emperors-consort2
Emperors Consort

Emperor’s Consort Part 20 : Saputangan Merah

Bookmark

No account yet? Register

1.866 votes, average: 1,00 out of 1 (1.866 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author playlist : Alan Walker – Faded Restrung ( semi orchestra with piano & violin )


emperors-consort2

“Apapun yang sedang kau rencanakan, Zhou… aku pikir ini bukan ide bagus.” Jenderal Youshou memandang sekeliling dengan cemas. Kegelapan melingkupi mereka yang berdiri di area belakang Istana Emas yang remang-remang dan hanya bercahayakan lentera kecil yang menempel di tembok-tembok bagian belakang istana.

Suasana saat itu sepi karena area ini sudah dikosongkan oleh Jenderal Youshou atas permintaan Tabib Zhou. Tidak ada penjaga yang berpatroli di sini karena perintah Jenderal Youshou itu, sehingga apapun yang sedang mereka lakukan akan luput dari pengawasan para penjaga Istana.

“Stt…” Tabib Zhou balas berbisik, meminta Jenderal Youshou supaya diam dan tidak berbicara lagi. Sejak tadi Sang Jenderal berkali-kali mengganggu dengan mengatakan bahwa apapun yang sedang direncanakan oleh Tabib Zhou bukanlah ide yang bagus dan sebaiknya mereka membatalkannya.

Tentu saja Tabib Zhou tidak mau. Dia sudah memikirkan rencana ini masak-masak dan ini adalah rencana yang sangat bagus, tidak mungkin dia mau membatalkannya.

“Kau akan membuat keributan di seluruh Istana, bagaimana kau menjelaskannya nanti kalau kita ketahuan? Kalau Kaisar Shen tahu ini semua kau akan langsung dipenggal dalam kemurkaannya.” Jenderal Youshou berbisik lagi, tidak peduli akan permintaan Tabib Zhou supaya dia tutup mulut.

Tabib Zhou melemparkan tatapan penuh peringatan kepada Jenderal Youshou karena mulai merasa terganggu.

“Kau tenang saja, aku sudah mengatur semua rencana baik-baik.” Tabib Zhou sendiri sedang sibuk menggali lubang yang cukup besar di tanah dan setelah lubangnya jadi, dia mulai memasukkan dedaunan dan ranting kering yang dikumpulkannya ke dalam lubang itu sampai penuh.

Mata Tabib Zhou menoleh ke arah Hiro yang sejak tadi memilih bersandar di sebuah pohon yang tak jauh dari mereka, bersandar di balik bayang-bayang dan mengawasi dalam kediamannya.

“Kau membawa pemantik api?” tanya Tabib Zhou pada Hiro.

Mendengar perkataan Tabib Zhou itu wajah Jenderal Youshou langsung memucat, “Kau akan membakar dedaunan dan ranting kering itu? Apakah kau ingin membakar Istana Emas?” serunya keras yang langsung membuat Tabib Zhou melotot ke arah Sang Jenderal sambil memberi isyarat supaya lelaki itu diam.

Sementara itu Hiro melangkah mendekat dengan ekspresi menahan geli mendengar perdebatan Tabib Zhou dan Jenderal Youshou sedari tadi, lelaki itu memang memilih diam dan mengamati interaksi dua manusia yang dikaguminya tetapi kadang-kadang bertingkah seperti anak kecil jika sedang berdebat. Hiro lalu berdiri di dekat Tabib Zhou yang sedang memasukkan ranting-ranting kering terakhirnya dan mengulurkan pemantik api yang dimilikinya kepada Tabib Zhou. Pemantik api memang merupakan salah satu benda wajib yang selalu dibawanya kemanapun dia pergi.

“Jangan berikan itu kepadanya, dia sudah gila.” Jenderal Youshou melemparkan perintah kepada Hiro untuk mencegah pemantik api itu berpindah tangan, tetapi terlambat karena Tabib Zhou sudah merebut pemantik api itu dari tangan Hiro.

“Aku akan membakar dedaunan ini tetapi tentu saja aku tidak bodoh hingga beresiko menyebabkan kebakaran besar di istana.” Dengan senyum lebar seolah meminta pujian, Tabib Zhou mengeluarkan botol kaca kecil berisi cairan biru dari balik bajunya, “Ini ramuan buatanku, terbuat sari dari bunga bàozhà dan beberapa akar-akaran lainnya. Bunga bàozhà menimbulkan asap tebal  ketika dibakar jadi aku menciptakan cairan ajaib ini dengan ide itu. Cairan ini, jika bertemu dengan api akan menimbulkan suara ledakan yang keras, tetapi akan langsung mematikan apinya dan kemudian menciptakan asap tebal yang mengepul, sebuah kebakaran palsu yang sempurna.” Tabib Zhou terkekeh senang, “Semua orang akan mengira ada kebakaran dan sesuai protokol keamanan kerajaan, Kaisar Shen akan dipanggil untuk dijaga ketat di dalam di Istana Merah sampai situasi bisa dipastikan aman.”

“Itu tidak akan bertahan lama, kalau mereka tahu bahwa ini adalah api bohongan, mereka akan melepaskan penjagaan kepada Kaisar Shen, dan yang kau lakukan ini akan sia-sia. Aku tahu bagaimana watak Kaisar Shen, beliau pasti akan langsung kembali ke kamar Aiko dan melaksanakan apa yang tadinya sempat tertunda.” Jenderal Youshou berucap dengan nada mencela menunjukkan celah di dalam rencana Tabib Zhou yang tadinya terlihat sempurna.

Tetapi ternyata dugaannya salah, rencana Tabib Zhou ternyata sudah dibuat dengan sempurna dan memperhitungkan semua hal, Sang Tabib sendiri malahan terkekeh mendengar perkataan Jenderal Youshou.

“Tujuanku membuat kebakaran palsu ini cuma ingin memastikan Kaisar Shen keluar sebentar dan meninggalkan Aiko… lalu ketika dia kembali lagi, Aiko sudah pasti tertidur pulas hingga Kaisar Shen tidak akan bisa berbuat apa-apa.”

