnya panjang, dia seorang bangsawan.” gumam Aiko, lalu menatap cemas ke arah semak-semak yang menghubungkan langsung ke lokasi sungai, “Lukanya parah ibu, aku sudah memberikan pertolongan pertama menutup lukanya dengan daun kusuri, tetapi sepertinya dia memerlukan perawatan dari ibu.” Aiko menarik tangan ibunya menuju semak-semak, “Ayo, ibu harus melihatnya.”

Mau tak mau Hana mengikuti tarikan anak gadisnya, begitupun kepala desa dan penduduk yang membawa obor, mereka mengikuti dengan hati-hati di belakang.

Aiko membawa rombongan itu menembus semak-semak, tetapi ketika mereka sampai di tepi sungai, di dekat pohon sakura besar yang menaungi sungai, Aiko tertegun.

Sosok lelaki itu sudah tidak ada, hilang tak berbekas…..

535 Komentar

  1. pernah komen blom ya disini

  2. Baca again… :menor :menor

  3. Putri Ratnasari menulis:

    Asli dah karena kangen jadi reread ini buku ..

  4. Dewi_krisnad menulis:

    Baca again, entah yg keberapa kalinya hahahahha… Bagus sih ceritanya 🤟🤟🤟

  5. Disini tempatnya bacaaannnnn

  6. Again and again and agaiiiiin :menantiadeganmesra

  7. Selalu suka ceritanya :sebarcinta

  8. Mon map, sampe bab berapakah endingnya?

  9. pendatang baruu mau baca

  10. rollxrcoaster menulis:

    maaf mau tanya, ini kan udah di terbitkan tp disini kenapa msh on going ya? isi ceritanya sama dgn di novel atau yg ini beda (lbh panjang?)

    1. sedikit lebih panjang di sini untuk Emperor’s Consort, karena tidak dibatasi halaman buku jadi partnya masih belum tamat di sini

  11. Excited..

  12. baca ulang ahh

  13. Febrina Prabarani menulis:

    Pernah baca di w4ttpad, sekarang mau baca lagi disini hehehe

  14. Sukak❤️

  15. Baru bacaaa.. awal2 udah seruuu..

  16. Ini bagus banget ceritanya, ketemu bukunya gak sengaja di toko buku eh jatuh cinta sama karya2 tim PSA sampai tau akhirnya ada aplikasinya kaya gini wkwkwk, mksh tim PSA…. :lovelove

Tinggalkan Balasan