“Bagaimana Anda bisa begitu yakin bahwa selir Qizi akan tidur ketika Kaisar Shen datang kembali, Tabib Zhou?” Kali ini Hiro yang bertanya, dirinya mulai penasaran dengan rencana misterius Sang Tabib.

“Yang kumasukkan ke dalam ramuan yang diantarkan ke kamar Aiko malam ini dan pasti sekarang sudah diminum oleh Aiko, bukanlah akar kebahagiaan, melainkan ramuan bubuk bunga shuizhele yang sangat bagus digunakan sebagai obat tidur untuk mengistirahatkan badan dengan tenang tanpa gangguan. Ramuan itu akan membuat Aiko tertidur pulas sampai pagi dan tidak bisa dibangunkan.” Tabib Zhou mengangkat bahu tanpa rasa bersalah sedikitpun, “Setidaknya aku bisa menyelamatkan Aiko malam ini.”

“Dan perbuatanmu ini akan membuat Kaisar Shen semakin emosional di kemudian hari karena dipaksa menahan diri lagi dan lagi.” Jenderal Youshou mengerutkan kening dan menatap Tabib Zhou dengan ekspresi menuduh, “Aku jadi curiga ini semua bukan hanya demi Aiko, kau sepertinya memang sangat senang membuat Kaisar Shen frustrasi. Aku masih ingat jelas ketika kau bekerjasama dengan Kasim Rojin menyembunyikan Aiko selama berhari-hari setelah insiden Selir Xia dahulu. Apa kau lupa akibat perbuatanmu? Kaisar Shen menebar kemarahannya kemana-mana dan menciptakan teror bagi seluruh penghuni istana. Apa kau ingin hal itu terjadi lagi?”

“Ya, itu juga maksudku.” Tabib Zhou sama sekali tidak membantah dan malahan terkekeh ketika diingatkan akan itu semua, “Tapi bukankah itu baik? Apa kalian sadar bahwa Kaisar Shen mulai banyak menunjukkan berbagai macam emosi akhir-akhir ini karena Aiko? Beliau bersikap selayaknya manusia, bukan seperti patung bertopeng yang selalu dingin dan tak berperasaan. Dari ilmu yang kupelajari tentang kesehatan manusia, tidak baik memendam emosi terus menerus dan berusaha bersikap layaknya patung tanpa jiwa. Emosi yang dipendam, apalagi emosi negatif akan menumpuk dan semakin berbahaya dari hari ke hari, bagaikan bara api yang suatu saat akan membesar  dan mengikis raga dari dalam. Aku pikir memunculkan berbagai macam emosi baik juga untuk kesehatan Yang Mulia Kaisar. Jadi bukankah dalam sekali tepuk, dua lalat bisa kudapatkan? Aku bisa menyelamatkan kepolosan Aiko dan sekaligus menjaga kesehatan Kaisar Shen.”

Jawaban Tabib Zhou begitu cerdik dan tak terbantahkan hingga membuat Jenderal Youshou tidak bisa berkata-kata. Sang Jenderal melemparkan tatapan menyerah ke arah Hiro yang sedari tadi hanya diam dan menahan tawa.

“Tetapi Tabib Zhou….” giliran Hiro yang bertanya sambil tersenyum, “Anda mungkin bisa menyelamatkan Selir Qizi malam ini, tetapi bagaimana dengan malam-malam berikutnya? Kaisar Shen pasti akan datang lagi mengunjungi Selir Qizi dan anda tidak mungkin menciptakan asap palsu setiap malam, bukan?”

“Yang nanti biarlah kupikirkan nanti.” Sang Tabib menatap ke arah Jenderal Youshou dan Hiro dengan tatapan mata mengajak berkomplot, “Ayolah, aku tahu kalian pasti sependapat denganku, Aiko harus dilindungi dari Kaisar yang tak bisa menahan nafsu seperti serigala di musim kawin.”

“Jaga bicaramu, Tabib Zhou.” Kali ini suara Jenderal Youshou terdengar serius, “Yang kau sebut serigala di musim kawin itu adalah Kaisarmu sendiri.”

Tabib Zhou mengangkat alis mendengar nada tegas itu dan langsung menyadari bahwa kesetiaan Jenderal Youshou akan membuatnya otomatis membela Kaisar Shen dari berbagai penghinaan dalam bentuk apapun. Dia lalu tersenyum penuh permintaan maaf kepada Jenderal Youshou.

“Maafkan aku, aku tidak akan mengulangi mengucapkan itu lagi.” Tatapan mata Tabib Zhou berubah serius ketika berbisik, “Tapi kalian sependapat denganku, bukan? Aiko masih terlalu polos, dia harus dijaga dan disiapkan pelan-pelan, bukannya langsung diserbu seperti itu.”

“Dia sudah cukup umur.” Jenderal Youshou menjawab cepat, “Ibundaku melahirkan aku di usia yang sama seperti Aiko sekarang.”

“Tapi Aiko berbeda, Youshou. Perempuan dari kalangan bangsawan seperti ibundamu mendapatkan pendidikan untuk menjadi istri yang baik sejak semula, mereka sudah disiapkan sejak awal sehingga nantinya mampu melakukan tugasnya dengan baik melayani suaminya. Sementara itu, Aiko sama sekali tidak berpengalaman dengan laki-laki, dia sama sekali tidak tahu apa-apa. Aku tahu dari Tabib Hana, ibunda Aiko, bahwa karena Tabib Hana trauma dengan masa lalunya dan tidak ingin Aiko mengalami hal yang sama dengan dirinya, beliau menjauhkan Aiko dari segala jenis kontak dengan lelaki manapun dan menjaga kepolosan pengetahuan Aiko dengan sangat ketat hingga meskipun Aiko memiliki tubuh seperti wanita dewasa, pikirannya masih seperti anak-anak.”

Perkataan Tabib Zhou rupanya merasuk ke dalam diri Jenderal Youshou dan Hiro. Mereka tahu bahwa kata-kata Tabib Zhou ada benarnya, Aiko berbeda dengan perempuan seumurannya dan entah kenapa mereka berdua jadi ikut cemas jika Kaisar Shen tidak bisa menahan diri dan kemudian membuat Aiko mengalami trauma atau ketakutan atas hubungan antara laki-laki dan perempuan yang seharusnya bisa dijadikan pengalaman menyenangkan jika Sang Kaisar bisa bersabar.

“Setidaknya sampai aku menikahi Tabib Hana.” Tabib Zhou melanjutkan, “Tabib Hana, ibunda Aiko sendiri yang akan mengajari Aiko pelan-pelan supaya bisa menjadi perempuan dewasa dan memberikan pengetahuan yang memadai sebelum Kaisar Shen memilikinya…” Suara Tabib Zhou terdengar penuh nada membujuk.

Pada akhirnya Hiro yang sedari tadi memang tidak menunjukkan akan menentang rencana Tabib Zhou hanya mengangkat bahunya sementara Jenderal Youshou menghembuskan napas panjang karena akhirnya menerima pemikiran Tabib Zhou.

“Baiklah, kali ini aku akan bekerjasama denganmu. Tapi jika besok kau mempunyai rencana konyol lagi, jangan libatkan aku.” gumamnya menyerah.

Tabib Zhou menganggukkan kepala dengan senang, lalu mereka bertiga berdiri di depan lubang berisi daun dan ranting kering itu sementara Tabib Zhou menyalakan pemantik api dan mulai membakar daun pertama.

Karena semuanya dalam kondisi kering, api yang membakar daun pertama langsung melalap habis dan mulai menjalar ke yang lainnya hingga tercipta nyala api di dalam lubang itu, membuat suasana langsung terang benderang dipenuhi oleh cahaya api yang berpendaran.

“Sekarang kalian mundur dan tutup telinga kalian.” Tabib Zhou berseru bersemangat sambil melangkah mundur diikuti oleh Hiro dan Jenderal Youshou.

Setelah mereka berada di jarak aman, Tabib Zhou melemparkan botol kaca bening berisi cairan biru itu ke api.

Dan beberapa detik kemudian, terdengar suara ledakan yang sangat keras memekakkan telinga.

***

Di dalam kamar selir utama, dua sosok itu berhadapan dengan mata saling bertautan. Pertanyaan Sang Kaisar sebelumnya masih menggaung di dalam kamar, menanti jawaban.

Aiko menatap Kaisar Shen dengan ragu dan takut. Yang Mulia Kaisar sudah melepaskan topengnya dan sekarang berdiri dekat sekali dengannya yang sedang duduk di pinggir peraduan.

Kepala Aiko mendongak, menatap Sang Kaisar dengan pikiran penuh pertanyaan.

Siap? Siap untuk apa?

Aiko menatap mata emas yang balas menatapnya dengan penuh arti, lalu tiba-tiba pikirannya kembali pada adegan-adegan dalam gambar di buku panas yang diberikan oleh Tabib Zhou kepadanya.

Mereka benar-benar akan membuat bayi malam ini?

Aiko merasakan bibirnya bergetar ketika ketakutan menjalari jiwanya. Dia tahu bahwa dirinya akan berdarah seperti yang dikatakan oleh semuanya di dalam proses ini, dan jika ada darah yang keluar, rasanya pasti sakit sekali.

Jemari Aiko tanpa sadar bertautan dan saling meremas untuk meredakan ketakutannya. Kepala Aiko sendiri menunduk, tidak mampu bertatapan langsung dengan mata emas yang begitu tajam.

Hal itu tidak luput dari pengamatan Kaisar Shen. Mata Sang Kaisar mengawasi jari dan bibir Aiko, dan timbulah rasa kasihan di dalam benaknya.

Apakah dia terlalu terburu-buru? Memaksakan perempuan polos ini untuk menjadi miliknya?

Tetapi Aiko sekarang adalah istrinya, dan perempuan itu mau tak mau harus menyiapkan diri untuknya. Waktunya pasti akan datang, jika tidak sekarang pasti nanti akan terjadi juga karena Kaisar Shen tidak tahu berapa lama lagi dirinya bisa menahan diri.

Dirinya memang akan menyakiti Aiko pada proses awalnya, tetapi setelahnya dia akan mengajari Aiko pelan-pelan dengan penuh kelembutan untuk menjadi istri dan wanita sesungguhnya. Mungkin Aiko akan ketakutan pertama kalinya tetapi Kaisar Shen yakin bahwa dengan keahliannya, dia akan membuat perempuan itu merasakan kenikmatan yang dijanjikannya akan selalu diberikan kepada istrinya ini.

Jari Kaisar Shen bergerak menyentuh Aiko dan mendongakkan wajah perempuan itu supaya menghadap ke arahnya.

“Aku bertanya kepadamu Aiko. Sudah siapkah kau jika aku memilikimu malam ini?”

Aiko menghela napas panjang dan kemudian setelah menguatkan hatinya, dia menganggukkan kepala pelan.

“Saya siap, Yang Mulia.” jawabnya dengan suara gemetar.

“Bagus.” Kaisar Shen tersenyum, “Aku akan bersikap lembut, istriku. Aku tidak akan menyakitimu, kau akan mencintaiku dengan lebih dalam setelahnya.” Sang Kaisar mengucapkan janji manis itu sambil membungkukkan tubuhnya dan menundukkan kepala, dia hendak mengecup bibir Aiko yang ranum dan menggoda untuk dilumat.

Lalu bersamaan dengan itu semua, tiba-tiba suara ledakan yang memekakkan telinga itu terdengar dengan begitu kerasnya.

***

“Setelah ini apa yang harus kita lakukan?” Hiro berbisik ke arah Tabib Zhou yang sedang menatap keributan yang terjadi akibat perbuatannya.

Mereka bertiga dengan refleks bersembunyi sambil berjongkok di balik semak-semak ketika pasukan penjaga datang dan menyerbu ke arah lokasi ledakan. Seluruh penjaga itu terdengar sedang terbatuk-batuk karena asap yang mulai bergulung keluar semakin banyak dari lubang yang dibuat Tabib Zhou, asap itu berwarna putih, pekat dan begitu tebal hingga menghalangi pernafasan serta pandangan mata.

Beberapa pasukan langsung meneriakkan kode kebakaran dan memberitahukan ke seluruh penjuru istana. Suasana langsung terdengar hiruk pikuk dan penuh keributan.

Tabib Zhou menoleh ke arah Jenderal Youshou dan mengangkat alisnya bingung,

“Kau… kenapa ikut bersembunyi di sini? Keluarlah dan bawa pasukanmu untuk menjemput Kaisar sesuai protokol kerajaan.”

Pipi Jenderal Youshou langsung bersemu merah mendengar perkataan Tabib Zhou dan dirinya seketika menyadari kesalahannya.

Seharusnya dia ada di sana bersama pasukannya, bukannya bersembunyi seperti penjahat bersama Tabib Zhou dan Hiro. Tetapi tadi dia refleks karena Tabib Zhou dan Hiro terbirit-birit meloncat ke semak-semak, dan dia otomatis mengikutinya tanpa pikir panjang.

“Baik. Akan kulakukan.” Jenderal Youshou langsung berdiri dan mengusap rambutnya dengan malu, “Aku akan keluar.” ucapnya untuk menutup rasa malu sambil tak lupa melemparkan tatapan mata penuh peringatan kepada Tabib Zhou, “Nanti jika kau membuat rencana gila lagi, kau harus memberitahukannya kepadaku dulu. Kalau tidak aku tidak akan membelamu di depan Kaisar Shen kalau kau ketahuan oleh beliau.” ucapnya dengan nada penuh ancaman sebelum melangkah pergi.

Ketika Jenderal Youshou sudah menjauh, Hiro dan Tabib Zhou yang sedari tadi memandangi punggung Sang Jenderal akhirnya saling bertatapan dan terkekeh bersama.

“Anda sangat jahil Tabib Zhou, tidak terbayangkan jika Kaisar Shen tahu bahwa keributan ini terjadi karena perbuatan anda.” bisik Hiro sambil masih menyisakan senyum di bibirnya

“Jangan sampai dia tahu, kalau tidak aku akan kehilangan kepalaku. Kaisar Shen benar-benar sudah habis kesabaran terhadapku.” Tabib Zhou balas berbisik, matanya mengamati beberapa prajurit yang sekarang datang membawa berember-ember air dan menyiramkannya ke sumber asap yang semakin menggulung.

Perbuatan para prajurit itu  ternyata membawa akibat yang lebih parah, karena ramuan daun bàozhà yang sudah terkena api akan menciptakan asap tebal, dan jika diberi air malahan akan membuat asap itu semakin tebal dan pekat.

Para pasukan sepertinya sangat sibuk melawan asap yang tidak henti-hentinya muncul sehingga tidak mungkin mengetahui keberadaan mereka berdua yang bersembunyi dan mengintai di balik semak-semak. Karena merasa aman, Tabib Zhou menoleh ke arah Hiro dan kali ini ekspresinya berubah serius.

“Kau sudah kembali dari penyamaran.” Tabib Zhou berucap pelan, “Aku dengar kau mengejar pembunuh keponakanku, Asisten Li. Apakah kau menemukan sesuatu?”

Hiro tertegun mendengar pertanyaan itu. Dirinya baru teringat bahwa Asisten Li, bagaimanapun juga adalah keponakan yang sedarah dengan Tabib Zhou, sama halnya dengan Aiko. Pikirannya berkecamuk, bingung hendak mengatakan apa.

Lingdao sudah jelas-jelas adalah pelaku pembunuh Asisten Li.

Jika dia mengatakan mengenai Lingdao kepada Tabib Zhou, akanlah Sang Tabib berubah dendam dan ingin menuntut balas?

Bagaimanapun  juga, meskipun jalannya berlawanan arah dengan Lingdao, lelaki itu adalah adik angkat yang sangat disayanginya, saudaranya yang dulu terpisah jauh dan kini baru bersua kembali. Hiro tidak akan mampu jika harus berada di antara Lingdao dan Tabib Zhou, orang yang sangat dihormatinya.

“Jika saya berhasil menemukan pembunuh Asisten Li, Apakah anda ingin membalas dendam kepadanya?” Hiro bertanya dengan suara pelan dan hati-hati.

Tabib Zhou mengamati ekspresi Hiro yang berubah muram dan menyadari ada sesuatu yang belum diungkapkan oleh mata-mata terbaik Kaisar Shen ini kepadanya.

“Aku tidak akan membalas dendam.” Tabib Zhou bergumam, “Aku hanya ingin tahu siapa yang bertanggung jawab atas kematian keponakanku, bukan demi kepentingan Asisten Li saja, tetapi juga demi keamanan Kaisar Shen dan Aiko. Berdasarkan kata-kata yang diucapkan oleh Asisten Li sebelum dibawa pasukan penjemput tahanan, dia berkata bahwa ada kelompok yang lebih besar yang akan mengincar keselamatan Kaisar Shen dan Aiko.”

“Memang benar adanya apa yang dikatakan Asisten Li ketika itu, saya menemukan sebuah kelompok besar yang misterius dengan kekuatan yang tidak bisa diremehkan, mereka sedang menyusun rencana untuk mengancam tahta Kaisar Shen. Sayangnya info yang saya dapatkan baru sebatas ini, saya belum berhasil menemukan hubungan mereka dengan Asisten Li dan kenapa mereka memilih melenyapkan Asisten Li.” Hiro memutuskan tidak akan memberitahukan dulu mengenai Lingdao kepada Tabib Zhou, “Saat ini saya sudah berhasil menyusup ke sana meskipun saya belum bisa masuk terlalu dalam. Saya kembali ke istana demi menjalankan misi,segera setelah misi ini selesai, saya akan kembali menyusup ke dalam kelompok itu.”

Tabib Zhou menatap Hiro dengan pandangan menyelidik, “Apakah kau sudah mendapatkan izin Kaisar Shen dalam hal ini?’

Hiro menganggukkan kepalanya mantap, “Apapun yang saya kerjakan, saya selalu melaporkannya kepada Kaisar Shen tanpa terlewat sedikitpun. Beliau memberikan izin atas rencana ini.”

“Baiklah.” Tabib Zhou menganggukkan kepalanya, dia merasa bahwa Hiro masih menyimpan sesuatu yang tak terungkapkan, tetapi dia menghormati kedudukan Hiro sebagai mata-mata Kaisar. Mungkin saja ada informasi yang memang tidak boleh dibagikan kepadanya demi keamanan dan Tabib Zhou menghormatinya.

“Kalau begitu berhati-hatilah nanti.”

Hiro menganggukkan kepala dan tersenyum, “Saya akan berhati-hati.” Tiba-tiba dia seperti teringat sesuatu, “Tabib Zhou, bolehkah saya meminta ramuan bunga shuizhele untuk obat tidur dan ramuan bunga bàozhà untuk penghasil asap itu? Saya rasa saya membuntuhkannya untuk beberapa kemungkinan dalam penyamaran saya nanti.”

Tabib  Zhou memiringkan kepala dan tersenyum jahil, “Tentu saja, aku punya banyak di mansionku, ayo ikuti aku.”

Sang Tabib berdiri dan mengajak Hiro mengikutinya, melupakan kekacauan yang ditimbulkannya karena kebakaran palsu yang membuat seluruh penjaga semakin panik di belakangnya.

***

Kaisar Shen otomatis mengangkat Aiko berdiri dan membawa Aiko ke dalam pelukannya dengan sikap melindungi ketika suara ledakan itu terdengar begitu kencang sampai ke kamar selir utama di Istana Bunga.

Mata Sang Kaisar menatap waspada ke arah pintu ketika terdengar suara derap kaki prajurit dan disusul dengan suara ketukan pintu.

Sang Kaisar bergerak pelan tanpa melepaskan pelukan perlindungannya kepada Aiko, tangannya meraih laci yang terletak di samping meja selir dan mengeluarkan sebilah pedang yang nampak begitu tajam dari sana.

Aiko terkesiap melihat pedang itu dan membelalakkan mata ketakutan. Dia bahkan tidak tahu bahwa di laci samping ranjangnya tersimpan pedang yang begitu mengerikan.

“Seorang Kaisar selalu menyimpan pedang di samping peraduan tempatnya menginap untuk perlindungan diri.” Kaisar Shen menjelaskan dengan lembut. Sebelah tangannya mengelus rambut Aiko dan semakin mendekatkan kepala perempuan itu ke dadanya sementara tangannya yang satu lagi menghunus pedang ke arah pintu sebelum bersuara.

“Siapa di sana?” tanya Kaisar Shen dengan suara penuh wibawa yang dibalut kewaspadaan.

“Hamba, Jenderal Youshou datang menghadap.”

Suara Jenderal Youshou yang familiar itu membuat Aiko langsung menarik napas lega sementara Kaisar Shen menurunkan pedangnya.

“Masuklah.” Kaisar melepaskan Aiko, bergegas membimbingnya dengan lembut untuk naik ke atas ranjang, lalu menutup tirai ranjang itu supaya Aiko tidak terlihat oleh orang luar.

Setelah itu Shen King melangkah ke meja dan memasang topeng di wajahnya. Dia tahu protokol yang harus selalu dilakukan ketika terjadi aktivitas yang dianggap mencurigakan di lingkup istana. Dirinya sebagai seorang Kaisar harus kembali ke Istana Merah dan berdiam dalam penjagaan yang cukup ketat dan baru boleh keluar ketika situasi dinyatakan aman.

Tetapi kali ini protokol itu harus dilanggar. Dalam kondisi seperti ini, setelah ledakan yang mencurigakan itu, Shen King tidak akan mungkin mau meninggalkan Aiko sendirian. Dia harus menjaga istrinya dalam perlindungannya, bukannya menyelamatkan diri sendiri.

Pintu terbuka dan Jenderal Youshou yang diikuti pasukan pengawal terbaiknya langsung membungkuk dan memberi hormat dengan penghormatan khas kerajaan Shasou,

“Hamba datang untuk menjemput Yang Mulia.” ucap Jenderal Youshou dengan nada  penuh hormat.

Shen King bergeming, “Apa kau sudah tahu apa yang terjadi? Suara apa itu tadi?”

Jenderal Youshou tampak menelan ludah, sebuah bentuk kegugupan yang selama ini tidak pernah muncul dari ekspresi Jenderal terbaiknya itu. Shen King mengerutkan kening menyadari keanehan itu dan langsung bertanya.

“Apa kau tahu sesuatu, Youshou?” selidiknya dengan suara penuh ancaman.

Jenderal Youshou langsung memberi hormat lagi, “Ampun Yang Mulia, kami sedang mengirim pasukan untuk menyelidik sumber ledakan. Ditemukan sumber api di area belakang Istana Emas yang dinyalakan dengan sengaja, pasukan sedang berusaha memadamkannya. Tetapi saat ini kami tidak tahu apa tujuan ledakan itu.” Jenderal Youshou menarik napas panjang seolah-olah mengucapkan semua kalimat itu terasa berat untuknya, “Selama kami belum mengetahui tujuan ledakan dan kebakaran itu dilakukan, saya harus menjalankan protokol kerajaan dan mengamankan Yang Mulia Kaisar kembali ke Istana Merah.”

“Dan meninggalkan Aiko di sini?” Ekspresi Kaisar Shen menggelap, “Aku tidak akan meninggalkan istriku.”

“Yang Mulia selir akan mendapatkan perlindungan paling aman dari panglima terbaik saya.” Jenderal Youshou menjawab pelan, “Keselamatan anda adalah yang utama, Yang Mulia.”

“Aku menolak.” Kaisar Shen menunjukkan pedang yang dibawanya, “Pergilah, atau silahkan berjaga di pintu jika kau mau, sampai situasi terkendali. Aku akan tetap di sini dan menjaga Aiko dalam perlindunganku.”

Mata Jenderal Youshou melirik hati-hati ke arah peraduan tertutup tirai yang ada di belakang Kaisar.

Sepertinya rencana Tabib Zhou tidak berhasil, Kaisar Shen sudah pasti bersikeras tidak mau meninggalkan Aiko dan jika Kaisar Shen sudah berkehendak, dirinya tidak punya kuasa untuk membantahnya. Mereka semua ternyata lupa memperhitungkan betapa Kaisar Shen mencintai Aiko dan yang pasti ingin menjaga Aiko dengan sepenuh hati. Jenderal Youshou tidak akan menyalahkan Kaisar karena melanggar protokol kerajaan demi Aiko, jika dia yang berada di posisi mencintai perempuan sedalam itu, dirinya pasti akan melakukan hal yang sama dengan Kaisar Shen, menolak untuk meninggalkan perempuan yang dicintainya dalam situasi berbahaya dan memilih menjadi pelindung sejati bagi wanitanya.

Sekarang harapan mereka hanya ada pada ramuan bunga shuizhele yang dibuat oleh Tabib Zhou.

Apakah kira-kira ramuan bunga shuizhele itu sudah menunjukkan reaksinya?

Jenderal Youshou menghela napas lagi dan dari keheningan di balik tirai peraduannya itu dia memutuskan bahwa mungkin saja Aiko sudah berhasil tidur di dalam sana dan berhasil terselamatkan untuk malam ini.

Sang Jenderal lalu membungkuk dan memberi hormat lagi, memutuskan untuk menyerah kepada kehendak kaisar.

“Baik Yang Mulia, hamba akan berjaga di depan pintu sampai situasi aman dan terkendali.”

Jenderal Youshou berucap hormat lalu melangkah mundur bersama dua penjaga terbaiknya dan meninggalkan ruangan sambil menutup pintu kamar itu kembali.

***

Shen King menatap pintu yang tertutup itu, jengkel atas gangguan yang tidak direncanakan datangnya.

Siapa yang menyulut kebakaran di belakang Istana Emas? Dengan tujuan apa?

Genggaman tangan Shen King di pedangnya mengerat karena geram, kalau nanti pelakunya tertangkap, dia sendiri mungkin yang akan memenggal kepala pelaku itu dengan tangannya. Bukan karena usaha si pelaku melakukan pembakaran melainkan karena pelaku kurang ajar itu sudah mengganggu prosesnya untuk memiliki Aiko.

Aiko….

Mengingat nama perempuan yang dicintainya membuat kegeraman Shen King yang memuncak langsung surut. Dilepaskannya pedang yang digenggamnya ke atas meja berikut dengan topeng emasnya.

Dia akan melanjutkan apa yang tertunda tadi. Malam ini dia akan memiliki Aiko.

Bergegas Kaisar Shen melangkah kembali ke peraduan, dan membuka tirai yang menutup peraduan.

Pemandangan di depannya membuat dahinya mengerut semakin dalam.

Aiko tengah berbaring meringkuk dan tertidur pulas dalam damai, napasnya teratur dan wajahnya tampak bahagia seolah sedang terlelap dalam mimpi indah yang tak bertepi.

Shen King lalu duduk di tepi peraduan dengan kecewa.

Di saat dirinya begini bersemangat, kenapa perempuan ini malah tidur?

Dengan pelan tangannya terulur, lalu menepuk pipi Aiko lembut berusaha membangunkannya.

“Bangun, Isteriku.” Shen King memberi perintah dengan nada tak kalah lembut, tangannya menepuk pipi Aiko beberapa kali, masih berharap kesempatan bahwa dia bisa membangunkan isterinya itu untuk kemudian mencumbunya dan melakukan apa yang sudah menjadi mimpinya sejak siang tadi.

Sayangnya kesempatan yang diharapkannya ternyata tidak datang. Bukannya bangun, Aiko malah menggeliat pelan lalu kembali meringkuk dalam damai, seolah-olah tidurnya yang lelap ini terlalu dalam dan Shen King tidak bisa menjangkaunya.

Lama Shen King duduk di tepi ranjang, menatap Aiko yang pulas dengan tatapan mata tak percaya dan frustrasi tertahan.

Dan Kemudian Shen King memijit kepalanya yang terasa sakit, dia menghela napas  dalam dan menghembuskannya beberapa kali untuk meredakan hasratnya yang membuatnya merasa nyeri, pada akhirnya dengan tak berdaya Shen King memutuskan naik ke atas ranjang, lalu berbaring nyalang dengan mata menatap langit-langit kamar, tersiksa sendirian dalam hasrat yang tak terpuaskan.

***

Hiro yang sudah berada di luar gerbang istana menunggu dalam diam di tempat yang telah ditentukan. Dirinya mengencangkan ikat pinggangnya dan memastikan busur dan anak panah miliknya terpasang rapi di punggungnya.

Pagi ini dirinya hendak memasuki istana sebagai petugas pengantar daging rusa segar yang dikirim oleh pemasok yang telah bekerjasama dengan Lingdao dan pasukannya.

Cukup lama dia menunggu sampai kemudian, sosok tinggi yang telah dikenalinya berjalan mendekat diikuti oleh beberapa anak buah yang membawa gerobak berisi daging segar yang telah ditutup rapat dengan kain rami.

Lingdao mengenakan pakaian hitam-hitam dan menutupi kepalanya dengan tudung. Hiro tahu kenapa Lingdao selalu menggunakan tudung di tempat umum, mata biru Lingdao terlalu mencolok sehingga lelaki itu harus selalu menyembunyikannya jika berada di tempat yang ramai orang.

Perbedaan yang mencolok itu selalu membuat Lingdao yang dulunya begitu kecil dan kurus mengalami penyiksaan bertubi-tubi. Lingdao selalu disebut anak setan dan anak pelacur karena matanya yang biru dan anak-anak lain yang tidak menyukai sesuatu yang berbeda selalu menindasnya. Ketika itu Hiro yang usianya lebih tua adalah satu-satunya yang merasakan belas kasihan kepada Lingdao, hati nuraninya tersentuh melihat anak manusia lemah yang disalahkan hanya karena dia berbeda dari yang lainnya.

Karena semua itulah Hiro pada akhirnya tergerak mengakui Lingdao sebagai adiknya dan membawa Lingdao ke dalam sayap perlindungannya.

Sejak saat itu Lingdao selalu mengikutinya kemana-mana seperti anak ayam mengikuti induknya. Berada di dekat Hiro memang membuat Lingdao terlindungi, karena Hiro ketika itu merupakan salah satu anak yang paling kuat dan jago bela diri hingga tidak ada yang berani mengganggunya.

Mata Hiro mengamati Lingdao yang sekarang telah tumbuh besar menjadi begitu tinggi, bahkan lebih tinggi dari dirinya. Hiro meringis tanpa sadar, adiknya ini secara fisik mungkin sudah tidak butuh perlindungan darinya. Meskipun begitu, Hiro tidak akan pernah melepaskan tanggung jawabnya sebagai seorang kakak, dia akan melindungi Lingdao apapun yang terjadi meski sekarang mereka bersilangan arah.

“Apakah kau sudah siap?” Lingdao mengamati penampilan Hiro dengan mata birunya yang tajam dan tersenyum.

Hiro sendiri menganggukkan kepala, “Aku hanya perlu masuk ke dalam istana dan mencari mata-matamu lalu menyampaikan instruksimu untuk memintanya mengawasi selir kaisar dan melaporkannya secara berkala kepadamu, bukan?”

Lingdao menganggukkan kepala, “Ya, dan jika ini berhasil mungkin kau akan terus menajadi pengantar daging rusa kami dan berhubungan secara berkala dengan mata-mataku untuk membawa informasi darinya keluar tembok istana.”

Hiro menganggukkan kepala, “Dan bagaimana aku bisa menemukan mata-matamu itu? Kau bilang dia seorang dayang? Ada ribuan dayang di Istana, bagaimana aku bisa menemukan dengan tepat?”

“Ketika mengantarkan daging rusa segar ke koki istana, kau akan diperbolehkan memasuki area dapur istana yang menjadi satu dengan tempat para dayang bertugas. Jika kau bisa masuk tepat waktu di saat mata hari berada tepat di atas kepala, itu akan bersamaan dengan waktu seluruh dayang berkumpul di lapangan yang dekat dengan dapur istana untuk menerima berbagai instruksi. Kau harus memperhatikan para dayang itu satu-persatu. Mata-mataku adalah dayang senior di bawah dayang senior utama, jadi dia masih memakai pakaian berwarna merah. Sebagai tanda, dia akan membawa saputangan warna merah darah di tangannya. Semua dayang lain akan membawa saputangan warna putih, hanya dia yang memakai saputangan warna merah darah yang cukup mencolok, aku yakin kau akan mudah menemukannya.” Lingdao menyerahkan ikat kepala berwarna hitam dengan hiasan sulaman daun berwarna emas di bagian depannya, “Pakailah ini di kepalamu, mata-mataku akan mengenalimu, dia akan membawamu ke tempat yang aman untuk bertukar informasi.”

Hiro menyerap semua informasi itu dan menyimpannya di kepala, setelah itu dia menganggukkan kepala dan bergegas mengambil alih gerobak berisi daging itu dari tangan salah seorang anak buah Lingdao.

“Kalau begitu aku harus segera masuk sebelum terlambat.” Hiro berucap mantap dan hendak melangkah pergi, tetapi langkahnya terhenti karena Lingdao menyentuh pundaknya.

Mata biru itu menatapnya dengan ekspresi cemas, “Hati-hati saudaraku, kau harus bisa keluar dari tembok istana itu dengan selamat.”

Perkataan yang diucapkan dengan tulus itu langsung membuat Hiro kembali terpukul oleh rasa bersalah.

Adiknya ini begitu mempercayainya sementara dirinya sedang bergerak diam-diam untuk berkhianat.

***

Shen King terbangun dan menyadari bahwa dirinya sedang memeluk Aiko di dadanya.

Matanya melirik ke arah pintu dan menyadari bahwa sinar matahari sudah begitu terang menembus sela-sela pintu, menunjukkan bahwa hari sudah siang.

Sepertinya dia merasa terlalu nyaman berada di peraduan bersama Aiko hingga terlambat bangun.

Shen King melepaskan Aiko yang masih tertidur pulas dengan hati-hati dan meletakkan kepala perempuan itu dengan lembut di atas ranjang, Setelah itu dirinya duduk di tepi ranjang sementara matanya menatap Aiko dengan tatapan penuh cinta.

Tadi malam tidak berhasil, tapi malam ini dirinya akan mencoba lagi.

Kali ini akan dipastikannya tidak ada halangan apapun. Malam ini dia harus bisa memiliki Aiko seutuhnya.

Dengan lembut Shen King membungkukkan badan dan mengecup dahi Aiko dengan penuh sayang. Kepalanya lalu bergerak ke sisi telinga Aiko dan membisikkan kalimat kepemilikan yang pekat.

“Istriku.” bisiknya dengan suara serak penuh cinta.

Aiko menggeliat sedikit dan tersenyum dalam tidurnya dibisiki seperti itu, dan senyum itu menular, membuat Shen King yang sedang menatapnya ikut tersenyum lebar.

Dengan hati berbunga-bunga Shen King berdiri di tepi ranjang, menyelimuti Aiko sampai ke dada lalu setelah sekali lagi melemparkan pandangan penuh sayang ke istrinya, Sang Kaisar melangkah meninggalkan kamar itu

***

Ketika Aiko terbangun di pagi hari, Kaisar Shen sudah tidak ada. Aiko hanya mengerutkan keningnya dengan bingung sambil memandang ke sekeliling kamar.

Ingatannya terakhir adalah ketika dia berbaring di atas ranjang dan Kaisar Shen menutup tirai peraduan sebelum mempersilahkan Jenderal Youshou memasuki kamar.

Setelah itu dia tidak ingat apa-apa lagi.

Aiko memijat kepalanya, berusaha mengingat-ingat lebih jelas tetapi otaknya tidak mendapatkan pencerahan apapun.

Apakah dirinya jatuh tertidur?

Tiba-tiba saja Aiko merasa panik. Apakah semalam dia tidur tanpa izin dari Kaisar Shen sementara Sang Kaisar sedang berkehendak untuk memilikinya?

Apakah dia membuat Kaisar Shen tersinggung?

Dalam kebingungannya, para dayang memasuki ruangan dan bergegas melakukan ritual pagi hari yang sama. Aiko dilayani untuk mandi dan membersihakan diri lalu dibantu memakai salah satu pakaian sutera yang sangat indah yang merupakan hadiah dari kaisar.

Dayang Ruan ternyata sudah menyelesaikan menjahit kain-kain sutera hadiah malam pertama dari Kaisar Shen dan menjadikannya gaun yang sangat indah.

Sang Dayang sedang tersenyum manis sambil menata rambut Aiko dalam sanggul ala perempuan bangsawan yang sangat cantik.

“Anda begitu cantik, tidak heran Yang Mulia Kaisar Shen tidak bisa melepaskan pandangannya dari anda.” Dayang Ruan tersenyum senang, “Kabar tersebar bahwa Yang Mulia Kaisar menolak meninggalkan anda tadi malam dan membatalkan protokol kerajaan bahwa seorang Kaisar harus diamankan di dalam Istana Merah ketika ada insiden terjadi.”

“Insiden?” Aiko mengerutkan kening dan tiba-tiba terkesiap ketika ingatannya kembali pada suara ledakan keras yang terdengar sebelum dia disuruh naik ke atas peraduan, “Apa yang terjadi semalam? Apakah ada serangan berbahaya?”

“Anda jangan cemas Yang Mulia. Ledakan yang terjadi semalam tidak berbahaya, entah siapa yang berbuat iseng dan membakar ranting di halaman belakang Istana Emas, mungkin dia tanpa sadar membakar sesuatu hingga menciptakan bunyi ledakan keras, tetapi tidak ada api yang menjalar, hanya asap saja dan setelah beberapa lama para penjaga berhasil menyingkirkan asap itu.” Dayang Ruan mengerutkan kening, “Entah apa tujuannya, tetapi petugas istana sedang melakukan penyelidikan, sebentar lagi pelakunya pasti akan tertangkap.”

Aiko menghembuskan napas lega mendengar penjelasan Dayang Ruan tersebut,

“Syukurlah kalau itu bukan ancaman berbahaya,”

“Di dalam Istana lebih heboh karena tindakan Kaisar Shen yang tidak mau meninggalkan anda daripada membicarakan insiden ledakan itu.” Tatapan Dayang Ruan tampak menggoda, “Kaisar baru meninggalkan kamar anda agak siang, mengatakan bahwa anda sedang tidur pulas dan tidak boleh diganggu sampai anda terbangun sendiri. Dan mengingat beliau bermalam lagi sampai pagi bersama anda, nanti siang pasti akan banyak hadiah yang dikirimkan sebagai tanda kepuasan beliau.”

Aiko merasa pipinya memerah karena malu. Dirinya tidak pantas mendapatkan hadiah itu karena jika benar yang dikatakan oleh Dayang Ruan bahwa Kaisar Shen semalam tidur sampai pagi di kamarnya, itu berarti Aiko telah bertindak tidak sopan dengan meninggalkan Kaisar Shen sendirian dan malahan asyik tidur pulas sendiri.

Jantung Aiko berdebar kencang memikirkan betapa marah dan tersinggungnya Kaisar Shen saat ini.

Apakah Kaisar Shen akan menghukumnya?

***

Hiro berdiri di tepi lapangan sambil menunggu pembayaran yang diberikan oleh petugas istana untuk daging rusa segar yang diantarkan olehnya. Dia berada di samping area dapur istana yang ditunjukkan kepadanya, sesuai dengan apa yang direncanakan oleh Lingdao.

Syukurlah sampai saat ini belum ada satupun  orang yang mengenalinya. Hiro memang selalu berhati-hati ketika bergerak di dalam tembok istana, selalu menjaga dirinya berada di balik bayang-bayang dan tidak terlihat.

Mata Hiro menelusuri lapangan dan melihat para dayang dengan berbagai warna pakaian mulai berkumpul di sana, dayang paling baru akan memakai pakaian warna putih, di atasnya memakai pakaian warna hijau, di atasnya lagi memakai pakaian warna merah dan dayang senior utama akan memakai pakaian warna kuning.

Hiro hanya perlu memusatkan perhatiannya kepada dayang yang memakai pakaian warna merah. Dirinya memindai pelan-pelan mencari apa yang dibutuhkannya.

Saputangan warna merah.

Para dayang memang selalu membawa saputangan dalam genggamannya, dan kali ini kata-kata Lingdao ada benarnya lagi, hampir seluruhnya memakai saputangan berwarna putih… kecuali satu.

Dayang itu mengenakan pakaian berwarna merah, dan sedang menundukkan kepala. Di dalam genggaman tangannya ada saputangan berwarna merah darah, persis seperti yang dibayangkannya. Hiro mengerutkan kening dan berusaha menajamkan tatapannya, memastikan bahwa dia tidak salah lihat.

Seolah merasa diawasi, dayang bersaputangan warna merah itu mengangkat kepalanya, tepat ke arah Hiro. Dan Hiro langsung bertatapan mata dengan mata seorang dayang yang menggenggam saputangan merah di tangannya.

Akhirnya. Mata-mata itu sudah ditemukannya.

Bersambung ke Part berikutnya

1.598 Komentar

  1. Mamita Fatih menulis:

    :sebarcinta

  2. Diah Wardani menulis:

    :sebarcinta :sebarcinta

  3. Kaisar shen 😍

  4. ZMufaidah20 menulis:

    🤔🤔🤔

  5. Putri Ratnasari menulis:

    Duh kira kira siapa ya dYangnya?

  6. sophiadimitri menulis:

    Penasaran siapa dayangnya :habisakal

  7. ya ampun, kelakuan tabib zhou, jendral youshou dan hiro. benar-benar deh mereka ini. :happy

  8. UpungDananir menulis:

    :awaskaunanti :awaskaunanti :awaskaunanti

Tinggalkan Balasan